Re: Birth
.
Bagian Akhir
Sun
.
.
.
Dua orang pangeran kecil melangkah ke tengah-tengah area ritual yang diliputi sihir. Dua pasang kaki seirama menapaki tangga batu hitam, naik ke atas panggung berbahan sama. Di atas panggung bundar kecil itulah terdapat lingkaran sihir yang menyala dalam cahaya keemasan. Lingkaran yang sangat besar, nyaris melingkupi seluruh bagian panggung. Pola lingkaran sihir itu sangat rumit. Bagian dari sebuah sihir kuno yang diwariskan turun-temurun di dalam keluarga kerajaan Sol Falena.
Di tengah-tengah lingkaran sihir, sebilah pedang melayang tenang. Bagian ujungnya mengarah ke lantai. Itulah Starlight Sword, satu-satunya senjata di muka bumi ini yang mampu mengalahkan sang Penyihir Hitam. Pedang itu pun bercahaya keemasan yang serupa dengan cahaya lingkaran sihir.
Kedua pangeran kecil tiba tepat di hadapan Starlight Sword. Mereka pun saling berpandangan, lantas mengangguk pelan. Bersamaan, keduanya kembali menatap ke depan, lurus ke arah pedang itu. Mereka pun mengulurkan tangan ke arah sang pedang tanpa menyentuhnya.
Hanya salah satu pangeran yang kemudian merasakan suatu ikatan khusus dengan Starlight Sword. Sang pangeran pertama, yaitu Pangeran Kyrilos, segera meraih gagang pegang ke dalam genggaman tangannya. Sementara adiknya, Pangeran Helios, mundur beberapa langkah.
Sang pangeran kedua tahu, orang yang terpilih oleh Starlight Sword bukanlah dirinya, melainkan kakak kembarannya. Bocah berusia dua belas tahun itu hanya bisa melihat punggung sang kakak yang tengah menerima kekuatan dari Pedang Suci. Tanpa dikehendakinya, muncul satu perasaan terasing.
Jika suatu saat marabahaya bernama Penyihir Hitam itu benar-benar mendatangi negerinya, maka apa yang bisa dia lakukan?
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
"Love & Producer/Mr. Love: Queen's Choice" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Papergames/Elex©
Fan fiksi "Re: Birth" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fan fiksi ini.
Kingdom!AU. Siblings!AU. KiroxMC. Maybe OOC. MC menggunakan nama "Noa". Ditulis untuk ulang tahun Kiro #HappyKiroDay
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
"Pangeran? Pangeran Helios?"
Sepasang mata terbuka perlahan mendengar panggilan itu. Sang pemilik iris biru cemerlang itu pun mendapati pengawal pribadinya sudah berdiri di dekatnya. Sang Pangeran meregangkan tubuhnya sejenak. Rupanya ia tertidur di bawah pohon rindang di taman belakang istana.
"Hephaestus," Helios memanggil nama sang pengawal. "Ada apa?"
"Jarang sekali saya melihat Anda ketiduran di siang hari seperti ini."
Hephaestus tersenyum tipis, lantas mengulurkan tangan. Helios menyambutnya, mengikuti tarikannya untuk bangkit berdiri. Pemuda itu tidak menanggapi ucapan sang pengawal. Hanya menghela napas samar. Gerak-gerik sang Pangeran membuat kening pengawalnya berkerut.
"Apa Anda sedang ada masalah?" bertanya Hephaestus.
Helios mengangkat bahu. "Kalau meladeni kelakuan antik kakakku termasuk masalah, berarti iya."
Hephaestus tertawa kecil. Dilihatnya sang Pangeran membuang muka dengan raut kesal. Walaupun sering mengeluh ini-itu tentang Putra Mahkota, Hephaestus tahu persis bahwa Pangeran Helios sangat menyayangi kakaknya. Begitu pula sebaliknya.
"Jadi," Hephaestus berkata sembari menatap sang Pangeran dengan sedikit kilat jenaka di matanya, "apa yang dilakukan Pangeran Kyrilos kali ini?"
"Tidak ada." Pangeran Helios melipat lengan di depan dada. "Hanya bolos latihan pedang seperti biasa."
"Sejak dulu Pangeran Kyrilos memang kurang berminat dengan ilmu pedang," komentar Hephaestus. "Beliau lebih cocok dengan sihir, bukan?"
"Yah, kebalikan denganku."
Hephaestus melihat sorot mata Helios meredup. Keningnya berkerut, bertanya-tanya hal apa sekiranya yang meresahkan sang Pangeran tempatnya mengabdi sejak usia sangat muda. Setidaknya, ia cukup yakin, ini bukan soal rasa iri atau semacamnya. Kedua Pangeran memiliki kelebihannya masing-masing. Selama ini pun, mereka selalu saling mendukung, saling mengisi.
"Hephaestus."
Panggilan tiba-tiba Helios mengagetkan Hephaestus yang membiarkan angannya sedikit mengembara. "Ya, Pangeran?"
"Apa menurutmu, aku punya cukup kekuatan untuk melindungi negeri ini?"
Sekali lagi, Hephaestus dibuat terkejut, kali ini oleh satu pertanyaan yang tak disangkanya.
"Kenapa Anda bertanya seperti itu, Pangeran?"
"Tidak ... Aku hanya ..."
Helios tak kunjung melanjutkan ucapannya. Hephaestus menunggu, hingga detik-detik panjang berlalu dan Helios kembali menghela napas.
"Sudahlah, lupakan."
Helios beranjak tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hephaestus dengan sigap mengikuti langkah sang Pangeran.
"Setelah ini, temani aku berlatih pedang."
"Baik, Pangeran."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Bukan hanya sekali-dua kali Helios memergoki kakaknya diam-diam menyelinap keluar istana di malam hari. Sepanjang ingatannya, sang kakak sudah sering melakukan itu sejak kecil. Helios tahu ke mana kakaknya pergi, karena ia pernah diam-diam mengikuti. Sebuah danau di tengah-tengah hutan kecil tak jauh dari istana. Kakaknya pernah bilang bahwa ia sangat menyukai tempat itu. Ayah mereka yang telah menunjukkan tempat indah itu sewaktu mengajak kedua putranya berburu saat mereka masih kecil.
Sebenarnya, Helios pun diam-diam menyukai tempat itu. Terkadang, ia pergi ke sana untuk berlatih pedang di sore hari ditemani lembayung senja. Ia mengagumi pemandangan matahari terbenam di tempat itu. Helios suka duduk berlama-lama di dahan pohon sembari mengistirahatkan diri setelah penat berlatih. Lantas memandangi ufuk barat yang memerah, hingga mentari menghilang ke peraduannya.
Kemudian, seiring usia, kesibukan membuat Helios sudah jarang mengunjungi tempat favoritnya. Namun, ia tahu kakaknya masih sering diam-diam pergi ke sana. Hingga suatu malam, lagi-lagi Helios melihat kakaknya menyelinap pergi. Entah apa yang mendorong hati Helios untuk mengikuti sang kakak diam-diam saat itu. Lebih tepatnya, ia pergi mendahului melewati jalur lain yang kakaknya pun tidak tahu.
Ketika tiba di danau, Helios melihat seseorang sudah ada di sana. Di tepian telaga yang berkilau oleh cahaya purnama. Secara instingtif, Helios menyembunyikan diri di balik rimbunnya pohon. Sosok itu memikatnya dalam sekejap. Gadis cantik bergaun hitam yang tengah menikmati cahaya rembulan, ditemani semilir angin malam. Ia tersenyum lembut, dengan sepasang iris madunya yang berkilauan memantulkan cahaya sang dewi malam. Hingga kemudian, kakaknya pun datang. Helios mendengar gadis itu memanggil sang kakak dengan satu panggilan istimewa.
Kiro.
Kemudian, kakaknya pun tersenyum. Dengan senyumnya yang paling cemerlang. Saat itu juga, Helios paham, gadis itu adalah seseorang yang memiliki tempat istimewa di hati kakaknya. Ia bahkan tak perlu menunggu untuk menyaksikan kebersamaan mereka setelahnya. Menghabiskan malam yang tenang, bercengkerama diselingi canda tawa.
Di persembunyiannya, Helios pun diam-diam tersenyum samar merasakan kebahagiaan sang kakak yang apa adanya. Hingga sang kakak berpamitan kepada sang bidadari bergaun hitam. Helios menunggu hingga merasakan kakaknya sudah pergi cukup jauh. Ia mengerling sejenak ke danau, mendapati gadis itu masih di sana. Masih tak bosan-bosannya menikmati purnama.
"Apakah memandangiku diam-diam seperti itu menyenangkan?"
Helios tersentak. Gadis itu yang barusan bicara tanpa mengalihkan pandang. Sang Pangeran cukup yakin, dalam radius beberapa meter di tempat itu tidak ada orang lain lagi. Siapa lagi yang diajak bicara sang gadis jika bukan dirinya? Maka, Helios pun memutuskan untuk menemui sang gadis yang sejatinya telah memantik rasa penasarannya sejak tadi.
"Kau menyadari keberadaanku," Helios mengucapkan satu kalimat ini dengan yakin. "Sejak kapan?"
"Sejak kamu datang ke tempat ini." Gadis itu menatap Helios yang berdiri tepat di sisinya. "Hmmm ... Kamu mirip sekali dengan Kiro. Apakah kalian bersaudara?"
Helios tidak langsung menyahut, berpikir apakah bijak memberikan informasi penting kepada gadis asing tak dikenal ini. Pada akhirnya, sebelum Helios menjawab, gadis itu sudah melanjutkan ucapannya.
"Oh! Aku tahu. Kiro bilang, dia punya seorang adik kembar. Itu pasti kamu, 'kan ... Helios?"
Kata-kata itu membuat Helios menghela napas pelan. "Ternyata Kakak sudah bercerita sejauh itu."
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
Helios menatap gadis itu dengan sorot penuh selidik. Sungguh, di matanya, gadis misterius itu sama sekali tidak tampak berbahaya. Akan tetapi, ia juga bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa. Seperti ada sebuah kekuatan besar yang tersembunyi di dalam tubuh mungil nan lembut itu. Kekuatan yang bukan berasal dari dunia ini.
"Siapa kau sebenarnya?"
Pertanyaan itu meluncur dari bibir Helios. Gadis itu tersenyum, lantas kembali menatap sang candra.
"Tadinya aku tidak punya nama," ucapnya. "Tapi Kiro sudah memberikan sebuah nama untukku. Noa."
"Hm ... Begitu rupanya. Selera kakakku memang bagus. Itu nama yang sederhana, tetapi indah." Helios tersenyum, sangat samar. "Lalu ... nama 'Kiro' itu ...?"
"Nama panggilanku untuknya. Apa kamu juga mau kuberi nama panggilan khusus?"
"Tidak perlu."
"Bagaimana kalau 'Heli'? Kedengarannya imut."
"... Tidak, terima kasih."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Helios masih menemui gadis itu lagi satu-dua kali. Tiap kali, ia selalu merasakan hal yang sama. Perasaan bahwa gadis misterius itu menyimpan rahasia yang menakutkan, seimbang dengan rasa sayang yang sedikit demi sedikit terpupuk.
"Heli ... kamu sering datang ke sini juga, ya? Sama seperti Kiro?"
"Iya, tapi biasanya aku datang di sore hari." Sembari mengerling Noa sejenak, kening Helios berkerut. "Dan berhenti memanggilku seperti itu."
"Kenapa? Nama 'Heli' bagus, 'kan." Noa tersenyum cerah, sementara Helios mendesah pelan. Sifat Noa yang seenaknya ini agak mirip dengan kakaknya. "Omong-omong, apa tempat ini juga indah di sore hari?"
"Tentu. Pemandangan di saat matahari terbenam itu tidak ada bandingannya."
"Matahari terbenam, ya ..." Noa menerawang jauh ke arah bintang-bintang. "Mungkin lain kali aku juga harus melihatnya."
Demikianlah, gadis itu benar-benar datang ketika Helios mengunjungi danau favoritnya di sore hari berikutnya. Tepatnya, ia sudah ada di sana mendahului Helios.
"Kamu benar, Heli. Matahari terbenam sangat indah. Aku tidak tahu kita bisa menatap cahaya matahari seperti ini."
"Kau menyukainya?"
"Sangat!" Senyum menyilaukan itu kembali memenuhi pandangan Helios. "Tapi Heli curang. Kalau aku tidak bertanya duluan, kamu tidak akan memberitahuku tentang pemandangan indah ini, 'kan."
Helios mengernyit. Tidak, bukan. Pemuda itu sudah menyerah meminta Noa berhenti memanggilnya 'Heli'. Ia cuma heran, kenapa gadis ini tiba-tiba merajuk kepadanya? Diam-diam, sang Pangeran tersenyum. Samar seperti biasa, tetapi tampak hangat. Seperti mentari senja yang perlahan menyembunyikan diri ke batas cakrawala. Meskipun begitu, ketika malam mulai menjelma, selintas rasa sakit menyelinap ke dalam hatinya.
Helios teringat sosok kakaknya yang berbincang dan tertawa bersama dengan Noa. Keduanya adalah orang-orang yang disayangi oleh Helios sepenuh hati. Ia tidak ingin kebahagiaan mereka hilang. Apa pun alasannya.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Tumben sekali, Pangeran tiba-tiba jadi serajin ini di perpustakaan."
Helios hanya mengerling sekilas ke arah Hephaestus yang duduk semeja dengannya di sudut perpustakaan kerajaan yang sepi. Buku-buku tebal bertebaran di sekitar mereka. Helios sendiri sedang membaca satu, sementara Hephaestus hanya iseng ikut membaca-baca bersamanya.
"Sebenarnya apa yang Pangeran cari?" Ini sudah untuk yang kedua kalinya Hephaestus menanyakan hal yang sama. "Barangkali saya bisa membantu."
"Sudah kubilang, tidak ada yang khusus," Helios menyahut acuh tak acuh. "Aku hanya sedang ingin belajar saja."
"Oh ..."
Helios berkonsentrasi penuh kepada buku yang sedang dibacanya. Kertasnya sudah menguning, tetapi buku itu masih terjaga dan terawat dengan baik. Di dalamnya terdapat informasi yang cukup lengkap berkenaan dengan Starlight Sword dan Penyihir Hitam.
Penyihir Hitam merupakan entitas misterius yang datang membawa kehancuran bagi dunia ini. Ia memiliki kekuatan maha dahsyat. Sosok nan kejam tanpa tanding. Setiap seratus tahun sekali, Penyihir Hitam datang untuk melenyapkan dunia seisinya. Hanya Starlight Sword yang mampu menandingi kekuatannya. Dengan kekuatan Starlight Sword, sang pemegangnya mampu menyegel Penyihir Hitam.
Demikianlah sekelumit penjelasan yang tertera di dalam buku. Serta-merta, Helios teringat kepada Noa. Kepada sosok sang gadis bergaun hitam di bawah sinar rembulan. Samar-samar, Helios merasakan kekuatan besar di dalam diri Noa. Pemuda itu selalu merasakannya, dan ia tahu, kekuatan asing itu bertentangan dengan kekuatan Starlight Sword yang pernah dijamahnya bertahun-tahun silam.
Apakah Noa adalah Penyihir Hitam?
Pertanyaan itu tak terhindarkan hadir di benak Helios. Rasanya ia hampir yakin apa jawabannya. Dan kalau dirinya saja bisa merasakannya, Helios yakin, kakaknya juga pasti merasakan hal yang sama.
Sosok nan kejam tanpa tanding.
Satu kalimat di dalam buku itu kembali terpindai oleh sepasang iris biru yang selalu menyorot penuh keteguhan. Lantas sosok gadis itu kembali membayang. Helios tak bisa percaya, sosok yang dimaksud oleh buku itu adalah gadis selembut Noa.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Selamat sore, Heli."
Senyuman yang menyapa Helios lebih indah daripada lembayung senja yang melatarinya. Helios tersenyum. Ia menghampiri, kemudian berdiri menjajari gadis itu. Bersama-sama menikmati senja yang hanya milik mereka berdua.
"Selamat sore, Noa." Gadis itu agak terkejut dengan keramahan Helios yang sore ini tampak lebih lembut daripada biasanya. "Kau benar-benar menyukai matahari terbenam ini, ya?"
"Sama sukanya dengan bulan purnama."
Helios terdiam sedetik. "Kalau harus memilih, kau lebih suka yang mana?"
"Hm?" Noa berpikir sejenak. "Apa aku benar-benar harus memilih? Mungkin ... bulan?"
"Karena ada seseorang yang kamu tunggu untuk menikmati keindahannya bersama?"
Noa tersentak samar. Ia memandang Helios dengan sorot mata penuh tanya, sebelum akhirnya tersenyum.
"Kurasa bulan memang kelihatan lebih indah," katanya, "kalau aku melihatnya bersama-sama dengan seseorang itu."
"Hmmm ..." Helios menerawang menembus batas cakrawala. "Apakah alasan itu cukup ... untuk membuatmu melupakan tugasmu datang ke dunia ini?"
Sepasang netra madu itu membulat. Ia cepat-cepat menoleh ke arah Helios. Pemuda itu pun ternyata sedang memandangnya.
"Penyihir Hitam."
Dua kata itu meluncur nyaris tanpa emosi dari mulut Helios. Namun, matanya goyah. Hanya sedetik, tetapi Noa melihatnya dengan jelas. Senyum lembut gadis itu yang terbit kemudian, tampak begitu sedih.
"Jadi kamu sudah tahu." Gadis itu menggeleng pelan. "Malah aneh kalau kamu tidak menyadarinya. Aku rasa, Kiro juga sudah tahu ... tentang siapa diriku yang sebenarnya."
"Apa yang akan kaulakukan setelah ini?" tanya Helios.
"Hm?" Noa memiringkan kepala. "Aku tidak akan melakukan apa-apa. Akulah yang harus bertanya, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"
Helios membuka mulut, tetapi kemudian menutupnya kembali. Sepasang matanya yang keras itu goyah sejenak.
"Apa yang akan kamu lakukan ... Heli?"
Sampai mereka berpisah saat matahari telah terbenam, Helios masih belum memberikan jawaban.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Helios mengikuti kakaknya ke danau malam itu. Ia bisa merasakan dengan jelas, kakaknya sedang sangat gelisah. Starlight Sword juga gelisah. Dan Helios tidak perlu berpikir keras untuk menemukan apa penyebabnya.
Pemuda itu terus menyembunyikan diri selama kakaknya dan Noa berbincang. Ia tidak terlalu terkejut ketika kemudian melihat kakaknya mengacungkan pedang ke leher Noa.
Mengacungkan Starlight Sword yang bermandi cahaya keemasan.
Helios terlambat menyadari jantungnya yang berdebar lebih kencang. Dadanya pun berdesir tajam, mengantisipasi apa pun yang mungkin terjadi kemudian. Meskipun begitu, Helios cukup yakin, kakaknya tidak akan menyakiti Noa.
Dan ternyata memang itulah yang terjadi. Helios terkejut dengan dirinya sendiri yang setelah itu menghela napas lega. Dari persembunyiannya di balik pohon, ia tersenyum samar. Kemudian berbalik pergi meninggalkan sang kakak yang memeluk gadis itu.
Noa, yang bukan lagi sang Penyihir Hitam.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Pangeran."
Helios tersentak samar mendengar namanya dipanggil. Namun, ia bergeming. Mata birunya tetap memandang ke arah Starlight Sword yang melayang tenang di tengah-tengah area bundar itu. Area yang dahulu diketahuinya sebagai 'area ritual' pewarisan sang Pedang Suci. Tempat itu juga merupakan satu-satunya tempat di negeri ini yang mampu menampung kekuatan Starlight Sword.
Terletak tepat di bawah tanah istana Kerajaan Sol Falena. Hanya sedikit sekali orang yang memiliki akses ke tempat ini. Termasuk keluarga kerajaan dan pengawal pribadi mereka, serta para petinggi penyihir kerajaan.
"Maaf, saya tidak bermaksud lancang dengan menyusul kemari." Hephaestus membungkuk sejenak dengan sebelah tangan menyentuh dada. "Tapi Pangeran sudah terlalu lama berada di dalam. Apa ada sesuatu?"
Helios masih belum mengalihkan pandang dari pedang magis itu. Starlight Sword selalu berada di sini, dan hanya akan memenuhi panggilan pewaris sahnya sewaktu-waktu. Pendeknya, hanya Pangeran Kyrilos yang bisa memanggil Starlight Sword ke tangannya, di mana pun ia berada. Kapan pun bila ia bertemu dengan sang Penyihir Hitam.
"Kakakku sudah menggunakan pedang ini."
Ucapan Helios membuat Hephaestus tersentak samar. "Maksud Anda ... Pangeran Kyrilos sudah bertemu dengan ...?"
"Sepertinya begitu." Helios mengangkat bahu. "Tapi penyihir itu tidak mati. Karena itulah, Starlight Sword masih berada di sini. Cahayanya masih belum padam."
Jika Starlight Sword sudah digunakan untuk menyegel sang Penyihir Hitam, maka cahayanya akan padam. Kemudian, pedang itu akan kembali bersemayam di dalam peti penyimpanannya. Peti berwarna gading berornamen emas itu kini masih bergeming, tertutup rapat tepat di bawah pedang.
"Hephaestus. Aku ... juga pewaris sah dari Starlight Sword."
Cara sang Pangeran mengucapkan kalimat itu membuat dada pengawal setianya berdesir tajam. Hephaestus mengingat-ingat kembali segala kata-kata Helios yang baru saja terucap. Berusaha menebak ada maksud apa di baliknya.
"Pangeran—"
Ucapan Hephaestus terputus. Sementara, Helios tersenyum, sangat samar. Ia masih tak mau menatap siapa pun.
"Hephaestus. Aku punya tugas untukmu."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Kupikir malam ini kamu tidak akan datang ke sini."
Kyrilos tersenyum ketika gadis manis itu menoleh demi mendengar suaranya. Senyum pun berbalas, sementara sang gadis mengulurkan tangan. Kyrilos menyambutnya, lantas berdiri berdampingan di tepi danau dengan Noa.
"Karena malam ini tidak ada bulan?" gadis itu bertanya. "Hmm ... Tapi masih ada bintang-bintang."
Kyrilos tertawa kecil. "Kamu benar. Lagi pula, karena tidak ada bulan, cahaya bintang-bintang jadi kelihatan lebih terang. Iya, 'kan?"
"Betul juga. Kelihatan lebih indah." Noa mengeratkan genggaman tangannya pada tangan sang Pangeran. "Sayang sekali ... kalau semua ini harus berakhir."
Mendengar kata-kata yang tak disangkanya itu, Kyrilos tersentak samar. Dadanya sontak berdesir tajam. Baru saja ia bermaksud untuk menanyakan apa maksud ucapan Noa barusan, tiba-tiba terasa energi magis mendekat dengan cepat.
"Siapa?!"
Kyrilos melepaskan pegangannya dari Noa, lantas menempatkan diri di depan gadis itu dengan sikap melindungi. Sebentuk lingkaran sihir keemasan terbentuk tak jauh di hadapannya. Sosok seseorang yang sangat dikenal oleh Kyrilos perlahan mewujud, seiring lingkaran sihir yang menghilang.
"Hephaestus? Kau—"
Ucapan sang Pangeran terputus. Ia tidak mengantisipasi pria di depannya yang tiba-tiba saja memelesat ke arahnya tanpa peringatan. Di tengah keterkejutannya, Kyrilos tidak sempat bereaksi apa pun. Tahu-tahu, Hephaestus sudah menjatuhkannya hingga tertelungkup di rerumputan, lantas mengunci segala gerakannya.
"Apa yang kaulakukan?!"
Kyrilos memberontak, berusaha sia-sia melepaskan lengannya yang ditelikung di belakang punggung.
"Maafkan saya, Pangeran." Hephaestus mengalihkan tatapannya kepada Noa. "Anda pasti sang Penyihir Hitam. Mohon ikut dengan saya."
Noa diam sedetik, saling pandang dengan pemuda asing yang mendadak datang mengganggu malamnya. Mata gadis itu yang sama sekali tak goyah, membuat Hephaestus mengerutkan kening.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu."
Hephaestus sedikit terkejut, tak menyangka permintaannya akan diterima semudah itu. Ia pun bergerak cepat, bangkit berdiri dan langsung merapal sebuah mantra.
"Gravity Bind."
Sebuah lingkaran sihir keemasan muncul di tanah, tepat di bawah Kyrilos yang belum sempat bangkit kembali. Seketika itu juga, ia merasakan tubuhnya begitu berat, sama sekali tak bisa digerakkan. Sementara itu, Hephaestus menghampiri Noa.
"Hephaestus! Lepaskan aku!" seru Kyrilos. "Kau berani melakukan ini?!"
Hephaestus membungkuk sejenak ke arah Kyrilos. "Sekali lagi, saya mohon maaf, Pangeran. Akan saya terima hukumannya nanti."
"Kenapa ...?"
"Saya hanya menjalankan perintah."
"Perintah? Perintah siapa?"
Kyrilos segera terdiam setelah melontarkan pertanyaan itu. Tanpa bertanya pun, ia sangat tahu, Hephaestus hanya setia kepada satu orang.
"Tidak mungkin ..." Kyrilos menatap nanar ke depan. "Jangan bilang ... Helios yang ..."
Hephaestus tidak menjawab. Ia mengerling ke arah gadis yang disebut Penyihir Hitam, yang sepertinya tidak akan melakukan perlawanan apa pun. Kalau bukan karena diberi tahu oleh Helios, ia takkan percaya, gadis manis yang tampak tidak berbahaya itu adalah perwujudan malapetaka bagi dunia ini.
"Teleport."
Hephaestus merapal mantra perpindahan jarak jauh, memunculkan lingkaran sihir keemasan lagi di bawah pijakannya dan Noa. Sosok keduanya pun menghilang dalam sekejap. Saat itu juga, efek sihir terhadap Kyrilos pun terlepas. Pemuda itu cepat-cepat bangkit, lantas berlari mendekati posisi terakhir Noa. Dadanya berdebar kencang oleh kecemasan, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Kyrilos berlutut, lantas mengulurkan tangan ke arah tanah di mana lingkaran sihir perpindahan berada sebelumnya. Ia menghela napas dalam-dalam. Lantas memejamkan mata.
"Scanning. Searching."
Selama beberapa detik singkat, sang Pangeran melepaskan gelombang sihir secara konstan. Setelah selesai dan ia membuka mata kembali, Kyrilos segera bangkit, lantas merapal sebuah mantra tanpa jeda.
"Teleport."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Noa muncul di sebuah ruangan luas yang dirasakannya penuh dengan daya sihir. Ia langsung tertarik dengan perasaan menekan yang familier. Saat mengarahkan pandang ke arah datangnya perasaan tidak menyenangkan itu, ia melihat Starlight Sword yang melayang tenang di udara. Di tengah-tengah panggung yang tampak seperti tempat ritual sihir. Di dekat pedang itu, berdiri seorang pemuda berambut perak yang sangat dikenalnya.
"Heli?"
Helios tersenyum samar menyambut kedatangan Noa. Sementara, di samping gadis itu, Hephaestus membungkuk sejenak memberi hormat kepada tuannya.
"Jadi begitu." Noa tersenyum lembut. "Heli juga sudah membuat keputusan?"
"Maafkan aku ... Noa."
Gadis itu menggeleng pelan. "Kamu hanya ingin melindungi hal terpenting di dalam hidupmu, bukan? Tapi ... apa kamu yakin?"
Helios tertawa kecil, terdengar sedih. "Sepertinya apa yang kubaca di buku itu benar. Penyihir Hitam memiliki kekuatan untuk melihat masa depan. Kau ... sudah tahu semuanya. Termasuk apa yang ingin kulakukan."
"Mungkin ... keinginanmu akan terkabul."
Ucapan Noa menyentak Helios. Hanya sekejap, sebelum ia kembali tersenyum samar. Kali ini, senyum itu lebih hangat. Lebih lembut.
"Syukurlah kalau begitu—"
"NOA!"
Segala percakapan terinterupsi oleh seruan memanggil nama sang gadis bergaun hitam. Pangeran Kyrilos muncul dari sebuah lingkaran sihir. Hephaestus yang melihat itu pun segera menempatkan diri di antara sang Pangeran dan Penyihir Hitam. Langkah Kyrilos terhenti, sementara pandangannya terarah ke panggung ritual.
"Helios." Sang Pangeran mengepalkan tangan erat-erat. "Apa maksud semua ini?!"
"Pangeran Kyrilos," bukan Helios, tetapi Hephaestus yang kemudian bicara. "Kenapa Anda bisa ada di sini?"
"Tidak sulit bagiku untuk memindai dan melacak sihir perpindahanmu, lalu mengikutimu ke sini," Kyrilos menyahut tidak sabar. "Jadi kau masih mau menghalangiku, Hephaestus."
"Maafkan saya."
Hephaestus mencabut pedangnya. Namun, Pangeran Kyrilos masih lebih cepat.
"Hephaestus." Sepasang netra biru sang Pangeran berubah warna menjadi keemasan. "Minggir!"
Segala gerakan Hephaestus terhenti. Yang dilakukan Kyrilos barusan adalah sihir pengendali absolut. Tak seorang pun akan mampu melawan perintahnya, termasuk Hephaestus. Selesai dengan Hephaestus, Kyrilos melihat Helios tengah bergerak mendekat.
"Aku tahu, Kakak pasti akan menyusul kemari."
"Helios, jangan bergerak!"
Namun, sang Pangeran Kedua tetap beranjak turun dari panggung melewati tangga batu. Terus melangkah mendekati Noa yang lebih dekat padanya.
"Kakak tahu 'kan, sihir itu tidak mempan padaku."
Kyrilos pun bergegas mendekat, tetapi ia tetap kalah cepat dari adiknya. Pada akhirnya, mereka berdiri saling berhadapan. Bola mata Kiro pun kembali ke warnanya semula.
"Kenapa Kakak tidak memberi tahu siapa pun bahwa Kakak sudah menemukan Penyihir Hitam?" Helios memutuskan untuk mencecar sang kakak dengan pertanyaan. "Kenapa Kakak tidak melaksanakan kewajiban Kakak seperti yang seharusnya?"
"Itu tidak penting lagi," sahut Kyrilos, nyaris datar. "Helios, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Noa. Meskipun itu kau!"
Helios memejamkan mata sejenak. Dihelanya napas dalam-dalam. Ketika membuka mata kembali, sorotnya tampak diliputi kesedihan.
"Jadi seperti itu," ucapnya. "Kakak sudah menemukan seseorang yang ingin Kakak lindungi melebihi apa pun di dunia ini. Aku pun sama."
"Apa?"
Sekali lagi, Helios menghela napas. "Noa ... berapa lama lagi ... waktu yang dimiliki dunia ini?"
Noa yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, sedikit terkejut ketika tiba-tiba dilibatkan ke dalam percakapan.
"Akhir dunia ini ... akan lebih cepat daripada yang kalian kira." Noa berpaling ke arah panggung ritual. Netra cokelat madu itu memantulkan cahaya keemasan Starlight Sword yang berkilau cemerlang. "Seharusnya, aku sudah melenyapkan dunia ini ratusan tahun silam. Tapi leluhur kalian terus-menerus menggunakan kekuatan pedang itu untuk memaksaku tertidur kembali. Dan setiap kali, aku butuh waktu seratus tahun untuk bisa datang kembali. Kemudian, keturunan keluarga kerajaan Sol Falena akan menyegelku lagi. Begitu seterusnya, hingga aku terbangun di masa ini."
Noa beralih menatap Helios, lalu Kyrilos, sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sementara itu, dunia ini terus bergerak mendekati kehancuran."
"Artinya tidak ada jalan lain," komentar Helios. "Dunia ini harus dilahirkan kembali. Tanpa umat manusia yang telah membawa kehancuran baginya."
Noa mengangguk pelan. Sedangkan Helios kembali menatap kakaknya.
"Asal Kakak tahu saja, Noa juga orang yang penting bagiku."
Kyrilos tersentak. "Helios, apa maksudmu? Kau juga mengenal Noa?"
Helios tersenyum samar. Kedua matanya berkaca-kaca sejenak.
"Aku ingin ... Kakak dan Noa bisa hidup bahagia." Alih-alih menjawab pertanyaan kakaknya, Helios mengatakan hal yang berbeda. "Sayangnya, itu tidak akan terjadi di dunia ini ... maupun di dunia yang terlahir kembali. Karena itulah ... aku akan mengubahnya."
"Apa—"
"Pangeran Kyrilos!" Kali ini, Helios berkata dengan nada nyaris dingin. "Aku juga memiliki darah pewaris sah Starlight Sword. Karena kakakku telah gagal mengemban tugas untuk menyegel Penyihir Hitam, aku akan mengambil alih kekuatan itu."
Helios menarik napas panjang, lantas menghadap ke arah Noa. Ditatapnya mata gadis itu dalam-dalam.
"Noa ... apakah kau mau membantuku?" pinta Helios.
"Apa kamu yakin akan melakukan ini ... Heli?"
"Ya."
"Tapi, kamu akan—"
"Tidak apa-apa. Karena tidak ada cara lain untuk mengabulkan keinginanku, bukan?"
"Baiklah. Dengan begini, aku juga bisa melaksanakan tugasku."
Helios mengangguk. Saat ini, dadanya berdebar kencang, berpadu dengan gejolak perasaan yang luar biasa. Apa yang ingin dilakukannya sekarang adalah sesuatu yang sepanjang pengetahuannya belum pernah terjadi. Jujur saja, ia sedikit cemas, apakah ini akan berhasil atau tidak.
"Jangan khawatir," tiba-tiba Noa berkata lembut, seolah bisa membaca pikiran Helios. "Semuanya akan baik-baik saja."
Sekali lagi, Helios menghirup udara dalam-dalam. Sejenak, ia menatap Starlight Sword yang masih melayang tenang. Ia bisa merasakan kekuatan sihir pedang itu berdetak, seirama dengan detak jantungnya sendiri. Seolah pedang suci itu pun telah mengakui dan menerima permohonannya.
"Helios ... apa yang mau kaulakukan?"
Suara Kyrilos memecah keheningan yang damai di tempat itu. Helios bisa mendengar getaran samar di dalamnya. Ia pun menoleh dan memberikan sebuah senyum tipis kepada sang kakak.
"Maaf, Kak. Kali ini, aku akan sedikit bertindak egois."
Helios merentangkan kedua lengannya ke samping, dengan telapak tangan kiri mengarah kepada Kyrilos, dan yang kanan terarah lurus kepada Starlight Sword. Seketika itu juga, Kyrilos merasakan debar menyakitkan di jantungnya. Hanya sedetik, sebelum ia merasakan ikatannya dengan Starlight Sword seolah mengalir keluar. Aliran itu bergerak deras menuju Helios.
Kyrilos menatap lurus ke depan, tak mampu bergerak. Ia bisa melihat dan merasakan, kekuatan sihir yang teramat besar sedang dipindahkan dari dalam dirinya dan juga Starlight Sword, keduanya kini merasuk ke dalam tubuh Helios. Sebagaimana kekuatan sihir pada umumnya yang ditarik dengan paksa, rasanya menyakitkan. Namun, Kyrilos tahu, Helios yang lebih merasakan sakit.
"Helios!" Kyrilos merasakan tenggorokannya tercekat. Matanya pun memanas, seiring pengertian yang perlahan terbentuk di benaknya. Seiring tiga kekuatan yang kini sedang terhubung, ia akhirnya mengerti apa yang ingin dilakukan oleh adiknya. "Hentikan!"
Namun, Helios tidak berhenti. Dibiarkannya energi luar biasa itu terus mengalir ke dalam dirinya. Rasanya panas, seluruh tubuhnya serasa tertarik ke segala arah, seolah hendak tercabik. Ia berusaha tetap tenang sembari mengatur pernapasannya, meskipun seluruh tubuhnya gemetar. Meskipun kemudian darah segar mengalir turun dari sudut bibirnya.
"Helios!"
"Pangeran!"
Dua suara mencapai pendengaran Helios bersamaan. Ia menoleh dan mendapati sang kakak menatapnya sambil menangis, masih tak mampu bergerak. Tak jauh darinya, ada Hephaestus yang telah terbebas dari pengaruh sihir Kyrilos sejak tadi, tetapi ia pun diam di tempat.
"Kakak ... berbahagialah di dunia yang baru ..." Suara Helios pun mulai bergetar. Dari kakaknya, ia beralih menatap pengawal setianya. "Hephaestus ... apa kau bisa menjaga Kakak untukku? Ini bukan perintah ... hanya ... satu permintaan kecil dariku ..."
Hephaestus tidak menjawab. Hanya meletakkan sebelah tangannya di dada, lantas menundukkan kepala dengan hormat. Helios pun kembali menatap Noa. Gadis itu tersenyum lembut, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Noa ... aku titip kakakku ..."
Sang Penyihir Hitam mengangguk pelan. Kekuatan yang tertidur di dalam dirinya telah beresonansi penuh dengan kekuatan Starlight Sword, dan dengan kehendak Helios, kemudian bangkit kembali. Aura gelap menyelimuti tubuh gadis itu. Berdetak seirama dengan cahaya keemasan dari tubuh Helios dan Starlight Sword.
Di dalam kitab kuno sejak ratusan tahun silam, telah disebutkan. Starlight Sword adalah perwujudan keinginan kuat dari para makhluk bumi untuk bertahan hidup. Karena itulah, ia mampu menghalangi Penyihir Hitam untuk 'mengatur ulang' dunia yang akan membawa 'kepunahan' bagi mereka. Menyegelnya dalam tidur panjang selama satu abad, lagi dan lagi.
Akan tetapi, sesungguhnya, Starlight Sword masih mempunyai satu kemampuan lagi. Daripada menyegel sang penyihir, kekuatannya mampu membawa seluruh makhluk untuk ikut terlahir kembali bersama bumi. Namun, untuk itu diperlukan dua kekuatan besar, yaitu kekuatan Starlight Sword dan Penyihir Hitam. Lalu, diperlukan juga sebuah 'pengorbanan'.
"Helios!"
Kiro berseru ketika aliran cahaya di antara dirinya, sang adik, dan pedang suci akhirnya terputus. Ia berlari menghampiri Helios, yang kemudian ambruk tepat di pelukannya. Seluruh tubuh Helios masih gemetaran. Napasnya pun masih tersengal-sengal. Rasa sakit nyaris merenggut kesadarannya, tetapi ia bertahan. Sang pangeran memeluk kakaknya dengan hangat, seiring satu tekad yang membaja. Masih ada satu hal yang harus dilakukannya.
"Helios ...?" Kiro membalas pelukan adiknya dengan hangat. Dadanya berdesir tajam.
"Kakak," Helios nyaris berbisik. "Aku ... akan selalu bersamamu ..."
Helios bangkit berdiri perlahan, lantas berjalan mundur. Menjauhi kakaknya, mendekati pedang suci yang bersinar makin terang. Aura hitam yang dipancarkan Noa pun makin kuat, seiring dengan kekuatan pedang suci. Gadis itu memejamkan mata, lantas bicara dengan suara lembut yang bergema.
"Penyihir Hitam dan Starlight Sword telah berhasil membuat kesepakatan. Dunia akan dilahirkan kembali, dan umat manusia akan diberi kesempatan kedua untuk menjaganya."
Sang Penyihir Hitam membuka mata, kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah Helios dan Starlight Sword.
"Wahai pewaris pedang suci, dia yang telah menjadi jembatan penghubung bagi cahaya dan kegelapan. Dia yang telah menciptakan keajaiban. Serahkanlah dirimu kepada ketiadaan."
Dua cahaya, emas dan hitam, bergerak menyelimuti tubuh Helios secara bersamaan. Pemuda itu merintih tertahan, berusaha sebisanya untuk tetap berdiri tegak. Tubuhnya yang diliputi cahaya dan kegelapan itu, perlahan memudar.
"HELIOS!"
Sang pangeran tersentak. Di antara kesadarannya yang pelan-pelan menghilang, ia melihat sang kakak mengulurkan tangan ke arahnya. Ia pun menyambutnya tanpa berpikir. Namun, baik Helios maupun Kyrilos tahu, ini adalah perpisahan.
"Kakak ... hiduplah dengan bahagia ..."
Helios tersenyum hangat. Tubuhnya pun kemudian menghilang, menyatu dengan cahaya dan kegelapan yang makin meluas. Seiring air mata Kyrilos yang mengalir deras tanpa suara, sedangkan tangannya masih setengah terulur menyentuh udara kosong. Bersamaan dengan itu, sang Penyihir Hitam pun mengucapkan satu mantra penghabisan dalam gema suara yang terdengar hingga ke ujung dunia.
"RESET."
Cahaya Starlight Sword dan kegelapan Penyihir Hitam seketika menguat, meluas, dengan kecepatan luar biasa. Menelan segalanya.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Loveland City, 20xx.
Kiro membuka mata di tengah keheningan. Ia tersentak, lantas memandang berkeliling. Perlahan ia menyadari, dirinya baru saja tertidur berbantalkan lengannya sendiri di atas meja ruang makan. Pemuda itu terlambat menyadari pipinya yang basah oleh air mata.
"Eh? Apa ...?"
Sedikit bingung, Kiro cepat-cepat menghapus air matanya. Samar-samar, ia merasa telah bermimpi panjang. Namun, selayaknya mimpi, semakin Kiro mencoba memikirkannya semakin ia tak bisa mengingatnya.
"Kiro, kamu sudah bangun?"
Suara lembut nan familier menyapa pendengaran Kiro. Ia langsung tersenyum ketika melihat sosok produser hebat pemilik Miracle Entertainment, yang juga fans nomor satunya.
"Noa."
Gadis itu membawa kue ulang tahun yang langsung diletakkannya di hadapan Kiro. Mata biru pemuda itu berbinar melihat kue bernuansa cokelat keemasan yang tampak indah dengan hiasan buah-buahan dan sebuah beruang cokelat mungil di atasnya. Ditambah sebuah lilin berbentuk angka 23 tepat di tengah-tengahnya.
"Maaf, aku lama bikin kuenya." Noa ikut duduk semeja di dekat Kiro. "Kamu sampai ketiduran nungguinnya."
"Heeeh ... Kok tahu aku ketiduran?"
"Soalnya tadi aku mengintip sebentar ke sini."
Kiro tertawa kecil. Sementara Noa menyalakan lilin dengan pemantik yang dibawanya. Dari mulutnya, mengalun merdu lagu 'Happy Birthday' untuk Kiro seorang.
"Nah, sekarang Kiro make a wish dulu," katanya kemudian, "terus tiup lilinnya."
Kiro memejamkan mata dalam senyum, lantas memadamkan lilin ulang tahunnya dalam sekali tiup. Noa bertepuk tangan dengan gembira.
"Selamat ulang tahun, Kiro!" serunya ceria.
Kiro tertawa sama cerianya. Noa mengulurkan tangan hendak meraih pisau untuk memotong kue, sebelum ia tiba-tiba tersentak sendiri.
"Aaaah ... Aku lupa, kado dariku ketinggalan di dapur. Kiro, sebentar, ya!"
Kiro hanya tertawa kecil ketika melihat Noa terburu-buru berlari kecil ke dapur. Ia pun meraih piring kecil dan pisau, lantas mengambil satu potongan besar dari kue ulang tahunnya. Tanpa disadarinya, satu sosok samar perlahan mewujud tak jauh di belakangnya. Sosok transparan berpakaian serba hitam yang berwajah sangat mirip dengannya, bermata biru cemerlang, serta berambut panjang keperakan.
"Selamat ulang tahun ... Kakak ..."
Kiro tersentak tiba-tiba. Pemuda itu menoleh ke belakang dengan kening berkerut, tetapi tidak melihat apa-apa selain dinding putih yang bergeming sunyi.
"Kiro!"
Sang Super Idol menyambut dengan senyuman ketika melihat Noa berderap mendekat dengan kado berpita kuning di tangan. Saat kembali duduk di dekat Kiro, Noa mengerutkan kening, menyadari raut wajah pemuda itu yang tampak sedikit gelisah.
"Ada apa?" Noa memiringkan kepalanya sejenak. "Kamu kayak lagi mikirin sesuatu?"
"Ah ... Nggak. Bukan apa-apa."
Kiro kembali memamerkan senyum berkilauannya yang biasa. Noa ikut tersenyum, lantas menyerahkan kadonya untuk Kiro. Pemuda itu pun menerimanya dengan senang hati. Kemudian memberikan potongan pertama dari kue ulang tahunnya kepada Noa.
"Waah ... Terima kasih!" kata gadis itu dengan mata berbinar.
"Sama-sama." Kiro pun tertawa kecil. "Boleh kubuka kadonya sekarang?"
"Eh! Nanti saja buka kadonya."
"Kenapa?"
"Aku malu~" Pipi Noa merona sejenak. "Sekarang kita makan kue saja dulu—"
"Sebentar, kenapa mesti malu, sih?" Kiro memotong ucapan Noa. Diamat-amatinya kado Noa dengan kening berkerut. "Kamu nggak kasih yang aneh-aneh, 'kan?"
"Aneh-aneh apa maksudnya?"
"Hmmm ... Terlalu banyak kelakuan aneh Noa, sampai aku nggak bisa memikirkannya."
"Kirooo~"
"Hahahahaha ..."
Setelah itu, Kiro membiarkan Noa mengambilkan sepotong kue untuknya.
"Ya udah, ayo makan dulu."
"Iya, iya, oke~"
Tahun ini pun, Kiro merasa sangat bahagia. Karena sekali lagi, dirinya bisa merayakan ulang tahun bersama Noa.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
* Author's Note *
.
Hewwwooo~
Bagian kedua dari fic ultah Kiro kali ini akhirnya selesai dengan selamat~ ( ´ ▽ ` )ノ✨
Sebenarnya, ini adalah fic ultah Kiro yang kutulis untuk tahun lalu. Tapi kemudian gagal jadi pas hari-H. Kucoba menyelesaikannya tahun ini, dan malah jadi kepanjangan. Akhirnya kubuat two-shots kayak gini. Anggap aja ini jatah buat tahun lalu dan tahun ini sekaligus. 😤👍 *heh*
Akhir kata, happy birthday again buat Kiro alias Helios. (Ketahuan deh, aku ada rasa juga sama Helios, makanya kubikin angst buat dia di sini) 👀 *woeee*
See you next fic~ 😆✨
.
Regards,
kurohimeNoir
16.04.2023
