Nyaa~.. Nyan ish bek minna-tachi~… *bhs inggris amburadul* Lagi-lagi, Nyan ga akan banyak omong… Lanjut ke ceritaa~…
Teaching my Rival
a One Piece fanfic made by NekoLover-Nyan
Disclaimer : One Piece = Eiichiro Oda
Genre : Humor, Romance
Caution : Yaoi, Gajelas, dll.
Rating : T
Hari Senin telah datang. Pagi itu, para siswa-siswi sekolah SMA Grand Line telah bangun dan sedang menyiapkan diri untuk berangkat menuju tempat dimana mereka akan menimba ilmu mereka sebanyak mungkin.
Tidak terkecuali, sang kepala hijau Roronoa Zoro dan sang kepala kuning Sanji. Mereka tengah bersiap-siap berangkat sekolah. Dengan cara yang sangat berbeda, tentu saja.
Zoro, yang pada dasarnya hanyalah laki-laki yang pemalas, baru saja memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas ransel-nya, dan ia tampaknya hanya mengambil sembarang buku yang ada dalam jangkauan tangannya. Ia lalu menenteng tasnya dan menuju ruang makan dan sarapan bersama pamannya seperti biasa. Hari ini, sarapannya roti bakar dengan selai. minumannya juga susu cokelat.
Sanji, tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan ayahnya. Ayahnya adalah seorang mantan tentara yang kakinya terpaksa diamputansi dikarenakan Ia tertimpa reruntuhan bangunan tua. Ia telah meninggalkan profesinya tersebut dan menjadi koki. Sanji tengah memasak sup krim untuk dirinya dan ayahnya. Setelah siap, ia hidangkan di atas piring di meja makan, lalu memanggil ayahnya.
Mereka berdua meninggalkan rumah mereka dengan waktu yang persis sama, tetapi mereka sampai di tempat tujuan dengan waktu yang amat sangat berbeda. Tentu saja, Zoro yang walaupun sudah 1 tahun bersekolah disana tetap saja hilang dan tersesat, tetapi kali ini hanya untuk 15 menit. Zoro beruntung, karena Ia nyaris saja terlambat.
Zoro berlari melewati koridor demi koridor dan kelas demi kelas, dan pada akhirnya sampai di kelasnya.
GREEK!
Pintu terbuka dengan cukup kasar, dan beruntungnya (lagi) dirinya, gurunya belum datang. Ia berjalan menuju meja tempat duduknya dan tidur sejenak.
-*skip waktu sekolah*-
Seperti yang telah Zoro dan Sanji sepakati, mereka berdua akan berangkat menuju rumah sang Sensei bersama-sama, saat sekolah sudah sepi (karena Sanji tak mau dikira telah menjadi pacar Zoro oleh siswa siswi yang lain). Mereka pun langsung berangkat menuju rumah Zoro.
"... Maaf, aku tak membawa shinainya. Aku buru-buru, dan shinainya tertinggal di kamarku." Sanji memulai pembicaraan dengan sedikit awkward.
Zoro memandang muridnya sejenak. "tak apa-apa. Lagipula, kalau kau membawa shinai itu ke sekolah, kau bisa diinterogasi oleh murid-murid. Nantinya aku pasti juga kena." jawab Zoro.
Mereka berdua terus membisu sampai segerombolan orang datang. Sanji yang tak pernah mengalami kejadian seperti ini agak merapatkan dirinya ke tubuh besar Zoro. Zoro yang sudah sering mengalami hal ini pun santai saja.
"hahaha... RORONOA ZORO! Tak kusangka hari ini aku akan bertemu denganmu!" Kata Seseorang yang maju dari gerombolan. Ia tampaknya ketua mereka, walau tampak lebih lemah daripada bawahannya. "heh, kau lagi, Ketua pengecut. Ada apa ribut-ribut?" Kata Zoro santai.
Ketua mereka marah. "Aku bukan pengecut! Namaku Spandam! Haha... Ini pasti hari keberuntunganku, dimana kau akan MATI DI TANGANKU! HAHAHAHA!" Zoro lagi-lagi bisa membalas perkataannya. " Keberuntunganmu? Kematianku? Bukankah sebaliknya?"
Kesabaran orang yang bernama Spandam tadi sudah mulai menipis. Zoro berkata pelan kepada Sanji. "Oi, Alis pelintir. Ini bagian dari latihan. Perhatikan dan pelajari gerakan-gerakanku. Aku ingin kau sudah bisa gerakan ini di pertemuan selanjutnya. Tapi jangan paksakan diri, usahakan semampumu saja." "Tetapi mereka tampak kuat sekali. Bagaimana kalau kubantu?" Tawar Sanji, yang langsung mendapat gelengan kepala Zoro.
"Mereka tampak kuat hanya dari depannya saja. Mereka semua sebenarnya pengecut. Kalau sudah kubantai, mereka akan kabur sendiri. Lagipula, aku mengajarimu supaya kau mempelajari kendo, bukan memakai kakimu itu kan?" Kata Zoro.
Spandam marah karena dibiarkan begitu saja. Ia lantas berteriak kepada bawahannya. "Tunggu apa kalian? CEPAT HABISI DIA!" Mereka pun lantas menyerbu Zoro. Zoro mendorong Sanji menjauh agar ia tak terlibat perkelahian.
Zoro dengan cepat menyerang salah satu bawahan Spandam dan merebut pedang mereka. "Aku pinjam dulu ya.." kata Zoro sebelum ia memukul orang tersebut dengan ujung pedangnya yang tumpul. Setelah itu, makina banyak orang yang menyerangnya.
Zoro menghindari serangan-serangan mereka dengan satu gerakan memutar*, Sehingga lawannya saling menyerang teman sendiri.
Setelah beberapa lama membantai habis-habisan dengan ujung pedangnya, Yang tersisa hanyalah Spandam sendiri. Seluruh anggota bawahannya telah dikalahkan oleh Zoro, padahal bawahannya berjumlah sekitar 50 orang.
Spandam tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Zoro yang sama sekali tidak tergores atau terluka berkata dengan entengnya pada Spandam. "Hei, masa bawahanmu hanya segini? Mana yang lain? Lain kali, bawa lebih banyak, supaya tidak membosankan." Setelah Zoro mengucapkan kata-kata tersebut, Spandam langsung kabur. Ia lari sekencang yang ia bisa. "uughh... Roronoa! TUNGGU PEMBALASANKU!"
Sanji terpana. Zoro meliriknya. "apa? Tidak susah kan?" Tanyanya enteng.
'Enak sekali kau bicara begitu! Bukankah gerakan tadi itu untuk yang telah belajar selama 3 tahunan?' batin Sanji kesal. Zoro yang seolah-olah dapat membaaca isi pikiran Sanji pun berkata, "Makanya, sudah kubilang kau pelajari sampai batas kemampuanmu saja. Sisanya biar aku yang bantu menyempurnakannya."
"Cih, tapi kecepatannya bagaimana? Kau membantai mereka dalam waktu 2 menit tahu!" Zoro pura-pura terkejut. "Wah, benarkah? Kukira waktuku hanya semenit. Tapi biarlah. Toh aku tak akan dikejar-kejar polisi gara-gara membantai mereka. Biasanya mereka berterima kasih kepadaku." Sanji memandangnya keheranan. "Memang mereka ini siapa?" tanyanya. "Mereka ini seharusnya perompak kelas kakap. Seharusnya. Aku tak mengerti kenapa Ketua pengecut itu selalu memburuku. Tak punyakah mereka mangsa lain?" Gerutu Zoro.
"Tapi... kenapa polisi tak merekrutmu saja? Biasanya mereka akan memasukkan siapa saja yang berguna bagi mereka." tanya Sanji lagi. Ia memiliki segudang pertanyaan untuk Zoro. "Mereka memang merekrutku, kok. Hanya saja aku dibiarkan bebas, supaya dapat memburu orang-orang lain. Cih, memang aku anjing mereka..." Zoro berbisik pada kalimat terakhir. "Sudahlah, kau dibayar ini kan?" Zoro mengangguk sekenanya.
"Ayo, pelajaran sudah selesai. Kau mau disini terus?" Kata Zoro seraya berjalan lebih cepat. Sanji berusaha menyamai langkahnya, lalu ia berbelok di tikungan, menuju arah yang berbeda dengan Zoro. "Sampai ketemu." Ucap Zoro. "Ya, Sampai ketemu."
- To Be Continued? -
Gerakan memutar* : Itu lho, gerakan yang dipakai Zoro waktu melawan Hachi.
Nyan : Myaa~... Selesai juga ini Chapter 3... Satu rahasia kehidupan Zoro terbuka...
Zoro : Hee... Kuakui, disini aku lumayan keren.
Nyan : Iya kaan?
Sanji : Merapat ke tubuh si marimo itu? Apaan ini, Nyan-chan? Kenapa aku jadi penakut begini?
Nyan : Terima aja. Kamu kubayar dan kukasih makan ini.
Sanji : ...
Nyan : Yak, bagi para readers, jangan kabur dulu! Tinggalin dulu Ripiuw buat author kesepian ini... hiks.
TINGGALIN RIPIUW DISINI.
V
V
