Title : Rabu-rabu Hunt

Genre : Friendship/Humor

Summary : Sharon menyeret Alice dengan laknat. Apa yang direncanakan Sharon? Dan kenapa Lotti ingin membunuh Break? Echo fans silakan masuk!

xxxx

Syn : Ini chapter tambahan di kalian tidak akan mendpatkan chapter ini di FB gua. Jadi lihatlah dengan teliti

Alice : Woi Wakame atama futatsu, cepat langsung dimulai!

Syn :Gue udah bilang jangan panggil wakame! Gue udah potong rambut biar nggak mirip GIL!

Alice : Hee masih mirip tuh.

Oz : Karena Syntia-chan sedang mengerjar Alice untuk dijadikan kelinci panggang, MC acara ini aku dan Gil yang pegang!

Gil : Err…(ngeliat kertas contekkan) Disclaimer by Jun Mochizuki-sensei

Oz : Warning : OOC, gaje


"Sharon-neechan, kenapa harus dandan?"kesal Alice saat Sharon mulai memasangkan ikat rambut warna merah. Hari ini Sharon datang khusus ke kamarnya dan menyeretnya dengan paksa ke kamar nona Rainswort itu.

"Nona Alice suda lupa tentang hadiah utama lomba kemarin ya?"

"Lomba?" Pikiran Alice menjelajah memori, menelusuri seluk beluk kejadian kemarin.

FLASH BACK : ON

"Sharon!"seru Alice yang ditarik kuat-kuat oleh gadis berambut pirang itu.

"Nona Alice, anda lupa mengatakan satu hal." Aura kegelapan gadis di depannya mulai keluar. Insting mengatakan dia harus segera lari. Tapi kenapa tubuhnya tidak bisa bergerak? "Fufufu, nona Alice, ini karena Eques,"jawabnya. Alice semakin merinding. Apakah Sharon punya kekuatan untuk membaca pikiran?

"Itu apa?"tanyanya takut-takut. Dia mencoba menatap ke arah lain. Ah! Jendela itu sepertinya tepat untk tempat melarikan diri dari cengkraman maut gadis di depannya!

"Nona Alice masih hijau dalam pengalaman soal ini. Jadi biarkan Oneesan yang akan mengajarkannya!" Mata Sharon terliat berbinar-binar tanpa artian yang jelas.

"Oneesan?"

"Benar, nona Alice! Panggil aku Oneesan!"

"Sharon-neechan?"

"Iya, nona Alice?" Raut wajah gadis itu berubah 180 derajat! Alice tiba-tiba merinding. Perasaan kemarin malam sebelum tidur dia cuma makan 1 kalkun, 2 steak, 1 kotak besar ayam goreng, 1 liter jus wortel dan tak lupa pudding hasil nyomot (ngambil diam-diam) dari tempatnya Gil.

"Maksudnya masih hijau? Aku lebih suka MERAH!"

"Ufufufu, bukan begitu nona Alice. Tapi jangan khawatir! Oneesan disini, siap membantu nona Alice! Malam ini Oneesan akan mengajari nona Alice cara untuk mempersiapkan diri!

FLASH BACK : OFF

"Lalu apa artinya mempersiapkan diri?"kesal Alice yang dari tadi diperlakukan dengan seenaknya oleh Sharon yang sedang senang dan malah bersenandung ria.

"Nona Alice, sebagai seorang wanita terhormat kita harus melakukan hal yang kita bisa, bukankah begitu?"

"Tapi apa artinya dengan ini!"kesalnya saat Sharon mulai mendandaninya.

"Sharon, apa semuanya..." Suara lelaki itu tercekat saat menatap gadis yang sudah di anggap adiknya sendiri itu bersama dengan Alice. Konsentrasi yang tadi ditujukan ke kertas-kertas yang dibawanya kini telah mengambang entah kemana.

"Bagaimana? Nona Alice cantik kan?"Tanya Sharon senang.

"Ku… HAHAHAHA…."tawanya, Sharon dan Alice langsung bersatu padu mengelembungkan pipi mereka berdua. "Aku tidak mengira kau punya ide seperti ini,"ujarnya di sela-sela tawanya, tapi masih merupakan misteri kenapa Emily tetap tidak jatuh dari pundaknya meskipun dia tertawa kesetanan seperti itu.

"BREAK! Tidak sopan menertawakan seorang lady!"kesalnya.

"Fufufu, Oz pasti akan kaget,"ucapnya sambil menahan tawa.

"Huh, dia tidak kaget juga bukan urusanku,"cuek Alice sambil memalingkan muka dari Break.

"Benarkah? Padahal mungkin Oz jadi tertarik padamu,"goda Break. Alice terlihat agak kaget sehingga memandangnya. Sharon yang melihat reaksi Alice, tertawa sendiri.

"Benarkah?"Tanya Alice curiga.

"Kau mau mencobanya?"goda Break dengan cengiran khasnya.

"Huh, aku tidak peduli kok."

"Benarkah?" Alice mengerutkan bibirnya, dia tertunduk. "Jadi?" Cengiran khas Break masih terlihat saat Alice curi-curi kesempatan meliriknya. "Iya? Atau tidak?"

X_X

"Jadi?"Tanya Jack pada lelaki berkacamata di sampingnya yang sedang membaca proposal yang dibuatnya itu.

"Kalau yang lain sudah setuju aku tidak punya hak untuk melarangnya,"ujar lelaki itu lalu menghela nafas.

"Yeahhh!"serunya semangat.

"Tapi!"

"Tapi?"bingungnya lalu menatap lelaki itu lagi.

"Apa kau yakin mereka mau ikut?"tanyanya agak was-was, karena mereka itu kan…

"Hal itu tidak usah dikawatirkan Reim-kun. Sudah ada yang mengurusinya dan aku percaya sekali padanya." Reim terdiam. Apa benar rencana ini bisa terlaksana? "Eh? Kau meragukan keputusanku ya? Apa perlu aku panggilkan Glen untuk bilang bahwa aku bisa dipercaya?"tanyanya. Reim kembali menghela nafas.

"Memangnya dia orang yang punya banyak waktu luang?"jengkelnya, tentu saja karena yang mereka bicarakan adalah Glen yang itu.

"Tapi kalau aku, walau sesibuk apapun pasti akan meluangkan waktu untuk Glen,"ujarnya bersemangat. Reim membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot.

"Kalau kau sampai meninggalkan rapat lagi…" Aura kegelapan mulai muncul dari sekitar lelaki itu. Jack sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah belakang. Tentu saja, terakhir kali dia meninggalkan rapat karena dia mendengar kalau Glen pulang lebih cepat dan karena dia cemas, jadi dia langsung berlari meninggalkan rapat dan akhirnya melepaskan tanggung jawabnya ke lelaki di sebelahnya itu. Untung saja saat itu Reim bisa mengendalikan suasana, kalau tidak dia pasti sudah berada di tiang gantungan.

"Akan aku…" Reim menatapnya tajam dari balik kacamatanya. "Iya, akan aku lakukan!"

X_X

"Gil, kau kenapa?"Tanya Oz saat melihat bawahannya itu menghela nafas dari tadi.

"Oh, Oz. Selamat pagi,"sapanya lesu. Oz mengerutkan dahinya bingung tapi kemudian sadar bahwa mengerutkan dahi bisa menambah keriput jadi langsung diluruskannya lagi xp

"Sekarang sudah waktunya pulang,"ingat Oz. Gilbert langsung tersentak dan melihat kea rah sekelilingnya. Ruang guru sangat sepi dan tidak ada seorang pun disana kecuali dirinya dan Oz.

"Maaf, gara-gara aku…" Aura gloomy mulai terpancar. Oz serentak melompat menjauhinya.

"Yap, gara-gara kau terus melamun sejak tadi pagi, aku jadi pulang telat karena harus menunggumu sadar dan kembali ke ruangan ini."

JLEP!

Gil merasakan sakit di dadanya. Dia menatap ke arah Oz yang sedang tersenyum, tentu saja karena saat ini mata Gil yang menatapnya seperti seekor Chihuahua yang tersesat.

"Ayo Gil, kita pulang!"ajak Oz kemudian menyodorkan tangannya pada Gilbert. Gilbert mengangguk sekuat tenaga kemudian mengapai tangan majikannya.

"Baik!"

X_X

"Vincent-sama?"panggil gadis berambut perak itu pada majikannya yang tengah menatap kea rah luar jendela. Dari sana mereka bisa melihat Oz dan Gil yang berjalan bersama-sama keluar dari Academy.

"Echo, kau sudah melakukannya?"Tanya Vincent penuh arti.

"Iya, Vincent-sama,"jawabnya monoton. Vincent menoleh ke arahnya.

"Kalau begitu hari ini kita kembali!"ajaknya. Echo menunggu Vincent berjalan terlebih dahulu beberapa langkah darinya sebelum dia mengekor dari belakang.


Syntia : GOMEN! Buat sayangku yang ultah tanggal 3 des kemarin, gue LUPAAA!

Oz : Kalau begitu lewat chapter ini saja disampaikan

Syntia : usul bagus! Sayang maaf ya buat ngelupain ultahmu, aye lagi banyak tugas. Gomen juga buat minna karena baru sempat update sekarang. Kufufu, tapi rencana update chapter secepatnya dipercepat kok.

Oz : Untuk semua yang mendukung adanya fanfic ini, terima kasih!

Syntia : Oz-kun, jangan lupa!

Oz : Request pemenang lomba, minna! Kalau bisa request namaku ya!

Syntia : Oz-kun, kita belum mulai pemilu lho.

Oz : Jadi akhirnya…

All : PLEASE REVIEW!