Disclaimers: Kishimoto Masashi
Genre: Friendship/Family/Hurt
Characters: Sasuke, Naruto, Orochimaru, Kakashi, Iruka, Jiraiya, Tsunade, Kabuto
Summary: Sasuke tak merasa bahagia meskipun telah mendapatkan keluarga baru. Bayang-bayang kecelakaan tragis yang membantai seluruh keluarganya, terus menghantuinya. Namun, hubungannya dengan Naruto mendapatkan sedikit kemajuan.***
Naruto setengah berlari memasuki rumah sekaligus penginapan sederhana milik orang tua angkatnya. Tetap dengan gaya khasnya yang ceria.
"Saya pulaaang!" serunya dengan suara nyaring melengking.
Naruto menyusuri selasar menuju kamarnya. Namun sebuah panggilan dari ruang keluarga membuatnya terpaksa menunda keinginannya untuk 'mencium' bantal kesayangannya. Panggilan dari Tsunade yang—terdengar dari nada bicaranya—marah.
"Huh, ada apa lagi sih?" gerutu Naruto.
Dengan was-was Naruto menuju ruang di mana suara Tsunade berasal. Di sana ternyata tak hanya ada Tsunade, tetapi juga ada Jiraiya. Pria bertubuh tinggi besar itu tampak duduk setengah menunduk di depan Tsunade yang berdiri sambil berkacak pinggang. Sekali melihat pipi Jiraiya, Naruto langsung tahu bahwa Jiraiya baru saja ditampar oleh Tsunade. Maka, tawa Naruto langsung pecah, menertawai ayah angkatnya.
Plak!
Tawa Naruto seketika terhenti saat ia menerima tamparan dari Tsunade.
"Duduk!" perintah Tsunade, menunjuk satu tempat di sebelah Jiraiya.
Naruto menurut, ikut menunduk seperti Jiraiya. Pasangan ayah dan anak itu tampak lucu sekaligus memelas dengan pipi bertanda merah bekas tamparan keras Tsunade.
"Apa salah saya, Ma…?" tanya Naruto sambil mengelus pipinya yang terasa hangat.
"Jangan pura-pura bodoh ya, Naruto. Kau ini sama saja dengan papamu yang mesum itu," balas Tsunade sambil melemparkan satu eksemplar naskah hard copy ke pangkuan Naruto. Naskah untuk edisi terbaru serial Icha Icha Paradise karya Jiraiya.
"Naskah ini dikirim balik ke sini karena menurut editor isinya 'kacau' sekali. Menurut papamu, dia tidak pernah mengirimkan naskah itu. Jadi, kesimpulannya, kaulah yang menyelesaikan dan mengirimkan naskah ini. Benar bukan, Naruto?" lanjut Tsunade.
Naruto tercekat. Gawat, ia tidak mengira semuanya akan terbongkar sedemikian cepat.
Tsunade mendekati mereka. Lalu….
Plak!
Sebuah tamparan kembali dihadiahkan di pipi… Jiraiya.
"Ma, kenapa Papa ditampar lagi?" tanya Jiraiya yang belum hilang rasa terkejutnya.
"Tamparan pertama karena Papa ceroboh sehingga anak kita bisa membaca dan ikut menulis materi porno seperti ini. Sedangkan tamparan yang barusan aku hadiahkan karena Papa sudah berbohong pada Mama. Katanya sudah berhenti menulis serial ini. Ternyata Papa tidak pernah berhenti. Papa pikir Mama ini bodoh?" jawab Tsunade sengit.
Jiraiya akhirnya tertunduk lagi. Pasrah.
"Tolong, Pa. Mulai sekarang, Papa konsentrasi saja pada penginapan sederhana milik kita. Berhentilah menulis novel dewasa. Kita sekarang sudah memiliki anak. Lihat, bagaimana pekerjaan Papa sudah memengaruhi Naruto. Apa Papa mau anak kita menjadi rusak karena terlalu banyak membaca materi dewasa seperti novel Papa itu?" lanjut Tsunade dengan nada melunak.
"Ma, saya tidak pernah membaca novel Papa, kok. Saya hanya melanjutkan…." sahut Naruto, namun terpotong oleh tatapan tajam Tsunade. Nyali siapa saja bisa ciut jika sudah berhadapan dengan nenek seksi itu.
Jiraiya menoleh pada Naruto, lalu menghembuskan napas keras. Semakin pasrah.***
Tak berapa lama kemudian, Naruto dan Jiraiya tampak sedang sibuk membersihkan halaman.
"Jadi, Papa benar-benar akan menghentikan serial Icha Icha Paradise?" tanya Naruto sambil memunguti dedaunan kering yang sudah disapu dan dikumpulkan oleh Jiraiya.
"Yah, apa boleh buat. Tapi, itu berarti kita harus berhemat. Kau tahu sendiri 'kan, pemasukan dari penginapan ini tidak seberapa," jawab Jiraiya.
"Aku bisa bekerja setelah pulang sekolah. Kudengar dari Shikamaru, ayahnya membutuhkan tenaga tambahan di minimarketnya," sahut Naruto.
"Ah, tidak perlu, Naruto. Kau belajar saja yang rajin. Jangan-jangan setelah bekerja nilai-nilaimu malah semakin menurun."
Naruto mencibir. Ayahnya terlalu memandang remeh dirinya, namun ia juga tak dapat menyangkalnya. Sebagai murid dengan nilai paling rendah di kelas, Naruto tak dapat berbuat banyak untuk membuktikan bahwa ayahnya salah.
"Oh iya, Pa. Papa kenal Om Orochimaru, ayah angkat Sasuke Uchiha, 'kan?" tanya Naruto setelah mereka saling berdiam diri beberapa lama.
"Bukan kenal lagi. Dia teman sekolah Papa dan Mama sejak kecil. Kenapa?"
"Tadi saya bertemu dengan beliau di penjara…."
"Apa? Penjara?" potong Jiraiya, kaget bukan main.
Naruto terpaksa menjelaskan mengenai kegiatannya sepulang sekolah bersama Sasuke agar ayahnya tak salah paham. Jiraiya mengangguk-angguk.
"Yah, Papa tak menyangka, ia bisa juga mengadopsi anak. Sampai dua anak, lagi. Soalnya dulu dia terkenal dingin dan aneh," komentar Jiraiya mengenai Orochimaru.
"Aneh bagaimana?"
"Dia suka menyendiri, tidak pernah pacaran dan kerjanya hanya melakukan penelitian di laboratorium sekolah. Tipikal orang aneh dan pintar yang akhirnya sukses. Papa tidak kaget dengan kesuksesannya dalam bidang farmasi seperti sekarang ini."
"Apa… Om Orochimaru adalah orang yang jahat, Pa?" tanya Naruto ragu-ragu.
Jiraiya sampai berhenti menyapu dan memandang Naruto dengan heran. Naruto langsung mengerti.
"Soalnya Om Orochimaru kelihatan mengerikan, sih. Sasuke kelihatannya takut padanya," jelas Naruto ragu-ragu.
"Hm, begitu ya? Papa rasa, Orochimaru bukan orang yang jahat. Dia memang aneh, tapi tidak jahat. Sasuke mungkin hanya segan padanya, bukan takut."
Naruto tak bertanya lagi. Meskipun tak puas dengan jawaban Jiraiya, Naruto merasa percuma melanjutkan pembicaraan mengenai Orochimaru dan keluarganya.
Seandainya Papa melihat bagaimana gugupnya Sasuke saat bertemu dengan ayahnya, Papa pasti akan ikut curiga, kata Naruto dalam hatinya. Hanya dalam hati.***
Berlibur bersama keluarga besar dengan menggunakan bis yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas layaknya hotel? Kedengarannya menyenangkan. Tapi tidak bagi Sasuke. Daripada berlibur, ia lebih suka tinggal di Konoha.
"Sasuke, jangan pasang muka cemberut begitu. Kita 'kan mau liburan, jadi senyum dong!" kata Itachi sambil menyetir.
"Aku 'kan tidak mau ikut ke Suna! Liburan sekeluarga seperti ini pasti akan sangat membosankan!" balas Sasuke, tidak juga mau tersenyum.
"Yah, mau bagaimana lagi? Kita mengalah saja pada keputusan bersama."
Sasuke tak bicara lagi. Ia menoleh ke belakang, melihat keluarga besarnya yang tengah tidur dengan damainya di dalam bis besar yang dikemudikan oleh Itachi. Dengan fasilitas selengkap dan semewah hotel, sudah sewajarnya jika para penumpang bis tersebut merasa nyaman.
"Ngantuk? Tidurlah, aku tidak apa-apa kok, menyetir sendirian," lanjut Itachi.
Sasuke menggeleng. Ia menyandarkan punggung, mencoba untuk santai.
Itachi tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Sasuke. Sasuke berusaha menepis tangan kakaknya, namun Itachi tak menyerah juga. Dua bersaudara terus bercanda satu sama lain hingga Itachi tak lagi memerhatikan jalanan. Bis yang ia kendarai berjalan agak oleng, agak ugal-ugalan. Namun Itachi tak khawatir karena di tengah malam begini, bis-nya tak perlu berbagi jalan dengan kendaraan lain.
Namun rupanya Itachi keliru. Ia tak melihat bahwa dari arah yang berlawanan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Terlalu cepat untuk Itachi hindari saat bis yang ia kemudikan, berada segaris dengan mobil tersebut.
"KAKAAAK!"
Sasuke histeris saat melihat mobil tersebut hanya berjarak kurang dari satu meter dari bagian depan bis. Akibatnya, kedua kendaraan tersebut saling menghantam diiringi suara dentuman yang sangat keras.
Sasuke mendadak merasa semuanya senyap. Rasanya ia seperti melayang. Terbang tinggi….
Kemudian, Sasuke merasakan sepasang tangan kekar menarik tubuhnya. Menyeretnya keluar dari bis. Menjauh….
Itachi meletakkan tubuh Sasuke di tepi jalan, cukup jauh dari lokasi tabrakan. Saat ia berbalik untuk menyelamatkan anggota keluarga yang lain, sebuah ledakan dahsyat menyambutnya. Api menyambar dengan cepat, membakar kedua kendaraan tersebut bersama seluruh penumpang yang masih terjebak di dalamnya.
Malam itu, dua puluh empat nyawa melayang dalam sekejap mata. Sembilan belas orang di antaranya berasal dari keluarga Uchiha….
"Sasuke, Sasuke!"
Sasuke membuka matanya dan melihat seraut wajah yang sudah sangat dikenalnya. Wajah kakak angkatnya, Kabuto.
"Kau bermimpi. Mimpi apa?" tanya Kabuto.
"Kecelakaan itu…." jawab Sasuke lirih.
"Ini pasti karena pertemuanmu dengan Itachi sore tadi. Kau jadi teringat pada kecelakaan itu. Bukankah Ayah sudah melarangmu menemuinya? Ini demi kebaikanmu juga," lanjut Kabuto sambil memberikan air segelas.
Setelah menandaskan isi gelas, Sasuke kembali berbaring. Ia sudah lebih tenang sekarang. Meskipun ingatan akan kecelakaan itu tak serta merta lenyap dari benaknya.
"Tidurlah lagi," kata Kabuto sambil mengusap rambut Sasuke, "aku akan menemanimu sampai kau tertidur."
Namun Sasuke tak lantas tertidur sekalipun ia memejamkan mata. Meskipun ada Kabuto yang duduk di dekatnya untuk menenangkan remaja berambut unik itu. Sebab, yang terbayang berikutnya adalah kenangan pahit berikutnya.
Pengadilan sudah menjatuhkan vonis lima tahun penjara untuk Itachi sebagai hukuman atas kelalaiannya yang mengakibatkan begitu banyak nyawa melayang. Itachi tampak pasrah saat dibawa ke luar gedung pengadilan di bawah pengawalan dua orang pria berseragam. Ia akan dikembalikan ke penjara Konoha usai sidang yang berjalan singkat tersebut.
Di luar gedung, Sasuke menunggu di dekat mobil tahanan. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Kakak…." panggil Sasuke parau.
Itachi berhenti melangkah. Menatap Sasuke dengan tatapan dalam.
"Pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi!" bentak Itachi setelah beberapa saat.
Sasuke terkejut bukan main. Ia tak percaya, kakak kesayangannya bisa berkata seperti itu padanya.
"Kak…."
Itachi mendengus kesal. Ia lalu memasuki mobil tahanan tanpa menengok pada Sasuke.
Sasuke hanya terpaku di tempatnya. Masih sangat terkejut mendengar kata-kata Itachi. Bahkan pada saat mobil tahanan bergerak meninggalkan area pengadilan, Sasuke masih berdiam diri. Seolah tak tahu, apa yang harus ia lakukan….
"Seharusnya aku juga ikut dihukum bersama Kak Itachi…. Kak Itachi harus menanggung sendirian buah perbuatan kami, sementara aku masih bisa bebas berkeliaran…. Tidak adil untuk Kak Itachi…. Kak Itachi membenciku pasti karena hal ini…." bisik Sasuke lirih dengan mata yang mulai basah.
Kabuto menarik napas dalam. Ia membungkukkan badannya, lalu membisikkan sesuatu di telinga Sasuke.
"Lupakan dia, Sasuke. Sekarang kami adalah keluarga barumu."
Sasuke tak menjawab. Air matanya malah semakin deras mengalir….***
Keesokan harinya, di SMA Konoha.
Saat jam makan siang di kantin, seperti biasa Sasuke mencari meja yang masih kosong. Kalau bisa, letaknya di pojok ruangan.
Sasuke sudah mencari agak lama sambil memegang nampan dengan menu makan siang bergizi tinggi di atasnya. Tempat favoritnya tak juga ia temukan. Sebenarnya tempat itu ada, tapi sudah ada seseorang yang duduk di sana. Seseorang yang kini sedang melambai-lambai memanggil Sasuke agar ikut bergabung dengannya. Naruto.
"Sasuke! Sini!"
Sasuke menghembuskan napas. Apa boleh buat, ia tidak mungkin berlama-lama mencari tempat duduk. Jam makan siang akan selesai lima belas menit lagi.
"Nah, begitu dong!" komentar Naruto senang saat Sasuke akhirnya memilih duduk di hadapannya.
"Diamlah dan makan saja makananmu," balas Sasuke dingin.
Naruto tersenyum lebar, lalu ikut makan bersama Sasuke. Kecepatan makannya luar biasa. Sasuke belum juga menghabiskan setengah menu makan siangnya, Naruto sudah selesai makan dan bersendawa.
Sasuke menatap tajam pada Naruto, tak senang dengan kejorokan Naruto. Naruto hanya cengar-cengir. Merasa bersalah tapi juga merasa bahwa ia hanya mencoba mencairkan suasana….
"Pulang sekolah, mau menengok kakakmu lagi?" tanya Naruto sekonyong-konyong.
Sasuke menatap Naruto dengan kesal sekaligus heran. Setelah kejadian kemarin, sudah sewajarnya jika Sasuke tak berminat lagi membesuk Itachi. Setidaknya untuk sementara ini.
"Aku harus segera pulang ke rumah. Aku mau istirahat," jawab Sasuke dingin.
"Oh. Boleh aku main ke rumahmu?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Ia benar-benar tak dapat memahami jalan pikiran Naruto.
"Atau, kamu mau main ke rumahku?" tanya Naruto lagi, masih dengan wajah polos.
Sasuke menaikkan alis yang satunya lagi. Naruto ini benar-benar….
"Bagaimana? Mau ya? Ya?" pinta Naruto dengan wajah memohon yang… Sasuke akui, cukup menggemaskan.
"Naruto, sudahlah…."
Bel tanda istirahat usai berbunyi di seluruh gedung sekolah. Sasuke cepat-cepat bangkit dari duduknya, membuang sampah berupa sisa-sisa makanan, lalu beranjak menuju ke kelas. Namun tampaknya ia tak bisa bergerak dengan tenang karena ada Naruto di dekatnya sepanjang perjalanan menyusuri selasar gedung sekolah.
"Nah, kawan, ayo kita ke kelas bersama-sama," kata Naruto dengan penuh semangat seolah sedang menyemangati Sakura dalam pertandingan voli antar kelas.
Bagi Sasuke, omongan Naruto bukanlah masalah. Yang Sasuke permasalahkan adalah tangan Naruto yang merangkul lehernya sambil berjalan. Benar-benar sok akrab!
"Dobe, lepaskan tanganmu!" bentak Sasuke sambil menepis tangan Naruto.
"Ayolah, kita 'kan teman? Kenapa jadi risih begitu, sih?"
"Bukan begitu, aku malu!"
"Malu? Malu pada siapa?"
Sasuke menunjuk ke sebuah arah dengan dagunya. Benar saja. Mereka saat ini tengah menjadi tontonan para murid yang tengah melintas di selasar. Beberapa orang murid tampak berbisik-bisik satu sama lain, menggunjingkan pasangan ajaib ini.
"Kamu malu? Aku tidak, tuh," balas Naruto. Dengan santai ia kembali merangkul Sasuke, membuat Sasuke merasa dicekik.
"Wah, kalian akrab sekali," komentar Kakashi yang muncul dari arah yang berlawanan dengan yang dituju oleh Naruto dan Sasuke.
Sasuke kembali menepis tangan Naruto. Kemudian dengan cepat meninggalkan Naruto dengan wajah merah padam menahan kekesalan dan rasa malu.
"Sasuke."
Bukan Naruto yang memanggil, melainkan Kakashi. Mau tak mau, Sasuke terpaksa berbalik.
"Pulang sekolah nanti, datanglah ke ruang guru. Ada yang ingin saya sampaikan."
Sasuke membungkuk hormat, lalu bergegas menuju kelasnya. Kakashi dan Naruto hanya membiarkan kepergiannya.
"Dia sebenarnya sangat baik. Tapi dia juga punya masalah yang sangat berat. Makanya jadi dingin seperti itu," komentar Naruto sekonyong-konyong.
"Dia belum bercerita apa-apa?"
Naruto menggeleng. Kemudian dengan sopan, ia pamit pada Kakashi untuk memasuki kelas.
Sepeninggal Naruto, Kakashi sendirian di selasar karena para murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Guru muda berambut perak tersebut tampak merenungi kata-kata Naruto.
Dari arah berlawanan, Iruka muncul untuk mengajar di kelas XI-B. Kakashi segera menghampirinya sebelum guru berkulit cokelat tersebut memasuki kelas.
"Ah, Pak Iruka. Bisa bicara sebentar?"
Iruka mengangguk. Tangannya urung membuka pintu kelas.***
Saat pulang sekolah, sesuai perintah Kakashi, Sasuke menemuinya di ruang guru. Naruto menunggunya di selasar sekolah. Hari ini ia akan ke rumah Sasuke untuk mengerjakan tugas Fisika dari Iruka. Tugas yang harus dikerjakan berpasangan dan secara 'kebetulan', Naruto adalah pasangan Sasuke.
Setelah hampir setengah jam, Sasuke akhirnya keluar juga dari ruang guru. Wajahnya tak begitu datar lagi karena ia tampak sedang merenungi sesuatu.
"Ayo! Kita ambil sepedaku dulu!" ajak Naruto antusias.
Sasuke menghembuskan napas berat, merasa bahwa Iruka dan Kakashi sengaja 'menjebak' dirinya agar selalu berada di dekat Naruto. Meskipun demikian, ia tetap mengikuti Naruto menuju tempat parkir sepeda.
Pulang ke rumah dengan dibonceng oleh Naruto, sedikit banyak membuat Sasuke agak was-was. Namun ia terpaksa melakukannya. Tugas kelompok dari Iruka akan lebih baik bila dikerjakan di rumah Sasuke. Sebab, Orochimaru sudah melarang Sasuke keluyuran usai sekolah—termasuk ke penjara—setelah mengetahui bahwa Sasuke pergi menemui Itachi tanpa pamit.
"Wah, rumahmu besar sekali ya, Sasuke!" seru Naruto takjub melihat kemegahan rumah Orochimaru.
"Rumahku yang dulu lebih besar," balas Sasuke tanpa nada menyombongkan diri, "kamarku ada di atas. Ayo, kita ke sana."
Naruto mengikuti Sasuke menaiki tangga sambil tak henti-hentinya berdecak kagum. Sasuke tersenyum samar, merasa agak geli dengan kenorakan Naruto.
Di ujung tangga, pasangan ajaib tersebut bertemu dengan Kabuto. Reaksi pertama dari Kabuto saat melihat Naruto adalah sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya. Bagi orang yang tak mengenal Kabuto, senyuman itu tampak wajar. Tapi tidak bagi Sasuke.
"Ini Naruto, teman sekelas. Saya dan dia mau mengerjakan tugas sekolah yang besok akan dikumpulkan, Kak Kabuto," terang Sasuke.
Naruto membungkuk hormat. Sopan-santun yang ia peroleh setelah menjadi anak angkat Tsunade yang galak.
"Oh, baiklah kalau begitu. Aku ke bawah dulu. Oh ya, kalian mau cemilan apa sebagai teman mengerjakan tugas?" balas Kabuto.
"Ah, Kak Kabuto punya ra…." Naruto menjawab, namun segera dihentikan oleh Sasuke.
"Naruto, ayo! Kita tidak boleh membuang-buang waktu," potong Sasuke gusar.
Sasuke menarik lengan Naruto, menyeret remaja biang keributan tersebut memasuki kamar yang terletak tak jauh dari ujung tangga. Kemudian Sasuke menutup pintu. Caranya agak kasar, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Senyum Kabuto memudar. Perlahan ia menuruni tangga sambil menghubungi seseorang melalui handphone. Orochimaru.
"Ayah, ini mengenai Sasuke…." kata Kabuto setelah mengucapkan salam.
Kabuto terus berbicara. Dengan sangat serius.***
Setelah hampir dua jam berkutat dengan tugas mengerjakan soal-soal Medan Gravitasi dan Medan Listrik dari Pak Guru Iruka, Naruto kini tiba di soal terakhir. Hukum Gauss.
"Sasuke, apa kau sudah selesai?" tanya Naruto, tiba-tiba menyadari bahwa rekan kerjanya sudah cukup lama tak terdengar sedang membolak-balik buku lagi.
"Hn," jawab Sasuke sambil beranjak menuju pintu, "aku mau ke bawah dulu. Akan kulihat apakah masih ada ramen instan di dapur."
Mata Naruto bersinar cerah mendengar niat baik Sasuke, "baiklah. Terima kasih ya, Sasuke!"
Sasuke meninggalkan Naruto begitu saja. Naruto mafhum atas sikap Sasuke yang masih agak dingin. Namun, di sisi lain, Naruto merasa sudah membuat kemajuan besar dalam hubungan mereka saat Sasuke mau mengajak Naruto ke rumahnya. Yah, meskipun dengan terpaksa, sih….
Naruto mengintip hasil kerja Sasuke yang tergeletak di atas meja belajar. Ia tersenyum kecut saat menyadari bahwa Sasuke tidak membual saat bersuara, "hn."
Sasuke memang lebih pandai daripada Naruto. Ia mengerjakan dua per tiga dari seluruh soal yang diberikan oleh Iruka, namun dapat menyelesaikannya dalam waktu lebih cepat daripada Naruto yang hanya mengerjakan sepertiga dari keseluruhan soal….
Naruto membuang jauh-jauh rasa irinya pada Sasuke. Meskipun kini sama-sama menjadi anak angkat sebuah keluarga, saat ini Naruto merasa lebih beruntung daripada Sasuke. Meskipun Jiraiya dicibir karena pekerjaannya sebagai penulis novel dewasa dan Tsunade adalah ibu yang galak dan keras, setidaknya mereka tidak 'mengerikan' seperti Orochimaru….
Tiga puluh menit berlalu. Naruto sudah berhasil mengerjakan soal terakhir meskipun ia tak yakin apakah jawaban yang ia uraikan sudah benar atau masih salah. Namun, bukan masalah jawaban soal tersebut yang menjadi perhatian Naruto saat ini.
"Sasuke sudah terlalu lama pergi," gumam Naruto sambil bangkit dari duduknya dan menuju pintu kamar.
Sambil menuruni tangga, dengan perlahan Naruto memanggil nama Sasuke. Namun tak ada jawaban. Ia mengulangi hingga tiga kali, namun hasilnya sama saja. Rumah Sasuke seperti rumah megah tak bertuan saja.
"Ke mana semua orang?" gumam Naruto, teringat bahwa Kabuto juga menetap di rumah tersebut.
Dengan ragu dan canggung, Naruto bergerak ke dalam rumah untuk mencari si empunya rumah. Ia menyusuri sebuah lorong dengan pintu-pintu yang tertutup rapat, lukisan-lukisan dan berbagai pajangan mahal di setiap sisinya. Kalau tak ingat bahwa ia sedang mencari Sasuke, Naruto pasti akan terkagum-kagum melihat arsitektur rumah tersebut bersama barang-barang yang ada di dalamnya.
Dari arah yang belum Naruto ketahui dengan pasti, samar-samar Naruto mendengar suara seseorang tengah berbicara dengan volume yang cukup keras. Bukan suara Sasuke. Yang tak kalah mengkhawatirkan, dari nada bicaranya, terdengar bahwa pemilik suara tersebut sangat tidak senang mengenai sesuatu hal.
Naruto bergerak mencari asal suara tersebut sambil berharap menemukan Sasuke. Ia mulai merasa tak nyaman di rumah ini….
Asal suara yang Naruto cari akhirnya berhasil ia temukan. Suara itu ternyata berasal dari sebuah ruangan di ujung lorong. Pintu ruangan tersebut terkuak cukup lebar, memungkinkan Naruto melihat siapa saja yang berada di dalam ruangan tersebut. Orochimaru dan… Sasuke.
Ayah dan anak angkat itu tampak sedang berdiri berhadapan. Orochimaru tampak memegang kedua bahu Sasuke. Sedangkan Sasuke tampak tertunduk pasrah.
"Kau dengar, Sasuke?" kata Orochimaru dengan nada yang tegas, tajam sekaligus agak mengerikan.
Naruto tersentak dan mengeluarkan sedikit suara yang membuat Orochimaru dan Sasuke menoleh padanya. Sasuke tampak panik dan agak takut, sedangkan Orochimaru lebih tenang namun tak menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Ma-maaf, saya…." Naruto menjadi gugup.
Sasuke menarik napas berat. Ia memandang Orochimaru dengan pandangan memohon. Orochimaru mendengus, lalu meninggalkan ruangan tersebut. Ia nyaris menabrak Naruto jika saja Naruto tak sigap menghindar.
"Sasuke, kamu…."
"Naruto, tugas kita sudah selesai, 'kan? Maafkan aku, tapi, kurasa sudah waktunya kamu pulang. Maaf soal ramen-nya," potong Sasuke.
Naruto mengangguk pelan. Situasi seperti ini memang membuat siapa saja jadi serba salah.***
Di rumah Naruto, di halaman depan penginapan, setengah jam kemudian. Naruto tampak sibuk dengan handphone menempel di kuping, berjalan mondar-mandir seperti pengusaha super sibuk.
"Jadi, hubungan Sasuke dengan ayah angkatnya seperti itu, ya?" tanya Iruka dari seberang.
"Iya, Pak. Saya saja sampai ikut takut pada Om Orochimaru itu," jawab Naruto.
"Hm. Baiklah kalau begitu. Akan Bapak bicarakan dengan Pak Kakashi. Terima kasih ya, Naruto."
"Ah, saya melakukan ini demi Sasuke, kok."
Naruto memutuskan pembicaraan. Saat berbalik, ia melihat kedua orang tua angkatnya tengah berdiri memandangnya dengan curiga.
"Soal Sasuke dan Orochimaru lagi? Mama sudah mendengarnya dari papamu," tanya Tsunade.
Sebelum Naruto sempat menjawab, Jiraiya sudah menyambung, "jangan terlalu mengurusi orang lain, Nak. Lagipula, kau tidak mendengar ancaman keluar dari mulut Orochimaru, bukan?"
"Ya. Tapi…."
"Cukup, besok papamu akan ke sekolahmu untuk bicara dengan guru-gurumu itu. Tugasmu adalah belajar Naruto, bukan menjadi mata-mata bagi guru-gurumu itu," potong Tsunade.
Naruto tersentak.
"Ti-tidak perlu, Ma, Pa. Baiklah, saya tidak akan mengurusi Sasuke lagi. Tapi, Papa jangan ke sekolah, ya?" pinta Naruto memelas.
Tsunade mendengus kecil, lalu meninggalkan Naruto, diikuti oleh Jiraiya. Naruto menghela napas lega.
"Tapi, bagaimana dengan Sasuke?" gumam Naruto. Kebingungan.***
TO BE CONTINUED
