Can't let you go, but… Sayounara…

Disclaimer: Tite Kubo

NB: Rangiku's POV

ENJOY!


Karena hanya ada satu hal yang ia inginkan. Yaitu untuk menemui gadis itu di tempat kenangan mereka, dan menyatakan keputusan yang harus ia tanggung seumur hidupnya…

Aku yakin kau tidak ingin aku melihatmu sekarang. Bukan karena wajahmu yang sepucat mayat atau karena jalanmu yang begitu lambat seperti kura-kura, tapi… Karena air mata yang perlahan menuruni pipimu.

Kau tidak pernah memperlihatkan air matamu kepada siapapun, tidak kepada Kira, Renji, ataupun aku.

Tapi aku tahu kau menangis, Gin.

Aku tahu kau merasakan sakit di dadamu, di hatimu.

Aku tahu kau ingin berteriak, ingin menangis sepuasmu, ingin menumpahkan semua kesedihanmu, tapi kau hanya tersenyum setiap kali rasa sakit itu datang, sambil menyentuh telapak tangan kirimu.

Aku tahu telapak tanganmu akan terasa sakit setiap kali kau merasa hancur, ya… Aku tahu, tapi kau tidak.

Kau menolak kehadiranku, kau menolak semua orang, kau selalu membawa rasa sakit itu sendiri, membiarkan orang lain menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi padamu.

Kau tidak pernah membiarkan perasaanmu menguasaimu, kau selalu sendiri… Ya, sendiri.

Tersenyum sendiri, sakit sendiri, dan menangis sendiri.

Gin, tahukah kau aku sangat ingin kau menumpahkan semua kesedihanmu kepadaku? Membiarkan aku memasuki hidupmu, merasakan apa yang kau rasakan, menangis saat kau menangis, dan tersenyum saat kau tersenyum.

Apakah aku tidak cukup layak untuk mendengar semua itu?

Apa aku bagimu, Gin?

"Rangiku" panggillmu pelan.

Sejenak aku hanya terdiam, membiarkan suaramu ditelan angin, karena...

Kau tidak mungkin melihatku bukan?

"Lihat aku, Rangiku" katamu lagi, dan kali ini aku mendongak, menatap wajahmu yang pucat. Kau melihat kearahku dengan senyummu yang khas.

Oh… Oh… Ya Tuhan, apa kau benar-benar melihat kearahku? Ataukah…

"Aku tahu kau pasti ada di sini" ucapmu sambil duduk di bangku taman yang masih berbentuk walau sudah dihantam badai sehari sebelumnya.

Aku hanya tersenyum, hatiku terasa begitu… Sakit, tapi aku senang karena kau ada di sini, bersamaku.

"Jadi, apa kau tidak akan berbicara denganku?" tanya Gin

Bukan... Bukannya aku tidak mau.. Tapi...

"Ataukah kau... Hanya imajinasiku saja?"

Tidak Gin! Aku disini, aku memang ada di sini!

Kau tertawa pelan sambil menutup wajah dengan tanganmu

"Mungkin ini memang imajinasiku saja, mungkin ini karena aku terlalu mencintaimu... Hingga aku berharap kau ada di sini"

Tunggu! Apa yang tadi kau bilang?

Mencintaimu?

"Ja, karena kau hanya imajinasiku... Maka... Mungkin ini memang saat yang tepat untuk mengatakan semuanya, hal yang seharusnya aku katakan bertahun-tahun yang lalu"

Kau menghela nafas sebentar, sebelum menarik wajahmu dan menatapku langsung di mata.

"Aishiteru, Rangiku"

Dan saat itulah langit terbuka, menampakkan sinar keemasan yang menyelimuti tubuhku.

Kau meloncat berdiri dan menyadari bahwa ini bukan imajinasimu, aku memang ada di sampingmu.

"Apa ini memang kau, Rangiku?" tanyamu dengan wajah sedih

Ya, ini aku... Tapi aku tidak mungkin berbicara denganmu Gin, tidak sekarang, tidak juga nanti...

Aku hanya tersenyum sedih, berusaha meraih tanganmu yang panas, namun aku tidak bisa menyentuhmu...

Kau tersenyum sedih, lalu menatap ke langit.

"Apa ini saatnya? Apa aku sudah melakukan kesalahan sehingga kau harus pergi secepat ini?"

Aku menggeleng pelan, ini memang bukan salahmu.

"Ja, kurasa ini memang waktumu, tapi... Aku tidak bisa melepaskanmu... Tidak sekarang, tidak nanti, tidak akan pernah..."

Mataku terbelalak mendengar pernyataanmu, dan saat itulah sinar keemasan itu meredup.

Kau menghempaskan dirimu ke tanah, mengabaikan kenyataan bahwa kau mengotori jaket putih kesayanganmu.

"Aku tidak mungkin melepaskanmu, Rangiku... Tidak sebelum aku mengatakan semua yang harus aku katakan padamu sejak dulu"

Aku tersenyum kecil, lalu duduk di sampingmu.

Kau tersenyum, lalu mulai berbicara dengan pelan namun pasti.

"Aku tahu, aku tidak mungkin selamanya menahanmu di sini. Tidak, walau hatiku mengatakan aku ingin kau tetap di sini. Sejujurnya, ada banyak hal yang tak bisa kuucapkan, tidak walau aku tahu aku harus mengatakannya sekarang."

Kau berhenti sejenak sebelum menatap gumpalan tanah di sepatumu.

"Salah satunya adalah bagaimana perasaanku saat ini..."

Kau tidak perlu mengatakannya, Gin.

Aku tahu, aku mengerti...

"Aku... Aku benci dengan perpisahan, aku benci kehilangan, aku benci sendirian. Tapi, aku tidak bisa menahanmu dan membiarkan egoku menang"

Kali ini kau menatapku, tangan kananmu memegang erat tangan kirimu.

Apakah itu sakit, Gin?

Apa aku menyakiti hatimu?

"Pergilah, Rangiku... Aku... Aku merelakanmu"

Sinar itu kembali menerangiku, dan kali ini tubuhku terasa begitu ringan.

Aku menatapmu dengan berbagai macam perasaan di dalam hati.

Apa ini memang maumu? Bukankah kau bilang kau tidak akan melepaskanku sebelum kau mengatakan apa yang seharusnya kau katakan?.

Apa hanya itu yang ingin kau katakan?.

Apa kau tetap tidak bisa membagi sedikit saja bebanmu untukku?.

Kali ini kau berusaha meraih wajahku, dan entah apa yang Kami-sama rencanakan, tapi aku bisa merasakan hangat tanganmu di pipiku.

Wajahmu menunjukkan keterkejutan yang sama seperti di wajahku, tapi kau langsung mengubahnya dengan senyuman.

Bukan senyuman palsu yang selalu kau berikan, tapi senyum yang selalu aku nantikan, senyum yang tidak pernah kau bagikan kepada siapapun di dunia ini.

"I can't let you go, but... Sayounara..."

Dan senyum itu pun menghilang dari pandanganku...

Hei Gin, jika suatu saat nanti kita bertemu lagi...

Aku ingin melihat senyum itu lagi...

Dan nanti, kita tidak akan terpisahkan lagi...

Sehingga kita bisa selalu mengatakan apa yang kita rasakan...


Sebelumnya saya ingin minta maaf karena memakan waktu 1 tahun sebelum kembali menuntaskan fic ini...

Tapi, berhubung banyaknya tugas jadilah tertunda sekian lama... TT_TT

Pengennya sih menuntaskan semua utang fic #melirik fic pertama yang udah bulukan# tapi karena adanya tugas lain yang ga kalah butuh perhatian ekstra dalam hal ngarang #karya tulis kok ngarang? *digebug pembimbing*# jadilah mungkin akan tertunda lagi '^_^v

Demo, semoga readers bisa menikmati ending dari cerita ini :)

Ja, RnR plz? X3

BANZAI! X3