Can't Let Go-Momento
Disclaimer: Tite Kubo *always~*
Pairing: Gin-Rangiku
ENJOY!
Rasa rindu itu datang, namun tak dapat kutepis...
Ingin kukatakan tidak, namun aku tak ingin berbohong lagi,
Aku merindukanmu….
Bulan mulai tertutup awan hitam, pertanda hujan akan turun. Orang-orang mulai berjalan menjauh dari sebuah pualam yang tampak masih baru. Seorang pemuda berambut perak berdiri cukup jauh dari pualam itu, di saat sudah tidak ada lagi orang di sekitar pualam itu barulah pemuda itu memberanikan diri untuk mendekati pualam itu.
Pemuda itu meletakan setangkai mawar putih di pualam itu, lalu duduk dan berkata "Konbanwa, Rangiku". Ia tersenyum menatap foto gadis yang kini namanya tertulis di pualam itu, foto orang yang ia cintai… Rangiku. "Maaf jika aku baru datang sekarang, tapi… Yah… Kau tahu, rasanya aku tidak sanggup jika harus membayangkan…. Ahh, lupakan saja kata-kataku tadi" kata pemuda itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pemuda itu terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia kembali berkata "Ah… Lihat bagaimana sifat lamaku keluar! Huh, kau pasti ingat kan? Saat aku menginginkan sesuatu, saat aku ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan, sifat ini selalu muncul".
Pemuda kembali terdiam, seolah berharap foto dihadapannya dapat berbicara dan ia tidak perlu bicara sendiri, namun tentu saja ia tahu, itu tidak mungkin. "Dan, kau juga pasti ingat bahwa hanya kau yang bisa menenangkanku. Tapi sekarang kau pergi. Mungkin sifat ini akan terus terbawa eh?". Pemuda itu menghela nafas, tanpa ia sadari setetes air mata mulai bergulir pelan menuruni pipinya.
"Hei, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Rangiku. Hari itu adalah hari ulang tahun Rangiku, dan mereka sedang merayakannya sambil duduk di dekat danau sambil dan pemandangan musim gugur. Gin tidak menyahut, ia hanya menatap Rangiku dengan tatapan cemas. "Ahh, aku tahu!". Gin terbelalak, keringat dingin menuruni pelipisnya. "Kau ingin memberiku hadiah ya?" tebak Rangiku dengan muka berseri-seri. Gin tetap diam, membuat Rangiku jengkel. "Kau tahu, aku benci sifatmu ini! Saat kau menginginkan sesuatu, saat kau ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa kau katakan kau pasti diam!" kata Rangiku dengan kesal.
Mendadak Gin tertawa, membuat Rangiku semakin kesal, namun ia turut tertawa saat melihat raut wajah Gin yang tampak senang. Pada akhirnya, saat mereka berjalan pulang Gin memberikan hadiahnya, sebuah jepit rambut bermotif kupu-kupu dan setangkai mawar putih, bunga kesukaan Rangiku. "Arigatou, Gin. Oh ya, kau harus bisa mengatakan apa yang kau rasakan! Bagaimana nanti jika kau akan berhadapan dengan gadis yang kau suka?" oceh Rangiku saat ia hendak masuk ke rumahnya. Gin hanya tersenyum, lalu berbalik untuk pulang ke rumahnya. Namun belum sempat ia melangkah, Rangiku sudah ada di sampingnya, lalu mengecup lembut pipinya. Gin terkejut,ia ingin mengatakan sesuatu, namun Rangiku sudah masuk ke rumahnya dengan muka merah.
"Aku…. Aku merindukanmu" setetes air hujan menyatu dengan air mata pemuda itu lalu terjauh diatas mawar putih yang pemuda itu bawa, disusul dengan air hujan yang lain. Pemuda itu- Gin- tetap duduk di depan pualam gadis itu, tidak memperdulikan dinginnya air hujan yang kini menusuk tulangnya. "Kau harus pulang, Gin" kata sebuah suara. Gin menoleh mencari sumber suara itu, sambil berharap itu bukan hanya imajinasinya. "Gin, kau harus pulang sekarang" suara itu kembali terdengar. Kali ini ia yakin, itu suara Rangiku.
"Pulanglah Gin" kini terdengar suara Ryu, kakak Rangiku. Gin menoleh dan melihat Ryu berdiri di sampingnya. Sebelah tangannya memegang payung, sementara tangannya yang lain mengulurkan sebuah payung kepada Gin. "Ryu…" sapa Gin dengan sedikit kecewa, padahal ia yakin itu adalah Rangiku. "Dia tidak akan senang jika kau terus duduk di hadapannya tanpa payung" kata Ryu. Gin tersenyum kecil sambil mencoba membayangkan apa yang akan Rangiku katakan. "Kenapa kau ada di sini?" Tanya Gin saat ia dan Ryu berjalan meninggalkan pualam Rangiku.
"Sebenarnya aku baru saja tiba dari luar kota, dan aku berfikir untuk mengunjungi Rangiku besok siang akibat hujan ini" jawab Ryu sambil menengadah, melihat hujan yang turun dari langit yang gelap. "Namun nyatanya adikku tidak sabar, dan ia mendatangiku melalui mimpi. Ia ingin aku datang ke pualamnya sambil membawa dua payung". Gin berhenti berjalan, terkejut mendengan jawaban Ryu. "Tentu saja, kau bisa menebaknya Gin, dia menghawatirkanmu" kata Ryu sambil tetap berjalan. Gin tidak menyahut, ia kembali berjalan menyusul Ryu. Saat mereka tiba di persimpangan jalan dan harus berpisah, Ryu mengulurkan sebuah kantung plastik berisi sebuah kotak kepada Gin.
"Ini untukmu" kata Ryu. Gin mengambil kantung itu, lalu berkata "Arigatou, Ryu". Ryu hanya tersenyum, persis seperti cara Rangiku tersenyum kepada Gin. "Bisa aku minta satu hal darimu?" Tanya Ryu, Gin mengangguk. "Pulanglah, jangan buat dia terus khawatir". Gin terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil. Ryu tersenyum lega, lalu berjalan meninggalkan Gin di tengah hujan.
23.00, Kokoro Boarding School
Gin menuruti permintaan Ryu, ia pulang walau dengan langkah yang sangat amat lambat. Saat ia berhasil menyusup ke kamarnya tanpa diketahui oleh penjaga, ia baru menyadari waktu yang begitu cepat berlalu. Hari ini ia sudah melanggar jam malam di asramanya, ia sudah melewatkan shif malamnya di Kunkuraku. Sungguh hari yang kacau!.
Ia membiarkan jendela besar di kamarnya terbuka, sementara ia duduk di depan lilin untuk membuka kantung pemberian Ryu. Di dalam kantung itu terdapat sebuah kotak yang berisi sebuah buku lusuh – buku pemberian Gin untuk Rangiku di hari ulang tahunnya- dan handphone Rangiku. Mendadak ia menggigil, ah… Ia lupa mengganti bajunya yang basah, tapi ia tidak perduli dengan bajunya, yang ia perdulikan sekarang adalah memahami maksud Rangiku memberinya buku itu.
Gin membuka lembar pertama buku itu, dan hal pertama yang ia sadari adalah Rangiku menjadikan buku itu sebagai diary dan ia ingin Gin membacanya. Gin menghela nafas, lalu mulai membaca tulisan Rangiku. Dengan membaca tulisan Rangiku, ia merasa turut mengambil bagian dari perasaan Rangiku, hingga ia tiba di hari pertama kali mereka bertemu…
Hari ini adalah hari pertamaku sebagai pegawai di Kukuraku. Sebenarnya ibu sudah melarangku untuk bekerja, tapi toh aku sudah memutuskan untuk bekerja!.
Di Kunkuraku aku bertemu dengan Akajima dan ternyata dia juga bekerja di shif yang sama denganku! ^^. Oh ya, ada seorang pemuda berambut perak yang biasanya mengikuti Akajima. Mukanya seperti kucing dan matanya nyaris terpejam. Dia tampak cukup misterius dan terkadang aku memergokinya sedang menatapku, mungkin dia ingin berkenalan denganku?. Entahlah, tapi yang jelas hari ini sangat menyenangkan!
###
Akhirnya, setelah satu minggu aku bekerja di Kunkuraku *hingga tidak sempat menulis lagi * aku bicara dengannya. Siapa? Tentu saja pemuda berambut perak itu, namanya Gin, Gin Ichimaru. Dia orang yang cukup menarik dan ternyata ia bersekolah di Kokoro Boarding School seperti Renji dan Kira!. Betapa sempitnya dunia ini!.
###
Astaga, perasaan apa ini? Entah mengapa sejak seminggu yang lalu perasaan ini muncul!. Rasanya jantungku berdetak TERLALU kencang saat aku melihat sakit hati di hatiku juga berkurang, bahkan tidak terasa lagi!. Apa ini karena Gin? Apa aku menyukainya? Tapi, astaga…. Aku baru mengenalnya selama dua minggu!.
Gin berhenti membaca, ia meletakan buku itu di meja, lalu memejamkan matanya sejenak. Ternyata Rangiku menyukainya sejak awal mereka berkenalan! Astaga, kenapa dia begitu bodoh? Kenapa ia tidak menyadari hal itu?. Gin menutup buku diary Rangiku, lalu memasukannya kedalam box dan beralih kepada handphone Rangiku. Ia menyalakan handphone itu dan… Astaga!. Rangiku menjadikan foto mereka berdua sebagai wallpaper.
Gin menghela nafas, terdiam sejenak, berusaha untuk mengabaikan foto itu, walau itu tidak mungkin. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lihat dari handphone Rangiku?. Tanpa ia sadari ia menekan sebuah tombol, lalu munculah tulisan inbox di layar handphone Rangiku. Gin mendapat ide, ia membaca inbox Rangiku yang ternyata semua pesan yang ada berasal dari dirinya!. Kalaupun ada beberapa pesan yang berasal dari nomor lain, pesan itu berisi tentang dirinya. Ternyata selama ini Rangiku begitu mencintainya, semua yang bisa ia jadikan pengingat akan kebersamaan mereka akan ia simpan.
Gin meletakan handphone Rangiku di kotak itu, lalu menyimpannya di lemari. Ia kembali berjalan kearah jendela, dan duduk. Kenangan akan kebersamaannya dengan Rangiku mulai menyerangnya. Senyum Rangiku, tawa Rangiku, saat dimana mereka berjalan-jalan bersama, saat mereka bertengkar karena hal kecil, saat Gin pernah membuat Rangiku menangis karena melukai hatinya...
"Apa kau membenciku, Rangiku?" tanya Gin sambil menatap langit malam. "Aku mungkin menyembuhkan luka hatimu, tapi aku juga melukai hatimu lebih jauh lagi bukan? Kau pasti membenciku".
Gin
Gin tersentak, itu suara Rangiku!
Lama ia terdiam. berharap dapat mendengar lagi suara Rangiku, tapi tidak ada suara sama sekali.
Mendadak, handphone Rangiku -yang belum Gin matikan- berbunyi, mengagetkan pemuda itu. Saat ia berjalan untuk mengambil handphone itu, ia merasa badannya begitu lemas.
Gin
Suara itu lagi!.
Gin, bertahanlah
Rangiku!, ya... Itu dia...
Gin melihat Rangiku, ia berdiri di hadapan Gin dengan pandangan sedih. Saat Gin mencoba untuk menggapai bayangan gadis itu, saat itulah ia terjatuh kedalam kegelapan...
Akhirnya beres juga
mohon reviewnya ^^
NB: kalau ada yang bingung apa itu momento, akan saia jelaskan...
Momento itu kotak yang isinya benda-benda milik orang yang sudah meninggal ^^
BANZAI X3
