Nyan : Kali ini saia ga bakal banyak bacot. Chapter 2 published… douzo, silahkan membaca! w

Teaching my Rival

a One Piece fanfic made by NekoLover-Nyan

Disclaimer : One Piece = Eiichiro Oda

Genre : Humor, Romance

Caution : Yaoi, Gajelas, dll.

Rating : T


"Tolong ajari aku ilmu pedang, kumohon."

Hening.

"A-A-APAAAAA?" Zoro sangat terperanjat mendengar permintaan Sanji, yang sangat tidak terduga. "K-KAU SUDAH SINTING, ALIS PELINTIR?" Sanji menghela napas, dan mengatakan, "Hh… sudah kuduga ini jawabanmu."

"U-untuk apa kau mempelajari pedang? M-memang kakimu itu tak cukup?" Kata Zoro tergagap, karena belum pulih dari shock-nya. "Kau ingin tahu?" Zoro mengangguk cepat. "Baiklah. Aku ingin mengenal seorang gadis." "h-hah?" "Kau tuli, Marimo? Aku ingin mengenal seorang gadis." Zoro melongo. "Gadis… katamu? Kau membuang harga dirimu di depanku, rivalmu, hanya demi seorang gadis? Ha.. ha ha…" Zoro tertawa garing.

"Terserah kau mau bilang apa. Tapi aku benar-benar ingin mempelajari ilmu pedang. Ini tantangan dari ayahku. … Kalau tidak bisa melakukannya, aku akan dijadikan bahan tertawaan seumur hidup kalau sampai ditolak gadis itu." Zoro terdiam mendengarkan. "Memangnya… siapa nama gadis itu?" Tanya Zoro. "Hm? … Tashigi."

DEG!

"A-ada apa, Zoro?" "Tashigi…?" Zoro mengerutkan keningnya. Sanji bingung. "Oi, Zoro!"

"Dia… Siapa itu?"

GUBRAK.

Sanji terjatuh. "Oi, Zoro! Jangan bercanda! Aku serius, tahu!" Zoro tertawa. "Hahaha… Maaf! Aku tidak tahu gadis ini.. Tapi kau benar-benar serius soal latihan itu?" Sanji kembali serius. "Ya." "Walaupun latihannya mengangkat batu?" "Ya." "Walaupun berlatihnya 6 jam sehari, non-stop?" "Ya."

"Walaupun kau seorang koki yang tidak boleh menggunakan tanganmu?" Kali ini Sanji tidak langsung menjawab. Ia terdiam sebentar. "Ya. Sebagai pria, aku tidak akan menarik kata-kataku." Zoro menatap lekat-lekat mata Sanji, seolah menguji niatnya.

"… Baiklah, baiklah. Tetapi sebelum itu, aku mempunyai beberapa syarat."

Sanji menelan ludah. "B-baiklah. Katakan, apapun itu."

Zoro menyeringai. "Kalau begitu…

Tidak membantahku selama sedang berlatih.

Tidak boleh menggunakan handphone di tengah pelajaran. Kalau kau bersikeras, aku akan membelah handphone-mu menjadi serpihan.

Panggil aku dengan –sensei selama pelajaran.

Kau tidak bisa membatalkan/menunda pertemuan kita, walaupun kau bersujud di kakiku dan menangis.

Jangan panggil aku marimo.

Pertemuan kita diadakan di hari senin, rabu stelah pulang sekolah, dan sabtu jam 8.

Segitu saja. Mampu?"

Sanji menelan ludah. "O-oke. Mampu."

"Oke. Datanglah besok ke rumahku, jam 8 pagi. Jangan terlambat. Tepat waktu, atau aku tidak sudi mengajarimu lagi. Dan sudah kukatakan tadi, dilarang membawa HP." Zoro menjelaskan, sambil melangkah pulang ke rumahnya, meninggalkan Sanji.


Sesampainya di kamar, Zoro melemparkan tubuhnya ke atas kasur tercintanya. Ia berbaring, menatap langit-langit kamarnya. Ia memikirkan raut muka rivalnya yang sangat bertekad. Ia mengehla nafas. "Dasar alis pelintir. Apa sih isi otaknya?" Zoro menggerutu (kenapa anak ini senang sekali menggerutu?) dan beranjak bangun dari tidur dan menyiapkan bahan pelajarannya dengan Sanji besok.


Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, pelajaran kendo pertama si koki kepala kuning tersebut tiba. Ia pun segera berangkat menuju tempat sang rival sekaligus 'guru'nya sekarang. Ia terlihat terburu-buru, mungkin takut terlambat dan ditolak oleh si marimo untuk mengajarinya.

Saat sedang mengenakan sepatu, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di otak Sanji. Apa sih yang kulakukan..? Ia sempat berpikir untuk mundur dari tantangan ayahnya ini, namun ia menggeleng kuat. Mana mau ia ditertawakan seumur hidup gara-gara ditolak seorang gadis? Dan ia sadar.

Sebagai lelaki sejati, ia tak mungkin menarik seluruh perkataannya.


Akhirnya, Sanji telah sampai di rumah sekaligus dojo Zoro. Ia dengan sedikit gugup menekan bel rumahnya. Selang beberapa detik, yang ditunggu-tunggu pun menampakkan dirinya (ZORO BUKAN SETAN!).

"Tsk, nyaris saja kau terlambat, kepala kuning. Masuk." Perintah Zoro sedikit sinis, tapi Zoro tak peduli. Sanji melangkah masuk dengan sedikit gugup. "Shi-shitsudei shimasu…"

Entah dari mana, tiba-tiba paman Zoro masuk. Mengapa duo keponakan dan paman ini sering muncul tiba-tiba? Jangan-jangan, bayangan mereka tipis. (digampar Zoro sama Toshiro)

"Ara… Selamat datang… ?" sambut Koushiro, meminta nama Sanji. "A-eh… Nama saya Sanji, paman." Jawab Sanji gelagapan. Sejenak ia tampak seperti calon suami Zoro yang memperkenalkan diri pada wali Zoro.

"Aah, Sanji-san? Selamat datang… Hmm, apakah ia kekasihmu, Zoro?" tanyanya pada Zoro, membuat wajah yang ditanya memerah. "P-Paman! I-ia hanya muridku.. m-murid!" Zoro sepertinya grogi sekali ketika Koushiro menanyakan kalau-kalau Sanji adalah pacarnya.

"Ahaha… maaf, Zoro. Sanji-san? Selamat datang di dojo kami, belajarlah dengan rajin, oke?" Sanji mengangguk perlahan, dan mengikuti Zoro.

"M-maafkan pamanku, ia memang begitu." Ucap Zoro, setelah mereka mulai menjauh dari jarak dengar pamannya. Sanji lagi-lagi hanya mengangguk. "Kalau begitu, kita mulai saja pelajarannya. Oke?"


"Kau tentu tahu kita kemari untuk apa." "Mempelajari kendo, Zoro… sensei." Zoro tertawa. "Hahaha…! rupanya kau masih ingat syarat-syaratnya… Kukira kau sudah melupakannya! Hahaha!" Sanji bingung. "Apa yang lucu sih? Tentu saja masih, mempelajari ini penting sekali, se-sensei!" Sanji agak terpaksa mengatakan kata terakhir itu, sensei. Tampaknya susah sekali untuk melupakan bahwa orang yang tertawa di depannya itu adalah rivalnya.

"Haha… oke, oke, aku akan serius…" Zoro menghapus air mata yang sempat keluar dari mata kanannya. Raut wajahnya pun berganti.

"baiklah. Kau tentu tahu apa arti dari kata kendo itu sendiri, bukan?" Sanji melongo.

"Euh… tidak. Sejujurnya, tidak."

Zoro menghela napas. "Jadi kita benar-benar memulai dari 0… hh. Jadi, Sanji, kendo itu adalah gabungan dari kata ken dan do, yang berarti suatu jalan / proses disiplin diri yang membentuk suatu pribadi samurai yang pemberani dan loyal." Zoro menengahi kalimatnya, untuk menarik napas.

"dalam kendo, kita menggabungkan 3 macam unsur, yaitu unsur bela diri, seni, dan olahraga. Jujur saja, kuanggap teori-teori seperti ini adalah sampah. Kita kan tidak melawan musuh dengan teori, tetapi dengan praktek kan? Tetapi kalau kau ingin tahu, akan kuberikan." Zoro bertanya secara tak langsung pada Sanji. Sanji menatap mata Zoro.

"Terserah sensei saja." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Sanji. Zoro mengangkat sebelah alisnya. "Rupanya kau tidak bersemangat. Sudah menyerah rupanya, alis keriting?" Nadi muncul di kening Sanji setelah Zoro mengatakan kalimat itu.

"Maafkan aku, sensei. Tapi aku tidak berniat menghentikan pelajaran kita." Zoro terus menatap Sanji. "Kau yakin? Tidak akan menyerah? Setelah ini aku tak akan menerima kata-kata 'berhenti' sebelum kau bisa, lho." Sanji mendongak. Mereka saling menatap mata satu sama lain.

"Aku yakin, sensei." Zoro menutup matanya dan tesenyum. "bagus."

Zoro beranjak bangun dan mengisyaratkan Sanji untuk tetap duduk di situ. Ia pergi ke ruang peralatan dojo. Terdengar bunyi barang berjatuhan.

PRANGG… GUBRAK DUAK JDUKK BUMM… "a-aaarggh!"

Sanji sukses dibuat sweatdrop oleh Zoro.

Apa sih yang dia kerjakan? Berisik sekali. Batin Sanji. Tak lama kemudian, ia melihat gurunya itu kembali dengan membawa sebuah pedang kendo. Sebuah shinai.

Zoro melemparkan pedang tersebut pada Sanji. Sanji menangkapnya dengan mudah, lalu Zoro pergi lagi entah kemana. Sanji menatap punggungnya. Mudah-mudahan dia tidak menghambur seisi rumah. Sanji berdoa.

Ternyata Zoro kembali dengan cukup cepat, tampaknya ia tak menghancurkan tempat yang baru saja ia masuki. Ia kembali dengan membawa sebuah buku, dan melemparkannya lagi pada Sanji.

"A-apa ini?" tanya Sanji kebingungan, tiba-tiba saja ia dilempari buku dan sebuah Shinai. Zoro duduk.

"Kau itu tampak seperti orang yang belajar dengan teori. Di buku itu ada penjelasan sekaligus teknik-tekniknya. Aku diberikan buku itu oleh paman tetapi tak pernah tersentuh. Daripada dibuang, kuberikan saja buku itu. Dan shinai itu. Pakailah untuk berlatih dirumah. Kalau kau begitu serius, di pertemuan selanjutnya aku akan tahu kau akan berlatih atau tidak. Pelajari semampumu saja, kalau ada yang tidak kau mengerti tanyakan padaku di pertemuan selanjutnya. Mengerti?" jelas Zoro panjang lebar.

Sanji terpana. Bagaimana si berandal satu ini bisa bersikap seperti layaknya seorang guru? Dia makan apa sih tiap hari? Batin Sanji.

"Ya sudah, kalau begitu sampai disini dulu pelajaran hari ini. Senin kita lanjutkan lagi. Tidak usah pulang dulu, langsung saja ke sini." Jelas Zoro, menutup pertemuan mereka. Sanji beranjak, lalu membungkuk pada 'sensei'nya.

"Terima kasih, sensei." Lalu pergi dengan menenteng buku dan shinainya.

"… tahu sopan santun juga dia rupanya." Zoro lagi-lagi menyeringai, dan kembali ke kamarnya untuk urusan penting, yaitu tidur.

-~-~- OO TO BE CONTINUED? OO -~-~-

Nyan : NYAA~HHAHAHA… berhasil juga nyan bikin lanjutannya~…

Zoro : Siake, gue dibikin begini.

Sanji : O NOES! Gue bungkuk sama marimo? NYAN-CHAN KEJAM! *pundung*

Nyan : Gomen kalian berdua… terima nasip aja. *dipotong Zoro*

By the way on the way bus way, KALIAN SEMUA! *nunjuk readers dengan biadabnya* DITUNGGU REVIEWNYAA! Keh keh keh keh… *psycho laugh* *ngejilat piso yang muncul dari antah berantah* *Zoro Sanji ngibrit kabur*

NekoLover-Nyan, logged out!