Part 33 Kabar Buruk dari Leon
Kota Orluire, Pasar budak
Tidak banyak yang terjadi di tempat itu semenjak kota Anteinde beralih ke dalam wilayah kendali Daulah Islamiyah. Pemerintahan Islam sejak awal memang sudah memutuskan untuk tidak serta merta menghapus dan melarang perbudakan begitu saja di wilayah barunya karena seperti yang sudah terjadi di masa lalu, budak dianggap sebagai bagian dari harta atau properti dan penghapusan perbudakan secara serta merta berarti mendzalimi pemilik budak tersebut.
Itu sebabnya pemerintah Islam menggunakan pendekatan secara halus yang selama ini telah dipraktekkan selama 1400 tahun, yaitu pengaturan kepemilikan budak dan pemberian hak-hak dasar kepada seluruh individu yang berstatus budak. Mereka yang memiliki budak tetap diperbolehkan untuk memiliki budak mereka selama budak tersebut diperlakukan dengan baik dan manusiawi.
Di 1 bulan pertama saja semenjak aturan ini diperlakukan, sudah ada puluhan budak yang dibebaskan oleh pengadilan negara di masing-masing kota karena perlakuan tidak baik yang mereka terima, mulai dari masalah hak pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal sampai dengan perlakuan semena-mena secara fisik dari pemilik budak.
"Huh, akhir-akhir ini, jarang sekali ada yang mau membeli budak. Ini salah pasukan Hitam itu, karena mereka tidak menyukai perbudakan dan mempersulit kepemilikan budak, belum lagi banyak budak yang dibebaskan karena kasus sepele, semenjak saat itu banyak orang yang tidak ingin memiliki budak lagi karena mereka tidak mau terbebani dengan kepengurusan budak, Tch… Kalau begini terus bagaimana mungkin aku bisa untung."
Seorang penjual budak sibuk mengeluh dengan kondisi penjualannya yang sepi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sesekali dia menoleh ke arah berbagai kurungan besi yang mengurung budak yang dia jual. Di dalamnya para budak yang dijualnya hanya duduk-duduk saja dengan tatapan kosong seolah mereka tidak memiliki harapan hidup.
Tak lama kemudian, penjual itu mendengar suara kegaduhan dari luar bangunan tempat dia menjual budak. Penasaran dengan sumber kegaduhan itu, penjual budak berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pintu luar. Belum sempat membuka pintu, ternyata seseorang dari luar mengetuk pintu itu, membuatnya lebih bergegas membuka pintu itu. Di depan pintu yang dibukanya, ternyata sudah berdiri beberapa prajurit berseragam hitam yang tidak asing dimatanya.
"Pa-pasukan Hitam?"
Hari itu di salah satu tempat bangunan yang menjual budak, sekelompok prajurit Ghazi tiba-tiba datang ke tempat itu. Di belakang mereka, penjual budak itu bisa melihat salah satu kendaraan besar milik mereka yang terkenal karena dapat bergerak tanpa ditarik oleh kuda atau hewan apapun di depannya. Mereka mendatangi penjual budak itu dan salah satu diantaranya yang berpangkat paling tinggi memulai pembicaraannya dengan penjual budak.
"Kudengar kau menjual budak di sini."
"Ah tuan prajurit hitam, itu benar, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjual dengan nada canggung karena khawatir jika dirinya bermasalah dengan mereka.
"Boleh kami masuk dan melihat-lihat dulu?"
"Tentu saja, silakan masuk dan periksa apakah ada budak yang dapat memenuhi kebutuhan anda." Penjual itu berbicara dengan manis terlepas dari fakta bahwa dirinya baru saja berbicara hal buruk tentang mereka.
Perwira Ghazi yang berpangkat letnan itu pun mengangguk dan masuk ke bangunan itu diikuti oleh dua orang bawahannya, salah satu diantara mereka menggunakan ban lengan bulan sabit merah. Mereka melihat-lihat budak yang dijual di tempat itu yang hampir semuanya berjenis kelamin laki-laki dari berbagai usia. Hanya ada sedikit budak perempuan yang ada dan itu pun semuanya masih berusia anak-anak berusia 10 tahun ke bawah.
"Letnan, kebanyakan dari mereka tampak tidak diberi makan dengan baik."
"Aku pikir juga begitu. Doc, menurutmu bagaimana kondisi kesehatan mereka?"
Seseorang yang dipanggil doc itu awalnya menatap budak yang ada di ruangan itu satu persatu dengan singkat. Nampaknya dengan hanya melihat dari luar saja petugas medis itu dapat memberi kesimpulan awal kondisi budak-budak itu.
"Sebagian kecil terkena penyakit ringan, dua orang perlu dirawat di Bimaristan, sisanya hanya gejala kurang gizi biasa."
"Begitu ya, 50 orang dewasa, 6 anak laki-laki, dan 4 anak perempuan. Mungkin kita harus mengirim 10 anak-anak itu ke penampungan anak untuk sementara waktu sampai ada keluarga yang mau mengadopsi mereka di Edela. Sisanya bisa kita pekerjakan ke galangan kapal di Darul Bahri, dengan begitu mereka bisa mendapatkan kebebasan mereka dengan cara yang layak."
Penjual budak yang sedari tadi mengikuti tiga prajurit itu berjalan dari belakang sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Menurutnya sedari tadi ketiga prajurit itu terlihat berdiskusi sambil terlihat memilih atau menunjuk budak-budak yang mereka lewati secara bergantian. Tak lama ketika salah satu prajurit yang nampak memiliki kedudukan tertinggi di antara ketiganya itu terlihat membuat keputusannya, prajurit itu berhenti dan berbalik mendekati posisi penjual budak.
"Apa anda sudah menemukan pilihan yang cocok untuk anda?"
"Budak-budak ini, berapa kau menjual mereka semua?"
"SEMUA!?"
"Iya, semua. Kami akan membeli mereka semua."
"Ba-baik, saya akan segera memproses transaksinya."
Penjual itu tidak menyangka jika semua yang dijualnya akan langsung dibeli sekaligus. Tentu saja dia senang sekali karena seolah ketiban durian runtuh. Dengan senyum lebar, penjual itu langsung memproses transaksinya dan menerima sekantong besar yang berisi ribuan koin emas dinar. Semua budak pun dilepas dan diarahkan untuk ke truk yang sudah menunggu di luar.
Penjual budak itu menatap bahagia kepergian pasukan hitam yang sebelumnya dianggapnya penyebab bisnisnya yang rusak. Namun sebelum sempat pergi meninggalkan bangunan itu, perwira ghazi yang membeli semua bedaknya itu menyempatkan diri untuk berbicara memberikan pesan terakhir sebelum pergi yang membuat penjual budak itu terkejut.
"Kusarankan kau mencari bisnis atau bidang pekerjaan lain. Mulai saat ini atau kedepannya nanti kemungkinan tidak akan ada lagi budak yang bisa kau jual lagi di sini."
###
17 Juni 2029
Imran terbangun karena alarm ponselnya berbunyi. Tangannya meraih ponsel itu untuk mematikan suara alarm yang sangat mengganggu tidurnya. Jam di ponselnya ternyata sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Itu artinya seharusnya sudah masuk waktu sholat Subuh. Setelah benar-benar terbangun, Imran baru sadar adanya sepasang lengan yang melingkar di pinggangnya.
"Engghh…"
Suara di belakangnya membuat Imran pun memutar badannya, membuat tatapannya bertemu sosok gadis dengan telinga kucing yang masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat sangat damai, seolah beban hidupnya sudah terangkat semua, membuat Imran tidak tega membangunkannya. Ekor kucingnya yang berbulu, bergerak-gerak menepuk pinggang Imran memberikan sedikit rasa geli di bagian pinggangnya.
Imran tidak menyangka kalau mereka berdua baru saja melakukannya tadi malam, padahal Lily baru saja mengucapkan kalimat syahadat. Imran bahkan belum menanyakan usia gadis itu yang sebenarnya. Bagaimana jika ternyata usianya terlalu muda? Bagaimana jika secara psikologis dia tidak siap menjadi seorang ibu dan ternyata nantinya malah mengandung anaknya?
"Astaghfirullah, aku benar-benar yang terburuk." Gumam Imran sambil terkekeh.
Tapi jika mengingat perkataannya tadi malam, Lily bahkan sudah mengatakan bahwa dirinya bersedia menerima semua konsekuensinya dan sama sekali tidak keberatan. Dengan begini, hubungan mereka sekarang seolah tidak ada bedanya dengan suami dan istri. Seharusnya itu baik-baik saja bukan? Imran pun menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak memikirkannya. Yang terpenting dia harus membangunkan Lily sekarang karena sudah waktunya sholat subuh. Selain itu, mereka juga harus melakukan mandi wajib juga yang akan memakan waktu.
"Lily, bangunlah."
"Engghhh… master, apakah sudah pagi?"
Lily pun mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba menghilangkan rasa kantuknya. Setelah rasa kantuknya berangsur menghilang dan kesadarannya pulih, Lily sempat menatap tubuhnya sendiri dari balik selimut, lalu pandangannya beralih ke Imran yang berada di balik selimut yang sama dengannya. Seketika itu wajah Lily memerah dan kedua tangannya menutup wajahnya.
"Kenapa Lily?"
"Maaf master, saya hanya sedikit malu."
Imran tertawa kecil melihat reaksi Lily yang benar-benar terlihat lucu. Seolah keberanian yang semalam dia tunjukkan hanya mimpi dan sekarang Lily kembali ke kepribadian asalnya. Mengingat kejadian semalam, Imran sempat terkejut karena Lily ternyata masih perawan. Padahal dengan statusnya sebagai budak, Imran sempat mengira bahwa pemilik Lily yang sebelumnya kemungkinan besar sudah pernah menyentuhnya.
"Lily apa jangan-jangan, kau belum pernah memiliki tuan yang lain sebelum aku membelimu."
Lily mengangguk, mengiyakan Imran.
"Saya memang belum pernah dibeli siapapun setelah ditangkap karena kelumpuhan kaki saya. Karena hal itu juga penjual saya sering sekali memarahi dan mencambuk saya tanpa alasan. Waktu itu, ketika master membeli saya, perasaan saya entah kenapa menjadi sangat lega, meskipun ada kekhawatiran di dalam hati saya bagaimana nantinya saya akan diperlakukan."
"Begitu ya, syukurlah kalau begitu. Baiklah, ini sudah masuk waktunya sholat subuh. Kau akan mengerjakan sholatmu yang pertama, Lily. Untuk sementara ini, kau hanya perlu mengikuti saja apa yang aku lakukan."
"Baik, master."
Keduanya bangun dari tempat tidur dan melakukan mandi junub. Imran pun mengambilkan air secukupnya dari sumur yang ada di luar rumah untuk mereka gunakan mandi. Tentu saja keduanya mandi bersama di dalam kamar itu. Sebagian besar mandi dilakukan dengan menggosok dan mengusap seluruh badan menggunakan kain basah mengingat air yang digunakan cukup terbatas. Untungnya kegiatan mandi dapat dilakukan di dalam kamar mengingat lantai kamar itu bisa menyerap air. (AN: CMIIW, Saya kurang begitu tahu bagaimana orang di zaman abad pertengahan mandi.)
"Lily, berapa usiamu sekarang? Aku belum sempat menanyakan usiamu sampai sekarang kan?"
"Maaf master, semenjak saya ditangkap saya sudah lupa akan hitungan hari dan waktu. Tapi kalau saya boleh mengira-ngira, mungkin usia saya sekitar 14 tahun."
Sudah kuduga.
Mendengar usia Lily, Imran jadi merasa bersalah. Padahal kalau di tempat asalnya, gadis seusianya seharusnya masih harus fokus untuk menyelesaikan pendidikan wajibnya. Tapi jika dipikirkan lagi, hal seperti ini seharusnya menjadi hal yang wajar untuk Lily. Di tengah masyarakat yang hidup di abad pertengahan, memang sudah menjadi salah satu hal yang biasa ketika gadis berusia remaja dinikahkan. Meskipun dalam konteks hubungan Imran dan Lily adalah budak dan tuannya, tetapi tetap saja apa yang baru saja mereka lakukan semalam membuat keduanya tidak ada bedanya dengan sepasang orang yang sudah menikah sekarang.
"Maaf Lily, kau harus kehilangan banyak hal di usiamu yang masih sangat muda." Ucap Imran sendu.
Lily pun menggelengkan kepalanya. Dengan tersenyum Lily menjawab.
"Tidak, master tidak punya salah apa-apa. Justru saya mungkin harus bersyukur karena apa yang saya alami selama ini bisa menuntun saya untuk bertemu dengan master dan mengenal Islam. Kalau saja saya bisa mengulang waktu, mungkin saya akan tetap menempuh jalan hidup yang sama agar dapat bertemu master."
Jawaban Lily terdengar agak berlebihan, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Imran. Namun, Imran tetap senang dengan jawaban yang diberikan oleh Lily. Hal ini menunjukkan seberapa penting dirinya bagi Lily dan hal ini juga lah yang membuat kenapa dirinya semakin menyukai Lily. Selesai mandi, Imran pun mencarikan kain untuk dijadikan ganti kerudung. Keduanya menjalankan sholat bersama meskipun Lily hanya dapat mengikuti gerakan Imran tanpa tahu apa yang dibacanya. Bahkan Lily pun juga sedikit bingung untuk mengikuti gerakan Imran mengingat dirinya hanya bisa sholat sambil duduk di ranjang.
Pagi itu, Imran yang sudah selesai sholat subuh keluar dari kamar Lily dan bertemu rekannya yang lain sedang bersiap melakukan sholat subuh dan akan di imami oleh kapten Fajar.
"Letnan, sepertinya terjadi hal yang menarik yang tadi malam." Ujar kapten dengan menunjukkan senyuman miringnya.
"Maaf kapten, saya tidak dapat menceritakan apa yang terjadi malam ini karena itu adalah privasi saya dan Lily." Balas Imran dengan senyum malu.
Kapten Fajar pun hanya mengangguk dengan senyumannya seraya menepuk pundak Imran, tanda bahwa dirinya memahami maksud dari Imran.
Siang itu, sepaket suplai yang berasal dari markas pusat di benteng Andalusia diterjunkan beberapa kilo dari tembok kota. Kapten Fajar membentuk tim pencari yang akan dipimpin oleh Imran untuk mengambil paket itu, tentunya dengan membawa kereta kuda yang sudah dibeli beberapa hari sebelumnya. Paket itu diterjunkan di dalam hutan yang tidak jauh dari kota. Mereka bahkan harus menembaki beberapa monster liar dan binatang buas dalam perjalanan mengambil paket itu, tentunya dengan menggunakan peredam.
Kembali dari pencarian paket, mereka membawa beberapa suplai seperti amunisi, bahan makanan, mata uang lokal, dan bahkan suplai medis yang sudah dijanjikan di malam sebelumnya. Yang menjadi kejutan adalah salah satu suplai medis itu ternyata berupa kursi roda yang memiliki banyak fitur seperti fitur untuk mengatur ketinggian, naik turun tangga, dan yang terpenting adalah dapat dijalankan oleh penggunanya sendiri melalui perangkat seperti joystick.
Tentu saja kursi roda itu harus dirakit terlebih dahulu ketika mereka kembali ke rumah persembunyian mengingat kursi roda itu dikirim dalam keadaan terbongkar. Imran menunjukkan kursi yang sudah dirakit itu ke Lily dengan membawanya ke kamar Lily.
"Master, ini benda apa?"
Sekilas Lily melihatnya seperti kursi biasa dengan roda, hanya saja bentuknya terlihat sangat kompleks.
"Seperti yang kau lihat Lily, ini adalah kursi roda untukmu agar kau bisa bergerak kemana-mana sendiri mulai sekarang."
"Sungguh? Master, melakukan sampai sejauh ini hanya demi saya?" Lily kembali mengeluarkan air mata di tengah senyumnya.
"Coba lah Lily, kau pasti bosan kan jika hanya berada di kamar saja?"
Lily pun mengangguk antusias. Dengan dibantu oleh Imran, Lily pun berpindah dari tempat tidur ke kursi roda itu. Lily pun diajari menggerakkan kursi roda itu dengan gerakan maju mundur, berputar, lalu menaikkan dan menurunkan kursi roda itu.
"Master, dengan begini saya bisa membuat diri saya berguna untuk master. Saya pasti akan membalas kebaikan master dengan melakukan apa pun yang saya bisa."
Lily pun langsung menggunakannya untuk mengelilingi rumah kecil yang dijadikan tempat persembunyian tim Imran. Apa yang pertama kali dilakukannya adalah mencari alat untuk bersih-bersih rumah. Memang umumnya lelaki tidak terlalu memedulikan masalah itu, apalagi kondisi Imran dan timnya yang hanya bertujuan menempati rumah itu untuk menuntaskan misi mereka. Hanya satu ruangan yang saat ini tidak boleh sembarangan dimasuki oleh Lily, yaitu gudang senjata.
Lily bahkan menanyakan bahan makanan yang dimiliki oleh mereka dan mencoba untuk membuat masakan. Sempat kecewa karena tidak ada kayu bakar di dapur rumah itu, Lily kembali bersemangat setelah Imran mengenalkannya dengan kompor portabel. Siang itu, seluruh tim Hittin memakan makanan dari masakan pertama Lily yang berupa sup sederhana dengan isi beberapa sayuran dan potongan daging ikan yang sudah dimasak setelah beberapa hari terakhir hanya memakan ransum militer, sayuran mentah, dan roti kering.
Hasilnya pun jauh lebih baik dibanding dengan hanya memakan roti biasa yang sedikit hambar bila dibandingkan dengan produk roti yang berasal dari tempat asal Imran dan yang lainnya. Hari itu, seolah menjadi hari yang paling bahagia untuk Lily sejauh ini, mengingat dirinya akhirnya dapat mengutarakan perasaannya ke Imran dan perasaannya pun juga terbalas oleh Imran, ditambah lagi dengan kursi roda yang membuatnya bisa bergerak lebih bebas dan dapat melakukan sesuatu untuk masternya dibandingkan dengan hanya berdiam di kamar.
###
20 Juni 2029
Tidak banyak yang berubah dari keseharian tim Hittin. Sebagian akan keluar untuk membeli kebutuhan harian di pagi hari. Sebagian lain akan bergantian mengamati drone mereka yang masih aktif merekam aktifitas di dalam istana Leonia. Lily pun juga aktif mengerjakan pekerjaan seperti membersihkan rumah, mencuci, dan memasak untuk makan seluruh anggota tim. Kadang di waktu senggangnya, Lily juga menyempatkan diri untuk belajar ilmu agama melalui ponsel yang dipinjamkan oleh Imran.
Dengan menggunakan kain apapun yang dapat dia temukan, Lily juga berusaha menjalankan kewajiban barunya sebagai seorang wanita muslim, yaitu menggunakan kerudung. Tentu saja Lily harus belajar sendiri merangkai kerudung sebagus mungkin mengingat Imran dan tim Hittin lainnya tidak ada yang tahu apa-apa tentang teknik dalam mengenakan kerudung. Kadang kala Imran juga membantunya memasang kerudung itu sebisa mungkin meskipun kerudung itu pada akhirnya hanya dipasang asal jadi.
Siang itu, ada sedikit hal yang berbeda dari hari sebelumnya. Tepatnya di ruang kontrol dimana saat ini Sa'ad yang mendapat giliran untuk mengawasi tayangan dari drone ditemani oleh Imran. Di dalam tayangan itu, nampaknya raja dan petinggi kerajaan ternyata berkumpul di ruang tahta untuk mendiskusikan sesuatu. Melihat kejadian penting ini, Imran pun memanggil kapten Fajar dan seluruh tim yang lain untuk ikut menyaksikannya
"Apa yang sedang mereka bicarakan Letnan?" Tanya sang kapten yang baru datang.
"Tampaknya mereka sedang merencanakan langkah selanjutnya dalam menghadapi kita kapten."
Kapten Fajar pun mengambil SatCom dan menghubungi markas pusat untuk memberi tahu mereka peristiwa penting itu.
"Amir 1 disini Hittin 1, apa kalian melihat tayangan langsung dari kami?"
"[bzzz] di sini Amir 1, kami mendengarnya dengan keras dan jelas."
Mereka terus menyimak jalannya perundingan tentang strategi mereka. Salah satu jenderal terlihat melangkah maju mendekati raja untuk memberikan usulan.
###
Di dalam istana Leon
"Yang mulia, saya memiliki dua usulan dalam menghadapi pasukan hitam."
"Bicaralah."
"Yang mulia, musuh kita selama ini menggunakan taktik perang yang belum pernah kita lihat sampai sekarang. Mereka hanya bertempur dari jarak jauh layaknya pengecut. Akan tetapi jika kita tidak beradaptasi dengan taktik mereka, kita akan kalah dan binasa. Saya ingin mengusulkan untuk mengikuti taktik mereka dan bertempur dari jarak jauh juga. Kita harus melatih dan mempersenjatai seluruh pasukan kita dengan busur dan panah. Buat parit dan pos penembakan di garis pertahanan kita dan tempatkan balista dan ketapel kita di tempat yang strategis."
"Hmm… usulanmu menarik juga. Baiklah akan aku izinkan kau menggunakan strategi mu. Apa usulanmu yang kedua."
"Yang mulia, pasukan musuh cepat atau lambat pasti akan bergerak menuju kota Charnau. Kejatuhan kota itu ke tangan musuh tidak akan terelakan. Dari pada kota itu itu dimanfaatkan musuh untuk batu loncatan, sebaiknya kita bumi hanguskan saja kota itu. Kita akan merampas apa yang dapat kita rampas dan tidak ada yang boleh kita sisakan untuk pasukan hitam. Dengan begitu kita pasti akan berhasil menghambat pergerakan pasukan hitam."
"HAHAHAHA, Akhirnya, seseorang yang dapat berpikir cerdas di tengah momen krisis seperti sekarang. Jenderal, jika rencanamu berhasil, kekayaanmu akan aku lipat gandakan sampai kau tidak menghabiskannya tujuh turunan. Kau juga akan kuberi status tertinggi di militer kerajaan."
"Siap laksanakan, yang mulia!"
"Kita akan mengusir dan memusnahkan pasukan hitam itu. Kirimkan penunggang wyvern untuk mengantarkan pesan perintah ke penguasa di kota Charnau, untuk kejayaan Leonia! A La Gloire!"
"""A LA GLOIRE"""
###
"Amir 1, apa kalian mendengar semua rencana mereka?"
"[bzzz] kami mendengar semuanya dengan jelas Hittin 1, terima kasih atas informasinya. Sisanya serahkan kepada kami."
###
Benteng Andalusia
Di waktu yang sama, dari dalam Al Jisr, sebuah kapal muncul dari dalam dengan diangkut menggunakan SPMT. Kapal itu adalah kapal perusak kelas Mustafa. Karena ukuran terowongan yang cukup besar, kapal ukurannya pun dapat masuk hanya dengan melepas tiang dan antenanya saja tanpa harus membongkar super struktur nya. Berbeda dengan kapal jelajah dan kapal tempur yang harus dibongkar terlebih dahulu.
Laksamana Ja'far, memandangi proses pengangkutan kapal-kapal yang nantinya akan ada di bawah komandonya. Dalam waktu dua bulan ke depan estimasi kapal yang dapat dibangun adalah 10 kapal perusak, 5 kapal jelajah, dan 1 kapal tempur. Sayangnya mereka belum dapat membawa kapal induk. Akan tetapi laksamana sudah cukup puas mengingat mereka dapat memindahkan 1 kapal tempur flagship mereka ke balik Al Jisr. Kapal itu telah menjadi flagship di tempat asalnya dan akan menjadi flagship juga di dunia ini.
"Akhirnya, giliran kami akan segera tiba." Gumam laksamana Ja'far sambil masih menatap kapal perusak itu.
###
Kota Anteinde
Tidak banyak yang terjadi di kota Anteinde semenjak kota itu dibebaskan dari Leonia. Aturan berbasis Islam diterapkan secara berangsur-angsur. Berbagai fasilitas pun dibangun, mulai dari rumah sakit, air ledeng, bahkan bantuan tunai dalam bentuk koin emas terhadap mereka yang membutuhkan. Tiang-tiang listrik pun sudah selesai dibangun di hampir semua bagian kota beserta kabelnya.
Sebagai awal, para Ghazi hanya memberikan penyuluhan tentang menggunakan lampu dalam pemanfaatan listrik di tiap-tiap rumah mengingat warga kota masih benar-benar awam dengan teknologi listrik itu sendiri. Penggunaan fungsi lain yang berkaitan dengan listrik pun juga akan diadakan di masa depan secara bertahap.
Adanya listrik menyimpulkan adanya kebutuhan membangun sebuah pembangkit listrik. Sumber yang akan diambil berupa angin, ombak laut, sungai terdekat, dan sinar matahari yang diharapkan cukup untuk sementara waktu. Jika kebutuhan listrik meningkat, rencananya mereka harus membangun PLTN di wilayah itu.
Itu artinya akan ada kebutuhan tenaga kerja untuk menjalankannya. Tenaga kerja ahli akan didatangkan dari balik Al Jisr, sedangkan sisanya akan mengambil dari penduduk sekitar. Hal ini ditambah dengan sejumlah budak yang akan dibeli oleh pemerintah, lalu dimerdekakan dan dipekerjakan di fasilitas-fasilitas yang sudah dibangun, sehingga budak yang baru saja dibebaskan pun bisa langsung menghidupi diri mereka sendiri dengan pekerjaan tersebut.
Bekas tambang yang dijelajahi oleh Ahmed dan sudah diamankan, saat ini mulai kembali dieksploitasi. Material paling penting yang dieksploitasi adalah material baru berupa kristal hijau yang nantinya akan disebut dengan kristal Mana dan masih akan menjalani proses penelitian lebih lanjut. Material kedua adalah berlian yang juga berjumlah banyak dan diestimasikan akan bernilai jutaan dinar. Seolah tambang itu menjadi pengganti biaya yang sudah dikeluarkan oleh Daulah Islam dalam menjelajah Edela. Tentu saja penambangan akan dilakukan dengan pengamanan ekstra. Semua penambang akan diwajibkan menggunakan topeng gas dan kalau perlu, baju hazmat.
Salah satu aturan pertama yang sedang dicoba untuk diterapkan di beberapa kota termasuk di Anteinde adalah pelarangan minuman keras. Seperti pepatah yang ada di dalam Islam bahwa minuman keras adalah salah satu induk dari segala kejahatan. Karena itu hal pertama yang dilarang adalah minuman keras. Aturan lain pun juga akan menyusul seperti penutupan tempat bordil, larangan hubungan badan diluar pernikahan, dan aturan-aturan yang lainnya.
Kedai yang sebelumnya menjual minuman keras dan ramai didatangi banyak orang di malam hari. Kafe itu pun mau tak mau harus berhenti menjual minuman keras. Untungnya pemerintahan Islam memberikan solusi bagi mereka yang sebelumnya menjual minuman keras dengan memberikan saran menu alternatif seperti jus, minuman bersoda, dan kopi.
Sayangnya pelarangan minuman keras memang berdampak cukup besar mengingat bahwa kegiatan mabuk seolah sudah menjadi budaya seperti halnya masyarakat yang ada di dunia para ghazi berasal. Banyak protes yang berdatangan, beberapa bahkan ada yang membuat keributan dan kerusuhan. Seperti halnya yang terjadi di salah satu kedai dimana ada pria yang dulunya menjadi langganan minuman keras melampiaskan kemarahannya terhadap pekerja di sana.
"APA MAKSUDNYA KALIAN TIDAK BISA MENJUAL BIR LAGI? CEPAT BERIKAN AKU BIR!"
"Maaf Tuan, tapi kami sudah tidak bisa menjualnya lagi karena bir dilarang oleh orang-orang hitam."
Sebagian orang masih menyebut pasukan dari Daulah Islam sebagai "orang-orang hitam". Mungkin julukan itu akan melekat sampai mereka benar-benar terbiasa berada di bawah pemerintahan Daulah Islam.
"AKU TIDAK PEDULI, AKU HANYA INGIN BIR! MANA ORANG-ORANG HITAM YANG KAU MAKSUD? SURUH MEREKA KESINI JIKA MEREKA INGIN MENCEGAHKU DARI BIR."
Orang yang meminta bir itu seolah semakin marah, meja dan kursi di sekitar pun mulai ditendang olehnya. Beberapa pembeli lain pun juga mulai ketakutan melihat keributan yang dibuatnya.
"KALAU KAU TIDAK MAU AKU MENGOBRAK-ABRIK TEMPAT INI, CEPAT BERIKAN AKU-"
"Berikan kau apa?"
Suara itu muncul dari belakang si peminta bir, lebih tepatnya dari pintu masuk kedai. Penasaran terhadap siapa yang berbicara, si pemarah pun membalik badannya dan melihat Ahmed yang berseragam hitam bersama Sylvania dan Cecilia.
"Hah, jadi kau ya salah satu orang-orang hitam itu. Dan kenapa kau bersama dua orang biarawati? Ah sudahlah, masa bodoh. Gara-gara kau aku jadi tidak bisa minum bir lagi, karena itu akan kuberi kau pelajaran."
Si pemarah pun langsung bergerak ke arah Ahmed sambil mengepalkan tinjunya. Dengan santai, salah satu tangan Ahmed memegang tangan pemarah yang terkepal dan diarahkan ke Ahmed, sedangkan tangan yang lain memegang wajah pemarah itu. Dengan memanfaatkan momentum pergerakan si pemarah, Ahmed pun dalam sekejap menjatuhkan orang itu sampai jatuh dengan posisi tengkurap. Kedua tangannya ditahan oleh satu tangan Ahmed dan dengan tangannya yang masih bebas, Ahmed meraih pedangnya yang ada di belakang dan langsung menancapkannya di lantai depan wajah pria itu.
"HIIIIHHHH…. Kumohon ampuni aku… aku hanya bercanda dan sama sekali tidak ada niatan serius. Ah iya, aku juga benci bir, aku janji tidak akan minum bir lagi, lepaskan aku!"
Sambil berjongkok, Ahmed pun mendekatkan bibirnya di telinga pria itu dan berbisik.
"Enyahlah dan jangan sampai kau muncul di hadapanku lagi, atau mungkin kau mau memilih antara merasakan pedangku atau pengadilan militer?"
"Hiiihhh, baik aku akan pergi, aku tidak akan muncul dihadapanmu lagi! Tolong lepaskan aku!"
Kali ini pria itu bahkan berkata sambil matanya berair. Ahmed juga sempat melirik celana pria itu yang ternyata sudah basah. Ahmed pun akhirnya melepaskan pria itu. Dalam sekejap pria itu langsung bangun dan lari terbirit-birit keluar dari kedai. Ahmed pun menghela nafas ringan.
Apa aku terlalu berlebihan ya?
Di belakangnya, Cecilia dan Sylvania tertawa kecil melihat pria tadi. Bukan hanya karena melihat reaksi pria itu ketika menghadapi Ahmed, tapi juga karena mendengar pria itu menyebut mereka berdua sebagai biarawati. Apa jangan-jangan selama ini masyarakat di kota juga berpikir seperti itu.
"Maaf, awalnya aku berniat membelikan kalian jus, tapi kalian malah melihat kejadian seperti ini."
"Tidak masalah Ahmed, yang terpenting sekarang kamu tidak terluka."
"Seperti yang diharapkan dari kesatriaku, benar-benar dapat diandalkan."
Cecilia pun sudah mulai lancar berbicara bahasa Arab, hanya memerlukan penyesuaian saja dan mempelajari kosakata yang masih belum dikenalnya. Ahmed pun sempat mendapat tepuk tangan dari penghuni kedai yang lain karena berhasil mengusir perusuh itu. Ketiganya pun mencari meja kosong untuk digunakan. Tak lama setelah mereka memilih meja, salah satu pelayan yang bekerja di kedai itu pun mendatangi mereka.
"Apa yang ingin Anda pesan, tuan pasukan hitam?"
"Aku ingin pesan 3 mangkuk es buah dan 3 jus terbaik yang kalian miliki. Oh iya, kalian berdua apa ada menu lain yang ingin kalian pesan?"
Ahmed bertanya ke kedua gadisnya dan keduanya pun hanya memberikan gelengan.
"Baiklah, akan segera kami proses pesanan anda."
Pelayan itu pun pergi ke meja konter untuk menyerahkan pesanan Ahmed sebelum mendatangi meja pelanggan yang lain.
"Beberapa hari ini entah kenapa terasa damai sekali ya, maksudku selain kerusuhan kecil di sana-sini." Cecilia mulai membuka pembicaraan yang kemudian ditanggapi oleh Sylvania.
"Benar, rasanya cukup lega mendapatkan kesempatan untuk menikmati hari tenang seperti ini. Padahal beberapa hari sebelumnya, hidup kita rasanya dipenuhi ketegangan dan aksi."
"Kalian berdua, sebaiknya nikmati sebisa mungkin hari-hari tenang seperti ini. Aku dengar petinggi militer mulai membuat persiapan untuk melanjutkan penyerangan ke Leonia. Yah bukan berarti aku akan memaksa kalian berdua untuk ikut. Kalian juga bisa menungguku dan menetap di kota ini kalau kalian mau, karena berjihad di medan perang juga bukan kewajiban kalian sebagai wanita."
"Meski begitu, aku akan tetap ikut denganmu Ahmed. Entah kemana pun itu, aku ingin kita selalu bersama." Sylvania yang pertama menanggapi Ahmed, disusul oleh Cecilia.
"Aku juga, aku akan ikut denganmu. Sama seperti Vania, aku akan terus bersamamu karena aku juga istrimu."
Ahmed tersenyum mendengar tanggapan keduanya. Entah kenapa kedua wanitanya ini seolah benar-benar terobsesi dengan dirinya. Meski begitu Ahmed tidak akan protes, karena itu menunjukkan seberapa dalam perasaan yang mereka miliki terhadap dirinya, dan karena itu juga Ahmed juga akan berusaha membalas perasaan mereka berdua.
"Pesanan Anda tuan prajurit hitam."
Nampaknya pelayan yang sebelumnya menawari menu, sekarang sudah kembali dengan membawa nampan dengan pesanan Ahmed di atasnya. Pelayan itu meletakkan pesanan di meja yang kemudian dibagi oleh Ahmed ke kedua wanitanya.
"Anu… tuan prajurit hitam, maaf kalau pertanyaan saya lancang, tapi ada urusan apa anda dengan dua biarawati ini? Bukannya anda datang kemari dengan membawa kepercayaan baru?"
"Oh soal itu, mereka berdua bukan biarawati, mereka adalah istriku."
Pelayan itu terkejut, selama ini hanya biarawati yang berpakaian sangat tertutup dengan menggunakan kerudung seperti itu.
"Ah maaf, saya salah sangka. Habisnya pakaian mereka …"
"Di dalam Islam, setiap wanita harus menjaga agar tubuh mereka tidak terlihat oleh pria lain yang tidak berhak atas mereka. Karena itu setiap wanita termasuk kedua istriku, akan menggunakan pakaian yang tertutup ketika mereka keluar rumah."
"Begitu ya. Sepertinya kepercayaan anda sangat memperhatikan wanita, terdengar indah dan romantis sekali."
Pelayan itu pun meninggalkan ketiganya.
"Aku penasaran seperti apa kampung halaman Ahmed." Ujar Cecilia sambil mulai menyendok es nya.
"Aku tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikannya, tapi… bagiku itu tempat yang cukup indah." Ahmed juga menjawab sambil mulai menyendok porsinya sendiri.
"Apa kamu akan mengajak kita berdua kesana Ahmed?" Sylvania bertanya sambil menyeruput jusnya.
"Insyaallah, setelah perang ini usai, aku berencana mengunjungi ibu dan adikku. Kalian berdua juga boleh ikut kalau kalian mau."
"Benarkah? Aku akan menantikannya."
Mereka bertiga melanjutkan kegiatan mereka, makan sambil sesekali mengobrol ringan kehidupan masing-masing, tentang Cecilia yang dulu sempat menjadi putri kerajaan, tentang pengalaman Sylvania ketika mengembara bersama ibunya. Hal ini berlangsung sampai tiba-tiba perangkat radio yang dibawa Ahmed berbunyi.
"[bzzz] Seluruh unit korps Edela 1, segera melapor ke markas Anteinde. Kita memiliki situasi darurat."
Semua unit yang berada di korps Edela 1 adalah unit yang bertugas di garis depan dan biasanya akan bergabung dalam operasi ofensif. Itu berarti Ahmed dan anggota kompinya juga termasuk di dalamnya.
"Sepertinya, ketenangan kita harus diakhiri untuk sementara ini."
###
AN: Assalamualaikum Minna-san, ya akhirnya bisa update lagi setelah beberapa minggu. Akhir-akhir ini sulit mencari waktu luang untuk melanjutkan tulisan saya. Mohon doanya dari pembaca sekalian agar dapat keluangan dalam melanjutkan tulisan saya.
Saya juga baru bisa mengupload 4 chapter di versi bahasa Inggris fiksi ini, tapi nampaknya banyak sekali review negatif dari yang membacanya. Saya baru paham kalau kebanyakan orang mungkin akan berpikir dan mengambil sudut pandang secara sekuler dalam membaca fiksi ini sehingga banyak sekali dari mereka yang ternyata dari awal sudah gagal paham dari esensi yang saya coba sampaikan di fiksi ini. Sejak awal untuk membaca cerita ini minimal perlu memahami "Stance" saya dan orang-orang muslim lainnya dalam memandang Islam sebagai pengetahuan dasar. Contohnya jika sejak awal pembaca memiliki pemahaman bahwa "Agama hanya diperuntukkan dalam urusan pribadi antara individu penganutnya dengan tuhannya." yang biasanya terbawa dari cara diri mereka sendiri dalam memandang agama mereka, maka mereka tidak akan pernah paham bagaimana konsep seperti yang ada di dalam fiksi ini bisa berjalan.
Saya mulai ragu dan kembali mempertimbangkan ulang apakah saya harus melanjutkan versi bahasa Inggrisnya atau cukup fokus saja dengan versi original bahasa Indonesia. Karena jika sejak awal tujuan penulisan saya tidak bisa dicapai, rasanya jadi agak sia-sia untuk melanjutkannya. Demikian sedikit curhatan dari saya, silakan berikan pendapat kalian semua di komentar seperti biasanya dan berikan kritik atau sarannya jika memang ada hal-hal yang perlu diperbaiki.
