Once again, this is a non-commercial use work. All characters contained were owned by Natsume and other related companies. I owned nothing but the stupidness in my head.

Unleash your imagination.


Autumn Breeze
kangyeongsuk © 2012

chapter two

We love. We cry. Then we suffer. Together


Ada pendatang baru di desa. Seorang pemuda. Ann bilang, pemuda itu sering berpindah-pindah tempat tinggal selama hidupnya. Saat pertama kali datang ke Inn, pemuda itu benar-benar telihat seperti atlit sepakbola, dengan keringat sehabis berolahraga bercucuran di wajahnya, lengkap dengan sebuah bola bertengger manis di salah satu tangannya. Pemuda itu tidak memberikan kesan pemalu pada siapapun yang melihatnya, bisa dibilang ia terlalu supel untuk disebut sebagai pendatang baru.

Carter bilang, pemuda itu sering mengunjungi gereja untuk berdoa atau sekedar duduk di pojok gereja. Ia sering bermain sepakbola dengan Stu, mengajari Stu beberapa teknik bermain sepakbola layaknya pemain bola profesional. Beberapa kali ia juga menawarkan diri untuk menjadi petugas pada misa di hari minggu.

Duke bilang, pemuda itu sangat pintar. Terkadang, Duke menyayangkan kepintaran pemuda itu karena berkerja padanya. Duke selalu berkata, pemuda itu lebih pantas berada di kota daripada tersia-siakan di desa kecil seperti saat ini.

Untuk pertama kalinya, Dokter menemukan teman yang setara dengannya untuk membicarakan masalah perkembangan kedokteran saat ini. Aku tahu, selama ini ia tidak puas dengan percakapan-percakapan kami dari caranya membicarakan pemuda asing itu. Ia selalu membanding-bandingkan sesuatu yang ia sukai dengan yang ia miliki sebelumnya. Dan pembanding itu, lagi-lagi adalah aku.

Bukan hanya Duke yang menyayangkan keberadaan pemuda itu di desa. Mary pun begitu. Ia terus menerus berbicara tentang bagaimana pemuda itu mengajarinya solusi soal matematika yang sangat rumit—yang telah Mary coba untuk selesaikan selama berbulan-bulan. Dan bagaimana pemuda itu memberinya inspirasi-inspirasi cemerlang sebagai bahan tulisan untuk novel Mary.

Ann bilang, pemuda itu dipanggil Cliff.

Kembali, aku merasa tersisih. Semua orang mulai sibuk memperbincangkan kehebatan pemuda asing itu. Tak terkecuali Claire. Dari caranya memandang Cliff hari itu, aku tahu, Claire bukan lagi Mary Sue.

Claire akan jatuh.

Claire jatuh karena pemuda brengsek bernama Cliff.

-autumnbreeze-

"El..."

"Hm?"

"Apa telurnya enak?"

Ellie menoleh. Claire tidak terlihat seperti orang sakit. Wajahnya tidak pucat, sinar matanya tidak hilang, dan tidak ada kerutan di bagian manapun di wajahnya. Sadar dirinya tengah diamati, Claire balik menoleh dan melempar pandangan bertanya pada Ellie.

"Kau yang kenapa..." gumam Ellie.

Ellie mengembalikkan lehernya ke posisi semula. Hari ini, seperti biasa, Ellie terjebak dalam perangkap telur Claire.

"El..."

"Hm?"

"Telurnya enak tidak?"

"Eeeerrrggghhh! Kau kenapa sih?" Ellie melirik Claire sebal. Kalau Claire sedang ingin mengerjai seseorang, Claire memilih orang yang salah. Ellie sedang tidak tidak ingin bercanda.

Tapi Claire tidak tertawa. Jangankan tertawa, cengiran konyol layaknya orang yang tengah mengerjai oranglain pun tidak muncul dari bibirnya. Claire hanya menundukkan kepalanya. Bibirnya berkedut-kedut, seperti sedang berbicara—atau memarahi dirinya sendiri.

"El..."

"Telurnya enak, Claire."

"Bukan ituuu..." Claire akhirnya menggunakan nada lain dalam suaranya. Kali ini ada kekhawatiran dalam kalimatnya. Merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya, Ellie mengubah posisinya, menghadap Claire. Ia memandang Claire lurus dan menyadari ada yang salah dengan Claire hari ini.

Claire murung meskipun sinar matanya tak menunjukkan bahwa dirinya tengah murung. Wajahnya terlalu merah untuk ukuran wajah orang yang tengah berendam di kolam air panas. Sesuatu terjadi pada Claire, Ellie tahu.

"El ... Cliff ... Bagaimana menurutmu?"

Kedua bola mata Ellie membulat.

-autumnbreeze-

Ellie selalu berusaha menjadi anak baik.

Bagaimanapun orang lain memperlakukannya, Ellie tidak pernah menunjukkan kekesalannya pada orang lain. Ia selalu berusaha supaya orang lain tidak membencinya. Ellie tidak ingin dibenci—siapa sih di dunia ini ingin dibenci? Supaya tidak dibenci, Ellie selalu berupaya untuk tidak terlibat dalam konflik apapun. Ia selalu berada di pihak netral, dimana dirinya akan benar-benar aman karena tidak memihak pihak manapun yang tengah terlibat konflik.

Untuk menjadi netral, Ellie harus bisa melihat semua hal dari sudut pandang yang berbeda. Bukan dari sudut pandang Stu, ataupun sudut pandang Walikota. Tapi sudut pandang netral—sudut pandangnya. Untuk menjadi netral, Ellie tidak memerlukan sudut pandang orang lain untuk mempengaruhinya.

Secara tidak langsung, Ellie menarik diri. Untuk menjadi netral.

Dan saat ini, dari sudut pandangnya, Ellie untuk pertama kalinya menentang keputusan seseorang. Bukan memberi masukan ataupun membuat kesimpulan seperti yang biasanya ia lakukan. Tetapi menentang. Menyanggah.

Untuk pertama kalinya, Ellie bukan netral. Tapi kontra.

Karena selain takut dibenci, Ellie pun takut disisihkan.

Dan jika ia netral kali ini, ia akan tersisihkan.

-autumnbreeze-

Claire berubah menjadi orang lain. Ia bukan lagi Mary Sue tomboy yang tidak bisa memasak. Mendadak, ia mengganti hampir seluruh isi ladangnya dengan bunga-bungaan yang terlihat ... berlebihan. Oke, aku memang suka bunga, tapi ini mulai terkesan menjijikan. Claire mengubah dirinya demi orang lain, bukan demi dirinya. Claire telah berubah menjadi gadis desa feminin yang lemah di banyak bidang.

"El..."

Aku mendongak, menatap Claire dalam pakaian berladang femininnya. Ia mengganti overall deminnya dengan terusan biru yang menggembung pada bagian roknya. Ia terlihat seperti gadis penggembala domba yang tercetak di kemasan coklat bubuk dengan alat peyiram tanaman di tangan kanannya.

"El ... Aku benar-benar menyukai Cliff, kurasa..." ucapnya pelan. Aku tahu, ia sebenarnya takut mengatakan hal itu kepadaku, ia selalu merasa bersalah padaku karena satu hal—yang tidak pernah ia ceritakan padaku. Aku menghela nafas.

"Hm."

"Kalau kau tak suka..." Ia menggantung perkataannya. Aku mendongak, mengernyitkan dahiku.

Kalau aku tak suka?

"Kalau kau tak suka, kita bisa kok berteman bertiga. Aku akan berusaha melupakannya."

-autumnbreeze-

Claire bilang, ia akan menyerah dengan perasaannya.

Oke, sekarang aku merasa seperti orang jahat. Kapanpun aku mendapati Claire secara sembunyi-sembunyi tengah memandangi Cliff, aku selalu merasa aku adalah tokoh antagonis.

Berkali-kali aku mengatakan pada diriku sendiri, aku tidak akan tersisih kali ini meskipun Claire bersama dengan Cliff. Claire tidak akan menyisihkanku, Claire adalah orang baik...

"Ellie, peniti."

Tiba-tiba, Dokter sudah berada di hadapanku, mengajukkan tangannya meminta peniti. Dari caranya meminta, ia terlihat tidak sabar, tapi seperti biasa, wajahnya tetap datar. Ia pasti sedang mencoba terlihat keren lagi. Aku mengaduk-aduk loker mejaku dan menyerahkan segenggam peniti ke tangannya, dengan wajah datar juga.

"Jadi namamu Ellie?"

Aku menoleh ke pemilik suara yang baru saja menyebutkan namaku. Oh tidak.

"Ehm," aku menjawab dengan anggukan kepala. Tidak. Tidak. Aku panik.

"Bagaimana rasanya menjadi perawat?" tanyanya. Ia sedikit meringis ketika Dokter menekan salah satu sisi perban yang melilit pergelangan kakinya.

"Hm ... Ya, begitu saja," jawabku seadanya. Pandanganku terfokuskan pada pergelangan kakinya yang berbentuk agak aneh itu.

Nampaknya ia mengerti arti pandanganku. "Kapalan, besar sekali. Pembengkakan, sepertinya. Tadi baru dibelah oleh dokter," jawabnya santai, disertai dengan cengiran lebar yang membuat matanya hampir tidak terlihat. Aku meringis kecil membayangkan pemandangan dibalik perban itu. Bersyukur karena sedang melamun ketika Dokter menanganinya tadi.

"Ngga' sakit, lho. Mau lihat?" tanyanya. Ia tersenyum kecil.

Aku mengalihkan pandanganku pada wajahnya yang sedang tersenyum.

Oh tidak.

Ellie juga jatuh.

Ellie jatuh karena pemuda bernama Cliff.

-autumnbreeze-

will be continued