Ha ha haaay~... Akhirnya ini fic diapdet juga... Maaf buat reviewers yang minta apdet kilat tapi ga dikasih... Ada kesalahan teknis dikit...
Terus sebelum chapter ini dimulai, saya minta maaf, soalnya di chapter ini Sanji sedikit OOC. Saya agak sedikit ngebunuh Sanji. Maaf.
Teaching my Rival
A fanfiction made by NekoLover-Nyan
Genre : Romance, Comedy
Rating : K+ to T
Pairing : Zoro x Sanji
Warning : Yaoi, Swearing, OOCness, Typo.
Pada hari Selasa, keesokan harinya setelah 'insiden' perkelahian, teman-teman Zoro dan Sanji berkumpul di kantin sekolah seperti biasa pada jam istirahat. Nami yang membuka pembicaraan.
"Hei, kita kan punya tugas kelompok matematika, dikumpulkan pada hari Kamis kan?" Tanya Nami kepada anggota. "Oh iya, benar juga. Aku hampir saja lupa. Jadi, besok kita kerjakan yuk!" kata Usopp.
"Ide bagus! Tapi di rumahku tidak bisa, ada kakekku..." keluh Luffy. "Yaah, di rumahku juga tidak bisa..." Kata Nami, Usopp, dan Chopper bersamaan. Zoro dan Sanji hanya diam. Mereka berdua saling berbicara lewat pandangan mata.
'Oi, marimo! Bagaimana sih, besok kan latihan?' batin Sanji.
'Memang.' Batin Zoro membalasnya.
'Jangan Cuma 'memang.' dong! Diundur saja, diundur!' Sanji bergerak dengan gusar.
'Bukankah aku sudah bilang dari awal, tidak bisa diundur?' Zoro tetap membalasnya.
'Ini kan terpaksaa!' Sanji membantin dengan –sedikit- memelas.
'Sekali tidak, ya tidak.' Batin Zoro tegas.
Sanji bangun dari duduknya tiba-tiba, membuat semuanya kaget, kecuali Zoro, tentunya. "Kau ini...!" geram Sanji, seraya mencengkram kerah baju seragam lawan bicaranya. Teman-temannya memandanginya dengan pandangan bingung. Zoro sendiri hanya tenang-tenang saja.
"a-ada apa, Sanji..?" tanya Luffy, masih kaget.
Sanji tersadar, lalu buru-buru melepaskan cengkeramannya dengan wajah memerah malu. "ti-tidak. Tidak ada apa-apa." Sanji melirik Zoro sebelah mata. Zoro menyeringai. "Mungkin otaknya rusak, kebanyakan merayu wanita dengan bodohnya?" Sanji menatap Zoro tajam. 'sialan.' Umpatnya salam hati.
"Kembali ke topik awal. Jadi, aku, Luffy, Usopp, dan Chopper tidak bisa ya... hmm... Ah, aku tahu! Bagaimana kalau di rumah Zoro? Kita kan belum pernah ke rumahnya?" usul Nami. Sanji membelalakkan mata.
"... boleh juga. Lagipula rumahku sepi-sepi saja kok." Jawab Zoro dengan cengiran terukir di wajahnya, tampak menikmati ekspresi Sanji yang menganga dengan lebarnya.
Sanji menggungcang bahu rivalnya itu.
"Kau ini kenapa sih? Kau sadar apa yang baru saja kau katakan, hah?" Seru Sanji, emosinya keluar. Zoro menatapnya. "Sepenuhnya sadar. Memangnya kenapa?" "Hapus cengiran tolol itu bodoh!" suara Sanji bergetar karena marah. Teman-temannya memandangnya horor, sampai Luffy berdiri.
"Sanji, sudah! Kalau ada masalah, katakan saja!" kata Luffy sambil menepuk pelan pundak pria berambut kuning tersebut. Tetap menatap Zoro dengan tajam, Sanji melepas tangan Luffy dan beranjak pergi.
"Marimo. Pulang sekolah, kau berurusan denganku. Depan gerbang." Katanya, lalu pergi.
Yang lain hanya bisa menatap punggungnya keheranan. Zoro? Ia tersenyum puas.
-o-o-o-
Seperti yang dijanjikan, Sanji menunggu Zoro di depan gerbang. Ia memasang tampang mengerikan (karena emosinya, bukan baru saja terlindas truk.), bahkan kepada para siswi. Alhasil, murid-murid lain tak ada yang berani mendekatinya, ketakutan.
Setelah sekolah agak sepi, yang ditunggu-tunggu pun muncul dengan cengiran di wajahnya.
"Yo! Agak lama, tadi ketemu anggota kendo di koridor, untuk latihan hari Kamis." Sapa Zoro ringan, tidak memperdulikan aura gelap di sekitar Sanji.
"KAU." Hanya satu kata itu yang terlempar dari mulut Sanji. Ia pun memukul wajah Zoro sekeras yang ia bisa. Zoro yang tahu ini akan terjadi pun pasrah dan diam saja dipukul Sanji. Kalau tebakannya benar, setelah ini Sanji akan memarahinya panjang lebar.
Ternyata tebakan Zoro... Salah. Sangat salah.
Sanji meneteskan air matanya perlahan.
Kalau ini, Zoro tidak pernah bisa memprediksikannya.
Zoro dengan panik merogoh sakunya, berusaha mencari sapu tangannya. Setelah menemukannya, segera ia usapkan pada pipi Sanji yang basah.
"Sa- jangan- jangan menangis..." kata Zoro panik, tak tahu harus berbuat apa.
"Kau... selalu saja egois... aku sudah tak tahan tingkahmu itu..." kata Sanji sesenggukan. Ucapannya dipotong oleh Zoro.
"ssh... jangan dilanjutkan. A- maafkan aku, oke? Aku hanya ingin menggodamu, tak kusangka akan jadi begini..." kata Zoro jujur. Ia menghapus air mata Sanji sekali lagi. "oke... baiklah. Akan kuubah harinya." Sanji menatap Zoro dengan matanya yang bengkak. Ia lalu menghapus air matanya sendiri, buru-buru. Ternyata ia baru sadar kalau telah menangis, di hadapan rivalnya pula.
"Nah, begitu." Kata Zoro lega. Ia memeluk muridnya dengan satu tangan, sambil menepuk punggungnya. "... Lebih baik?" tanyanya, lalu dijawab dengan anggukan pelan.
"diganti jadi hari Kamis saja." Sanji menoleh ke arah Zoro. "Bukankah... Kau ada kegiatan klub kendomu? Aku tak mau mereka ditelantarkan, hanya karena kau melatihku. Aku juga mau minta maaf." Kata Sanji dengan suara parau.
"heh, mereka bisa berlatih sendiri. Lagipula, bukankah aku sudah berjanji akan melihat teknik dasarmu?" tanya Zoro. Sanji terdiam. "... begitu."
"Kalau begitu, sana pulang. Aku juga pulang, sih. Kalau begitu, mau sama-sama?" tawar Zoro, sambil berjalan lebih dulu. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, Marimo jelek." Balas Sanji sarkastik. "Cih! Ya sudah." Jawab Zoro sekenanya, dan meninggalkan Sanji.
"Terima kasih, Sensei." Bisik Sanji seraya tersenyum, memperhatikan punggung Sensei-nya yang perlahan menjauh.
To Be Continued? –
Nyan : Nyaahahaha~... Gimana gimana? Si Sanji kerasa banget kan ya OOC-nya? Saya aja ngerasa. Saya malah ketawa-ketawa sama merinding sendiri pas Sanji nangis. Ngga nyangka Sanji bisa se-cengeng ini.
Lagian disini adegannya agak dramatis gitu, padahal saya ga niat bikin gitu. Saya sebenernya pengen bikin Sanji mukulin Zoro sampe babak belur dulu, baru nangis. Tapi ga jadi, saya kasian.
Sanji : Gitu ih Nyan-chan. Orang lagi sedih malah diketawain. *pundung*
Zoro : *baca naskah* Apaan tuh, gue minta maaf ama alis pelintir? IDIH, ngarep banget.
Sanji : Hah? Gue nangis di depan lo? DIH! Sudi banget.
Nyan : Udah, sesama orang malu-maluin dilarang berantem. Damai aja, damai.
Zoro Sanji : HAH?
Nyan : ... Ma-maaf! Keceplosan! Err... masih banyak tugas, kutinggal yah~
Author's Note : Maaf aku terlalu lama updatenya! Begini- aku kan udah kelas 9, udah mau lulus-lulusan. Jadi... maaf kalo jadi lama karena aku juga mau nyiapin buat UN... *bungkuk sedalam-dalamnya*
Segitu aja cukup kali ya. (Cukup... Kebanyakan malah.)
NekoLover-Nyan, Logged out!
