Disclaimers: Kishimoto Masashi
Halaman SMA Konoha, pagi.
Sungguh, bagi Naruto, ini seperti di mimpi di siang bolong. Atau, seperti melihat Pak Iruka dengan kejam menyepak anjing jalanan. Atau, seperti melihat Pak Kakashi tiba-tiba bosan membaca IchaIchaParadise. Atau, melihat Choji yang tiba-tiba menolak makan dengan alasan diet. Atau… yah, hal yang seperti itulah. Intinya, Naruto melihat sesuatu yang tak biasa, bahkan mustahil terjadi, namun ternyata bisa terjadi juga.
Sasuke menyapa Naruto dengan wajah ceria!
"Hai! Selamat pagi, Dobe."
"Eh, selamat pagi…." Naruto membalas dengan canggung. Jika tidak khawatir akan menyinggung Sasuke, Naruto pasti sudah meraba kening Sasuke untuk mengukur suhu tubuhnya.
"Beberapa hari ini kita tidak bertemu, ya? Habis, aku sibuk sekali. Tapi karena sebentar lagi ujian akhir, aku akan lebih rajin masuk sekolah," celoteh Sasuke sambil merangkul bahu Naruto, mengajaknya masuk ke gedung sekolah.
Naruto bisa melihat bahwa tatapan semua orang kini mengarah pada mereka berdua. Tatapan mereka tampak lebih 'kejam' daripada tatapan mereka saat melihat Naruto mengakrabkan diri dengan Sasuke. Siapa pun yang mengenal Sasuke pasti akan terkejut melihat keramahan sikap Sasuke.
"Kau ceria sekali hari ini, Teme," kata Naruto hati-hati.
"Memangnya kenapa? Sekarang, bagiku semuanya sudah lebih hidup. Hubunganku dengan ayah dan kakak angkatku sudah membaik dan…" Sasuke tersenyum lebih lebar lagi, "kudengar bahwa Kak Itachi akan dibebaskan dalam waktu dekat. Jadi, hal apa lagi yang bisa membuatku sedih?"
Naruto merasa takjub mendengar kabar terakhir yang disebutkan oleh Sasuke. Ia balas merangkul Sasuke tanda ikut bersuka cita.
"Wah, bagus dong! Kau bisa berkumpul dengan kakakmu lagi!"
"Ya. Aku mendapat kabar bahwa Kak Itachi akan mendapatkan pembebasan bersyarat karena sudah menjalani lebih dari setengah masa hukumannya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, dia sudah dibebaskan."
Sasuke tampak sangat gembira dan bahagia pagi itu. Sehingga, pada saat Naruto mengajaknya menginap di rumahnya untuk menemaninya selama Jiraiya dan Tsunade berada di Suna, Sasuke langsung menyanggupi.
"Memangnya, orang tuamu ada keperluan apa di Suna?"
"Kerja. Ayahku mendapatkan pekerjaan di sana. Ibuku hanya menemaninya, mengurus keperluannya lalu kembali ke sini lagi."
"Bukankah ayahmu menulis novel mesum eh, laris dan kalian memiliki usaha penginapan?"
"Ayah tidak akan menulis novel itu lagi dan penginapan keluarga kami barangkali akan ditutup," jawab Naruto tenang.
Sasuke tertegun. Tampak menyesal sudah menanyakan hal itu pada Naruto.***
Itachi meraba lehernya yang semalam sempat tercekik, kemudian melirik Kisame yang berada tak jauh darinya. Teman satu selnya tersebut sedang memilih buku di salah satu rak. Dari raut wajahnya, Kisame tampak tenang. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Itachi.
Padahal, semalam, Kisame baru saja menyakiti tubuh Itachi dan mengejutkan pemuda itu.
"A-a-apa?" tanya Itachi, kesulitan berbicara karena lehernya tercekik.
"Aku hanya bisa mengatakan hal ini, karena hanya itu yang aku ketahui."
"J-jadi kau akan membunuhku?"
Kisame tiba-tiba melepaskan Itachi. Itachi langsung jatuh terduduk sambil terbatuk dan memegang lehernya.
"Kalau aku memang mau melakukannya, aku sudah melakukannya sejak enam bulan yang lalu. Tapi, sampai sekarang kau masih hidup, bukan?"tutur Kisame, lalu merebahkan diri di ranjang.
Itachi berdiri sambil menatap rekan satu selnya yang berwajah buruk tersebut dengan rasa was-was, agak takut, heran dan curiga. Ia mengambil jarak lebih jauh lagi meskipun tak sampai ke luar sel. Ia tahu, Kisame belum selesai bicara.
"Sebut saja, ada seseorang yang membayarku untuk membunuhmu. Kupikir dia juga yang mengatur agar kita ditempatkan di dalam sel yang sama. Tapi… sudah enam bulan ini aku selalu menundanya," lanjut Kisame.
"Mengapa? Mengapa kau tidak juga membunuhku?"
"Aku punya alasan sendiri yang tidak perlu kau ketahui."
Jika Itachi hingga kini masih ragu—jika tidak bisa disebut agak takut—mendekati Kisame, ia yakin bahwa perasaan itu adalah hal yang wajar. Itachi juga tidak melaporkan insiden di dalam sel mereka semalam, karena ia juga memiliki satu alasan. Ia menginginkan sebuah 'pertukaran'.
Maka, dengan hati-hati, Itachi mendekati Kisame. Kisame langsung paham bahwa Itachi menginginkan sesuatu darinya.
"Jangan mengharapkan informasi lebih dariku. Aku sudah mempertaruhkan leherku sendiri dengan menolak membunuhmu," kata Kisame sebelum Itachi sempat bertanya.
"Jika kau tidak mau aku melaporkan insiden semalam, berilah satu informasi lagi. Aku janji, apapun yang aku dengar darimu, tidak akan membuatmu terlibat dalam kesulitan," balas Itachi dengan nada mengancam.
Kisame bersikap menunggu pertanyaan Itachi.
"Siapa orang yang menyuruhmu untuk membunuhku?' tanya Itachi dengan nada suara sangat rendah namun cukup jelas.
"Danzou. Kurasa nama itu tidak asing bagimu," jawab Kisame sambil tersenyum licik.
Itachi terperangah. Ia benar-benar tak menyangka.***
Di ruang guru SMA Konoha, saat pulang sekolah.
Iruka menutup telepon, lalu bergegas membereskan mejanya. Ia demikian terburu-buru hingga Kakashi terheran-heran.
"Ada apa, Iruka? Kau ada janji mendadak?"
"Yah, sepertinya begitu. Saya permisi dulu," balas Iruka, agak gelisah. Kemudian, pemilik wajah ramah tersebut bergegas menuju ke pintu.
Kakashi hendak bertanya lagi, namun urung. Ia hanya memandang kepergian Iruka, mengangkat bahu, lalu kembali menekuni berkas-berkas di mejanya. Kakashi tak menyadari bahwa itulah saat terakhir ia melihat Iruka dalam keadaan sehat tak kurang apapun.***
Naruto berdecak kesal. SMS yang ia kirimkan ke HP Sasuke hingga kini belum dibalas oleh yang bersangkutan. Apakah ini pertanda bahwa Sasuke menolak kedatangannya ke rumah Orochimaru yang megah itu? Juga, menolak untuk ia jemput sore itu?
Naruto sebenarnya tak yakin bahwa kedatangannya ke rumah Orochimaru kali ini akan mendapatkan sambutan yang berbeda dibandingkan dengan sambutan sebelumnya. Namun berbekal pernyataan kesanggupan dari Sasuke, ia merasa lebih percaya diri.
Maka, setelah menarik napas dalam, Naruto menekan bel di pintu masuk. Berharap bahwa Sasuke-lah yang akan membukakan pintu. Bukan Kabuto, apalagi Orochimaru….
Tapi, setelah menunggu sekian lama, tetap saja tidak ada tanggapan. Dengan sabar, Naruto menekan bel sekali lagi.
Pintu akhirnya dibuka dari dalam. Namun, bukan Sasuke yang membukanya, melainkan seorang pria yang sama sekali asing bagi Naruto. Pria berambut abu-abu itu menatap Naruto dengan tatapan menganggap remeh. Seulas senyuman aneh tersungging di bibirnya. Pongah.
"Saya Naruto, teman sekolah Te… eh, Sasuke. Sudah ada janji mau menjemput Sasuke untuk menginap di rumah saya," cetus Naruto memberanikan diri.
Pria berambut abu-abu itu tidak sempat menanggapi pernyataan Naruto. Sebab, dari dalam terdengar seseorang bertanya, "siapa, Hidan?"
"Teman sekolah Sasuke," jawab pria yang ternyata bernama Hidan tersebut.
Tak lama kemudian, sosok Kabuto muncul dengan hanya mengenakan jubah mandi. Rambutnya basah karena baru saja mandi. Rupanya, dialah yang bertanya sebelumnya.
"Oh, kau, Naruto? Sayang sekali, Sasuke tidak bisa pergi bersamamu. Baru saja orang-orang dari perusahaan keluarganya menjemputnya. Katanya, ada pertemuan mendadak," jelas Kabuto diikuti senyumannya yang ramah.
Naruto tercengang. Ia yakin, Sasuke tak mungkin secepat itu berubah pikiran dan mengubah keputusannya.
"Tapi…."
"Dobe…."
Ucapan Naruto terpotong oleh suara seseorang yang memanggilnya dari dalam rumah. Suara itu cukup keras, namun parau dan terdengar lelah. Sangat lelah.
"Itu tadi… suara Sasuke, 'kan?" tanya Naruto. Meskipun ia tak yakin bahwa suara itu adalah suara Sasuke, namun di dunia ini, hanya Sasuke yang memanggilnya dengan sebutan 'Dobe'.
Kabuto melirik Hidan. Kedua pria muda itu tampak sedikit panik.
"Kurasa, sudah waktunya kau pergi, Naruto. Aku tidak bermaksud mengusirmu, tapi saat ini aku dan Hidan hendak ke luar rumah," kata Kabuto, menutupi kepanikannya dengan senyuman yang dipaksakan.
"Uhm, baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Naruto, berusaha tampak biasa saja.
Naruto berbalik dan meninggalkan kediaman Orochimaru. Kabuto dan Hidan mengawasinya pergi dengan mengayuh sepedanya.
Namun, Naruto ternyata tidak sebodoh perkiraan orang-orang yang mengenalnya….***
Kakashi membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang. Tampaknya, ia menjadi orang terakhir yang masih bertahan di sekolah. Para siswa dan para guru lainnya sudah meninggalkan sekolah sejak tadi.
"Sayang sekali Iruka sudah pulang duluan. Padahal aku ingin mengajaknya minum-minum dulu," gumamnya sambil berjalan menyusuri selasar sekolah.
Mengurusi Sasuke membuat kedua guru muda itu akhir-akhir ini menjadi lebih dekat. Kakashi sebenarnya sedikit 'kecewa' pada saat keadaan Sasuke mulai membaik seperti saat ini. Sebab, ia jadi tak punya alasan untuk menjadi lebih dekat dengan guru kesayangan seluruh siswa di SMA Konoha tersebut.
Kakashi tersenyum tipis saat mengingat betapa kesalnya Iruka saat Kepala Sekolah menolak mengusut upaya bunuh diri Sasuke dan menuduh Naruto berbohong mengenai upaya bunuh diri tersebut. Ia menyadari bahwa rasa sayang Iruka terhadap murid-muridnya barangkali adalah rasa sayang yang paling kuat yang dapat dimiliki oleh seorang guru di SMA Konoha.
Kakashi sudah berjalan sampai di ujung selasar saat HP-nya berbunyi. Ia mengerutkan kening saat melihat nomor asing yang tertera di layar HP.
"Saya Yamato, dari Kepolisian Kota Konoha. Apakah Anda adalah Hatake Kakashi?" tanya suara di seberang setelah Kakashi mengucapkan salam.
"Ya. Ada apa ya, Pak?"
"Apakah Anda mengenal Umino Iruka?"
"Ya. Dia adalah rekan kerja saya, sesama guru di SMA Konoha," jawab Kakashi was-was.
"Kami menghubungi Anda karena nomor HP Anda adalah nomor yang paling sering dihubungi menggunakan HP Pak Iruka. Jika Anda mengenal keluarga atau kerabatnya, apakah Anda bisa memberitahukan pada kami?"
"Iruka hidup sebatang kara sejak kecil. Maaf, Pak Yamato. Kalau boleh tahu, ada apa dengan teman saya? Apakah dia berada dalam kesulitan?"
"Maaf, saya tidak mengatakan sebelumnya. Saat ini Pak Umino sedang dirawat di UGD Rumah Sakit Konoha. Luka-lukanya sangat parah. Jika Anda bisa…."
Kakashi tak menyimak lagi kata-kata polisi yang menelepon tersebut. Dengan cemas sekaligus panik, ia berlari menuju ke tempat parkir mobil. Tak mau menyia-nyiakan waktu.***
HP Sasuke berdering cukup nyaring. Dengan tertatih-tatih, Sasuke berjalan menghampiri meja belajar dan memungut HP tersebut. Ia meringis menahan sakit sebelum menjawab panggilan.
"Sasuke! Kau ada di rumahmu, 'kan?" sergah Naruto setelah Sasuke mengucapkan salam, "kau baik-baik saja? Tadi kudengar suaramu begitu… aneh."
"Kurasa aku tidak bisa ke rumahmu, Dobe. Aku…."
"Omong kosong! Katakan, apa yang terjadi padamu?"
"Dobe, aku…."
"Cukup! Apa saat ini kau sendirian di rumah? Kudengar kakakmu dan orang yang satunya lagi mau ke luar rumah."
"Ya, aku sendirian…."
"Bagus. Kalau begitu, aku ke rumahmu sekarang. Malam ini banyak yang harus kita bicarakan. Jika kau menolak bicara, aku akan memaksamu!"
Telepon ditutup dari seberang. Sasuke menghembuskan napas berat dan tertunduk.
"Naruto… mengapa kau sangat peduli padaku?" bisiknya lirih.***
Perpustakaan penjara—seperti biasa—tampak lengang. Hanya ada seorang narapidana dan dua orang penjaga yang tampak sedang membaca buku. Sementara Itachi hanya duduk di balik mejanya. Merenung.
Ia tidak tahu banyak mengenai Danzou kecuali fakta bahwa Danzou dahulu adalah anak buah kakek Itachi, Madara, pada saat Uchiha Enterprise didirikan. Kemudian, Danzou keluar dari perusahaan keluarga Uchiha tersebut dan jejaknya seolah hilang begitu saja. Itachi tak tahu apa-apa lagi mengenai Danzou.
Dan kini ia berniat membunuhku dengan menggunakan tangan Kisame, pikir Itachi geram.
Jangan-jangan, dia juga bertanggung jawab atas kematian seluruh keluargaku, pikir Itachi lagi. Aku dihukum karena dianggap lalai saat mengemudi dan tidak memeriksa kondisi kendaraan sebelum berangkat sehingga menyebabkan banyak nyawa melayang. Tapi kata orang bernama Kakuzu itu….
Itachi tersentak. Saat memikirkan nama Kakuzu, Itachi tiba-tiba teringat sesuatu.
Kakuzu adalah orang yang mengantarkan bis yang disewa oleh keluarga Uchiha pada Itachi. Saat itu, pria yang baru pertama kali dilihat oleh Itachi tersebut mengatakan bahwa kondisi bis dalam keadaan baik sehingga Itachi tak memeriksa lagi.
Nyatanya, saat terjadi kecelakaan, bis ternyata tidak berada dalam kondisi baik. Penyelidikan menunjukkan bahwa rem bis blong karena terlalu panas akibat terlalu sering digunakan saat melalui jalanan yang memiliki banyak tanjakan dan turunan seperti jalanan menuju Suna. Masalahnya, Kakuzu mengklaim bahwa bis dan seluruh komponennya masih baru sehingga dapat meminimalisir kemungkinan rusaknya rem. Nyatanya, kecelakaan tetap saja terjadi.
Yang lebih memojokkan Itachi, Kakuzu menghilang setelah kecelakaan terjadi sehingga tak ada saksi yang dapat meringankan Itachi. Pihak perusahaan pemilik bis juga dinyatakan lalai, tapi hanya dihukum membayar ganti rugi pada korban selamat dan keluarga korban tewas. Sedangkan Itachi terpaksa menanggung sendirian hukuman dari kelalaian dirinya dan Kakuzu. Jika benar hal tersebut adalah kelalaian….
Namun, bukan hanya kesadaran Itachi atas tanggung jawab Kakuzu atas kecelakaan tersebut yang membuat Itachi tersentak. Ia juga baru menyadari bahwa orang yang kemarin membesuk Kisame adalah… Kakuzu!
Itachi bangkit dari duduknya, kemudian berlari meninggalkan perpustakaan. Tiga orang yang berada di perpustakaan hanya memandang kepergiannya dengan heran.
Aku harus bertanya lebih banyak pada Kisame, pikir Itachi. Jika memang Kakuzu berhubungan dengan kecelakaan tersebut sekaligus berhubungan dengan rencana Danzou membunuhku, maka itu berarti… Sasuke juga berada dalam bahaya!
Rahang Itachi mengeras saat mengingat adiknya. Ia harus bertindak secepatnya!***
Kakashi memandang ke balik kaca jendela ruang UGD dengan perasaan campur aduk. Di sana, Iruka terbaring dalam keadaan mengenaskan dan tak sadarkan diri. Kata dokter, ia mengalami patah tulang di enam bagian tubuhnya dan gegar otak serius akibat benturan keras. Beruntung ia cepat ditolong sehingga tak sampai kehilangan banyak darah yang dapat menambah parah kondisinya.
"Menurut saksi mata, dia ditabrak oleh sebuah sedan berkecepatan tinggi saat terburu-buru hendak memasuki mobilnya di Jalan Senju. Sedan itu langsung melarikan diri, tapi kami menduga bahwa insiden ini bukanlah kasus tabrak lari biasa," cetus seorang pria yang berdiri di sebelah Kakashi.
Kakashi menoleh pada pria tersebut. Menatapnya tak mengerti.
"Sebelum ditabrak, Pak Umino terlihat menemui seorang pria tidak dikenal dan terlibat dalam pembicaraan serius di depan sebuah toko peralatan memancing. Pada saat hendak kembali ke dalam mobilnya itulah Pak Umino ditabrak oleh sedan itu. Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa sedan itu sempat parkir tak jauh dari mobil Pak Umino dan pengendaranya tak sekalipun ke luar dari dalam mobilnya. Ada kemungkinan bahwa Pak Umino memang sudah diincar sejak awal," lanjut pria tersebut.
Di dalam ruang UGD, seorang perawat menarik tirai, menutup kesempatan Kakashi untuk melihat keadaan Iruka lebih lama lagi. Yamato mengajak Kakashi menyusuri selasar rumah sakit sambil bertanya lebih lanjut.
"Jadi… jika ada sesuatu hal—apa saja—yang dapat membantu penyelidikan kami, dapatkah Anda mengatakan pada kami, Pak Hatake?"
"Tentu saja, Pak Yamato. Saya siap membantu agar orang yang bertanggung jawab atas insiden ini dapat ditemukan."
"Ah ya, apakah Anda mengenal seseorang bernama Mizuki?"
"Mizuki? Maaf, saya tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Jika boleh tahu, apa hubungan orang ini dengan kecelakaan yang menimpa rekan kerja saya?""
"Orang bernama Mizuki ini, berdasarkan daftar riwayat panggilan di HP Pak Umino, empat kali menghubungi Pak Umino hanya dalam waktu satu jam. Pembicaraan terakhir dilakukan dua jam sebelum insiden terjadi. Kami tidak punya bukti yang bisa mengaitkan dia dengan insiden ini. Tapi jika ada yang Anda ingat mengenai kondisi Pak Umino saat terakhir kali melihatnya, Anda bisa mengatakannya pada kami."
"Ya…. Memang ada yang tidak biasa. Iruka memang pergi terburu-buru setelah menerima telepon. Tapi hanya itu yang saya lihat."
Seorang polisi berseragam menghampiri Yamato. Yamato mengisyaratkan agar Kakashi menunggunya sementara ia berbicara dengan polisi tersebut. Kakashi hanya mengangguk dan menunggu dengan sabar hingga Yamato selesai berbicara dengan polisi tersebut.
"Pak Hatake, terima kasih atas bantuannya," kata Yamato sambil memberikan kartu namanya, "jika ada hal lain yang Anda ingat atau hal yang kira-kira dapat membantu pengungkapan kasus ini, jangan ragu menghubungi kami."
"Baik. Saya sangat berharap bahwa Anda melakukan yang terbaik untuk menolong teman saya."
Yamato berlalu bersama polisi berseragam tersebut. Kakashi membaca nama yang tertera di kartu tersebut, lalu bergumam, "Yamato Tenzou…. Nama yang tidak biasa."
HP Kakashi berbunyi, menghentakkan pria beruban itu. Ternyata dari Naruto.
"Ah, Naruto! Sejak tadi aku berusaha meneleponmu, tapi kau tidak menjawabnya."
"Maaf, Pak Kakashi, saat ini saya sedang bersama Sasuke di rumah saya. Saya tidak mendengar panggilan dari Pak Kakashi karena…."
"Naruto, kuharap kau ke rumah sakit saat ini juga," potong Kakashi cepat.***
Kamar Naruto. Malam hari.
Naruto memutuskan pembicaraan, lalu menoleh pada Sasuke yang sedang duduk di sebuah kursi. Wajah Naruto pucat karena panik.
"Gawat! Pak Iruka masuk rumah sakit karena ditabrak mobil. Kita harus segera ke sana untuk menjenguknya. Oh ya, aku harus menghubungi teman-teman kita juga dan…." celoteh Naruto cepat dengan tubuh agak gemetar.
Naruto menjadi sangat sibuk karena terlalu panik. Napasnya menjadi tidak beraturan. Ia menyambar jaketnya, namun tidak dikenakan. Malah, ia mencoba menelepon saat mencoba membuka pintu kamar. Kemudian saat menyadari bahwa ia tak memakai sepatu, ia menyambar sepatunya, namun tak ia kenakan. Sebaliknya, sepatu itu nyaris ia tempelkan di telinganya….
"Naruto… Naruto, tenanglah," kata Sasuke, bingung melihat kepanikan Naruto.
Tapi Naruto masih terus bergerak tanpa henti. Kebingungan menentukan apa yang harus ia kerjakan lebih dulu.
"Naruto!" sergah Sasuke setengah berteriak.
Berhasil. Naruto berhenti bergerak tak tentu dan memandang Sasuke masih dengan wajah kebingungan. Sasuke lalu memintanya duduk. Naruto menurut. Ia tertunduk di tepi ranjang, mengatur napas.
"Tenanglah…. Kita ke rumah sakit bersama-sama, tapi kuharap kau tenang dulu," kata Sasuke sambil mengusap punggung Naruto.
Naruto memandang Sasuke, lalu tersenyum getir.
"Kok jadi kamu yang menenangkan aku ya? Padahal aku membawamu ke sini untuk menenangkanmu," kata Naruto tertawa miris, "ternyata kita berdua sama saja ya? Emosi kita naik turun, mudah berubah dengan cepat."
"Menenangkan aku?"
"Jangan menutup-nutupinya, Teme! Katakan, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Selama ini aku, Pak Kakashi dan Pak Iruka sudah cukup bersabar padamu. Kami membiarkanmu diam hanya karena khawatir kamu akan mencelakai dirimu sendiri lagi. Tapi tidak kali ini. Kamu harus bicara, Teme!"
Sasuke menatap Naruto. Tangannya terkepal dan mulutnya terkunci rapat-rapat. Seperti menahan kata-kata yang telah siap ia keluarkan.
"Kenapa kau peduli padaku, Dobe? Apa untungnya bagimu mengurusi aku?" tanya Sasuke agak bergetar.
"Masih bertanya lagi? Aku ini temanmu, Teme!" bentak Naruto kesal.
Sasuke membuang muka. Bertahan.
Kemudian, dengan lirih, Naruto melanjutkan, "kau tahu mengapa aku peduli padamu? Penyebabnya adalah karena aku iri padamu. Sangat iri."
Sasuke menoleh dan menatap Naruto. Tercengang. Berharap bahwa ia telah salah dengar.***
Kakashi duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan gelisah. Mengapa Naruto belum datang juga? Kakashi sudah terlalu lama menunggu, namun ia juga tak tega meninggalkan Iruka sendirian. Jika Naruto telah tiba, tentunya ia bisa berunding dengan bocah itu mengenai langkah mereka selanjutnya setelah Iruka mengalami tabrak lari.
HP Kakashi berdering lagi. Kali ini Kakashi mengerutkan kening. Sebab, bukan Naruto yang meneleponnya.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Kakashi.
Dari seberang sana, Sasuke balas bertanya, "Pak Kakashi, bisakah Bapak ke kantor polisi sekarang juga?"
"Ada apa, Sasuke? Apa lagi yang menimpamu?" tanya Kakashi lagi. Curiga.
"Bukan saya, Pak. Naruto… dia ditahan oleh polisi."
Kakashi terbelalak karena sangat terkejut. Ya Tuhan, mengapa hari ini dipenuhi dengan berbagai kemalangan yang menimpa orang-orang terdekatnya?***
Sorry to say girls (and guys), but this chapter ends here ;)
TBC.
