Konnichiwa minna-san ^^

Ellenkei ~love and kill~ by Kiki Suzuki

Disclaimer : Axis Powers Hetalia milik Himaruya-sama

England – Crime

((Ia sudah tahu, selama ia masih belum menemukannya, pekerjaannya tak akan pernah terselesaikan.))

AN : Nggak tahu, deh. Saya kayaknya hampir terpeleset dalam lubang WB dan berusaha menyelamatkan diri dengan fict ini. Padahal sedang dalam masa UTS QvQ /dasarnekat mein Gott, bin ich komisch?

Warning : Ada kemungkinan OOC (karena saya selalu terbawa suasana saat ngetik sehingga tidak memperhatikan karakter aslinya) dan alur yang tidak jelas kecepatan dan percepatannya(?). Dan karena baru pertama kali bikin beginian, mungkin hasilnya masih di bawah rata-rata m(_ _)m ampun.


Pagi ini tampaknya tidak ada sesuatu yang istimewa bagi Arthur. Semua halaman depan koran pagi yang menumpuk di dalam kotak posnya menyiarkan berita yang sama. Tentu saja, karena seorang presdir sebuah perusahaan besar tewas terbunuh tadi malam, mengawali percikan desas-desus yang kemudian mewabah, kemudian berakhir dengan dua opsi; si pelaku tertangkap, ataukah pembunuh legendaris itu masih akan berbuat ulah lagi.

"Sial. Benar-benar merepotkan." Arthur melempar koran itu dengan sedikit emosi. Kepalanya berdenyut-denyut ngilu.

Ia sudah tahu, selama ia masih belum menemukannya, pekerjaannya tak akan pernah terselesaikan.


Ellenkei ~love and kill~

.

"I don't like whether loving must not be killing. It exactly must be held."

Chapter 1. I Have Met You.


Selasa. 08.26 AM.

"Selamat pagi, Sir." Antonio menganggukkan kepala pada Arthur yang memasuki ruangan dengan terburu-buru. "Sudahkah Anda mendengar berita pagi ini?"

"Berita pembunuhan itu?" Arthur membanting dirinya di kursi kerja. "Hah, tanpa kau beritahu pun aku sudah pusing dengan masalah ini, asisten. Legenda kota yang sering dibicarakan itu malah membuat kasus ini semakin panjang."

"Saya tahu. Maaf, bukannya saya berada di pihaknya, akan tetapi kurangnya usaha keamanan di kota ini membuat pembunuh itu semakin leluasa melakukan aksinya, Sir."

"Apa maksudmu?"

"Setelah 'kasus' itu, kualitas kinerja para anggota yang turun bekerja di lapangan menjadi sedikit menurun. Mungkin mereka masih mengalami trauma atas apa yang dialami oleh teman mereka, Sir. Kalau saja saya menjelma menjadi salah satu dari mereka, saya akan berbuat hal yang sama."

Arthur tersenyum. "Bersikap keraslah pada pekerjaan dan kriminalitas, Toni. Selama kau tidak bisa mengendalikannya, selama itu pula kau akan tetap menjadi seorang asisten inspektur. Dan, oh, ambilkan berkas-berkas catatan kriminal pembunuh ini, tolong."

"Baik, Sir."

Arthur pun terdiam, mengamati laporan kasus pembunuhan presdir yang sudah tergeletak di atas mejanya. Perkiraan senjata adalah senapan pistol macam revolver, dan berdasarkan hasil autopsi, waktu kematian sekitar pukul 23.05 tengah malam. Mayat ditemukan di kamar sebuah hotel berbintang, sedangkan motif pembunuhan dan bukti-bukti lain belum dapat mencapai titik temu yang berarti.

Pikiran Arthur tertuju pada sebuah jawaban atas pertanyaan 'bagaimana cara menangkap pembunuh tersebut?'. Pelaku kejahatan misterius yang satu ini cukup lihai dalam beraksi. Ia hampir tidak pernah meninggalkan jejak sehingga polisi kewalahan melacaknya. Ia hanya muncul pada malam hari, terbukti dari laporan kasus yang sebelumnya juga mengatakan demikian. Dan menurut saksi yang kebetulan melihat bayangannya melesat di bawah sinar rembulan, pembunuh itu selalu mengenakan topeng. Justru topeng itulah yang membuatnya terkenal di seantero kota London, karena semua orang selalu penasaran bagaimana rupa di balik topeng tersebut.

Strategi baru. Harus ada strategi baru. Arthur kelabakan mencari data-data laporan yang baru saja dibawakan oleh Antonio. Menurutnya, setidaknya pasti ada suatu kesamaan jika pelakunya benar-benar satu orang. Dan beberapa menit kemudian, ia mendongakkan kepalanya dengan sedikit frustasi.

"Antonio, siapkan mobil. Kita pergi ke lokasi kejadian."

xxx

Tidak ada yang mencolok begitu Arthur melihat lokasi sebenarnya. Semuanya sama persis dengan hasil jepretan foto yang dikirim beserta laporan; jendela yang terbuka lebar, ranjang kusut, noda darah yang menempel pada sprei dan selimut, serta terdapat sedikit tetesan darah dari ranjang menuju jendela. Yang berubah hanyalah pemandangan para polisi yang sibuk menyelidiki.

"Apakah korban ditemukan sedang terlelap di ranjang ini?" tanyanya pada salah seorang anggota polisi.

"Ya, tidak salah lagi. Noda darah yang ada di sprei dan selimut ini menjadi buktinya."

"Apakah kau menemukan peluru di dalam ranjang? Atau kain sprei yang sobek akibat luncuran peluru yang digunakan untuk membunuh?"

"Maaf, Sir, kami belum menemukannya. Kami masih menyelidiki noda darah ini dengan tetesan darah yang terdapat di lantai."

"Eh?" Arthur mengernyitkan dahi. "Ada apa dengan darah itu?"

"Hasil tes DNA yang dilakukan tim forensik menunjukkan bahwa pemilik darah ini berbeda. Noda darah yang ada di sprei memang milik korban, tetapi tetesan darah ini tidak, Sir. Dan juga, tetesan darah ini belum kering, masih basah."

Penasaran, Arthur pun menyentuhkan satu jarinya pada tetesan tersebut. Dan kemudian ia menganggukkan kepalanya, melihat bahwa warna merah darah menempel erat pada ujung jarinya. Kemungkinan darah itu merupakan suatu trik, atau unsur kesengajaan dari pelaku. Kalau pun itu darah pelaku yang menetes entah karena apa, mestinya intensitas mengeringnya kurang lebih sama dengan darah korban.

Sejenak matanya melebar senang. Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.


Selasa. 18.54 PM.

Arthur melangkahkan kakinya menuju kediamannya, setelah menyelesaikan kasus pencurian yang terjadi siang itu. Baru saja ia menuliskan hasil pemikiran dan beberapa petunjuk yang ditemukannya dalam rangka menangkap sang pembunuh legendaris di buku catatan miliknya, ia mendapat laporan pencurian dan ditugaskan untuk menangkap pelaku yang ternyata didasari oleh hal sepele—urusan pribadi antara pencuri dan korban—Arthur tidak mau memikirkannya larut-larut.

Udara di luar ternyata dingin sekali. Pemuda tersebut merapatkan mantelnya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Pandangannya sempat tertuju pada sebuah minimarket dan mulai berencana untuk membeli sesuatu yang hangat di sana. Baru sepersekian detik ia menyentuh gagang pintu, tangan kirinya yang hendak mengeluarkan dompet langsung tersenggol oleh seseorang yang berlari kencang di trotoar. Kemudian ia menyadari bahwa dompetnya sudah raib dijambret.

"Hei, jambret! Kembalikan dompetku!" Dengan penuh semangat, Arthur mengejar si penjambret. Namun, nihil, ia menghilang ditelan keramaian. Arthur merasa bahwa si penjambret berbelok di jalur ini, dan sekarang ia sudah tidak tampak batang hidungnya.

Ia mencoba untuk mencari penjambret itu, demi rasa ketidak-relaannya karena kehilangan sebuah dompet. Ia menyelidiki setiap titik yang memungkinkan untuk bersembunyi; di balik tong sampah, di antara kerumunan, bahkan di dalam toko. Akhirnya ia melihat sebentuk bayangan manusia di ujung gang sempit. Kecurigaan yang memenuhi benaknya membuat Arthur langsung menodongkan pistol pada bayangan itu.

"Jangan bergerak! Atau kau kulumpuhkan!"

Bayangan itu akhirnya tak bergerak, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Di bawah sinar lampu yang remang-remang, ia melihat sosok seorang imigran Asia. Iris hitam pekatnya menatap Arthur seakan menatap kawannya sendiri, meskipun kedua tangannya tidak menunjukkan hal demikian.

"Sekarang, mana dompetku?"

"Saya sudah mengembalikannya pada Anda, Sir yang terhormat," sahutnya, yang entah kenapa terdengar sangat tenang dan tidak ada rasa takut yang muncul dari suara, wajah, dan gerak-geriknya.

"Jangan bercanda. Aku tidak pernah tidak serius dalam situasi seperti ini." Arthur mengeluarkan borgolnya. "Kau akan kutangkap dengan tuduhan penjambretan."

"Apakah… Anda tidak tergesa-gesa dalam tindakan Anda, Sir?" tanyanya ketika tangannya telah terpasangi borgol. "Anda langsung memborgol saya tanpa surat penangkapan sama sekali, hanya karena dompet Anda telah dicuri. Bukankah hal itu termasuk perbuatan yang tidak terpuji, karena mengikuti emosi sesaat yang menguras pikiran dan hati tidak akan membuat Anda menjadi panutan masyarakat dalam hal mematuhi peraturan?"

"Apa maksudmu? Aku adalah Arthur Kirkland, inspektur divisi kejahatan yang sudah bertugas selama dua tahun. Kau sebagai imigran sebaiknya jangan bertindak macam-macam. Peraturan dan hukum di sini bisa membuat hidupmu lebih menderita."

Imigran itu tertawa kecil. "Kalau begitu, untuk apa ada peraturan? Di zaman semrawut seperti ini, manusia sudah berpikir sangat dinamis melebihi ambang batas dan percuma saja peraturan kaku itu masih ada. Apakah Anda pernah melihat seseorang yang tidak pernah keluar rumah karena takut dengan tanggal 13?"

"Percakapan macam apa yang mau kau bawa ini, heh?"

"Tentu saja setiap makhluk punya salah, jika melanggar peraturan adalah sebuah kesalahan." Imigran itu menoleh, menatap Arthur penuh teka-teki. "Kalau informasi yang saya dapat tidak salah, pembunuh legendaris kota ini juga pasti berpikir demikian."

Arthur tertegun. "Kau mengenal pembunuh itu?"

"Tidak. Saya hanya mendengar cerita dari orang-orang, bahwa pembunuh itu sudah melakukan pembunuhan sekian kali, dan kasus presdir kali ini adalah yang kesebelas. Saya tidak tahu bagaimana awal mula dan segala tetek bengek tentangnya, tapi saya membaca situasinya seperti itu."

Arthur mengurungkan niat untuk membawanya ke markas kepolisian. Hati kecilnya berkata lain, mungkin dengan melepasnya, ia dapat membantu menangkap sang pembunuh legendaris. Karena terdengar dari kemampuan berbicaranya yang melebihi batas normal, ia mampu mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui dengan kelima panca indera yang biasa. Kini Arthur bergeming, membiarkan imigran itu bergerak sedikit leluasa.

"Terima kasih telah berkeinginan melepas saya, Sir Kirkland. Saya Honda Kiku, tak perlu tahu dari mana saya, tak perlu menyalahkan keadaan yang membuat saya berhadapan dengan Anda sekedar untuk berkenalan. Salam kenal."

Dan bahkan imigran itu memotong lamunan sang inspektur yang sedang memutuskan apakah akan benar-benar melepaskannya atau tidak—Arthur terkejut. Setelah borgol terlepas, Kiku menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih.

"Saya berpesan pada Anda. Tetaplah buka mata Anda, pasang telinga Anda, mohon lihatlah dunia ini dengan segala kemampuan yang Anda punya dan jangan pernah salahkan keadaan. Permisi."

Kemudian ia melesat pergi.

Sedetik kemudian, Arthur menemukan dompetnya di dalam saku kirinya.


+TSUDZUKU+

... *menatap layar dengan tidak awesome*

Fict M pertama! /nangisbombay Jujur, saya udah ngidam pengen bikin fict apa-aja-yang-penting-M dan ternyata, ternyata... beginilah hasilnya XD

Terima kasih bagi yang sudah membaca~ Entah kenapa saya tiba-tiba kepikiran ide seperti ini dan langsung menulis tanpa ba-bi-bu lagi, padahal jelas-jelas sedang dalam masa UTS yang oh-mein-Gott benar-benar bikin kepala saya mau pecah orz. Kemarin saya nulis sambil mikir, mungkin soal Biologi dan Sejarah kali ini bisa bikin saya 'mati mendadak', tapi untunglah saya malah keasyikan menulis esainya XD.

Satu permintaan saya: buat para author yang ahli di genre ini, mohon bantuannya~~ OAO Saya jadi bingung waktu sudah sampai di pertengahan cerita. Maunya ini tapi jadinya itu. Jadi selanjutnya bila ada yang kurang pas mohon segera beri concrit membangun. Sekali lagi terima kasih.