Title : Arthur Hurt Love Story Part 4
Desclaimer : Hetalia (c) Hidekazu Himaruya
Rating : M
Pairing : FrUk, UsUk, ScottEng.. + Sealand
Summary : Francis telah tiada, Arthur menderita. Alfred berusaha untuk mendapatkan hati Arthur. Apakah Arthur dapat mencintai Alfred sepenuh hatinya?
Note : OOC + Uk versi wanita bukan Nyo!Uk. Cerita ini terinspirasi saat sedang RP-an sama Clorkshelle.. Tapi sorry kalau ceritanya ada yang sedikit diubah karena lupa detilnya... ahahahaha #Tertawadengannistanya... FIKTIF!
Kalau disini ada cerita yang menurut kalian aneh dan ga masuk akal, ingat saja tulisan diatas bahwa cerita ini adalah FIKTIF dan suka-suka para RolePlayer mau memainkannya bagaimana.. ahahahaha #tawadusta #geplak
.
Arthur meratapi nasibnya. Ia menangis disebelah jasad suaminya. Ia menangis dan memanggil-manggil nama suaminya. Tanpa ia sadari, seseorang telah memperhatikannya sejak tadi.
Arthur menggenggam tangan suaminya yang makin lama semakin dingin. Ia tidak kuat lagi menahan semua itu. ia yang begitu mencintai suaminya bahkan sudah memaafkan suaminya yang selingkuh dengan gadis lain. Ia tetap menangis kencang tanpa memikirkan apakah dirinya sudah makan, apakah dirinya sudah mandi, sudah berapa harikah ia disana, sudah berapa malamkah ia menangis, ia sudah tidak peduli dengan semua itu. Yang ia inginkan sekarang adalah suaminya ada disisinya hidup kembali.
Pria itu menatapi Arthur terus-terusan. Ia ingin sekali mendekati Arthur, namun ia takut kalau-kalau Arthur menolak ajakannya karena tidak ingat padanya. Pria itu tumbuh menjadi tinggi dan tampan, walau perawakan saat makan membuat orang ilfeel. Pria itu terus-terusan menatap Arthur dengan perasaan sedih. Ia sedih melihat Arthur tiada hentinya menangisi jasad pria didepannya disetiap hari dan malamnya. Pria itu merasa harus merebut hati Arthur malam itu juga, dimana malam bulan purnama.
Gereja itu terang disinari bulan purnama. Begitu indah. Arthur bermandikan cahaya bulan purnama sambil menangis. Malam bulan purnama, arwah Francis keluar seutuhnya menatap gadis yang sedang merana disebelah jasadnya. Ia mengkerutkan alisnya kesal kearah gadis itu. Ia tahu bahwa ada seseorang pria yang menatapi gadisnya dari kejauhan. Dan ia tahu nama pria yang menatapnya karena mendengar pembicaraan dari orang disekitar pria itu.
"Pulanglah dengan Alfred!" ucap Francis kesal. Arthur tersentak kaget. Wajahnya yang berhari-hari itu menunduk didongakkan keatas. Ia mendengar suara suaminya. Ia sangat jelas sekali mendengar suara suaminya. Ia celingak-celinguk mencari asal suara itu. Ia yakin bahwa ia tidak berhalusinasi dengan semua ini.
"Da—darling?" isaknya. Ia memanggil suaminya dan yakin bahwa suaminya masih hidup.
Namun tidak lama, pria yang menatapnya mendekat kearahnya. Ia memegang pundak Arthur dengan pasti. Arthur melihatnya dan tersentak kaget. Ia melihat sosok yang sudah lama sekali tidak ia temui. Sosok yang dahulu imut sekali tiba-tiba menjadi tampan dan tinggi.
"Arthur, ayo pulang denganku" ucap sosok itu sedih.
"A—Alfred?" ucap Arthur ditengah tangisnya.
"Ayo kita pulang bersama" Alfred tidak mendengarkan jawaban Arthur. Ia segera menggeret Arthur pergi menjauh dari jasad suaminya. Tidak peduli tangisan Arthur yang kencang menyebut nama suaminya, tidak peduli permintaan Arthur untuk ada disisi suaminya, Alfred tetap membawa Arthur pulang kerumahnya.
Hatinya perih melihat gadis yang ia cintai sejak dulu menangisi pria lain. Pria yang tidak ia kenal, pria yang telah merebut gadis itu dari dirinya, pria yang mendahului dirinya untuk menikahi gadis itu. ia begitu cemburu kepada pria itu.
"Alfred lepaskan aku! Aku mohon! Biarkan aku bersama darling!" pinta Arthur terisak-isak. Ia begitu menginginkan suaminya ada disisinya.
"Arthur—" Alfred menatap Arthur dengan tatapan terluka. Hatinya terluka. "Sudahlah, jangan kau ingat lagi pria itu!"
Alfred memeluk Arthur. Ia memeluknya dengan erat. Ia tidak ingin melepaskan gadis itu untuk kedua kalinya. Semenjak Arthur pergi dari rumahnya, Alfred selalu merasa bersalah, ia juga merasa sedih. Semua sudah terlambat, begitulah pikirnya. Seandainya saat itu ia tidak berlaku egois, seandainya saat itu ia meminta maaf, seandainya saat itu ia tidak membuat Arthur kesal, ia tidak akan menyesal hingga saat ini. Ia merasa menyesal setelah mengatakan sesuatu tentang ibu Arthur di depan Peter sehingga Arthur marah padanya. Ia begitu menyesal. Ia ingin meminta maaf namun ia tidak menemukan Arthur untuk beberapa tahun ini. Saat beranjak menjadi dewasa, Alfred pergi dari rumahnya hanya untuk mencari tambatan hatinya. Ia mencari dan mencari kesana-kemari hingga kehabisan uang pemberian ibunya. Ia mulai bekerja dan menjadi kaya hingga ia tidak perlu khawatir kehabisan uang dalam pencariannya.
"Aku ingin bersama darling, jangan bawa aku!" ucap Arthur menangis.
Alfred membawa Arthur ke kamarnya. Ia menidurkan Arthur di kasur tersebut dan mengkecup bibir Arhtur dan memainkan lidahnya dengan lidah Arthur. Arthur tersentak kaget. Ia berusaha melepaskan ciuman dan kuluman itu, namun ia tidak punya tenaga. Ia teringat bahwa ia belum makan sejak Francis meninggal. Dirinya hanya menangis dan menangis. Tidak terpikirkan bahwa ia telah membawa bayi didalam perutnya.
Alfred memanfaatkan kejadian ini. Ia ingin mengambil hati gadis pujaannya itu. ia ingin gadis itu juga mempunyai rasa terhadapnya. Walau tahu gadis itu tidak punya rasa apa-apa terhadapnya, tapi ia ingin berusaha.
"Arthur, tataplah aku!" pinta Alfred. Arthur tetap menangis.
"Alfred, aku hanya milik darling, aku mohon hentikan semua ini!"
Alfred kesal. Ia kesal pada pria itu. pria yang dapat membuat Arthur menangis karena mencintainya. Pria yang membuat Arthur menangis karena cemburu, pria yang bisa membuat Arthur tertawa. Pria yang membuat Arthur menangis karena kehilangan. Dendam? Tidak! Alfred tidak dendam pada pria itu, ia hanya cemburu pada Francis.
"Arthur, makan ya! Sudah beberapa hari kau tidak makan" ucapnya sambil menyentuh pipi Arthur. Arthur menggelengkan kepalanya dan mengharapkan Alfred memulangkannya ke tempat jasad suaminya. "Arthur! Kau tidak boleh seperti ini terus!"
Kembali Alfred mengkecup bibir Arthur. Melihat hal itu, Francis amat sangat marah. ia memecahkan barang-barang dirumah Alfred sehingga Alfred yang paranoid itu panik dan segera keluar dari rumahnya.
"Jadi cinta kamu padaku Cuma sebatas itu?" ucap Francis marah. "Pelacur!"
Lagi-lagi Arthur hanya bisa mendengar suara Francis. Ia kembali menangis meminta Francis untuk menampakkan dirinya dihadapannya. Ia celingak-celinguk kesekelilingnya dan memanggil suaminya. Francis tampak kesal, ia benci pada Arthur yang mau-maunya dicium oleh Alfred. Ia memakan rahim yang ada dikandungan Arthur. Ia memakan jabang bayi milik Arthur. Darah keluar berceceran dari vagina milik Arthur. Sakit sekali yang dirasakan Arthur. Tapi Arthur tidak peduli dengan sakit itu, ia hanya ingin melihat suaminya. Ia berusaha keras menyebut nama suaminya dan menahan sakit di rahimnya.
Keguguran? Bukan! Bayi itu benar-benar dimakan oleh suaminya yang tidak tampak olehnya. Francis tampak menikmati rasa bayi itu. mulutnya, wajahnya, tangannya berlumuran darah milik gadis itu. gadis itu menahan sakit, ia menahan sakit dan menahan sakit. Ia tetap memanggil-manggil nama suaminya agar dapat melihat suaminya.
Malam bulan purnama, doa sang gadis terkabulkan. Tubuh Francis nampak perlahan demi perlahan. Arthur tersentak kaget melihat Francis yang berlumuran darah miliknya.
"Da—darling?" ucap sang gadis tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Francis tersentak kaget, ia segera berlari kearah toilet dan mengunci diri didalamnya. Arthur berusaha dengan sekuat tenaga berdiri dan berjalan kearah toilet itu. ia benar-benar berusaha mendekatinya walau tahu begitu perih dan sakitnya perutnya. "Darling, bu—buka pintunya!"
"Jangan dibuka!" ucap Francis. Ia menangis didalam kamar mandi. "Apa yang barusan kulakukan?"
"Darling, kumohon! Buka pintunya! Aku ingin melihatmu" ucap Arthur berusaha membuka pintu tersebut walau ia tidak sampai dengan ganggang pintu tersebut. Ia tidak kuat berdiri, bahkan duduk sekalipun. Darahnya berceceran dilantai tanpa ia pedulikan seberapa banyak dan derasnya mengalir layak sungai darah.
Francis membuka pintu tersebut dan mengkecup kaki Arthur. Ia merasa menyesal dan meminta maaf kepada pujaannya itu.
"Kusangka aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Kusangka aku harus sendirian disini tanpamu" ucap Arthur berusaha tersenyum. Ia mengelus wajah Francis dan memeluknya dengan lega. Ia sangat lega melihat wajah suaminya kembali. Ia begitu lega walau ia tahu bahwa suaminya bukan manusia lagi. Tapi ia bahagia atas kembalinya suaminya kesisinya.
Francis membawa Arthur pulang kerumah orangtuanya. Ini pertama kalinya Arthur bertemu dengan mertuanya, namun Francis segera menggeretnya ke kamarnya tanpa sempat memberi salam kepada kedua mertuanya. Kedua mertuanya sangat baik kepada Arthur dan ia memaklumi kedua pasangan itu.
Francis menidurkan Arthur dan menibannya. Ia menyentuh Arthur dengan lembutnya. Dipeluknya istrinya dengan penuh kasih. Begitu juga dengan Arthur. Ia memeluk Francis dengan penuh kasih. Begitu eratnya seakan tidak ingin melepaskan suaminya pergi walau mungkin hanya ketoilet.
"Jangan pergi lagi!" pinta Arthur. Dadanya sakit sekali mengingat beberapa hari ini. Ia sudah tidak peduli rasa sakit yang ia rasakan sejak tadi. Ia tidak peduli berapa banyak darah mengalir dari kemaluannya. Dia sudah tidak peduli asalkan suaminya benar-benar ada disebelahnya menemaninya.
Francis menciumnya lembut. Sangat lembut dari biasanya. Ia masih merasa bersalah karena telah memakan bayi yang dikandung oleh istrinya itu. Arthur tersenyum lembut kepada suaminya dan memainkan jenggot suaminya. "Tidak apa-apa, darling. Kau pasti punya alasan sendiri hingga kau memakan bayi itu"
"Kau marah padaku?"
Arthur menggeleng-gelengkan kepalanya dan masih tersenyum lembut. "Aku tidak marah padamu. Mungkin memang belum saatnya kita dikaruniai anak"
Francis mengambil sebotol wine. Dan menawarkan Arthur untuk mabuk bersama walau sebenarnya ia berencana membuat Arthur mabuk sendiri. Ia sangat tahu bahwa Arthur gampang mabuk, ia sangat tahu bahwa Arthur akan mengatakan kejujuran saat ia sedang mabuk. Francis ingin kejujuran Arthur, ia ingin Arthur mencurahkan rasa kesalnya agar ia tahu kesalahannya. Ia meminumkan satu gelas kepada Arthur. Dua gelas, tiga gelas, bahkan sampai gelas keempat, Arthur mulai mabuk.
"Sekarang apa kau marah padaku?" tanya Francis yang sudah menduga bahwa gadis itu mulai mabuk. Arthur kembali menggelengkan wajahnya. "Jujur!"
Arthur menangis, ia menangis terisak-isak. Ia tidak dapat menahan diri. Tangisannya begitu deras.
"A—aku tidak marah padamu, aku benar-benar tidak marah padamu" ucap Arthur dikala isakannya. Ia menghapus airmatanya. "Aku hanya sedih. Aku sedih kalau aku harus kehilangan dirimu"
Francis terdiam menatap Arthur. "Aku tidak peduli dengan anak itu" lanjut gadis itu. ia menghapus airmatanya. "Bukan maksudku untuk tidak menginginkan anak. Mungkin ini memang bukan takdir kita. Mungkin dia tidak ditakdirkan untuk menjadi anak kita. Aku percaya padamu, darling. Aku percaya padamu. Aku yakin kau pasti punya alasan tersendiri melakukan semua itu"
"Kau kecewa?"
"aku memang kecewa tapi aku tidak akan menyesalinya. Aku tidak akan menyesali semua ini terjadi" Arthur tersenyum.
Francis tiba-tiba berubah menjadi bayi sehingga Arthur tersentak kaget melihatnya. Bagaimana tidak? Bayi! Francis berubah menjadi bayi!.
"Da—darling?"
"Mama~"
Arthur mengangkat anak itu. "Kenapa kau jadi begini? Apa karena kau tadi memakan anak itu?" kembali Arthur menangis. Namun tangisan ini bukanlah tangisan sedih. Walau menjadi bayi, ia adalah suaminya.
"Biar dia dapat merasakan punya anak" batin Francis menatap Arthur.
"Mama, mau susu"
Arthur tersenyum dan berkata "Aku masih kotor"
"Aku mau susu!"
"Baiklah" Arthur membuka bajunya dan memberikan payudaranya kepada Francis kecil sehingga Francis kecil tertidur di pelukannya.
"Ah, lucunya" ucap Arthur sambil mengelus pipi Francis kecil. Ia segera menaruh Francis kecil dikasurnya dan segera kekamar mandi untuk membersihkan pendarahan yang sejak tadi mengalir terus tanpa ia hiraukan. Namun dikamar mandi, ia yang sudah banyak kehilangan darah, pingsan tanpa sempat menghidupkan keran dan membuka bajunya.
.
xxXXxxXXxx
.
Arthur tersadar diri. Ia menatap langit-langit dinding dengan masih setengah sadar.
"Kau sudah sadar?"
Arthur menoleh kearah suara itu. Ia melihatnya dengan tenang. "Ada apa denganku? Dimana aku? Sejak kapan aku ada disini? Bagaimana aku ada disini? Darling?"
"Kau ada dirumah sakit, aku yang membawamu kesini" jawabnya.
Arthur tetap terdiam. tubuhnya lemas sekali tidak ada tenaga. Untuk berjalan saja rasanya capai sekali.
"Tidak sengaja aku melihat kedua orang yang sudah tua membopongmu ditengah jalan dengan susah payah. Begitukan caranya memperlakukanmu? Kau dibiarkan pingsan sedangkan ia entah dimana?"
Arthur merasa sangat pusing. Ia merasa tidak enak badan dan tidak ingin berdebat.
"Kau kehilangan banyak darah. Aku sudah mendonorkan sebagian darahku padamu" ucap orang itu lagi.
"Darling dimana?" tanya Arthur lemas. "Aku ingin bertemu darling"
Orang itu mencengkram kedua tangan Arthur dengan kencangnya. "Kenapa harus dia yang kau cari? Tidak puaskah kau merasa sakit karena dirinya? Tidak puaskah kau ditelantarkan oleh dirinya padahal dia tahu bahwa kau pendarahan seperti itu? tidak puaskah kau dia memakan anakmu sendiri? Apa kau tidak belajar dari pengalaman?" bentak orang itu.
"Sa—sakit, Alfred!" ucap Arthur meringis kesakitan. Alfred? Ya orang itu adalah Alfred yang sejak tadi menunggunya terbangun dari pingsannya. Yang sejak tadi melihat kedua orangtua Francis membopong Arthur dengan panik dan susah payah. Yang sejak tadi rela memberikan sebagian besar darahnya pada gadis itu. dia begitu peduli pada gadis itu. ia sangat tergila-gila pada gadis itu. Namun cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Gadis yang ia cintai lebih memilih bersama suaminya dibanding dirinya yang sudah mengenal lama dan mengerti gadis itu.
Arwah Francis datang menghampiri mereka. Francis kembali marah, ia memukul Alfred tidak peduli bahwa Alfred adalah adik angkat Arthur. Arthur tersentak kaget melihatnya. Bukan karena Alfred dipukuli Francis, dan bukan karena Francis marah pada Alfred. Ia tidak menyangka Francis akan datang dengan marah dan memukul Alfred.
"Kau apakan gadisku?" bentak Francis. Ia menggendong Arthur dengan bridal's style. Ia tidak rela kalau Alfred merebut istrinya darinya.
"Mau kau bawa kemana Arthur?" pekik Alfred kesal. "Dia masih lemah!"
Francis tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah istrinya tidak dekat-dekat dengan Alfred. Ia tidak peduli bagaimana kondisi Arthur saat itu. Ia tidak peduli Alfred mementingkan kondisi Arthur atau tidak. Ia tidak peduli.
Begitu juga dengan Arthur, ia juga tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang banyak mengeluarkan darah. Ia tidak peduli dengan teriakan Alfred yang begitu mengkhawatirkannya. Ia kini berubah. Berubah dari yang dulu. Ia kini lebih mementingkan suaminya ada didekatnya.
"Kau tidak bisa membawa Arthur begitu saja! Aku mencintainya dan aku selalu memendam perasaanku hanya untuknya! Kau tidak berhak membawanya! Kau selalu saja membuat ia sedih!"
Francis tersentak mendengar ucapan Alfred. "Kau makhluk hina yang pernah kutemui, Francis! Kau selingkuh dengan orang lain padahal kau sudah mempunyai gadis secantik Arthur. Kau selalu membuat Arthur menangis!"
Kembali Francis memukul Alfred. Alfred tidak peduli dengan pukulan itu. Pukulan itu tidak ada apa-apanya baginya dibanding rasa sakit hatinya yang bertepuk sebelah tangan dari Arthur selama bertahun-tahun.
"Arthur cintailah aku! Aku selalu mencintaimu sejak dulu. Aku akan membahagiakanmu dibanding lelaki itu. Aku takkan membuatmu menangis disetiap malammu!" ucap Alfred lirih menatap Arthur. Arthur terdiam, ia merasa kasihan pada Alfred tapi ia begitu menyayangi suaminya.
"Alfred aku sudah bersuami! Aku lebih mencintai suamiku dari apapun" ucap Arthur mempertegaskan.
"Arthur, sadarlah! Lelaki itu bukan laki-laki yang baik! Ia selalu menyakitimu. Aku sudah melihatmu sejak lama. Aku melihat laki-laki itu selalu menyakitimu. Memang ia tidak menyakitimu secara fisik seperti ayah dan kakakmu, tapi ia telah membuatmu menangis!" teriak Alfred. "Akan kukabulkan permintaanmu, akan kubahagiakan dirimu"
"Kalau kau mencintainya, kau harus membayar biaya rumah sakit ini!" lantang Francis.
"Tanpa kau suruhpun aku akan melakukannya!" jawab Alfred marah. "Aku sudah membayarnya sejak awal!"
Francis merasa kalah. Ia tahu bahwa dirinya tidak dapat seperti Alfred. Tapi ia juga berusaha agar dapat membahagiakan gadis yang ia cintai itu, ia juga berusaha agar bisa memberikan yang terbaik untuk gadis yang ia cintai itu. Tapi, perasaan Alfred yang sudah bertahun-tahun menyukai Arthur itu membuat ia merasa kalah. Bukan karena perasaan cintanya terhadap Arthur kalah dari perasaan cinta Alfred kepada Arthur, melainkan perasaan sukanya muncul saat ia bertemu Arthur di klub bar malam itu. sangat jauh berbeda dengan Alfred yang bertemu Arthur sejak Arthur masih kecil. Hingga Arthur pergipun, Alfred tetap mencintainya.
"Kau boleh meminjamnya! Tapi kau hanya boleh meminjam! Kalau sudah puas, kau harus mengembalikannya padaku!"
"Aku tidak mau meminjam! Aku hanya ingin Arthur disisiku!" lantang Alfred.
Francis tetap menggendong Arthur dan pergi dari rumah sakit itu. Alfred mengejarnya. Ia mengejar hingga sampai disebuah kuburan. Kuburan lelaki itu. Kuburan dimana jasad Francis dimasukkan kedalamnya.
"Honey, ini kuburanku" ucapnya. Arthur memeluk Francis dengan eratnya. Francis mencium Arthur didepan kuburannya.
Ini gila! Sangat gila! Arthur dan Francis berpacaran dikuburan. Ini membuat bulu kuduk pria berkacamata itu bergidik. Bagaimana tidak? Ini kuburan! Kuburan coy! Tempat dimana setan-setan bersemayam, tempat dimana angker dan menyeramkan, tempat dimana gelap, sunyi dan menakutkan. Ia terheran pada Arthur, bisa-bisanya gadis itu menikmati ciuman Francis yang dibilang manusia juga bukan, bisa-bisanya gadis itu bermesraan di tengah kuburan seperti itu dimalam bulan purnama yang kedua ini. Bisa-bisanya gadis itu tidak merasa takut padahal Francis bukanlah manusia.
Bagi Arthur asalkan itu adalah Francis, ia tidak peduli dengan semuanya. Arthur tetap menerima kecupan Francis dan tidak mempedulikan sekitarnya. Ia tidak peduli bahwa dirinya dikuburan yang bahkan mungkin saja setan-setan disekitar situ memperhatikannya sampai-sampai ingin menakutinya. Ia begitu menikmatinya seakan sudah bertahun-tahun ia ditinggalkan oleh Francis.
"Arthur!" panggil Alfred kesal.
Arthur tersentak kaget. Buaiannya buyar begitu saja. Francis bersiaga untuk melindungi Arthur.
"Mau apa lagi kau?" ucap Francis kesal.
"Aku hanya ingin Arthur kembali kepadaku!" ucap Alfred kesal. "Kau tidak pantas bersamanya!"
Alfred menonjok wajah Francis dengan kerasnya sehingga Francis terbanting begitu saja tanpa terelakan.
"Kau tidak pantas bersamanya! Arthur tidak pantas bersedih karena dirimu! Kau selalu membuat ia sedih dan menangis!"
"Darling?" ucap Arthur. Ia tampak kaget dengan kejadian ini. "Alfred, aku Cuma mencintai darling! Aku tidak ingin berpisah darinya"
"Arthur sadarlah! Dia bukan manusia! Dia sudah mati! Pria yang kamu cintai itu sudah mati!" pekik Alfred.
Francis dan Alfred bertengkar keras. Tidak ada yang mau mengalah sekalipun. Mereka beradu satu sama lain siapa yang dapat membahagiakan Arthur. Tentu saja Francis memenangkan perdebatan ini karena Arthur membelanya.
Capai meladeni, Francis mengajak Arthur untuk pulang bersamanya. Ia sudah capai dengan semua ini. Malam itu, mereka melakukan hubungan intim kembali.
Francis kembali menanam benih ditubuh Arthur. Ia merasa bersalah dengan kejadian saat ia memakan anaknya sendiri. Berkali-kali ia mengeluarkan spermanya di rahim istrinya itu.
"Honey—" panggil Francis sambil mengangkat ketiaknya. Arthur yang tidak tahan melihat ketiak itu segera menyerang ketiak itu dan menciuminya lama sekali.
"Ya, darling?"
"Aku ingin membunuh Alfred" ucap Francis serius. ia sangat serius ingin membunuh adik angkat Arthur. Arthur tersentak kaget, bagaimana bisa Francis berpikir seperti itu.
Arthur terdiam, ia tampak memikirkan semuanya. Ia tidak rela adik angkatnya itu mati dibunuh suami tercintanya. Tapi ini adalah permintaan suaminya. Sebagai istri yang baik dan patuh, Arthur harus menuruti kata-kata suaminya. Sejak dulu ia sudah bertekad ingin menjadi seperti mendiang ibunya yang selalu menuruti ucapan ayahnya. Dikatakan kalau kita sebagai istri yang menurut pada suami, maka kita akan dapat masuk surga. Ia ingin menjadi seperti mendiang ibunya yang baik dan sabar menghadapi ayahnya yang cepat emosi itu.
"Tapi—" ucap Arthur.
"Kenapa?" tanya Francis. Raut wajah Arthur terlihat begitu sedih dan menderita.
"Kalau kau masuk penjara bagaimana? Aku tidak mau kalau hal itu sampai terjadi!" ucap Arthur sedih. Ia tidak rela berpisah dengan suaminya karena suaminya masuk penjara. Ia tidak ingin membuat Francis menodai dirinya dengan membunuh. Itu juga alasannya agar suaminya mengurungkan niatnya untuk membunuh adik angkatnya. Ia juga tidak ingin Alfred mati terbunuh. Ia sangat menyayangi Alfred sebagai adiknya. Ia masih menyayanginya. Walau Alfred menyebalkan dan tidak mau menyerah dengan cintanya, tapi ia masih menyayanginya.
"Aku yakin kita tidak akan ketahuan oleh polisi. Akan kubuang dan kusimpan baik-baik barang bukti" ucap Francis. "Tidak apa-apa, kan?"
"Kalau arwahnya menghampiri kita bagaimana?"
Francis tampak memikirkannya. "Itu masalah gampang! Tinggal pergi ke dukun!"
Arthur masih terdiam, ia memikirkan semuanya. Bagaimana kalau nanti akan ketahuan? Bagaimana kalau nanti Francis tertangkap? Dia akan bagaimana? Ia tidak mau berpisah dari suaminya itu. rasanya sesak sekali kalau harus berpisah dari suami yang ia cintai. Tapi ia juga tidak ingin Alfred dibunuh oleh suaminya. Ia bingung. Ia menunduk bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia benar-benar tidak tahu.
"—Asal kau janji padaku!" ucapnya. Alisnya mengkerut sedih, airmatanya ia tahan agar tidak dapat diketahui oleh suaminya bahwa hatinya sakit memikirkan dosa yang akan mereka lakukan.
"Apa?"
Ia tersenyum sambil mengacungkan jari telunjuknya. " jangan sampai ketahuan oleh polisi dan lainnya!"
"Ya" Francis kembali mencium istrinya dengan lembutnya. "Kalau begitu ayo kita tidur, besok kita harus segera mempersiapkannya"
Arthur tersenyum. Tersenyum didalam perihnya, tersenyum di dalam sakitnya perasaannya. Namun ia tidak akan menyesali semuanya. Semuanya sudah terjadi, semuanya akan terjadi. Ia tidak akan pernah menyesalinya walau harus kehilangan Alfred sekalipun. Asal itu membuat suaminya bahagia. Asal itu membuat suaminya tetap bersamanya. Ia tetap meyakini bahwa suaminya mempunyai alasan untuk melakukan ini semua. Ia begitu yakin bahwa ini adalah yang terbaik.
Siapa yang menginginkan saingan? Tidak ada! Itulah alasan Francis ingin membunuh Alfred. Ia tidak suka cara Alfred yang merebut istrinya walau tahu istrinya sudah punya suami. Dan ia juga tidak suka dengan sifat istrinya yang tidak mau jujur mengungkapkan perasaannya secara tegas. Ia menjadi gelap mata apabila menyangkut tentang istrinya. Ia tidak suka dengan orang yang mencintai istrinya hingga ingin merebutnya.
Pagi itu, mereka mempersiapkan semua alat-alat tajam untuk membunuh Alfred secara perlahan-lahan dan sadis. Dari pisau hingga chainsaw. Arthur tersenyum kepada suaminya dengan semangat karena ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Darling~" panggilnya seraya membawa boneka voodoo dan paku. "Perlu bawa ini?"
"Ya, bolehlah!"
"Ah, Busby chair!"
"Ide bagus!" ucap Francis. Namun ia sempat berpikir bagaimana caranya agar kursi itu bisa dibawa dengan tanpa mengangkatnya?. Mungkin ia berpikir apakah istrinya itu gila hingga menyuruhnya mengangkat Busby Chair yang berat itu?
Mereka berangkat ke tempat Alfred berada. Menemui Alfred yang tidak ada persiapan untuk kabur. Alfred tetap menemui Francis tanpa rasa takut.
Francis membekap Alfred dengan mudahnya karena Alfred tidak mempersiapkan pertahanan. Alfred tidak akan menyangka akan dibekap, dan diikat sekuat tenaga oleh pria itu. ia memberontak tapi sudah terlambat. Ia terduduk di Busby Chair yang dibawa oleh mereka. Jangan tanya bagaimana mereka bisa membawa Busby Chair yang berat seperti itu dari rumah hingga ke tempat Alfred. Bayangkan saja dengan imajinasi sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Alfred kesal terhadap Francis. Ia menatap Arthur lalu menatap Francis kembali dengan kesalnya.
Francis menaruh tasnya yang berat itu dan mengeluarkan semua benda-benda perkakas dan lainnya yang ia bawa untuk membunuh Alfred. Francis tertawa dengan nistanya dan terkadang terkekeh-kekeh seperti mak lampir.
Arthur? Arthur terdiam menatap kearah Alfred dengan tatapan dingin. Pandangannya sangat dingin. Pikirannya kosong. Hati nuraninya bertentangan satu sama lainnya. Disisi lain ia tidak ingin Alfred mati ditangan suaminya, namun disisi lain ia menginginkan Alfred pergi dari kehidupannya. Ia sedang kebingungan. Ia ingin menghentikan suaminya, tapi tubuh dan suaranya tidak dapat keluar. Ia bahkan membantu suaminya menyiapkan alat-alat yang ingin dipakai untuk menyiksa Alfred. Tubuh dan batinnya tidak berjalan sesuai harapannya.
"Nah, yang pertama-tama adalah ini" ucap Francis mengeluarkan salah satu barang yang berbahaya yang ia punya. Ia mulai menikmati ini semua. Ia menusukan benda itu kemata Alfred sehingga Alfred berteriak kencang. Darah keluar dari mata Alfred. Francis kembali terkekeh-kekeh dengan puasnya.
Alfred berusaha melihat Arthur dalam kondisinya yang seperti itu. ia melihat wanita itu menatapnya dengan dingin, dengan tatapan kosong. "APA YANG KAU LAKUKAN PADA ARTHUR? APA YANG KAU KATAKAN PADANYA? KAU APAKAN DIA?"
Alfred berteriak kepada Francis. Ia sangat marah pada pria itu. ia tahu bahwa gadis yang ia cintai itu adalah gadis baik-baik, ia tahu bahwa gadis yang ia cintai itu tidak akan tega seperti itu, tapi semua berubah. Gadis itu berubah setelah mengenal Francis. Ia begitu mengenal gadis itu. gadis dengan senyuman malaikat itu selalu menentang kekerasan. Karena gadis itu tahu tentang perasaan sakit yang bernama kekerasan. Gadis itu pasti akan menangis apabila melihat kekerasan. Gadis itu akan ketakutan bahkan kabur apabila ada kekerasan. Namun sekarang gadis itu berubah. Ia berubah tidak seperti yang dulu.
"DASAR IBLIS KAU! BRENGSEK! KAU TIDAK PANTAS BERSAMANYA! KAU TELAH MENGHASUTNYA! KAU TELAH MEMBUAT ARTHUR MENJADI KOTOR! KAU TIDAK PANTAS BERSAMA GADIS ITU!"
Francis mulai kesal, ia mengambil chainsaw dan menghidupkannya. Alfred tetap memaki-maki tanpa rasa takut akan kematian. Bila ia harus mati, ia rela mati demi gadis yang ia cintai. Ia rela mati ditangan gadis itu tapi ia tidak rela apabila yang membunuhnya adalah orang brengsek yang ia benci.
Francis telah membunuh Alfred. Ia tetap tertawa puas setelah membunuh pria itu. ia mengulitinya, mencincang-cincang organ tubuh Alfred yang sudah tidak bahkan membersihkan kepala tengkorak milik Alfred.
Arthur terdiam. ia mual melihatnya. Ia tidak tahan melihatnya. Ia ingin kabur, namun kakinya tidak bisa ia gerakan. Ia terdiam diri melihat Francis menikmatinya. Ia takut. Ia gemetaran. Tapi ia tidak bisa apa-apa. Ia ingin menangis, ia ingin berteriak, ia tidak ingin menerima kenyataan ini tapi lagi-lagi semuanya tidak dapat ia lakukan. Ia tertawa, tertawa dengan terkekeh-kekeh melihat mayat itu. ia tertawa namun menangis. Ia tidak tahu harus bagaimana. Seperti dugaannya, semua sudah terjadi dan akan terjadi. Hatinya perih sekali melihat semua kejadian itu.
"Ini kuhadiahkan untukmu" ucap Francis memberikan tengkorak kepala Alfred kepada Arthur. Arthur terdiam melihat tengkorak itu. ia tersentak lalu pucat. Tidak! Bukan karena itu tengkorak Alfred, dan bukan karena kejadia ini. Ia mengenmbalikan tengkorak itu kepada Francis.
"Buang!"
"Kenapa? Padahal tengkorak ini bagus" ucap Francis. Ia lalu menyimpannya di dalam tas yang ia bawa. "Buat di Lab"
Francis menuntun Arthur pergi dari tempat itu. semua sudah dipersiapkan oleh Francis. Bagaimana ia dengan pintarnya menyembunyikan mayat Alfred ditempat yang bahkan orang-orang tidak akan tahu kecuali dirinya.
Malam itu mereka tertidur pulas tanpa siaga satu dan siaga dua. Alfred datang menemui mereka. Begitu cemburunya hati Alfred melihat Arthur tertidur dengan lelaki yang ia benci. Ia membenci Francis yang telah membuat Arthur berubah. Awalnya ia tidak membenci pria itu, ia hanya ingin Arthur memandangnya dan menganggapnya. Namun perasaannya berubah, ia tidak hanya ingin Arthur memandangnya saja, ia bahkan ingin balas dendam kepada Francis walau dirinya sudah mati sekalipun.
Ia membawa Arthur yang tertidur pulas dibalik lingerinya yang minim itu. ia membawanya ketempat dimana pria itu tidak akan dapat menemui gadis itu. ia tertawa seperti penjahat. Ia tertawa menertawai Francis. Ia tertawa penuh kemenangan.
Francis terbangun. Ia tersentak mendapatkan istrinya tidak ada disebelahnya. Ia mencarinya di kamar mandi namun nihil. Ia mencarinya di dapur hingga ke seluruh ruangan ia cari, namun hasilnya tetap nihil. Ia panik, ia yakin bahwa tadi ada seseorang yang mengambil istrinya.
"Alfred?" pekik Francis sedih.
.
.
TBC
.
.
Next coming soon... saya senang sekali bisa melanjutkan hingga part 4 ini... pertama kalinya bisa nyelesain sampai part 4 #nangisbahagia... XDD... berdoa saja saya bisa lanjutkan part 5 hingga seterusnya... untuk Clorkshelle, thankyou idenya... buatlah yang versi Francisnya dund... XDD biar mereka sama2 punya alasan XDD #gampared
