Title : Arthur Hurt Love Story Part 2

Desclaimer : Hetalia (c) Hidekazu Himaruya

Rating : M

Pairing : FrUk, UsUk, ScottEng.. + Sealand

Summary : Arthur dilamar oleh pria ini. Apakah Arthur akan menerima lamaran pernikahannya? Ditambah lagi, Peter dengan usilnya mengerjai Arthur.

Note : OOC + Uk versi wanita bukan Nyo!Uk. Cerita ini terinspirasi saat sedang RP-an sama Clorkshelle.. Tapi sorry kalau ceritanya ada yang sedikit diubah karena lupa detilnya... ahahahaha #Tertawadengannistanya... FIKTIF!...

.

.

Kalian pada Heran ya kenapa Arthur disini walau dia punya dada namun namanya Arthur? ini memang RP saya dan Clorkshelle.. saya menjadi Arthur versi cewek karena permintaannya... dan nama Arthur, daripada ribet2 mikirin kenapa nama cewek Arthur, mending kalian anggap saja kalau orangtuanya salah ngasih nama gitu #dibuangmasyarakatsetempat... kalau namanya Alice itu kan nyo!Uk... makanya ga tau mau kasih nama siapa jadi panggilnya Arthur... =_=

.


.


Arthur mulai bekerja di tempat Francis bekerja. Ia bermain dengan anak-anak dan membuat anak-anak bahagia. Ia merasa bahagia dari sebelumnya. Ia merasakan bahwa dirinya dapat berguna bagi anak-anak tersebut. Ia mulai sering tersenyum dibanding rasa ingin menangisnya. Wajahnya tampak lebih cerah dibanding sebelumnya. Ia bersyukur dapat terlahir seperti ini.

"Dokter, sarapan pagi sudah siap" ucap Arthur mengetuk pintu ruangan Francis. Ia masuk kedalam ruangan gelap itu dan mendapatkan Francis tertidur pulas di sofa panjang miliknya. Arthur masuk kedalam kamar tersebut dan menyentuh lengan pria berjanggut tersebut. "Dokter, bangun!"

Francis tidak segera bangun namun ia segera memeluk tubuh mulus Arthur dengan eratnya lalu mengkecup bibir Arthur. Arthur tersentak kaget sehingga tanpa pikir panjang ia langsung menghajar Francis berkali-kali sehingga membuat Francis terbangung seratus persen mata terbuka dengan kagetnya.

"?"

"A, apa yang kau lakukan terhadap wajah tampanku?" teriak Francis kesakitan.

"Ah, maaf." Ucap Arthur menyesal. "Itu spontan dan sudah menjadi kebiasaan kalau ada lelaki hidung belang mendekatiku"

Francis terdiam menatap Arthur dengan kesal. "Arthur!". Arthur melihat kearah Francis dengan kebingungan. Francis menyentuh wajah Arthur lalu mendekatkan wajahnya kewajah mulus itu. Arthur kaget dan bingung. "Jangan pukul aku!"

Arthur tidak memukulnya. Wajahnya merah bagaikan tomat yang matang. Nafas Francis terasa hangat mengenai wajah gadis itu hingga akhirnya bibir Francis menyentuh bibir Arthur. Arthur memejamkan matanya, bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa diam karena Francis berkata untuk jangan memukulnya. Nafas Francis terasa hangat dan lidahnya seakan menyuruh Arthur membuka mulutnya. Arthur mulai merasakan debaran-debaran kencang didadanya. Ia mulai merasakan suatu keanehan didirinya. Ia membuka mulutnya membiarkan lidah Francis menyentuh lidahnya. Ia mulai merasakan ciuman membara dari seseorang untuk pertama kalinya.

"Aku mencintaimu, Arthur" ucap Francis kecil. "Aku ingin kau menjadi milikku! Aku ingin kau menjadi istriku dan menikah denganku!"

Arthur terdiam kebingungan. Ia begitu bingung untuk menjawab. Memang sejak awal pria ini telah membuatnya penasaran. Memang sejak awal pria ini berbuat baik padanya. Memang sejak awal ia tahu bahwa ia mempunyai rasa terhadap pria ini. Ia juga mencintainya namun ia begitu takut. Ia begitu takut untuk merasakan kebahagiaan itu.

Ia masih tidak dapat menghilangkan penderitaannya selama ini. Ia masih takut akan merasa kehilangan untuk ketiga kalinya. Ketiga kalinya? Ya! Ia pernah dua kali merasakan kehilangan. Yang pertama, saat ibunya yang cantik dan bunga desa di tempatnya berada meninggal sejak melahirkan Peter, ia merasa amat sangat menderita. Kakaknya yang kasar, berandalan dan sangat susah diatur semakin sangar dan sangat susah kakaknya sendiri yang brother complex itu selalu saja membuat Arthur luka-luka. Sewaktu ada ibunya, Arthur dan kakaknya sangat harmonis, Ayahnyapun sangat baik kepadanya. Karena ditinggal sang ibu, ayahnya menjadi stress dan sering sekali marah dan menyalahkan semuanya kepada anak perempuan satu-satunya dan kakaknya merasakan kehilangan kasih sayang dari seorang ibu dan selalu menyalahkan Arthur karena pengaruh dari ayahnya.

Yang kedua, sejak dulu sebelum bertemu dengan Alfred, Arthur mempunyai teman yang umurnya lebih tua darinya. Ia jatuh cinta kepada orang itu yang selalu mengajarkan arti kebahagiaan. Dulu Arthur selalu curhat kepada orang itu dan kalau ada masalah, orang itulah yang menghibur Arthur. Mereka bahkan pernah merencanakan kawin lari dimasa depan mereka. Namun orang itu harus pindah bersama orangtuanya. Arthur pernah melihat orang itu menangis meminta izin kepada kedua orangtuanya agar ia tetap tinggal disisi Arthur namun orangtuanya tetap bersikeras menyuruh anak tunggalnya untuk ikut. Karena itu, ia berjanji akan bertemu kembali dengan Arthur dan akan menjadi kebahagiaan milik Arthur.

Arthur tentu saja sangat ketakutan untuk kehilangan. Ia terdiam tanpa sepatah katapun. Ia memang mencintai dokter itu tapi apakah dokter itu dapat menjamin kebahagiaan dirinya selamanya?

"Ah, sarapan sudah siap?" tanya Francis tersenyum kecil. Ia melihat keraguan terhadap diri Arthur karena itu ia segera mengganti topik. Ia berdiri dan mengulurkan tanganya kearah Arthur. "Kasihan anak-anak kalau harus menunggu kita"

Arthur membalas uluran tangan Francis dan tersenyum kecil. Ia masih bingung harus menjawab apa. Ia dan Francis segera pergi ke dapur dimana anak-anak menunggu mereka. Mereka memulai ritual sarapan mereka dengan penuh canda tawa layaknya kehidupan keluarga-keluarga lainnya. Begitulah kehidupan Arthur yang dipenuhi dengan tawa dan canda ditempat kerjanya.

Malam itu setelah jam pulang kerja, Arthur bersiap-siap untuk pulang kerumahnya di gubuk bersama dengan Peter. Ia sudah membawa barang-barangnya didalam tasnya yang sangat murahan sekali. Tiba-tiba Francis datang menghampirinya mengajaknya makan malam diluar. Arthur tidak menolak ajakannya karena ia merasa banyak berhutang budi terhadap pria berjanggut tersebut. Mereka pergi kerestoran terdekat.

"Mau pesan apa?" tanya Francis sambil memberikan menunya.

"A—apa saja boleh" ucap Arthur malu-malu.

"Hmm—cumi?"

"Kakak tidak bisa makan cumi!" ucap Peter santai sambil melihat kearah buku menu. "Kau pasti Alergi"

"Bagaimana kalau sup ikan?" tanya Francis.

"Bo—bolehlah asal tidak cumi" ucap Arthur yang sejak tadi gugup. Francis segera memesan makanan kepada waitress di restoran tersebut.

"Lalu, kalian pacaran ya?" tanya Peter polos kepada Francis dan hal ini membuat Arthur dan Francis tersentak kaget bersamaan.

"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Francis tersenyum iseng.

"Soalnya kau baik sekali mau memberikan pekerjaan terhadap kakakku" ucap Peter. "Kalau orang lain kan pasti tidak akan memberikan pekerjaan dengan cuma-cuma apalagi terhadap kakakku yang selalu dipandang rendah oleh orang lain"

"Oh begitu"

"Jadi apa kalian benaran pacaran?" tanya Peter penasaran. Francis menatap Arthur dengan tersenyum iseng.

"Pe—Peter jangan ngomong yang tidak-tidak!" ucap Arthur yang sejak tadi wajahnya memerah.

"Kau menyukainya, kan, kak?" ucap Peter polos sehingga membuat Arthur kelabakan.

"Peter!" pekik Arthur malu.

"Hei dokter, aku sangat berharap padamu, tolong bahagiakan kakakku! Dia selalu menderita selama ini" ucap Peter dengan mata berbinar dan hal itu tentu saja membuat Arthur meneriakinya.

"Memangnya kakakmu tidak pernah bahagia"

"Iya. Kakakku tidak pernah sebahagia ini selama ini. Dia selalu saja menangis sendirian tanpa ada yang tahu. Aku berharap padamu untuk membahagiakan kakak"

"Kalau begitu kau setuju dong kalau kakakmu menikah denganku?"

"Tentu saja! Aku setuju banget karena aku percaya padamu. Dari semua orang yang kutemui hanya kamulah orang yang dapat membahagiakan kakakku" ucap Peter bahagia.

"Pe—peter! Jangan ngomong sembarangan!"

"Buktinya sekarang ini, kakakku sedang bahagia"

"Apakah ia terlihat bahagia?" tanya Francis bingung.

Peter tersenyum pasti. "Dia memang pandai menyimpan perasaan sukanya"

"Oh begitu" Francis tersenyum geli melihatnya.

"Peter, hentikan sekarang juga!" kembali wajah Arthur memerah padam. Peter memundurkan bangkunya dan duduk disebelah Francis. Peter merangkul tangan Francis dengan eratnya.

"Kakak, aku menyukai kakak ini untuk menjadi kakakku!" pinta Peter merayu Arthur.

"Maksudmu kakak ipar?" tanya Francis tersenyum kecil.

"Iya aku ingin sekali kalau dokter ini segera menjadi kakak iparku" ucap Peter menatap Arthur seperti anak anjing yang kehilangan induknya. Tentu saja itu membuat Arthur tidak bisa apa-apa.

"Bagaimana, Arthur? Adikmu menginginkan kita menikah secepatnya" tanya Francis tersenyum geli.

Arthur terdiam memikirkannya. Wajahnya tampak seperti tomat yang matang. Dadanya bergemuruh kencang dan nafasnya mulai memburu. Perasaannya tidak dapat ia kontrol. Ia merasa bahagia yang amat sangat namun ia berusaha untuk tenang. Ia sempat berpikir bahwa Francis telah menghasut Peter, namun ia tahu bahwa Peter bukanlah anak bodoh yang gampang termakan hasutan orang lain walau orang itu memberikan sesuatu yang ia inginkan. "—ka—kalau dokter tidak keberatan"

"Asyik! Aku senang kakak akhirnya menemukan calon" ucap Peter sambil memeluk Francis kembali. "Kuharap kakakku bisa bahagia"

"Ya. Aku pasti akan membahagiakan kakakmu" ucap Francis tersenyum kepada Arthur seakan dirinya telah memenangkan pertandingan merebut hati Arthur.

Keesokan harinya, seperti biasa Arthur menjaga anak-anak kamar 666 dan bermain bersamanya. Peterpun juga ikut bermain bersama mereka. Mereka begitu bahagia bermain bersama. Semua anak-anak itu sangat menyukai Arthur sehingga sering sekali memperebutkan Arthur. Apabila sudah begitu, Arthur akan panik untuk meleraikan dan Peter dengan seenaknya merebut Arthur dari mereka yang bertengkar karena memperebutkan Arthur. Namun siang ini Arthur dipanggil oleh Francis. Ia mengikuti Francis masuk kedalam ruangan pria itu tanpa sadar bahwa pintu satu-satunya untuk keluar itu telah dikunci.

"Duduklah!" ucap Francis yang juga duduk di bangku miliknya. Arthur menuruti ucapan pria itu.

"A, ada apa?" tanya gadis itu bingung.

"Ini tentang pernikahan kita" ucap Francis. "Aku ingin memperkenalkanmu kepada kedua orangtuaku"

Arthur tersentak kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan calon mertuanya. Ia begitu takut untuk bertemu calon mertuanya. Takut? Ya, dia sangat takut. Pertama, Francis adalah anak orang kaya yang hidup berkecukupan sejak kecil hingga ia mempunyai perusahaan sendiri diberbagai tempat sedangkan dia anak miskin yang hidup penuh penderitaan yang dijual oleh ayahnya. Kedua, ia pernah bekerja sebagai penari erotis di klub bar malam dan itu pastinya akan mengurangi penilaian kedua orangtua pria itu terhadapnya. Ketiga, ia tidak mau terlihat seperti gadis murahan yang mau menerima lamaran Francis karena kekayaan Francis. Ia bukan mencintai Francis karena kekayaan pria itu. Bahkan ia sudah terjerat dengan Francis sejak sebelum ia mengetahui siapa Francis. Ketiga itulah yang membuat ia kini merasakan tegang untuk diperkenalkan kepada orangtua Francis.

"O—orangtuamu?" ucap Arthur gugup. Francis hanya mengangguk tersenyum dengan santainya. "Ta—tapi—"

"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Francis bingung.

"Bukan begitu, tapi bagaimana kalau orangtuamu tidak menyetujui hubungan kita? Aku—aku ini kan bekas pelacur" ucap Arthur bingung. Ia menundukkan wajahnya yang memerah malu.

"Masa lalu adalah masa lalu!" ucap Francis tegas. "Aku sudah bilang padanya dan mereka sudah menyetujuinya"

"Eh?"

"Sejak awal aku melihatmu, aku sering menceritakan dirimu kepada mereka dan tentu saja mereka percaya terhadap pilihanku. Kini kaupun sudah bukan pelacur lagi" ucap Francis tersenyum lembut. Ia segera mengambil bungkusan kecil dari lacinya dan memberikan bungkusan itu kepada Arthur. "Bukalah!"

Arthur mengambil bungkusan kecil tersebut dan membukanya. Lagi-lagi ia dibuatnya bahagia oleh pria itu. Ia melihat sebuah cincin emas dengan ukiran namanya dicincin tersebut. Ia menatap Francis yang mengangguk kepadanya.

"Mulai sekarang kita resmi menjadi suami-istri" Ucap Francis sembari memakaikan cincin tersebut ke jari manis Arthur. Ia mengkecup bibir Arthur dengan lembut dan perlahan ia menyentuh payudara kecil milik Arthur. Arthur tampak begitu tenang dan menikmatinya. Ia merasakan kelembutan tangan Francis tidak seperti saat ia hampir diperkosa oleh Scott, kakaknya sendiri. Namun, ia segera menampar Francis secara spontan saat pria itu ingin membuka bajunya.

"Kenapa?" tanya Francis kaget.

"Ti—tidak ada apa-apa" ucap Arthur gugup. Ia segera menutup kembali baju yang tadinya terbuka setengahnya. Ia tertunduk malu dan takut untuk melihat kearah Francis. Ia tidak ingin Francis melihat luka dipunggungnya yang membekas itu. Ia begitu takut apabila Francis akan merasa jauh dan jijik bila melihat luka tersebut.

"Katakan apa yang kau sembunyikan!" ucap Francis bingung. Arthur tetap terdiam seribu bahasa. "Hei, hari ini hari pernikahan kita, bukan? Katakan padaku! Jangan kau pendam sendirian saja!"

Arthur tetap terdiam malu. Ia tidak sanggup menatap Francis. Kembali Francis mencopot kancing-kancing baju Arthur sehingga Bra murahan yang dipakai oleh Arthur terlihat. Wajah Arthur memerah padam dan tidak menolak Francis membuka pakaiannya. Francis melingkarkan tangannya ketubuh Arthur untuk membuka kancing Bra milik gadis itu. Namun, ia tersentak kaget saat merasakan punggung gadis yang ia cintai itu begitu kasar. Ia segera membalikan tubuh Arthur dan melihat luka dipunggung gadis itu.

"Luka ini—"

Arthur begitu malu untuk memperlihatkan luka itu kepada suaminya yang ia cintai. Ia menahan airmatanya yang sudah hampir keluar dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"A—aku pernah bilang, bukan, bahwa aku dijual oleh ayahku?" ucapnya menahan airmatanya. Nafasnya terasa begitu berat. "Luka ini aku dapatkan dari ayahku"

Francis mengkecup luka tersebut sehingga membuat Arthur merasa nyeri dan geli. "Sini biar kuobati"

"Percuma saja. luka ini sudah lama dan tidak akan menghilang" ucap Arthur tersenyum kecut. Ia bahkan sudah mencoba berbagai cara agar luka itu dapat menghilang. Ia sangat membenci luka tersebut. Karena luka tersebutlah, ia selalu tidak bisa menutup rapat-rapat lembaran lamanya yang selalu disiksa oleh kakak dan ayahnya walau ia sangat ingin melupakannya. Namun ia sudah mulai putus asa dan membiarkan luka tersebut tetap ada di punggungnya.

"Tidak apa-apa. Kau tetap cantik dengan luka ini" ucap Francis memeluk Arthur.

"Dokter?" Arthur merasa berdebar-debar terhadap ucapan Francis. Ia tidak menyangka akan ada orang yang mengatakan seperti itu. Ia tidak menyangka bahwa akan ada orang yang menyayanginya. Ia juga tidak menyangka bahwa ada orang yang membutuhkannya.

Francis kembali mengkecup bibir gadis yang ia cintai itu. tangannya menyentuh payudara gadis itu dan memainkannya dengan lembut sehingga Arthur tidak merasakan trauma di hari itu. Francis membuka bra dan pakaian dalam Arthur. Ia bahkan menyuruh Arthur untuk memakai pakaian yang ia berikan. Arthur memakainya dengan senang hati dan mengganti pakaian tersebut. Francis menggendong Arthur layaknya pengantin perempuan yang sedang digendong pengantin lelakinya. Francis berjalan menuju pintu keluar ruangan satu-satunya itu.

"Ma—mau kemana?" tanya Arthur bingung.

"Kita akan keluar"

"Ja—jangan!" ucap Arthur dengan gugup.

"Kenapa?" Francis menghentikan langkahnya dan menatap Arthur.

"Na—nanti anak-anak melihat kita" ucap Arthur malu. "Aku malu"

Francis membalikan badannya 180derajat sehingga Arthur dibuatnya bingung.

"Katanya kau malu kalau dilihat anak-anak" ucap Francis tersenyum. "Kalau begitu, kita lakukan disini yuk!"

Setelah mengatakan seperti itu, Arthur dan Francis melakukan hubungan intim di sofa milik pria kaya tersebut. Ini adalah yang pertama bagi Arthur, karena itu ia dapat merasakan perih dan sakitnya. Namun ia merasakan nikmat melebihi sakit yang ia rasakan. Francis melakukannya dengan lembut dan gentle.

.

xxXXxxXXxx

.

Pagi itu Arthur terbangun dari tidurnya dan bersiap-siap. Sebelum ia pergi ke tempat kerjanya, seperti biasa ia mencuci pakaiannya dan menjemurnya di suatu tempat yang hangat di gubuk miliknya. Gubuknya sangat kecil dan tidak terlalu bersih. Semua yang ia punyapun tidak terlalu mewah bahkan ia tidak punya selimut, seprai dan bantal. Ia selalu tidur berpelukan dengan Peter dan bertahan denga dinginnya cuaca. Uang gajinya saat ia masih bekerja di klub malam tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka berdua. Mau berhutangpun ia tidak sanggup membayarnya. Karena itu ia tetap bertahan dengan kehidupannya yang seperti itu.

Arthur menyisir rambutnya dan membangungkan Peter yang masih tertidur dengan lelapnya. Ia berkali-kali membangunkan Peter tapi anak itu tidak terbangun juga . Ia mulai khawatir karena Peter tidak bereaksi sama sekali. Ini pertama kalinya Peter tidak bangun walau sudah dibangunkan olehnya. Ia khawatir dan mulai panik. Ia teriak dan menjerit menyebut nama Peter bahkan menangis saking khawatirnya yang berlebihan. Ia panik dan menggendong Peter lalu berlari ketempat Francis berada.

Ia berlari dan berlari tanpa memikirkan apakah dirinya sudah rapi, apakah dirinya sudah bermake up, apakah dirinya memakai sepatu dengan benar, ia sudah tidak memikirkan hal itu. Yang ia pikirkan saat ini adalah Peter baik-baik saja. ia sangat takut kalau-kalau ia harus kehilangan adiknya. Adik satu-satunya yang sangat ia sayangi sebagai pengganti ibunya. Adik satu-satunya yang dapat mengingatkan dirinya atas kebaikan dan ketulusan ibunya. Adik satu-satunya yang dapat membuat ia merasa tegar dan mengingat janji-janjinya kepada ibunya dan orang yang pernah ia cintai di masa lalunya. Ia tidak mau kehilangan semua itu terutama Peter sendiri. Saat ia sudah dekat ditempat kerjanya, ia menghentikan langkahnya dan makin menangis sambil menggendong Peter yang tidak bangun-bangun juga.

"Peter! Peter! Maafkan aku!" isak Arthur. "Aku tidak punya uang untuk membayar rumah sakit"

Arthur menangis terisak-isak sambil memeluk erat Peter. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia tidak sanggup apabila ia harus kehilangan Peter namun ia juga tidak tahu harus meminjam uang kepada siapa dan kapan ia bisa membayarnya.

Ia tidak mempunyai tetangga yang akrab dengannya dan ia juga tidak punya teman yang dekat dengannya. Selama di klub malam, Arthur bukanlah orang yang gampang berteman dengan teman-temannya dan bahkan ia dilecehkan oleh teman-temannya yang pelacur karena dia selalu tidak mau memberikan tubuhnya kepada lelaki yang datang ke klub malam itu.

Arthur menangis sejadinya dan ia kembali putus asa. Namun tidak lama kemudian, Francis yang baru datang melihat kearah Arthur dan memanggilnya. Ia mengangkat Peter dan merebahkannya di ruangan miliknya. Ia menyentuh kening Peter dan memeriksanya. Karena ia adalah dokter psikologi anak, ia tidak terlalu mengetahui penyakit yang diderita oleh Peter. Ia segera membawa Peter kerumah sakit umum.

"Sudahlah, jangan khawatir" ucap Francis memeluk Arthur dan mengelus punggung gadis yang tengah menangis itu. Arthur terisak-isak tidak bisa menghentikan airmatanya.

"Apa Peter akan baik-baik saja?" tanya Arthur khawatir.

"Tenang saja, dia tidak akan kenapa-kenapa"

"Aku takut. Aku begitu takut kehilangan Peter. Ia sangat berharga bagiku. Aku sangat menyayanginya karena itu aku tidak mau kehilangan dia" isak Arthur sedih. Francis hanya terdiam mendengarkan tangisan Arthur. Ia hanya bisa mengelus punggung istrinya tersebut. "Ini pertama kalinya dia seperti ini"

Francis berusaha menenangkan istrinya. Ia membiarkan istrinya menangis didalam pelukannya membasahi pakaiannya. Tentu saja ini pertama kalinya ia melihat Arthur menangis terisak-isak seperti itu. Tidak lama, Peter membuka matanya juga. Hal ini membuat Arthur dapat bernafas dengan leganya. Arthur segera menggenggam tangan Peter dan memeluk adik satu-satunya itu.

"Kau membuatku khawatir, Peter" ucapnya didalam isakannya. "Aku sudah takut"

Tubuh Arthur yang gemetaran itu dapat dirasakan oleh Peter. Peter menyesal dan meminta maaf berkali-kali kepada kakaknya. Dibelakang kakaknya, berdiri Francis yang tersenyum lega melihat Peter. Ia mengelus rambut kuning milik Peter.

"Makanya, jangan panik dulu" ucap Francis kepada Arthur. "Peter sudah tidak apa-apa, kan!"

"So—soalnya aku tidak mau kehilangan adikku yang berharga" ucap Arthur sambil menghapus airmatanya. Francis tersenyum dan mengelus rambut Arthur sehingga membuat Arthur tersadar bahwa ia tidak punya uang untuk biaya rumah sakitnya. Arthur terdiam pucat mengingat bagaimana dia harus membayar uang perawatan ini.

"Ada apa?" tanya Francis bingung.

"A—aku baru ingat kalau aku tidak punya uang untuk biaya rumah sakit" ucap Arthur pucat.

"Biaya rumah sakit?" Francis tersentak seketika. "Tidak apa-apa, aku yang membayarnya"

"Ta—tapi aku tidak bisa!"

"Eh?"

"Aku tidak ingin berhutang—" Arthur terdiam sejenak. "—Aku tidak ingin merepotkan dokter"

"Kau tidak merepotkan aku, kok"

"Tapi tetap saja tidak bisa! Aku tidak bisa membayar utang itu"

Francis terdiam, ia tidak menyangka bahwa istrinya sangat keras kepala dalam keuangan. "Baiklah, kalau begitu, kau harus bekerja keras tanpa digaji, kau tidak apa-apa?"

Arthur mengangguk kecil mengiyakan semua ucapan Francis. Lalu ia kembali mengelus rambut kuning milik Peter.

"Peter, kau tadi kenapa?" tanya Francis penasaran.

"Aku juga tidak tahu. Perutku sakit dan kepalaku pusing, mataku serasa tidak ingin terbuka"

"Kau masuk angin?"

"Tidak tahu" ucap Peter dengan polosnya. "Padahal selama ini walau tidur di gubuk kecil tanpa selimut, kakak pasti akan selalu menghangatkan diriku di dalam tidurnya. Ia pasti akan selalu memelukku hingga pagi tanpa dilepasnya. Aku tidak pernah masuk angin seperti itu"

Francis tersentak kaget mendengar ucapan Peter. Bagaimana tidak? Digubuk! Tadi Peter bilang Digubuk! Mereka tinggal di gubuk. Francis bukan tidak suka mereka tinggal di gubuk, tapi ia begitu kaget mendengarnya. Ia mengelus rambut Peter lalu menyuruh Arthur mengikuti dirinya keluar ruangan. Arthur mengikutinya setelah ia mencium kening Peter.

"Kau tinggal di gubuk keci?" tanya Francis.

Arthur terdiam ketakutan. Ia mengangguk lemah dan dengan ragu berkata "I—iya. Kami tinggal di gubuk kecil"

Arthur terdiam. Ia begitu takut kalau-kalau suaminya yang baru kemaren mengajaknya menikah itu pergi menelantarkannya. Ia begitu takut kalau hal itu terjadi. Francis memeluk Arthur dengan eratnya.

"Kusangka kau tinggal dirumah yang layak" ucapnya sedih. "Kalau begitu, mulai hari ini juga kau akan tinggal bersamaku! Bersama dengan Peter. Kita tidur bertiga layaknya suami-istri dengan anak"

"Kau—tidak jijik padaku?"

"Kau istriku yang paling kucintai, aku tidak jijik padamu walau kau tinggal di gubuk. Aku hanya menginginkan kau berada di tempat yang layak" Francis mengkecup bibir Arthur dengan mesranya.

Dan mulai dihari itu juga, Arthur dan Peter tinggal ditempat Francis tinggal. Namun Peter tidak mau mengganggu pasangan baru menikah itu dengan tidur bersama, ia memilih tidur sendiri dibanding mengganggu pasangan kasmaran itu. kasmaran? Apakah mereka terlihat seperti pasangan kasmaran?


.


TBC...

Part 3 coming soon...

Berdoa saja semoga mood saya bagus untuk meneruskan bagian UsUk dan ScotEng... ==a