Konnichiwa minna-san ^^

Ellenkei ~love and kill~ by Kiki Suzuki

Disclaimer : Axis Powers Hetalia milik Himaruya-sama

England – Crime

((Sebuah tanda tanya baru pun muncul.))

AN : Saya sedang pusing dengan UAS ;v; dan mapel yang diujiankan besok adalah Matematika, sebuah mapel laknat yang membuat saya menyadari bahwa saya ada di jurusan yang salah ;w; ada yang mau jadi guru privat sehari saya, anyway?

Warning : Ada kemungkinan OOC (karena saya selalu terbawa suasana saat ngetik sehingga tidak memperhatikan karakter aslinya) dan alur yang tidak jelas kecepatan dan percepatannya(?). Dan karena baru pertama kali bikin beginian, mungkin hasilnya masih di bawah rata-rata m(_ _)m ampun.


Ellenkei ~love and kill~

.

"I don't like whether loving must not be killing. It exactly must be held."

Chapter 3. Being Invited.


Rabu. 20.38 PM.

Kembali dalam rutinitasnya. Sesuai janjinya tadi pagi, Arthur pulang sedikit larut, karena cangkir tersebut telah membawanya ke satu titik terang atas misteri-misteri tentang sang pembunuh legendaris yang sudah mengganggu pikirannya selama ini, sehingga ia terpaku di atas kursi kerjanya dan menunda untuk pulang. Ia sedikit gemetar ketika mengetahuinya, akan tetapi tinggal selangkah lagi impiannya akan terwujud, dan hal tersebut membuat adrenalinnya semakin terpacu.

"Aku pulang," ujarnya begitu ia membuka pintu. Samar-samar terdengar suara televisi dari ruang tengah, membuat Arthur berpikir bahwa Alfred pasti masih memelototi layar televisi sambil mengunyah coklat atau roti isi dari kulkasnya. Ternyata ia keliru, ia malah melihat dengan mata kepalanya sendiri, pemuda itu menonton televisi tanpa bergeming sedikit pun.

"Hei, sudah pulang?" tanya Alfred kemudian.

Melihat sikap Alfred yang kelewat manis, Arthur bertanya curiga, "Kau yakin tidak keluar rumah, kan? Benar, kan?"

"Tidak. Lagipula, di luar membosankan sekali." Alfred menggelengkan kepalanya keras. "Udaranya dingin, sudah begitu, aku tidak melihat seorang pun bermain di taman. Semuanya tampak sibuk ke sana kemari. Tidak ada yang menarik, ya, kan?"

Arthur tidak menjawab, ia menatap manik kebiruan Alfred yang tersembunyi di balik lensa kacamata. Entah heran karena ketidak-biasaan Alfred di rumah itu semenjak ditemukan tertidur di ruang tengah, atau sedang merasa bahwa ia sendiri perlu tidur lebih awal.

Dan entah kenapa, hati Arthur galau setiap kali mengingat jawaban Alfred yang terakhir diucapkannya. Ia terusik, tampaknya ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Ia berusaha keras mengingat dan mencari titik kesalahannya, namun itu sama saja membunuh sel otaknya dengan terus-terusan bekerja. Maka ia putuskan untuk langsung membenamkan diri dengan selimut dan terbuai oleh mimpi.

Sebelum akhirnya ia kembali duduk dan mengintip sosok Alfred dari balik kamar. Tampak ia sedang menelepon seseorang dengan ekspresi yang tidak pernah Arthur lihat sebelumnya dari dirinya. Sebuah tanda tanya baru pun muncul.


Kamis. 14.53 PM.

"Hei, hati-hati, bodoh!"

Arthur berusaha bangkit dengan menahan sakit. Puluhan pasang mata pun menatapnya kasihan, sedangkan beberapa pejalan kaki lain membantu Arthur berdiri. Lututnya terasa nyeri akibat terbentur trotoar setelah laju kencang sebuah sepeda menghempaskan tubuhnya. Orang itu tampaknya perlu dibawa ke panti rehabilitasi, karena ia mengayuh sepedanya di trotoar dengan kecepatan tinggi.

"Anda tidak apa-apa?" seorang pekerja membantu membersihkan debu dari mantel Arthur.

"Terima kasih, saya baik-baik saja." Arthur sedikit mengelak dari bantuannya, meskipun ia tetap melempar senyum. Ia mengelus-elus tempurung lututnya sembari meringis. Dengan sedikit tertatih-tatih, ia kembali ke markas.

Mendadak ia teringat sikap Alfred semalam. Ia baru menyadari hal tersebut setelah menyaksikan sendiri perubahan wajah Alfred ketika menerima telepon, terkesan dingin dan menakutkan. Benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang selama ini terpatri dalam benak Arthur, bahwa orang itu seharusnya melakukan hal-hal konyol, atau apa pun yang mampu membuat Arthur mengeluarkan kata-kata kesayangannya yang sebenarnya tidak layak didengar.

Lama-lama ia bingung dengan segala peristiwa yang telah terjadi. Secara kronologi, konsentrasinya awalnya terpusatkan pada sang pembunuh legendaris, sedikit goyah ketika bertemu dengan Honda Kiku, dan terganggu begitu raut wajah Alfred muncul dalam bayangannya. Ia tidak tahu apakah ini semua sudah diatur dengan sistematis dan terencana, terlalu sulit untuk menganalisisnya satu persatu. Sungguh pandai orang yang mengaturnya, bila memang benar demikian adanya.

Namun kemudian, pikirannya kembali melayang bagai asap dan membentuk sebuah objek pertanyaan baru. Menurutnya, semuanya memang telah dirancang, diatur, direncanakan oleh seseorang, sengaja untuk membuat dirinya bimbang. Interval waktunya terlalu sesuai untuk disebut sebagai kebetulan. Tampaknya pelaku tahu bahwa Arthur mengemban tugas untuk menangkap sang pembunuh, dan dengan menjejalinya oleh adegan-adegan yang tidak berhubungan, maka kondisi psikisnya akan mengalami penurunan dan usahanya tidak akan membuahkan hasil dalam waktu yang dekat.

Tapi, kenapa? Aku tahu bahwa cangkir itu membawaku pada sebuah petunjuk baru. Hanya saja, apa hubungan cangkir itu dengan Kiku dan Alfred?

"Argh! Sial, apa maksud semua ini?" serunya frustasi. Dengan kesal, ia melempar tumpukan kertas yang tersusun rapi di atas mejanya. Bahunya tampak naik turun, kepalanya pening. Untuk sesaat ia ingin sekali melanjutkannya dengan membanting telepon, namun akhirnya ia hanya terduduk di kursinya sembari mengatur napasnya. Ia hampir saja merasa putus asa, sebelum menemukan secarik kertas berisi surat yang tadinya tersembunyi di dalam tumpukan kertas yang dilemparnya.

xxx

Sir, mohon maaf atas kelancangan saya. Namun karena keadaan, saya terpaksa menulisnya.

Beberapa hari ini saya mendapat tekanan. Mertua saya selalu meributkan tentang pipa rokok yang pernah saya janjikan untuk dihadiahkan padanya. Dan bodohnya saya selalu lupa, karena saya sibuk dengan urusan pekerjaan. Kalau saya tidak menemukan pipa rokok itu dalam waktu dua hari, saya terancam akan diceraikan olehnya.

Maka dari itu, saya memohonkan pengajuan cuti pada Anda, sekiranya Anda berkenan untuk membebas-tugaskan saya selama beberapa hari ke depan. Saya hendak pulang kampung menemui mertua saya.

Antonio.

PS: Jika Anda berkenan, berkunjunglah ke kampung halaman saya. Di sana Anda akan menemukan banyak hal yang Anda senangi.

xxx

Lagi-lagi Arthur menemukan suatu keanehan pada surat tersebut. Selain selama ini Antonio tidak pernah memperlihatkan masalah pribadinya pada Arthur, rangkaian kata yang ditulisnya tampak menyimpan suatu pesan.

Akhirnya Arthur memutuskan untuk mendatangi Antonio di kediamannya.


+TSUDZUKU+

Perlahan tapi pasti. Yep, itulah prinsip yang berusaha saya pegang teguh ketika membuat fict ini.

OOT sedikit. Boleh saya tanya sesuatu (tentang Matematika :D)? Bedanya permutasi dan kombinasi itu apa, ya? :D /lha?

Sekali lagi, terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ini.

Satu permintaan saya: buat para author yang ahli di genre ini, mohon bantuannya~~ OAO Saya jadi bingung waktu sudah sampai di pertengahan cerita. Maunya ini tapi jadinya itu. Jadi selanjutnya bila ada yang kurang pas mohon segera beri concrit membangun. Sekali lagi terima kasih.