Pinggiran kota Karakura, Desa Quincy adalah sebuah perkampungan yang keseluruhan penduduknya merupakan werewolf atau disebut juga dengan Lycan clan. Dahulu... semua ras Mazoku* hidup dalam damai tanpa terusik oleh apapun. Namun keselarasan itu tiba-tiba berubah saat perang antara Svartalfer dengan ras Mazoku terutama sekali dengan klan Lycan. Kaum Svartalfer membantai seluruh anggota klan Lycan karena klan tersebut memiliki pengaruh besar yang memiliki kemungkinan untuk menggeser kedudukan Svartalfer dalam memimpin dunia.
Enam belas tahun yang lalu di Desa Quincy...
"KYAAAAAA!" jeritan histeris para wanita menggema ke seluruh penjuru. Jeritan pilu itu ditingkahi dengan derap langkah kaki yang terburu-buru dan juga tebasan benda tajam yang menggema menerobos hutan di pinggiran desa itu.
Suara binatang buas menambah gaduhnya suasana di malam kelabu itu. Pertempuran sengit antara kaum manusia serigala dengan kaum peri hitam tak dapat dielakkan lagi. Suara senjata tajam yang beradu dengan cakar sekeras baja bergaung dan cipratan bunga api yang ditimbulkan oleh gesekan kedua benda itu bertebaran ke sekelilingnya. Masing-masing dari anggota klan Lycan berusaha keras mempertahankan hidup mereka.
Seorang pria tua membawa seorang anak kecil di dalam dekapannya. Sesekali pria itu menoleh ke belakang untuk memastikan apakah para pengejar dari klan Svartalfer masih mengikuti mereka atau tidak. Anak laki-laki di dalam dekapan pria tua itu dapat mendengar jelas suara detak jantung orang yang mendekapnya itu 10 kali lebih keras dari biasanya. Tak hanya itu, meski sang pria tua mendekapnya begitu erat agar anak itu tidak melihat semua yang tengah terjadi saat itu... tetap saja suara-suara gaduh itu terdengar di telinganya yang empat kali lipat lebih tajam dari pendengaran manusia biasa.
"Kakek," panggil anak kecil dalam dekapan pria tua itu lemah. Pria tua tadi—yang ternyata adalah kakek si bocah—menoleh ke arah anak muda di dalam dekapannya dan menyunggingkan senyum manisnya yang khas. "Kenapa kita lari? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa banyak sekali darah?" tanya anak lelaki bermanik biru itu dengan badan gemetar ketakutan.
"Uryuu," sang kakek—Soken Ishida—menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan cucunya yang bernama Uryuu itu. "Dengarkan Kakek baik-baik... Kau adalah harapan terakhir klan Lycan. Kaum Svartalfer tidak boleh sampai mendapatkanmu. Karena itu, hiduplah walau hanya kau seorang diri."
"Kakek! Kakek bicara apa? Aku ingin tetap bersama Kakek!" tukas Uryuu berkeras.
Soken tersenyum lagi, dan memeluk erat cucu kesayangannya itu. "Aku menyayangimu, Uryuu! Semoga kesejahteraan Lycan clan dan juga berkah dari Tuhan selalu menyertaimu, Nak! Pergilah! Pergilah ke tempat yang aman! Jangan sampai mereka menemukanmu!" seru kakeknya seraya menudingkan jarinya ke arah lain. Uryuu masih terlihat ragu untuk melakukan apa yang disuruh oleh kakeknya, namun ia segera berbalik ke arah lain dan bersembunyi di salah satu tembok rumah untuk melihat apa yang terjadi saat itu.
Langkah kaki yang begitu berat dan terburu-buru semakin mendekat. Uryuu gemetar ketakutan di tempatnya. Dia berusaha keras agar tidak menimbulkan suara. Sementara itu, Soken mendengar suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Pria tua itu menghela napas dan menundukkan kepalanya. Bilah besi yang tajam menyambut pandangannya. Dia mengangkat wajahnya, memasang ekspresi dingin dan berani, menghadap ke arah beberapa orang pria yang telah membunuh istri dan anak-anaknya.
Salah satu dari pria itu yang bertubuh tinggi besar tersenyum licik di balik penutup wajah yang ia kenakan, dan mata hijaunya yang terlihat kejam berkilat-kilat senang. Matanya menelusuri Soken dari atas sampai bawah dan memberi penilaian. "Sungguh disayangkan lelaki tua sepertimu akan mati. Bagaimana kalau kuberikan tawaran? Hidupmu akan kuampuni, sebagai gantinya kau akan menjadi budakku."
Lelaki tua yang berstatus sebagai sesepuh dari para werewolf itu tersenyum sinis. Tatapannya dingin. "Aku lebih memilih mati daripada harus menjadi budak orang yang lebih rendah dari sampah sepertimu! As****e!"
Alis pria itu berkedut, ekspresinya mengeras. Genggamannya mengetat di gagang pedangnya. "Sayang sekali." Dia mengangkat pedangnya tinggi, mengayunkannya ke tubuh pria tua di hadapannya.
Soken segera berkelit dari tebasan pedang pria itu dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Soken menggeram marah dan melolong keras. Dalam waktu singkat, Uryuu—di tempat persembunyiannya—dapat melihat bahwa sosok kakeknya itu telah berubah ke wujud werewolf-nya. Tubuh pria tua itu ditumbuhi rambut-rambut tebal berwarna kelabu kebiruan, mata merahnya menyalang marah, taring serta cakarnya yang tajam berkilat-kilat ditimpa sinar bulan. Bersiap untuk mengoyak-ngoyak tubuh pria yang ada di hadapannya.
"Omoshiroi!*" seru pria itu kesenangan.
Dia segera memasang kuda-kuda untuk menyerang werewolf tua itu. Soken segera menerjang orang-orang yang ada di hadapannya itu dengan cakarnya. Beberapa dari mereka sempat berkelit, namun tak sedikit yang terkena cakar pria tua itu.
Darah menyembur dari koyakan lebar di tubuh orang-orang itu. Tubuh-tubuh itu kemudian ambruk, menghasilkan genangan darah di tanah yang dingin. Mereka mengejang dan mengerang kesakitan di tanah.
"Aaaaarrrghhh!"
Sang pria bermanik hijau dan bertubuh tinggi besar itu menatap marah ke arah Soken. "Beraninya kau berbuat seperti itu pada anak buahku! Kau harus mati!" ancamnya seraya menghunuskan pedangnya ke arah Soken.
Pertempuran sengit itu berlangsung selama berjam-jam. Sampai akhirnya Soken terdesak dan terkena tebasan pedang orang-orang itu. Tubuh pria tua itu kembali ke wujud manusianya dan ambruk ke tanah dengan bersimbah darah. Soken menutup kedua matanya, senyum menenangkan tersungging di bibirnya, menerima malaikat maut untuk mencabut jiwanya yang telah ada dalam cengkeraman-Nya.
'Aku mencintaimu, cucuku...' Suara hati bergumam, sementara napasnya semakin berat. 'Kumohon, Tuhan, ini permintaan hamba yang terakhir. Jangan sampai mereka mendapatkannya.' Tubuhnya mulai mendingin, dia tidak bisa merasakan apapun lagi. 'Semoga kau bisa membalaskan dendam klan kita suatu hari nanti.' Nafasnya berhenti, detak jantungnya melambat. 'Selamat tinggal, Uryuu. Aku akan selalu mengawasimu di dunia sana.'
Angin malam yang dingin berhembus menyapu tubuh yang telah kaku itu. Aura kehidupan tidak terasa lagi, hanya bau kematian yang menyeruak di dalamnya.
Bau amis menguar tajam di sekitar tempat itu. Mayat-mayat bergelimpangan. Rumah-rumah warga dibakar. Tangisan pilu nan memekakkan telinga menggema ke pelosok tempat itu. Uryuu gemetar di posisinya, mata birunya yang tersembunyi di balik lensa kacamata melihat dengan jelas bagaimana kakeknya ditebas dengan benda tajam oleh sekelompok orang.
"Mitsuketa~*!" ucap seseorang dengan nada gembira saat ia menemukan Uryuu yang tengah bersembunyi di balik tembok salah satu rumah.
Uryuu tak mampu menjerit lagi saat pria berambut raven jigrak itu menebas bahu kanannya dan menimbulkan luka yang cukup besar. Ia mengejang dan merintih sakit di tanah. Pria berambut raven dan bermata hazel itu kembali mengayunkan pedangnya ke arah Uryuu, bermaksud menghabisi bocah itu. Uryuu memejamkan matanya kuat-kuat. Sebelum pedang itu menyentuh tubuh bocah berambut hitam lurus itu, sebuah serangan menginterupsinya.
"Severe Rainstorm!"
Dalam sekejap, ribuan panah dari langit segera menghujam tubuh pria itu dan menewaskannya seketika. Uryuu berusaha membuka matanya perlahan, namun rasanya berat sekali. Ia pun segera kehilangan kesadarannya dan hanya bisa mendengar samar-samar.
"Beraninya kau ikut campur, Wing Knight!" ucap pria bertubuh tinggi besar itu dengan gigi gemertak.
"Aku berhak menyelamatkan jiwa malang ini, Tuan Zaraki. Dan aku juga sebelumnya minta maaf karena telah mengambil nyawa anak buah kesayanganmu, Maki Ichinose," ucap seseorang yang disebut sebagai 'Wing Knight' itu tanpa ekspresi.
"Che, kau mau bertarung denganku, Wing Knight? Sudah lama sekali rasanya aku tidak bertarung dengan Sorcerer* sepertimu," ucap pria yang bernama Zaraki itu seraya menjilat bibir. Dia benar-benar ingin sekali bertarung dengan pemuda penyihir itu.
Pemuda yang dijuluki 'Wing Knight' itu hanya tersenyum tipis. Dia menggendong Uryuu di punggungnya dan berujar pada Zaraki.
"Sayangnya aku tak punya waktu untuk meladenimu bertarung, Tuan Zaraki. Sampai ketemu lagi lain waktu!" Seusai berkata demikian, 'Wing Knight' telah melesat cepat dengan membawa Uryuu di gendongannya.
Uryuu tidak tahu siapa yang telah menolongnya saat itu, tapi dalam hati dia sangat bersyukur sekali karena dirinya selamat dari pembantaian massal itu. Ia berjanji akan membalas budi orang itu dan ia juga berjanji akan membalas dendam pada orang-orang yang telah membantai klannya.
The Last Werewolf
Chapter 3 : Shout in The Moonlight
Disclaimer : Bleach bukan milik saya melainkan punya Tite Kubo sensei, saya hanya meminjam karakter-karakternya untuk kepentingan pembuatan fic ini. Setelah itu saya kembalikan ke pemilik asalnya. Btw, lagu Broken juga bukan milik saya. Itu milik Secondhand Serenade.
Note : AU, maybe OOC, and sorry for language. (Rate sewaktu-waktu bisa berubah sesuai kondisi)
Pairing : keroyokan, tapi yang utama disorot adalah IshiNemu, dan UlquiHime.
Yo-ho Minna! The Last Werewolf update! Sumimasen kelamaan! Okey, selamat membaca ya! Don't Forget to Review! (no review, no next chapter!)
Sebulan kemudian setelah peristiwa pembantaian di Desa Quincy... sesosok pemuda kurus dengan pakaian lusuh dan kotor berjalan tertatih-tatih di kota Karakura. Pandangan matanya yang kosong di balik kacamatanya dan tubuhnya yang penuh luka kadang mengundang iba orang-orang yang lewat di sampingnya.
"Makanlah ini, Nak! Semoga bisa mengisi perutmu yang lapar. Ohya, ini ada sedikit uang untuk membeli obat. Lumayan kan untuk mengobati luka-luka di tubuhmu," ucap orang-orang itu seraya menjejalkan roti dan sejumlah uang di tangan mungil anak lelaki itu, saat si bocah melintas di dekat mereka.
Permata sapphire bocah itu berkilat marah. "Aku tak butuh belas kasihan kalian!" balasnya dingin. Dia mengembalikan roti dan uang yang diberikan oleh orang-orang itu.
Sebelum mereka sempat membalas ucapan bocah itu, dia sudah pergi dari hadapan mereka dengan kecepatan langkah kaki yang luar biasa. Mereka rasa, mereka tak akan bisa mengejar bocah itu dan segera bergegas setelah sebelumnya berdecih kesal.
Bocah lelaki itu—yang ternyata adalah Uryuu—pergi ke arah hutan yang ada di pinggiran kota. Di sana dia berubah ke wujud werewolf-nya dan memburu ayam atau kambing hutan. Setelah berhasil mendapatkan apa yang dia butuhkan, Uryuu segera kembali ke wujud manusianya dan mengolah hasil buruannya.
Saat ia hendak menyuapkan daging ke mulutnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara datar menyapanya.
"Kelihatannya enak. Apakah aku boleh meminta sepotong saja, Nak?"
Uryuu segera menoleh ke sumber suara dan iris birunya menangkap sesosok pemuda berusia sekitar 15 tahunan tengah tersenyum ke arahnya. Alis Uryuu mengernyit saat melihat penampilan pemuda itu yang luar biasa aneh. Pemuda itu mengenakan baju tanpa lengan berwarna merah dengan garis putih di tengahnya, jubah bertudung tanpa lengan dengan pengait yang terkesan berat di bawah dagunya, celana panjang hitam dan... mata biru Uryuu melebar saking terkejutnya. Di kedua lengan pria itu terbalut selendang panjang berwarna putih bermotif diamond merah yang hampir menyentuh tanah. Sepintas, pemuda itu terlihat tengah mengenakan pakaian modifikasi antara pakaian penyihir barat dengan kimono furisode ala Jepang zaman dahulu.
"Kenapa, Nak? Ada yang aneh dengan penampilanku?" pertanyaan pemuda itu menyentakkan Uryuu dari lamunannya.
"Tentu saja!" jawab Uryuu tanpa basa-basi. "Belum pernah kulihat ada orang yang mengenakan pakaian seaneh itu di siang bolong yang panas begini!" tambahnya dengan dingin.
"Yare, yare," gumam pemuda itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anak sekecil kau tak seharusnya berkata seperti itu pada orang yang lebih tua," komentarnya seraya meletakkan barang bawaannya di sampingnya.
"Heh, memangnya kau siapa? Lagipula kulihat kau juga masih remaja, jadi buat apa sih berlagak tua begitu? !" tukas Uryuu sinis.
Pemuda berkulit pucat itu menghela napas. "Kau ini sangat sulit diajak bicara, ya?" ucapnya yang terdengar seperti keluhan. "Ya, sudah. Aku juga ingin beristirahat di sini, tak apa-apa kan? Dan kalau kau tak keberatan, bolehkah aku memainkan biolaku di sini?" tanya pemuda itu seraya mengeluarkan biola dari kotak yang ia bawa.
Uryuu langsung memasang ekspresi kagum dan penasaran. "Kau bisa memainkan biola?" Pemuda itu menganggukkan kepalanya pelan.
"Akan kumainkan satu lagu untukmu. Siapa tahu setelah mendengarnya, kau jadi lebih rileks daripada sebelumnya," ucap pemuda itu datar tanpa ekspresi. Pemuda itu bersiap menggesekkan busur biolanya saat ia menoleh ke arah Uryuu dan bertanya padanya. "Ohya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Ulquiorra Schiffer, kamu?" Ulquiorra mengulurkan tangan pucatnya kepada Uryuu.
"Uryuu Ishida," jawab Uryuu singkat dan menyambut uluran tangan Ulquiorra. Mereka berjabatan tangan sejenak dan melepaskannya.
Ulquiorra mulai menggesekkan biolanya dengan busur yang dipegangnya. Nada-nada indah mulai mengalun indah ke seluruh pelosok hutan itu. Uryuu menyantap dagingnya dengan lahap seraya menikmati musik yang dimainkan oleh Ulquiorra. Tanpa sadar, Uryuu pun terhanyut dalam lantunan nada Ulquiorra dan terbawa ke khayalan masa kecilnya yang indah. Masa-masa yang terlalu indah, setidaknya sebelum malapetaka itu datang...
"Bocah, kau baik-baik saja?" suara datar tanpa ekspresi itu menyentakkan Uryuu dan membawanya kembali ke alam sadar.
"Siapa yang bocah, hah?" tukas Uryuu marah.
Ulquiorra mengabaikan reaksi Uryuu, dia membuka baju bocah berkacamata itu dan melihat ada luka lebar yang membekas di sana. "Lukamu yang waktu itu masih ada, ya?" tanya Ulquiorra seraya menunjuk ke arah bahu Uryuu.
Uryuu menepis tangan pucat Ulquiorra dan menghardiknya. "Jangan sentuh! Lagipula kenapa kau bisa tahu soal luka ini?"
"Tentu saja aku tahu. Aku kan ada di sana waktu itu," jawab Ulquiorra pendek.
"Apa maksudmu?" tanya Uryuu tak mengerti.
Ulquiorra tersenyum jahil dan segera mengemasi biola dan barang-barangnya seraya berujar. "Maa, sudah waktunya aku pergi. Sampai jumpa lagi ya, Bocah!"
"Siapa yang bocah, haaahhh? ! Dasar violinist sialan!" sergah Uryuu naik pitam.
Tapi sepertinya Ulquiorra tak menggubris Uryuu dan mengeloyor pergi begitu saja dari hadapan Uryuu. Hal itu membuat Uryuu semakin emosi.
"Grrhh, awas kau nanti!" ancamnya seraya mengunyah sisa ayam di tangannya.
Uryuu berlatih menggunakan pedang, panah, dan berbagai senjata yang ia kumpulkan dari reruntuhan desanya dua hari kemudian setelah bertemu dengan Ulquiorra. Ia tahu bahwa senjata-senjata yang ia gunakan itu sedikit rusak. 'Tapi, tak apalah!' desisnya pelan dalam hati. 'Daripada nggak ada sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk latihan!'
"Yoo, Bocah! Sedang latihan, ya? Rajin juga kau!" suara yang terdengar menyebalkan itu menerpa gendang telinga anak lelaki berambut hitam berkilat kebiruan itu.
Uryuu pun refleks menoleh dan melihat Ulquiorra tengah memainkan biolanya seperti biasa. Sebelum mengejeknya terlebih dahulu tentunya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Uryuu tanpa basa-basi.
"Hei, apa itu caramu bicara pada orang yang lebih tua?" Ulquiorra membalas pertanyaan Uryuu dengan pertanyaan lagi.
"Lebih tua apanya? ! Kau kan masih remaja bau kencur! Sok tua dan juga menyebalkan!" tandas Uryuu tajam.
"Ah, sudahlah," ucap Ulquiorra pelan. Bermaksud mengakhiri pertengkaran mulut yang terdengar konyol itu. "Omong-omong, kenapa kau latihan dengan senjata rusak begitu?" tanya Ulquiorra seraya menunjuk ke arah senjata-senjata yang dipakai Uryuu untuk latihan.
Raut wajah sedih sempat terbias di wajah Uryuu sebelum dia kembali memasang tampang dinginnya yang biasa. "Karena senjata-senjata ini adalah peninggalan klanku. Aku berusaha untuk melindungi mereka semua, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Aku ingin jadi lebih kuat dan membalas dendam pada klan terkutuk itu. Svartalfer!"
Ulquiorra menghela napas perlahan dan berujar. "Jangan berkata hal yang bodoh begitu. Itu sama saja dengan kau cari mati." Uryuu menatap aneh ke arah iris emerald Ulquiorra. Pemuda berambut sehitam kayu eboni itu menatap hampa ke arah iris biru Uryuu dan kembali berkata. "Ataukah... kau memang sengaja ingin buru-buru mati, wahai Lycan muda?"
Tanpa aba-aba, Uryuu langsung menerjang Ulquiorra dengan cakarnya. Untung pemuda berkulit pucat dan bermata hijau itu segera menghindar. Kalau tidak, tubuhnya sudah terluka terkena cakar Lycan yang terkenal dengan ketajamannya itu. Uryuu menggeram marah, dia melolong keras dan mencoba menikam Ulquiorra dengan cakarnya. Ulquiorra segera menghalaunya dengan tombak hijau miliknya.
"Jahanam! Rupanya kau salah satu dari klan itu, ya? Kubunuh kau!" raung Uryuu murka. "Berani-beraninya kau menipuku! Bedebah, kucabik-cabik tubuhmu yang busuk itu sekarang!"
"Kau salah sangka, tahu! Tenang sedikit, oi!" seru Ulquiorra berusaha meredam kemurkaan werewolf muda itu.
"DIAM KAU, KEPARAT! AKAN KUHENTIKAN NAPASMU SEKARANG JUGA!" teriak Uryuu marah. Mata birunya telah berubah warna menjadi semerah darah.
Ulquiorra berusaha menghindari beberapa tusukan maut dari cakar tajam milik bocah berambut hitam berkilat kebiruan itu. Dia juga berusaha membalas serangannya dengan serangan tombaknya—yang dengan mudah dihindari oleh Uryuu—dan berusaha menghindari serangan membabibuta werewolf cilik itu. Uryuu melolong keras lagi dan ia berubah ke wujudnya yang sempurna sebagai werewolf dengan tubuh diselubungi rambut-rambut tebal berwarna coklat gelap.
Uryuu kembali menyerang Ulquiorra dengan kekuatan dan kecepatan yang melebihi daripada sebelumnya. Pemuda berambut sehitam malam itu sedikit kesulitan menahan serangan itu dengan tombaknya, tapi ia tidak kehilangan akal.
Ulquiorra menepis beberapa serangan Uryuu dan melakukan salto di udara. Pemuda berkulit pucat dan bermata sehijau zamrud itu berdeham sejenak sebelum membuka mulutnya dan mulai bernyanyi.
In the moonlight
Your face it glows
Like a thousand diamonds
I suppose
And your hair flows like
The ocean breeze
Not a million fights
Could make me hate you
You're invincible
Yeah, It's true
It's in your eyes
Where I find peace
Perlahan, gerakan Uryuu melambat. Wujud werewolf-nya pun mulai memudar dan akhirnya kembali ke wujud manusianya. Uryuu masih menyerang Ulquiorra dengan membabibuta, kali ini dia berusaha menikam pemuda itu dengan pisau yang digenggamnya. Ulquiorra berkelit lagi dan meneruskan lagunya.
Is it broken?
Can we work it out?
Let's light up the town, scream out loud!
Is it broken?
Can we work it out?
I can see in your eyes
You're ready to break
Don't look away.
Tiba-tiba tubuh Uryuu roboh ke tanah. Peluhnya bercucuran dengan derasnya. Tubuhnya terasa diikat erat oleh sesuatu yang tak terlihat. Ulquiorra tersenyum tipis melihat sihirnya telah bekerja dengan sempurna. Uryuu menatap penuh amarah pada pemuda setinggi 169 cm itu dan menyemprotnya.
"Apa yang kau lakukan padaku, ba***rd? !"
Ulquiorra menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Dia menepuk-nepuk kepala Uryuu pelan dan berujar. "Kau ini masih kecil, Nak. Jaga mulutmu itu, ya? Tak baik anak sekecil kau mengucapkan kata-kata seperti itu." Setelah aura pembunuh Uryuu yang menyebar di udara memudar, Ulquiorra melanjutkan ucapannya. "Sihir yang kugunakan padamu tadi adalah sihir Deep Sleep Lullaby, fungsinya untuk menghentikan serangan lawan dan membuatnya tidak bisa bergerak."
"Damn it! Itu namanya curang! Bertarunglah secara sportif dong, kusoyaro!" teriak Uryuu marah.
"Hhh, kau ini benar-benar sulit diatur ya, Anak Muda? Sudah kubilang anak sekecil kau, tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar seperti itu," ucap Ulquiorra yang terdengar seperti keluhan. "Lagipula, kukatakan sejujurnya padamu, ya. Aku ini bukan Svartalfer, melainkan separuh vampir separuh manusia."
"Kau ini seorang Dhampir? Pantas kulitmu pucat begitu seperti orang kekurangan darah," ejek Uryuu sinis.
"Jangan meledekku ya, Anak Muda," tukas Ulquiorra pura-pura marah. Pemuda berambut sehitam malam dan bermata emerald itu menghela napas panjang dan kembali berkata. "Lagi pula, kau ini masih terlalu lemah dalam bertarung. Kau hanya mengandalkan emosi dan perasaanmu dalam bertarung. Kalau seperti itu terus, sih. Aku jamin 100% kau bakalan langsung terbunuh saat berhadapan dengan mereka."
"Kenapa kau beranggapan seperti aku akan kalah di awal?" tanya Uryuu tak mengerti.
"Kau tak paham, ya? Pertarungan itu harus dihadapi dengan tenang dan kepala dingin. Jadi apa pun yang akan dilakukan oleh lawan, kau jangan sampai terpancing oleh mereka."
Mendengar ucapan bijak dari Ulquiorra itu membuat Uryuu berpikir sejenak. Apa iya selama ini dia hanya menuruti keinginannya untuk balas dendam pada klan Svartalfer? Dia memang sangat membenci klan itu, tapi... Bagaimana dengan pertempurannya dengan makhluk selain klan itu? Apakah dia akan tetap dipenuhi nafsu untuk membunuh?
Melihat Uryuu terdiam, Ulquiorra kembali menghela napas. "Hidup tidak bisa pakai jalan pintas, Anak Muda. Kau harus menghargai hidup yang telah diperjuangkan mati-matian oleh kakekmu. Jangan lantas kau buang begitu saja demi memenuhi ambisi balas dendam konyolmu itu," ucap Ulquiorra tidak peduli.
Urat-urat kemarahan mencuat di dahi Uryuu. Ingin sekali rasanya dia mencakar wajah stoic pemuda penyihir itu saat ini juga. Tapi sayangnya, saat ini tubuhnya masih dibelenggu oleh kekuatan sihir Ulquiorra... sehingga mau tak mau dia harus memendam amarahnya dan hanya menggerutu tidak jelas di tempatnya.
"Makanya jadilah lebih kuat lagi, agar kelak kau bisa berjalan seorang diri. Ada yang harus kau lakukan, kan? Karena itu, pelajari semua yang bisa kau pelajari dari sekitarmu. Bekali dirimu dengan berbagai ilmu. Kalau kau tak mau mati konyol di tangan Svartalfer, belajarlah cara bertarung melawan mereka! kau paham?" tanya Ulquiorra pada Uryuu di akhir wejangannya.
'Ah, rasanya aku pernah dengar kata-kata itu sebelumnya... Oh ya, Kakek! jangan-jangan...' batin Uryuu curiga. "Kau menguping pembicaraan Kakek denganku, ya? Kenapa kau tidak menolong Kakek saat itu?" tanya Uryuu kesal.
"Bukannya aku tak mau menolong Kakekmu, aku sendiri saat itu sedang bertarung melawan petinggi dari kaum Svartalfer. Makanya aku juga sempat terlambat saat menolongmu, kan?" balas Ulquiorra tak kalah sengit.
"Grrhhh, kau ini memang benar-benar menyebalkan, Ulqui!" gerutu Uryuu kesal.
Kesunyian panjang sempat menyeruak di antara mereka, Ulquiorra melepaskan manteranya dari tubuh Uryuu dan bergegas untuk meninggalkannya. Sebelum Ulqui menjauh dari tempat itu, Uryuu yang telah memikirkan sesuatu sejak diberi nasihat oleh Ulqui... memanggil pemuda itu dan berujar.
"Hei, Ulqui. Maukah kau jadi guruku?"
"Kenapa aku?" tanya Ulqui.
"Waktu kau menyelamatkan aku dari serangan Svartalfer, aku berjanji akan membalas budi untuknya. Sekarang aku sudah tahu siapa yang menyelamatkan aku. Anggap saja sebagai tanda baktiku untukmu!" jawab Uryuu serius.
Ulquiorra tersenyum simpul. Dia memejamkan mata hijaunya sebelum membukanya kembali dan berkata. "Bukannya aku tak mau menjadikanmu sebagai muridku, tapi aku ini sebenarnya tak pantas dan tidak cocok untuk menjadi gurumu." Uryuu mendesah kecewa. Pupus sudah harapannya untuk membalas budi untuk penyelamat jiwanya. Melihat raut kecewa di wajah Uryuu, Ulqui menjadi tidak tega. "Tapi... aku bersedia melatihmu agar menjadi lebih kuat daripada sekarang. Bagaimana?" tawarnya dibarengi senyum lembut.
"Benarkah?" Uryuu tak mempercayai dengan apa yang ia dengar saat ini.
Ulqui menganggukkan kepalanya perlahan. "Tapi, aku akan melatihmu dengan keras, lho! Siap-siap, ya!" goda Ulqui dibarengi senyum jahilnya yang khas.
"APA? !"
"Just kidding!" celetuk Ulqui dibarengi deraian tawanya yang renyah. Membuat Uryuu merengut karenanya. "Ayo, berkemas! Kita akan mulai latihan besok!" ajak Ulqui tanpa basa-basi. Ia mulai melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Oi, tunggu aku, dong!" ujar Uryuu seraya mengejar Ulqui yang sudah berjalan jauh di depannya.
Dua tahun kemudian...
"Eeeh, Akademi Quiscart?" respons Uryuu kaget.
"Biasa aja dong, kagetnya," ucap Ulqui lambat-lambat.
"Maaf, tapi kenapa tiba-tiba kau ingin mengirimku ke sana?" tanya Uryuu ingin tahu.
"Soal itu..."
"Kalau di Akademi Quiscart, kamu bisa belajar untuk menangkal sihir, mempergunakan senjata, beladiri, dan masih banyak lagi keuntungan yang bisa kau dapat di sana, Ishida-kun," ucap Orihime yang duduk di sebelah Ulqui seolah memberi penjelasan.
"Orihime, jangan menyerobot ucapanku begitu, dong. Nggak sopan, kan?" tukas Ulqui pura-pura ngambek.
"Aaahh, maaf, Ulquiorra Sayang. Aku nggak lagi-lagi, deh!" Orihime membalas ucapan Ulqui dengan gaya centilnya.
Uryuu terperangah melihat kemesraan dua sejoli yang ada di depannya saat ini. Tapi dia merenungi betul penjelasan Orihime mengenai tawaran Ulquiorra untuk memasukkannya ke Akademi Quiscart. Di sana dia pasti bisa mempelajari hal-hal yang dibutuhkannya untuk membalaskan dendamnya pada klan Svartalfer.
"Baiklah, aku akan masuk ke Akademi Quiscart! Ulqui, besok antarkan aku untuk mendaftar ke sana, ya!" perintah Uryuu dengan kurang ajarnya.
Ulqui langsung memukul kepala Uryuu dan berujar. "Sama yang lebih tua sopan sedikit, kek!"
"Aduuuhhh!" ringis Uryuu kesakitan seraya mengusap-usap kepalanya yang terkena pukulan maut Ulquiorra.
Akademi Quiscart adalah sebuah perguruan untuk mendidik anak-anak muda yang memiliki 'bakat khusus'. Perguruan ini berada di tengah kota Karakura, dan setiap tahunnya siswa-siswa dari berbagai ras maupun golongan berdatangan dan mendaftarkan diri sebagai murid di sini. Inilah tempat yang cocok untuk mengasah diri dan juga menempa kemampuan untuk memburu penyihir jahat yang disebut sebagai 'Conjurer'.
"Ramai juga, ya? Kupikir yang namanya sekolah nggak bakalan seramai ini," komentar Uryuu norak pada saat memasuki halaman Akademi.
Alis Ulqui mengernyit. "Memangnya kau belum pernah menginjak sekolah sama sekali?" responsnya heran.
"Eeeng, pernah sih. Tapi suasana sekolah di desa Quincy nggak seramai di sini," aku Uryuu malu-malu.
"Ooh," komentar Ulquiorra pendek.
Sambil melihat-lihat tempat itu, sesekali Uryuu mencuri pandang ke arah tempat pelatihan yang ia lewati bersama Ulquiorra. Alisnya mengernyit saat melihat seorang bocah lelaki berambut biru cerah yang seumuran dengannya tengah bercengkrama dengan seorang gadis berambut hijau toska yang juga terlihat seumuran dengannya. Uryuu jadi risih sendiri mengingat usia dirinya dan juga kedua orang itu sama-sama berusia 9 tahun.
"Ayo, masuk ke kelasmu! Kita akan berjumpa lagi lain waktu, Garulu..." ucap Ulquiorra saat menepuk Uryuu untuk masuk ke dalam sekolahnya.
"Uuh, jangan memberiku panggilan aneh-aneh, Dhampir!" balas Uryuu sebal.
Ulquiorra tertawa kecil, dan langsung mengeloyor begitu saja seperti biasanya. Membuat Uryuu semakin naik pitam. Namun sebelum dia berhasil melontarkan kata-kata untuk menyemprot Ulqui, bahu Uryuu telah ditepuk oleh seseorang. Refleks Uryuu menoleh dan mendapati sesosok bocah yang memiliki rambut super mencolok tengah tersenyum padanya.
"Hai, kamu anak baru juga, ya? Kenalkan, namaku Ichigo Kurosaki! Kamu?" sapa anak bernama Ichigo itu dengan riangnya.
"Uryuu Ishida," jawab Uryuu acuh. Anak berambut hitam berkilat kebiruan itu langsung mengeloyor masuk ke dalam bangunan Akademi tanpa mempedulikan Ichigo.
"Hei, kau belum tahu, ya? Aku teman sekamarmu, lho! Kita harus berjuang bersama-sama selama menempuh pendidikan di Akademi ini, ya?" seru Ichigo mencoba memberitahu Uryuu walaupun ia yakin bocah berambut hitam lurus dan berkacamata itu tak akan mungkin mendengarkan suaranya.
Sejak hari itu, dimulailah hari-hari Uryuu di Akademi itu. Selama delapan tahun 6 bulan, Uryuu menempa dirinya dengan latihan keras. Menangkal sihir, beladiri, mempergunakan berbagai senjata, dan berbagai hal yang diperlukannya untuk membalas dendam.
Uryuu melewati hari-harinya yang membosankan dengan beberapa orang teman. Ichigo yang kadang-kadang kepergok olehnya sedang bermesra-mesraan dengan salah satu murid perempuan bernama Rukia Kuchiki, Grimmjow yang lebih suka berpacaran dengan Neliel daripada berlatih beladiri, Kisuke yang lebih sering mengajaknya untuk mencuri hotcake dari tempatnya Don Kanonji, Byakuya yang dingin, dan juga Renji yang ramai.
Semua itu berjalan dengan damai, hingga suatu hari...
"Bertarunglah denganku, Ishida! Aku ingin menjajal seluruh kemampuanmu!" tantang Ichigo dengan wajah penuh percaya diri.
Uryuu berdecak pelan. "Kheh, yakin sekali kau bakalan menang dariku, Kurosaki? Aku yakin 100% kau pasti langsung KO," balas Uryuu sengit.
"Hoo, boleh juga nyalimu," komentar Ichigo seraya bersiap untuk menyerang.
Uryuu segera memasang kuda-kuda bertempur. Ichigo mengayunkan pedangnya ke arah Uryuu dengan gerakan yang tak tertangkap oleh mata, Uryuu menangkisnya dengan busur perak yang ia munculkan dari tangannya dan membalas serangan Ichigo. Ichigo menghindari serangan bertubi-tubi dari Uryuu dengan sigap dan dalam sekejap pemuda berambut orange cerah itu sudah berada di belakang Uryuu dan menyerangnya dengan tinjunya.
Uryuu terlambat menghindar dan terkena hantaman tangannya Ichigo. Uryuu terhempas ke arah tanah yang keras, namun sebelum tubuhnya menyentuh tanah... ia menahan tubuhnya dengan sebelah tangan. Pemuda berkacamata itu mengelap darah yang keluar di sudut bibirnya dan menatap Ichigo dengan tatapan serius.
Ichigo tersenyum simpul. Dia mengacungkan telunjuknya dan kembali menantang Uryuu. "Majulah!"
Uryuu segera melesat cepat dari tempatnya berpijak dan menyerang Ichigo dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Ichigo yang tadinya meladeni serangan Uryuu dengan santai, mulai merasakan adanya keanehan dalam serangan Uryuu. Dia merasakan bahwa serangan pemuda beriris warna laut itu semakin lama semakin cepat dan saat pukulan Uryuu menyerempet wajahnya... Ichigo merasakan sayatan tipis di kulitnya.
Pemuda bermata hazel itu kaget setengah mati. Ia bahkan terpaku di tempatnya saat melihat perubahan drastis pada sosok Uryuu. Pemuda berkacamata itu kini terlihat buas, mengerikan, dan berbahaya dengan cakar-cakarnya yang tajam dan taring-taringnya yang terlihat siap mengoyak apapun. Mata merahnya memancarkan keberingasan, dan nafsu membunuh yang luar biasa.
Sebelum Ichigo sadar dengan apa yang terjadi, tiba-tiba saja Uryuu sudah muncul di hadapannya dan menghujamkan cakarnya ke arah dada lelaki itu. Ichigo berusaha menghindar, namun cakar itu sempat mengoyak kulitnya dan membuat luka yang cukup lebar di dadanya.
"Ugh!" erang Ichigo kesakitan seraya memegangi dadanya yang terluka. Ichigo mengeluh jijik saat melihat Uryuu—yang berada dalam wujud werewolf-nya—menjilat darah yang berlumuran di cakarnya. Tapi ia tak punya waktu untuk kesakitan, karena pada detik berikutnya Uryuu kembali menyerang dengan membabibuta.
Ichigo mati-matian menghindari serangan brutal Uryuu dan memberikan perlawanan dengan kekuatan yang ia miliki. Hal itu berdampak parah pada Uryuu karena membuat pemuda itu menjadi lebih brutal dan melepaskan wujud sempurnanya sebagai werewolf. Uryuu melolong keras, dan dengan cakarnya ia kembali menerjang Ichigo. Ichigo mendongak ke arah langit dan berdecak sebal. Ia tahu penyebab pemuda berambut hitam berkilat kebiruan itu kehilangan kendali, bulan purnama.
Ia sama sekali tidak tahu kalau rekan sekamarnya itu ternyata adalah seorang werewolf, dan saat ini... Ichigo berusaha menangkis serangan Uryuu yang berada dalam keadaan berserk sebisanya. Meski demikian, stamina manusia tidak bisa dibandingkan dengan werewolf. Manusia tetap memiliki batasan kekuatan. Hal itu terlihat dari deru napas Ichigo yang semakin cepat dan serangannya yang mulai melambat. Ichigo mulai kewalahan dalam menghadapi serangan Uryuu, dan pasrah saat pemuda itu hendak menikamnya dengan taringnya yang tajam.
Ichigo memejamkan mata hazel-nya perlahan dan mulai memanjatkan doa dalam hati. Sebelum taring itu sempat mengenai Ichigo...
"Physic wave!" sebuah serangan telah menginterupsi Uryuu dan menghantamnya secara langsung.
Uryuu yang masih dalam wujud werewolf-nya menoleh ke arah orang yang telah menyerangnya. Ia menggeram marah saat melihat sosok gadis muda berambut hijau toska tengah bersiap untuk kembali menyerangnya. Uryuu kembali melolong sebelum menyerang gadis itu dengan cakarnya. Gadis itu—Neliel—tersenyum tipis dan memunculkan tombak perak yang cukup besar di tangannya.
"Lanzador Verde!" ucapnya seraya bersiap melempar tombak itu ke arah Uryuu.
Tombak perak itu segera melesat cepat dan menhantam bahu Uryuu serta menembus kulitnya. Uryuu meraung kesakitan dan suara binatang buas menggema ke pelosok bangunan Akademi itu. Neliel bersiap di tempatnya, sementara Byakuya, dan beberapa orang senior berusaha menahan tubuh Uryuu dengan kertas mantera. Mereka berusaha keras untuk menenangkan werewolf muda itu.
"Ck, ini merepotkan!" desis Yoruichi sebal.
"Sepertinya Ishida-san benar-benar sudah lepas kendali, ya?" Hachigen berkomentar singkat.
"Sudah, kalian jangan banyak komentar. Ayo, kita selesaikan ini secepatnya!" tukas Kisuke seraya menengahi pembicaraan mereka.
Selagi mereka mengurus Uryuu... Tessai, Ginjou, Riruka, dan Rurichiyo menghapus ingatan murid-murid lain yang sempat memergoki wujud werewolf Uryuu. Para murid itupun segera tertidur pulas tanpa bisa mengingat apa yang tengah terjadi saat itu. Ichigo yang saat itu terluka parah dirawat secara intensif di klinik yang tersedia di Akademi.
Keesokan harinya... Uryuu membuka matanya lebar-lebar dan mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tapi ia merasa sangat sulit bergerak dan tubuhnya terasa sakit semua. Uryuu tidak ingat dengan apa yang terjadi semalam saat ia sedang berlatih tanding dengan Ichigo. Terakhir kali yang ia ingat adalah... ia hampir mengoyak tubuh pemuda itu dengan cakarnya. Uryuu memandangi kedua tangannya dengan perasaan ngeri.
"A, apa yang sudah kulakukan? Aku... hendak membunuh pemuda manusia itu?" gumamnya dengan perasaan sedikit bersalah. "Tuhan, kumohon... Ampunilah hambamu ini..." desis uryuu lirih.
"Kau sudah sadar?" sebuah suara lembut menyapa Uryuu dan membuat pemuda itu tersentak kaget dan refleks menoleh ke sumber suara.
"Neliel?" Uryuu pun refleks menyebutkan nama gadis itu.
Neliel yang tengah menyenderkan tubuhnya di pintu klinik beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri Uryuu. "Semalam kau kehilangan kendali, hampir saja kau menewaskan Ichigo kalau kami dan juga para senior tidak segera mencegahmu," tuturnya seolah memberi penjelasan. Mata hazel Neliel menatap Uryuu penuh arti dan melanjutkan ucapannya. "Tapi kau beruntung, ya? Masih bisa hidup dari pembantaian massal sebelas tahun yang lalu, kalau aku jadi kau... mungkin nasibku tak akan seberuntung dirimu."
"Klanmu juga dibantai oleh mereka?" tanya Uryuu penasaran. Neliel menganggukkan kepalanya perlahan. "Lantas bagaimana caranya kau bisa selamat? Aku saja tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri saat itu. Kamu kok...?" Uryuu tak dapat lagi membendung rasa penasarannya.
Neliel menyunggingkan senyum di bibirnya dan berujar. "Klanku selamat, kok! Memang tak banyak dari kami yang bisa meloloskan diri, tapi setidaknya beberapa di antara kami berhasil untuk bertahan hidup!"
Uryuu mengernyitkan alisnya heran. "Aku belum tahu. Sebenarnya kau ini makhluk apa?" tanya Uryuu ingin tahu.
Neliel nyengir jahil. "Rahasiaaa~!" ucapnya riang seraya berbalik arah, hendak meninggalkan kamar Uryuu. Uryuu jadi sangat sebal dengan gadis itu, karena Neliel tidak memberikan jawaban yang ia inginkan. Neliel berbalik dan berkata pada Uryuu sebelum ia meninggalkan kamar itu. "Oya, kalau kau mencemaskan Ichigo... dia baik-baik saja, kok! Jangan khawatir! Lukanya tidak terlalu dalam."
"Ada di mana dia sekarang?" kejar Uryuu seraya bangkit dari tempat tidurnya.
"Di kamar ujung di lantai 3 klinik ini," jawab Neliel pelan. Gadis berambut hijau toska itu mengerjap-ngerjapkan mata hazel-nya dengan tatapan heran. "Kau benar-benar mau ke sana? Saat ini Ichigo belum boleh menerima tamu, lho!"
"Peduli setan dengan peraturan! Minggir! Aku mau ketemu dia!" tukas Uryuu tegas seraya beranjak dari kamarnya dan mendorong tubuh Neliel. Gadis berambut hijau toska itu mau tak mau memberikan jalan untuk pemuda berkacamata itu.
Neliel menghela napas saat memandangi kepergian Uryuu dari kamar tersebut. Grimmjow muncul dari balik pintu dan menghampiri kekasihnya.
"Tidak memberinya penjelasan 'kenapa Ichigo tidak boleh ditemui'?" tanya Grimmjow.
Neliel menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak apa-apa, toh nanti juga dia tahu sendiri alasannya."
Grimmjow membelai lembut rambut hijau toska Neliel dan menariknya ke pelukannya. "Kau memang centaurus*-ku yang baik hati dan juga cantik, Neliel," ucap Grimmjow masih dengan tangan sibuk membelai rambut gadisnya itu dengan penuh kasih sayang.
Neliel bersandar di dada bidang Grimmjow dan mendekap erat tubuh pria itu. Gadis bermata hazel dan berambut hijau toska itu bersyukur memiliki kekasih sebaik Grimmjow. Ia berharap, dia akan tetap bersama pemuda berambut biru itu selamanya.
Sementara itu Uryuu berlari-lari di sepanjang koridor klinik itu untuk mencari kamar rawat Ichigo. Tapi semakin ia masuk lebih dalam ke lorong itu, semakin sulit ia menemukan letak kamar itu. Seolah-olah, dia tengah berada di dalam sebuah labirin yang tak berujung.
Uryuu menghentikan langkah kakinya dan menatap nanar ke segala penjuru tampat itu. Ia merasakan adanya tanda-tanda sihir ilusi di tempat itu. Pemuda berkacamata itu memejamkan matanya perlahan dan memusatkan konsentrasi. Beberapa saat kemudian, pemuda setinggi 171 cm itu membuka matanya dan melihat bahwa ruangan-ruangan di koridor itu telah kembali seperti semula.
Uryuu kembali melanjutkan percariannya tanpa menyadari dia tengah diawasi oleh Kisuke dan Yoruichi.
"Wah, wah, rupanya dia sudah cukup banyak mengalami kemajuan, ya?" Yoruichi berkomentar dengan kedua tangan terlipat di dadanya, sementara itu mata emasnya mengawasi gerak-gerik Uryuu dari kejauhan.
Kisuke membetulkan posisi topinya dan menimpali ucapan kekasihnya itu. "Ya, aku rasa Ishida-san memang memiliki peluang untuk bisa lulus dari akademi ini dengan nilai bagus. Selain itu, kemampuannya juga sangat mengagumkan. Dia layak untuk menyandang predikat Quiscart. Dan aku yakin kalau dia bisa mempergunakan kekuatannya untuk membasmi para Conjurer yang kejahatannya sudah semakin merajalela di negeri ini."
Yoruichi memejamkan mata emasnya perlahan dan berujar pelan. "Kau benar."
Uryuu terus mencari keberadaan kamar Ichigo dan pencariannya berakhir di ujung lorong klinik. Betapa terkejutnya pemuda berambut hitam berkilau kebiruan itu saat dilihatnya Ichigo tidak sedang berada di ranjangnya, melainkan tengah bertarung melawan Conjurer level rendahan.
"Kurosaki!" seru Uryuu memanggil pemuda itu seraya memunculkan busur panah peraknya dan menyerang sekumpulan Conjurer itu dengan serangan panahnya. Conjurer-Conjurer itu menghindari serangan Uryuu dengan cepat dan bergegas meninggalkan tempat itu sebelum serangan susulan dilancarkan oleh Uryuu dan Ichigo.
"Kurosaki, kau baik-baik saja? Lukamu bagaimana?" tanya Uryuu cemas seraya memeriksa tubuh pemuda berambut orang itu.
Ichigo mengulum senyum dan berujar. "Hei, Ishida. Aku baik-baik saja, kok! Jangan khawatir!" Uryuu mengernyitkan alisnya tak paham. Pemuda setinggi 174 cm itu menatap aneh ke arah Uryuu dan bertanya padanya. "Omong-omong Ishida, kenapa kau bisa ada di sini?"
"So, soal itu!" Uryuu merasa malu untuk mengatakannya, tapi dia harus berani untuk bilang pada pemuda itu. "Aku ingin minta maaf, karena hampir membunuhmu semalam, Kurosaki," ucap Uryuu lirih dengan kepala tertunduk.
"Hah? Kau ke mari hanya untuk mengatakan itu?" tanya Ichigo tak mengerti.
"Memangnya kau ingin apa dariku?" Uryuu membalas pertanyaan pemuda berambut orange itu dengan pertanyaan bernada sinis.
Ichigo menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal dan berujar. "Soal itu nggak usah terlalu dipikirkan, lah! Aku kan sudah memaafkanmu sejak semalam!"
"Oh, begitu," respons Uryuu datar. Pemuda berkacamata itu membalikkan tubuhnya dan bergegas untuk pergi dari tempat itu.
"Hei, hei, kok malah pergi? !" tanya Ichigo dengan nada heran.
"Aku kan sudah dimaafkan, jadi aku tidak ada urusan lagi di sini," balas Uryuu tanpa ekspresi dan melenggang pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan heboh Ichigo yang mengatai dirinya menyebalkan.
Tiga bulan kemudian, akhirnya ujian penentuan apakah mereka layak untuk menjadi seorang Quiscart atau tidak pun tiba. Masing-masing murid Akademi menjalani ujian dengan tim yang terdiri dari dua orang. Siapa yang berhasil bertahan dengan rekan setimnya sampai ujian berakhir, maka mereka akan dinyatakan lulus dalam ujian Quiscart.
Uryuu berpasangan dengan Ichigo, Grimmjow dengan Neliel, Rukia dengan Senna, dan masih banyak lagi. Mereka semua berjuang menempuh ujian Quiscart itu sampai akhir. Pertama-tama mereka melalui rintangan panjang yang dipenuhi oleh Troll*. Mereka diharuskan melewati jalan sepanjang 20 km sambil menghajar Troll-Troll itu dengan kemampuan khusus mereka.
Rintangan kedua, mereka harus melewati jembatan di atas danau seluas 10 km sambil menahan diri dari godaan-godaan yang dilancarkan oleh Gwragged Annwn* yang menghuni danau tersebut. Barangsiapa yang terlena dengan godaan peri tersebut, maka sang peserta ujian akan dianggap gagal. Beruntung Uryuu dan kawan-kawannya berhasil melewati itu semua dengan baik.
Dan ujian terakhir adalah... masing-masing dari pasangan itu bertarung satu sama lain untuk mengukur kemampuan masing-masing. Ichigo dan Uryuu melewati ujian itu dengan cara serius dalam bertarung. Mereka masing-masing memperlihatkan kemampuan khusus mereka yang mengagumkan, dan membuat para tim penilai berdecak kagum karenanya.
Setelah ujian berakhir, Uryuu dan kawan-kawan merayakan kelulusan mereka. Dan pada upacara kelulusan itu, mereka semua dibekali dengan berbagai macam peralatan untuk menunjang pekerjaan mereka sebagai Quiscart. Ichigo menyalami Uryuu dan meminta pemuda itu untuk menjadi partner tetapnya dalam memburu Conjurer. Uryuu menyambut uluran tangan Ichigo dan menyetujui usulan Ichigo itu.
Setelah perayaan itu usai, diam-diam Uryuu menyusup keluar bangunan Akademi. Di bawah sinar bulan purnama, Uryuu kembali ke sosok werewolf-nya dan pergi ke bekas rumahnya dulu. Di sana, ia kembali teringat kenangan-kenangan pada saat semua orang di sana hidup bahagia. Kemudian malapetaka itu datang dan merenggut kebahagiaan mereka. Orang-orang biadab dari klan Svartalfer.
Uryuu bisa melihat jelas bahwa di lengan kiri mereka ada semacam simbol berbentuk bunga dan Uryuu pun mengingat dengan jelas simbol-simbol itu walaupun ia tak mengenali wajah orang-orang yang membantai kakek beserta klannya karena semua orang itu mengenakan penutup wajah. Tapi satu hal yang jelas, Uryuu hapal betul bau mereka. Bau makhluk yang memiliki aroma kecongkakan dan juga kedengkian.
Uryuu tak akan pernah lupa saat itu. Detik-detik saat kakeknya meregang nyawa dan tawa sadis yang menggema di tempat itu. Uryuu pun bersumpah, dia tak akan pernah memaafkan orang-orang yang membantai seluruh anggota klannya. Sampai kapanpun!
#TBC#
Keterangan :
-Mazoku : Ras monster yang dianggap sebagai 'makhluk jahat', 'setan', dan 'suka melukai manusia'. Werewolf, Vampir, Werephanter, Sidhe, Merman, Frankestein, Centaurus, Siren, Birdtyle, dan lain sebagainya termasuk ke dalam golongan Mazoku.
-Omoshiroi : Menarik!
-Mitsuketa: I found you.
-Sorcerer: Praktisi sihir yang menguasai sihir elemental dan juga mempunyai koneksi dengan 'makhluk dunia sana'. Umumnya ilmu sihirnya sudah dimiliki sejak lahir dan bukan berasal dari pendidikan ataupun dipelajari. Sihir yang mereka miliki jauh lebih rumit dan sulit diatasi.
-Centaurus : Makhluk mistis berwujud setengah kuda, setengah manusia. Tidak begitu menyukai berbaur dengan manusia, tapi ada beberapa yang sangat suka bergaul dengan manusia. Ahli obat-obatan, ramalan, dan juga strategi perang.
-Troll : Makhluk mistis yang tidak suka terkena sinar matahari. Mereka sering melakukan tarian dengan bagian potongan telinga yang aneh yang disebut 'Henking'.
-Gwragged Annwn : merupakan peri air, yang kadang-kadang mengambil manusia pria untuk dijadikan suami-suaminya. Memiliki suara indah dan paras cantiknya kadang membuat siapapun yang melihatnya akan tergoda.
A/N :Kayaknya tambah ngaco bin aneh dan nggak jelas, deh! *pundung di pojokkan*
Rasanya di sini si Soken kok jadi kayak Fea Kreuz, ya? Ampun, deh! Maafkan imajinasi ngaco saya! =_=" Sumimasen sebelumnya, saya telat update fic ini. Sudah saya katakan sebelumnya kan, kalau saya tidak bisa update cepat fic-fic MC saya karena kesibukan di dunia nyata? Ok, untuk permulaan, sudikah kalian menyumbangkan sepucuk review? Mohon saran dan kritiknya. *membungkuk dalam-dalam* Mohon pendapatnya dan berikan saran kalian lewat Review. *nunduk dalem-dalem*
By the way, ide ini saya dapatkan dari manga 07-ghost dan juga YuGiOh, lho! Desa Quincy adalah Kerajaan Raggs sedangkan Seireitei adalah Kerajaan Balsburg. Bedanya di sini, Uryuu tidak seperti Teito yang punya Eye of Mikhail, hehehe! Gimana kelanjutan ceritanya bisa diintip dari cuplikan di bawah ini :
Jikan The Last Werewolf
Chapter 4 : Roots of The King
"Itu Sluagh, roh penasaran yang kematiannya tak termaafkan, atau mereka melakukan dosa besar. Merupakan lawan yang hebat bagi peri dataran tinggi," jawab Ulquiorra datar. Ada bias kesedihan di wajahnya yang semula tanpa ekspresi.
.
.
"Heeeii, yang benar sajaaa! Masa aku yang Pangeran ini disuruh membelah kayu bakar? ! Aku ini muridmu, bukan budakmu! Dasar Guru Sialan!" sergah Ggio marah saat penyihir bermata hijau emerald itu menyuruhnya untuk mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan oleh pekerja kasar.
"Jangan mengeluh! Ini ujian untuk melatih mental, tahu!" sahut Ulquiorra cuek.
.
.
"Suatu saat, kau pasti akan bisa merebut kembali apa yang menjadi hakmu, Vega-kun. Karena itu berusahalah dengan sekuat tenaga!" Orihime mencoba memberi semangat pada pemuda bermata emas itu.
