Disclaimers: Kishimoto Masashi

Characters: Sasuke, Naruto, Itachi, Kisame


Perpustakaan penjara Konoha bukanlah tempat favorit bagi sebagian besar penghuninya. Hanya segelintir narapidana yang secara rutin memasuki perpustakaan tersebut, termasuk Itachi Uchiha. Pemuda itu—karena latar belakang pendidikannya yang tinggi—telah dipilih sebagai pustakawan oleh sipir penjara. Sebuah tugas yang tentu tidak berat bagi seorang Uchiha.

Seperti biasa, menjelang perpustakaan ditutup, Itachi sibuk mengembalikan buku-buku yang tergeletak di meja baca ke tempatnya semula. Ia tampak sangat tekun mengerjakan tugasnya. Namun, bukan berarti ia tidak awas terhadap lingkungan di sekitarnya.

"Ada apa, Kisame?" tanya Itachi tanpa menghentikan apa yang sedang ia kerjakan.

Sosok yang ditegur—sesama narapidana seperti Itachi—tampak tersentak. Perlahan ia keluar dari balik sebuah rak buku dan menghampiri Itachi. Mirip anak kecil yang takut-takut mendekati orang tuanya setelah melakukan kesalahan.

"Mau membantuku?" tanya Itachi sambil menyodorkan dua buah buku, "tolong letakkan di rak itu. Kau tahu persis di mana harus meletakkannya, 'kan?"

Kisame menuruti permintaan Itachi. Namun setelah itu, ia kembali seperti biasa. Memandang Itachi dengan penuh arti, menyimpan kata-kata yang ia siapkan di tenggorokannya.

"Kau sering seperti ini. Ada apa, sih? Jujur saja, aku bosan melihatmu seperti ini. Kalau ada yang mau kau katakan, tolong katakan saja," tanya Itachi lagi.

Kisame menggeleng sambil berkata, "tidak ada apa-apa. Aku pergi dulu."

Itachi hanya memandang kepergian Kisame dengan hati bertanya-tanya. Merasa aneh melihat tingkah teman satu selnya tersebut.***


Naruto bersyukur dikaruniai kekuatan, kelincahan dan kecepatan yang dapat berguna pada saat-saat genting. Seperti pada saat ini, saat Sasuke memerlukan pertolongannya dari perbuatan konyol yang tidak akan menyelesaikan masalah yang disebut bunuh diri.

Pada saat yang tepat, Naruto berhasil menangkap tangan Sasuke dan menahan tubuh remaja itu agar tidak jatuh. Dengan cepat, Naruto menarik tubuh Sasuke hingga kedua remaja itu terhempas di atap sekolah. Usaha Sasuke mengakhiri hidupnya berhasil digagalkan.

Naruto mengatur napasnya yang terengah-engah akibat ketegangan dan kelelahan yang ia rasakan setelah menolong Sasuke. Ia menoleh pada Sasuke yang membelakanginya.

"Sasuke…."

Dengan hati-hati, Naruto menyentuh kepala Sasuke. Sasuke menoleh. Ia tampak shock dengan wajah pucat pasi.

"Jangan… ceritakan ini pada siapapun," pinta Sasuke setelah mampu mengendalikan dirinya lagi, "tolong jangan ceritakan…."

Naruto tak menjawab. Ia tahu, ia tak dapat menjanjikan hal itu pada Sasuke.***


"Aneh," komentar Kakashi setelah mendengar penjelasan Iruka.

"Ya, memang aneh. Dua hari yang lalu kita berbicara dengan Kabuto dan esoknya, Sasuke mencoba bunuh diri lagi. Walaupun sulit membuktikan bahwa dua peristiwa ini saling berkaitan, aku semakin yakin bahwa anak itu memang tertekan oleh keluarganya," balas Iruka.

Pembicaraan tersebut terjadi di ruang guru SMA Konoha, satu jam setelah Naruto berhasil menggagalkan usaha bunuh diri Sasuke. Hari sudah sore, kebanyakan guru dan seluruh murid telah pulang ke rumah masing-masing. Kecuali Kakashi dan Iruka.

"Kita tidak bisa lagi menangani masalah ini sendirian. Pihak sekolah harus dilibatkan. Kupikir, kita harus memberitahukan apa yang terjadi pada Kepala Sekolah Sarutobi," kata Iruka.

"Kurasa kau benar. Selain itu, kita harus mengawasi Sasuke juga. Selama Sasuke berada di sekolah, hal itu bukan perkara sulit. Masalahnya, bagaimana memastikan bahwa ia akan baik-baik saja di rumahnya?"

"Malam ini Naruto mengajak Sasuke menginap di rumahnya. Tapi, aku meragukan bahwa niat baik Naruto akan diterima dengan baik."

"Oleh Sasuke?" tanya Kakashi.

"Bukan. Oleh ayah angkatnya."

Kakashi tak bersuara lagi. Ia mengerti keraguan dan kekhawatiran Iruka. Sangat mengerti.***


Sepanjang hidupnya, Sasuke terbiasa menikmati segala yang terbaik. Termasuk makanan, ia hanya memakan hidangan paling lezat dan paling bergizi.

Namun, dalam pengalaman menginap di rumah orang lain untuk pertama kali baginya, Sasuke baru kali ini merasakan sup yang rasanya mirip jamu, ayam panggang yang hangus di bagian luar namun juga masih mentah di bagian dalam, serta jus jeruk yang terlalu asam sehingga lambungnya terasa agak perih. Sebuah pengalaman berharga yang ia peroleh pada saat bertandang ke rumah Naruto.

Sasuke melirik Naruto dan Jiraiya yang makan dengan tenang. Diam-diam ia merasa kagum pada ayah dan anak itu, yang tidak berkomentar apa-apa mengenai masakan Tsunade. Ya, menghadapi ibu segalak Tsunade, Naruto ternyata bisa bersabar juga.

"Tambah jus-nya, Sasuke?" tanya Tsunade.

"Terima kasih, Tante. Ini sudah cukup," jawab Sasuke santun.

Naruto melirik Sasuke sambil menahan senyum. Siapapun mengetahui alasan Sasuke menolak tawaran Tsunade.

"Sasuke, kau sudah minta izin pada ayahmu sebelum menginap di sini, 'kan?" tanya Jiraiya.

"Eh, iya, Om," jawab Sasuke setengah berbohong. Ia teringat pada penolakan Orochimaru pada saat ia menelepon untuk meminta izin.

"Ah, baguslah. Kalau tidak, ayahmu bisa cemas."

Cemas? Barangkali memang iya. Namun, bukan karena mencemaskan keadaan Sasuke. Melainkan cemas karena hal lainnya….

"Orang tuamu baik, ya," kata Sasuke usai makan malam.

"Tentu saja. Makanya, sejak diadopsi tiga tahun lalu, badanku semakin gemuk saja. Nih, lihat," balas Naruto lalu menggembungkan pipinya. Ia jadi tampak lebih lucu daripada biasanya.

Dengan kualitas makanan seperti itu saja kau bisa menjadi gemuk, Dobe. Bagaimana jika kau mendapatkan asupan makanan yang lebih baik, pikir Sasuke geli.

Di kamar Naruto, Sasuke mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian yang dipinjamkan oleh Naruto. Sekarang belum jam tidur, jadi Naruto dan Sasuke mengisi waktu dengan menonton TV sambil berbincang.

"Sebenarnya, kenapa sih, kamu bisa senekad itu? Tadi aku benar-benar takut," tanya Naruto saat merasa bahwa suasana hati Sasuke sudah lebih baik sehingga dapat diajak bicara.

"Hn. Aku hanya… sedang galau," jawab Sasuke enggan.

"Galau karena…?" tanya Naruto, hati-hati namun mendesak.

"Ah, sudahlah. Aku sedang tak ingin membicarakannya. Oke?"

"Aku hanya ingin membantumu. Kumohon, ceritakan saja padaku."

"Dobe, aku sedang tidak ingin membicarakannya. Harus aku ulangi berapa kali, sih?"

Naruto mengangkat tangan. Mengalah. Suasana hati Sasuke ternyata tidak sebaik perkiraannya. Mengorek informasi dari Sasuke sama saja dengan mengasah sebatang besi menjadi sebilah jarum. Membutuhkan waktu yang sangat, sangat lama dan—tentu saja—segunung kesabaran.

Seseorang mengetuk pintu kamar Naruto dari luar. Dari nada ketukannya, tampaknya si pengetuk sedang terburu-buru.

Ternyata Tsunade. Ia memandang Sasuke dengan serius dan agak cemas.

"Ayahmu datang untuk menjemputmu."

Naruto memandang Sasuke, minta penjelasan. Yang dipandang tampak tegang, tidak tahu harus menjawab apa.***


Seperti biasa, Penjara Konoha tampak lengang dan hanya diterangi cahaya seperlunya. Para penghuninya sudah memasuki sel masing-masing, tak terkecuali Itachi dan Kisame. Dua narapidana yang baru enam bulan ini ditempatkan dalam satu sel tersebut kini sedang berbaring di ranjang susun mereka. Itachi berbaring di ranjang atas, mencoba tidur.

"Itachi, kau sudah tidur?"

Itachi membuka matanya. Ia memang tidak bisa tidur secepat orang lain sekalipun sudah rebah sejak sejam yang lalu. Apalagi, suasana di Penjara Konoha memang tidak mendukung agar seseorang dapat tidur dengan nyenyak.

"Ada apa, Kisame?"

"Ada yang hendak aku katakan padamu. Sesuatu yang… penting."

Nada bicara Kisame yang terdengar serius membuat Itachi melongok pada Kisame.

"Aku sudah lama sekali ingin mengatakan hal ini padamu. Sejak kita untuk pertama kali ditempatkan di dalam sel yang sama," cetus Kisame. Ia bangun dan duduk bersandar pada dinding sel yang dingin.

"Ya….?" Itachi menunggu dengan sabar sekaligus penasaran.

"Ini mengenai…."

"Hoshigaki! Uchiha! Tidur!"

Perintah dari seorang penjaga membuat Kisame dan Itachi terpaksa memutuskan pembicaraan mereka. Namun, bukan berarti rasa penasaran Itachi ikut raib bersamaan dengan raibnya kelanjutan pembicaraan tersebut….***

Naruto sering melihat ibunya marah, tapi hampir tidak pernah melihat ayahnya murka. Barangkali bahkan tidak pernah, hingga malam ini….

Wajah Jiraiya masih agak merah meskipun kejadian yang membuatnya marah telah berlalu hampir sejam yang lalu. Napasnya sudah lebih teratur, namun Naruto masih khawatir jika ayahnya dapat saja membunuh orang dengan kemarahan yang mengerikan seperti itu. Naruto tak menyangka bahwa seseorang seperti Orochimaru—yang menurut Jiraiya sendiri adalah orang aneh tapi tidak jahat—dapat membuat Jiraiya bereaksi sekeras itu.

Di sebelah Jiraiya, Tsunade ikut duduk sambil mengusap-usap punggung suaminya. Ia melirik Naruto, lalu mengisyaratkan agar anak angkat mereka tersebut kembali ke kamarnya.

Naruto bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan ruang tengah.

"Naruto…." cetus Jiraiya.

Naruto berbalik. Menunggu.

"Sebenarnya Papa agak terkejut pada saat kau membawa Sasuke ke sini. Tapi tentu saja Papa dan Mama tidak dapat melarang dia menginap di sini. Dan sekarang… Papa kira, kau tidak perlu lagi mendekati Sasuke. Setelah apa yang Orochimaru telah ucapkan pada Papa dan Mama, kami pikir sudah seharusnya kau menjaga jarak dengan Sasuke. Benar-benarmenjagajarak. Kau mengerti?"

Naruto tertegun. Setelah agak lama, akhirnya ia mengangguk pelan.

Orochimaru—seseorang yang sudah bertahun-tahun tak bertemu dengan Jiraiya dan Tsunade—barangkali memang sejenis manusia yang suka merusak ketenangan orang lain. Ia mengunjungi rumah Jiraiya dan Tsunade dengan alasan hendak menjemput Sasuke. Namun, bukan hanya itu yang ia lakukan. Orochimaru mengatakan sesuatu yang membuat Jiraiya tersinggung dan murka. Sesuatu yang buruk mengenai keluarganya.

"Kau selalu salah memilih, Jiraiya. Dulu kau lebih memilih cintamu pada Tsunade daripada meraih apa yang menjadi impian kebanyakan pria : kejayaan dan kemasyhuran. Kini, setelah bertahun-tahun, kau masih juga melakukan kesalahan yang sama. Mengadopsi anak yang salah. Apa yang ada dalam pikiranmu sehingga kau memungut Naruto? Kau punya potensi yang sangat besar, namun kau sia-siakan demi sampah yang kau sebut sebagai cinta!"

Jika tidak dicegah oleh Tsunade, Jiraiya pasti sudah menghajar Orochimaru hingga tak dapat berjalan lagi. Atau barangkali, melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi. Entahlah. Namun Jiraiya sudah berada di ambang kesabarannya untuk membiarkan Orochimaru berbicara seenaknya.

Naruto menghela napas berat. Lalu berjalan kembali ke kamarnya. Ia tahu, ia sudah tak dapat menangani masalah ini seorang diri lagi. Bahkan kedua gurunya di sekolah pun tentunya tidak dapat berbuat banyak jika masalah Sasuke sudah ikut mengganggu ketenangan keluarga baru Naruto.

Naruto merasa berada di jalan buntu. Padahal, ia baru saja setengah jalan.***


Kakashi bergidik. Sedikit ngeri melihat tingkah Iruka yang meninju pintu ruang guru dengan keras. Melampiaskan kekesalannya usai pertemuan dengan Kepala Sekolah yang berjalan tidak sesuai harapan.

"Hei, tenanglah…." Kakashi mencoba membujuk, meskipun bujukan itu dihiasi keraguan.

"Kita sudah salah langkah. Orochimaru berada satu langkah di depan kita. Sekarang, kitalah yang mendapatkan peringatan dari Kepala Sekolah. Kitalah yang menjadi tertuduh!" sergah Iruka, masih dengan kekesalan yang juga dibumbui dengan kepanikan.

"Ya, aku tahu itu…. Oleh sebab itu, kita harus tetap tenang. Jangan sampai persoalan ini menjadi semakin runyam hanya karena kita tak mampu berpikir jernih dan bertindak gegabah seperti apa yang sudah aku lakukan di rumah Orochimaru. Oke?" balas Kakashi, berusaha agar tetap terdengar tenang.

Iruka mendengus, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi di balik meja kerjanya. Kakashi menawarinya minum, tapi Iruka menolak dengan isyarat tangannya. Kakashi akhirnya hanya meletakkan gelas berisi air tersebut di meja Iruka.

Situasinya memang semakin runyam. Orochimaru ternyata telah menemui Kepala Sekolah Sarutobi dan menuduh Kakashi dan Iruka telah menekan Kabuto di rumahnya sendiri. Orochimaru keberatan dengan ulah Kakashi dan Iruka yang dianggapnya terlalu ikut campur urusan keluarganya. Lagipula, menurut Orochimaru, Sasuke saat ini sedang ditangani oleh psikiater yang profesional. Sehingga, penanganan masalah yang dihadapi oleh Sasuke sudah berada di tangan yang tepat tanpa perlu dibantu oleh dua orang guru yang sok tahu.

"Tapi kemarin terjadi insiden di sekolah ini. Sasuke nyaris melompat dari atap gedung," sergah Kakashi pada Kepala Sekolah.

"Selain Sasuke, saksi yang melihatnya hanyalah Naruto. Sasuke sendiri sudah menyangkal usaha bunuh dirinya. Sementara Naruto… kita semua tahu bahwa dia adalah pembuat onar. Apakah kesaksiannya bisa dipercaya?"

Kedua alis Iruka terangkat. Ia tidak terima jika murid kesayangannya dianggap pembohong. Sebelum ia sempat bersuara, Kakashi meliriknya dengan tajam. Memintanya agar diam demi mencegah perdebatan keras dengan Kepala Sekolah. Iruka mendengus, membiarkan Kakashi yang berbicara.

"Begini, Pak…."

Kepala Sekolah mengangkat tangan, tanda tak ingin mendengarkan lagi.

"Aku tak menyukai adanya masalah baru di sekolah ini. Disorot karena memiliki murid yang pernah mencoba bunuh diri saja sudah sangat berat bagi sekolah ini. Jadi, tolong jangan ditambahi lagi. Mengerti?"

Tapi Iruka—juga Kakashi—tentu saja tidak akan mau mengerti. Sebab, mereka yakin bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada 'sekadar' insiden bunuh diri Sasuke Uchiha.***


Kehidupan di sekolah berjalan normal dan lancar. Naruto kembali menjadi anak yang jahil dan menjadi 'bintang' di kelasnya. Sementara Kakashi dan Iruka menjadi dua guru populer yang kembali melaksanakan tugas layaknya kebanyakan guru : hanya menjadi pendidik di sekolah tanpa perlu mengetahui bagaimana keadaan murid-murid mereka di luar sekolah.

Lalu… bagaimana dengan Sasuke?

Orochimaru ternyata menepati semua kata-katanya yang berkenaan dengan Sasuke. Sasuke sudah ditangani oleh seorang psikiater yang diharapkan dapat membantunya mengatasi kecenderungan bunuh diri yang diidap oleh Sasuke. Juga, seolah menampik 'tudingan' Kakashi di depan Kabuto, Orochimaru membiarkan Sasuke terlibat dalam penanganan perusahaan keluarga yang diwarisinya.

Sibuk dan sibuk.

Itulah diri Sasuke saat ini. Ia kini menjadi lebih sering membolos. Naruto sebenarnya agak kecewa karena kini jarang melihatnya. Namun, di sisi lain ia juga berharap bahwa kesibukan Sasuke saat ini akan mengalihkan pikirannya dari tindakan bunuh diri. Dan, tampaknya memang seperti itulah yang terjadi.

Untuk sementara, insiden di atap sekolah menjadi terlupakan. Atau, sebagian orang hanya berpura-pura melupakannya.***


Penjara Konoha. Siang hari yang terik. Namun, hati Itachi terasa sangat sejuk. Harapan mulai tumbuh dalam dirinya setelah sekian lama terkubur.

Ia baru saja menerima pemberitahuan bahwa permohonannya untuk menjalani sidang pembebasan bersyarat, telah dikabulkan. Jika semuanya lancar, tak lama lagi ia akan mengikuti sidang tersebut dan berharap semoga keberuntungan berpihak padanya.

Jika permohonan pembebasan bersyaratnya dikabulkan, ia akan segera bebas dari penjara ini.

Itachi sungguh berharap bahwa hal itu akan menjadi kenyataan. Oleh sebab itu, saat Naruto datang membesuknya, bibirnya menyunggingkan senyuman lebar. Senyuman yang segera memudar saat Naruto menceritakan insiden di atap gedung sekolah dan di rumah Naruto.

"Maaf, Kak itachi. Tapi, sepertinya saya tidak bisa lagi menjaga Sasuke seperti permintaan Kak Itachi tempo hari. Saya tidak sanggup menghadapi ayah angkatnya."

Itachi menghembuskan napas berat.

"Tidak apa-apa, Naruto. Aku berterima kasih atas usahamu. Kau memang teman yang dapat diandalkan. Seharusnya Sasuke lebih sering bergaul denganmu daripada dengan keluarga barunya."

"Sasuke akan baik-baik saja dengan kesibukan barunya. Aku yakin," hibur Naruto.

"Ya, semoga seperti itulah adanya…."

Ucapan Itachi terpotong oleh suara bentakan dari bilik yang tak jauh dari tempatnya menerima Naruto. Lalu terdengar bentakan lain dari seorang penjaga, menegur narapidana yang membuat keributan tersebut.

"Hoshigaki!"

Itachi tersentak. Kisame ternyata mempunyai orang yang mau menjenguknya. Padahal selama ini ia selalu mengaku sendirian….

Suasana kembali tenang. Suara Kisame yang sebelumnya terdengar marah, kini tak terdengar lagi. Tentunya ia sudah merendahkan suaranya agar tak diperintahkan segera meninggalkan ruang besuk.

Itachi dan Naruto masih membicarakan Sasuke hingga waktu mereka habis. Naruto akhirnya meninggalkan ruang besuk, sementara Itachi bersiap kembali ke dalam selnya. Tak berapa lama, Kisame juga tampak berdiri dari duduknya. Pada saat itulah Itachi sempat melihat sosok yang membesuk Kisame. Sosok yang membuat Itachi berpikir.

Rasanya aku pernah melihat orang ini. Tapi kapan dan di mana?

"Itachi," tegur Kisame, membuyarkan pikiran Itachi mengenai orang yang membesuk Kisame. Namun, Itachi dengan segera dapat memahami pula bahwa saat ini Kisame pasti sedang memikirkan sesuatu. Raut wajahnya yang keras dan menyeramkan tak dapat menyembunyikan emosi Kisame yang senantiasa siap meledak.

Mereka melewati beberapa pintu berjeruji dan berjalan cukup jauh sebelum sampai di blok sel mereka. Berjalan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Setelah memasuki sel mereka, Kisame secara tiba-tiba memojokkkan Itachi ke salah satu sudut. Itachi yang terkejut, tak sempat mengelak atau melawan. Kisame menekan lalu leher Itachi dengan lengannya sehingga Itachi tercekik. Posisi Itachi semakin tidak menguntungkan karena lengan Kisame yang satunya lagi menahan kedua tangan Itachi dengan kuat, sementara satu kakinya mengunci kaki Itachi. Itachi kini tak dapat melepaskan diri.

"Itachi, maafkan aku. Seharusnyaakusudahmembunuhmusejakenambulanyanglalu," bisik Kisame. Lirih namun tetap menusuk.

Itachi tak dapat membalas kata-kata Kisame. Bukan hanya karena lehernya tercekik, melainkan juga karena ia terlalu terkejut. Sangat terkejut.

Jadi, inikah yang hendak kau katakan selama ini, Kisame?***


TBC-uhuk-