Sehari telah berlalu, tapi aku masih di hantui rasa gelisah karena peringatan yang di berikan oleh teman-teman ku semalam. ini soal gadis serba merah itu, yang datang dari Indonesia untuk mencari bahan buat menulis novel nya dan salah satu yang sudah dia lakukan adalah wawancara dengan diriku yang adalah seorang super Hero di kota ini. sebenarnya bukan itu yang membuatku merasa gelisah semalaman.
"Boboiboy, kau mesti jaga jarak dengan perempuan tu. aku rasa dia macam tak betul je perangai dia."
"ya loh, dia pelik semacam je begitu nampak darah keluar dari jari kau tadi. macam orang tak waras." Ying memperingati ku dengan suara nyaring nya. bahkan aku tidak menyadari perilaku gadis itu saat dia mencoba membantu mengobati luka ku tadi. dia sudah pergi dari kedai ini beberapa jam yang lalu, makanya kami baru bisa membahas nya saat semua nya masih lenggang dan keberadaan gadis itu sudah tidak terasa lagi. tapi kalau yang di katakan Ying dan Yaya itu benar, aku malah merasa khawatir. aku tau orang yang kayak begini itu sama saja dengan para pembunuh lain nya. dia amat menyukai darah, maksud ku memandangi darah mengucur dari tubuh korban merupakan sebuah berkah yang berharga bagi dia yang melihat nya. aku rasa yang di maksud kan Ying barusan itu, dia berasumsi kalau gadis bernama Rika ini adalah seorang pembunuh berantai, yang bisa jadi adalah dalang dari beberapa kasus belakangan ini. tapi bagaimana aku bisa yakin dengan itu tanpa melihat nya sendiri?
"Korang ni, tak baik tau buruk sangka kat orang. apalagi dia ni orang yang datang dari jauh. patut nya kita hargai je lah keberadaan dia bukan malah buruk sangka macam ni." tok aba yang tiba-tiba datang dari belakang dan masuk ke dalam kedai mendengarkan apa yang kita bicarakan dan mulai memberikan tanggapan yang membuat teman-teman ku yang lain menundukkan kepala dan bergumam maaf. yang tok aba katakan itu ada benar nya, kita baru saja mengenal dia dan tidak mungkin kita langsung berburuk sangka hanya karena dia bertingkah aneh. tapi itu bisa di maklumi kalau tingkah aneh nya bukan berasal dari tindakan yang mencurigakan dan tidak wajar.
semalaman suntuk aku memikirkan hal ini, mau tidak mau, itu membuat ku sedikit terjaga dan tidur terlambat. untung saja, aku tidak terlambat juga masuk ke sekolah hari ini.
"pagi semua."
"pagi Boboiboy. kau ni kenapa pulak? masih pagi tau."
"aku tidur lambat semalam. tapi tak pe, aku merasa oke je hari ni. tak payah nak risau." Gopal mengangguk, terus mengunyah batang coklat yang sudah setengah habis. aku juga melihat Fang sudah duduk di bangku belakang ku, memainkan ponsel nya. pemuda ini tidak pernah tidak telat membalas pesan dari Abang nya yang sedang berada di luar galaksi. entah sampai kapan kerjaan nya beres dan balik ke bumi. dia gak bakal lupa jati diri kan kalau mereka sebenarnya bukan alien melainkan anak manusia?
beberapa menit berlalu, yang lain mulai memasuki kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing di saat bel sekolah berdering dengan nyaring nya. aku hampir saja di buat tertidur sesaat karena masih merasa ngantuk. guru pun akhirnya masuk, membawa buku pelajaran nya bersama seseorang yang berjalan mengekor di belakang nya. mataku terbelalak kaget, aku kenal orang ini. gadis berambut merah dengan jepit rambut hijau itu, yang kemarin mampir di kedai tok aba.
dia adalah Rika.
"bangun!! selamat pagi cikgu!!"
"selamat pagi, cikgu!!" suara ku tertahan, aku masih tidak menyangka akan bertemu dengan nya lagi kali ini. teman ku yang lain bahkan sama terkejut nya membuat fokus mereka pun ikut terganggu ketika menyadari sosok di hadapan nya adalah orang yang mereka temui kemarin.
"selamat pagi, murid-murid. hari ini kita kedatangan murid baru. nah, perkenal kan diri kamu." Rika mengangguk dan kemudian berdiri makin dekat di depan kami. tatapan nya kali ini terasa berbeda sekali dari tatapan yang dia berikan saat pertama kali kami bertemu dengan nya. sangat dingin, dalam, dan yang paling penting tatapan nya terasa sangat kosong hampir seperti tidak memiliki nyawa. bibir nya pucat pasih padahal kemarin kami bisa melihat betapa tebal nya lip cream yang dia pakai. hawa nya seperti dua orang yang berbeda, itulah yang membuat ku dan teman-teman lain yang sudah lebih dulu mengenal nya mulai mematung dengan perubahan penampilan dia kali ini.
"salam kenal. aku Rika dan aku dari Indonesia. aku kesini karena ada urusan yang hanya bisa ku lakukan di sini. maaf jika bahasa ku kurang di mengerti, tapi, mohon kerja sama nya." Rika menunduk kan kepala nya lama sekali, membuat wajah nya tertutup dengan surai rambut panjang nya yang semerah air terjun darah. membuat kami semua termasuk guru kami bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan gadis ini?
".. Rika? kau kenapa?" saat guru kami memanggil nya baru lah dia mengangkat kepala nya. seketika wajah itu berubah menjadi dirinya yang kemarin kami lihat. seorang Rika yang senyum nya merah merekah bagai bunga mawar yang memikat namun mematikan. dia tersenyum kepada kami, terutama padaku. hanya saja, senyum nya padaku terasa aneh membuat ku menjadi sulit menelan ludah di dalam mulut ku.
setelah di persilahkan duduk di bangku yang ada di samping Gopal, Rika meletak kan barang nya dan mulai duduk bersama kami. pelajaran pun di mulai tanpa sepatah kata yang tidak berarti.
"kenapa aku merasa merinding semacam je ni? padahal jendela di tutup." aku tidak tau kenapa aku merasa demikian, tapi saat aku menoleh ke arah Gopal, Rika menatap ku tajam sekali dengan senyum mengerikan membuat bulu kuduk ku makin merinding. aku merasa kan hawa yang tidak beres seketika memenuhi ruangan ini. Gopal yang sedang ngemil diam-diam tidak menyadari itu, tapi jelas sekali senyum Rika yang tadi memang dia tunjukkan hanya untuk diriku yang kebetulan sekali menoleh ke arah nya.
jam istirahat, kami memutuskan untuk ke kantin bareng sekalian menemani Yaya melakukan tugas harian nya—mengamuk seperti singa ketika ada yang tidak mematuhi peraturan. tapi sebelum kami beranjak, niat kami sempat di hentikan oleh aura ceria yang di pancarkan Rika. bagiku, itu justru malah membuatku semakin merinding ngeri sambil mengingat senyum barusan.
"hei Boboiboy, bisa kah kamu menemani ku ke Perpustakaan? ada sesuatu yang ingin aku cari di sana." Rika kini berada di hadapan ku, memegang kedua tangan ku dengan hati-hati. yah, tangan ku masih di perban karena luka kemarin. tangan Rika dingin sekali, hampir seperti tangan mayat dan rasanya begitu tidak nyaman begitu dia menyentuh kulit ku. aku sempat di buat tidak bisa mengatakan apapun untuk menjawab pertanyaan nya barusan. aku terlalu takut ketika keberadaan nya begitu dekat dengan diriku.
"Boboiboy dah ada janji dengan kita. jadi dia tak boleh teman kan kau dulu hari ni." Gopal asal menyeletuk, aku tau dia berniat menyelamatkan ku dan dia bisa mengajak ku ke tempat yang dia mau lain kali. tapi dia malah justru di kasih tatapan tajam oleh Rika yang membuat nya jalan mundur pelan lalu berlari keluar kelas dengan suara jeritan nya yang nyaring.
"kenapa dengan Gopal tu?"
"ntah lah. sakit perut kot, haha. jom, kawan-kawan." aku berniat meninggalkan Rika tanpa menjawab pertanyaan tadi, tapi dia tetap bersikeras dan malah menarik tangan ku. mencegah ku untuk pergi sedangkan teman ku yang lain sudah sampai di ambang pintu. mereka menghentikan langkah nya saat menyadari aku tidak mengikuti mereka di belakang. Yaya nampak kesal dan ingin menghampiri ku, tapi tertahan karena Ying.
"aku mohon, Boboiboy. sekali ini saja, ya. kalau besok aku gak bisa, soal nya sudah waktunya aku menulis naskah ku." Rika yang tadi nya menatap Gopal dengan tatapan seram dan tajam berubah menjadi tatapan memelas, nampak sedih dan aku bisa melihat sudut matanya basah. genggaman tangan nya semakin erat dan itu malah membuat ku jadi sukar sekali untuk menolak. dengan berat hati aku mengatakan kepada yang lain kalau mereka bisa pergi tanpa aku untuk hari ini saja. mereka nampak kecewa, ya, itu wajar. mereka sebenarnya sedang berusaha keras menjauhkan ku dari Rika dan mereka benar-benar khawatir dengan ku. tapi, aku tidak tega melihat gadis yang menatap kecewa padaku dan hampir saja membuatnya menangis. aku dan Rika pun beranjak menuju Perpustakaan yang ada di samping ruang guru di sudut koridor sekolah.
Rika nampak senang sepanjang jalan kami melangkah menuju perpus, tangan nya sama sekali tidak ingin lepas dari ku. aku sebenarnya tidak keberatan, tapi tatapan orang lain di sepanjang koridor sekolah membuat ku tidak nyaman.
"Rika, tangan mu.."
"ah, eh. maafkan aku. kamu tidak suka ya?" Rika spontan melepaskan tangan nya dan mulai menjaga jarak dengan ku. mungkin hanya sekilas, tapi aku sempat melihat raut wajah Rika memerah. ternyata dia bisa memasang wajah seperti itu ya, menarik. malah kurasa, auranya saat ini tidak seperti pembunuh kejam yang ada di cerita. dia seperti gadis biasa pada umum nya, yang bisa tersipu juga bisa tersenyum manis ke orang. Rika yang seperti ini terlihat cantik dari yang aku kira.
"tak. aku tak cakap kalau aku tak suka pun."
setibanya di perpus, Rika mengambil sesuatu dari saku nya dan memberikan nya padaku. itu adalah gantungan kunci dengan aksesoris bergambar diriku yang sedang memeluk ochobot. manis sekali.
"eh? betul ke ni nak bagi kat aku?"
"hadiah persahabatan dari ku. aku mau memberikan nya pada yang lain tapi aku rasa mereka membenci keberadaan ku, haha. mungkin lain waktu. ya sudah, makasih sudah menemani ku kemari. kamu bisa balik buat kumpul dengan yang lain kok." saat Rika hendak melangkah masuk lebih jauh lagi ke dalam perpus, entah ada perasaan apa yang membuat ku terdorong untuk menarik tangan nya. rasa bersalah apa ini? entah kenapa semua ini tidak ada benar nya jika kita mencurigai orang sebaik dia. mungkin dia hanyalah orang yang punya kepribadian ganda tapi sebenarnya dia hanyalah gadis biasa yang ingin berteman dengan ku dan juga dengan teman-teman ku yang lain nya. aku merasa sedih karena aku yang bertanggung jawab atas ketidaksukaan yang lain dengan keberadaan nya.
"ada apa?"
"maafkan aku dan kawan-kawan ku. kitaorang tak bermaksud nak benci kau. mereka hanya tidak terbiasa. tapi, biarlah saya temankan kau kat perpus kali ni." Rika terdiam. perlahan dia melepas kan tangan nya dari ku dan berganti memegang kedua pipi ku.
"Boi~ kenapa malah jadi bersalah kayak gitu. gak papa kok, aku nya emang yang aneh haha. kalau emang bersedia menemani ku, silahkan saja."
