Greatest Memory In My Life

Desclaimer:Masashi Kishimoto

Genre: Angst

Warning: jelek, abal, typo everywhere, yaoi inside.

DONT LIKE? GO AWAY FROM MY STORY =))

maaf banget telat updatenya. maaf banget. gomengomengomen. kelas 9 kerjaannya belajar, les, ulangan. mumpung masih liburan jadi bisa nih. smoga critanya tamat sebelum liburan selesai ya. thanks for reader btw :) smoga masih ada yang inget fic ini.


"Naruto, saat ini apa yang paling kau inginkan?" tanya kaasan kepadaku

"Ah aku tidak tau. Aku tidak ingin merepotkan kaasan lagi. cukuplah aku menghabiskan sisa hidupku disini, kaasan."

"Dasar. Jangan galau seperti itu, Naru-chan. Cepat sebutkan keinginanmu. Oh iya ya. Beberapa hari lagi kamu ulang tahun ya?"

"Dasar. Aku saja yang begini tidak pernah galau. Masa sih? Ulang tahunku masih lama deh kaasan."

"Dasar kecil-kecil sudah pikun. Sebentar lagi tanggal 10 Oktober, Naru-chan.."

"Oh iya kah? Mungkin karena aku tidak memegang kalender selama beberapa hari jadi aku pikun ya kaasan? Hehehehehe."

"Sudahlah.. kamu ingin apa?"

"Tidak ingin apa-apa."

"Jawab !"

"Baiklah. Aku ingin bertemu dengan teman-teman sd ku lagi kaasan. Sejak aku membaca buku diaryku, aku mulai merindukan mereka. Bisa tidak ya?"

"Wah kaasan tidak janji kalau itu. lainnya apa?"

"Yaahh... Tidak apalah. Apa ya? Aku ingin coca-cola rasanya hehehehe."

"Hanya itu?"

"Iyaaa... Apa perlu kuminta kaasan mendatangkan Josh Groban kesini?"

"Tidak.. tidak ehehehehe."

Yah benar aku ingin bertemu dengan mereka. sangat ingin. Terutama padamu, teme...

September 5th

Aku malas menulis diary kemarin. Belakangan ini sekolah menjadi sangat padat. Tugas, PR, ulangan. Belum lagi gangguan dari teme. Huh ! menyebalkan. Untung saja hari ini tidak semenyebalkan itu. Ulangan selesai. Tugas sudah semuanya beres. Tinggal menunggu hari pengambilan rapot. Oh iya, aku hampir lupa ini bukan waktu nya mengambil rapot. Baka !

Oh iya, ada satu hal yang membuatku bahagia hari ini.

"Permisi sensei, Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke dipanggil Tsunade-sensei di ruangannya." kata murid kelas sebelah kepada Kakashi-sensei yang saat itu sedang mengajar matematika

Di ruangan Tsunade-sensei terdapat 6 anak,termasuk kami, yang tidak terlalu kukenali. Yang kuketahui hanya Kiba. Perasaan membuatku berdegup kencang. Aku tidak membuat kesalahan sama sekali. Tidak memecahkan kaca jendela sekolah lagi. Tidak bermain kapur tulis. Tugas terselesaikan dengan sempurna. Rupanya Tsunade-sensei yang memperhatikan ketakutanku segera berbicara.

"Konnichiwa, maafkan sensei yang mengganggu pelajaran kalian. Ada hal penting yang akan kubicarakan. Untuk Naruto, Kiba dan Sasuke, mungkin kalian tidak mengenal 3 murid disebelahmu ini. Mereka berasal dari sekolah lain." kata Tsunade-sensei menerangkan.

"1 bulan lalu, Departemen Pendidikan Jepang diberitahu jika akan diadakan konser musik yang kira-kira diadakan bulan depan. Konser musik itu diikuti oleh pelajar dari negara maju di Asia, Eropa,dan Amerika. Itulah tujuan ku mengumpulkan kalian disini. Setelah pengumuman itu, Departemen Pendidikan Jepang memberitahukan sekolah di Jepang untuk melakukan seleksi. 3 murid ini berasal dari Academy of Suna. Nah, akhirnya kalian tahu mengapa aku menyuruh murid-murid disini membuat kelompok ansamble bulan lalu." terang Tsunade-sensei panjang.

"Jadi kami akan mewakili Jepang untuk konser itu?" kata Kiba yang tidak bisa menutupi kebahagiaannya.

"Iya kalian mewakili Jepang. Oh iya, konser itu akan dilaksanakan di Belanda bulan depan kira-kira tanggal 9 Oktober. Kalian bebas memilih alat musik yang kalian inginkan." kata Tsunade-sensei yang menjawab pertanyaan Kiba dan menerangkan kembali.

"Aku pilih harpa."jawab satu-satunya siswa perempuan disini.

"Aku biola" kata anak laki-laki yang masih sibuk mengunyah keripik kentang.

"Aku clarinet" jawab anak laki-laki beralis tebal dan beralis mangkok.

"Aku saxophone" ujar Kiba bersemangat

"Piano" jawab Sasuke tanpa ekspresi

"Aku gitar !" jawabku bersemangat.

"Baiklah. Dalam beberapa hari kedepan kalian akan dilatih oleh pelatih yang didatangkan langsung dari Julliard School of Art, universitas yangberhasil menghasilkan lulusan-lulusan yang kemampuan musiknya tidak diragukan lagi oleh sekian pertemuan kita. Nanti masing-masing anak akan menerima surat yang berisi seluruh keterangan konser itu." kata Tsunade-sensei menutup pertemuan itu.

Bagaimana aku tidak senang hari ini? Aku, Uzumaki Naruto siswa terbandel di Konoha Elementary School mengikuti konser di Belanda untuk mewakili Jepang. Ketika Tousan dan Kaasan kuberitahu ini langsung memelukku. Tousan langsung menggendongku. Anjing peliharaanku ikut juga merayakan keberhasilanku.

Tapi, mengapa teme juga terpilih? Mengapa harus dia? Sakura kan juga bisa bermain piano? Mengapa hidupku harus terganggu karena kedatangan teme? Ya Tuhan...

"Kaasan.."

"Ada apa Naru-chan? Apa yang kau inginkan?"

"Tidak, aku hanya ingin bertanya?"

"Bertanyalah nak, semoga kaasan bisa menjawabnya."

"Jika waktuku telah habis, apa kaasan merasa kecewa kepadaku?"

Kaasan yang tertegun karena pertanyaanku langsung menghampiriku dan menyentuh pipiku yang terdapat 3 garis lembut.

"Naruto, jika memang Tuhan benar-benar mengambilmu dari sisi kaasan dan tousan, kaasan tidak akan pernah sekalipun kecewa padamu. Sudah terlalu banyak yang kau berikan pada kami. Kau bisa mengikuti konser di Belanda, mengikuti kompetensi matematika dan menembus tingkat dunia, menjadi MVP di liga basket terkenal Jepang, berkali-kali menduduki peringkat 3 besar. Apa itu mengecewakan." kata kaasan yang masih bisa air matanya keluar.

"Apa kaasan kecewa karena telah mengeluarkan biaya yang banyak sekali untukku, sedangkan hasilnya tetap sama, aku akan pulang ke sisi Tuhan dengan cepat?" jawabku

"Dengar Naru-chan, kaasan menyayangimu. Begitu juga tousan. Kami tetap tetap berusaha apapun yang terjadi. Jika hasilnya sama, bukankah kami sudah berusaha? Kamu sendiri yang menasihati kami untuk tidak pernah menyerah. Kalau kami menyerah bukan tidak mungkin kami kehilanganmu lebih cepat. Jangan pernah berpikir begitu lagi ya nak." kata kaasan yang sudah menjatuhkan bulir-bulir air matanya.

"Naru minta maaf jika selama ini tidak pernah membuat kaasan dan tousan bahagia. Aku tidak pernah membuat kaasan lega. Selalu membuat kaasan lelah. Masih bolehkah aku meminta satu permintaan lagi, kaasan?"

"Tidak nak, kaasan bahagia jika melihatmu tersenyum. Kaasan tertawa karena kekonyolanmu. Kaasan tidak lelah. Kaasan selalu bahagia jika kamu bahagia. Apapun itu jika kaasan bisa, kaasan akan mengabulkannya."

"Jika aku pergi jangan pernah untuk menangisiku. Aku tidak ingin kaasan menangis. Begitu juga tousan. Di hari pemakamanku aku ingin kaasan dan tousan mengenakan baju putih. Aku benci jika banyak yang berduka di hari kematianku. Aku ingin mereka merayakan hari kepergianku."

"Baik kaasan berjanji Naruto. Kamu juga harus berjanji pada kaasan. Jangan pernah menyerah untuk melawan kanker paru-parumu. Lawanlah ! seperti kamu mengalahkan musuhmu di pertandingan basket, menumpas habis lawanmu ketika kamu bertanding di kompetensi math."

"Naruto berjanji kaasan."

Kaasan memelukku erat. Seperti seorang ibu yang tidak ingin anaknya pergi. Aku pun begitu. Kaasan menangis. Air matanya berpindah dari pipinya ke pipiku. Aku meminta maaf kepadamu, Tuhan. Sudah berapa kali aku menyakiti orang sebaik dan selembut ini. membuat nya menangis, membuatnya kurang tidur, membuatnya menderita. Tebuslah dosanya Tuhan. Jika mengambilku bisa membuatnya mengurangi menangis, maka lakukanlah. Sungguh mahkluk macam apa aku ini yang tega menyakiti kaasan dan tousan sebaik ini.

September 6th

Hari ini melelahkan sekali. Latian konser Belanda sudah dimulai hari ini. Begitu juga latian basket di sekolahku. Benar-benar menyebalkan.

Pagi ini aku terbangun lebih awal dari biasanya. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena mimpi burukku ya. Aku bermimpi melihat anikiku,Kyuubi, di sebuah lorong. Ia hanya tersenyum padaku dan aku juga tidak tahu mengapa aku berteriak. Ah sudahlah lupakan.

Aku seperti orang pindahan saja hari itu. Tas ransel berisi buku dan lain-lain. Dan tas satunya yang berisi baju basket dan sepatu basketku. Oh iya di dalam tas itu terdapat kaus dan celana jeans juga. Tidak lupa sandalku. Oh iya aku juga membawa satu tas lagi yaitu tas yang berisi tempat makan dan botol minum. Aku berkali-kali menolak untuk hal ini, tetapi kaasan juga berkali-kali mengomeliku.

Sesampai di sekolah semua orang melihatku seakan aku ini murid baru. Silahkan saja melihatku seperti itu.

Selesai pelajaran di sekolah habis, aku langsung pergi ke lapangan basket sekolahku untuk berlatih basket. Hari itu coach mengumumkan bahwa besok lusa sekolahku akan mengadakan pertandingan persahabatan melawan Konoha School. Dan kabar baiknya lagi aku terpilih menjadi starter.

Aku teringat dengan jadwal latihanku hari itu. Setelah berganti baju, aku langsung berjalan menuju tempat latihan. Aku tidak ingin merepotkan orang tuaku dengan menyuruh mereka menjemputnya. Jadi aku berjalan.

Tinn..tinn..croooot...

"Ah sialan, baju tinggal sepotong, dikotori sekalian. Baka !" teriakku pada mobil yang secara tidak sengaja (atau sengaja) membuat bajuku kotor.

Ah, mobilnya mundur. Aku akan menghajarmu.

"Dasar dobe !" ujar seseorang yang selama ini membuatku marah.

"TEME! Liat ini bajuku. Aku harus berjalan membawa tas besar dan kau mengotori bajuku." kataku sambil memaki-maki dan menendang ban mobilnya.

Teme yang kelihatannya tidak memperhatikan ku yang marah berkata "Kau dobe ! siapa suruh berjalan dekat-dekat dengan kubangan air. Sudahlah jangan memperpanjang masalah. Naiklah ke mobilku. Nanti kita telat.."

"Dasar teme. Sudah salah masih mengaku benar dan menyalahkan orang lain. Ikut mobilmu? Tidak ! bagaimana jika kau menculikku? Mending aku telat" jawabku

"Kau benar-benar dobe ! apa yang kau tonton setiap hari? Barbie atau power rangers ? Naruto lihat jam tanganmu, ini jam 4 kurang 15 menit. Latihan dimulai pukul 4 sore. Sedangkan kau masih seperempat perjalanan." jawab Sasuke yang mulai kehilangan kesabaran.

"Tidak! Mending terlambat daripada semobil denganmu." jawabku..

"Dobe. Sudah dobe, baka pula !" kata Sasuke yang langsung menyeretku kedalam mobil.

Sasuke langsung duduk menjauh dariku. Ia melemparkanku sepotong kaus bewarna hitam. Ck, tidak ada warna lain ya? Ya sudahlah mending kuganti daripada aku terlihat aneh dengan kaus putihku yang ada bercak air kubangannya.

Sesampai disana aku hanya berterima kasih pada supirnya dan langsung lari menuju tempat latihan tanpa memperdulikan teme yang ada di sebelahku. Supirnya tertawa. Teme terdengar mulai memaki-makiku.

Latian selesai. Jujur saja orang-orang yang terpilih ini hebat-hebat. Mau tidak mau aku juga harus memuji teme itu. Permainan piano nya hebat sekali. Ia suka membuatku terkagum-kagum saat melihatnya bermain piano. Ia selalu memainkannya dengan mata tertutup agar bisa merasakan alunan nada yang berasal dari sebuah benda yang terdapat tuts-tuts putih dan hitam itu.

Setiap peserta sudah mendapatkan judul lagu yang akan dimainkan. Dan setiap orang juga akan tampil duet dengan peserta lain. Dan itu akan diumumkan besok. Penentuan peserta ini bukan berdasarkan lotre semata tetapi merupakan hasil dari perundingan para juri. Anehnya, aku menginkan pasangan duetku adalah teme...

September 7th

Hari minggu harusnya hari yang tepat untuk bersantai. Tetapi nanti sore ada jadwal latihan musik lagi. jadinya aku hanya bisaa bersantai di pagi hari. Aku berjalan berkeliling taman seharian.

Setelah takoyaki yang kubeli habis, mulailah muncul rasa bosanku. Aku malas untuk pulang tapi disini juga bosan. Uang jajanku pun sudah mulai habis. Kemana tujuanku setelah ini.

Tidak lama setelah itu, aku melihat Sasuke sedang duduk di salah satu bangku taman. Ia terlihat sedang membaca buku. Dengan mengenakan kaus hitam bergaris putih, celana khaki, dan sepatu sneakers, ia terlihat sangat tampan. Ah tidak-tidak aku salah bicara. Tiba-tiba muncul niatku untuk menghampirinya.

"Cowok sendirian aja nih !" ujarku

"Hn." balas Sasuke tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku tersebut

"Ih gue dicuekin. Cowok godain dong." Ujarku

"Hn." balas Sasuke yang masih tetap memandang bukunya itu

"Nyerah deh teme. Kamu sih. Kenapa mesti 'hn' terus sih jawabnya?" kataku sambil duduk disampingnya

"Hn. Badmood."

"Tumben gak langsung kabur ato nendang gue pas gue duduk disini.'

"Badmood. Udah kalo masih mau tetep hidup gausa banyak bacot."

"oke." kataku. Mending diem daripada pulang bonyok ditendang teme.

Kemudian suasana menjadi hening. Sasuke diam dan membaca buku, sedangkan aku hanya duduk termenung memandang air mancur di depanku. Sesekali memperhatikan anak kecil yang tertawa bahagia.

"Kamu gak mau cerita, kenapa kamu badmood?" kataku tiba-tiba

"Gak sekarang."jawabnya singkat padat.

"ehm oke."

"Aku mau pulang dulu." Balasnya berpamitan tanpa memandangku

"Bye Teme!"balasku heboh

Itu suatu kemajuan jika Sasuke bisa berpamitan kepada orang lain. Biasanya dia hanya memukul kepalaku. Aku sudah biasa.

Tapi ada yang aneh dengan teme hari ini, dia tidak memaki-makiku hari ini. Ia juga tak bertindak kasar seperti menendang atau memukulku. Aku jadi penasaran dengan apa yang dialaminya. Ah aku jadi penasaran dengan dia. Aku jadi ingin menyelidikinya. Tapi mana bisa. Kediaman keluarga Uchiha sangatlah tersembunyi dan penjagaannya sangatlah ketat. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu teme, tapi aku merindukan dirimu yang ricuh itu.

"Naruuuuuu! Bangun !" teriak kaasan membangunkanku pagi ini"

" Aduh kaasan tidak perlu berteriak-teriak begitu,dong! Aku pasti bangun."

"Kaasan kan hanya terlalu bersemangat,Naru."

"Memang ada apa?"

"Hari ini dokter memberitahu kaasan, penyakitmu sedikit membaik, makanya kaasan semangat sekali."

"oh ya?"

"Iya ! makanya kaasan ingin memberimu sedikit kejutan hari ini."

"Apa itu?"

"Tunggu sebentar ya."

"Tousan datang !" kata tousan yang tiba-tiba memasuki kamarku

"Nah, lihat apa yang dibawa tousan."

Ternyata tousan membawa 3 cup ramen instant original.

"Aaaaaaa! tousaan, kaasaaaannn! Arigato gozaimasu !"

"Tidak usah berteriak-teriak seperti itu,Naru. Ini masih pagi nanti kalau ketahuan dokter kamu makan ramen bisa diomeli."

"ja.. ? ini diam-diam?"

"Pasti dong." Jawab tousan sambil memasak ramen instan itu

"Mengapa tousan tidak takut dimarahin dokter."

"Masa bodoh dengan dokter!" kata kaasan sambil mengedipkan matanya

Beginilah yang kusuka dari orang tuaku. Kau tidak akan bisa menebak surprise apa yang mereka berikan hari ini kepadaku. Mereka selalu penuh semangat, penuh senyum, dan penuh rahasia hahaha.

Entah sampai kapan aku bisa terus bersama mereka seperti ini. Yang jelas jika Tuhan memanggilku, aku harap mereka tetap seperti ini. meski itu semua tanpaku. Aku harap mereka bisa menghadapinya dengan sejuta semangat yang mereka miliki.

September 8th

Pagi ini aku bergegas bangun dan mandi. Karena ini adalah hari penting bagiku. Setelah mandi dan sarapan nanti, aku akan pergi ke lapangan basket Konoha untuk menjalankan pertandingan persahabatan melawan Konoha School.

Setelah semua siap, aku mengayuh BMX ku ke lapangan basket. Di sana tampaknya belum ramai. Masih ada beberapa anak dan tentu saja coach ku. Dan seorang penonton.

Tidak lama kemudian semua datang dan game dimulai ! Aku menempati posisi guard bersama Sai, posisi center ditempati oleh Choji, dan posisi forward di tempati oleh Gaara dan Lee. Kami pun siap bermain.

Aku yang baru pertama bermain sebagai starter lumayan bisa mengembangi permainan teman-temanku lainnya. Sai dengan senjata mesin 3 pointnya lumayan membantu perolehan skor tim ku. Lee yang bisa meloncat tinggi mendominasi perolehan rebound tim kami. Dan aku sebagai play maker mengandalkan tubuhku yang kecil ini untuk menerobos pertahanan musuh.

Akhrinya pertandingan mencapai detik-detik terakhir. Ini sangat tidak masuk akal ! dalam waktu kurang dari 4 detik, tim ku bisa mencetak 10 poin. Tembakan 3 angka Sai mendominasi perolehan poin kami. Lay up dariku juga turut menyumbangkan poin .

Akhirnya pertandingan ditutup dengan tembakan buzzer beater 2 angka Gaara. Kami menang 63-42. Skor yang cukup memuaskan. Sai benar-benar menjadi pahlawan kami hari ini. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar arena pertandingan. Tanpa sengaja aku melihat satu-satunya penonton sedang menatapku. Dia benar-benar membuatku terbius. Hingga aku akhirnya menyadari, dia juga menatapku lekat-lekat. Dan fakta terburuk yang kusadari ialah dia ternyata adalah teme.


*TBC*

more review=faster update :) part 4 is ready to be published ;) so give me review ! :))