Once again, this is a non-commercial use work. All characters contained were owned by Natsume Inc. and other related companies. I owned nothing but the stupidness in my head.

Unleash your imagination.


Autumn Breeze
kangyeongsuk © 2012

chapter three

We love. We cry. Then we suffer. Together


"Kenapa?"

Claire menoleh pada Ellie yang duduk di sebelahnya. Ellie tidak sedang menatap padanya, ia menatap lurus ke depan. Ellie mengatupkan mulutnya, rahangnya mengeras dan garis-garis ketegasan muncul di wajahnya—sangat bukan Ellie yang biasanya hanya berwajah datar. Bukannya menjawab, Claire malah kembali berkonsentrasi dengan pancingannya.

"Kenapa? Apakah aku tidak boleh menyukainya, Claire?"

Claire meletakkan kailnya dan kembali menoleh pada Ellie. Ada kemarahan, dan juga kekesalan di mata gadis itu. Ia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Ellie.

"Kau tahu, aku menyerah tentangnya," jawab Claire singkat.

"Itu masalahmu."

"El! Kau pikir karena siapa aku menyerah?"

Ellie kini menoleh, menghadap Claire—yang tengah menahan emosi. Ellie mengatupkan bibirnya keras-keras, menahan dirinya sendiri untuk tidak berteriak. Keduanya saling menatap, menyalahkan satu sama lain.

"Lantas mengapa kau menyerah? Apa aku memaksamu untuk menyerah?" serang Ellie, skeptis.

"Kau menyukainya padahal kau tahu aku juga menyukainya..."

"Kau telah merebut Dokter dan sekarang kau juga menginginkan Cliff, Claire?" bentak Ellie. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Oke, kali ini ia memang egois. Tapi ia telah lelah mengalah. Ia ingin mencoba membiarkan egonya memenangkan pertandingan ini.

Mereka kembali terdiam. Claire tidak melanjutkan kegiatan memancingnya. Hanya bau garam laut dan suara peikikan burung yang terus terdengar, mengisi kekosongan dalam percakapan mereka. Ellie meremas ujung roknya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya terasa sakit.

"Kau ... apakah akan terus menyukainya, El?"

Ellie tidak menjawab. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya masih memandang lurus ke depan. Claire mengehela nafas panjang.

"Baiklah! Sesukamu, El."

Claire membereskan peralatan memancingnya kemudian berdiri. Ia menoleh pada Ellie, berharap Ellie juga tengah memandangnya. Tetapi Ellie telah membiarkan egonya menang. Sekalipun itu Claire, Ellie tidak akan mengalah kali ini. Claire menghela nafas panjang, kemudian meninggalkan Ellie di pantai sendirian dalam diam.

-autumnbreeze-

Ellie berhenti mengunjungi Claire di perkebunannya untuk membantu—atau sekedar mengganggu pekerjaan Claire di hari Rabu. Sekarang, hanya ada sosok Claire setiap hari di perkebunan itu, sesekali Thomas terlihat mengunjunginya, tetapi tidak pernah ada Ellie lagi disana. Claire menjual semua telur dari peternakannya kepada Zack, tanpa menyisakan satupun untuk dinikmatinya bersama Ellie di pemandian air panas. Claire masih sering memberikan hasil perkebunannya pada orang-orang desa, kecuali pada Ellie.

Bukannya Claire tidak berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Ellie, ia mencoba. Ia masih mengunjungi rumah sakit setiap hari Selasa. Ia masih mengunjungi supermarket setiap hari Rabu. Tapi, seperti yang sudah ia duga, Ellie selalu menghindarinya. Alih-alih Ellie, Mary-lah yang ditemukannya di balik meja resepsionis rumah sakit setiap hari Selasa. Yang ia dengar dari Dokter, Ellie menukar shift kerja Selasanya dengan bekerja lembur.

Meskipun begitu, sebagian diri Claire bersyukur Ellie menghindarinya. Claire memang menginginkan persahabatan mereka kembali. Tetapi, ia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Ellie saat mereka bertemu.

Dan Claire pun tidak ingin menyerahkan Cliff pada Ellie.

-autumnbreeze-

Tadi sore, Cliff datang. Ia terlihat bersemangat seperti biasa—terlalu segar dan berlebih energi untuk seorang pemuda yang telah bekerja dari pagi hingga sore hari tanpa henti. Rambutnya terlihat menyilaukan ditimpa sinar matahari. Ia membawa bungkusan di tangannya.

Bungkusannya ada dua. Dengan bungkus yang sama. Ukurannya juga sama.

Claire melihat bungkusan itu, lalu matanya pindah ke wajah Cliff yang berdiri di hadapannya. Cliff tersenyum lebar, kemudian menyerahkan salah satu bungkusan itu padanya. Claire menerimanya dengan tangan bergetar, kemudian menggumamkan terimakasih singkat yang dijawab dengan 'Mm'-an khas Cliff.

Cliff berdeham. Claire mengernyit kecil, memejamkan matanya. Mempersiapkan diri mendengar hal terburuk yang mungkin ia dengar.

"Aku akan pergi. Besok pagi, dengan kapal pertama. Hanya berjaga-jaga, kalau-kalau besok kau tidak bisa mengantar ke pantai."

Claire berjuang keras menahan tangisnya, mencoba tersenyum untuk meyakinkan Cliff bahwa dirinya baik-baik saja. Claire kemudian teringat pada bungkusan satu lagi yang dibawa Cliff. Ia membuka mulutnya.

"Itu?"

Cliff tersenyum lebar, mengangkat bungkusan itu ke depan mata Claire.

"Untuk Ellie."

-autumnbreeze-

author's story

Empat bulan.

Bukan waktu yang singkat, apalagi untuk kepergian seseorang. Empat bulan terus berjalan tanpa kehadiran orang itu, yang meninggalkanmu empat bulan yang lalu. Dalam kasus orang lain, beberapa mungkin berubah gila selama empat bulan, tetapi beberapa bertahan dengan menyibukkan diri mereka sendiri. Dalam kasusmu, keduanya terjadi. Kau menyibukkan dirimu di siang hari dan menjadi gila di malam hari.

Tetapi, empat bulan juga bukan waktu yang cukup lama untuk mengubah perasaanmu pada seseorang. Empat bulan bukan waktu yang masuk akal untuk bisa menggantikan kehadiran seseorang di hatimu dengan orang lain. Kau belum bisa disebut waras jika kau bisa menggantikan arti orang yang kau tingalkan hanya dalam waktu empat bulan.

Seperti pagi ini.

Datang amplop berwarna merah jambu di kotak posmu. Kau tidak pernah menyangka sebelumnya kalau amplop itu akhirnya akan datang juga padamu. Dalam waktu empat bulan. Dan bukan nama salah satu dari kalian yang tercetak pada amplop itu.

Itu nama gadis lain. Yang akan bersanding dengan Cliff di masa depan.

Untuk sesaat, kau merasa seakan dunia berubah kejam. Sangat kejam. Bukan lagi dunia baik hati yang kau kenal selama ini, tetapi dunia kejam yang menjatuhkanmu pada lubang terdalam yang ia miliki. Yang membuatmu berilusi tetapi kemudian menyadarkanmu bahwa itu semua hanya ilusi. Dan hanya akan terus menjadi ilusi dalam otakmu.

Kau berlari seperti orang gila. Meninggalkan begitu saja hal yang sedang kau kerjakan. Menghiraukan tangisan Stu yang minta dibuatkan sarapan dan kokok ayam yang belum diberi makan. Menghiraukan sapaan selamat pagi Lillia dan panggilan bertanya Carter. Kau terus berlari, hingga kau rasa paru-parumu akan meledak. Tetapi kau tetap berlari, menuju satu tempat dimana kau melepasnya saat itu.

Pantai Mineral Town.

Kau melangkah perlahan menuruni undakan tangga menuju pantai. Bau asin garam laut segera menyambutmu indera penciumanmu. Kau melanjutkan langkahmu yang ditemani desiran angin laut yang memporak porandakan tatanan rambut coklat sebahumu. Kau lalu menghentikan langkahmu di ujung dermaga.

"Claire?"

Gadis berambut pirang panjang itu membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum tipis ketika melihatmu, mengangguk ringan yang kau balas dengan senyuman ragu. Kau berjalan menghampirinya, kemudian berhenti tepat disebelahnya. Ada sisa aliran air mata di pipinya yang memerah. Meskipun ia mencoba mengatur nafasnya, kau tahu ia baru menangis. Di tangannya, ia menggenggam amplop merah jambu seperti yang kau genggam.

"Kau merasa bodoh, ngga?" tanyanya. Pertanyaan pertama yang ia lontarkan sejak terakhir kali kalian bertegur sapa. Kau tersenyum sebelum menjawabnya.

"Bodoh. Bodoh sekali."

Kalian lalu terdiam, menenangkan diri kalian masing-masing. Gadis berambut pirang disampingmu menangis tanpa suara, sesekali ia menyeka pipinya yang basah karena air mata. Kau sebenarnya juga ingin menangis, menumpahkan segala emosimu yang sia-sia selama empat bulan. Menyalahkan kenaifan dan kebodohanmu selama ini.

"Kh...Pada akhirnya, bukan salah satu dari kita yang bersamanya.." kata Claire padamu yang kau jawab dengan kekehan kecil. Claire menoleh padamu, lalu kalian mulai menertawakan kebodohan kalian satu sama lain.

Cliff boleh jadi bukan orang yang memberikan blue feather pada kalian. Tapi satu yang kalian tahu, jari kelingking yang bertaut tanda janji persahabatan kalian adalah nyata.

.

.

.

"El, kau sudah menjual semua telurmu, belum?"

.

.

.

F I N


a/n:

akhirnya selesai jugaaa~ yihaaa~ setelah menjalani proses pembuatan yang njelimet dan menghadapi banyak halang dan rintangan #PLAK akhirnya ini beres juga. Yang mau muntah, monggo..haha. Special thanks for Mikaela Maria Dolorosa Victoria yang mendukung proses pembuatan benda ini. Hahaha. Reviewc critics and others are welcome.

meg.