Title : Rabu-rabu Hunt
Warning : May typo and OOC
Syntia : UPDATE! Terima kasih untuk semua reviewer terutama yang udah polling
Oz : Terima kasih minna sudah memilihku jadi pemenang
Syntia : Oz, kok kosa katamu jadi sopan gitu?
Oz : Sebagai pemenang lomba ini aku patut berbahagia
Syntia : Heh kau nggak bakal bilang kayak gitu lagi di chapter selanjutnya. Minna, karena jadwal update fanfic author padat banget
Oz : Itu salah author sendiri kebanyakan bikin fanfic bersambung
Syntia : Oz, kau mau gue cincang hah?
Oz : Happy reading! Hope you enjoy it!
"Oi Oz, apa kita perlu melakukan ini?"tanyanya pada lelaki berambut pirang di depannya yang sama-sama menggunakan pakaian maid wanita berwarna hitam berenda-renda. Info lebih lengkap silakan liat di omake-nya! "Aku mengerti ini untuk mendapatkan cap, tapi… KENAPA BREAK MALAH SANTAI SEPERTI ITU!"teriaknya pada Break yang asik minum teh dan cake dengan Sharon.
"Ara ara Gil, itu sudah jelas kan. Aku sudah tua, jadi tidak kuat kalau harus terus-menerus beraktivitas seperti kalian,"alasannya sambil minum teh yang tadi baru saja di sediakan Gil dan Oz.
"Ano Sharon-chan, capnya…"
"Fufufu Tuan Oz, tentu saja akan aku berikan. Tapi sekarang waktunya minum teh. Bagaimana kalau Tuan Oz dan Tuan Gil ikut, tapi tentu saja dengan memakai baju itu,"senyum Sharon. Eh? alasan Oz dan Gil memakai baju maid? Untuk mendapatkan cap stempel dari para Princess mereka harus melakukan sebuah syarat yang diminta oleh Princess tersebut. Dan syarat dari Sharon seperti yang kalian lihat.
"Wah, itu bagus. Mungkin aku harus memotretnya dan menjualnya ke Ebay,"usul Emily.
"BREAK!"
"Elliot, sekarang kita kemana?"tanya Reo yang udah bosan pake kosa kata formal pada majikannya itu. Mereka udah beberapa kali berkeliling bangunan sekolah tanpa tahu apa yang sebenarnya orang itu cari.
"Sebentar lagi! Tunggu sebentar lagi!"serunya. Tiba-tiba sebuah bayangan melintas ke arah mereka. "ECHO!"
Sosok yang dipanggilnya itu langsung berhenti dan kini berdiri tegak di depan Elliot. Dia memakai seragam Academy berwarna hitam bergaris dan rok mini serta sepatu boot. Rambut putihnya tergerai dengan cantik. Dan bisa kita lihat dengan jelas, sebuah hiasan rambut dipasangkannya disana. "Selamat siang Tuan Elliot. Apa ada yang bisa Echo lakukan?"
"Echo, kau yang membawa cap Princess bukan?" Echo menatapnya tanpa ekspresi kemudian langsung kembali meloncat ke arah lantai dua.
"ECHO!"panggil Elliot tapi Echo sudah menghilang dari pandangan. "Tidak ada cara lain. Reo! Ayo kita kijar Echo!"suruh Elliot lalu berlari duluan.
"Lagi-lagi hal yang merepotkan,"keluhnya namun tetap menyusul majikannya itu.
"Sudah aku bilang aku tidak ikut dalam permainan itu!"kesal gadis itu karena para peserta lomba langsung mengerumuninya dan jumlahnya makin bertambah dari waktu ke waktu.
"Lho? Lotti?" Terkejut namanya dipanggil dia langsung menoleh ke sumber suara.
"Cih, ternyata kau,"jengkelnya. Dia sudah cukup BT dengan lelaki tak dikenal yang langsung mengerumuninya itu dan sekarang orang yang cukup membuatnya sebal malah muncul dengan senyum bodohnya.
"Ah, kau jadi sasaran mereka ya?"goda lelaki itu.
"Aku tidak butuh ejekanmu Vincent."
Lelaki itu tersenyum. Salah satu hobinya kini adalah membuat Lotti kesal dan itu berhasil. Mungkin dia bisa mengajak Jack kerjasama untuk hobinya ini. "Itu karena kau termasuk daftar 5 Princess Academy,"jelasnya.
"Siapa orang bodoh yang mengusulkan hal ini?"
Di tempat lain…
"HACHI!"
"Jack, kau masuk angin? Influenza? Demam? Pusing? Hitung Tersumbat?"
"LIAM! Aku tidak apa-apa, sungguh!"yakinnya pada orang yang kelewat khawatiran itu.
"Fyuh, tentu saja. Kau itu asset sekolah,"gumamnya sembari membersihkan kacamata yang terkena bersin Jack tadi.
"Kira-kira siapa ya yang memenangkan lomba ini?" Senyum Jack melebar. Dia melirik jendela ruang Osis yang langsung mengarah ke lapangan yang kini telah sepi karena para peserta lomba sedang sibuk berkeliling mencari cap. Gedoran di pintunya juga sudah hampir tidak terdengar lagi.
"Hah? Bukannya itu sudah jelas?"
"Nona Alice, silakan makan ini dan berikan capnya!"seru seorang pria sambil memberikan sebuah ayam kalkun besar yang baru selesai dipanggang pada Alice. Alice melihatnya sambil meneteskan air liur.
"Nona Alice, saya membelikan paket besar jadi tolong berikan capnya!"seru lelaki lain yang membawakannya sekotar besar ayam goreng renyah dengan lada hitam yang kelihatannya lezat sekali, membuat Alice semakin meneteskan air liur.
"Nona Alice!"seru lelaki yang lain.
"Wah, sepertinya disana susah sekali,"komentar Oz sembari melihat kerumunan yang menggelilingi satu titik yang sedang asik melahap berbagai hidangan yang diberikan secara gratis padanya yang tampaknya dia santap dengan nikmat.
"Dasar baka usagi, yang dipikirkannya cuma makan,"omel lelaki berambut hitam di sebelahnya. Oz menatap pelayannya itu.
"Ah Gil, kau lupa membersihkan lipstik ya?" Oz mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam sakunya.
"TIdak, tidak perlu Oz!"tolak Gil wajahnya agak memerah karena malu juga panik. Kenapa Gil memakai lipstik? Tentu saja karena Sharon menyuruh mereka memakainya seperti menyuruh mereka memakai korset di dalam baju maid itu. Tubuh Oz yang memang masih dalam tahap pertumbuhan sih tidak apa-apa, tapi Gil?
"Sudahlah ayo kemari!"suruh Oz sambil tersenyum. Gil terpaksa menurutinya karena Oz tersenyum dengan latar belakang kegelapan.
"OZ!" Keduanya menoleh ke sumber suara. Dengan secepat kilat seseorang berlari ke arah mereka dengan membawa sekotak besar ayam goreng. "Lihat, aku diberi banyak daging!"senangnya sembari memperlihatkannya pada lelaki itu.
"Wah Alice, kau sudah makan berapa banyak?" Mata Oz kini juga berbinar-binar.
"10 steak, 2 ayam kalkun, 4 kotak ayam goreng…"
"Woi, kau yakin pencernaanmu tidak terganggu?"
"Hee bukannya kau Cuma iri padaku heh Wakame Atama!"kesal Alice.
"APA? Dasar BAKA USAGI!" Perang dunia kesekian meletus beberapa saat lagi sebelum…
"Ano Alice kami kemari minta cap,"celutuk Oz yang bermaksud menyingkat kunjungan mereka sekaligus mencoba menghentikan peperangan yang akan terjadi itu.
"Hee…" Alice menatap Oz merendahkan. "Kau harus memberiku daging sebelum bisa mendapatkan cap dariku! Dan aku mau daging yang paling enak!"
"Baka usagi ini…" Gil udah siap mencincang ntuh kelinci.
"Alice, apa kau lupa bukannya yang memberimu makan daging selama ini kami? Kalau kau tidak memberi cap mungkin stelah hari ini kau tidak bisa mendapatkn daging lagi."
"Ukh!" Alice tampak berpikir keras. Ini dia! Inilah strategi licik ala keluarga Versaillus! Ato Cuma Oz? "ARRRGHHHH, cepat sebelum aku berubah pikiran!" Oz langsung menyerahkan kartu miliknya dan Gil sambil tersenyum penuh kemenangan. Alice menatap kartu itu kemudian cap-nya. Kartu itu kemudian capnya. Kartu itu…
"Alice… kau tidak tahu cara menggunakannya ya?"cemas Oz.
"BUKAN! Aku sedang menelitinya!" Alice kembali menatap kartu itu kemudian cap di tangannya yang lain. Kartu itu…
"Fufufu ternyata nona Alice tidak bisa melakukannya ya?"goda sebuah suara yang langsung mengundang mereka bertiga untuk menoleh ke sumber suara.
"AKH! SI CLOWN!"
"Ups, mau kemana nona Alice?"tanya Break sembari memegang erat kerah baju seragam cewek berambut hitam panjang itu.
"LEPASKAN!"teriaknya membahana, orang-orang di sekitar mereka langsung mulai berkerumun membentuk lingkaran.
"Sekali melihat 500 yen!"seru Oz sembari berkeliling.
"Oi Oz! Jangan pake topiku seenaknya!"
"Fufufu aku bisa mengajarimu kalau mau,"tawar Break sambil menjilati permen lolipop.
"Tidak! Tidak perlu, aku bisa sendiri!"tolaknya sembari berusaha lari sekuat tenaga.
"Oh… tidak mau ya? Padahal aku sudah berbaik hati ingin membantumu" Aura kegelapan mulai muncul dari arah belakang Alice.
"GYAAA! MAD HATTERRRR!"
"Lomba ini dihentikan untuk sementara dikarenakan ada kecelakaan kecil. Tapi para pemegang cap, peserta dan reader dimohon untuk tetap berpartisipasi dalam acara ini." Jack mematikan mic di ruang siaran. "Nah Liam, selanjutnya tolong urus ya!"
"Ini semua pasti karena Break,"gumamnya sementara yang bersangkutan malah asik jalan-jalan untuk mencari cap terakhirnya.
Syntia : Hmm enaknya langsung chapter depan pemenangnya nggak ya?
Oz : Hmm itu sih tergantung keinginan reader
All : PLEASE REVIEW!
