Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah bersedia meluangkan waktu mereview ya ^^ Cuma kalian yang mereview inilah yang selalu bisa bikin saya semangat untuk update.

Zanpaku nee: Karena kamu yang selama ini paling rajin review dan selalu ada di setiap chapter sih :") Tadinya chapter 1 lebih panjang dari itu sih, cuma kepaksa saya belah lantaran panjangnya keterlaluan =_=" Hmm... Semacam portal yg kemudian ngehubungin ke ruang bawah tanah. Mengenai lengkapnya, nanti saya kasih penjelasan melalui cerita deh =))" Wkwkwkwk, sip2 deh. Nanti saya coba deskrip trisamnya yang jelas2 banget ya ;D *eh*

ndok: Sebentar lagi~ Sebentaaaaaaar lagi *plak*

Aoi LawLight: Yeah, setelah baca karya2 Tiana Misoro, saya juga jadi cinta trisam GrimmIchiShiro :"| *plak* Ohohoho, thengkiuu atas fave-nya ya say~ Cinta deh aku sama kamu :") *kecup sampe dower* Siapakah yang menjadi Beast-nya? Kita lihat di chapter ini~ *kenapa malah jadi Beauty and The Beast?* *bletak*

Me and Ichi: Siaaap! Ini sedang dilanjutkan! x"D Wkwkwk, pake BDSM, jadikan triple penetration dong ya? *plak* Oke deh, dadaaah~! Balik lagi yaaa :"DD

XOXOXO

CHAPTER 2: TEAL AND ASH WHITE

Disclaimer: I don't own Bleach, it's Kubo Tite. I used it just for fun...

Gomen... Publishnya meleset dari jadwal awal. Jangan salahkan saya, tapi salahkan provider yang gangguan terus selama beberapa hari ini sehingga saya kesulitan untuk upload =A= *bletak* Taunya kemarin ini kartunya harus di ReNew. Eeh, begitu di ReNew malah kagak bisa loading apa-apa =_=" Akhirnya beberapa hari ini bolak-balik teteleponan sama providernya. Gebleeeeekkk...! *ORZ* Online dari HP itu ngabisin pulsa... *ga ikut paketan sih*

Err... Lanjut ke cerita aja deh sebelum curhatnya makin panjang. Enjoy! ^^

XOXOXO

"Mmn..."

Ketika menuruni tangga rumahnya, Ichigo sama sekali tidak menyadarinya. Begitu pula ketika melihat wajah Yuzu dan Karin, serta sang ayah yang mendadak memasuki ruang makan sambil membawa koper besar dan berkata, "AYO KITA LIBURAN KE PERANCIS!". Tapi, ketika mendadak sekitarnya menjadi buram, dan dalam hitungan detik, bukannya menara Eiffel, ia malah melihat menara Tokyo di depan matanya dan pantai di sekitarnya, Ichigo tahu kalau saat ini dirinya sedang bermimpi.

Mimpi yang aneh karena walaupun seharusnya berada di Perancis, entah kenapa sang ayah mengenakan pakaian ala Hawaii, lengkap dengan umbul-umbulnya. Karin yang mendadak bisa terbang hingga puncak menara, dan Yuzu yang menunjukkan wajah seperti ilmuwan gila yang penemuannya berhasil setelah sekian lama gagal.

Kalau sudah seperti ini, ia tidak akan heran jika Renji mendadak muncul dengan rambut yang berwarna hitam.

Tanpa ia sadari, dalam dunia nyata, ia mengerutkan kedua alisnya. Ini bukan kali pertamanya ia bermimpi hal-hal aneh dan tidak nyambung seperti sekarang ini, tapi ia yakin dirinya tidak akan pernah bisa terbiasa. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika merasakan ada sesuatu yang membumbung tinggi di atasnya. Penasaran, dalam mimpinya ia mendongak, sementara dalam kenyataan ia perlahan membuka kedua matanya. Ruangan yang gelap dan kesadaran yang masih setengah-setengah membuat Ichigo kesulitan meregistrasikan apa yang dilihatnya ke otak.

Ia bisa melihat sepasang mata azure yang tajam memandang ke arahnya. Cahaya yang memasuki kamar membuat sepasang mata itu seolah bersinar, membuat Ichigo sempat terpaku. Namun tidak lama, karena akhirnya apa yang ia lihat bisa tersampaikan ke otaknya, ia terbelalak.

". . . . ! !"

Tersentak, Ichigo bangun dari tidurnya. Nafasnya memburu saat tubuhnya sudah terduduk, dan kedua iris cinnamonnya bergerak menelusuri ruangan. Mimpikah? Ia yakin beberapa saat yang lalu ia melihat dua mata azure yang berkilat menatap ke arahnya, seolah hendak memakannya hidup-hidup. Tapi sekarang, ia hanya seorang diri di dalam kamarnya.

Menghela nafas panjang, yep, mimpi. Sebab hanya ada dirinya di rumah ini.

Bangkit dari ranjang, Ichigo berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya saat ia menangkap cahaya yang menyelusup masuk. Dan benar saja, hari ternyata sudah pagi. Ichigo mengerang, mengetukkan dahinya di kusen jendela. Senin akhirnya datang lagi, dan hari minggu kemarin sama sekali tidak terasa seperti hari minggu baginya.

"..."

Ia juga tidak siap dengan tes kanji yang diadakan siang nanti. "Shit..."

XOXOXO

Menguap lebar, Renji membentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas hingga terdengar bunyi "krek" dari bagian punggungnya. Menggeram, ia pun sedikit memijat lehernya, "Akhirnya... Bisa juga terlepas dari Katsura Kogoro." Sejarah Jepang adalah kelas terakhir yang harus ia ikuti. Dan sampai sekarang, pemuda bersurai merah itu masih tidak mengerti mengapa ia diharuskan mempelajari sejarah jika ada pepatah mengatakan; Lupakan masa lalu, dan move on.

Ia juga masih bingung apa manfaat dari menemukan x dan y pada matematika.

"Tes kanji tadi... kalian bagaimana?" Ia bertanya kepada dua pemuda yang berjalan tidak jauh di belakangnya tanpa menoleh.

Sementara Ichigo hanya diam dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, Shuuhei mengangkat bahu, "Biarkan takdir yang bicara di masa depan." Jawaban pemuda bertato 69 di pipinya itu membuat Renji dan Ichigo sama-sama memberikan pandangan eneg. Mereka sama-sama merasa kalau belakangan ini Shuuhei sedang kasmaran, makanya kalimat yang ia tuturkan sering kali terlalu manis.

Tidak mau berurusan dengan hal yang membuat bulu kuduknya berdiri, Renji mengalihkan perhatiannya pada Ichigo, "Hei, Ichigo. Bagaimana rumah Nel-chan? Kau mau kami temani selama jadi satpam di sana?" Ia terkekeh ketika sepupunya itu menatapnya dengan tatapan tidak suka.

Cemberut, Ichigo menyandarkan tangan yang membawa tas di pundak, sementara tangannya yang lain ia masukkan ke dalam saku celana, "Pertama, aku tidak pakai baju yang menandakan kalau aku satpam. Kedua, rumah Nel nyaman untuk ditinggali dalam ketenangan, jadi... Tidak. Kurasa aku ingin sendirian..." Suaranya jadi semakin terdengar berbisik saat Ichigo menyadari bus yang seharusnya menuju daerah kediaman Nelliel sudah mulai berjalan, "AAAH! TUNGGU! TUNGGUUU! AKU MAU NAIK!" Ia pun mulai berlari ke arah bus, meninggalkan Renji dan Shuuhei di belakang. Arah yang mereka tuju memang berbeda.

"Sampai besok, Renji! Shuu!"

Beruntung, kelihatannya supir bus melihat Ichigo yang berlari, sehingga menghentikan busnya dan menunggu hingga sang pemuda bersurai oranye itu naik.

Menghela nafas lega karena ia jadi tidak perlu menunggu satu jam lebih lama lagi, Ichigo mengambil tempat duduk di deretan paling belakang. Namun, kemudian kedua alisnya berkerut bingung ketika menyadari orang yang duduk di sebelahnya sudah berpakaian serba hitam, mengenakan jaket, topi, serta kacamata hitam pula. Ichigo yakin ia tidak salah mengingat kalau bulan ini adalah bulan juli dan udara di Jepang sedang panas-panasnya.

Kalau dilihat dari postur tubuhnya, pria yang berpakaian serba hitam itu bukan ingin menguruskan diri dengan cara mengeluarkan keringat.

Yah, mungkin memang sudah kebiasaan orang itu, atau mungkin juga ada alasannya yang berhubungan dengan kulitnya yang albino itu. Come to think of it... Warna rambut sang pria pun hampir serupa dengan warna kulitnya. Putih abu.

Ichigo—yang tanpa dirinya sendiri sadari—terus memandang ke arah sang pria, sama sekali tidak menyadari kalau pria itu pun kini berbalik memandangnya. Baru ketika pria itu menaikkan sudut bibirnya dalam seringai kecil, Ichigo terbangun dari lamunannya. Dengan wajah yang merona malu karena ketahuan memperhatikan, ia mengalihkan pandangannya ke sisi yang berbeda, dan memutuskan pemandangan di balik jendela bus saat itu jauh lebih menarik daripada hal lain di sekitarnya.

Ichigo turun di pemberhentian yang kelima, dan dari sana ia cukup berjalan sejauh 2 blok hingga sampai ke kediaman Nelliel. Padahal kalau dari rumahnya sendiri, ia cukup jalan kaki saja pulang pergi sekolah, tidak perlu mengambil bus seperti sekarang ini. Yah, ia kan tidak akan selamanya mendiami tempat tinggal bibinya itu, hanya selama beberapa hari saja... Iya kan? Tidak akan hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya kan?

... Ia belum menanyakan secara mendetail seberapa lama bibinya itu pergi.

Sebaiknya begitu pulang nanti, ia menghubungi saja Nelliel. Biarkan kalau diomeli karena mengganggu.

Langkah yang lebar-lebar karena ingin cepat-cepat sampai rumah, sekarang ini melambat. Sudah satu blok terlewat, namun kedua pendengaran Ichigo masih menangkap suara langkah yang sama berjalan di belakangnya. Jantungnya berdebar-debar ketika memikirkan kemungkinan kalau ia dibuntuti.

Sudah berapa lama?

Tidak ingat. Yang pasti sudah cukup lama semenjak hal semacam ini terjadi lagi padanya. Karena belakangan ia melawan dengan lebih ganas dengan dibantu oleh Renji dan Shuuhei, orang-orang yang selalu cari ribut dengannya sudah jarang sekali mendekatinya lagi. Atau mungkin orang-orang itu menemukan warna rambut lain yang lebih aneh daripada warna oranye miliknya. Benar. Terkadang ada saja kelompok anak jalanan atau preman sekolah yang sering kali mencari ribut dengannya hanya karena warna rambutnya. Nampaknya mengira dirinya juga merupakan anggota gang yang rambutnya di cat.

Cuih, menyebalkan.

Padahal rambutnya yang begini itu asli. Tapi, kelihatannya para preman itu tidak akan pernah percaya kalau pun ia katakan hal itu, kecuali jika ia sampai mencopot celananya mungkin. Dan hal itu tidak mungkin ia lakukan. Jadi, Ichigo hanya melawan tanpa balas komentar.

Lagipula, kalau sedang stress, berkelahi bisa menjadi obat.

Dengan sengaja Ichigo berbelok ke dalam gang yang berlawanan dengan tempat tujuannya. Di belakang, bisa ia dengar suara langkah kaki yang mengikutinya itu terdengar ragu-ragu, membuat keningnya semakin berkerut. Apa mungkin orang yang mengikutinya itu menjadi ragu-ragu karena merasa ia telah mengetahuinya? Kalau begitu, adrenalin dari sebuah perkelahian tidak akan terlalu ia rasakan. Karena yang ragu-ragu seperti ini biasanya lemah.

Menyadari tidak ada lagi suara langkah yang mengikutinya, Ichigo berhenti. Untuk beberapa saat ia hanya terdiam dengan kedua telinga yang mencari-cari. Ketika sudah yakin tidak akan ada yang menyerangnya secara tiba-tiba, ia pun berbalik. Dan benar saja, di belakangnya sudah tidak ada siapa pun juga.

"Che. Payah..."

Tanpa menunggu lama lagi, Ichigo melanjutkan perjalanannya dengan langkah yang hampir berlari.

Tidak sampai 5 menit, Ichigo kini sudah berada di depan pintu rumah Nelliel. "Hm... Di mana ya..." Memeriksa saku celana satu persatu karena ia sama sekali tidak ingat di mana ia simpan kunci rumahnya ketika keluar tadi pagi. Tidak menemukan di saku, ia beralih ke tas. Merogoh sisi terdalam tas, Ichigo tidak menyadari seseorang berjalan di belakangnya, mendekat kepadanya.

"Kelamaan." —WHAMM!

Ichigo terpaku. Kedua matanya terbelalak lebar seolah akan keluar dari kelopaknya jika ada orang yang menepuk punggungnya. Pintu yang tadi berada tepat di depan hidungnya kini tidak ia ketahui keberadaannya. Ia yang tadi tidak bisa melihat sisi dalam rumah karena terhalang pintu, kini sudah bisa melihatnya dengan jelas. Menunjukkan keadaan ruangan yang entah mengapa cukup berantakan, padahal ketika ia meninggalkannya tadi, kondisi rumah masih dalam keadaan rapih dan tertata.

Tapi, sekarang bisa ia lihat kondisi tanaman yang tercabut dari potnya, kursi yang posisinya terbalik, beberapa lukisan yang miring...

Apa yang sebenarnya terjadi? Maling?

"Ampun deh. Kayaknya si Meong kelaparan banget sampai mengubek-ubek rumah jadi begini."

Suara itu, suara yang bagaikan distorsi gelombang rendah menyadarkan Ichigo dari lamunannya, dan arah pandangnya langsung tertuju kepada figur seorang pria yang ia yakini merupakan pria yang sama dengan yang duduk di sebelahnya saat di bus tadi. Bermaksud untuk menghardik, mengungkapkan kebingungannya, Ichigo membuka mulut, namun tidak ada sedikit pun suara yang ia keluarkan, berapa kali pun ia membuka dan menutup mulutnya. Hingga akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk merapatkan bibirnya, membentuk sebuah garis lurus, sementara dahinya berkerut sambil menatap sang pria.

Walaupun kedua mata sang pria masih tersembunyi di balik kacamata hitam, Ichigo tahu pria itu pun saat ini tengah memandang ke arahnya. Terbukti dari seringai kecil yang menghiasi wajah pucat sang pria. Membuat kerutan di dahinya semakin terlihat jelas. "Ada apa, Manis? Kelihatannya kamu ingin bilang sesuatu." Ejekan yang tersembunyi di balik kalimat yang dilontarkan oleh sang pria membuat Ichigo berhasil keluar dari ketertegunannya.

Ia langsung meledak.

"SIAPA KAMU, SIALAN! BUAT APA KAMU MENGIKUTIKU SAMPAI SINI? APA... APA YANG KAMU LAKUKAN PADA PIN—MMBPH!" Tangan yang mendadak menutup mulutnya, membuat suara Ichigo tidak lagi bisa keluar. Ia melotot ke arah sang Albino yang seringainya kini semakin melebar.

Seolah apa yang hendak dibicarakannya adalah sebuah rahasia, pria albino itu mendekatkan kepalanya di telinga Ichigo dan berbisik pelan, "Ssshh... Dengan suaramu itu, kamu sanggup membangunkan yang belum seharusnya bangun lho." Ekspresi wajah sang pria nampak begitu puas ketika hembusan nafasnya yang keluar bersamaan dengan suaranya itu membuat tubuh sang remaja bergetar. Ichigo yang saat itu terlalu terfokus demi mengontrol libidonya agar tidak terbangun, tidak menyadari kalau kedua mata sang Albino tengah menelanjangi dirinya sebelum kemudian perhatian sang pria terhenti di leher jenjangnya.

Menjilati bibirnya, Albino itu mendekatkan mulut ke bagian di mana leher bertemu dengan pundak, dan memberikan jepitan ringan di sana dengan menggunakan mulut, membuat nafas Ichigo tercekat.

"Tidakkah kamu terlihat lezat?"

Tanpa sadar, Ichigo menelan ludah. Lengkuran yang bisa ia rasakan berfibrasi pada dada sang pria membuatnya mengigit bagian dalam pipinya demi menahan desahan yang hampir menyeruak keluar. Walau tidak berarti juga desahan itu akan terdengar oleh sang pria karena mulutnya saat ini masih tertutup. Lenguhan kecil keluar dari sela mulutnya saat Ichigo merasakan tangan yang memijat ringan pipi pinggulnya. "Mnh!" Lenguhan yang berganti menjadi erangan ia keluarkan ketika pijatan itu berubah menjadi remasan, membuatnya menggeliat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sang pria.

Tapi, gerakannya itu pada kenyataannya malah membuat sang pria Albino semakin berani. Dengan menggunakan salah satu jarinya, pria itu menekan-nekan pintu masuk Ichigo yang masih tertutup celana.

Panik merasakan kejantanannya yang mulai bereaksi, dengan kedua tangannya Ichigo berusaha melepaskan tangan yang membekam mulutnya. Susah payah, akhirnya ia berhasil lepas dan langsung menyarangkan tinjunya ke pipi sang pria. Tapi, bukannya pria Albino itu yang tersungkur akibat tenaganya, malah Ichigo yang kini menunduk, menggosok-gosok tangan yang ia pakai meninju dengan tangannya yang lain.

KOK MALAH DIA YANG KESAKITAN SIH?

Rasanya seperti menonjok pintu besi, dan bisa ia lihat tangannya itu pun kini mulai memerah. "Yare, yare... Kamu sih bergerak tiba-tiba begitu, jadi secara tidak sengaja aku jadi defensif kan?" Tatapan penuh kekesalan yang Ichigo lontarkan terhadap kata-kata sang pria saat itu sama sekali tidak efektif karena disamping wajahnya yang memerah—akibat apa yang pria itu lakukan padanya tadi, dan rasa sakit di tangannya—di tepian matanya pun tergenang air mata yang secara otomatis keluar ketika ia menahan rasa sakit. Ichigo tahu pria itu tidak benar-benar menyesal seperti kata-katanya, karena jika memungkinkan, rasanya seringai di wajah berkulit pucat itu terlihat semakin lebar saja.

Dan yang paling membuat Ichigo sebal, adalah kenyataan ia bisa mengetahui pandangan mata pria itu mengejeknya walaupun sang pria masih menggunakan kacamata hitam.

Tidak suka pria itu jadi kelihatan mengintimidasi ketika ia tengah berjongkok seperti sekarang ini, Ichigo langsung berdiri—hanya untuk tubuhnya kembali didorong hingga rata dengan lantai. Mengerang akibat benturan yang terjadi, Ichigo langsung memberontak, mendorong kuat sang Albino dengan menggunakan kedua tangannya, "SIALAN! APA SIH YANG SEBENARNYA KAMU INGINKAN?"

"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan terlalu banyak memberontak."

Rontaan Ichigo terhenti seketika saat otaknya bisa menerjemahkan maksud sebenarnya dari kata-kata sang Albino. Terlebih ketika Albino itu menggosokkan bagian selangkangannya yang sudah menonjol itu kepada dirinya. "Kamu mengerti kan?" Sang Albino kembali melengkur sambil memberikan jilatan ringan di pipi Ichigo, membuat remaja 17 tahun itu mengerang ringan dan menghentakkan tubuhnya ketika merasakan kedua pipi pinggulnya kembali diremas.

Benaknya saat itu tengah menghadapi perang dunia ketiga antara Ichigo putih dan Ichigo hitam.

AYO DORONG COWOK ITU, ICHIGO! MASA KAMU BAKALAN MEMBIARKAN COWOK ITU SEENAKNYA SAJA SIH?

Kenapa nggak jujur saja, Ichigo? Kamu suka kan disentuh-sentuh seperti itu? Kali ini kamu akan melakukan seks dalam keadaan sadar lho. Terima dan nikmati saja deh.

JANGAN DENGARKAN, ICHIGO! KAMU TIDAK LUPA KALAU SAAT INI KAMU MASIH ADA DI RUANG DEPAN DENGAN PINTU YANG SUDAH TIDAK BERPINTU LAGI KAN? KALAU ADA YANG LIHAT, KAMU TIDAK AKAN BISA KELUAR RUMAH DALAM WAKTU LAMA!

Benar juga...

Kok begitu sih? Kalau nggak mau ketahuan kan tinggal bilang saja kalau kamu ingin melakukannya di kamar. Si Albino pasti mau kok, soalnya yang penting kan akhirnya badan kalian bakalan bersatu juga.

Dalam bayangannya, Ichigo bisa melihat kalau Ichigo putih saat itu tengah gelagapan dengan wajah merah gara-gara mendengar perkataan Ichigo hitam yang antara vulgar dan sopan.

SEBODO! ICHIGO! KAMU ITU COWOK KAN? JANGAN MAU KALAH DENGAN SESAMA COWOK DONG!

Kamu ini dari tadi teriak-teriak terus bilang ini-itu. Ternyata pada intinya kamu cuma pengen Ichigo lebih agresif toh.

BUKAAAAAAAAANN...!

SWOOOOOSH!

Belum sempat Ichigo melihat siapakah yang menang antara Ichigo putih dan Ichigo hitam, ia merasa beban yang berada di atas tubuhnya menghilang. Dan dalam kecepatan yang rasanya tidak manusiawi, ia pun bisa melihat tubuh pria Albino yang melayang menyeberangi ruangan sebelum kemudian mendarat di atas bupet dengan kedua mata yang menatap nanar ke arah di dekat dirinya.

Emas di dalam lautan hitam, membuatnya mengerjap memikirkan kemungkinan apakah warna itu asli atau tidak. Warna yang begitu menyita perhatian, membuat dirinya merasa sayang jika warna seperti itu harus selalu disembunyikan di balik kacamata hitam. Setidak wajar apa pun warnanya. Suara menggeram di dekatnya membuat Ichigo tersentak kaget dan terbangun dari lamunan. Ia menoleh, dan dalam sekejap kedua matanya membelalak lebar mendapati apa yang berdiri di sana.

Singa?

Bukan. Macan? Harimau?

Yang mana pun, salah satu jenis kucing besar itu saat ini tengah berdiri dengan gagahnya sambil menatap ke arah sang Albino. Seolah Albino itu adalah mangsanya yang siap ia terkam kapan pun juga jika bergerak sedikit saja.

...

...Tunggu. Bagaimana bisa ada macan di rumahnya?

". . . . . . ! ! ! ! ! ! !"

Seolah benaknya baru saja menyadari sosok macam apa yang berada di dekatnya itu, Ichigo langsung merapatkan diri ke dinding, megap-megap ingin mengatakan sesuatu sembari menunjuk ke arah sang macan namun tidak ada sedikit pun suara yang keluar dari mulutnya. "Maa... Maa... Grimmy, kamu sudah membuat manusia itu takut. Jangan sampai membuat dia kabur jauh dong." Kedua pendengaran Ichigo bisa menangkap suara sang Albino tetapi tidak sekali pun ia alihkan tatapannya dari satu-satunya sosok bukan manusia di ruangan itu.

"Kukatakan hal yang sama padamu, Shirosaki,"

Bukannya merasa panik karena yang barusan berbicara itu adalah sang macan, dimana pada kenyataannya tidak ada macan atau pun hewan lain yang seharusnya bisa berbicara bahasa manusia, Ichigo justru gemetar dan merinding saat mendengar suara baritone yang dikeluarkan sang macan yang dipanggil Grimmy oleh Albino yang ternyata bernama Shirosaki.

"Aku yakin kamu sudah tahu kalau aku mengincar manusia ini lebih dulu darimu,"

Menggigiti bibir bawahnya, Ichigo menahan desahan yang hampir saja keluar setiap kali kedua telinganya menangkap suara itu. Suara yang baginya penuh dosa, membangunkan hasrat yang sudah sempat terkubur kembali ke permukaan. Berbeda dengan suara distorsi sang Albino yang membuatnya bisa saja langsung tunduk, baritone dan suara serak penuh otoritas ini justru membuat Ichigo sangat berhati-hati. Seolah jika ia bergerak atau bicara sedikit saja, ia akan mendapatkan karmanya.

Sentuhan yang Ichigo rasakan di dadanya membuat kepalanya yang sempat menunduk, kembali mengadah. Perlahan kedua matanya melebar, sosok yang seharusnya berupa macan itu berubah dalam tempo yang singkat menjadi sosok seorang pria bersurai biru. Tubuh yang nampak kekar dan kuat, terbaluti oleh kemeja berwarna putih dan jeans hitam pekat membuat biru pada mata dan surainya itu semakin mencolok. Begitu pula dengan tattoo dibawah matanya yang memiliki warna lebih gelap dari biru yang lainnya.

"Aku yang mendapatkannya lebih dulu." Menggeram penuh rasa posesif akan manusia yang sudah ia incar semenjak matanya pertama kali menangkap sosoknya, tatapan yang Grimmjow layangkan pada Shirosaki merupakan tatapan penuh tantangan yang mengatakan berani melanggar maka jangan harap bisa melihat langit malam lagi.

Entah patut disayangkan atau tidak, Shirosaki bukanlah lawan yang akan bisa digertak dengan cara semacam itu, sehingga seringai di wajahnya bukannya menghilang, namun malah semakin lebar. Nampak menantang balik. "Tapi aku lebih dulu mendekatinya, jadi aku yang menang lho, Grimmy~" Pria Albino itu mengatakannya dalam nada yang dimainkan, membuat geraman Grimmjow semakin keras dan tangannya yang menyentuh dada Ichigo mulai mencengkeram baju sang pemuda dengan keras.

Tidak terima dirinya yang semenjak tadi nampaknya mulai dicueki dan dibicarakan seolah dirinya tidak ada, serta baju yang sudah ia setrika itu mulai kusut kembali akibat cengkeraman sang pria bersurai biru—tampan atau tidak, menarik atau tidak, mengerti maksud perkataan dua pria itu atau tidak—Ichigo memukul keras lengan yang mencengkeramnya itu. Dan kembali dibuat terbengong-bengong karena selain tindakannya itu tidak menarik perhatian Grimmjow, lengan yang mencengkeramnya sama sekali tidak terlihat terganggu atau merasakan sakit.

Sebenarnya siapa dua pria ini?

Yang satu bisa membuat tubuhnya sekeras batu, yang satu bisa berubah menjadi macanatau sebaliknya? APA PUN ITU, SEBENARNYA APAAN SIH DUA ORANG INI?

Terlalu terlarut dalam pikirannya yang berkecamuk di otak, Ichigo sama sekali tidak mendengarkan apa yang tengah Grimmjow dan Shirosaki bicarakan. Padahal hal itu menyangkut keselamatan dirinya—coret—keselamatan tubuh bawahnya. Setidaknya hingga ia merasakan tubuhnya ditarik dan dibawa dengan bridal style dalam kecepatan penuh. Bukan kecepatan manusia, karena Ichigo merasa pusing ketika akhirnya mereka berhenti, dan ia merasa tubuhnya dijatuhkan di atas sebuah bidang yang empuk.

...Kasur?

Panik, Ichigo kembali meronta ketika bisa ia rasakan dua tangan besar mencengkeram kerah bajunya, "HEI! HENTI—!" BREEEEEEEEK...! Satu suara mengirimkan kancing-kancing bajunya berterbangan, membuat nafas Ichigo tercekat di tenggorokan, dan dinginnya ruangan yang mengenai dada telanjangnya membuatnya terperangah.

Di dalam kedua iris cinnamonnya terpantul dengan jelas sosok dengan dua iris azure menatapnya balik, seringai yang tercetak lebar di wajah tampan sang pria menampakkan dua pasang gigi yang paling menarik perhatian sang pemuda bersurai oranye.

Taring.

Lebih panjang dan tajam daripada manusia pada umumnya.

"Kau milikku." Grimmjow menggeram, menancapkan taringnya di leher Ichigo sehingga membuat pemuda itu hanya bisa melihat warna putih.

.

TBC

.

Iya, saya memang sekejam itu pada kalian. MUAHAHAHAHA! Hmhm... Gimana kalau kejamnya saya ditambah dengan saya baru bakalan publish chapter selanjutnya yang full sex setelah chapter 2 ini memiliki 20 review? Atau 15 deh, 15~ *dibata*