Chapter 9 : You Already Dead Hoshino Ai
Aku Azazel kini dalam keadaan terpojok, seorang pria tua berambut pirang dengan kumis kucing menghiasi wajahnya kini menodongkan pisau kearah leher ku dengan tatapan yang luar biasa mengancam dan cukup mengerikan.
"eeem bisa tenangkan diri mu Naruto." Ujar ku mencoba menenangkan seorang pria yang seperti Rubah yang ingin mengamuk ini.
"seharusnya kau tahu apa yang tidak boleh kau lakukan bukan Azazel?!" ujar pria itu dengan nada sedingin mungkin membuatku cukup ketakutan bahkan rasa takut ini mengalahkan rasa kesal Ketika melihat tim kesayangan ku mengalami kekalahan di kendang sendiri.
Namun bagi ku kali ini pria ini cukup mengerikan hari ini ditambah dengan aura keemasan yang keluar dari tubuh nya entah kenapa aku merasa pria ini lebih kuat dariku padahal aku mengetahui bahwa tingkat kekuatan pria ini masih belum berada diatas ku namun determinasi yang ditunjukkan terlalu mengerikan.
"jadi bisa kau jelaskan kenapa kau membawa seorang perempuan kesini Azazel?" ujar pria pirang itu menunjuk Wanita berambut ungu yang sedang tertidur di sofa dengan baju bersimbah darah menambah kesan salah paham yang akan ditimbulkan.
"gadis ini adalah gadis yang memiliki talenta besar namun aku menemukannya dalam keadaan terbunuh jadi aku menjadikannya sebagai Malaikat jatuh seperti ku, agar dia bisa hidup." Ujar ku mencoba memberitahukan hal yang sebenarnya aku sama sekali tidak berbohong gadis ini adalah seorang prodigy yang bisa saja meluluhkan para dewa hanya dengan nyanyiannya, bila dia berada di Yunani mungkin Zeus akan tertarik dengan dirinya.
…
"talenta besar? Dan menjadikan dia malaikat jatuh?" Naruto tidak bisa membayangkan bagaimana cara Azazel menjadikan mahluk yang dulunya seorang manusia menjadi seorang malaikat jatuh, apa caranya sama dengan seorang vampir Ketika memperbanyak ras bukan hanya dengan bereproduksi namun dengan menggigit manusia?
Atau mungkin cara lain?
"benar, aku menduga gadis ini memiliki potensial yang sangat tinggi dan berguna bagi Guild nanti, selain itu ini menjadi Back-up yang kebetulan ada untuk pengganti Shiroe sebagai Echanter yang mengatur pergerakan pertarungan sekaligus melihat Trait musuh." Ujar Azazel memberikan informasi bahwa gadis ini bisa menjalankan peran Shiroe dimana Naruto gagal merekrut Shiroe.
Mendengar kata Shiroe membuat Naruto menghela nafas.
"maa itu ide bagus, aku juga gagal merekrut Shiroe." Ujar Naruto tidak mau ambil pusing kini dia harus melihat beberapa lembar catatan yang ada untuk menentukan siapa yang harus direkrut oleh Guildnya untuk mempercepat rencana perdamaian dunia yang di inginkan Azazel.
"haah sudah aku duga, Shiroe bukan orang yang mudah untuk di kontrak, baiklah aku sudah sedikit memperbarui daftarnya karena ada beberapa target yang sudah terbunuh duluan." Ujar Azazel sambil memperlihatkan beberapa daftar dengan beberapa yang sudah di coret.
"begitukah Ayanokoji Kiyotaka, Kiryuu Kazuma, Shinguji Sakura, Eugeo, dan Lufasu?!"
Naruto cukup terkejut Ketika membaca nama terakhir yang diberikan oleh Azazel bagaimana orang yang memiliki kekuatan yang mungkin setara dengan Azazel terbunuh?
"itu benar yang membunuhnya adalah Dewa perang Ares." Ujar Azazel dengan nada kesal sambil melihat beberapa foto yang baru saja dikirim oleh bawahannya dan sudah dianalisis oleh tim di Gregory.
"dewa perang Ares, jangan-jangan dia memiliki sebuah trait khusus?" tanya Naruto dengan nada serius, jika dia memiliki Trait khusus maka sangat wajar jika Lufasu bisa kalah, bahkan dirinya yang harusnya lebih kuat dari Trihexa Fragment tapi bisa saja kalah karena tidak memiliki Atribut yang dibutuhkan untuk mengalahkan Trihexa.
"benar, untuk mengalahkan dewa kau memerlukan Atribut God Slayer, bagi yang tidak memiliki Atribut itu tidak akan pernah bisa mengalahkan dewa." Ujar Azazel dengan wajah cukup masam, meski bisa bertarung imbang namun bila tidak memiliki Trait yang dibutuhkan maka dia hanya akan menunggu waktu sebelum menunggu kematiannya.
"jadi aku menemukan seorang yang mungkin bisa direkrut selanjutnya mungkin lebih cepat dibanding yang ada di list jadi mungkin kita bisa membuat list itu sebagai perbandingan." Ujar Azazel sambil memberikan satu nama dalam sebuah kertas.
"dan juga kita harus cepat karena Olympus sialan ini sudah mencium keinginan kita jadi dia akan bergerak mengincar dia juga." Ujar Azazel memberitahukan Kembali agar Naruto bergerak cepat agar seseorang dengan potensial terbaik bisa dibawa secepat mungkin kedalam Guild.
"Laura.S. Arseid, Knight, Race: human, Age : 20." Naruto melihat ini terasa bahwa Laura ini memiliki kapabilitas yang mungkin serupa dengan Agnis yang direkrut baru-baru mungkin bila Agnis bisa melatihnya maka dia akan menjadi kekuatan juga di masa mendatang belum lagi Agnis merupakan seorang Immortal Human jadi akan baik bila dia bisa memberi tahu cara bagi Laura untuk menjadi Immortal supaya kelak Ketika Naruto sudah bisa Kembali ke Konoha dia bisa meninggalkan dunia ini tanpa beban.
"uum." Naruto dan Azazel membalik kan badan mereka dan menoleh kearah sang gadis yang sudah bangun dari tidurnya, gadis itu membuka matanya dan terasa ada sesuatu yang aneh, dia berusaha bangun dan yang pertama dia komentari adalah.
"uwwaaa baju ku penuh dengan darah, bagaimana ini pak ketua akan marah." Ujar gadis itu sambil melihat bajunya kemudian dia juga melihat kearah sofa.
"waa darahnya tembus ke sofa, apa yang harus aku lakukan!" ujar sang gadis dengan nada sedikit khawatir khas gadis kikuk.
"tapi tunggu sebentar aku rasa aku tidak pernah melihat sofa seperti ini dirumah." Ujar gadis itu merasakan bahwa sofa yang terkena darahnya itu bukan sofa yang sama yang ada dirumahnya.
"mmm DIMANA INI!" gadis itu tiba-tiba berteriak kencang sadar dia tidak ada dirumah.
"DAN KALIAN SIAPA!" gadis itu juga cukup terkejut setelah menyadari kehadiran Naruto dan Azazel.
"Azazel silahkan jelaskan apa yang terjadi." Ujar Naruto yang tidak mau ambil pusing mengenai apa yang terjadi.
"eeeem." Azazel mencoba mengurai beberapa kata untuk meyakinkan sang gadis.
"ini penculikan, aku harus telfon polisi." Ujar gadis itu cepat dan dia langsung meraih beberapa kantung di bajunya dan dia tidak menemukan dimana ponselnya dia letakkan.
"telfon rumah." Gadis itu langsung bergerak menuju telfon rumah yang ada disana, Azazel yang panik langsung melesat untuk memotong kabel telfon rumah.
"sabar, biarkan aku menjelaskan apa yang terjadi." Ujar Azazel dengan nada serius membuat gadis itu sedikit tertegun.
"yaa wajahnya memang bukan tipe ku." Ujar gadis itu membuat Azazel sedikit tertohok, sementara itu Naruto hanya tertawa di background.
"siapa juga yang ingin jadi tipe mu." Ujar Azazel sedikit ketus.
"bukankah kalian menculik ku karena suka pada ku?" ujar gadis itu dengan nada super percaya diri membuat rahang Azazel sedikit jatuh.
"bentar-bentar jangan sama kan aku dengan nya, aku sama sekali tidak ikut-ikutan." Ujar Naruto dengan nada kesal sambil membaca beberapa data-data mengenai Laura.
"hmm." Gadis itu menatap tidak percaya kepada Naruto, sementara itu Azazel menghela nafas.
"baiklah Hoshino Ai, bisa kau katakan ingatan terakhir yang kamu ingat." Ujar Azazel mencoba meminta Ai mengingat apa yang terjadi terakhir kali.
"Azazel-sama sebelum itu lebih baik kita mengganti pakaiannya dulu." Ujar Stella yang entah bagaimana sudah ada disana.
"waa/hoo/eeeh." Itulah tiga Respon yang berbeda dari ketiga orang yang ada disana dimulai dari Azazel yang terkejut mengenai kedatangan Stella yang tidak diduga-duga, sementara Naruto yang sedikit kagum melihat Stella bisa ada disana tanpa ketahuan, dan juga respon dari Ai yang terkejut muncul darimana Stella itu.
"eehem ide bagus Stella, kamu yang mengurus pakaian nya setelah itu bawa dia untuk mendapatkan penjelasan yang dia ingin kan." Ujar Azazel kepada Stella sementara itu Stella menghela nafas dan mengambil beberapa setelan dari penyimpanan dimensi yang dia punya kemudian membawa Ai darisana.
"hmm sepertinya kita bisa melakukan perekrutan nya besok, hari ini aku akan istirahat dulu." Ujar Naruto yang ingin Istirahat dan mulai masuk kedapur untuk mencari makanan apa yang ada disana.
"hmm Cup ramen sepertinya enak." Ujar Naruto dengan nada santai sambil mengambil ramen Cup itu kemudian menyeduh air panas didalam sebuah teko.
*brak*
Tiba-tiba Stella datang dengan tergesa-gesa membuat Azazel dan Naruto menatapnya dengan tatapan heran.
"dia kabur." Ujar Stella dengan nada ter-engah engah dan keringat yang bersimbah.
Membuat Azazel terkejut bukan main kemudian menepok jidatnya.
"Hoshino Ai adalah gadis yang bermasalah." Ujar Azazel kemudian dia mulai melangkah keluar dari Apertement.
"Itterashai." Ujar Naruto masih sambil menyeduh mie ramen nya kemudian membawa ramen nya ke meja depan tv dan mulai makan sambil nonton tv.
Azazel melakukan telepati kepada beberapa bawahannya untuk menemukan Ai yang sudah lari dari kediaman Azazel itu.
Sementara itu Bersama Ai dia kini berada disalah satu bilik telfon dengan memasukkan uang 100 yen dia menelpon polisi.
"halo pak saya baru saja diculik." Ujar Ai dengan nada serius.
"begitukah apa kau kabur?" tanya pak polisi itu dengan nada santai.
"ya." Ujar Ai serius.
"baiklah kalau boleh tahu dengan nama siapa?" ujar Polisi itu dengan nada serius juga.
"Ai Hoshino." Ujar Ai dengan nada serius.
"hei jangan main-main kamu yah, Ai Hoshino sudah meninggal beritanya sudah tersebar." Ujar pak polisi itu dengan nada marah.
"kamu jangan mengaku-ngaku sebagai Ai, saya itu fan nya dan saya sangat terpukul dengan kematiannya jadi jika kamu mau mengganggu lagi maka saya akan menangkap mu." Ujar polisi itu kemudian mematikan telfon nya.
Hoshino Ai merasa terkejut, kenapa dirinya dikira mati, dia masih hidup, dia masih bernafas, masih banyak yang ingin ia capai, namun kenapa dia dianggap mati.
Dia tidak ingin menerima ini, jadi dia menerjang hujan dan berlari di trotoar dengan perasaan galau dan sedih serta banyak perasaan berkecamuk didalam dadanya.
Sesaat Ai berhenti dia melihat kebeberapa papan iklan, dimana terlihat gambar mayat Ai sedang memeluk Aqua membuat Ai menjadi semakin frustrasi, rasa sakit didalam dada semakin parah, kekuatannya tidak bisa ia keluarkan pada akhirnya dia hanya diam terduduk dibawah rimbunan hujan di trotoar.
"eh Ai Hoshino?" beberapa orang mencoba mengenali Ai.
"jangan bodoh kau, berita kematian Ai sudah di konfirmasi." Ujar temannya.
"kalau begitu…. Hantu!" mereka berteriak kemudian berlari, Ai menelungkupkan wajahnya diantara kedua pahanya dimana kedua tangannya memeluk lutut.
Hujan terus membasahi jepang kala itu, ditambah dengan salju yang turun membuat hari semakin dingin hari ini.
*tas tas tas*
Suara rintik hujan tertahan oleh sesuatu hal itu membuat Ai menengadahkan wajahnya keatas dan melihat ada seorang pria yang memberikannya payung sedang jongkok mengamati keadaan Ai.
"kau berantakan sekali, sepertinya kau baru saja dihantam kenyataan yang sangat menyakitkan, ikutlah dengan ku setidaknya kau bisa membersihkan diri dan memakan makanan hangat terlebih dahulu." Ujar pria itu sambil membopong Ai yang tidak ingin berbicara.
Pria itu membawa Ai menuju sebuah kedai yang tertutup, dia membuka kedai ramen itu kemudian membawa Ai kedepan kamar mandi.
"karena kamu adalah perempuan jadi mandilah sendiri Air panas tinggal memutar keran berwarna merah aturlah yang mana kamu suka." Ujar pria itu meninggalkan Ai yang sedikit terdiam didepan kamar mandi kemudian masuk dan mulai membersihkan badan dengan air dingin,
Selama Ai mandi pria itu menghela nafas dan melihat kearah Action figure yang dibeli oleh Azazel kemarin.
"dia sangat mirip dengan Ai sialan." Ujar pria itu sedikit sedih, dia juga adalah seorang otaku yang mengidolakan Ai.
"sejak aku jatuh ini adalah kali kedua aku merasakan rasa sedih seperti ini." Ujar pria itu sambil memperlihatkan sayap nya yang enam-enamnya sehitam sayap gagak.
Pria itu kemudian memasukkan Kembali sayapnya kemudian pergi ke kamar yang bertuliskan Tenma.
"oi Tenma aku ingin meminjam beberapa bajumu serta dalaman mu." Ujar pria itu dengan nada ceplas-ceplos.
*buk.*
"kau sekarang sudah menjadi sama seperti Azazel yah Ren?" tanya Tenma dengan nada serius dan kesal, dan terlihat lah Tenma adalah seorang gadis Hikikomori Akut yang suka bermain game.
"bukan begitu, aku membawa seorang gadis, jadi aku ingin meminjam baju mu untuknya sementara." Ujar Ren dengan nada santai.
"aah begitukah."
"bukankah sudah terlihat dari cctv yang kau pasang sialan." Ujar Ren dengan nada sedikit kesal.
"begitu yah, aku lupa." Ujar Tenma dengan nada yang dibuat imut yang entah mengapa membuat Ren kesal.
"kalau begitu ini." Tenma memberikan baju kaos putih dengan dalaman serta celana pendek jins.
Ren meninggalkan baju itu didekat handuk agar gadis itu bisa langsung memakainya, setelah itu dia menyiapkan makanan untuk tiga orang yaitu Sukiyaki.
Ren sengaja membuat makanan itu agar makanan itu bisa menghangatkan tubuh gadis itu entah kenapa rasanya dia menyukai gadis itu, karisma yang dikeluarkan oleh gadis itu cukup besar.
gadis itu telah keluar dari kamar mandi, setelah mengenakan pakaian yang disiapkan dia berjalan dan Ketika dia berjalan ke ruang tengah untuk makan dia melihat sebuah Action Figure, Action Figure dirinya yang sedang cerah berdiri.
"aah sudah selesai yah, tunggu sebentar yah sukiyaki juga akan segera selesai." Ujar Ren sambil membawa pot nabe yang berisi Sukiyaki.
Ai mengenali Ren, dia adalah salah satu orang yang biasa datang di acara jabat tangan dan salah satu orang yang memberikan Golden Star dan juga sebagai salah satu orang yang menjadi fan pertamanya..
TBC
Author Note
Halo kambek bersama saya, saya ingin membahas mengenai Agnis dan penampilannya agar orang-orang bisa melihat karakternya.
Karakter Agnis saya ambil dari game Scarlet Demon Slayer
Dia adalah seorang prajurit yang memiliki Role mirip dengan Albedo Ketika melawan Fragment Of Trihexa yaitu sebagai Tanker dan Dealer bersamaan.
Beberapa Skill yang dimiliki Agnis
Burning Area
Skill yang membakar sebuah daerah yang bisa menyebabkan luka bakar pada musuh ataupun kawan.
Fire Resistance
Ketahanan Api tingkat tinggi dimiliki Agnis sebagai Skill Pasif
Great Sword Technique
Tehnik pertarungan pedang besar.
Castle Of Stone
Aegis Shield
Novice Heal
Mungkin masih ada beberapa skill yang akan digunakan sebagai Skill andalan tapi itu harus menunggu beberapa Chapter kedepan See You in The Next Chapter Ciao
TBC
