Day 4

"Lucy, ayo cepat!"

"Iya Erza, sebentar!"

Aku segera memakai baju renangku. Hari ini kami semua pergi ke pantai dan akan menginap selama satu malam!

"Erza, aku sudah selesai!" aku membuka pintu kamar mandi dan keluar dari situ. Rupanya Erza sudah menungguku.

"Ayo, yang lain sudah menunggu!" Erza menarikku keluar dari kamar dan mengunci pintu. Kemudian kami berdua berjalan menuju pantai.

Teman-teman perempuanku yang lain sudah menunggu. Ada Levy dan Cana dari kelompok Shadow Gear, Juvia dari Phantom, juga Ultear dan Meredy dari Grimoire Heart.

"Kalian berdua lama sekali?" omel Ultear.

"Salahkan Lucy." Erza berkata datar sambil menunjuk ke arahku.

"Hei, aku lupa menaruh baju renangku di mana!" aku memprotes.

"Sudah, daripada ribut, mending kita berenang saja. Ayo!" ajak Levy. Kami semua mengangguk dan langsung berlari ke arah laut.

"Wah, airnya dingin!" pekik Meredy. Kami semua memasuki laut dengan pelan-pelan, kecuali Juvia. Dia langsung meloncat dan dalam beberapa detik sudah berada di tengah laut, gadis itu memang pandai berenang. Kami semua langsung asyik berenang dan bermain air.

"Woi, Lucy! Erza!" aku mendengar seseorang memanggilku dan Erza. Aku menoleh ke arah pantai dan melihat Natsu, Gray dan salah satu teman mereka, Jellal, sedang melambai ke arah kami. Aku dan Erza balas melambai ke arah mereka.

"Kalian semua mau bermain volli?" teriak Gray. Aku dan Erza saling memandang, kemudian mengangguk. Kami mengajak yang lain untuk ikut.

"Gray-sama!" Juvia langsung meloncat memeluk Gray begitu mereka semua mencapai pantai. Gray langsung kelabakan ketika Juvia memeluknya. Ketika pertama kali bertemu dengan Gray, Juvia langsung jatuh hati dan mengggunakan berbagai cara untuk menarik hati Gray.

"Juvia, le…lepaskan!" Gray berusaha melepaskan diri dari pelukan maut Juvia. Semburat merah muncul di pipi pemuda yang biasanya bersikap dingin itu. Aku mendengar suara ceklikan kamera dari arah belakangku. Sepertinya mereka berdua baru saja menjadi korban blackmail.

"Ayo main!" teriak Jellal sambil memainkan sebuah bola volli di tangannya. "Perempuan lawan laki-laki, siapa yang mau?"

Erza dan Ultear langsung mengangkat tangan begitu mendengar tantangan Jellal, dan pertandingan pun dimulai.

Jellal dan Natsu menjadi perwakilan dari laki-laki. Aku, Levy, Meredy, Juvia, Cana dan Gray hanya menonton sambil memberi semangat. Lama kelamaan, kerumunan penontong bertambah banyak.

"Erza! Ultear!" pendukung Erza dan Ultear yang kebanyakan laki-laki berteriak memberi semangat.

"Natsu! Jellal! Kalahkan mereka!" kali ini pendukung Natsu dan Jellal yang berteriak.

Pertandingan semakin memanas. Kekuatan mereka berempat seimbang. Beberapa orang mulai memasang taruhan.

Dan semuanya kecewa ketika mengetahui hasil pertandingan adalah seri.

Selesai bermain volli Jellal menghampiri Erza dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. Aku mendapat firasat sesuatu yang menarik akan terjadi malam ini.

"Kau mau kemana Erza?" tanyaku pura-pura mengantuk. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Aku berpura-pura tidur pada pukul setengah sebelas.

Erza tampak gelagapan ketika mendengar suaraku. Dia memakai pakaian lengkap, sama sekali belum berganti untuk tidur. "Lucy, kau masih bangun?"

"Aku mau tidur lagi…" kataku masih dengan nada mengantuk. "Kau mau kemana malam-malam begini?"

"Aku mau cari udara segar." balas Erza pendek. Setelah itu dia pergi.

Aku langsung duduk setelah dia menutup pintu. Aku segera memakai jaket yang sudah kupersiapkan sebelumnya, kemudian pergi ke kamar Natsu dan Gray.

Natsu langsung membuka pintu setelah aku selesai mengetuk pintu kamarnya. Dia sudah berpakaian lengkap, aku sudah memberitahunya dan Gray tentang rencanaku.

"Mana Gray?" tanyaku. Natsu mengangkat bahunya.

"Si bodoh itu diculik Juvia pada jam 9. Aku tidak tahu mereka sedang apa." jawabnya. Aku berharap Gray tidak mengapa-apakan Juvia, atau dalam kasus ini, Juvia tidak mengapa-apakan Gray.

"Ayo!" bisikku.

Kami berdua mengendap-ngendap menuju pantai. Dan di sana, di bibir pantai, berdiri Jellal dan Erza. Dan mereka berdua sedang berpegangan tangan!

"Jadi, Jellal nembak Erza?" gumamku pelan. Natsu hanya mengangguk pelan di sampingku.

"Aku penasaran apakah Erza menerimanya atau tidak?"

Day 5

"Erza, kita naik perahu, yuk?" ajakku.

"Maaf, Lucy. Aku sudah janji mau naik berdua dengan Jellal." Erza menjawab dengan wajah yang sudah semerah rambutnya. Pertanyaanku tadi malam terjawab sudah.

Aku mendesah. Sekarang adalah acara naik perahu, setiap perahu hanya bisa mengangkut dua orang plus pengemudinya, dan aku belum memiliki pasangan. Erza sudah pergi bersama Jellal. Juvia sudah pasti pergi dengan Gray. Levy dengan Gajeel, Ultear dan Meredy berdua. Cana sedang tidak enak badan. Jadi hanya tersisa seorang yang memungkinkan untuk diajak.

Aku menghela nafas dan akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, "Natsu, kau mau naik perahu bersamaku?"

"Kebetulan aku belum mendapat pasangan." Dia tersenyum kepadaku, "Ayo!"

"Anginnya segar, ya?" celutukku. Aku merentangkan kedua tanganku, merasakan angin laut yang membelaiku. Natsu hanya tersenyum melihatku, begitu pula pengemudi perahu yang kami berdua naiki.

"Lucy, nanti jatuh lho!" Natsu memperingatkanku ketika aku berdiri terlalu dekat dengan tepi perahu.

"Tenang saja, Natsu! Aku tidak akan jaaaaa…" goncangan perahu membuatku kehilangan keseimbangan. Aku menggerakkan kedua tanganku yang terentang dengan panik, berusaha menyeimbangkan diri. Usahaku tidak berhasil, aku hanya bisa memejamkan mata dengan pasrah ketika aku mulai jatuh ke arah depan, menunggu air laut menyambutku.

Tapi laju jatuhku malah terhenti di tengah jalan. Aku membuka kedua mataku, menyadari kalau seseorang telah menahanku agar tidak jatuh. Aku menundukkan pandanganku dan melihat lengan Natsu yang melingkari pingganku. Tanpa aba-aba, kedua pipiku kembali berubah menjadi merah.

"Geez, sudah kubilang kan hati-hati?" gerutu Natsu. Dia melepaskanku, aku segera melangkah mundur agar tidak terjatuh lagi.

"Thanks, Natsu." bisikku pelan.

"Cuit cuit, mesranya!"

Aku segera menoleh dan mendapati kalau perahu Meredy dan Ultear baru saja melewati perahu kami. Kedua gadis itu sekarang sedang sibuk menyoraki aku dan Natsu. Aku mengacungkan tinjuku ke arah perahu mereka.

"Eits, ada yang marah tuh!" Ultear dan Meredy semakin menjadi-jadi. Urgh, mereka akan mendapat balasannya nanti, pikirku.

"Lucy? Mereka teriak-teriak apa sih?" tanya Natsu polos kepadaku.

Natsu, kau itu tuli atau gak peka?

Day 6

"Gak terasa besok kita sudah pulang, ya?" ujar Erza ketika kami sedang merapihkan koper kami. Kami semua baru saja kembali ke pondok masing-masing.

"Benar juga, ya?" aku bergumam sembari menutup koperku.

"Kita gak bakal putus hubungan, kan?" tanya Erza.

"Yaiyalah. Kita kan tinggal di kota yang sama, pasti kita bisa bertemu lagi." balasku.

"Janji?" Erza mengangkat jari kelingkingnya.

"Janji!" aku menautkan jari kelingkingku dengan miliknya.

Beberapa detik kemudian, kami melepaskan tautan kelingking kami. Erza tersenyum padaku, aku membalas senyumannya.

"Omong-omong, Natsu bilang dia mau bicara denganmu pada saat api unggun." Erza memberitahuku. Aku bersumpah aku bisa melihat seringai melintas di bibirnya ketika dia mengatakan itu.

Apa yang mau dibicarakan oleh si rambut pink itu?

Tanpa terasa, malam datang dengan cepat, sebentar lagi acara api unggun dan malam penutupan akan dimulai. Aku menunggu Erza yang sedang bersiap-siap di beranda pondok kami.

"Hey, Lucy!" aku mendengar seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arah panggilan itu berasal dan mendapati Levy dan Cana sedang melambai ke arahku. Aku melambai ke arah mereka , memberikan isyarat agar mereka mendekat. Mereka berdua pun mendekatiku.

"Mau berangkat bareng?" tawar Levy. Aku mengangguk.

"Iya, tapi tunggu Erza dulu. Dia ganti bajunya lama banget!" keluhku.

"Siapa yang ganti bajunya lama, hah?" Aku memutar tubuhku dan mendapati kalau Erza sudah berdiri di belakangku dengan kedua lengannya terlipat di dada.

"Er, bukan siapa-siapa…" kataku takut-takut. Erza mendelik kepadaku, aku mulai merasakan hawa tidak enak.

"Eh, ayo cepat! Nanti keburu dimulai acaranya!" sela Cana menyelamatkanku.

"Yasudah, ayo!" akhirnya Erza memimpin kami semua menuju lapangan api unggun. Aku memilih untuk berjalan di samping Cana.

"Thanks sudah menyelamatkanku dari Erza." aku berbisik kepada Cana.

"Hey, itu gunanya teman kan?" Cana menjawab sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Woi, lagi ngomongin apa? Kok sambil bisik-bisik gitu?" tiba-tiba Levy ikutan nimbrung.

"Bukan apa-apa kok." jawabku dan Cana kompak. Levy memberikan kami pandangan curiga, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.

"Benar kata Cana, acaranya sudah dimulai!" Erza menunjuk ke arah lapangan api unggun yang berada di depan kami. Rupanya api unggun sudah dinyalakan dan peserta summer camp yang lain sudah berkumpul.

Levy bersiul pelan, "Sepertinya kita terlambat, ya?"

"Ayo cepat, kalau tidak mau semakin terlambat!" kami berempat segera berlari ke tengah lapangan, bergabung dengan peserta-peserta yang lain.

"Kalian lama sekali. Acaranya sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu!" tiba-tiba Gray sudah berada di antara kami, dibuntuti oleh Juvia.

"Ada yang terlewatkan oleh kita, tidak?" tanyaku. Gray menggeleng.

"Gak, dari tadi panitia baru cuap-cuap aja, belum masuk ke acara inti, kok." jawab Gray menenangkan. Kami mengangguk dengan puas, setidaknya tidak ada acara penting yang terlewat.

"Eh, Gray, mana Natsu?" aku menolehkan kepalaku ke kanan dan kiri, mencari sosok pemuda berambut pink itu.

"Tuh!" Gray menunjuk seseorang yang berdiri di dekat api unggun. Aku segera mengenali orang itu sebagai Natsu.

"Sebaiknya kau hampiri dia, dia bilang ada yang mau dia bicarakan denganmu." Gray mendesakku. Aku mendesah dan akhirnya aku menyeruak di antara kerumunan untuk menghampiri Natsu.

"Hey, Natsu!" aku menepuk bahu Natsu ketika aku sudah sampai di belakang pemuda itu. Natsu membalikkan tubuhnya, cengiran khasnya terus menghiasi bibirnya.

"Hai, Lucy!" Natsu membalas sapaanku.

"Well, Gray dan Erza bilang kalau aku harus menemuimu karena ada sesuatu yang ingin kaubicarakan denganku. Nah, apa itu?" tanyaku langsung to the point.

"Sejak kapan aku menyuruh Gray dan Erza agar kau menemuiku?" tanya Natsu bingung. Aku bisa melihat kalau Natsu berkata jujur, Natsu paling tidak bisa berbohong.

"Jadi, Erza dan Gray menipuku?" tanyaku pelan. Aku tidak percaya kedua sahabatku itu bisa menipuku dengan mudah. Untuk apa mereka menipuku?

"Sepertinya iya. Aku tidak mengerti apa yang mereka pikirkan." jawab Natsu, juga dengan suara pelan. Aku menatap kosong api unggun yang berada di depanku, entah kenapa hatiku terasa kosong begitu tahu Gray dan Erza hanya menipuku.

"Luce?" panggil Natsu pelan. Aku mengalihkan pandanganku dari api unggun ke wajah Natsu, masih dengan pandangan kosong.

"Ada apa?" tanyaku dengan nada datar.

"Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan denganmu." lanjutnya pelan. Aku tetap diam, menunggu Natsu melanjutkan perkataannya.

Natsu berjalan mendekat, mengurangi jarak di antara kami berdua. Tanpa sadar, semburat merah kembali muncul entah untuk yang keberapa kalinya di pipiku. Orang-orang di sekitarku bersorak karena sesuatu yang dikatakan oleh panitia di depan, tapi aku tidak mendengarnya. Entah kenapa, di mataku kini hanya ada Natsu.

Perlahan-lahan, Natsu mendekatkan bibirnya ke telingaku. Dengan suara pelan namun lembut, pemuda itu membisikkan kata-kata yang tanpa sadar telah kuharapkan untuk kudengar darinya.

"Daisuki!"

Kedua bibirku bergerak, membentuk sebuah senyuman. Kemudian aku mulai membuka mulutku untuk memberikan balasan.

"DOOORRRR"

Suara letusan itu sontak membuatku dan Natsu mendongakkan kepala kami ke arah langit malam. Kami menyadari kalau langit malam yang hitam kini telah dihiasi oleh percikan warna-warna cerah. Merah, biru, hijau, kuning, ungu, semuanya menghiasi kanvas hitam yang membentang itu.

"Kembang api?" tanyaku bingung.

"Yup." jawab Natsu dengan cengiran khasnya. "Jadi apa jawabannya?"

Aku tertawa kecil, kemudian menjawab pertanyaan Natsu. Aku merasa seperti kembang api itu diluncurkan khusus untuk kami.

"Daisuki!"

Day 7

"Long Distance Relationship?"

"Gak ada pilihan lain, kan?"

"Sepertinya iya. Jangan selingkuh, oke?"

"Mana mungkin?"

Tanpa terasa, seminggu telah berlalu sejak aku datang ke summer camp ini. Sekarang, orangtua kami masing-masing sudah datang untuk menjemput kami. Sebentar lagi kami semua akan berpisah, kembali ke rumah masing-masing.

Aku tidak akan melupakan semua pengalaman dan pelajaran yang kudapat dari summer camp kali ini. Kali ini aku berhasil mendapatkan teman-teman baru juga pengalaman baru. Dan aku menemukan cintaku.

Aku menepuk pundak Natsu dengan pelan, "Hati-hati di jalan, ya? Jaga dirimu baik-baik."

"Kau juga, Lucy." Natsu mengecup keningku sebelum berbalik ke mobilnya. Aku menatap kepergian pemuda itu dengan sedih. Kami baru jadian kurang dari satu hari, tapi kami sudah harus berpisah.

Akhirnya aku pun berbalik dan berjalan menuju mobil orangtuaku. Aku melambaikan tanganku ke arah Erza yang sudah berada di mobil orangtuanya. Langkah-langkahku terasa berat, rasanya aku ingin tetap di sini, menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-temanku.

Beberapa langkah lagi aku akan sampai di mobilku, tapi entah kenapa aku memutuskan untuh menoleh ke belakang sejenak. Entah kebetulan atau tidak, aku melihat Natsu berlari ke arahku. Aku menaikkan sebelah alisku dengan heran.

"Natsu, ada apa?" tanyaku begitu Natsu sudah berada di hadapanku.

"Ada yang lupa kuambil!" kata Natsu sambil sedikit terengah-engah.

"Ap…" aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk melanjutkan ucapanku karena Natsu sudah menempelkan bibirnya dengan bibirku.

Kedua pipiku langsung terasa hangat. Bagaimana aku tidak malu? Aksi kami berdua ditonton oleh orang-orang disekeliling kami, termasuk kedua orangtuaku!

Tapi aku memutuskan untuk mengabaikan mereka semua. Aku menutup kedua mataku dan menikmati ciuman pertamaku.

Hadiah perpisahan yang manis.

OWARI

A/N:

Gomen telat update. Aoife kena WB parah. Pas WB udah hilang, Aoife sakit. Pas udah sembuh, ada UTS. Hidup memang kejam T.T

Anyway, review? Kritik? Saran? Flame? Kotak review selalu siap untuk melayani anda!

See ya!