Can't Let Go-Nightmare
Disclaimer: Tite Kubo *Always~*
Pairing: Gin-Rangiku
ENJOY!
Hatiku, apa akan tetap merasakan sakit ini?
Jantungku, apa akan merasakan detak tak teratur itu lagi?
Hidupku, apa akan tetap sama seperti yang dulu?
Di dalam tidurnya Gin bermimpi
Ia berada di taman tempat ia dan Rangiku sering menghabiskan waktu, tapi ada yang berbeda dengan taman itu. Warna-warna di taman itu menghilang, bunga-bunga layu, daun-daun begitu rapuh dan terjatuh saat angin lembut bertiup.
"Dimana aku?" pikir Gin sambil berjalan. Tanpa ia sadari, langkahnya membawanya ke danau di tengah kolam. "
Gin
Nah, suara siapa itu?.
Gin
Suara itu berasal dari sebuah pondok di tepi danau. Gin berjalan perlahan menuju pondok itu. Sesaat ia ragu, apa ia harus membuka pintu itu?
Gin
Suara itu terdengar lagi!
Kali ini Gin memantapkan pilihannya, ia membuka pintu itu…
Renji hampir saja menyelesaikan permainan pianonya saat Rangiku mengejutkannya.
"When the love fall by Hiruma" kata Rangiku yang mendadak sudah ada di samping piano.
"Rangiku!" Renji terkejut saat melihat sepupunya sudah berdiri di samping piano.
"Ohayou Renji"
"Kenapa kau menemuiku? Gin yang lebih membutuhkanmu"
Rangiku tersenyum sedih, lalu berkata "karna itulah aku ada di sini, aku tidak bisa menemuinya"
"Kenapa tidak?"
"Belum saatnya"
Renji menutup piano dihadapannya.
"Lalu kapan saatnya tiba? Saat dia mati dan menemuimu?" Tanya Renji ketus
Rangiku terdiam, ia tidak menyangka Renji akan bertanya seperti itu, dan jujur saja jika ia bisa mengakuinya kepada Renji, maka ia ingin mengaku bahwa ia sendiri juga tidak tahu kapan waktu yang tepat.
"Oke, dengar aku Rangiku. Maaf… Mungkin aku terlalu ketus, tapi kau pasti mengerti bagaimana keadaan Gin saat ini"
Rangiku mengagguk kecil
"Kalau begitu, temui dia! Katakan perasaanmu dan kau bisa beristirahat dengan tenang"
Rangiku tersenyum sedih, lalu berkata "aku tidak tahu apa aku bisa tenang, tapi untuk sementara ini aku akan tenang jika ia segera sembuh dan mengerti semuanya setelah kejadian semalam. Ja ne, Renji"
"Hei tunggu!" Renji berdiri, mencoba meraih Rangiku yang tiba-tiba menghilang dan ia terjatuh kedalam kegelapan lalu terbangun.
Kira baru saja akan menutup pintu kamarnya saat pintu kamar Renji terbuka.
"Ohayou, Renji. Hei, kenapa kau tampak terburu-buru?" kata Kira
"Rangiku, ia mendatangiku lewat mimpinya, dan aku punya firasat buruk tentang Gin" jawab Renji cepat.
"Gin" panggil Renji sambil mengetuk pintu kamar Gin
1 menit…. Tidak ada respons dari dalam kamar pemuda berambut perak itu.
"Hei Gin!" panggil Renji lagi, sambil mencoba membuka pintu kamar Gin yang ternyata…
"Tidak terkunci? Ini aneh" pikir Renji sambil berjalan cepat memasuki kamar Gin.
Kira mengikuti langkah cepat Gin, ia melihat keadaan kamar Gin yang tampak berantakan.
Jendela besar di kamar Gin terbuka lebar, lantai tampak basah dan Gin terbaring tak sadarkan diri di dekat meja.
"Gin! Hei Gin!" kata Renji sambil berlutut di samping temannya itu
"Kira, ini sungguh tidak bagus, ia pasti membiarkan jendela terbuka semalaman, dan hujan membasahi tubuh… Astaga, panas sekali" kata Renji saat menyentuh kening Gin
"Coba kau keringkan tubuhnya, aku akan memanggil Byakuya-san" kata Kira sambil berlari keluar kamar.
Sepeninggalan Kira, Renji menggeser tubuh Gin lalu menyandarkannya ke tembok. Ia sedang menutup jendela besar saat pandangannya tertuju kepada sebuah kotak biru yang ia kenali sebagai kotak milik Rangiku.
"Kotak ini…." Pikir Renji sambil membuka kotak itu dan menemukan sebuah diary dan handphone Rangiku yang kering di dalamnya.
Renji menatap diary Rangiku, ia teringat akan ucapan Rangiku kepadanya di mimpi itu…
Aku tidak tahu apa aku bisa tenang, tapi untuk sementara ini aku akan tenang jika ia segera sembuh dan mengerti semuanya setelah kejadian semalam
"Rangiku…" terdengar bisikan lirih dari Gin, ia mengigau.
"Bertahanlah, Gin" bisik Renji sambil menutup kotak itu.
Saat Kira dan Byakuya tiba di kamar Gin, lantai sudah kering dan Gin terbaring di ranjangnya dengan pakaian kering.
"Kapan kalian menemukannya tak sadarkan diri?" Tanya Byakuya sambil memeriksa Gin
"sekitar pukul 6, ia terbaring di dekat jendela yang terbuka" jawab Renji
Byakuya tidak menjawab, tampaknya ia sedang serius.
"Demamnya cukup tinggi, kusarankan kita membawanya ke rumah sakit" kata Byakuya setelah membaca thermometer.
"tapi badai akan segera datang, kita harus menunggu hingga besok pagi" kata Kira muram
"Kalau begitu tidak ada jalan lain, kita harus menunggu hingga besok. Aku akan menghubungi rumah sakit" kata Byakuya sambil berjalan menjauh.
"Ia pasti sangat merindukan Rangiku bukan?" Tanya Kira sambil duduk di sofa.
Renji mengangguk kecil, ia menaruh sebuah baskom berisi air di samping tempat tidur Gin, lalu mencelupkan sebuah kain.
"Tapi bagaimanapun juga, Gin orang yang kuat, ia tidak pernah menangis walau apapun terjadi"
Renji menatap Kira dengan penuh tanya
"Kau tahu, dulu aku dan Gin berasal dari panti asuhan yang sama"
"Jadi kau dan Gin berasal dari satu panti asuhan?" Tanya Renji
Kira mengangguk
"Saat aku berumur 5 tahun, aku bertemu dengannya untuk yang pertama kali. Saat itu ibu kepala mengatakan ia ditemukan di depan panti, sendirian tanpa ada keterangan apapun mengenai keluarganya. Saat itu ia tidak menangis seperti anak-anak lain yang ditemukan di depan panti tanpa orang tuanya, tidak, sepanjang ingatanku ia tidak pernah menangis. Bahkan saat ia dihukum oleh pengawas, saat ia terjatuh dari pohon, saat ia dipukul oleh guru karena kabur dari kelas ia tidak pernah menangis"
Renji menatap wajah Gin yang pucat, ia tidak menyangka pemuda itu mengalami masa-masa yang berat
"Tidurlah Renji, biar aku yang menjaga Gin" kata Kira
Renji mengangguk, lalu menyerahkan kain yang ada di tangannya dan berjalan meninggalkan kamar Gin.
Saat pintu itu terbuka, Gin melihat ada taman yang sama dibalik pintu itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" pikir Gin sambil melangkah memasuki taman di balik pintu itu.
Taman itu sama seperti taman yang ada di belakangnya, yang membedakaan hanyalah taman itu sungguh cantik.
Gin
Kini suara itu berasal dari danau di tengah taman, cepat-cepat Gin berjalan menuju danau itu, tapi tidak ada satu orang pun di dekat danau itu.
Gin
Gin mengedarkan pandangannya ke penjuru taman, namun tetap saja ia tidak menemukan satu orang pun di taman itu, hanya ada dirinya sendiri.
Gin
"Siapa itu?" Tanya Gin
Gin
"Dimana kau berada?" Tanya Gin lagi
Gin
"SIAPA KAU!" teriak Gin frustasi, tanpa sengaja ia melihat kearah air danau.
"Ba… Bayangan ini…" pikir Gin terkejut.
Itu adalah bayanganny saat ia berjalan-jalan dengan Rangiku untuk yang pertama kalinya, tapi sosok Rangiku tidak Nampak di bayangan itu, tergantikan oleh bayangan putih.
Gin, ayo kita pulang sekarang
Tapi Rangiku…
Ayo, matahari sudah hampir tenggelam!
"Ti… Tidak, ini salah… Dimana Rangiku?" pikir Gin
Lalu tiba-tiba saja danau itu memunculkan bayangan Rangiku, namun sebuah goncangan besar mengaburkan bayangan itu.
"Rangiku!" tanpa sadar Gin meloncat kedalam danau, dan ia terbangun.
Hujan mulai turun saat Kira menyalakan TV untuk melihat berita
"Menurut pengamatan para ahli, badai yang menerjang tanjung Kokoro sudah lewat dan diperkirakan besok cuaca akan cerah" kata si reporter
"Syukurlah, jadi Gin bisa dibawa ke rumah sakit besok" pikir Kira sambil mengganti saluran TV.
Ia menonton sejenak sebelum mematikan TV lalu berjalan menuju jendela besar.
"Semoga hujannya tidak besar" pikir Kira sambil menutup gorden.
Tanpa sengaja ia melihat sebuah kertas tertempel di gorden.
"Bukankah ini tulisan Rangiku?" pikir Kira sambil mengambil kertas itu, lalu membacanya
Hatiku, apa akan tetap merasakan sakit ini?
Jantungku, apa akan merasakan detak tak teratur itu lagi?
Hidupku, apa akan tetap sama seperti yang dulu?
"Apa maksudnya ya?" pikir Kira kebingungan.
Ia menempelkan kertas itu di meja, lalu duduk di samping tempat tidur Gin.
"Hoam" Kira menguap, rasa lelah menyelimutinya dan tanpa ia sadari ia tertidur.
Matahari belum bersinar, tapi Gin sudah terbangun dari mimpi buruknya.
Ya, mimpi itu… Mimpi dimana ia mencari bayangan Rangiku yang semakin pudar.
"Apa yang terjadi?" pikir Gin saat membuka matanya.
Ia merasa lemas, tapi di otaknya ada satu tempat yang harus ia tuju.
"Kira?" bisik Gin saat menyadari kehadiran temannya itu.
Kira tidak terbangun,ia tetap tidur walau Gin membuat goncangan saat ia berusaha turun dari tempat tidurnya.
Saat kaki Gin menyentuh lantai, rasanya ia nyaris tidak bisa berdiri sendiri.
"Tidak… aku harus ke tempat itu… Harus…" pikir Gin sambil memaksakan kakinya melangkah.
Perlahan tapi pasti,ia berhasil berjalan menuju lemarinya dan mengambil jaket lalu berjalan keluar meninggalkan Kira.
uwaaa akhirnya!
setelah mikir kepanjangan XD akhirnya beres juga...
seperti biasa, mohon reviewnya ^^
BANZAI X3
