Title : Arthur Hurt Love Story Part 2
Desclaimer : Hetalia (c) Hidekazu Himaruya
Rating : M
Pairing : FrUk, UsUk, ScottEng.. + Sealand
Summary : Francis marah kepada Arthur sehingga Arthur merasa menyesal. Arthur dicegat oleh beberapa lelaki. Lelaki yang tidak ia kenal? Ia bahkan dengan berani membesetkan cutter ke pergelangannya. Apakah ini kisah terakhir dari hidup Arthur?
Note : OOC + Uk versi wanita bukan Nyo!Uk. Cerita ini terinspirasi saat sedang RP-an sama Clorkshelle.. Tapi sorry kalau ceritanya ada yang sedikit diubah karena lupa detilnya... ahahahaha #Tertawadengannistanya... FIKTIF!
Kenapa namanya Arthur dan tidak saya ganti, karena menurut saya sendiri, akan aneh apabila Arthur berganti nama. Sejujurnya saya benci banget ooc walau itu nama sekalipun, tapi saya susah sekali memerankan Arthur wanita ini dan sepertinya Clorkshelle juga agak kesusahan dengan perannya sebagai Francis apabila Arthur tidak ooc.. ==a... apalagi disini Arthurnya wanita bukan male.. =A= jadi maaf sekali llll
.
Hidup Arthur dipenuhi kebahagiaan setelah ia tinggal di rumah Francis. Bukan karena dia menyukai tinggal di rumah mewah dibanding gubuknya dan juga bukan dia memanfaatkan kekayaan Francis, namun Francis selalu memberikan kasih sayang yang selama ini ia harapkan dari yang namanya keluarga. Ia dan Francis sering kali melakukan hubungan intim tanpa mengenal waktu agar dapat diberkahi keturunan. Ia bersyukur dapat mengenal Francis namun disisi lain, ia masih memikirkan teman masa kecilnya yang pernah ia cintai itu.
Terkadang ia berfikir apakah Francis adalah teman masa kecilnya atau orang lain. Arthur sendiri bahkan tidak ingat wajah dan nama orang itu. Yang ia ingat adalah kalimat tentang kebahagiaan itu dan janji dimasa kecilnya. Yang ia ingat adalah perasaannya yang menyukai orang itu setulus hatinya. Yang dia ingat adalah perasaan orang itu yang tulus mencintai dirinya. Yang dia ingat adalah kenangan indah saat ia berkata bahwa keberadaan orang itu sudah melebihi dari cukup. Hanya itu semua yang ia ingat.
Terkadang ia juga berpikir apakah orang itu selalu mengingat dirinya? Apakah orang itu akan teringat padanya apabila mereka bertemu kembali.? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dibenaknya tanpa ada yang mengetahuinya, termasuk suaminya dan adik satu-satunya. Sejak menikah dengan Francis ia mengatakan sesuatu yang manis terhadap pria itu
"Panggil aku honey, aku akan memanggilmu darling" begitulah ucapan gadis itu dengan wajah malu-malu kepada suaminya. Suaminya menyetujui dan selalu memanggilnya honey apabila ia mengingatnya.
"Arthur" panggil Francis sambil memeluknya dari belakang. "Apa kau sudah hamil?"
"Belum" ucap Arthur masih bingung. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Francis membuat Arthur merasa resah. Ia takut apabila ia tidak bisa membuahkan anak, ia akan ditinggalkan oleh pria itu.
"kau mau ke pantai?" tanya Francis kembali. Arthur terlihat tampak senang. Bagaimana tidak? Karena selama ini ia ingin sekali pergi ke pantai, main pasir pantai, berjemur dan lainnya yang biasa dilakukan oleh orang-orang lainnya. Ia begitu mengharapkan ia dapat melakukan semua hal itu. arthur mengangguk dengan semangat yang luar biasa. Wajahnya tampak bersinar dan berkilauan.
Akhirnya, ia dan Francis jalan-jalan berdua kepantai sebagai bulan madu mereka. Awalnya mereka mau mengajak Peter namun mengingat Peter sedang dirawat dirumah sakit, akhirnya mereka pergi berdua. Bukan hanya itu, mereka bahkan berniat mengurungkan waktu mereka sampai Peter sehat, namun Peter memaksa menyuruh mereka pergi berdua sebagai bulan madu.
"Arthur, pakailah bra dan bikini ini!" pinta Francis sembari memberikan bra dan bikini yang baru dibelinya. Arthur tersentak kaget dengan bra dan bikini pemberian Francis. Bukan karena itu adalah bra dan bikini, melainkan bra dan bikini tersebut adalah merek termahal yang ada di seluruh dunia. bra dan bikini tersebut sangat cantik sehingga banyak orang yang menginginkannya tidak sanggup membelinya karena harganya yang terjangkau tinggi, salah satunya adalah gadis muda beralis tebal ini, Arthur.
"U—untukku?" tanya Arthur tidak percaya. Francis mengangguk kecil dan menyuruhnya memakainya. Setelah mereka berganti baju, Arthur keluar pantai dengan bahagia dan berlari-lari juga bermain pasir pantai layaknya anak kecil.
"Kaya anak kecil saja" ucap Francis tertawa. Arthur tersadar dan terdiam. Wajahnya memerah padam setelah dikatai anak kecil oleh Francis.
Francis segera berenang kelautan dengan anggunnya. Arthur terduduk sambil pundung karena masih shock dengan ucapan Francis namun ia tidak mau berlama-lama berpundung dipantai tersebut. Ia sangat memimpikan hari ini, hari dimana ia bermain di pantai seperti yang ia idam-idamkan selama ini. Ia tidak ingin melewatkan waktunya dengan bersedih di pantai. Ia ingin merasakan senangnya berada di pantai.
Ia segera menyusul Francis dan berenang disebelahnya walau ia tahu dirinya tidak bisa berenang dengan indahnya. Terkadang Francis sering dikerubungi cewek-cewek penggemarnya dan hal itu membuat Arthur sedikit cemburu pada gadis-gadis tersebut. Namun ia jadi mengetahui sisi lain dari diri Francis. Ia mengerti perasaan-perasaan gadis-gadis itu yang mengkerubungi suaminya itu.
Fajar menjelang, Francis mengajaknya duduk di pantai sambil melihat sunset yang indah.
"Sebentar lagi Sunset" ucap Francis. Arthur tersenyum kearah Francis. Francis mengangkat tangannya sehingga ketiaknya dapat terlihat. Arthur tidak tahan melihat ketiak itu, ia segera mengkecup ketiak itu dengan lembutnya. "Kau suka sekali pada ketiakku?"
"Karena ketiak ini adalah milikmu" ucap Arthur seakan mabuk setelah minum alkohol.
Saat sedang berduaan, tiba-tiba seorang gadis bertubuh sexy datang menggoda dan memeluk Francis. Dadanya yang besar tersentuh oleh tangan Francis. Melihat hal itu, Arthur semakin panas. Bagaimana tidak? Suami yang ia cintai itu telah didekati oleh gadis cantik yang lebih seksi darinya.
"A—apa yang kau lakukan kepada suamiku?" bentak Arthur lantang. Francis tidak keberatan dengan sikap gadis tersebut karena dia sangat digandrungi dan digemari gadis-gadis maka ia sudah terbiasa dengan pelukan seperti itu.
"Hah? Kamu siapa?" tanya wanita sexy dengan dandanan menor itu. Ia merasa bingung dengan amarah Arthur. Dan dia tidak peduli apabila Francis sudah mempunyai pasangan.
"A—aku istrinya!" ucap Arthur dengan tergagap. "Menjauh dari suamiku!"
Gadis ini bukan menjauhkan dirinya dari Francis melainkan ia makin menempelkan dadanya ke tangan bahkan ketubuh Francis. Arthur makin garang dan kesal. Wajahnya memerah menahan amarahnya.
"Hei mari kita adu, tubuh siapa yang paling sexy disini?" ucap gadis sexy itu belagu kepada Arthur. Arthur tersentak saat mendengar tantangan gadis itu. "Kita buktikan tubuh siapa yang paling sexy dan dipilih oleh Francis"
Arthur menerima tantangan gadis itu. gadis itu membuka bra miliknya dan memamerkan dadanya yang besar itu kepada Francis yang melihatnya seperti orang mesum. Arthur geram, ia tidak punya dada sebesar pantat gajah itu. Ia kehabisan akal untuk mengalahkan gadis itu. Ia kelabakan dan tanpa berpikir panjang langsung membuka bra dan bikininya seehingga dada dan vagina miliknya terlihat dengan jelas. Ia tampak malu dan bodoh sekali saat Francis dan gadis itu melihatnya dengan takjub.
Tidak lama, Francis segera memakaikan kembali bra dan bikini Arthur dan menarik Arthur dengan paksa. Ia tampak marah dengan perlakuan Arthur. Ia tetap menyeret Arthur tanpa mempedulikan rintihan kesakitan Arthur, tanpa mempedulikan betapa eratnya genggaman tangannya yang menggenggam Arthur hingga tangan Arthur memerah, tanpa mempedulikan betapa sakitnya Arthur ditarik kencang dengan kecepatan yang tidak biasanya. Francis tetap menggeretnya tanpa mempedulikan permintaan maaf Arthur. Arthur merasa bersalah dan berkali-kali meminta maaf, namun Francis tetap berjalan menariknya seperti binatang.
Sesampainya di hotel, ia segera membanting tubuh Arthur ke kasur. Arthur merintih kesakitan namun ia tidak bisa apa-apa. Arthur melihat kearah lengan tangannya yang memerah akibat cegkraman kencang dari Francis sambil ketakutan. Ia begitu takut melihat wajah Francis yang marah.
"Kau tetap disini dan jangan kemana-mana! Aku akan menikmati sunset sendirian dari beranda!" tegas Francis tanpa senyuman. Ia memelototi Arthur sehingga membuat Arthur bergidik dan tidak bisa apa-apa. "Kau dihukum!"
Francis mengunci pintu kamar dan pergi ke beranda sendirian tanpa menghiraukan Arthur. Arthur terdiam, ia tahu bahwa diriya salah. Ia tahu namun Francis terlanjur marah padanya. Ia kecewa pada dirinya. Ia menyesal karena telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia merebahkan dirinya dikasur dan menangis dalam kesunyian. Ia begitu pandai menyembunyikan tangisannya dari orang agar orang tidak dapat melihatnya. Itu sudah ia lakukan sejak lama agar orang tidak mengkhawatirkannya.
Dulu saat ia masih tinggal bersama dengan ayahnya, ayahnya sangat tidak suka mendapatkan dia mengangis walau sedang disiksa sekalipun. Kakaknya, Scott-pun juga tidak suka mendapatkan dia mengangis di depannya. Apabila ia menangis di depan ayah dan kakaknya, mereka akan segera menghukum dan menghajarnya lebih parah dan tiada ampun.
Karena itu ia selalu menangis diam-diam tanpa ada orang yang mengetahuinya agar ayah dan kakaknya tidak menghukumnya berlebihan. Ia juga tidak ingin ada orang yang mengetahui penderitaannya termasuk adiknya sekalipun. Ia selalu tersenyum didepan orang tanpa mengeluarkan rasa sedih sekalipun.
Arthur menangis dan menangis. Ia sangat takut kepada Francis yang marah besar padanya. Teringat kembali masa dimana ayah dan kakaknya yang selalu menyiksanya. Ia begitu takut kalau-kalau Francis akan menceraikannya, ia begitu takut kalau-kalau Francis membuka trauma lamanya dengan memukulnya. Ia sangat takut dengan semua itu.
"Aku tahu aku salah karena melakukan itu, tapi itu bukan salahku sepenuhnya! Ini salah wanita itu!" batin Arthur menangis. Ia tahu, ia menyesal, ia ingin meminta maaf, namun di lain sisi ia berpikir bahwa ia bukan penyebab masalahnya. Egonya terhadap hal ini ia pertahankan sedikitnya.
Sementara itu, Francis yang sedang berada di beranda melihat sunset dengan perasaan yang pedih. Ia begitu sedih dan hatinya sakit sekali mengingat kejadian hari ini. Kejadian dimana ia telah menarik Arthur dengan kencangnya, kejadian dimana ia telah membuat tangan Arthur menjadi merah akibat cengkramannya. Ia menyesal. Tidak sepantasnya ia marah seperti itu. ia begitu takut kalau-kalau Arthur minta ia menceraikannya, ia begitu takut kalau-kalau Arthur membencinya, ia begitu takut kalau-kalau Arthur akan menghajarnya seperti saat pertama kali ia menyentuh Arthur. Ia tampak murung sambil melihat sunset yang indah itu.
"Bulan madu ini seharusnya dapat bahagia" batin Francis menyesal. Ia tetap berdiri tanpa mengalihkan pandangannya ke sunset tersebut. "Apa aku ceraikan saja? tapi—"
Francis masuk kedalam kamar tersebut. Ia mendapatkan Arthur berbaring membelakanginya. Francis tidur disebelah Arthur dan tidak menghiraukan gadis itu sedang apa. Gadis itu masih tengah menangis ketakutan. Francis tetap diam dan tetap tidur seakan Arthur tidak ada di sebelahnya.
Arthur tetap menangis dan menangis tanpa hentinya. Ia tetap menangis dan menyesali kejadian itu. ia menangis tanpa peduli bahwa matanya sudah sembab, ia menangis hingga tidak terasa hari sudah pagi. Ia tahu bahwa ini sudah pagi, ia beranjak dari kasurnya melihat Francis yang tertidur nyenyak disebelahnya dengan mata sembab tersebut. Ia terlalu sedih, Francis tidak memberikan kesempatan padanya untuk memperbaikinya. Ia sedih Francis cuek kepadanya. Ia segera mengemasi barangnya dan menulis surat perpisahan untuk Francis.
Ia segera keluar dari kamar tersebut sembari membawa koper yang berisi barang-barang miliknya. Ia berpikir tidak akan pernah kembali kepada pria itu. ia begitu takut apabila ia kembali, pria itu menolaknya. Ia begitu mencintai pria itu sehingga ia tidak tahu harus bagaimana. Ia begitu mencintai pria itu sehingga ia tidak ingin menyakitinya. Ia begitu mencintai pria itu sehingga ia rela memberikan seluruh jiwa dan raganya terhadap pria itu. ia sangat mencintainya.
Ia menutup pintu kamar tersebut dengan rapat dan tanpa suara agar Francis tidak terbangun. Ia membalikan badannya dan bersiap untuk pergi. Namu ia terhenti ketika melihat beberapa lelaki mencegatnya di depan pintu tersebut. Ia tersentak dan kaget. Arthur mulai ketakutan melihat mereka yang menatapnya dengan nafsu.
Saat Arthur ingin berteriak, seorang dari mereka segera membungkam mulut Arthur dan seorang lagi memegang tangan dan kakinya. Arthur menggeliat memberontak namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan beberapa lelaki hidung belang itu. ia kembali menangis saat tubuhnya tersentuh oleh lelaki-lelaki itu. ia ingin sekali meminta pertolongan, namun lorong itu sepi dan mulutnya telah disumpel celana dalam miliknya yang dicopot oleh mereka. Kakinya di angkat dan dibuka lebar-lebar dengan paksa oleh mereka. Payudaranya dimainkan dengan kasarnya oleh mereka dan vaginanya dimainkan dengan kencangnya oleh mereka.
Arthur menangis kembali. Ia tidak rela miliknya diambil oleh pria tidak dikenalnya, ia tidak rela miliknya diambil oleh pria selain Francis. Ia sangat tidak rela namun ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangis. Didalam batinnya ia meneriaki nama Francis berkali-kali namun Francis tetap tertidur dengan nyenyaknya. Ia diperkosa oleh beberapa lelaki yang ada disitu. 3, 4, bahkan 5 lelaki telah menanamkan bibit di rahimnya. Ia menangis. Didirinya sekarang bukan hanya ada sperma milik Francis. Ia menyesal, sangat menyesal. Tubuhnya sudah tidak kuat menahan semuanya. Pria-pria itu tertawa puas dan meninggalkan Arthur dalam keadaan kaki mengengkang dan tubuh terlihat jelas. Arthur tidak kuat lagi menghadapi semua itu. ia segera mengambil cutter dari tasnya dan membesetkan cutter tersebut ke pergelangan tangannya.
"Goodbye, darling" ucap Arthur tersenyum sedih sambil melihat darahnya yang keluar perlahan demi perlahan.
Tidak lama kemudian, Francis terbangun. Ia tidak menghiraukan istrinya ada atau tidak di kasurnya. Ia segera mandi dan bersiap-siap untuk sarapan di luar hotel. Ia bahkan tidak menghiraukan surat tulisan istrinya yang ada di atas meja. Ia keluar dari kamar tersebut dan kaget melihat Arthur tergeletak lemah di depan pintunya. Bukan segera dibawa kerumah sakit, Francis malah pingsan melihat darah dari pergelangan tangan istrinya.
.
xxXXxxXXxx
.
Arthur tersadar dan menatap langit-langit putih. Ia merasa kepalanya begitu berat, namun ia langsung teringat kejadian yang menimpanya. Ia menangis dan tersenyum kecut.
"Ini neraka ya?" tanyanya pada diri sendiri sambil menangis. Ia masih tidak sadar bahwa dirinya sebenarnya ada di rumah sakit dan Francis yang sudah sadar sejak tadi ada di sebelahnya tidur di kasurnya. "Rasanya seperti bukan neraka saja. Syukurlah setidaknya aku dapat mati dengan tenang"
Francis melihatnya dengan sedih. Ia melihat Arthur menangis sambil tersenyum kecut.
"Aku akan menjalani hukuman itu di neraka ini. Tapi, kalau neraka seperti ini, aku tidak akan menyesal jatuh ke neraka sekalipun" ucapnya tersenyum kaya orang bodoh di tengah nangisnya.
"—Tapi aku belum sempat minta maaf pada darling" lanjut Arthur terisak-isak. "Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku membenci diriku sendiri. Aku benci mereka. Aku benci mereka"
"—Arthur—"
Arthur tersentak, ia menatap kearah suara itu. ia tersentak kaget mendapatkan Francis terbaring disebelahnya. Ia kembali menangis dengan derasnya. "—ke—kenapa darling ada di neraka bersamaku?"
"Kita masih hidup dan kita ada di rumah sakit" jelas Francis. "Honey—"
Arthur tetap menangis. "Kenapa? Kenapa aku masih hidup? Kenapa aku tidak mati saja?"
"Honey, jangan bicara seperti itu!" ucap Francis. Kini ia menangis.
"Maafkan aku darling! Maafkan aku! Aku tidak sanggup menahan semuanya. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku telah membuat kau marah"
"Arthur—"
"Aku tahu aku salah, tapi ini bukan salahku sepenuhnya. Ini semua salah wanita itu. aku begitu kesal karena aku tidak punya dada sebesar dia. Aku tidak ingin kau direbut olehnya. Aku hanya ingin kau melihatku saja. aku tidak ingin kau berpaling dariku, karena itu aku lakukan itu. aku minta maaf" jelas Arthur di tengah tangisannya. Ia menyesal.
"Aku minta maaf, Arthur. Aku telah marah padamu, aku tahu aku bukanlah lelaki baik-baik"
Arthur menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa Francis marah karena ia salah. Ia mengerti kenapa Francis marah. ia tetap tersenyum kecil di tangisnya, "Itu bukan salahmu, kau tidak perlu minta maaf. Aku yang salah"
Mereka menangis berdua di ruangan itu dan saling meminta maaf layaknya pasangan bodoh yang saling tidak mau mengalah dan menyalahkan diri sendiri. Arthur tetap menangis tanpa menghiraukan bagaimana sakitnya matanya akibat terus-terusan menangis. Ia tidak dapat menahan airmatanya saat mengingat kejadian yang menimpanya saat melihat tangannya yang diperban. Ia merasa jijik, mual dan ingin muntah mengingat bagaimana pria-pria itu memaksanya mengkecup bibirnya dan meludahi saliva mereka ke dalam mulut Arthur sehingga ia terpaksa menelan saliva-saliva tersebut, bagaimana saat pria-pria itu menanamkan benih mereka kedalam rahim Arthur. Bagaimana bau tubuh mereka yang melekat pada Arthur.
Arthur menangis dan meminta maaf kepada Francis karena dia tidak dapat mempertahankan dirinya saat diperkosa oleh pria-pria itu. Francis terdiam namun memaafkannya.
Beberapa hari kemudian, Arthur memeriksa dirinya ke dokter bidan karena ia telat datang bulan. Dan hasilnya positif. Ia tersentak kaget dan pucat mendengar dokter berkata bahwa ia positif. Francis menatapnya dan keheranan.
"A—aku tidak bisa" ucap Arthur pucat. "Aku tidak bisa"
"Arthur—"
"Aku tidak bisa, Francis" ucap Arthur mencengkram lengan Francis dengan pucatnya.
"Lahirkanlah, Arthur!" ucap Francis. "Kumohon!"
"Tidak! Ini bukan anakmu saja, darling!" Arthur menahan airmatanya yang hampir terjatuh. "Ini bukan hanya anakmu!"
"Honey, tapi ia bayi! Ia bebas untuk lahir. Ia butuh kasih sayang"
"Tapi aku tidak bisa!" teriak Arthur pucat pasi. "Aku tidak yakin aku bisa menyayanginya!"
Francis terdiam. Ia tidak bisa apa-apa menghadapi pikiran Arthur. Arthur berkata bahwa ia tidak yakin menyayangi bayi itu maka ia tidak bisa apa-apa. Ia tahu ini sangat berat bagi gadis itu. ia tahu bahwa gadis itu tidak sedang mengandung anak dari dirinya sendirian. Tapi ia tidak ingin bayi yang malang yang ada di kandungan istrinya itu mati. Walau bagaimanapun, bayi itu mempunyai darahnya.
"Baiklah. Pikirkanlah dengan tenang dulu sementara waktu" ucap Francis setelah suasana agak tenang. Setelah ia melihat Arthur mulai tenang dari shock-nya.
Arthur terdiam. Ia menatap Francis. Alisnya yang tebal itu mengkerut sedih. "Kau gampang bicara seperti itu karena kau tidak membawa benih di dalam perutmu"
Francis tersentak dengan ucapan istrinya itu. tentu saja ia tidak dapat merasakan bagaimana rasanya khawatir dengan benih di perutnya. Ia meminta maaf kepada Arthur. Ia menggenggam tangan Arthur dan mengkecupnya tanpa melepaskannya.
Arthur terdiam. Ia tetap berpikir menentukan pilihan hingga tiba-tiba berkata pada suaminya, Francis,
"Sudah kuputuskan—" ucapnya tegas.
"Apa?" tanya Francis bingung.
Arthur mencoba tersenyum dengan tenang. "Aku—". Francis tetap mendengarkannya dengan tenang. "—aku akan melahirkannya dan mencoba untuk menyayanginya"
Francis tersenyum dan mencium pipi istrinya tersebut. "Nah, begitu dong! Aku senang kau dapat mengerti"
Arthur tersenyum. Ia menyentuh perutnya yang membuncit kecil itu dengan senang hati. Ia berfikir bahwa ia akan berusaha mencintai anak dalam kandungannya walau itu bukan hanya anak dia dan Francis. Francis mengkecup perut Arthur dan mendengarkan perut itu sambil tertawa geli.
Beberapa bulan mereka lalui bersama dengan kebahagiaan. Yah, semua belum sampai 4bulan sampai kandungan itu makin membuncit. Hubungan mereka harmonis seperti sebelum-sebelumnya. Kebahagiaan mereka-pun bukanlah dibuat-buat. Arthur-pun dapat menyayangi bayi yang dikandungnya perlahan demi per lahan. Ia sudah tidak peduli bahwa darah anak itu bercampur dengan darah kelima pria yang memperkosanya. Ia mulai menyayanginya. Ia mulai merelakannya. Ia mulai menantikan anaknya lahir dengan selamat dan sehat.
Arthur begitu bahagia hingga suatu saat, saat sedang main kucing-kucingan, Francis bertanya kepada Arthur. "Betina, kalau aku selingkuh bagaimana?"
Arthur tersentak kaget. Ia masih tersenyum "Bolehkah aku menghajarmu?"
"Boleh. Hajarlah aku kalau aku melakukannya" ucap Francis dengan tatapan serius. tentu saja hal itu membuat Arthur berpikir kembali. Ia khawatir sekali.
"Kau tidak akan selingkuh, kan?" tanya Arthur cemas.
"Aku akan" ucap Francis tegas. "Sekarang aku akan selingkuh dengan gadis-gadis manis di pantai"
Francis segera beranjak dari tempat itu. Arthur mencegahnya namun Francis menepisnya hingga ia terjatuh. Arthur tersentak, ia kaget saat Francis menepisnya kasar. Ia sedih. Perasaannya sakit. Ia melihat Francis bermesra-mesraan dengan gadis lain. Ia menangis. Tubuhnya sakit sekali, hatinya remuk. Francis selingkuh, mengajak gadis-gadis itu surfing. Namun tidak lama kemudian, ia terseret oleh ombak dan akhirnya meninggal karena tidak terselamatkan. Arthur kaget, ia tersentak. Ia tidak percaya akan apa yang ia lihat. Suaminya meninggal. Ia segera berlari kearah suaminya dan mengguncang-guncangkan tubuh suaminya. Ia meneriaki nama suaminya namun suaminya tidak bangun-bangun juga. Ia menangis, merasa kehilangan. Namun Francis telah tiada di dunia ini. Ia telah mati dan meninggalkan gadis yang ia cintai.
.
.
TBC
.
. next soon!
Berdoa saja next bisa lebih cepat! Berdoa saja moody gw ga rusak! Berdoa saja gw ga sibuk! Berdoa aja gw masih inget #makin lama di tendang fans Fruk, Usuk, ScottEng =w=
