Konnichiwa minna-san ^^

Ellenkei ~love and kill~ by Kiki Suzuki

Disclaimer : Axis Powers Hetalia milik Himaruya-sama

England – Crime

((Ia menjadi yakin sekali bahwa tidak ada yang namanya tidak mungkin; sang pembunuh selalu meninggalkan suatu keganjilan.))

AN : Kembali tidak tahu. Entah, belakangan ini saya WB dan sementara beralih ke FL Studio, kembali mendengar denting-denting glockenspiel favorit saya XD dan akhirnya malah jadi 2 track. Sudah buka MS Word, terus tahu-tahu malah joget-joget dengerin musik. Lha? ==''

Warning : Ada kemungkinan OOC (karena saya selalu terbawa suasana saat ngetik sehingga tidak memperhatikan karakter aslinya) dan alur yang tidak jelas kecepatan dan percepatannya(?). Dan karena baru pertama kali bikin beginian, mungkin hasilnya masih di bawah rata-rata m(_ _)m ampun.


Ellenkei ~love and kill~

.

"I don't like whether loving must not be killing. It exactly must be held."

Chapter 2. Spinning Spots.


Rabu. 06.23 AM.

Arthur tertegun mendapati sebuah koper besar sudah tergeletak di dekat pintu depan. Tadi malam ia tidak mendengar suara pintu dibuka, tentu saja dikarenakan hujan yang cukup deras mengguyur seluruh kota dan telinga menjadi tuli sementara. Maka ia mencoba mencari pemilik koper ke seluruh penjuru rumah, hingga menemukan Alfred F. Jones tertidur di sofa di ruang tengah. Arthur hanya menghela napas, kemudian mencoba membangunkan pemuda berkacamata itu.

"Hei, bangun. Jangan tidur di sini."

"Mmh?" Alfred membuka mata. "Arthur? Sudah pagi?"

"Tentu saja sudah pagi. Tapi kulihat kau masih lelah." Arthur sedikit menaruh simpati. "Tunggu sebentar, biar kubuatkan teh hangat. Tampaknya kau ini kemari malam-malam, benar, kan? Dan tidak pernah sekali pun aku melihat kau mengetuk pintu rumah ini sambil mengucap permisi, dasar."

Dua cangkir Earl Grey kemudian tersaji di atas meja. Dengan sigap Arthur menyeruputnya nikmat, sedangkan Alfred hanya menyeruputnya sedikit demi sedikit. Ia menatap Arthur lama, membuat pemuda itu merasa terusik.

"Ada apa?" tanyanya sensitif.

"Tidak. Ngomong-ngomong, kau masih sibuk dengan 'pembunuh legendaris'?"

"Kau tahu hal itu? Hmm, yah, begitulah, keadaan kota ini bisa kau lihat sendiri. Semua orang yang tinggal di sini merasakan ketakutan yang mendalam akan pembunuh itu. Dan tentunya aku tidak bohong kalau berita ini juga sampai di telingamu lewat televisi, kan?"

Alfred mengangguk. Sebenarnya ia pribadi tidak begitu tertarik dengan munculnya kisah-kisah pembunuh itu. Ia tidak peduli dengan sepak terjangnya dalam membuat kehebohan di kota, pertanyaan tadi hanya sebagai basa-basi belaka. Namun mencuat pengakuan dari dalam hati terkecilnya, betapa tangguhnya sang pembunuh yang datang tak diundang dan pergi tak permisi, tanpa sekali pun meninggalkan suatu tanda atau bukti. Yang jelas, cukup pantas bila dirinya menyandang gelar 'legendaris'. Tak ada salahnya memberikan testimonial ataupun simpati, meskipun tidak berhubungan dalam hal kewarga-negaraan.

"Oh, ya. Hari ini mungkin aku akan pulang malam, karena aku masih ingin menemukan pembunuh itu." Arthur bangkit dari duduknya. "Kau boleh menghabiskan seluruh persediaan makananku di kulkas, asalkan jangan pernah sekali-sekali kau menginjakkan kakimu di luar rumah. Mengerti?"

"Yah, baiklah. Untuk kali ini aku akan menurut," ujar Alfred, kali ini terdengar tidak biasa. Lazimnya, ia akan memprotes ini-itu dan alasan-alasan atas peraturan yang diberikan Arthur kepadanya. Atau hal yang paling tidak baik selama berada dalam pengawasan Arthur, melanggar aturannya dengan diam-diam meninggalkan rumah. Pada akhirnya ia akan menemukan pemuda beralis tebal itu telah berkacak pinggang di depan pintu begitu pulang dan mengeluarkan segala tatapan menyeramkan ala penyihir dan inspekturnya.

Ternyata, bukan kali itu saja Alfred melakukan hal yang tidak biasa. Satu jam kemudian, setelah Arthur mengenakan mantel dan mengunci pintu rumah dari luar, Alfred mendapat panggilan telepon dari seseorang, dan detik berikutnya ia sudah bertransformasi menjadi orang lain.


Rabu. 10.42 AM.

Kembali pada pekerjaan. Untuk sementara catatan tentang sang pembunuh hanya bisa Arthur dapatkan dengan menghabiskan tiga lembar buku catatannya. Hampir semuanya berdasarkan penelitiannya terhadap TKP pada kasus-kasus sebelumnya, selain kasus presdir. Ia menjadi yakin sekali bahwa tidak ada yang namanya tidak mungkin; sang pembunuh selalu meninggalkan suatu keganjilan. Dan keganjilan itulah yang memenuhi benak Arthur saat ini.

Selain tetesan darah yang masih basah, Arthur juga menemukan suatu pola darah yang aneh saat kasus terbunuhnya salah seorang anggota bawahannya beberapa minggu lalu, yang menyebabkan rekan-rekan kerjanya menjadi trauma. Pada saat itu sang pembunuh terpergok hendak melakukan aksinya kepada seorang pejalan kaki yang lewat tepat di depan pos keamanan, sehingga polisi yang berjaga langsung membekuknya dan menghubungi rekannya agar memanggil bantuan dari pusat. Pejalan kaki tersebut berhasil dilepaskan, namun sayang, siapa pun yang sudah berada pada cengkeraman sang pembunuh, tak akan bisa lolos lagi. Secepat kilat ia menggorok leher polisi itu dan langsung kabur.

Kronologi kejadian yang sempat terekam dalam kamera pengawasan di dalam pos mengatakan hal yang sama, sehingga laporan bawahan yang melihat jenazah rekannya tersebut tidak mungkin salah. Terlihat di situ, begitu sirine tanda kedatangan mobil polisi telah berhenti, anggota polisi yang lain pun menemukan korban sudah tak berdaya dengan urat leher yang telah putus.

Namun, terdapat satu keganjilan yang kini sedang digeledah oleh Arthur, yakni jejak darah sepatu sang pembunuh dan pola cipratan darah membentuk lengkungan sol sepatu. Mungkin ini bisa dijelaskan dengan fakta, namun sebuah fakta lain yang cukup mengejutkan adalah jejak sepatu tersebut hanya berjumlah satu, bukan sepasang atau beberapa pasang. Seakan meninggalkan kesan bahwa pembunuh tersebut melompat ke atas atap, atau mungkin terbang dengan suatu alat. Sialnya, kamera tersebut tidak memperlihatkan cara kabur sang pembunuh, karena ia merusaknya sebelum sempat melarikan diri.

Melihat bukti yang lain lagi, tampaknya ia sangat menyukai darah. Banyak pola aneh lain yang ditemukan, salah satunya adalah goresan tiga jari menggunakan darah. Kemudian tetesan darah yang ada di dalam cangkir korban. Lalu tanda checklist yang tertera pada pipi korban lain…

Arthur menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya bergantian membaca catatan dan melirik hamparan foto kasus dengan bingung. Bukannya membantu, keganjilan-keganjilan tersebut malah semakin membuat pikirannya ruwet. Ia terpaku pada foto cangkir yang terdapat tetesan darah. Dan ia mulai tertarik dengan foto tersebut, karena ia segera memungutnya dan mengamatinya lebih teliti.

"Teh Anda, Sir," Antonio membuka pintu dan meletakkan secangkir teh di meja kerja atasannya. Ia pun menyadari betapa berantakannya meja tersebut. "Anda masih mencari bukti tentang pembunuh itu?"

"Ya, aku menemukan sesuatu," gumam Arthur tanpa menoleh ke arah Antonio sekali pun. "Kau mengenal cangkir ini? Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat."

"Oh, cangkir ini?" Antonio mengambil foto tersebut dan balik mengamatinya lekat. "Saya tahu, ini cangkir yang pernah populer setengah tahun lalu, karena terbuat dari bahan keramik yang bagus dan harganya sedikit mahal. Katanya, rasa teh tidak akan berubah kalau memakai cangkir ini."

"Benarkah?" sahut Arthur tanpa sadar. Pikirannya masih tertuju pada cangkir tersebut. Kenapa pembunuh itu ingin menunjukkan tanda darah pada cangkir teh? Apakah karena sang korban memang penyuka teh? Lalu kenapa? Apakah karena ia benci dengan teh? Kalau begitu mestinya ia hancurkan cangkirnya sekalian…

Tunggu, penyuka teh?

Arthur melirik cangkir teh yang disediakan Antonio, bergantian dengan foto-foto kasus yang ia sebar di meja. Menyadarinya, darahnya seakan berdesir dan jantungnya seakan tidak bisa dikendalikan. Ia menatap cangkit tersebut lekat sambil tersenyum penuh arti.

Dasar bodoh. Kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu?


+TSUDZUKU+

Perlahan tapi pasti. Yep, itulah prinsip yang berusaha saya pegang teguh ketika membuat fict ini.

Karena saya sedang mengobati sindrom 'ketidak-konsistenan' saya, yang sudah dipiara sejak pertama kali nulis di kelas 5 SD. Kali ini saya sedang pusing dengan peer bikin puisi berbahasa Jerman... yee, kosakata saja masih amburadul, gimana mau bikin puisi? Apalagi puisi adalah kelemahan saya orz orz

Sekali lagi, terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ini.

Satu permintaan saya: buat para author yang ahli di genre ini, mohon bantuannya~~ OAO Saya jadi bingung waktu sudah sampai di pertengahan cerita. Maunya ini tapi jadinya itu. Jadi selanjutnya bila ada yang kurang pas mohon segera beri concrit membangun. Sekali lagi terima kasih.