Disclaimers: Kishimoto Masashi

Characters: Sasuke, Naruto, Itachi, Kakashi, Iruka, Kabuto, Hinata, Neji.


Naruto mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Ia nyaris terlambat (lagi) pagi ini. Setelah tiga hari berangkat ke sekolah tepat waktu, pagi ini ia gagal mempertahankan rekornya. Rasa lelah karena mengerjakan tugas dari Iruka semalam, berhasil membuatnya tertidur pulas. Jika Tsunade tak menyiramnya dengan segayung air, barangkali hingga kini Naruto masih meringkuk di tempat tidur.

"Tidak boleh terlambat!" seru Naruto menyemangati dirinya. Ia terus mengayuh hingga peluh mulai bercucuran di keningnya.

Pintu gerbang SMA Konoha ternyata masih terbuka lebar. Setelah melewati gerbang tersebut, Naruto bersorak, mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk meluapkan kegembiraan karena berhasil mempertahankan rekornya.

Namun, Naruto lupa bahwa ia bukanlah pemain sirkus yang dapat mengendarai sepeda tanpa memegang setangnya. Akibatnya, sepedanya yang berwarna jingga terang tersebut oleng dan nyaris menabrak seorang siswi yang sedang melintas. Beruntung, seorang siswa menarik siswi tersebut hingga lolos dari tabrakan.

"Naruto!" sergah sang siswa dengan menahan marah. Neji.

"A-a-aku tidak apa-apa, Kak Neji," sahut siswi yang nyaris ditabrak Naruto. Hinata.

"Ah, maaf, Hinata! Aku terlalu gembira bisa tiba ke sekolah tepat waktu sehingga aku…." Naruto cengar-cengir menjelaskan, namun dipotong oleh Neji.

"Ya, aku tahu kau sudah tak sabar ingin menemui pacarmu. Tapi seharusnya kau juga lebih berhati-hati!"

"Pacar?" tanya Naruto kebingungan. Sesaat kemudian, wajahnya kembali cerah, "maksudmu, Sakura-chan? Ahhahaha, aku memang berharap suatu hari nanti bisa menjadi…."

"Bukan Sakura. Tapi Sasuke," potong Neji lagi.

Naruto ternganga. Hinata bahkan terhenyak.

"Ma-maksud Kak Neji, Na-Naruto pa-pacaran dengan Sa-Sa-Sasuke?" tanya Hinata.

"Eh, itu tidak benar! Aku tidak pacaran dengan dia! Aku hanya berteman dengannya!" bantah Naruto dengan suara melengking.

"Terserah. Aku mau masuk dulu. Ayo, Hinata!"

Neji mengajak Hinata memasuki gedung sekolah, meninggalkan Naruto yang masih shock. Shock karena satu rumor yang tanpa Naruto sadari, telah menyebar luas hingga siswa yang serius seperti Neji ternyata telah termakan rumor tersebut.

"Ah, kenapa jika kita berbuat baik, selalu saja ada yang salah paham," keluh Naruto.

Dengan lunglai, Naruto menuntun sepedanya menuju tempat khusus untuk memarkir sepeda. Ia tak henti-hentinya menghembuskan napas, tak mengerti mengapa niat baiknya malah disalahartikan oleh sebagian (besar) orang.***


Namun, kata-kata Neji hanyalah awal dari hari yang tak cerah dalam hidup Naruto. Sebab, setelah bertemu dengan Sasuke di luar kelas, Naruto menerima kenyataan pahit lainnya. Sasuke kembali seperti dulu. Dingin dan ketus.

"Kamu kenapa, sih? Kemarin kamu begitu baik. Kenapa sekarang kamu menyebutku Dobe, Usuratonkachi lagi? Aku tidak suka!" sergah Naruto, kesal.

Sasuke mendengus, "baik? Kurasa sikapku padamu biasa-biasa saja? Pergilah, aku tak mau melihatmu lagi."

"Huh, memangnya aku bisa pergi ke mana, sih? Ini 'kan di sekolah?" balas Naruto lebih kesal daripada sebelumnya.

Sasuke memasuki kelas. Naruto hendak mengikutinya, namun urung. Bukan hanya karena khawatir bahwa rumor akan berkembang lebih jauh jika mereka terlihat memasuki kelas bersama, melainkan juga karena seseorang memanggilnya. Iruka.

"Pagi, Naruto," sapa Iruka ramah.

Naruto membalas sapaan Iruka, lalu mengisyaratkan agar Iruka mengikutinya ke sebuah sudut sepi.

"Jadi, sudah Bapak bicarakan dengan Pak Kakashi? Mengenai Sasuke, tentu saja. Soalnya saya kelihatannya akan kesulitan mendekati dia. Ayah angkatnya mengerikan, sih."

"Sudah. Kami berencana menemui Pak Orochimaru setelah waktu sekolah berakhir."

Naruto menatap Iruka beberapa lama. Tatapannya menyiratkan keraguan atas rencana kedua gurunya tersebut.

"Om Orochimaru kelihatannya bukan orang yang bisa diajak bicara, Pak Iruka. Daripada bicara padanya, lebih baik bicara pada Sasuke saja. Bujuk dia supaya mau lebih terbuka pada kita."

Iruka menepuk lembut pundak Naruto sambil berkata, "oleh sebab itulah, kami memintamu agar bicara dengan Sasuke. Kalian 'kan teman sekelas, jadi kami yakin, kau pasti akan lebih mudah mendekatinya. Mengenai ayahnya, serahkan saja pada kami."

"Ya, tapi…."

"Kami sudah mendengar rumor itu, Naruto. Apakah itu yang mengganggumu?"

Naruto tertegun. Ia tak dapat menjawab pertanyaan Iruka saat itu juga.***


Kakashi memarkir mobil tak jauh dari rumah Orochimaru, lalu memandang rumah Orochimaru, salah satu rumah terbesar dan termegah di pusat kota Konoha.

Rumah Orochimaru memang menggambarkan kesuksesannya sebagai seorang pengusaha di Konoha. Memang, ini bukan rumah paling megah yang pernah dilihat oleh Kakashi. Namun, tetap saja, Kakashi diam-diam menyimpan rasa kagum pada kemegahan rumah Orochimaru.

Dengan kekayaan sebanyak ini, membesarkan dua orang anak seorang diri bukanlah perkara sulit, pikir Kakashi, masalahnya, apakah Orochimaru tidak melakukan kekeliruan dengan memanfaatkan kekayaannya yang melimpah ini?

"Pak Kakashi!" seru Iruka yang ternyata sudah berada di depan pintu masuk rumah Orochimaru.

Kakashi bergegas menyusul Iruka. Ternyata Iruka sudah membunyikan bel. Seorang pemuda membukakan pintu sambil tersenyum ramah. Kabuto.

"Ah, Pak Iruka dan Pak Kakashi. Apa kabar?"

Kakashi dan Iruka tampak takjub melihat Kabuto. Bekas murid mereka di SMA Konoha tersebut sudah berubah sejak lulus SMA beberapa tahun lalu. Anak yang dahulu tampak culun dan lemah tersebut kini berubah menjadi pemuda yang tampan dengan penampilan yang terjaga.

Yah, wajarlah. Sejak diadopsi oleh Orochimaru, hidup Kabuto memang mengalami peningkatan kualitas yang luar biasa, pikir Kakashi.

Kabuto menyilakan Kakashi dan Iruka masuk. Setelah mengetahui bahwa kedua bekas gurunya tersebut hendak bertemu dengan ayah angkatnya, air muka Kabuto sedikit berubah. Namun, dengan cepat ia menutupinya.

"Ayah sedang ke luar kota untuk urusan bisnis. Tapi, rencananya akan pulang malam ini juga," jawab Kabuto setelah menyilakan kedua guru tersebut duduk.

"Ah, begitu," sahut Kakashi, "kau tinggal di sini dengan siapa saja, Kabuto? Maksudku, selain Sasuke dan ayah kalian, tentu saja."

"Hanya kami bertiga. Setiap hari ada tiga orang pembantu yang membersihkan rumah, tapi mereka tidak ikut tinggal di sini," jelas Kabuto.

Hening sesaat. Masing-masing saling menunggu agar salah seorang di antara mereka memulai pembicaraan berikutnya. Kakashi menatap Kabuto dengan tajam, namun Kabuto tidak gentar. Sambil tetap tersenyum, ia balas menatap Kakashi. Untuk beberapa lama, suasana menjadi kaku dan dingin. Sampai pada akhirnya, Iruka berusaha mencairkan suasana.

"Kami ke sini untuk membicarakan Sasuke. Adikmu itu baru saja kembali bersekolah dan kami menyadari bahwa dia sedang mengalami masa-masa sulit. Jadi, kami pikir, jika kami berbicara dengan keluarganya, kami dapat membantunya di sekolah," tutur Iruka, hati-hati.

"Maaf, tapi kesulitan apa yang Sasuke alami di sekolah? Kelihatannya dia baik-baik saja," balas Kabuto dengan tenang.

Panjang umur. Orang yang sedang dibicarakan akhirnya muncul. Sasuke yang baru saja pulang dari sekolah, terkesiap melihat kehadiran dua orang gurunya.

"Oi, Sasuke!" sapa Kakashi ramah.

Sasuke memandang Kabuto, minta penjelasan. Namun Kabuto tampaknya lebih suka jika Sasuke tidak mengetahui ihwal kedatangan Kakashi dan Iruka.

"Kau pasti lelah. Masuklah ke kamarmu dan beristirahatlah," kata Kabuto, 'mengusir' Sasuke.

Sasuke mengangguk pada Kabuto. Ia membungkuk hormat pada kedua gurunya, lalu meninggalkan ketiga pria tersebut, naik ke lantai dua. Menuju ke kamarnya.

Kakashi dan Iruka saling melirik. Mereka langsung mencium keanehan dalam tindak-tanduk dua bersaudara tersebut.

"Sejak kecelakaan yang menimpa keluarga besarnya, Sasuke menjadi lebih pendiam," kata Kakashi setelah yakin bahwa Sasuke tak bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Tapi saat ini dia sudah memiliki keluarga baru. Jadi, saya rasa, cepat atau lambat dia akan mengobati dirinya sendiri. Dia tak dapat terus-terusan mengasihani dirinya sendiri, bukan?" balas Kabuto, defensif di balik ketenangannya.

Kakashi mencondongkan badannya ke depan. Ia memicingkan mata, menatap Kabuto tanpa menyembunyikan kecurigaannya.

"Sayang sekali Pak Orochimaru tidak ada di sini. Saya sebenarnya ingin menyampaikan rasa hormat saya pada beliau karena mau menerima Sasuke, satu-satunya ahli waris Uchiha Enterprise yang masih tersisa," kata Kakashi, menyindir tanpa basa-basi.

Iruka menoleh dengan cepat pada Kakashi. Ia tak mengira Kakashi akan berkata demikian.

"Saya kurang tahu alasan Ayah mengadopsi Sasuke. Namun satu hal yang pasti, Ayah memperlakukan saya dan Sasuke dengan sangat baik layaknya anak sendiri," balas Kabuto, nyaris tak dapat mengendalikan diri menghadapi sindiran Kakashi.

"Saya tidak meragukan hal itu, Kabuto. Saya pun yakin bahwa Sasuke tentu saja punya alasan yang kuat saat mengajukan permohonan pada pengadilan agar ia dijadikan sebagai ahli waris tunggal Uchiha Enterprise. Yah, dengan kata lain, Sasuke mungkin merasa bahwa Uchiha yang satunya lagi hanya akan mengganggu keharmonisan keluarga barunya, bukan?"

Rahang Kabuto mengeras. Namun ia tahu bahwa menunjukkan perubahan emosi yang drastis tidak akan menguntungkan siapa-siapa.

"Maaf Pak Kakashi dan Pak Iruka. Tapi saya ada janji dengan teman kuliah, jadi…."

"Oh, tidak apa-apa. Kami mengerti. Kalau begitu, kami permisi dulu," sahut Iruka cepat, tak memberi kesempatan pada Kakashi untuk kembali 'menyerang' Kabuto.

Setelah memasuki mobil Kakashi, giliran Iruka yang 'memanas'. Ia menatap tajam pada Kakashi.

"Apa maksudmu? Kau tidak berusaha membuat kita gagal menolong Sasuke, bukan?" sergah Iruka. Ia nyaris kehilangan kesantunan yang biasanya ia tunjukkan pada sesama guru seperti Kakashi.

"Maaf, aku tadi agak lepas kendali. Sikap Kabuto membuatku sedikit kesal. Jika menyangkut keluarga Uchiha, aku… memang menjadi lebih sensitif. Bagaimana pun, aku berutang budi pada keluarga itu, terutama pada Obito…."

Iruka tersenyum mengerti. Ia menepuk pelan bahu Kakashi sambil berkata lembut, "ya, aku mengerti itu. Tapi tolong kendalikan dirimu. Kalau kau memang ingin membantu Sasuke dan keluarga ini, kita harus melakukannya dengan hati-hati. Kau mengerti?"

Kakashi memegang tangan Iruka yang menyentuh bahunya. Ia mengangguk pelan, pertanda setuju pada kata-kata Iruka.

Tak lama kemudian, mobil Kakashi menjauh dari rumah Orochimaru. Kabuto mengamati kepergian mobil tersebut dari balik jendela rumah. Pandangannya nanar, dingin dan menyiratkan sejumput kebencian di balik kacamatanya yang berkilau….***


Naruto sebenarnya agak menyesal juga karena memutuskan agar menyerah lebih cepat. Hanya gara-gara rumor tak sedap yang berkembang di sekolah, ia memutuskan untuk menjaga jarak dengan Sasuke layaknya Sasuke yang juga menjauh darinya. Naruto yang bengal berpacaran dengan Sasuke yang tampan dan berkulit bersih bening layaknya wanita? Uh, itu adalah hal terakhir yang dapat Naruto pikirkan dengan otaknya yang biasanya jarang ia gunakan untuk memikirkan yang rumit-rumit tersebut.

Nyatanya, usahanya tersebut berhasil. Kini, nyaris tak ada lagi teman sekolahnya yang menyindir kedekatannya dengan Sasuke yang dinilai tak wajar. Kalau pun ada, hanya Kiba yang melakukannya. Namun, sebagai sesama murid dengan kecerdasan di bawah rata-rata, Naruto tak menganggap serius ejekan Kiba. Jadi, sejauh ini tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Namun, apa yang baik bagi Naruto, tak selamanya baik bagi Sasuke. Naruto juga menyadari hal tersebut. Sasuke kembali menjadi dirinya yang dulu. Penyendiri yang menyedihkan. Penyendiri yang akan menimbulkan empati seorang Naruto….

Oleh sebab itu, Naruto memutuskan untuk mengabaikan rumor yang barangkali akan berhembus lagi. Naruto menguatkan hati dan memutuskan untuk mendekati Sasuke lagi.

Saat pulang sekolah, Naruto dengan hati-hati mendekati Sasuke. Tidak terlalu berhasil, sebab belum apa-apa, Naruto sudah menerima tatapan sinis seorang Uchiha yang memang sangat menyebalkan. Ia tidak jadi menawari Sasuke tumpangan untuk pulang ke rumahnya. Namun, bukan berarti Naruto akan melepaskan Sasuke begitu saja.

Dari jarak aman, Naruto mengikuti Sasuke yang berjalan gontai seperti anak hilang. Naruto tahu, pasti ada sesuatu yang salah dengan Sasuke. Hari ini dia tampak lebih suram daripada hari-hari sebelumnya….

Sasuke yang tampaknya tak menyadari bahwa Naruto mengikutinya, menaiki tangga sekolah dengan tatapan kosong. Ia terus menapaki setiap anak tangga hingga Naruto mulai curiga, Sasuke pasti merencanakan—atau bahkan hendak melakukan—sesuatu….

Benar saja. Sasuke ternyata menuju atap gedung sekolah. Naruto mulai panik. Mau apa Sasuke di atas sana pada saat gedung sekolah sudah mulai kosong? Langkah-langkah Naruto yang pada awalnya begitu terjaga agar Sasuke tak menyadari kehadirannya, kini mulai menimbulkan kegaduhan karena Naruto menambah kecepatan kakinya dalam melangkah. Ia tak boleh kehilangan Sasuke dari jarak pandangnya!

Naruto setengah berlari menyusul Sasuke hingga akhirnya tiba di atap sekolah. Ia terpana melihat sebuah pemandangan yang sebenarnya sudah ia duga sebelumnya : Sasuke berdiri di tepi atap. Tampaknya, ia bersiap melompat ke bawah!

"SASUKE!"

Naruto berteriak keras sekali. Melengking hingga membuat Sasuke menoleh. Naruto hendak mendekati Sasuke, namun melihat wajah Sasuke membuatnya terpana untuk beberapa saat. Wajah itu… Naruto pernah memiliki wajah serupa bertahun-tahun yang lalu….

"Hanya ini caranya," kata Sasuke dengan tenang. Raut wajahnya tampak sangat dingin. Layaknya mayat hidup. Layaknya seseorang yang sudah kehilangan keinginan untuk hidup….

"SASUKE!"

Naruto berteriak dengan sangat keras, sekali lagi. Namun kali ini, ia benar-benar menerjang ke arah Sasuke.***


TBC