Hahahahaha. Karena besok itu Idul Adha , dan kalo Idul Adha identik dengan kurban, kalo ada kurban berarti nanti ada daging, kalo ada daging berarti nanti bakalan nyate. Kalo nyate nanti Tsuki ga bakal bisa publish cerita. Jadi daripada Tsuki menunda publish lebih baik Tsuki mempercepat publish. Gak kerasa kalo nih fanfic udah selesai, Tsuki sedih mengetahui bahwa fanfic ini selesai. Tapi Tsuki menyadari jika ada pertemuan pasti ada perpisahan, jika ada awal pasti ada akhir, dan jika ada Tsuki pasti ada fanfic. Hahahahahaha. *GUBRAK!* Tsuki benar- benar berterima kasih kepada semuanya yang sudah menunggu lama dan membaca fanfic ini. fanfic selesai dengan ending yang menurut Tsuki sepertinya sudah benar. Hehehehehehe. Tsuki minta maaf, kalo Tsuki banyak salah kata, apalagi kalo sampai nyakitin hati readers. Tsuki tidak bermaksud. Tsuki hanya… *Woy! Mana ceritanya?* Tsuki hanya mau bales review kok, supaya gak buang- buang waktu lagi.
natsuki-riri : maaf, maaf, maaf. Bukan maksud Tsuki begitu. Tsuki bener- bener ga maksud. Itachi adalah orang yang selalu Tsuki istimewakan, karena dia adalah Nii-chan Tsuki. xixixixixi, teka- teki gaje tuh. arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
monkey D eimi : xixixixixi, wah… iya juga ya. Maaf, Tsuki memang ga bisa buat teka- teki yang baik. Touru memang anak Shika dan Temari asli kok. Maaf, maaf, maaf. Kayaknya baca fanfic ini, monkey D eimi bakalan lebih benci kepada Tsuki. maaf…. arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Sasu teme : hahahahhaha, sekarang udah update kok. Gak perlu nunggu lama lagi jadinya . arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Apdian Laruku : ya begitulah, Sasuke memang belum tahu tentang Haru. arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
fly girlz : tenang… disini bakal dideskripsiin kok. Masalah itu… baca aja ya. *PLAK!*. arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Fanny Amatir Author : yupz, benar sekali. Dia adalah anaknya bukan adiknya . arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Lady Spain : bisa aja kok, kan Tsuki yang buat. *ditimpuk pake bakiak* xixixixixi, Tsuki hanya memberikan sedikit teka- teki, walaupun ga sempurna. Hehehehehe. Iya nih… Gaara Tsuki jadiin jahat dulu. Pribahasa 'jangan lihat buku dari covernya' itu bener- bener terjadi disini. Maafkan Tsuki…. tapi itu harus terjadi, . arigatou, arigatou, arigatou *membungkukan badan*.
Happy reading!
DON'T LIKE, DON'T READ!
Naruto punya Masashi Kishimoto. Bukan punyaku. Tapi kalo dikasih boleh juga. hahahahaha.*di amaterasu Itachi*
Pairing : SasuFemnaru
Warning : TYPO dan OOC tingkat akut, pokoknya kesalahan ada dipenulis.
Namikaze Naruto : 23 tahun
Uzumaki Tsukiko (Naruto) : 16 tahun
Nara Shikamaru (Uzumaki Shirui): 24 tahun
Uchiha Sasuke : 24 tahun
Yakushi kuroi (Sasuke) : 16 tahun
MISI
Naruto bersiap, dia akan berangkat menuju tempat perjanjian dimana dia akan bertemu dengan Gaara. Dia sudah berpakaian rapih. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Gaara menjemputnya untuk pergi.
DRET DRET DRET
Hp Naruto bergetar, Naruto melihat hp itu sekilas lalu menghela napas sebelum akhirnya mengangkatnya.
"Aku akan kedepan sekarang." Naruto melihat kembali penampilannya dicermin. Setelah itu dia segera keluar. Dia dapat melihat Sasuke yang sedang melipat tangannya dan dia sedang menatapnya.
"Aku pergi." Naruto berkata kepada Sasuke.
"Tunggu dulu!" Sasuke menarik tangan Naruto. Naruto menatap Sasuke, dia menunggu sesuatu yang akan dikatakan oleh Sasuke.
"Hanya satuhal yang perlu kau tahu, Naruto. Aku mencintaimu." Sasuke menatap dalam Naruto lalu setelah itu dia melepaskan tangan Naruto, membiarkan Naruto pergi menemui Gaara.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Naruto menatap Gaara untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Besok dia akan menggrebek markas Orochimaru. Naruto mengetahui bahwa Gaara adalah salah satu dari mereka. 'Apa yang aku lakukan jika aku harus bertemu dan bertarung dengannya.' batin Naruto.
Gaara membelai rambut Naruto dengan sayang dan menatap Naruto dengan lembut. Didekatkan wajahnya ke wajah Naruto.
"Aku sedang tidak mood." kata Naruto mendorong tubuh Gaara.
"Baiklah." kata Gaara. Dia kemudian menggenggam tangan Naruto. Naruto tahu sebenarnya Gaara telah mengetahui kebenarannya bahwa dia adalah Naruto bukanlah Uzumaki Tsukiko. Naruto menghela napas dan menggenggam balik tangan Gaara.
"Aku ingin minta maaf atas semuanya, Gaara." Naruto menatap Gaara.
"Minta maaf?" Gaara memiringkan kepalanya tanda bahwa dia tidak mengerti. Naruto membingkai wajah Gaara dengan tangannya dan menempelkan dahi mereka berdua.
"Kau bilang kau sedang tidak mood." Gaara mencubit pipi Naruto gemas. Naruto tersenyum kearah Gaara dan kemudian Gaara mencium bibir Naruto dengan lembut. Naruto mencoba untuk menikmati ciuman itu. Dia hanya ingin membuat akhir cerita dengan Gaara. Naruto memejamkan matanya. 'Aku mencintaimu.' tiba-tiba kata-kata Sasuke muncul dikepala Naruto. Naruto langsung melepaskan ciumannya bersama Gaara dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Ada apa?" kata Gaara menatap Naruto. Naruto menatap Gaara dengan pandangan tegas.
"Kita putus!" Naruto berdiri lalu pergi meninggalkan Gaara. Gaara mematung ditempat tapi sedetik kemudian dia bangkit dan mengejar Naruto. Dia sedikit tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia menarik tangan Naruto.
"Hey! Jika ada masalah cerita." Gaara mengacak-ngacak rambut Naruto dan tersenyum. Naruto menepis tangan Gaara dari kepalanya.
"Aku bilang kita putus." Naruto menatap Gaara lalu pergi meninggalkan Gaara di taman sendirian. Ada rasa sakit hati dihati Naruto. Dadanya sesak mengatakan itu semua, tapi dia harus melakukannya. Gaara sudah terlalu mempermainkan dirinya. Naruto berjalan menuju mobilnya dan pergi dari sana.
Naruto mengemudikan mobilnya dengan kencang dan tanpa terasa air mata jatuh dari pipinya. Naruto mengusap air mata itu. 'Sakit hati ini memang berbeda dengan sakit hati pada saat Sasuke menamparku. Hati ini sesak begitu sesak begitu Sasuke menamparku, tapi pada saat mengatakan tadi, hatiku hanya sedikit sesak dan mengapa ada rasa bahagia dan ringan dalam diriku. Bukankah aku benar-benar menyukai Gaara.' batin Naruto. Ternyata rasa cinta Naruto kepada Sasuke lebih besar daripada cintanya kepada Gaara. Tapi Naruto terlalu malu untuk mengakuinya. Itulah sebabnya Naruto merasakan bahagia dan ringan setelah putus dengan Gaara. Naruto menghapus air matanya dan mengambil hp yang ada didekatnya. Dia akan menghubungi Shikamaru. Dia ingin bertemu dengan Shikamaru. Orang yang sudah dianggapnya kakak.
"Shika. Kau bisa menemuiku sekarang? Aku tunggu di pantai tempat kita sering double date dulu." Naruto berkata kepada Shikamaru dengan suara yang sedikit parau.
"Hey! Ada apa dengan suaramu?" Shikamaru mengkhawatirkan Naruto yang terdengar seperti sedang menangis.
"Aku putus dengan Gaara. Bisakah kau menemaniku malam ini saja. Bila perlu ajak Temari." Naruto berkata penuh harap.
"Aku sibuk, kami sedang berbicara dengan para polisi tentang rencana kita besok. Tapi aku akan permisi, Temari akan memaklumi ini semua." Shikamaru berkata kepada Naruto dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih." Naruto menutup telfonnya dan segera menuju pantai tempat yang dijanjikan.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
"Siapa itu, Shikamaru?" Temari bertanya kepada Shikamaru. Karena dia khawatir dengan muka Shikamaru yang sedikit berubah setelah menerima telfon.
"Naruto menangis. Dia berkata dia ingin bercerita kepadaku. Dia putus dengan Gaara. Dia menungguku di pantai, pantai dimana kita sering double date dulu." Shikamaru menjelaskan.
"Biar aku yang kesana!" tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.
"Sasuke!" kata Shikamaru dan Temari bersamaan.
"Dimana dia?" tanya Sasuke sambil mengambil jasnya.
"Dia dipantai tempat kita sering double date dulu." Temari menjelaskan sebelum Shikamaru berbicara. Sasuke mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan Temari dan Shikamaru.
"Apa yang kau lakukan?" Shikamaru menatap Temari.
"Biarkan mereka selesaikan urusan mereka. Aku yakin, Sasuke adalah orang yang paling tepat dengan ini semua. kau sebagai kakaknya harus mengakui itu." Temari melipat tangannya. Shikamaru tersenyum lalu menggenggam tangan Temari untuk kembali ketempat dimana mereka sedang mengatur rencana.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Naruto menatap deburan ombak yang hancur menghantam batuan yang ada ditepi pantai. Deburan itu sama seperti hatinya. Naruto menatap sedih, lagi-lagi air matanya jatuh. Tapi Naruto tidak mau menghapus air mata itu. dia hanya menyesal, mengapa kisah cintanya tidak bisa semulus orang lain. Dia berharap keluarganya seperti Shikamaru yang terlihat sangat harmonis. Dan sekarang lagi-lagi sama seperti dulu. Dia hanya bisa mengadu kepada Shikamaru yang sudah dianggapnya sebagai kakak.
Tiba-tiba sebuah tangan menghapus air mata yang ada dipipi Naruto. Naruto kembali dari alam lamunannya dan menatap orang itu.
"Sa-sa-sasuke?" Naruto tidak percaya kepada semuanya. Yang dipanggilnya adalah Shikamaru bukan Sasuke.
"Siapa yang menyuruhmu kesini." Naruto mengalihkan pandangannya kearah deburan ombak. Sasuke menatap sedih Naruto, lalu dengan segera ditariknya tangan Naruto yang menyebabkan Naruto jatuh kepelukannya.
"Menangislah. Ku mohon menangislah. Tidak ada yang mengejekmu sebagai loser atau pencundang jika kau menangis." Sasuke memeluk erat Naruto. Naruto mencoba meronta, tapi setiap Naruto meronta Sasuke langsung mempererat pelukannya. Naruto akhirnya pasrah dan menangis dalam pelukan Sasuke. Naruto menumpahkan segala kekesalan dan sakit hatinya kepada Sasuke. Sasuke hanya diam tidak berkomentar. Dia hanya sesekali mencium puncak kepala Naruto. dan mengelus punggung Naruto. setelah beberapa lama akhirnya Naruto berhenti menangis. Dia sedikit mendorong tubuh Sasuke.
"Terima kasih, sepertinya aku sudah cukup berkeluh kesah." Naruto sedikit memberikan senyum kepada Sasuke.
"Beginikah kejadiannya dulu?" Sasuke bertanya kepada Naruto dengan pandangan menyesal.
"Maksudmu penamparan itu?" kata Naruto dengan ekspresi meremehkan.
"Kau fikir yang mana lagi?" Sasuke sedikit kesal dengan omongan Naruto.
"Ya, aku berlari kemari dan menangis dalam pelukan Shikamaru." Naruto berkata dengan entengnya. Bahkan omongannya seperti biasa, padahal baru saja dia menangis akibat putus dengan Gaara.
BRUK!
Sasuke jatuh berlutut kearah Naruto. Naruto membelalakan matanya. Dia tidak percaya Sasuke akan melakukan itu semua.
"Maafkan aku! Maafkan aku!" kata Sasuke mengulangi. Naruto kembali mengingat masa lalunya, tiba-tiba perasaan benci menyelimutinya. Dia sangat membenci Sasuke, Sasuke yang dulu bahkan tidak mengejarnya saat dia kabur, tidak mencarinya saat dia tidak kembali dan bahkan Sasuke tidak bertanya kepada kerabat terdekatnya untuk menanyakan dimana dan bagaimana keadaan Naruto. yang paling terpenting, dia tidak menjemput Naruto untuk pulang kerumahnya atau rumah mereka.
"Sepertinya cerita kita hanyalah cerita lama. Aku tunggu surat ceraimu dimejaku besok." Naruto melangkah pergi dari sana.
"NARUTO! NARUTO! NARUTO AKU MENJEMPUTMU. NARUTO AKU MENJEMPUTMU UNTUK PULANG!" Sasuke berteriak kepada Naruto. Naruto berhenti, tetapi dia tidak membalikan tubuhnya kebelakang.
"Bukankah hari dan jamnya sama, bahkan tanggalnyapun sama, kita hanya berbeda tahun. Bisakah kita mengulangi hari itu? kita ulangi hari itu, walaupun berbeda tahun. Naruto! aku mengejarmu sekarang dan memintamu untuk pulang. PULANGLAH! KU MOHON PULANGLAH!"
Sasuke menatap punggung Naruto.
"Pulanglah! Dan kita buat keluarga baru, kita mulai dari awal. Kita bangun kembali kaluarga kita." Sasuke berdiri dan mulai menghampiri Naruto.
"STOP!" Naruto meminta Sasuke untuk tidak mendekatinya, tetapi Sasuke masih berjalan dan mendekati Naruto.
"AKU BILANG STOP!" Naruto berteriak lebih keras. Sasuke memberhentikan langkahnya.
"SEBEGITU MUDAHNYAKAH? SEBEGITU MUDAHNYAKAH KAU MEMINTAKU KEMBALI! KAU HANYA MEMINTAKU KEMBALI SEKARANG? DIMANA KAU WAKTU ITU, DIMANA KAU PADA SAAT AKU BUTUH, DIMANA DIRIMU? DIMANA? DIMANA… DAN DIMANA DIRIMU SAAT AKU melahirkan." Naruto memelankan suaranya pada bagian akhir. Naruto berbalik dan menatap Sasuke.
"Kau tahu? Apa kau tahu aku sedang hamil 2 bulan waktu itu. apa kau tau? Aku berharap kau mengejarku dan meminta maaf, memintaku untuk kembali kerumah kita. Tapi ternyata kau lebih memilih pekerjaanmu. Aku tidak membutuhkan pangkat atau jabatanmu. Karena yang kucintai bukan pangkat dan jabatanmu. TETAPI DIRIMU!" Naruto menutup mukanya dan menangis lagi. Sasuke merasa hatinya ditusuk beribu-ribu jarum. Dia tidak menyangka Naruto sedang hamil waktu itu. Dia memang terlalu gila jabatan waktu itu, itu semua dilakukannya untuk membuat Naruto bangga. Naruto sudah menjadi ditektif yang terkenal saat mereka menikah, dua tahun sebelum dia keluar dari universitas Naruto mengikuti jejak Itachi untuk menjadi detektif. Apalagi Naruto memang sudah dekat dengan Itachi sebelum bertemu dengan Sasuke, sehingga memudahkannya untuk belajar. Dan Sasuke mencoba untuk masuk kedalam kepolisian setelah dia keluar dari Universitas. Karena Naruto sering ke rumah Itachi dan menyebabkan Sasuke sering bertemu dengan Naruto. cinta mulai tumbuh diantara mereka. Hingga mereka akhirnya menikah saat umur Naruto 20 tahun dan umur Sasuke 21 tahun. Dia hanya ingin orang lain melihat dirinya pantas berada disamping Naruto. dia hanya ingin dirinya diakui hanya itu.
"Kau hamil?" tanya Sasuke.
"Lalu dimana anak kita?" tanya Sasuke menambahkan.
"KAU BILANG ANAK KITA? TIDAK ADA ANAK KITA. YANG ADA HANYALAH ANAKKU." Kata Naruto yang emosinya kembali keluar. Sasuke berlari kearah Naruto dan mengguncang-guncangkan tubuh Naruto.
"DIMANA DIA?" teriak Sasuke yang bertambah mengguncangkan tubuh Naruto.
"Aku tidak perlu memberitahu dimana dia." Naruto menatap tajam Sasuke lalu ditepisnya tangan Sasuke. Naruto segera berlari ke mobilnya. Naruto kembali menangis. Tetapi hatinya lebih sakit daripada tadi. Hatinya sangat dan amat sakit sekarang. Dia bahkan tidak bisa bernafas. Naruto menyapu air mata yang mengucur deras dari matanya.
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, Sasuke." kata Naruto pelan sambil memegang dadanya yang sakit. Dia akan pulang sekarang, dia ingin menemui si kecil. Dia tidak akan menyerahkannya kepada Sasuke.
Naruto segera masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga dia sampai di sebuah rumah yang ada di pedesaan, dimana dirinya dan kakek neneknya tinggal.
BRAK!
Naruto membuka pintu itu dengan kasar. Dia segera menghampiri sebuah kamar, dia membuka pintu itu. Setelah dibukanya pintu itu, dia dapat melihat sebuah ranjang kecil. Disana terlihat seorang bayi berambut biru donker dan berkulit putih pucat yang sedang tertidur. Didekatinya ranjang bayi itu, dan digendongnya bayi yang sedang tertidur lelap itu.
"Kaa-san tidak akan memberitahu dimana dirimu. Kau hanya milikku. Hanya milik Kaa-san seorang." Naruto memeluk erat bayi itu hingga bayi itu menagis keras.
"Naruto! kau pulang?" Tsunade berkata kepada Naruto. Naruto menengok kebelakang dan tersenyum.
"Kau harus lebih lemah lembut. AKU SUDAH MENGAJARKANMU BUKAN!"
TAK!
Tsunade memukul kepala Naruto. Naruto mengelus bagian belakang kepalanya dan menggendong anaknya dengan lembut. Sang anak diam, dia tidak lagi menagis. Anak itu bahkan menggenggam erat baju Naruto, seakan-akan dia tidak ingin Naruto pergi. Melihat hal itu membuat Naruto dan Tsunade tersenyum.
"Kau akan menginap bukan?" Tsunade berkata kepada Naruto.
"Ya. TADAIMA…" kata Naruto menatap Tsunade.
"Okaeri, Naru-chan!" Tsunade menatap lembut Naruto.
"HEY! NARUTO PULANG?" tanya kedua orang yang tiba-tiba muncul dari pintu. Tapi ternyata pertanyaan itu yang sedikit seperti membentak membuat sang bayi menangis.
"JUUGO…. JIRAYA…." Tsunade menatap mereka marah.
"Kita harus kabur sekarang." Juugo menengok kearah Jiraya dan mendapat sebuah anggukan dari Jiraya.
Setelah kejadan kemarin- kemarin, Juugo yang langsung sembuh dirawat oleh Tsunade jadi ingin berguru dengan Tsunade dia memutuskan untuk tinggal lebih lama disana, dia melanjutkan sekolahnya disana, itu membantunya untuk lebih mendekati menjadi dokter yang handal. Naruto memang tidak memberitahu bahwa bayi disana adalah anaknya. Tetapi setelah mendengar bahwa Juugo menetapkan hatinya untuk tinggal disana. Naruto memutuskan untuk membiarkan Jii-san dan Baa-sannya memberitahu yang sebenarnya. Bahwa bayi itu memang anak Naruto. Dan Juugo diangkat menjadi cucu asuh oleh Tsunade dan Jiraya, walaupun masih dalam proses. Berhubung, Naruto tidak mau menjadi dokter. Sedangkan mereka ingin memiliki penerus, penerus yang bisa mengembangkan ilmu kedokteran mereka.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
"Hua…" Naruto bangun dan membuka matanya. Setelah dibukanya matanya dia dapat melihat seorang bayi kecil yang sedang menatapnya.
"Haru… kau sudah bangun rupanya. Kaa-san memang pemalas." kata Naruto sambil menjawil hidung Haru.
"Naruto! sarapan dulu, aku tahu hari ini ada misi penting." Tsunade menengok dari pintu. Tsunade masuk lalu mengambil Haru dari Naruto. Naruto menatap sedih tindakan Tsunade tetapi kemudian dia langsung bangun dari ranjangnya dan segera menuju kamar mandi. Misi kali ini tidak boleh gagal.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
"Apa semua sudah beres?" tanya Naruto kepada semua mata-matanya dan para polisi, tentunya Sasuke juga ada disana. Tapi mereka tidak saling menyapa, mereka hanya saling mendiamkan.
"SIAP!" kata mereka semua. Naruto menyuruh Shikamaru untuk memimpin mereka semua. Dan mereka pergi menuju markas Orochimaru. Mereka mengendap mengelilingi markas itu. sedangkan beberapa mata-mata dan polisi disana mengikuti Naruto untuk berjalan menuju markas Orochimaru.
BRAK!
Naruto menendang pintu markas itu.
"Ternyata tamu kita sudah datang." Orochimaru menyambut mereka.
"Silahkan duduk!" kata Orochimaru menambahkan. Naruto memutar bola matanya lalu….
GUBRAK!
Naruto memukul kursi kayu itu hingga berantakan.
"Seperti biasa Naruto. Kau terlalu powerful. Hahahahaha." Orochimaru tertawa bahagia.
PROK PROK PROK
Orochimaru bertepuk tangan lalu muncullah banyak anak buahnya yang datang.
"Permainan dimulai." kata Orochimaru dan Naruto bersamaan.
BUAK! DUAK! BUGH!
Suara orang berkelahi mulai terdengar dari sana. Mereka sudah menyiapkan ini semua bahkan ini sudah mereka perkirakan akan terjadi. Orochimaru keluar dari belakang. Begitu pula dengan Naruto yang mengejarnya.
"Jangan kira kau bisa lari, Orochimaru." Naruto berlari mengejarnya. Tapi tiba-tiba Orochimaru berhenti. Naruto berhenti berlari dan melangkah menuju Orochimaru.
"Begitu cepatnyakah kau menyerah."
CKLEK!
Naruto mengambil pistol yang ada dipinggangnya dan bersiap menembak Orochimaru. Diarahkannya pistol itu kekepala Orochimaru.
"Kau mati-"
"Kau mati, Naruto!" suara seseorang memotong perkataan Naruto.
"Sudah kuduga kau akan datang, Gaara." Naruto menyeringai, tetapi tangannya masih memegang pistol yang mengarah kekepala Orochimaru.
"Turunkan pistolmu, Naruto. Dan aku akan membebaskanmu." Gaara menatap Naruto dengan tajam.
"Kau kira perkataan bodohmu itu akan membuatku menjatuhkan pistol ini." Naruto menatap Gaara dengan pandangan meremehkan.
"Jika itu maumu." Gaara bersiap menembak kepala Naruto, Naruto bersiap menembak kepala Orochimaru.
"GAARA JANGAN BODOH! AKU JUGA AKAN MATI,BODOH!" Orochimaru berkata kepada Gaara.
"Aku sudah tidak membutuhkan dirimu lagi." Gaara menambah seringainya.
CKLEK! DUAR!
Sebuah tembakan mengarah kekepala satu dari tiga orang disana. Naruto melihat darah mengucur dari kepalanya,
GUBRAK!
Gaara jatuh ketanah dengan tidak bernyawa lagi. Darah Gaara memang mengenai Naruto.
"KAU SUDAH DIKEPUNG. LEBIH BAIK KAU MENYERAH, OROCHIMARU." terdengar suara Shikamaru dari belakang. Naruto menengok kebelakang dan menemukan Sasuke yang sedang memegang sebuah pistol.
"Ka-ka-kau yang menembaknya?" tanya Naruto. Sasuke tersenyum lalu berlari kearah Naruto. 'Dari dulu aku memang ingin sekali membunuhnya.' Sasuke tertawa dalam hati.
"Kau ceroboh Naruto." Orochimaru berkata pelan sambil menodongkan pistolnya.
"NARUTO… MENUNDUK!" teriak Sasuke.
DUAR!
Naruto menunduk dan sebuah timah panas keluar dari pistol Orochimaru. Seperti melihat gerakan lambat. Timah panas itu mengarah lurus dan tepat mengenai dada Sasuke, yang lurus berada didepan Naruto.
BRUK!
Sasuke jatuh dengan darah yang mengalir dari dadanya.
DUAR!
Sebuah tembakan kembali dilayangkan dan sekarang tepat mengenai Orochimaru.
"Kau mati ditanganku." kata Naruto menghadap Orochimaru. Dia masih belum menyadari dengan keadaan Sasuke. Dia fikir Sasuke sudah menghindar.
"Tapi suamimu mati ditanganku." Orochimaru berkata untuk yang terakhir kalinya.
Naruto menengok patah- patah kebelakang dan menemukan Sasuke yang terkapar ditanah, banyak polisi yang sedang mengelilinginya, tetapi para mata-matanya sedang membantu Sasuke. Naruto terduduk ditanah, Sasuke terkena timah panas yang ditunjukan untuknya.
"Naruto, dia baik-baik saja." kata Temari memberitahu Naruto.
"Kita bersyukur, Temari adalah seorang dokter." Shikamaru tersenyum kepada Naruto. Naruto ikut tersenyum, sebelum akhirnya dia jatuh pingsan.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Naruto membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat apa yang ada disekitarnya. Dia seperti sedang berada disebuah kendaraan.
"Kau ada di ambulan." tiba-tiba sebuah suara terdengar. Naruto bangun dan memegang kepalanya. dia dapat melihat Sasuke yang sedang menatapnya.
"Kau baik-baik saja?" Sasuke tersenyum kepada Naruto. Naruto mengangguk kearah Sasuke.
"Aku bersyukur jika kau ternyata baik-baik saja. Hahaha." Sasuke tertawa bahagia.
TAK!
Naruto memukul kepala Sasuke.
"Kau sangat BODOH! Kau tahu itu? kau menyuruhku menghindar sedangkan kau tidak menghindar." Naruto menatap sebal Sasuke.
"Hey… kau tahu aku sedang sakit." Sasuke sedikit mengelus kepalanya. Ditatapnya Naruto yang sudah ingin menangis.
"Jangan menangis. " Sasuke tersenyum lembut kepada Naruto.
"Kau-kau selalu saja melindungiku." Naruto menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis.
"Karena aku adalah suamimu. Bagaimana kalau kau kembali kepadaku, Naruto?" Sasuke menyeringai kepada Naruto. Naruto menatap Sasuke.
"Tempatnya sungguh tidak romantis kau tahu?" Naruto menyilangkan tangannya.
"Hey.. pada saat di pantai kau menolakku, padahal tempatnya romantis." Sasuke sedikit melirik Naruto sebal, karena Naruto masih saja memimpikan sesuatu hal yang romantis padahal Naruto sudah bukan remaja lagi.
"Iya, iya. aku akan kembali padamu." Naruto mengenggam tangan Sasuke dan tersenyum lembut, sebuah senyum yang sangat tulus. Itulah senyum yang sangat disukai Sasuke, senyuman yang membuatnya jatuh cinta dan sangat mencintai Naruto. Naruto harus mengakui bahwa dirinya masih mengharapkan Sasuke untuk menjadi suaminya dan menjadi ayah dari anaknya.
"Terima kasih." Sasuke menggenggam balik tangan Naruto dan Sasuke menutup matanya dengan pelan. Sebuah senyum terukir dibibirnya.
"Tidurlah." Naruto tersenyum menatap Sasuke.
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~
Sasuke membuka matanya dan merasakan dadanya terasa sangat berat. Sasuke dengan segera membuka matanya dan setelah matanya terbuka dengan sempurna, Sasuke dapat melihat seorang bayi yang sedang tengkurap diatas dirinya. Mata bayi itu berkedip lucu kearah Sasuke. Sasuke mengangkat bayi itu lalu memposisikan dirinya duduk. Dia ingin memangku bayi tersebut. Ada rasa bahagia dihati Sasuke saat melakukan itu semua.
"Hey… dimana ayah dan ibumu?" tanya Sasuke yang dijawab tawa kecil oleh bayi tersebut. Sasuke mengelus pipi bayi itu dan menatap lekat-lekat bayi itu. bayi dengan rambut pendek berwarna biru donker, bermata onyx dan berkulit putih pucat. Melihat bayi itu seperti melihat dirinya pada saat masih bayi.
CKLEK!
Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Sasuke langsung mengambil Koran yang berada di meja yang ada disebelahnya. 'Akan ada masalah jika Naruto mengetahui bayi ini.' batin Sasuke. Banar saja tidak berapa lama Naruto muncul, Sasuke bersyukur telah menyembunyikan bayi itu.
"Sasuke!" muka Naruto tiba-tiba berubah terkejut dan sangat khawatir.
"Ada apa?" tanya Sasuke dengan nada yang sangat santai.
"Dimana dia?" tanya Naruto dengan suara yang sangat khawatir.
"Siapa?" Sasuke tidak mengerti dengan Naruto.
"DIA! DIMANA DIA? Aku hanya meninggalkannya sebentar ke kamar mandi." Naruto sudah sangat frustasi.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Naruto." Sasuke menatap lembut Naruto, berusaha untuk membuat Naruto tenang. Tapi ternyata itu tidak terpengaruh, Naruto sudah sangat-sangat terlihat frustasi.
"Kaa-kaa-kaa-chan." bayi dipangkuan Sasuke memukul-mukul Koran yang sedang menutupi dirinya. Naruto segera berjalan kearah Sasuke dan menarik korannya. Muka Naruto berubah sangat ceria setelah mengetahui apa yang dicarinya telah ditemukan.
"Haru… kau disini rupanya." Naruto tersenyum manis. Haru melihat Kaa-sannya dengan mata berbinar, dia mengangkat tangannya meminta digendong oleh Naruto.
"Xixixixi. Haru minta Kaa-chan gendong ya?" Naruto mengambil Haru dari pangkuan Sasuke dan menggendongnya, setelah itu Haru tertawa lucu kearah Naruto. Narutopun ikut tertawa melihat Haru tertawa. Sasuke memandang Naruto, otaknya benar-benar lola mengolah semua kata yang bayi itu dan Naruto katakan.
"Naru? apa dia?" Sasuke menatap Naruto dan Haru bergantian. Naruto menghadap Sasuke.
"Dia anakku."
"Anak kita." Sasuke memperbaiki kata-kata Naruto.
"Aku hanya hanya ingin memperlihatkan anakku-"
"Anak kita." Sasuke menyela.
"Yayayayaya." Naruto memutar bola matanya.
"Biarkan aku menggendongnya." Sasuke mengangkat tangannya.
"TIDAK! Tidak akan ku biarkan." Naruto memeluk erat Haru. Haru yang tidak tau apa-apa hanya menggapai- gapai pipi Naruto, dia ingin mencubit pipi Kaa-sannya.
Sasuke yang sangat terdorong untuk lebih dekat dengan anaknya turun dari ranjang.
BRUK!
Sasuke jatuh sambil memegang dadanya.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Sasuke terbatuk. Naruto yang sangat khawatir segera menghampiri Sasuke.
"Sasuke!" Naruto berjongkok didepan Sasuke.
HAP!
Sasuke mengambil Haru dari gendongan Naruto.
"Kau curang, Sasuke." Naruto melipat tangannya.
"Biarkan saja! Haru… aku ini adalah Tou-sanmu." Sasuke bangun dan mengangkat tinggi-tinggi Haru.
"Jangan percaya padanya!" Naruto berteriak kepada Haru. Haru yang masih diangkat oleh Tou-sannya hanya tertawa menikmati permainan yang diberikan oleh Tou-sannya.
"Haru tahu siapa yang benar dan yang salah." kata Sasuke menatap Naruto.
"Hey kenapa namanya Haru, nama itu terdengar seperti nama seorang cewek." Sasuke sedikit protes.
"Dia lahir dimusim semi. Jadi ku beri nama Haru. Atau nama lengkapnya, Uchiha Haru." Naruto menatap Sasuke.
"Tapi dia itu cowok, Naruto." Sasuke menatap lembut Naruto.
"Suruh siapa tidak datang pada saat Haru lahir."
"Dan salah siapa tidak memberitahu." Sasuke membela diri.
Esok Harinya
Naruto duduk dikursinya, semua mata-matanya sudah berkumpul. Misinya telah berakhir dan semua berakhir dengan baik walaupun adanya korban dalam misi kali ini.
"Jadi? Bagaimana dengan anak-anak itu, Shikamaru?" tanya Naruto kepada Shikamaru.
"Semua sudah ditemukan dan dikembalikan. Dari 100 anak, hanya 10 anak yang ditemukan dalam keadaan mati." Shikamaru menyerahkan map kepada Naruto.
"Kau sudah memberikan bunga turut berduka cita?" Naruto membolak-balikan kertas yang ada di map itu.
"Ya. Kami sudah mengirimnya." jawab Shikamaru. Naruto menutup mapnya dan menaruhnya dimeja. Dia bangkit dari kursinya dan menatap seluruh mata-matanya.
"Kerja yang sangat bagus. Semua bekerja sama dalam hal pencarian anak yang hilang ini. Aku tahu banyak waktu yang terbuang dan banyak lagi misi yang tertinggal karena misi ini. Aku kagum kepada kalian semua, aku tahu menjadi ditektif itu mempunyai banyak resiko. Aku harap kalian lebih menjaga diri kalian masing-masing. Aku sangat berterima kasih kepada kalian. Terima kasih atas bantuannya. Dan aku mohon bantuan kalian untuk menyelesaikan misi- misi yang lain." Naruto membungkukan badannya. Semua mata-mata Naruto berdiri dan membungkukan badannya juga. Mereka memang sangat kompak.
"Dan untuk malam ini… seperti biasa, setelah menjalankan misi. Aku tunggu kalian di rumahku sebelah tenggara. Kita akan merayakan keberhasilan misi ini." Naruto tersenyum kepada semuanya.
7 Tahun Kemudian
"Kaa-san, Kaa-san, Kaa-san." Seorang anak laki-laki kecil memanggil Kaa-sannya dari luar kamar Kaa-sannya.
TOK TOK TOK
"Kaa-san, aku ingin berangkat sekolah." anak itu mengetuk pintu kamar Kaa-sannya dengan sangat tidak sabar. Dia sedikit kesal karena Kaa-sannya tidak juga bangun.
Naruto menggeliat dari selimutnya, kemudian membuka matanya. Dia melihat pria yang ada didepannya. Atau bisa dibilang pria yang sedang menatapnya.
"Ohayou…" pria itu mencium kening Naruto.
"Ohayou, Sasuke." Naruto tersenyum kearah Sasuke. Sasuke membalas senyum itu, lalu Sasuke memeluk Naruto, didekatkan wajahnya keleher Naruto.
"KAA-SAN…. TOU-SAN… HARI INI TAHUN AJARAN BARU. HARI PERTAMA SEKOLAH." Sepertinya anak kecil yang berada didepan kamar Naruto sudah sangat kesal.
"Hentikan, Sasuke. kita harus mengantar Haru." Naruto menjauhkan kepala Sasuke dari lehernya, itu semua dilakukan untuk menghentikan gerakan Sasuke. Naruto keluar dari selimutnya dan turun dari ranjangnya. Naruto mengikat kembali piamanya.
"Kau juga harus segera bersiap, Sasuke. HARU… TUNGGU DIBAWAH. KAA-SAN DAN TOU-SAN AKAN SEGERA TURUN." Naruto berteriak. Dan setelah itu, Naruto masuk kedalam kamar mandi. Tidak berapa lama, Naruto keluar, dia segera bersiap. Dia tahu anaknya itu pasti sedang marah-marah dibawah. Naruto menatap ranjangnya dan dia menemukan Sasuke yang masih bergelung didalam selimutnya.
"Keluar dari selimutmu dan cepat mandi! Atau kau tidak mendapatkan sarapan!" kata Naruto sambil menarik selimut yang menutupi Sasuke.
"Kau menggangguku, Naruto!" Sasuke menarik kembali selimutnya.
BLAM!
Naruto menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Sasuke!" kepala Naruto kembali muncul dari balik pintu.
"Yayayayaya." Sasuke turun dari ranjangnya dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Setelah beberapa lama kemudian. Sasuke turun dari kamarnya menuju ruang makan. Dia dapat melihat Haru dan Naruto. Sasuke duduk dan Naruto segera menyiapkan sarapan yang akan dimakan Sasuke atau bisa disebut suaminya.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Naruto sambil menatap Haru, anak laki-laki kecil yang sedang menikmati sandwichnya.
"YOSH! Tentu, Kaa-san!" Haru berkata dengan bersemangat.
"Aku heran. Semua ciri-cirinya sama sepertiku, tapi mengapa sifatnya benar-benar menirumu, Naruto." Sasuke memasukan potongan kecil roti kedalam mulutnya.
"Karena dia anakku-"
"Anak kita." Sasuke memperbaiki.
"Hn. Anak kita." kata Naruto mengulangi. Naruto tersenyum lalu memakan sarapannya. Setelah sarapan, mereka mengantar Haru kesekolah.
"Haru.. jangan nakal dan jadi anak yang pintar ya…" Naruto mengacak-ngacak rambut Haru.
"YOSH! Kaa-san." Haru memberi hormat kepada Naruto dan Naruto memberi hormat juga kepada Haru. Setelah itu haru tersenyum kepada Tousan dan Kaa-sannya, sebelum dia berlari masuk kedalam sekolahnya. Sasuke memeluk Naruto dari belakang.
"Bisa kita lanjutkan permainan tadi malam?" bisik Sasuke pelan ditelinga Naruto.
DUAK!
Naruto mengangkat tangannya dan hal itu tepat mengenai wajah Sasuke. Naruto melepaskan pelukan Sasuke dan segera berjalan masuk kedalam mobil meninggalkan Sasuke yang sedang mengelus hidungnya karena tangan Naruto tadi, keras sekali mengenai mukanya, tepatnya yang paling parah adalah hidungnya.
Sasuke mengejar Naruto dan munculah berbagai kalimat gombal dari mulutnya, yang sukses mendapatkan hadiah jitakan dari setiap rayuan gombal yang dikeluarkan oleh Sasuke.
~OWARI~
Hahahahaha. Banjai… banjai… banjai….. akhirnya fanfic misi selesai. Hiks, hiks, hiks. Sedih juga mengetahui bahwa fanfic ini selesai. Tapi tidak apa, dengan berakhirnya fanfic ini, berarti akan munculnya fanfic baru. Hahahahaha. *ngarep* . ok, terima kasih untuk para readers yang mau membaca fanfic misi sampai selesai dan bersedia menunggu fanfic Tsuki sampai selesai. Terima kasih juga atas review- review yang diberikan, terima kasih juga atas kritik dan sarannya dan tentunya pujian-pujiannya juga. hahahahha. *di timpuk sepatu*. Bye… bye… ketemu lagi di fanfi- fanfic Tsuki selanjutnya, yang Tsuki harap lebih bagus dan lebih menghibur. Hahahahahaha.
Tsuki : "SEMUANYA…. AYO BERKUMPUL…" *teriak pake toa.*
Naruto : "Tamat ya?"
Tsuki : "Iya nih… ayo kita berterima kasih bersama."
Sasuke : "Hn."
Tsuki : "Bukan hanya kalian berdua. ayo semuanya….."
*Semua tokoh yang ada difanfic MISI berkumpul, dari yang memiliki peranan penting hingga yang menjadi peran pembantu.*
Tsuki : "1… 2… 3…."
Serempak : "KAMI SEMUA YANG ADA DIFANFIC MISI BERSAMA DENGAN AUTHOR MENGUCAPKAN TERIMA KASIH BANYAK ATAS SEMUANYA. ARIGATOU…." *membungkukan badan*
Tsuki : "Dengan ini, Tsuki dapat berkata. LAPOR! MISI SELESAI! LAPORAN SELESAI! Hahahahahaha. Bye… bye…." *melambaikan sapu tangan* /(T0T)/~~
~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~~(^0^~)
