Hehe balik lagi xD Makasih yang sebelumnya udah ripiuw ^^ Sasuke emang kubuat OOC demi berlangsungnya jalan cerita, tapi tenang saja, dia pasti akan insap -?-. Oke deh selamat membaca dan jangan lupa nanti review :) hehe
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : Prince of Troublesome
Genre : Romance, Drama, Comedy, Hurt/Comfort and little bit Smut 0.o (otak eroo! *dibabuk*)
Rate : T
Main Chara : Naruko U.
Main Pairing : Sasuke U. & Naruko U.
Another pairing : You'll see in this fanfiction ^^v
Warn : Sedikit OOC, ada karakter OC (maaf bagi yang tidak suka tapi tidak akan berlangsung alama –sekarat?-, AU, Naruko aku buat sedikit OOC alias berkulit putih dan tidak memiliki 3 garis halus di kedua pipinya. Bahasa santai alias kadang tidak baku. Cerita amatir dan pastinya gaje. Anda berminat membaca silahkan membaca ^^
Cerita sebelumnya :
"Begini saja, apa yang kau mau?" tanya Naruko to the point. Rasa kesal dan jengkel karena selalu di ikuti bahkan di dekati Sasuke membuatnya benar-benar muak. Sasuke terdiam sejenak lalu dia menyeringai kecil. "Mauku? Aku mau kalau kau menjadi Maidku."
"Maafkan aku Uchiha Sasuke. Dengan pekerjaanku yang sekarang ini saja, kehidupanku dan Ibuku sudah tercukupi. Kalau kau mau tanya kenapa, aku bukan wanita murahan yang mau-maunya menerima orang macam seperti kamu. Uang pun aku bisa mencarinya dengan cara halal."
"Kau salah besar karena telah menolak bantuan dari seorang Uchiha. My Sweet Uzumaki," gumamnya kecil dengan kedua bola mata onyx yang menyeramkan itu.
Jika kalian tidak suka, maka jangan memaksa untuk membaca :D This is SASUFEMNARU fanfiction :3
.
.
Chapter 2 – Tawaran
Normal POV
Kejadian tempo hari membuat Naruko harus waspada dengan Uchiha muda itu. 3 hari setelah kejadian itu, Sasuke pun semakin nekat saja jika bertemu dengan Naruko. Kadang suka main peluk tiba-tiba dan hampir—ya HAMPIR saja mencium bibirnya yang masih virgin. Naruko menggeleng-geleng takut membayangkannya. Sekarang dia sedang meringkuk di pojokan kasur yang berada di kamarnya. Rumah adalah tempat yang paling nyaman sedunia.
'Tapi—aku masih bingung darimana dia mengetahui info tentang diriku? Padahal hanya teman-teman dekatku saja yang mengetahui tentang status sosialku,' batinnya sambil membaringkan tubuhnya. Kedua bola mata biru Naruko memandang lurus pada sebuah figura yang berada di atas meja kecil di samping kasurnya. Photo keluarganya—lengkap bersama Ayah dan kakak lelakinya dulu.
Naruko bangkit perlahan lalu meraih figura itu. Kedua bola mata Naruko berair hendak meneteskan air mata. Dia memeluk erat figura berukuran sedang itu. Jika saja dia bisa memutar waktu, dia tidak ingin Ayah tercinta serta kakak kesayangannya pergi meninggalkan dirinya serta Ibunya.
Flashback – 7 tahun yang lalu
Seorang gadis cilik berusia 8 tahun tengah asyik bermain dengan kedua boneka beruangnya. Sampai suatu ketika, seseorang mengetuk pintu kamar gadis manis itu.
Tok, tok, tok!
"Naru-chan, kau di dalam?" panggil suara seseorang dari luar. Naruko kecil pun bangkit dari kasurnya dan berlari kecil menuju pintu kamarnya dan membuka pintu. Terlihat pemuda tampan dengan rambut merah dan mata biru tengah memandang adiknya dengan tatapan lembut. Naruko tersenyum.
"Ada apa Oniichan?" tanya Naruko ceria. Namikaze Kyuubi. Ya. Kakak Naruko semata wayangnya itu hanya menggeleng kecil lalu membungkuk untuk menyamakan tinggi badannya. "Hanya melihatmu saja. Kau sedang ngapain?" tanya Kyuubi sambil mengacak-acak rambut adik kesayangannya. Naruko kembali tersenyum.
"Aku sedang main boneka. Oniichan mau ikutan?" tanya Naruko polos. Kyuubi tertawa kecil lalu memeluk Naruko gemas. "Gomen Imouto, aku masih banyak tugas sekolah. Nanti sore mungkin kita bisa bermain bersama. Kau sudah makan siang?" tanya Kyuubi. Naruko menggeleng pelan.
"Tapi Naru belum lapar Oniichan~" serunya manja. Kyuubi tersenyum lagi dan lagi melihat tingkah laku adiknya yang sangat manis. "Ayo, Ibu baru saja membuatkan makan siang. Kau itu kurus banget tahu tidak?" cletuk Kyuubi. Naruko menggembungkan kedua pipinya. "Oniichan juga kurus weeek~" ejeknya. Kyuubi segera mencubit pipi kiri Naruko pelan.
"Jangan protes. Ayo cepat kita turun!" Kyuubi pun menarik kecil pergelangan tangan adiknya yang mungil. Sementara Naruko hanya menggerutu kecil.
.
.
Sore harinya, setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Naruko pun berlari kecil menuju kamar kakaknya hendak mengajak main kakaknya itu. Sebelumnya dia mengetuk pintu kamar dengan perlahan. "Oniichan! Kau ada di dalam?" panggil Naruko. Hening dan tidak ada jawaban sama sekali. Naruko mengernyitkan dahi dan segera membuka pintu kamar Kyuubi.
Kriiek!
Kosong. Tidak ada kakaknya di sana. Naruko kembali menutup pintu dan berlari kecil menelusuri tangga dan pergi ke dapur untuk mencari kakaknya. Tapi tetap tidak ketemu. Lalu dia pun bertanya kepada Ibunya yang sedang sibuk memasak makan malam.
"Okaa-chan, kemana Oniichan?" tanya Naruko sambil menarik-narik daster Ibunya. Uzumaki Kushina itu tersenyum miris lalu dia mengelus rambut pirang lembut Naruko.
"Oniichan sedang di kamar mandi. Tadi dia sempat mendadak demam. Jadi sepertinya dia tidak bisa mengajakmu bermain sekarang," jawabnya. Wajah Naruko menunduk kecewa. Lalu tanpa aba-aba dia langsung beranjak ke luar pintu kamar mandi. Kushina hanya menghela nafas kecil.
Setelah sampai, Naruko mengetuk pintu kamar mandi pelan. "Oniichan? Oniichan baik-baik saja?" panggil Naruko dari luar. Setahu Naruko, Kyuubi sudah mandi lebih awal dari Naruko. Tentu saja itu membuatnya curiga dengan apa yang sedang terjadi dengan Kyuubi di dalam sana. Kalau dia sedang demam, buat apa berlama-lama di kamar mandi. Naruko membuka pintu kamar mandi dan melihat sosok kakaknya yang sedang menunduk di dalam wastafel. Kyuubi yang kaget karena tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu kamar mandi dengan otomatis menengok ke arah pintu. Wajahnya memucat setelah ia lihat adiknya menatap Kyuubi dengan kedua matanya yang membulat.
"O-oniichan?" kata Naruko lirih. Wajah Kyuubi yang pucat pasi dan kedua lubang hidungnya yang terus mengalirkan darah segar. Bahkan kedua mata birunya terlihat memerah dan bibirnya kering. Kyuubi kembali mengeluarkan darah dari lubang hidungnya ke dalam wastafel.
Setelah itu, Naruko hanya mampu terdiam memandang Kyuubi sampai Kushina pun menghampiri mereka dan terkejut melihat keadaan Kyuubi saat ini.
(T_T Kyuubi kau jangan mati dong~ #ditabok masyarakat)
Sudah 2 bulan ini keadaan Kyuubi semakin parah. Kyuubi sampai harus menghentikan kegiatan sekolah, bermain bersama teman bahkan keluar rumah pun tidak boleh. Dirinya hanya mampu terbaring di atas kasur. Menonton, membaca bahkan makan sekalipun. Itu semua membuat Naruko pun sedih dan juga sangat prihatin kepada Kyuubi. Dan kini, Kyuubi jadi sering menghabiskan waktu dengan Naruko di kamarnya.
Ayahnya sibuk bekerja demi mendapatkan uang berobat Kyuubi. Namikaze Minato adalah seorang karyawan swasta yang selalu kerja lembur dan kadang jarang berada di rumah. Kushina yang seharusnya bekerja juga kini terpaksa berhenti untuk mengurus keperluaan Kyuubi. Kyuubi jadi merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuanya. Karena dirinya, kedua orang tuanya jadi sibuk membanting tulang seharian penuh.
Sekarang Naruko sedang menemani Kyuubi di kamarnya. Tangan mungilnya menyentuh wajah pucat kakaknya yang tengah tertidur lalu dia mengelus pipinya yang terlihat kurus. Rambut merahnya semakin lama semakin tipis karena kerontokkan. Kulitnya juga kering dan terlihat rapuh. Bahkan dulu yang badannya kuat tegap pun terlihat semakin mengurus dan luluh lantah.
Sebut saja penyakit ini kanker atau Leukimia. 2 hari yang lalu, Naruko bertanya kepada Ayahnya tentang penyakit Kyuubi. Dan yeah, seperti yang tadi author katakana, Leukimia akut. Naruko tidak terlalu mengerti apa itu Leukimia, tetapi yang jelas penyakit itu dapat merenggut nyawa kakaknya. Sudah dari kecil Kyuubi mengendap penyakit mematikan ini. Ya pada masa-masa kanak-kanak penyakit ini belum terlalu tampak, tetapi penyakit ini akan semakin parah dalam usia remaja. Walaupun begitu, Kyuubi masih bersyukur sempat merasakan masa-masa kanak-kanaknya dengan normal seperti anak-anak lainnya.
Naruko menggengam tangan kakaknya yang dingin. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Berdoa agar dia tidak kehilangan kakak tersayangnya.
.
.
Setahun kemudian, Kyuubi sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakit ini. Keadaannya sudah sangat memburuk—sekarat. Dia juga sudah lama menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit di temani Kushina. Naruko pun sering berkunjung ke rumah sakit dan kadang ikut menginap. Minato juga, dia selalu menggantikan Kushina agar tidur di rumah sakit menemani Kyuubi.
"Otou-chan! Kapan Oniichan bisa sembuh seperti dulu lagi?" tanya Naruko dengan mata yang berair lalu terisak kecil. Minato memeluk putrinya dengan hati yang bimbang. Kyuubi masih tertidur lelap karena dirinya baru saja makan dan minum obat.
"Tidak tahu. Otousan tidak tahu. Kita hanya mampu berdoa saja. Semoga Tuhan masih bisa memberikan kesempatan dan karunia-Nya," jawab Minato pelan. Naruko hanya mengangguk lalu menenggelamkan wajahnya di dada sang Ayah.
Namun sayang sekali, malam itu pun Kyuubi telah menghembuskan nafas terakhirnya. Kyuubi meninggal dunia. Padahal Naruko masih ingin sekali berbicara dengan Kyuubi. Dirinya masih ingin melihat senyuman kakak tersayangnya. Tapi semua itu terlambat. Kushina menangis histeris di pelukan Minato. Naruko tidak dapat berkata apa-apa, tapi air mata mengalir deras dari kedua bolat matanya. Tangan mungil Naruko terus menggengam tangan Kyuubi.
'Kenapa? Kenapa Oniichan meninggalkanku? Meninggalkan kami? Kenapa..' batinnya lalu dia memeluk tubuh tak bernyawa itu pelan. Dokter-dokter serta para suster yang melihatnya menunduk pelan dan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Kyuubi. Walau begitu, mereka telah melakukan yang terbaik untuk Kyuubi. Semuanya berharap serta berdoa agar Kyuubi diterima disisi-Nya dan juga tidur dengan tenang di alam sana.
Keesokan harinya, Naruko dan keluarga pun datang ke pemakaman Kyuubi. Teman, saudara, guru maupun orang-orang tersayang Kyuubi pun ikut datang. Padahal usia Kyuubi baru saja 16. Usia yang masih terlalu muda untuk kematian. Kushina masih menangis lirih di pelukan Minato. Minato pun mengelus punggung Kushina lembut untuk menenangkannya. Naruko kecil menggengam sebelah tangan Minato erat. Naruko tidak rela dengan kepergian kakaknya, tetapi mau bagaimana lagi. Dia harus mengikhlaskan semua yang telah terjadi.
Terlihat seorang gadis cantik dengan rambut biru menangis sambil berjongkok. Lalu gadis lainnya mencoba untuk menenangkannya. "Sudahlah Konan, kita doakan agar Kyuubi selalu mengingat kita semua," ucap teman lainnya menghibur gadis remaja itu. Bukan hanya Naruko saja yang kehilangan, semua orang pun sangat sedih karena kehilangan orang yang mereka sayangi.
'Oyasumi Oniichan. Aku akan selalu ingat kepadamu,' batin Naruko tersenyum dalam kesedihannya.
.
.
(T_Tv)
Kematian Kyuubi membuat keceriaan Naruko menurun. Naruko yang ceria dan periang pun berubah menjadi pendiam dan juga pemurung. Tidak hanya itu saja, 2 tahun setelah itu, Ayah Naruko mengalami kecelakaan mobil ketika Minato hendak pergi ke kantor. Minato sudah tidak bisa terselamatkan karena kehabisan banyak darah. Kushina pun yang mendengar kabar tersebut jatuh sakit dan akhirnya frustasi. Kehidupan Naruko pun kini mulai krisis. Usia Naruko yang masih 11 tahun pun tidak memungkinkan untuk mencari uang sendiri untuk membantu Ibunya. Dan akhirnya seorang teman Kushina dengan senang hati merawat Kushina serta membantu biaya makan serta keseharian keluarga Naruko.
2 tahu kemudian, Naruko bertekad untuk membantu biaya hidupnya serta Ibunya. Kushina yang tidak mau putrinya berhenti sekolah pun membuat Naruko semangat mencari beasiswa agar dia tetap bersekolah. Dengan itu dia tidak perlu khawatir tentang SPP dan dia bisa melamar kerja di toko kue, baju maupun tempat kerja halal lainnya. Dia juga tidak mau melibatkan orang lain dalam kesusahannya. Dia yakin bisa dan harus bisa.
Apapun yang terjadi, dirinya tetap harus membangun kembali keluarganya kelak. Maka itu dia harus berusaha keras. Hidup memang tidak semudah yang kita inginkan bukan. Dan masa lalu kadang terkesan manis dan juga pahit.
End of Flashback
Naruko masih memejamkan kedua matanya mengingat seluruh masa lalunya sambil memeluk figuranya. Sampai getaran ponsel di saku celananya mengagetkannya. Naruko dengan segera merogoh sakunya dan melihat layar ponselnya. SMS dari orang yang tidak ia kenal. Sebelumnya Naruko mengusap kedua air matanya agar dia bisa membaca isi pesan dengan jelas.
From : Unknown
Kau bekerja di Café xxx Sabtu malam ini bukan?
Kalau begitu temui aku nanti malam
Naruko merinding membacanya. Siapa orang ini? Beraninya sekali. Dan lagi hey, darimana orang ini tahu bahwa—
"Ckck Ayam sialan!" tiba-tiba saja Naruko teringat kepada orang menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan manusia super menyebalkan dan pervert Uchiha itu. Dialah satu-satunya cowok kurang ajar yang mengetahui tentang pekerjaan sampingannya. Naruko tidak ada niatan untuk membalas SMS itu dan segera menghapusnya. Sial sekali, malam ini adalah malam Minggu yang artinya orang-orang akan sibuk keluar malam-malam untuk bersenang-senang. Bahkan ada yang menonton film di bioskop bersama keluarga. Naruko bisa saja membolos, tetapi dia sudah berjanji kepada Bos nya untuk bekerja malam ini. Lagi pula hari ini juga adalah hari gajian bukan?
"Haah, semoga tidak bertemu orang itu," gumam Naruko mengacak-acak rambutnya pelan lalu bangkit dari kasurnya dan beranjak keluar untuk melihat keadaan Kushina yang sedang sakit di kamarnya.
(0 Malam minggu biasanya kalian suka pergi kemana? ^^v)
Setelah mandi bersih dan berpakaian rapi, Naruko sempat bercermin sebentar di dalam kamarnya.
Naruko merapikan kemeja putih lengan pendeknya dan juga celana hitam panjangnya. Tak lupa dia memakai sepatu hitam berhak dan mengambil tas kecilnya. Dia juga mengikat rambut pirangnya dengan gaya ponytail. Naruko tidak terbiasa dengan kosmetik jadi dia hanya memakai bedak tipis. Tidak berdandan pun dia sudah terlihat sangat cantik. Naruko melihat arloji putih yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya.
"Jam setengah 7 nih, aku harus segera pergi," gumamnya. Dia pun berjalan keluar kamar dan menutup pintunya kembali. Dia juga pamit kepada Kushina dulu untuk segera pergi ke Café yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kaasan, Naru pergi dulu ya. Hati-hati jika Kaasan mau mengambil sesuatu di dapur. Jangan sampai terjatuh lagi," pamit Naruko sambil mengelus rambut Kaasannya yang sedang tiduran di kasur empuknya. Kushina menatap Naruko khawatir. "Jangan pulang terlalu malam, kau yakin akan pulang jam 9?" tanya Kushina. Naruko mengangguk mantap.
"Tentu saja. Aku akan selalu hati-hati. Kalau begitu aku pergi dulu, Jaa ne Okaasan!" pamit Naruko. Kushina tersenyum kecil. "Hati-hati ya," balasnya. Naruko keluar kamar dan menutup pintu. Naruko menarik nafas dalam-dalam sebelum keluar rumah. Setelah itu dia pun keluar dan menutup serta mengunci pintu rumah agar seseorang tidak ada yang bisa memasuki rumahnya. Naruko memasukkan kunci rumahnya ke dalam tas hitamnya.
"Ayolah Naruko, kau harus bisa," gumamnya lalu dia pun segera pergi menuju Café.
Sepanjang perjalanan, Naruko melihat banyak orang-orang yang sedang menikmati suasana malam minggu. Ada seorang anak kecil yang meminta boneka kepada Ayahnya. Naruko tersenyum miris melihatnya. Dia jadi teringat kepada Ayahnya. Naruko menghela nafas panjang.
"Sudahlah, aku tidak boleh seperti ini terus," gumamnya menghibur perasaannya yang sedang gundah. Suasana malam minggu di Konoha memang sangat ramai dengan adanya pedagang-pedagang dan juga festival-festival macam stand makanan, minuman dan juga area permainan.
Dalam waktu 16 menit, Naruko pun telah sampai di lokasi Sekolah. Jarak antara Café dan Sekolahnya memang tidak terlalu jauh, jalan kaki akan memakam waktu sekitar 7 menit. Café itu juga sangat jarang dikunjungi oleh anak-anak sekolahan Naruko. Jadi wajar saja banyak yang tidak tahu bahwa Naruko bekerja sampingan di sana. Yaa mungkin beberapa tapi mereka hanya diam saja.
Naruko melihat suasana di luar Café. Meja-meja sudah dipenuhi banyak orang. Ada yang bersama teman-teman, keluarga bahkan kekasih mereka. Pekerja-pekerja lainnya juga mulai aktif melayani pelanggan dan mengantarkan pesanan mereka. Naruko pun memasuki Café dari pintu belakang khusus pegawai Café ini.
Dan tentu saja Naruko bekerja di Café yang tidak menjual macam minuman alkohol atau acara-acara yang tersedia di 'bar' lainnya. Café ini untuk semua umur dan menjual makanan-makanan tradisional maupun makanan eropa seperti British Food. Minuman pun tersedia Soda, Kopi tentunya, Jus, dan bermacam minuman tanpa alkohol lainnya. Tersedia juga dessert seperti pancakes dan juga waffles yang menjadi favorite anak-anak baik remaja dan dewasa.
"Ah, Naruko-chan sudah datang! Syukurlah aku jadi terbantu," seru seorang wanita dengan rambut pirang pucat berponi. Naruko tertawa kecil. "Maaf karena aku sedikit terlambat Shion," kata Naruko lalu dia memasukkan tasnya ke dalam loker khusus lalu mengambil celemek hitam dengan kerutan-kerutan dipinggirannya serta pita putih dibagian dada. Tak lupa dia mengambil pulpen dan juga note untuk mencatat pesanan-pesanan pelanggan.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita segera layani pelanggan," seru Shion semangat. Naruko hanya balas mengangguk. Bekerja di Café ini memang sangat melelahkan namun menyenangkan. Naruko sangat senang melihat orang-orang bahagia saat ini. Naruko melihat seseorang mengangkat sebelah tangannya. Naruko segera menghampiri meja nomor 9 yang berada di pojok jendela dan mengeluarkan note dan pulpennya.
"Selamat malam tuan-tuan, anda mau pesan ap—kyaa!" teriak Naruko ketika sebuah tangan menarik dagunya agar mendekat kepada wajah orang itu. Suasana di café sedang sangat ramai dan orang-orang di sini tidak terlalu mempedulikan apa yang sedang dilakukan orang-orang lainnya.
"Ka-kaau?" Naruko terbata-bata. Orang itu menyeringai. "Ternyata benar kata Uchiha itu. Kau bekerja di sini ya?" ucap pemuda berambut merah maroon itu. Naruko membulatkan kedua matanya.
"Sasori? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruko gelisah. Sasori melepaskan dagu Naruko dan kembali dia menyilangkan kedua lengannya di dada. "Aku lebih tua setahun darimu. Walau kita seangkatan tapi kau jangan meremehkanku." Katanya dengan tatapan mendelik. Naruko memijat pelipisnya pelan. "Ya sudah, mau pesan apa?" tanya Naruko ketus. Pemuda berambut pirang lainnya tertawa. Naruko mengernyitkan sebelah alisnya. Sepertinya dia kenal dengan orang itu.
"Hei Sas, dia itu gadis merepotkan yang kau ceritakan Un? Dia pacarmu Un?" tanya pemuda itu. Naruko memandangnya dengan tatapan tajam sambil mengeluh di dalam hatinya. Sasori tersenyum. "Ya. Pacarku manis bukan?" Sasori pun bangkit lalu dia merangkul Naruko. Naruko segera menepisnya dan menatap Sasori jengkel.
"Aku bukan pacarmu! Kalau kau tidak mau memesan, lebih baik pergilah. Aku masih banyak pekerjaan!" ucap Naruko marah. Sasori menggidikkan bahu tidak peduli. "Aku pesan Belgian waffle saja!" jawabnya malas-malasan. Naruko segera mencatat pesanannya dengan perasaan kesal.
"Ah aku juga ya Un! Pakai sirup cokelat dan juga cintamu ya~" seru pemuda bernama Deidara itu dengan ceria. Naruko hampir saja mematahkan pulpennya. Setelah selesai dia segera pergi meninggalkan Sasori dan Deidara tanpa pamit. Deidara menyeringai kecil lalu dia mengangkat kaki kanannya yang ditopang oleh kaki kirinya.
"Gadis itu memang merepotkan Un. Cuman dia manis dan juga er—" Deidara sedikit ragu untuk mengatakannya karena Sasori sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Deidara tertawa garing. "Jangan tatap aku begitu Un. Aku ini adalah kakak kelasmu Un! Aku hanya mau mengatakan bahwa dia itu sexy—"
BRAK! Sasori mengebrakkan mejanya. Semua orang nyaris kehilangan nyawa saat itu juga. Namun akhirnya suasana kembali ramai seperti sebelumnya. Deidara terlonjak kaget. "Jangan sekali-kali kau mengatakan itu. Hanya aku yang boleh mengatakannya sexy!" ucap Sasori pelan. Deidara sweatdrop. Protektif amat sih, jadian aja juga belum.
"Terserah padamu Un~ Aku hanya beropini," balas Deidara sambil memakan pocky berlapis krim cokelat. Jidat Sasori berkedut. "Itu Pocky milikku!" cletuknya. Deidara menjulurkan lidahnya. "Bocah kau Un!" Sasori akhirnya diam sambil mengeluarkan sumpah serapah kepada kakak kelas yang sudah menjadi kakak kandungnya sendiri.
Naruko POV
Apa-apaan tuh orang. Menyebalkan sekali, dan kenapa si Sasori sial itu ada di sini dan mengetahui keberadaanku? Setelah 4 pesana selesai kucatat, aku kembali ke dapur dan segera menghampiri Temari, kepala koki yang sangat hebat. Tentu saja dia bisa memasak sementara aku—ya bisa sih sedikit-sedikit. Bahkan aku ragu jika memasak nasi untuk Kaasan. Tapi Kaasan selalu bilang kalau masakan buatanku itu enak.
"Temari-san, ini pesanan-pesanannya!" aku menyerahkan 4 lembar kertas kecil kepadanya. Dia tersenyum sambil mengangkat jempol tangannya. "Sip. Arigatou Naru-chan!" ucapnya. Aku balas dengan anggukan kecil dan juga senyuman. Fiuh, untung saja hari ini aku tidak ketemu si Ayam menyebalkan itu. Tapi akhirnya aku malah bertemu dengan Sasori sial itu. Eeh tunggu dulu, apa jangan-jangan yang member SMS kepadaku tadi siang itu—Sasori?
Aku yang sedari tadi melamun langsung tertegun ketika mengingat bahwa aku mesti bekerja. Ayolah serius sedikit untuk bekerja. Yosh! Aku siap!
End of Naruko POV
Naruko kembali menyerahkan beberapa lembar note berisi pesanan-pesanan kepada Temari. Lalu dia juga mengambil dua mapan yang sudah tersedia makanan dan minuman untuk pelanggannya. Naruko pun memberikan pesanan nomor 5 ke meja yang ada di sebelah pintu masuk. Setelah itu pesanan nomor 9 ke meja orang-orang menyebalkan. Dengan muka dibuat-buat senang, Naruko menyerahkan pesanan mereka.
"Ini dua Belgian waffle dengan sirup cokelat pesanan anda. Selamat dinikmati," kata Naruko malas. Sasori malah menarik tangan Naruko agar ia menunduk lalu dia memberikan satu ciuman hangat di sebelah pipi Naruko. "Arigatou, Hime. Kau terlihat sangat cantik jika tersenyum seperti tadi," bisik Sasori. Naruko dengan otomatis mendorong wajah Sasori menjauh dan berlari pergi. Sasori hanya tertawa ketika melihat raut wajah Naruko yang menurutnya imut. Deidara yang melihatnya langsung cemberut iri.
"Enak banget kau bisa menciumnya Un," cibirnya. Sasori menggidikkan bahunya acuh. Deidara ingin sekali membabuk Sasori sekarang juga.
(-..- apa yang akan kau lakukan jika kau dicium cowok ganteng secara tiba-tiba?)
Naruko kembali ke dapur sambil mengelap-elap pipi kirinya yang dicium Sasori tadi. Tidak rela dia dicium sama orang seperti Sasori. Naruko acuh lalu segera melanjutkan pekerjaannya. Dirinya sibuk dengan semua pelanggan yang banyak memesan pesanan. Kadang dia dapat bagian untuk membereskan meja serta piring dan gelas yang sudah ditinggalkan oleh si pelanggan. Sudah 1 setengah jam Naruko bekerja, tapi si Sasori dan Deidara masih sibuk dengan gadget mereka kadang melirik Naruko dengan tatapan yang menyeramkan. Naruko jadi risih saat dia sedang bekerja dengan adanya dua manusia itu. Karena café ini juga mempunyai fasilitas WiFi jadi banyak orang yang menyempatkannya untuk berlama-lama di Café. Biasanya pekerja kantoran maupun mahasiswa-mahasiswi yang meluangkan waktu mereka di Café ini. Ada ruangan khusus untuk mengadakan rapat dan hal privasi kantoran lainnya.
Tapi tidak ada alasan seperti itu untuk Sasori dan Deidara berlama-lama di Café. Untuk melihat si manis yang sedang sibuk bekerja. Naruko tetap acuh tidak mempedulikannya.
Lama sudah dia bekerja di Café, jam menunjukkan pukul 9 dan Naruko pun pamit kepada Bosnya untuk segera pulang. Café ditutup sampai jam 10 malam, tetapi Naruko meminta izin kepada Bosnya karena dia harus merawat Ibunya yang sedang sakit di rumah. Yang namanya Bo situ manusia yang punya hati. Tentu saja sang Bos memperbolehkannya.
"Oh ini Naruko-chan, kau lupa gajimu!" seru sang Bos mengeluarkan amplop putih berisikan beberapa lembar uang. Naruko menerimanya dengan senang hati lalu membungkuk sopan. "Arigatou Gozaimasu! Kalau begitu saya pamit dulu Haku-san!" kata Naruko kepada seorang pemuda cantik yang berada di depannya. Haku mengangguk kecil.
Naruko keluar dari ruangan bosnya dan berjalan pamit menuju teman-temannya. Setelah melepas celemeknya, mengambil tasnya kembali dan memasukkan amplop tersebut ke dalam tas, Naruko beranjak keluar café lewat pintu belakang. Berjalan pelan agar Sasori dan Deidara tidak mengetahui kepergiannya. Naruko tersenyum bahagia ketika melihat Sasori dan Deidara yang terlihat bingung mencari sosoknya dari luar kaca. Dengan cepat Naruko berlari menjauhi Café dan segera pulang ke rumah.
"Apa aku lewat jalan pintas saja ya? Sepertinya akan lebih cepat jika aku lewat gang itu," gumam Naruko kecil ketika melihat gang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan santai Naruko memasuki gang tersebut.
DEG! Sepertinya dirinya mulai berubah pikiran ketika melihat sekumpulan pemuda yang sibuk memainkan skateboard mereka. Naruko terdiam, dirinya merasa bodoh sekali mengambil jalan pintas. Dan yeah, sekelompok pemuda itu mulai menyadari keberadaan Naruko. Mereka melihat Naruko dari atas sampai bawah. Naruko pun berbalik dan berjalan cepat meninggalkan sekumpulan pemuda yang menyeringai melihat Naruko. Tapi belum sempat keluar dari gang, dia melihat Sasori bersama Deidara yang sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan menyilang di dadanya.
"Mau mencoba kabur dariku? Uzumaki-san?" kata Sasori sambil menarik pergelangan tangan Naruko dan menciumi pipi Naruko. Naruko memberontak kesal. "Lepaskan aku!" teriak Naruko. Deidara pun ikut andil untuk memeluk Naruko dari belakang dan membawanya ke tembok gang.
"Hey Deidara-san, siapa gadis itu?" tanya salah satu pemuda dari sekelompok pemain skateboard tadi. Deidara menyeringai. "Makan malam kita Un," jawabnya. Kedua bola mata Naruko membulat dan dia mulai ketakutan. Ternyata mereka anak buah Sasori dan Deidara. Kedua matanya berair karena dia sangat marah dengan kelakuan pemuda-pemuda ini. Keempat pemuda yang tadi sibuk bermain skateboard langsung datang mengerumuni Naruko. Mulut Naruko ditutup Deidara agar dia tidak berteriak.
"Hmmph, lumayan sih, tapi kita belum tahu bagian 'itu' bukan?" timpal pemuda bertindik lainnya. Naruko memberontak hebat dan dia menggigit tangan Deidara. Sontak Deidara melepaskan tangannya sambil meringis kecil. Naruko pun berteriak keras.
"SIAPA SAJA TOLONG AKU!" teriak Naruko dengan kedua bola mata mengalirkan air mata. Semua yang berada di situ tertawa meremehkan. "Telat sudah sayang, mari kita bersenang-senang," Sasori pun berusaha melepaskan 2 kancing kemeja teratas Naruko. Naruko menangis dan berharap ada seseorang yang menolongnya saat itu juga.
DUAGH! Seseorang datang lalu menarik Sasori dan menonjoknya dengan lumayan keras hingga Sasori terpingkal lumayan jauh. Yang lain menatap sosok itu dengan tatapan jengkel. "Hah, ternyata Uchiha sombong ini," keluh Deidara. Naruko membuka kedua matanya kaget. Sasuke? Dan benar saja, pemuda berambut raven yang kini mengenakan kemeja putih yang dikeluarkan dan juga celana hitam panjang menatap Deidara dan lainnya dengan tajam dan dia mengepalkan kedua lengannya erat-erat. "Lepaskan dia. Sekarang. Atau kau tahu apa akibatnya," ujar Sasuke marah. Deidara tersenyum sinis.
"Apa yang akan kau lakukan kalau kami akan membebaskan gadis ini?" tanya Deidara sambil menarik wajah Naruko keatas. Tubuh Naruko masih bergetar takut. Sasuke segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet berisikan lembaran uang dollar berjumlah banyak. Naruko kaget melihat apa yang dilakukan Sasuke. Sebegitu kaya rayakah diri Sasuke itu hingga mau mengorbankan uang dalam bentuk dollar. "Aku tahu kalian pasti akan senang hati. Tapi kau berjanji akan membebaskan dia," kata Sasuke tajam. Semua langsung menjauhi Naruko dan Deidara melepaskan pelukannya. Naruko pun segera berlari sambil memeluk tas hitamnya, namun dia sekerang di tangkap Sasuke dan masuk kepelukannya.
"Dan kau Sasori, jangan sekali-kali kau menyentuhnya. Atau kau akan mati di tanganku." Ujar Sasuke sambil melemparkan puluhan uang dollar ke arah Sasori. Sasori menyeringai sambil mengelap sudut bibirnya yang sedikit robek. Dia menyeringai kecil, "Dengan senang hati Uchiha," katanya. Sasuke segera membawa Naruko pergi meninggalkan Sasori dan lainnya.
.
.
Naruko dibawa masuk ke dalam mobil lamborgini hitam Sasuke. Sasuke pun ikut masuk dan segera mengendarai mobilnya pergi menjauh dari tempat itu.
"He-hei! Kau mau bawa aku kemana? Turunkan saja aku disini aku bisa jalan sendiri!" Naruko protes ria. Sasuke tetap diam saja. Padahal masih 16 tahun tapi sudah nekat bawa mobil sendiri.
"Berhenti saja disini! Kalau tidak aku akan membuka pintu mobil ini secara paksa!" seru Naruko keras. Sasuke menghela nafas kecil. "Kau mau dirape seperti tadi Hah? Harusnya kau berterima kasih kepadaku. Aku hanya mau mengantarmu ke rumahmu saja," jawab Sasuke santai. Naruko terdiam lalu akhirnya duduk kalem. Tumben sekali si Uchiha ini jadi sosok yang penolong. Sasuke yang melihat Naruko terdiam langsung tersenyum tipis.
…..
Sesampainya di depan rumah Naruko. Naruko pun segera membuka pintu mobil. Tapi nihil masih tetap dikunci. "Biarkan aku pergi Sasuke! Ibu pasti khawatir menungguku di rumah!" seru Naruko menatap Sasuke malas. Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruko lalu meraih kedua pergelangan tangan Naruko. "Mana ucapan terimakasihmu? Aku sudah menyelamatkanmu, ingat?" ucapnya. Naruko memalingkan wajahnya. "Iyaya makasih! Sekarang biarkan aku pergi!" jawab Naruko asal-asalan.
"Tidak semudah itu kau berterima kasih. Sebagai balas budi karena aku telah menyelamatkanmu, bagaimana kalau kau mulai bekerja sebagai Maid di rumahku?" tanya Sasuke. Naruko menghela nafas. "Sudah kubilang tidak ya tidak!" seru Naruko keras kepala.
"Aku tahu preman-preman itu tetap saja akan berada di dekat Café menunggumu. Mereka belum puas jika hanya kuberi uang saja. Bisa saja jika tidak ada aku kau akan dirape mereka." Kata Sasuke pelan. Naruko terdiam. Dalam benaknya dia sangat senang dan berterimakasih karena Sasuke telah menolongnya. Kejadian tadi membuatnya trauma akan jalan-jalan sendiri di malam hari. Sasuke tersenyum licik ketika melihat Naruko yang terdiam mencoba mengambil keputusan.
"B-biarkan aku berfikir dulu. Apakah Ibu akan mengizinkanku atau tidak." Jawab Naruko pelan. Sasuke tersenyum puas lalu mengecup pipi kanan kanan Naruko. Naruko langsung mendorong Sasuke jauh-jauh dan membuka pintu mobil setelah dengan otomatis Sasuke menekan tombol pembuka kunci. Tak lupa tas hitam kesayangannya, Naruko pun langsung menutup pintu mobil dengan keras dan berlari memasuki rumahnya. Sasuke sangat senang hari ini. Dia langsung merogoh saku celananya dan mengambil I-Phone 4 hitamnya untuk menghubungi sahabat baiknya.
Tuut, Tuuut, Klik! Halo? Sapa seseorang di sebrang sana. Sasuke menyeringai. "Bagus sekali kerjamu Sasori, aku sangat bangga kepadamu. Sebagai hadiahnya akan kuberikan kau uang tambahan," seru Sasuke. Sasori tertawa disebrang sana.
"Iya thanks Uchiha. Dan terimakasih juga pukulan dahsyatmu itu!" balas Sasori. Sasuke langsung mematikan sambungan teleponnya dan mengendarai mobilnya menjauh dari komplek perumahan Naruko. Uchiha memang penuh dengan kelicikkan.
TBC
Omake
Sasori dan Deidara sibuk mencari sosok Naruko yang tidak keliatan lagi. Lalu Sasori pun segera menghampiri salah satu pelayan café dan menanyakan keberadaan Naruko. "Ah maaf tuan, tadi Naruko-chan sudah pamit pulang duluan," jawab pelayan bernama Shion. Sasori pun segera menghampiri Deidara untuk berjalan keluar café dan sebelumnya telah meninggalkan uang berjumlah lumayan banyak di atas meja.
"Tuan kembaliannya!" teriak salah satu pelanggan ketika melihat jumlah uang yang diberikan Sasori itu kebanyakan. Tapi sepertinya orang yang bersangkutan tidak peduli. Deidara langsung menyenggol pundak Sasori ketika melihat Naruko yang sedang berjalan tak jauh dari café ini. Sasori pun menyeringai licik dan segera menelpon seseorang dengan handphone Blackberry Torch terbarunya.
"Hn? Kau sudah siap?" tanya seseorang disebrang sana. "Yup. Dia terlihat sedang memasuki gang seperti dugaanku. Haha mencari jalan pintas sepertinya, kau tinggal tunggu saja ketika dia akan berteriak minta tolong," jawab Sasori.
"Baiklah. Kalau sampai dia lolos, aku tidak akan memberikan janjiku," ucap suara dingin itu. Sasori tertawa bangga. "Serahkan kepadaku Uchiha," balas Sasori. Dan setelah itu pemuda disebrang sana memutus sambungan telepon.
"Sasori, kita mulai saja Un!" kata Deidara sambil memasukan dua tangannya ke dalam masing-masing saku celananya. Sasori mengangguk.
"Senang sekali berbisnis dengan seorang Uchiha" gumamnya angkuh.
Beneran TBC
Chiku : Huaaaaah~ Bentar lagi masuk sekolah! Tiidaak! *plak*
Kyuubi : Sialan banget gue dibuat mati! #nubruk Author kayak banteng
Sasuke : Uchiha itu tidak penuh dengan kelicikkan! #ngechidori Author
Naruko : Kenapa ada adegan semi rape segala siieeeeh? #ngerasengan Author
Sasori : Kok gue terkesan pervert kayak si Uchiha sih? #ngecincang Author. Tapi Sasori dichidori Sasuke.
Mama : Manaaa? Katanya mau ngerjain tugas kok malah buat cerita beginian? #ditimpuk pake panci
Gaara : Dialog gue! #ngecubit pipi Author
Chiku : Huaaaa iyaya maafkan Chiku. Chiku tau itu sangat gaje nana bal nan pervert (ero kau!) dan heey chap ini memang panjang karena yaah, sudah direncanakannya memang begini sih ._.v Kan Chiku masih author abal jadi mohon dimaafkan okeh? (langsung meluk Gaara)
Gaara : Apaan neh?
Chiku : Hehehe cuman kamu yang tidak menyiksa Chiku dengan kekerasan -?-
Gaara : …..
Chiku : Oke deh silahkan review xD Makasih yang sebelumnya udah ngereview cerita Chiku dan review lagi yaah ^^ Arigatou telah membaca pick ini. Jaa ne~ (ngebawa lari Gaara)
Gaara : -_-
.
.
Mind to review?
