Seorang pemuda berpakaian serba putih tengah berjalan di sebuah kastil yang cukup besar. Pemuda dengan pakaian yang terlihat cukup aneh dengan motif zig-zag berwarna merah pada atasannya yang tanpa lengan, dan pada ujung celana panjang putih yang dikenakannya juga terdapat motif zig-zag yang sama. Sarung tangan yang dipakainya memiliki lambang seperti mata udjat—atau simbol berbentuk mata yang mungkin kau temukan saat melihat relief Mesir Kuno, dan dia memakai syal tipis berwarna putih susu. Jika dilihat dari penampilannya, maka orang awam sekalipun akan tahu kalau dia adalah seorang penyihir.
Pemuda itu berhenti di salah satu ruangan, dan ia membuka lemari kaca berisi sebuah biola berwarna coklat kemerahan yang pada pinggirannya berhiaskan rantai yang terus terikat. Mata hijau pemuda itu menatap biola itu sejenak sebelum mengambilnya dan memulai untuk memainkannya.
Wajahnya nampak begitu tenang dan damai saat ia memainkan biola tersebut. Nada-nada indah mulai bergema ke seluruh penjuru kastil. Rambut hitam pekat pemuda berkulit pucat itupun berdesir setiap kali ia mempercepat gerakan tangannya menggesek busur biolanya.
Jauh dari kastil si pemuda berkulit pucat, Uryuu mengendarai motornya menembus hutan yang lebat. Sebetulnya dia bisa saja menembus kerimbunan hutan tersebut dengan kekuatannya. Tapi ia tak ingin menggunakannya, karena hal itu akan membahayakan dirinya sendiri.
'Svartalfer... aku pasti akan membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri!' ucapnya penuh tekad dalam hati.
Tiba-tiba Uryuu merasakan ada beberapa aura yang mengikutinya, dan aura itu bergerak sangat cepat seirama dengan kecepatan motornya. Pemuda berkacamata itupun menghentikan laju motornya, dan bersandar di dekat motornya. Mata birunya tertuju lurus ke arah semak-semak yang berada tak jauh darinya. Uryuu menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata dengan suara lantang.
"Hei kalian yang ada di sana... Keluarlah! Aku tahu kalau sedari tadi kalian mengikutiku!"
Tak lama kemudian, terdengar suara gemerisik dari balik semak-semak dan dari sana keluarlah beberapa ekor makhluk bertubuh besar berkulit hijau berwajah seram... Orc*. Uryuu berdecak pelan.
"Jadi," pemuda berkacamata itu memandang mereka dengan tatapan dingin. "Apa yang kalian mau dariku?" tanya Uryuu dengan gigi gemertak.
Mereka tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Uryuu. Dengan seringaian kejam terpampang di wajah, mereka mengeluarkan berbagai macam senjata tajam.
Sementara itu di kastil yang berada di pinggiran hutan... Sang penyihir tersentak kaget saat senar-senar biolanya beresonansi sendiri. Bunyi yang amat sangat mengganggu telinga. Sang penyihir memejamkan mata hijaunya perlahan dan bergumam pelan.
"Nampaknya... Garulu* terlibat masalah lagi."
Setelah berkata demikian, sang penyihir segera menyimpan biolanya dan bergegas pergi untuk menolong seseorang yang saat ini sedang dalam bahaya... Anggota terakhir dari Lycan Clan.
The Last Werewolf
Chapter 2 : Arullo
Disclaimer : Bleach bukan milik saya melainkan punya Tite Kubo sensei, saya hanya meminjam karakter-karakternya untuk kepentingan pembuatan fic ini. Setelah itu saya kembalikan ke pemilik asalnya. Lagu Awake juga bukan milik saya melainkan milik Secondhand Serenade.
Note : AU, maybe OOC, and sorry for language. (Rate sewaktu-waktu bisa berubah sesuai kondisi)
Yo-ho! The Last Werewolf update! Sumimasen kelamaan! Okey, selamat membaca ya! Don't Forget to Review!
Bunyi senjata yang saling beradu bergema ke segala penjuru hutan. Percikan bunga api yang ditimbulkan dari benturan senjata mereka menutupi pemandangan sekitar. Pemuda Quiscart itu berusaha keras untuk menaklukkan mereka dengan menggunakan Schneider-nya. Wajahnya yang biasanya tenang, kini nampak sangat menegang.
"Aku tak punya waktu untuk meladeni kalian! Minggir!" seru Uryuu marah seraya mengancam dengan senjatanya.
Salah seorang dari penyamun itu menyeringai menyebalkan dan berujar. "Kau mau lari? Permainan baru saja akan dimulai!"
Setelah berkata demikian, si penyamun yang bermata sipit itu menyerang Uryuu dengan kecepatan yang menakjubkan. Uryuu berusaha keras untuk mengimbanginya dengan cara menembaknya dengan bow gun perak miliknya, namun usahanya itu nihil. Selain karena penyamun yang lain turut menyerangnya, Uryuu tak memiliki kesempatan untuk menyerang balik mereka.
Tendangan Uryuu luput mengenai salah satu penyamun itu. Sebelum Uryuu melancarkan serangan berikutnya, ia sudah ditinju oleh penyamun yang lainnya. Terhuyung-huyung, Uryuu berusaha untuk mempertahankan lututnya agar tidak goyah dan membalas serangan penyamun yang tadi meninjunya. Tapi ia terlambat bereaksi, dan mendapatkan tendangan di kepalanya.
Tubuh Uryuu pun akhirnya ambruk ke tanah setelah dihajar oleh mereka berenam secara beruntun. Tawa para penyamun itu menggema ke seluruh penjuru hutan. Mereka merasa telah berhasil mempecundangi pemuda Quiscart itu.
"Ada apa, Quiscart? Tak mampu berdiri, haaahh?" ujar salah satu penyamun itu, Edrad Liones, sambil tersenyum mengejek. Kaki besarnya menginjak-injak punggung lebar Uryuu. Membuat pemuda bertubuh kurus itu terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Ternyata kau tidak berdaya melawan kami, kaaann? Ha ha ha!" Choe Neng Poww menimpali temannya dengan menertawakan Uryuu yang terkulai di tanah. Tangan kekarnya mengambil kacamata yang dikenakan oleh Uryuu dan meremukkannya. Choe menebar serpihan kacamata Uryuu di kepala pemuda berambut hitam berkilat kebiruan itu dibarengi tawa penuh ejekannya.
"Breng... sek!" Uryuu menggeram marah. "Kalian akan menyesal telah melecehkanku, makhluk rendahan..."
Tawa para penyamun itu terhenti seketika ketika mereka merasakan ada keganjilan pada Uryuu. Hawa pembunuh menyebar di udara, dan nafsu membunuh mulai menguasai akal sehat pemuda Quiscart itu. Kuku-kuku jarinya mulai memanjang dan mencakar tanah. Sementara itu, warna matanya pun berubah warna menjadi merah darah. Nampak sekali kalau dia sudah naik pitam.
Pemuda berambut hitam lurus itu berusaha untuk menegakkan tubuhnya dan melolong keras. Para penyamun itu terkejut bukan kepalang saat melihat perubahan sikap Uryuu, terlebih lagi ketika gigi Uryuu mulai berubah menjadi taring dan dia mengambil ancang-ancang untuk menyerang mereka.
"Ka... kau?" para penyamun itu tergagap ketakutan. "Kau bukan manusia?"
Uryuu menggeram marah, dan menerjang mereka dengan cakarnya. Para penyamun itu berusaha menghindar, dan menyerang Uryuu secara bersamaan. Uryuu menghindari tebasan pedang milik Nakeem dan membalas serangannya dengan cakarnya. Kulit Nakeem terkoyak dan menumpahkan darah segar ke tanah.
Uryuu menggeram lagi. Dia memang belum berubah ke bentuk sempurnanya sebagai werewolf, namun tetap saja keadaan seperti itu berbahaya. Keenam penyamun itu mengepung Uryuu dan mulai menyerangnya secara bersamaan.
Uryuu meraung marah. Tubuhnya ditahan oleh penyamun-penyamun itu, sementara mereka memukulinya tanpa ampun. Uryuu mulai kehilangan akal sehatnya. Dan secara perlahan... tubuhnya mulai diselimuti oleh rambut-rambut halus. Sebelum ia berubah sempurna menjadi wujud werewolf-nya, sebuah serangan telah menginterupsi mereka semua.
"Ashura Strike!" seru seorang wanita seraya menghantamkan tinjunya ke tanah. Gelombang tenaga dalam menyebar dan menghempaskan para penyamun itu ke segela penjuru.
Tubuh Uryuu pun ikut terhempas dan membentur pohon. Pemuda itu jatuh melorot ke tanah, tidak sadarkan diri. Gadis berpakaian ala petarung Shaolin berwarna putih itu mengedarkan mata hijau zamrudnya ke sekelilingnya, dan mendapati bahwa penyamun itu kini berancang-ancang untuk menyerangnya.
"Jadi, kau mau bermain-main dengan kami, Nona Sura*?" tanya Di Roy dengan nada penuh menghina.
Gadis berambut hitam berkepang itu tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Dia memasang kuda-kudanya dan bersiap untuk menyerang mereka.
"Majulah," ucapnya singkat tanpa ekspresi.
Nakeem berdecah keras, dan segera menerjang ke arah gadis itu dengan tinjunya. Gadis itu berkelit cepat dan membalas serangan Nakeem dengan tendangannya. Nakeem tersungkur di tanah dan pingsan. Tak terima dengan perlakuan gadis itu pada temannya, Di Roy dan kawan-kawannya menyerang gadis Sura itu secara bersamaan. Namun si gadis sudah mempersiapkan serangannya dan melancarkan jurusnya.
"Occult Impact!" serunya seraya menghempaskan tenaga dalamnya kepada para penyamun itu. Membuat mereka semua pingsan dengan serangannya.
Uryuu membuka matanya perlahan. Samar-samar... ia melihat sosok gadis berambut hitam berkepang bermata hijau sedang mengeluarkan tenaga dalamnya untuk mengobati lukanya. Uryuu mencoba bangkit dari tempatnya bersandar, tapi langsung dicegah oleh sang gadis Sura.
"Saya harap Anda bersabar. Anda tidak boleh bergerak selagi saya menyembuhkan luka-luka Anda," ujar gadis itu tanpa mengubah nada bicaranya sedikit pun. Datar, tanpa ekspresi.
"Sumimasen*," ucap Uryuu pelan. Pemuda Quiscart itu kemudian membiarkan si gadis melanjutkan pengobatannya, namun ia juga harus tahu siapa penolongnya itu. "Siapa namamu, Nona? Aku Uryuu Ishida, seorang Quiscart."
"Nemu Kurotsuchi, Sura," jawab gadis yang ternyata bernama Nemu itu dengan nada monoton. Datar, tanpa ekspresi.
Keheningan panjang menyeruak di antara mereka. Uryuu sendiri bingung ingin memulai percakapan dengan gadis itu dari mana. Sedangkan Nemu yang memang pendiam, hanya melaksanakan tugasnya untuk menyembuhkan luka-luka pemuda Quiscart itu.
"Ne, Ishida-san. Lukamu sudah saya sembuhkan," ucap Nemu seraya beranjak dari tempatnya berjongkok tadi. "Jaa ne." Gadis itu membalikkan tubuh sintalnya perlahan, bermaksud untuk segera bergegas dari tempat itu.
"Matte kudasai*!" seru Uryuu cepat, bermaksud mencegah Nemu pergi dari situ. Nemu berbalik, dan menatap Uryuu selama semenit penuh. Meski raut wajahnya tetap tidak berubah, namun Uryuu bisa menangkap adanya rasa heran dalam pantulan mata hijau Nemu. "Anoo, kalau tidak keberatan... duduklah di sampingku. Aku ingin tahu banyak tentangmu," ucap Uryuu gugup.
"Kenapa?" tanya Nemu heran, masih dengan nada datarnya yang biasa.
"Iie, nandemo arimasen*," jawab Uryuu perlahan seraya menundukkan wajahnya. Nemu menghela napas pendek, dan duduk di sebelah pemuda Quiscart bermata biru itu.
"Saya akan dengarkan," ucap Nemu pendek.
Beberapa saat kemudian, mereka mengobrol santai sambil memakan onigiri keju buatan Uryuu. Nemu memakan onigiri itu dengan lahap. Uryuu menelan onigiri yang sedang dikunyanya perlahan, dan bertanya pada gadis Sura berambut hitam berkepang itu.
"Nona Kurotsuchi..."
"Panggil saya Nemu saja, Ishida-san," ucap Nemu pelan.
Uryuu menganggukkan kepalanya pelan dan meneruskan kalimatnya. "Kalau begitu Nemu, sebenarnya dari mana asalmu? Kenapa kau mengembara?"
Nemu berhenti menggigit onigiri yang sedang dipegangnya, dan menelan makanan yang ada di dalam mulutnya itu perlahan. Gadis Sura itu menatap hampa dan menjawab ke arah tanah di hadapannya.
"Saya tidak tahu dari mana saya berasal, Ishida-san..." Nemu menegakkan kepalanya sejenak, menarik napas sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Yang saya tahu dari kepala biara... beliau menemukan saya yang masih bayi di depan biara Capitolina—bersama surat dan sebuah bros berbentuk bunga Thistle," seraya berkata demikian, Nemu menunjukkan bros yang tengah dikenakannya pada Uryuu.
Pemuda Quiscart itu memicingkan matanya, berusaha memperjelas pandangannya yang mengabur gara-gara kacamatanya pecah. Ada perasaan aneh yang berkelebat di benaknya. Ia mengenali lambang itu. Salah seorang dari Svartalfer yang membantai rasnya, mengenakan lambang itu di lengannya.
'Tapi, masa sih gadis ini ada hubungannya dengan itu?' batin Uryuu heran. Buru-buru ditepisnya prasangka itu dari benaknya. 'Tidak! Ini pasti hanya kebetulan!'
Melihat wajah Uryuu yang menegang saat melihat bros yang dikenakannya itu membuat Nemu sedikit cemas. "Ishida-san? Doushite?" tanya Nemu.
"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Uryuu dibarengi desahan napasnya. "Lalu kenapa kau mengembara?" Uryuu mengulang pertanyaannya lagi, wajahnya nampak sangat penasaran.
"Kepala biara bilang, bahwa ayah saya ada di suatu tempat di Seireitei. Mungkin ada alasannya kenapa beliau menitipkan saya di biara. Karena itu saya berusaha berlatih keras dan menjadi seorang Sura untuk menemukan ayah saya. Saya harus tahu kenapa ayah saya pergi meninggalkan saya dan menitipkan saya di biara Capitolina," Nemu melahap sisa onigiri di tangannya, dan melanjutkan perkataannya. "Saya merasa semua jawaban yang saya cari selama ini ada di Seireitei. Karena itulah saya mengembara. Saya harus sampai di sana untuk mengetahui semua yang saya ingin tahu."
Uryuu tercenung mendengar kata-kata gadis Sura itu. Ia juga saat ini sedang menuju Seireitei untuk melampiaskan dendamnya pada Svartalfer Clan. Pemuda Quiscart itu menatap aneh ke arah Nemu. Perasaan iba mulai merayap di hatinya. Haruskah dia mengajak gadis itu untuk ikut bersamanya?
Uryuu tahu bahwa perjalanan menuju Seireitei tidaklah mudah. Banyak bahaya yang sewaktu-waktu mengancam keselamatan dirinya, dan mungkin juga orang yang saat itu sedang bersamanya. Karena alasan itulah, Uryuu tak pernah mengajak orang lain untuk ikut serta dalam perjalanannya. Ia tak ingin melibatkan orang lain dalam bahaya karena dirinya.
Tapi, Uryuu merasa bahwa gadis itu cukup kuat. Setidaknya untuk melindungi dirinya sendiri. Pemuda Quiscart itu akhirnya menghela napas. Apa salahnya sekali-kali membawa seseorang untuk ikut serta dalam perjalanannya kali ini?
"Nemu, bagaimana kalau kau ikut berkelana bersamaku?" tanya Uryuu sopan.
Nemu menatap lurus ke arah Uryuu. Tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pemuda Quiscart itu. "Maksudmu apa, Ishida-san?"
"Aku rasa tujuan kita sama, karena itu aku mengajakmu untuk berkelana bersama-sama. Bukankah berdua lebih baik daripada sendiri?" Uryuu berusaha memberikan penjelasan pada Nemu.
Nemu terdiam sejenak dan memikirkan tawaran Uryuu secara masak-masak. Mempertimbangkan untung dan ruginya jika ia berjalan bersama-sama dengan pemuda bermata biru dan berambut hitam berkilau biru itu. Setelah sekian lama berpikir, akhirnya gadis berambut hitam berkepang dan bermata hijau itu menganggukkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, Ishida-san... Kita mau ke mana?" tanya Nemu saat mereka berboncengan motor menuju ke luar hutan. "Seireitei kan berada jauh di barat daya sana."
"Kita sedang menuju Kastil Doran yang ada di pinggir kota Las Noches. Aku ingin mengajak penghuninya untuk ikut serta dalam perjalanan ini," jawab Uryuu tanpa menoleh.
"Kastil aneh yang penuh patung dekorasi naga itu? Saya dengar kastil itu sudah lama tidak berpenghuni. Aneh sekali jika ada orang yang menghuninya," ucap Nemu heran meski nada suaranya tetap datar.
Uryuu tersenyum tipis. "Menurutmu begitu, ya?"
Nemu menganggukkan kepalanya perlahan. "Yah, bagi sebagian orang... kastil itu memang aneh. Penghuninya juga aneh dan menyebalkan, meski sebenarnya baik. Tapi dalam perjalanan ini, tak ada lagi yang memiliki kemampuan untuk mengecoh musuh sebaik dia. Jadi, mau tak mau aku harus mengajaknya," jelas Uryuu dibarengi desah napas kecewanya.
"Sepertinya dia orang yang menarik, ya? Saya jadi ingin tahu dia seperti apa. Mungkin saja dia bisa menjadi lawan latihan saya," celetuk Nemu setelah mendengarkan cerita Uryuu dengan seksama.
Uryuu tertawa pelan. "Mungkin dia tak cocok menjadi lawan latihanmu," sahut Uryuu tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Karena dia punya banyak cara untuk membuat lawan tak berdaya," jawab Uryuu mantap.
Setelah Uryuu berkata demikian, Nemu tak lagi bertanya soal penghuni kastil yang sedang di tuju oleh mereka sekarang. Uryuu mempercepat laju motornya setelah terlebih dahulu menyuruh Nemu untuk berpegangan erat padanya. Namun secara mendadak, Uryuu memperlambat laju motornya dan berhenti di dekat pepohonan.
"Waspadalah terhadap sekitarmu!" perintah Uryuu seraya memberi isyarat tangan pada Nemu. Gadis Sura itu menganggukkan kepalanya, dan memasang kuda-kudanya.
Uryuu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempatnya memarkirkan motor. Dari balik pepohonan, sekelompok Orc keluar dan mengepung mereka. Uryuu berdecih saat melihat jumlah Orc yang jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
"Mau apa kalian? !" tanya Uryuu seraya menghunuskan Schneider-nya pada sekelompok Orc yang mengelilingi mereka berdua.
Nakeem yang wajahnya penuh perban akibat terkena jurus-jurus Nemu menghunuskan kapaknya dan menjilat bibirnya dengan penuh nafsu. Matanya menyalang marah saat melihat sosok Uryuu dan Nemu. Choe dan Di Roy pun menghunuskan senjata mereka dan bersiap untuk menyerang pemuda Quiscart dan gadis Sura itu.
"Bunuh mereka!" perintah Nakeem seraya menyeringai kejam. Teman-temannya langsung berlari ke arah Nemu dan Uryuu seraya menghunuskan senjata mereka, bersiap untuk menghabisi mereka berdua.
Merasa diri mereka dalam bahaya, Uryuu bersiaga dan menyuruh Nemu untuk bersiap dalam posisi siap tempur. Gadis berkepang dan bermata hijau itu menganggukkan kepalanya pelan dan berlari menyongsong para penyamun Orc yang berada di hadapannya. Uryuu memunculkan bow gun peraknya dan menembak mereka secara bertubi-tubi.
Nemu menangkis semua serangan yang dilancarkan oleh para penyamun itu dengan tangan kosong dan membalasnya dengan pukulan serta tendangan beruntun darinya. Sebagian tubuhnya terluka akibat luka sabetan benda tajam, namun Nemu tak peduli. Dia terus bertarung dengan para penyamun yang berasal dari ras Orc itu.
Nakeem dan teman-temannya menggeram marah dan menyerang Nemu serta Uryuu dengan membabi buta. Namun sebelum mereka berhasil menyentuh tubuh kedua orang itu, tiba-tiba terdengar suara orang yang bernyanyi.
With every appearance by you, blinding my eyes,
I can hardly remember the last time I felt like I do.
You're an angel disguised.
And you're lying real still,
But your heart beat is fast just like mine.
And the movie's long over,
That's three that have passed, one more's fine.
Uryuu terkesiap saat mendengar lagu itu. Bukan karena merdunya suara orang yang menyanyikannya, melainkan karena ia kenal betul pemilik suara itu. Tapi, bukan waktu yang tepat baginya untuk memikirkan siapa yang menyanyikannya. Dia harus fokus pada pertarungannya. Baru saja Uryuu akan menembakkan panah peraknya ketika ia melihat lawannya mendadak menguap dan terkapar di hadapannya.
Will you stay awake for me?
I don't wanna miss anything
I don't wanna miss anything
I will share the air I breathe,
I'll give you my heart on a string,
I just don't wanna miss anything.
I'm trying real hard not to shake. I'm biting my tongue,
But I'm feeling alive and with every breathe that I take,
I feel like I've won. You're my key to survival.
And if it's a hero you want,
I can save you. Just stay here.
Your whispers are priceless.
Your breathe, it is dear. So please stay near.
Uryuu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan melihat satu per satu dari penyamun itu menguap lebar dan jatuh berdebam keras ke tanah. Wajah sangar mereka nampak damai dan dengkur halus terdengar dari mulut mereka. Nemu terhipnotis oleh lagu itu dan matanya mulai terkantuk-kantuk. Uryuu segera berlari ke arah gadis Sura itu, berbagai pikiran berkecamuk di benaknya.
'Celaka! Nemu kan tidak memiliki kekebalan terhadap jampi-jampi! Ini benar-benar gawat!' batin Uryuu panik.
Will you stay awake for me?
I don't wanna miss anything
I don't wanna miss anything
I will share the air I breathe,
I'll give you my heart on a string,
I just don't wanna miss anything.
Say my name. I just want to hear you.
Say my name. So I know it's true.
You're changing me. You're changing me.
You showed me how to live.
So just say. So just say,
Tubuh Nemu mulai terhuyung-huyung karena menahan kantuk luar biasa yang menderanya, dan akhirnya tubuh sintal itu pun limbung ke tanah. Uryuu pun dengan sigap menangkap tubuh semampai nan sempurna Nemu sebelum menyentuh tanah yang keras. Seraya menggendong Nemu, Uryuu menggeram kesal.
"Kuso Komori no Ou*! Bisa-bisanya dia pakai mantera seperti itu di saat-saat seperti ini!"
That you'll stay awake for me.
I don't wanna miss anything.
I don't wanna miss anything.
I will share the air I breathe,
I'll give you my heart on a string,
I just don't wanna miss anything
Tak jauh dari tempat Uryuu, penyihir berpakaian serba putih itu memperhatikan mereka berdua. Tentu saja dia mendengarkan gerutuan Uryuu barusan.
"Yare, yare*, sepertinya Garulu marah padaku, nih," gumamnya seraya beranjak dari tempatnya berdiri sebelum Uryuu menyadari keberadaannya. Dia bergegas menuju ke dalam Kastil Doran sebelum Uryuu yang tengah menggendong Nemu tiba di sana.
Di dalam kastil... seorang gadis berpakaian suster gereja tengah membersihkan debu di salah satu ruangan. Jika melihat penampilannya itu, orang akan langsung mengetahui bahwa sang gadis adalah seorang Cleric* yang tugasnya menyembuhkan orang-orang dari kutukan dan luka selain men-support para petarung ketika mereka sedang bertempur. Sosok kelelawar bermata kuning dengan corak hijau zamrud pada sayapnya terbang melayang di dekatnya.
"Orihime-chan, kau hari ini tampak semangat sekali?" tanya kelelawar itu pada si gadis Cleric yang ternyata bernama Orihime.
"Ne, ne, Kivatto-chan*! Kata Ulqui, hari ini kita kedatangan tamu, lho!" jawab Orihime riang.
"Tamu?" Kelelawar itu mengernyitkan matanya. Ia berusaha mengingat-ingat sesuatu dan sebuah pemahaman pun membalur di pikirannya. "Oh, pasti pemuda itu, ya?" kelelawar itu membuat gerakan seperti mengangguk-angguk. Ia lalu melayang-layang lagi di sekitar Orihime seraya melancarkan protes. "Anoo, Orihime-chan. Kivatto ja nai, boku wa Murcielago demo*."
"Wakkatteru, wakkatteru*, tapi kau lebih cocok disebut seperti itu!" sahut Orihime cuek dibarengi tawa riangnya yang khas.
Baru saja Murcielago akan membalas perkataan Orihime, tiba-tiba saja ada suara dingin nan datar yang menengahi mereka. "Sepertinya obrolan kalian menarik, ya? Aku boleh ikutan?"
Orihime dan Murcielago segera menoleh ke sumber suara dan melihat sosok penyihir berpakaian serba putih tengah berjalan menghampiri mereka.
"Ulquiorra!" / "Master!" Orihime dan Murcielago meneriakkan objek yang sama, nada yang sama, dan raut wajah yang sama. Membuat keduanya saling berpandangan dengan muka keheranan.
Sang penyihir—yang ternyata bernama Ulquiorra—tersenyum tipis. "Tamu kita akan segera datang. Sebaiknya kita sambut dia dengan ramah," ucapnya tanpa mengubah nada bicara maupun raut wajah datarnya.
"Oke!" sahut mereka berdua kompak.
Setelah keduanya pergi, Ulquiorra menatap lurus ke arah pemandangan hutan yang ada di luar jendela. Bibir tipisnya menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti sebuah keluhan.
"Semoga kau sampai kemari dengan selamat, Garulu."
Sementara itu, Uryuu melanjutkan perjalanan menuju kastil Ulquiorra dengan berjalan kaki. Tentu saja dengan Nemu yang tengah pingsan di belakang punggungnya. Uryuu menggerutu kesal dalam hati. Dia bukannya nggak ikhlas menolong orang lain. Tapi dalam keadaan seperti ini, sangat riskan dirinya diserang.
Kalau hanya ia sendiri yang diserang, tidak akan jadi masalah. Namun saat ini dia sedang bersama orang lain, dan Uryuu sangat tidak ingin terjadi sesuatu pada orang yang sedang bersamanya saat ini. Dia tahu rasanya kehilangan seseorang yang sangat disayangi, dan dia tak mau lagi merasakan pahitnya kehilangan.
Sampai saat ini pun, bayangan-bayangan peristiwa 'hari itu' masih berkelebat dalam benak Uryuu. Peristiwa yang membuat Uryuu sangat membenci Svartalfer dan memilih hidup dalam bayang-bayang. Hidup dengan kebencian dan dendam yang menggumpal di dalam dadanya, dan baginya semua itu tidak akan membuatnya bahagia jika mereka masih ada.
Uryuu menghentikan langkahnya sejenak dan menatap ke sekelilingnya. Di depan matanya sebuah kastil bergaya Eropa dengan dekorasi pilar dan beberapa hiasan atapnya berupa pahatan naga, berdiri dengan gagahnya. Uryuu menghirup napas dalam-dalam, memantapkan hati sebelum memasukinya, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kastil tersebut.
Pada langkahnya yang kelima, mata Uryuu menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang dulu menolongnya dari pembantaian Lycan Clan. Sosok yang mengajarinya untuk bertahan hidup. Sosok yang selama ini selalu menolongnya keluar dari kesulitan. Dan juga sosok yang menitipkannya ke Akademi Quiscart. Sosok penyihir yang juga merupakan sahabatnya bernama Ulquiorra Schiffer.
"Hisashiburi da na, Garulu," sapa Ulquiorra tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Uryuu memasang tampang kecut dan memejamkan matanya perlahan sebelum membukanya kembali dan berujar sinis. "Jangan sebut aku dengan nama itu, Dhampir*!"
"Seperti biasa, kau masih tetap saja sinis dan angin-anginan ya, Uryuu Ishida," ucap Ulquiorra dibarengi gelengan kepalanya yang khas. "Selamat datang ke kastilku, teman lamaku!" ujarnya seraya merangkul akrab bahu lebar pemuda berambut hitam berkilau kebiruan itu.
Uryuu membalas rangkulan sahabatnya itu sebelum ia mendorong tubuh kurus Ulquiorra dan menghardiknya. "Apa maksudmu menggunakan mantera berbahaya seperti itu, Ulquiorra? Kau tahu kan bahwa bagi manusia biasa atau makhluk yang tak memiliki kekebalan terhadap jampi-jampi, mantera itu sangat berbahaya!"
"Ya, ya, aku tahu kok, Garulu," tandas Ulquiorra datar. "Tapi aku terpaksa menggunakan mantera itu—Arullo, soalnya aku tak suka kekerasan dan perkelahian."
Uryuu menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti gerutuan. "Cih, seperti biasa. Kau memang pandai mengelak, Dhampir."
"Tidak juga," tukas Ulquiorra cepat. "Maa, mungkin sebaiknya kita lanjutkan obrolan kita di dalam. Lagipula..." mata hijau Ulquiorra tertuju pada sosok yang sedang digendong oleh Uryuu. "Kekasihmu itu butuh penanganan ahli untuk terbebas dari kutukan Arullo."
"Nemu itu bukan kekasihku, tahu!" sergah Uryuu marah.
"Oh, jadi namanya Nemu, ya?" sahut Ulquiorra dibarengi senyum nakalnya.
Uryuu pun hanya bisa menggeram marah. Dia benar-benar kehabisan akal untuk membalas semua kata-kata Ulquiorra yang memang 'dalem banget' itu. Ulquiorra yang sadar sahabatnya itu sedang bad mood segera mengganti topik pembicaraan.
"Bagaimana dengan perburuanmu? Apakah kau mendapatkan informasi tentang Conjurer yang mengikat kontrak dengan Lucifer?"
Uryuu menarik napas dalam-dalam sebelum berkata dengan nada melunak. "Mungkin sebaiknya kita membicarakannya di dalam kastilmu saja, Ulqui."
"Lama tak jumpa, Ishida-kun," sapa Orihime saat menghidangkan teh untuk Uryuu dan Ulquiorra di salah satu ruangan yang ada di dalam kastil itu.
"Oh, hai Inoue-san! O genki desu ka*?" balas Uryuu dibarengi senyum ramahnya yang khas.
"Un, genki desu. Anata?*"
"Boku mo genki desu yo," sahut Uryuu.
Orihime membalas senyum pemuda Quiscart itu dengan senyuman pula. Ekor mata Orihime menangkap sesuatu yang lain di sudut ruangan itu... sosok gadis cantik berpakaian ala pendekar Shaolin dengan tubuh penuh luka, tergolek lemah di atas sofa.
"Anoo, Ishida-kun... dia ini?" tanya Orihime seraya menghampiri Nemu. Kecemasan nampak tergurat di wajahnya yang cantik.
Uryuu baru akan menjawab pertanyaan Orihime ketika Ulquiorra dengan seenaknya menyela dengan nada datar tanpa ekspresinya yang biasa. "Dia terluka parah ketika bertarung melawan sekelompok Orc beberapa saat yang lalu, selain itu dia juga terkena kutukan Arullo. Tolong obati dia, Orihime."
Tanpa banyak bicara, Orihime segera memapah Nemu keluar dari ruangan itu dan bersiap untuk memulai sesi pengobatannya. Setelah Orihime tak nampak lagi dari pandangan Uryuu dan Ulquiorra, pemuda penyihir bermata hijau zamrud itu memulai percakapan.
"Jadi, di mana dia berada?"
"Menurut Kisuke-senpai, dia berada di suatu tempat di Seireitei," jawab Uryuu seraya menyesap tehnya perlahan. "Jika kau ingin memburunya, di sanalah tempat yang sesuai untuk membalaskan dendammu. Bagaimana menurutmu, Ulquiorra?"
Ulquiorra menghela napas panjang. "Bukannya sama saja denganmu, Garulu? Di sana juga terdapat klan musuhmu, kan? Svartalfer?"
Mata Uryuu berubah bentuk dan warna, membuat Ulquiorra menghela napas lagi. "Yare, yare, sepertinya nama klan itu terlarang untuk diucapkan, ya?"
"Diam kau!" bentak Uryuu marah.
Ulquiorra hanya memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya kembali dan berujar. "Aku tahu seperti apa kemurkaanmu pada klan itu, Garulu. Tapi, kalau kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri... maka kau yang akan dimusnahkan oleh mereka."
"Ya, tentu saja aku paham soal itu, Ulqui," sahut Uryuu seraya menyesap tehnya sedikit, berusaha meredakan emosinya yang sempat membuncah. "Aku tak akan pernah melupakan peristiwa itu seumur hidupku. Peristiwa dimana klan biadab itu memusnahkan seluruh anggota klanku. Aku bersumpah, aku pasti akan membunuh mereka semua dengan tanganku sendiri!"
"Saa..." ucap Ulquiorra pelan. "Aku paham dengan kondisimu. Kita berdua sama-sama individu terakhir yang tersisa dari klan kita masing-masing. Kau dari klan Lycan dan aku dari klan Sorcerer. Kita berdua, harus bertahan hidup agar klan kita tidak musnah." Ulquiorra berhenti sejenak untuk menghabiskan tehnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Baiklah, aku akan ikut serta dalam perjalananmu. Kau juga tak akan keberatan kalau Orihime ikut, kan?"
Uryuu berdecak pelan. "Hhh, kalaupun aku bilang jangan, kau akan tetap mengajaknya, kan? Mana mungkin kau membiarkan kekasihmu tinggal sendirian di kastil ini? Aku sudah tahu apa yang kau pikirkan, Dhampir!"
"So, are we deal?" tanya Ulquiorra seraya mengulurkan tangan.
"Deal!" sahut Uryuu seraya menjabat erat tangan penyihir berkulit pucat itu erat.
Di salah satu kamar di kastil itu, Uryuu mengedarkan mata birunya ke sekelilingnya. Bayangan peristiwa 16 tahun lalu berkelebat di benaknya. Peristiwa yang senantiasa meneror otaknya. Mimpi buruk yang tak kunjung selesai. Mimpi buruk dimana orang-orang yang disayanginya tewas terbunuh oleh Svartalfer...
#TBC#
Keterangan :
-Orc : Jenis monster berukuran besar, dan biasanya bertubuh hijau dan tingginya 2 kali dari tinggi tubuh manusia biasa.
-Garulu : nama lain dari ras Werewolf, tapi di sini menjadi nama panggilan khusus untuk Uryuu.
-Sura : petarung tangan kosong yang juga merupakan pengabdi aliran Shaolin. Bisa dibilang, mereka ini adalah rahib dari biara yang mengembara dan menjadi pendekar jalanan.
-Sumimasen : Maaf.
-Matte Kudasai : Tunggu dulu!
-Iie, nandemo arimasen : Tidak, tidak ada apa-apa.
-Kuso Komori no Ou : Raja Kelelawar sialan. Biasanya Uryuu menyebut Ulqui dengan sebutan ini jika ia sedang kesal.
-Cleric : penyihir yang memiliki kemampuan serangan fisik dan penyembuhan. Mereka sangat setia kepada ajaran suci dan hidup dengan melayani Tuhan.
-Kivatto : sebutan Orihime buat Murcielago. Sebenarnya disebut 'Kivat', tapi lidah orang Jepang biasa menyebutnya sebagai 'Kivatto'.
-Wakkatteru : Aku tahu. Biasanya sih dipakai oleh preman. Bentuk lebih sopannya 'Wakarimashita'.
-Dhampir : Manusia setengah vampir.
-Yare, yare : wah, wah! Atau Ya, ampun! Kata yang biasa digunakan jika nggak habis pikir atau kaget.
-Kivatto ja nai, boku wa Murcielago demo : Bukan Kivatto, tapi aku ini Murcielago
-O genki desu ka : Apa kabarmu?
-Un, genki desu. Anata? : Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?
A/N : Anehkah? Tambah nggak jelas? Ngaco? Sumimasen sebelumnya, saya telat update fic ini. Sudah saya katakan sebelumnya kan, kalau saya tidak bisa update cepat fic-fic MC saya karena kesibukan di dunia nyata? Ok, untuk permulaan, sudikah kalian menyumbangkan sepucuk review? Mohon saran dan kritiknya. *membungkuk dalam-dalam* Mohon pendapatnya dan berikan saran kalian lewat Review. *nunduk dalem-dalem*
By the way, kalau mau denger lagu yang dimainkan oleh biolanya Ulquiorra, silakan klik link 'Wataru Kurenai Violin' yang ada di profil saya. Dan kalau mau lihat penampilan Ulquiorra dan Orihime di fic ini silakan kunjungi blog saya di enigmaticdancer1310. wordpress 2011 / 04 / 29 / ringkasan-the-last-werewolf-chapter-2-arullo /^_^ *hilangkan spasinya, key?*
Jikan The Last Werewolf
Chapter 3 : Shout in The Moonlight
Bau amis menguar tajam di sekitar tempat itu. Mayat-mayat bergelimpangan. Rumah-rumah warga dibakar. Tangisan pilu nan memekakkan telinga menggema ke pelosok tempat itu. Uryuu gemetar di posisinya, mata birunya yang tersembunyi di balik lensa kacamata melihat dengan jelas bagaimana kakeknya ditebas dengan benda tajam oleh sekelompok orang.
.
.
Ulquiorra mengabaikan reaksi Uryuu, dia membuka baju bocah bermata biru itu dan melihat ada luka lebar yang membekas di sana. "Lukamu yang waktu itu masih membekas, ya?" tanya Ulquiorra seraya menunjuk ke arah bekas luka itu.
Uryuu menepis tangan pucat Ulquiorra dan menghardiknya. "Jangan sentuh! Lagipula kenapa kau bisa tahu soal luka ini?"
.
.
Apa iya selama ini dia hanya menuruti keinginannya untuk balas dendam pada klan Svartalfer? Dia memang sangat membenci klan itu, tapi... Bagaimana dengan pertempurannya dengan makhluk selain klan itu? Apakah dia akan tetap dipenuhi nafsu untuk membunuh?
.
.
Uryuu tak akan pernah lupa saat itu. Detik-detik saat kakeknya meregang nyawa dan tawa sadis yang menggema di tempat itu. Uryuu pun bersumpah, dia tak akan pernah memaafkan orang-orang yang membantai seluruh anggota klannya. Sampai kapanpun!
