A/N : Nyaaa~ Terima kasih atas review-reviewnya! Ehehe, sudah kuduga kalau bakal banyak yang kaget sama pairnya. Hmm, tapi, aku akan usahakan agar pair ini aman dibaca bagi semuanya Yaah, toh, romance memang bukan keahlianku... Sebenarnya sudah niat kuupdate kemarin tapi ternyata ada deadline komik untuk majalah sekolah, jadinya sibuk, ehehehe. Beuuh, mintanya 8 halaman selesai dalam 1 minggu dengan inking manual! Fuuuh, endingnya bisa minta diundur karena ada badai ulangan. Yak, ini chapter 2! Enjoy!
Disclaimer : Inazuma Eleven punyaku? Nggak mungkin, deh. Kalau gamenya, sih, punya.
Warning (s) : mungkin ada yang OOC (tapi kuusahakan in character, sih...), pair tak biasa (?), gaje, reaksi nyerempet ke lebay, shounen-ai yang nggak mesra (?), dan lain-lain. Buat yang nggak suka, boleh tidak baca~ (tapi kalau saya sarankan baca saja *plaak!*)
"14 tahun kemudian, sang putri menjadi gadis yang cantik dan lemah lembut..." kata Megane yang menjadi narator dalam drama kali ini. "Kerajaan kembali tenang setelah kejadian tak mengenakkan yang dilakukan oleh penyihir jahat pada perayaan kelahiran sang putri. Namun, para penghuni kerajaan tetap waspada akan keselamatan sang putri. Dan pada suatu hari yang indah, ratu dan putri jalan-jalan di taman kerajaan..." Fuyuka dan Shuuya berjalan masuk ke panggung. Tapi, saat Megane akan melanjutkan kalimatnya...
"Cut! Cut! Gouenji-kun, perhatikan cara berjalanmu!" seru Natsumi.
Shuuya kaget. "Ca-cara berjalan?"
"Iya, seorang putri harus berjalan dengan anggun dan elegan! Mulai lagi!"
"Be-begini...?" Shuuya mencoba berjalan sekali lagi.
"Salah! Itu masih kasar," ucap Natsumi.
Aki angkat bicara. "Gouenji-kun, coba kakinya agak merapat."
Shuuya mencoba berjalan kembali. "Gouenji, agak biasa saja. Kalau begitu jadi seperti jalannya penguin," ucap Kidou.
"Masih salah. Begini, Gouenji-kun," ucap salah seorang cewek sambil memberi Shuuya contoh.
Sebisa mungkin, Shuuya menirukannya. Jelas tidak bisa tepat karena kodrat Shuuya sebagai lelaki tulen. "E-eto... Waktu tampil 'kan Gouenji-kun pakaiannya gaun yang sampai menutupi mata kaki. Kurasa tidak perlu latihan berjalan, Natsumi-san..." kata Fuyuka membela Shuuya.
"I-iya, Natsumi. Lagipula memang Gouenji itu cowok, kan? Jelas nggak bisa, dong, dipaksa seperti cewek!" Mamoru ikutan membela Shuuya. Seluruh anak cowok juga mengangguk mendukung Mamoru.
Natsumi menggeleng. "Tidak bisa. Drama ini harus perfect! Hmm, mungkin latihannya harus pakai rok juga ya. Kino-san, tolong pinjamkan Gouenji-kun rok seragam Raimon di UKS. Aku akan melatihmu menjadi seorang lady yang benar! Kidou-kun bantu aku! Fuyuka-san dan Aki-san juga tolong bantu aku."
"!" Shuuya shock. Apakah sampai disini saja takdirnya sebagai seorang cowok tulen? Dia memberi tatapan minta tolong ke anak cowok yang ada di aula. Tapi, semua nggak berani menolong karena lawannya adalah Natsumi. Bisa-bisa diploma mereka nggak dikasih dan terancam harus mengulang kelas 3!
"Ma-maaf, Gouenji..." kata Mamoru.
"Kami nggak berani..." sambung Handa dengan muka pucat.
"Go-Gouenji, be-berjuanglah..." kata Someoka.
Dan tak lama kemudian terdengar suara jeritan yang bersamaan dengan melayangnya ketulenan seorang lelaki bernama Gouenji Shuuya...
= On Stage =
= Chapter 2 of 4 : Practice =
= By : 4869fans-nikazemaru =
"Fuaaaaaaah~ Latihan hari ini melelahkan ya..." kata Mamoru sambil merebahkan dirinya di lantai aula. Sekarang memang sudah waktunya istirahat makan siang. Sehingga banyak anak kelas 3 yang keluar dari aula untuk sekedar 'ambil nafas'. Namun, banyak juga yang tinggal di aula sambil menyantap obento mereka. Yaah, kecuali para seksi properti. Mereka masih asyik mengerjakan properti sambil sesekali mengambil onigiri yang disediakan Aki, Fuyuka, dan Natsumi. Karena onigiri buatan ketiganya ada di dalam satu tempat, para seksi properti selalu berhati-hati saat akan mengambil onigiri. "Engg... Tapi, kasihan juga Gouenji tadi..." lanjut Mamoru.
Kazemaru sweatdrop sambil ketawa garing. "Ahaha... Memang si Natsumi itu... Gouenji sampai diseret ke ruang kelas yang kosong untuk privat kepribadian seorang lady. Huff...!"
"Dan tadi anak-anak cewek juga malah semangat buat ikutan bantu Natsumi ngelatih. Haduuuh... Parah, deh! Untung sama Fuyuppe tadi berhasil dihentikan sebelum Gouenji dipanggilkan guru kepribadiannya Natsumi!" imbuh Mamoru sambil sweatdrop. 'Ah... Wajah Gouenji tadi sampai pucat... Entah dia tadi disuruh ngapain.'
"Ya iyalah... Harga diri sebagai cowok. Tapi, akhirnya setelah itu kita bisa latihan drama secara normal... Ah, sepertinya Someoka dapat onigiri buatannya Natsumi," ucap Kazemaru saat tak sengaja melihat Someoka yang setelah melahap sebuah onigiri tangannya dengan panik langsung menyambar sebotol minuman.
Mamoru lagi-lagi sweatdrop. "Aku tahu bagaimana perasaannya... Bisa bikin orang darah tinggi, tuh, onigiri bikinan Natsumi. Berasa makan garam, doang."
Kidou tiba-tiba muncul. "Oi, sebentar lagi kita mulai latihan lagi. Gouenji mana?"
"Hah? Baru juga istirahat 10 menit!" protes beberapa anak yang ikut dalam drama.
"Kita harus buru-buru. Masih banyak yang belum hafal dialog, kan?"
"Gouenji tadi sepertinya sama Toramaru," kata Handa.
"Biar kupanggil!" ucap Mamoru. Kebetulan dia memang ingin sambil cari angin. Dia mulai celingak-celinguk begitu keluar dari aula. 'Hmm, kira-kira dimana ya... Ah, itu kalau nggak salah temannya Toramaru!' Mamoru mendekati seorang anak kelas 1 yang sedang membawa sebuah kardus besar. Mungkin itu salah satu properti untuk bazaar mereka. "Ah, maaf, kamu tahu dimana Toramaru?"
"Eh? Toramaru? Biasanya, sih, sekarang dia makan siang di atap. Tapi, karena sekarang jadi panitia bazaar, mungkin dia sekarang makan siang di ruang OSIS," katanya. Mamoru segera menuju ruang OSIS, tapi ditengah jalan salah seorang teman Toramaru menghentikannya dan menyuruh Mamoru ke sebuah pohon besar dekat ruang klub sepak bola.
"Lagi cari Toramaru, kan? Aku baru saja lewat sana. Dia sedang makan siang bersama Gouenji-senpai," ucap anak itu.
"Ooh, makasih ya!" Mamoru berbalik menuju ruang klub. 'Kenapa makan siang disana ya? Bukannya tempat itu sepi banget kalau lagi jam segini? Hmm...' Akhirnya dia sampai juga di depan ruang klub. Benar saja, dia menemukan sosok Shuuya di salah satu pohon dibelakang ruang klub. Segera dia hampiri sosok itu. "Oi, Gou-eh... Lho? Tidur ya?"
Mamoru terpana sejenak. Shuuya dengan damai tidur direrumputan. Rasanya seperti melihat sisi lain dari striker api yang selalu bersikap cool itu. Mulut striker itu sedikit terbuka untuk memudahkan bernafas. Dadanya naik turun dengan perlahan. Sepasang mata cokelat bersembunyi dibalik pelupuk mereka. Dengan hati-hati, Mamoru mendekatinya. Memperhatikan.
Senyum mulai menghiasi wajah Mamoru. "Ehehe, kalau begini jadi mirip putri tidur beneran ya!" celetuknya pelan. Mamoru berjongkok disamping Shuuya. 'Wah, ternyata bulu matanya Gouenji tebal. Lentik lagi...' Seperti terhipnotis, Mamoru mulai menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan mulai dia dekatkan wajahnya ke wajah 'putri tidur' itu. Semakin mendekat, bau tubuh Shuuya mulai tercium sedikit demi sedikit. Bau yang sangat nyaman untuk terus dihirup bagi Mamoru. 'Tidak terlalu wangi, tapi juga sama sekali tidak bau... Wangi tubuh yang hangat... Manis...'
Tangan Mamoru menyentuh dagu Shuuya. Sedikit dia dongakkan kepala Shuuya dengan hati-hati. Diarahkan sepasang bibir mungil itu ke bibirnya. 'Gouenji... aku...'
Srek!
"Ah! Endou-san!"
Reflek Mamoru langsung melemparkan tubuhnya dari tubuh Shuuya dan mencoba bersikap tidak terjadi apa-apa. "E-eeehmm... Kupikir kau kemana, Toramaru!"
"Ehehe, tadi tiba-tiba kebelet... Jadinya buru-buru ke toilet. Cari Gouenji-san ya?" kata Toramaru yang muncul entah dari mana. Dia kaget melihat Shuuya tergeletak direrumputan. "Lho? Gouenji-san ketiduran, toh?"
"Iya. Mungkin kecapekan," terang Mamoru. Didalam hari dia lega. 'Fiuuuh! Untung tadi aku belum benar-benar mencium Gouenji! Trus untung saja aku tadi sempat menjauh sebelum Toramaru...'
"Oya, tadi Endou-san ngapain nunduk?"
'...tahu...'
Mamoru langsung mati gaya.
Harus jawab apa dia? Itu tadi 'kan bukan adegan yang pantas untuk dilihat anak sepolos dan seliar (?) Toramaru! Mamoru langsung memutar otaknya. Dia mengacak-ngacak memory di otaknya untuk mendapatkan alasan yang masuk akal dan aman untuk dikonsumsi anak-anak (?). "E-eeeeh... Tadi uang recehku jatuh, makanya aku cari. Ehehehe."
Hening.
Mamoru, sumpah... Alasanmu kurang berkelas.
Tapi, Toramaru hanya mengangguk-angguk. "Oooh... Begitu..."
Mamoru bersyukur karena Toramaru, walau suka rada ngelunjak ke senpainya, kalau sama dia termasuk cukup patuh. 'Fiuuh, untung, deh!' batin Mamoru. "Tapi, bagaimana, nih? Gouenji tidur begini..."
"Ngggh... Aku sudah bangun, kok..." ucap Shuuya yang mencoba bangkit dari posisinya. "Maaf, tadi tiba-tiba ngantuk sekali."
"Nggak apa-apa. Ayo, yang lain sudah nunggu, tuh!" kata Mamoru. Shuuya pun berdiri lalu berjalan mengikuti Mamoru. "Sudah ya, Toramaru!"
"Iya! Ganbatte, Endou-san! Gouenji-san!"
Bunyi bel pulang berbunyi nyaring. Seluruh murid langsung menghela nafas lega. Apalagi para pemeran drama. Mereka langsung menyambar air minum dan merebahkan diri. Kidou dan Natsumi berdiskusi soal latihan drama kali ini lalu memberikan evaluasi kepada mereka. Setelah dirasa cukup, Kidou memperbolehkan semuanya pulang. Tentu saja ini segera disambut bahagia oleh para murid kelas 3. Mereka langsung berhamburan keluar aula setelah merapikan barang-barang.
Mamoru mendatangi Shuuya dengan Kazemaru dan Kidou dibelakangnya. "Gouenji! Yuk, pulang!"
Shuuya yang masih membaca teks dialognya, menoleh. "Ah, maaf, Endou. Hari ini aku nggak bisa pulang bareng kalian. Aku masih nunggu Toramaru rapat panitia bazaar."
Kidou teringat sesuatu. "Benar juga! Kalian akhir-akhir ini selalu pulang bareng, kan?"
"Iya, soalnya setiap hari Toramaru membantuku latihan drama," jawab Shuuya. Mukanya memerah sebentar. "Habisnya kalau tidak ada lawan mainnya susah. Lagipula kalau jam segini, rumah masih belum ada orang. Jadi, bisa latihan tanpa ketahuan."
"Ahaha, benar juga! Kamu 'kan nggak mungkin minta bantuan ke Yuuka atau Fuku-san! Apalagi sama ayahmu!" kata Kazemaru. Shuuya mengangguk pelan.
Mamoru membeku. 'Tunggu... Berarti Gouenji sama Toramaru... dirumah berduaan saja? La-lalu latihan dramanya... Drama kita 'kan ada adegan...!' Mamoru langsung mencengkram bahu Shuuya. "Go-Gouenji! La-latihan dramanya sama Toramaru itu... semua adegannya?"
Shuuya mengangkat sebelah alisnya. Heran. "Eh? Jelas, kan?"
"SEMUA? ADEGAN CIUMANNYA JUGA?"
"EEH? Ka-kamu ini ngomong apa, Endou? Jelas di skip, dong!"
"A-ah... Be-benar juga ya, ahaha..."
"Kenapa kamu tanya itu, Endou?" tanya Kidou.
"E-eeeh... Mmm, habisnya ngeri juga membayangkannya..."
Kazemaru sweatdrop. "Ya iyalah. Mereka 'kan sama-sama cowok. Apalagi Gouenji putrinya."
Someoka yang kebetulan mendengar pembicaraan menyeletuk. "Padahal kalau dari segi tampang, sebenarnya lebih cocok Kazemaru yang jadi putri."
Kazemaru melotot. "APA? BAGIAN MANA DARI DIRIKU YANG MIRIP CEWEK?"
"Rambutmu 'kan panjang. Kalau perannya putri 'kan tinggal..."
"Yang rambutnya panjang 'kan nggak aku saja! Kageno, Max..."
"Iya, tapi yang tampangnya mendukung buat dijadikan cewek 'kan hanya-GYAAA! AMPUUUN! AMPUUUUUN! CUMA BERCANDAAA! BERCANDAAAAAA!"
"SIAPA YANG KAU BILANG MIRIP CEWEK, HAAAH? CARI MATI LOE? HAARGH?"
"GYAAA! LE-LEHER GUE... GIVE UP! GIVE UP!"
Mamoru segera melerai Kazemaru yang masih bersemangat meminting kepala Someoka. Kidou dan Shuuya sweatdrop melihatnya. Tak lama setelah Kazemaru dan Someoka berhasil dilerai, Toramaru datang. Shuuya pamit pulang duluan lalu pergi dengan Toramaru. Kidou, Kazemaru, Someoka, dan Mamoru mengucapkan 'selamat jalan' kepada mereka berdua. Someoka masuk kembali ke gedung aula karena para seksi properti masih ada kegiatan bersama. Akhirnya hanya Kidou, Kazemaru, dan Mamoru yang pulangnya bersama.
Disepanjang jalan mereka mengobrol dan bercanda. Namun, saat melewati sebuah taman bermain yang sepi, Kazemaru dan Kidou menghentikan langkah Mamoru lalu menyeretnya ke taman itu. Mamoru hanya bisa kebingungan karena tiba-tiba diseret dan didudukkan di salah satu bangku layaknya seorang tersangka yang sedang diinterogasi. Bahkan Kazemaru sampai bela-belain mengeluarkan senter dari tasnya dan menyoroti Mamoru dengan senter itu. Kidou yang tak mau kalah lantas mengeluarkan tape recorder dan didekatkan ke wajah Mamoru. Pas, deh! Beneran seperti sedang di interogasi!
"I-ini... ada apa, sih, Kazemaru? Kidou?"
"Kamu ngaku saja, deh, Endou!" kata Kazemaru dengan wajah serius sambil terus menyoroti Mamoru pakai senter.
"Hah? Ngaku apa?" ucap Mamoru sambil menelan ludah. 'Apa Kazemaru tahu kalau aku yang ngembat jatah onigirinya tadi siang?'
Kazemaru menghela nafas. Kidou yang sekarang angkat bicara. "Aku nggak suka basa-basi. Jadinya, langsung kutanyakan to the point saja... Endou, kamu suka Gouenji, kan?"
Hening.
"Tentu saja! Gouenji 'kan temanku?"
"Bukan itu maksud kami, bego!" potong Kazemaru yang kini menyorotkan senter tepat di mata Mamoru. Reflek Mamoru langsung teriak-teriak gaje karena kesilauan. "Kamu... rasa sukamu kepada Gouenji itu... lebih dari rasa suka kepada teman, kan?"
Deg.
Mamoru terdiam. "I-itu..."
"Endou, kami ini temanmu. Jelas saja kami tahu hal seperti ini. Hari ini saja kulihat kau mencuri pandang ke Gouenji lebih dari 40 kali," ucap Kidou. Kazemaru sweatdrop mendengarnya. 'Kidou, memangnya kamu ngitung?'
'Uuuh! Bagaimana ini? Apa memang harus kuakui?' batin Mamoru. Dia menatap ke arah 2 sahabatnya yang masih menanti jawaban darinya. Melihat sorot mata mereka yang sepertinya sudah tidak bisa dan tidak ingin dibohongi lagi itu, Mamoru akhirnya menyerah. "Kalau aku bilang 'iya', kalian tidak akan menyebarkannya, kan?"
"Tentu saja. Kami ini temanmu! Kau bisa mengutarakan apapun kepada kami, Endou!" ucap Kazemaru.
"Saling menjaga rahasia adalah salah satu hal yang dilakukan ketika kita berteman dengan seseorang, kan?" imbuh Kidou.
Mamoru menghela nafas. "Baiklah. Jawabannya memang iya... Aku memang menyukai Gouenji lebih dari teman," ucapnya pasrah. "Memang ini menyimpang... Tapi, aku... Kuharap kalian tidak kecewa."
Kazemaru menepuk bahu Mamoru lalu duduk disampingnya. "Endou... Nggak usah masang tampang suram begitu, deh... Kami ngerti, kok!"
Kidou ikut duduk disamping Mamoru. "Iya, kami malah akan dukung kamu. Hmm, bagaimana kalau segera kau utarakan saja? Daripada diam begini dan terus jadi beban pikiran..."
Sebuah helaan nafas keluar dari mulut Mamoru. "Masalahnya kami sudah terlalu akrab. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana kalau ternyata nanti Gouenji nggak punya perasaan yang sama denganku... Dia pasti..."
"Kurasa Gouenji bukan tipe yang seperti itu. Dia nggak akan berubah hanya karena hal begitu," kata Kazemaru. "Kau pikirkan sajalah... Kalau sudah yakin buat nembak, bilang saja. Kami pasti bantuin! Nah, yuk sekarang pulang. Sudah sore, nih!"
Kidou tersenyum kecil. "Iya, nanti keburu first kiss Gouenji jatuh ke Kazemaru, tuh," godanya.
"Aah~ Iya juga, tuh! Lumayan juga ya, mungkin? First kiss, lho..." celetuk Kazemaru sambil memasang muka mesum (?).
"Iya, jarang-jarang bisa dapat first kiss begitu."
"Nanti pas tampil bakal ku nikmatin baik-baik untuk menggantikanmu, Endou!"
"Heeeeei! Ini apanya yang mendukung? Malah mojokin begini! Aaaaaargh!" protes Mamoru yang nggak tahan dengan candaan sahabatnya itu.
Kidou dan Kazemaru tertawa. "Makanya sana cepetan nembak!" ujar mereka bersamaan yang langsung disambut teriakan protes sang kapten tim Inazuma Eleven.
Mamoru menelan ludah. Ini memang bukan kunjungan pertamanya. Sumpah! Malahan dia sudah berkali-kali ke sana karena menjelang ujian dulu diadakan belajar kelompok bergilir yang anggotanya para anak kelas 3 di klub sepak bola. Tapi, siapa juga yang nggak nervous kalau HARUS dirumah orang yang kita sukai dan dirumah itu hanya ada kita dan orang yang kita sukai itu?
Dan itulah yang terjadi pada Mamoru di siang hari nan cerah itu.
"Endou, kenapa? Ayo, masuk," kata si tuan rumah yang keheranan dengan tamunya yang dari tadi bengong di depan pintu.
"Eeehm, iya, ehehe... Nggak ada apa-apa, kok, Gouenji! Cuma... lama juga ya aku nggak kesini."
"Hmm, iya juga... Ah, kau tunggu saja dikamarku. Aku buatkan sesuatu dulu," ucap Shuuya setelah menyiapkan sandal rumah untuk Mamoru. Si tamu hanya bisa mengangguk saat melihat cowok berambut berdiri itu menghilang ke dalam rumah. Mamoru menuju ke kamar Shuuya yang posisinya telah dia hafal betul karena sudah berkali-kali dia kunjungi.
Kapten tim kesebelasan Raimon itu masih terbengong tidak percaya. Tidak disangka saat akan pulang tadi Shuuya langsung menghampirinya dan memintanya untuk ke rumah karena butuh teman latihan drama. Yaah, apa boleh buat, panitia bazaar sedang sibuk sekali hari ini. Sehingga Toramaru yang biasa membantu Shuuya latihan drama harus tinggal di sekolah sampai kegiatannya selesai sore nanti. Ini merupakan berkah bagi Mamoru untuk bisa berduaan dengan pujaan hatinya itu... Tapi...
'Aaaaargh! Kenapa juga tadi Kidou dan Kazemaru pakai ngasih tatapan mesum kayak gitu? A-aku... Aku 'kan nggak mungkin ngapa-ngapain Gouenji!' batin Mamoru sambil gulung-gulung di lantai kamar Shuuya saking depresinya. 'Duuh! Aku bisa bayangkan pertanyaan macam apa yang bakal ditanyakan 2 orang itu besok! Buset, siap-siap diinterogasi, nih! Uuugh... Nanti malam aku harus menyusun rencana untuk kabur dari mereka! Umm... Ke sekolah itu yang aman lewat jalan itu. Trus disekolah 2 anak itu jarang ke tempat yang itu... Oya! Besok aku harus bawa segala sesuatu untuk kabur! Misalnya boneka penguin untuk mengalihkan perhatian Kidou... Trus video game yang udah lama nggak kubalikin ke Kazemaru...'
Ok, Mamoru... Sejak kapan kau jadi terorganisir begini?
Setelah menjalankan otaknya untuk berpikir selama beberapa saat, Mamoru akhirnya menyadari satu hal... Yaitu, tentang sosok sesungguhnya orang yang akan dia hadapi besok... 'OH IYA! KIDOU 'KAN GAME MAKER JENIUS? MEMANGNYA GUE BISA LOLOS DARINYA? SEKARANG SAJA DIA PASTI SUDAH MENGANALISIS APA SAJA HAL YANG AKAN KULAKUKAN UNTUK KABUR! BELUM LAGI, KAZEMARU 'KAN JAGO LARI? AAAAAAH!' Mamoru makin heboh mengguling-gulingkan dirinya di lantai sambil nungging-nungging, muter-muter, push up, sit up, joget-joget, bahkan senam poco-poco (?).
Cklek...
"Engg... Endou? Kamu ngapain, sih?"
Mamoru langsung sadar diri dan membetulkan posisi duduknya. "Ah, nggak, nggak! Tadi hanya coba gerak badan! Ehehehe!"
"Hmm, baiklah... Oya, ini. Maaf, hanya ada ini di dapur," ucap Shuuya sambil menurunkan nampan yang ia bawa ke lantai. Di atas nampan telah tersedia 2 gelas teh hijau, setoples biskuit, dan beberapa onigiri.
"Ah! Nggak apa-apa, kok! Ini juga sudah cukup! Ayo, mulai latihannya!" ajak Mamoru seraya mengambil buku naskah drama dari tasnya. Shuuya mengangguk lalu mereka berdua memulai latihan. Mamoru memperhatikan seksama. Sepertinya kursus vokal yang diikuti Shuuya (dengan paksaan Natsumi dan dibiayai Kidou) cukup berhasil. Suara Shuuya sudah mulai mendekati suara perempuan. Latihan berjalan lancar hingga tak terasa dialog terakhir sudah mereka baca. "Bagus, Gouenji! Nada bicaramu sudah bagus, lho! Udah mirip cewek!"
Shuuya kaget. "Yang benar? Fiuuh, syukurlah... Aku tidak mau diprotes Kidou dan Natsumi lagi."
"Ahahaha! Memangnya berat banget ya latihan olah vokalnya?"
"Ngg... Nggak juga, sih. Pelatihnya baik, kok. Tapi, aku merasa nggak enak saja kalau nggak bisa-bisa..."
Mamoru memiringkan kepalanya. Bingung. "Hee? Kenapa? Karena dia terlalu baik trus kamu jadi segan?"
"Mmm... Itu juga, sih. Tapi, alasan utamanya karena..." Shuuya berpikir sejenak. Dia bingung harus memberitahukan hal ini atau tidak. Tapi, melihat ekspresi Mamoru yang nggak pengin topik pembicaraan diganti, Shuuya akhirnya menyerah. "Jangan kaget ya. Biaya mendatangkan pelatih itu untuk 1 pertemuan adalah... (silakan isi nominal yang menurut Anda mahal) yen!"
Seketika Mamoru tersedak ludahnya sendiri. 'A-apa? Aku memang tahu kalau Kidou sama Natsumi itu kaya... TAPI, MEREKA NIAT BANGET SAMPAI MENDATANGKAN PELATIH YANG BEGITU? KALAU BIAYANYA SEGITU BERARTI UDAH PROFESIONAL, KAN? BAGAIMANA PUN INI NGGAK WAJAR BUAT TARAF DRAMA ANAK SMP! INI 'KAN BUKAN MANGA OURAN HIGH SCHOOL HOST CLUB!' Ok, Mamoru... Tolong hentikan capslock abuse-mu...
Shuuya langsung menyodorkan minuman ke Mamoru yang masih tersedak ludah sendiri. Dengan lemas Mamoru meneguk teh yang diberikan striker api itu. "Huff... Thanks! Tapi, mereka memang niat banget ya!" Mamoru mengambil biskuit dari toples lalu memakannya. "Umm! Biskuit ini enak banget! Beli dimana?"
"Yang benar? Itu buat sendiri, kok."
"Oh, buatan Fuku-san?"
"Bukan. Itu buatanku."
"..."
"..."
"...heegh?"
Muka Shuuya memerah karena sedikit tersinggung dengan reaksi Mamoru. "Iya, itu aku yang buat. Memangnya nggak boleh?"
'Bukannya begitu... Tapi, Gouenji... COWOK SMP MANA YANG MAU BIKIN BISKUIT DI WAKTU LUANGNYA? NENGOK DAPUR, SELAIN BUAT CARI MAKAN, SAJA MALES!' batin Mamoru. Dengan segera Mamoru mengganti ekspresi kaget yang menghiasi wajahnya dengan wajah biasa saja. "Tidak, kok! Ehehehe. Tapi, beneran. Biskuitnya enak sekali! Buat Yuuka-chan ya?"
Dengan pelan Shuuya mengangguk lalu sedikit tersenyum senang. "Iya. Kebetulan aku menemukan resep membuat biskuit yang mudah di majalah. Jadinya kucoba. Beneran enak?"
"Mmm! Nggak kalah, deh, dengan yang ditoko! Aku makan lagi ya!" Seperti anak kecil, Mamoru dengan lahap mengunyah satu demi satu biskuit yang dia ambil. Diam-diam Shuuya tersenyum kecil melihat tingkahnya yang kekanakan itu. "Ngg? Gouenji, kamu nggak cobain?"
Shuuya menggeleng. "Aku masih kenyang."
"Hee? Coba saja satu! Aku nggak enak, nih... Makan sendiri begini."
"Tidak apa-apa. Aku minum saja."
"Eits! Nggak bisa begitu! Kan, kamu yang punya rumah trus ini juga kamu yang bikin biskuitnya. Cobain satu sajalah!"
"Engg... Tidak usah."
Mamoru mengambil sepotong biskuit lalu mendekati Shuuya. Reflek Shuuya menghindar. Akhirnya terjadi pergumulan dan kejar-kejaran diantara mereka. Mamoru ngotot ingin Shuuya menyicipi biskuit buatannya sendiri sedang Shuuya entah mengapa tidak ingin menyicipinya. Dengan gesit Shuuya berlarian dari ruang ke ruang yang sudah dia hafal betul seluk beluknya. Tapi, Mamoru tak kalah semangat untuk terus mengejar walau terkadang hampir tersandung perabotan atau menabrak dinding.
"Gouenji, ayo, dooooong! Kenapa, sih, kamu nggak mau makan masakanmu sendiri? Memangnya di dalam biskuit ini kau kasih sesuatu?" bujuk Mamoru.
"Sudah kubilang, kan! Aku masih kenyang! Dan di biskuit itu nggak ada apa-apa!" jawab Shuuya yang dengan lincah sekarang melompati sofa di ruang keluarga lalu melempar bantal yang di sofa itu ke Mamoru.
Dengan memiringkan kepalanya sedikit, Mamoru berhasil menghindar. "Heyaaah!" Tanpa ragu Mamoru melompat dan menerjang ke arah Shuuya. Karena kaget, kecepatan reflek Shuuya menurun sehingga Mamoru berhasil menangkapnya. Tangan Mamoru yang memegang biskuit langsung mengarah ke mulut Shuuya. Tapi, kedua tangan Shuuya langsung menutupi mulut yang diincar dengan biskuit itu. Kontan terjadi adegan gulat yang seru. Walau sudah memakai God Catch (?) pun, tangan Shuuya tidak bergeser dari tempatnya. Hmm, kelihatannya Shuuya ada bakat untuk adu panco.
"Umph! Iya, deh! Aku nyerah!" kata Mamoru yang udah nggak tau harus bagaimana lagi. Biskuit yang sedari tadi ditangannya itu masuk ke mulutnya. Shuuya menghela nafas lega lalu bangkit dari posisinya yang tergeletak di lantai.
"Huuff... Sudah kubilang, kan? Aku sudah ke-UMMPH?"
Sekali lagi punggung Shuuya menempel dengan lantai. Bibir Shuuya tiba-tiba sudah hampir bertemu dengan bibir Mamoru. Hanya sepotong biskuitlah yang memisahkan keduanya. Mata kedua orang itu bertemu. Dengan biskuit masih terjepit diantara bibirnya, Mamoru berbisik. "Makan..."
Kidou dan Kazemaru masih dalam perjalanan pulang. Seharusnya mereka sudah pulang dari tadi, tapi mereka oleh salah seorang guru yang menanyakan kesiapan drama. Dengan keahlian Kidou berbicara, urusan segera selesai dan si guru 'melepaskan' mereka. Kazemaru menghela nafas lega. Drama mereka belum ada 70%, sih! Padahal sudah tinggal 4 hari!
"Untung sekali tadi, Kidou!" kata Kazemaru. 'Kalau ketahuan belum siap, kami bisa-bisa disuruh latihan intensif selama 4 hari tanpa pulang!'
"Iya, kita harus gerak cepat. Hmm, tapi hasil latihan Gouenji untungnya sudah mulai terlihat... Kazemaru, kau sudah lumayan hari ini. Tinggal kau perbaiki gerakan dan penghayatannya," terang Kidou. Kazemaru mengangguk setuju. Tiba-tiba terdengar suara ringtone HP. Kidou merogoh sakunya lalu melihat nama yang tertera dilayar. Segera dia angkat telepon masuk itu. "Iya, Otou-san? Apa? Baiklah. Sekarang aku di depan toko (silakan isi sendiri namanya). Ya, akan ku tunggu."
Kazemaru terbengong melihat ekspresi serius Kidou. "A-ada apa, Kidou? Ada masalah?"
"Tidak ada apa-apa. Kau pulang duluan saja," kata Kidou.
"Eh? Kamu?"
Tak lama sebuah mobil mewah berhenti di samping mereka. Seorang pria berpakaian rapi keluar dari pintu sopir lalu membuka pintu penumpang di belakang. "Silakan, tuan muda."
"Aku ada urusan kecil. Sampai besok," ucap Kidou yang setelah itu masuk ke dalam mobil. Si sopir menutup kembali pintu penumpang. Dia membungkuk ke arah Kazemaru lalu duduk kembali di belakang roda kemudi. Mobil mewah itu melaju diatas aspal dan menghilang dari pandangan 1 menit setelahnya.
"...haaah?"
Cowok kuncir kuda itu hanya terpukau dengan apa yang barusan terjadi.
Sementara keadaan di dalam mobil beratmosfer berat. Kidou menyambar laptop yang ada di dalam mobil dan dengan gesit jemarinya menari di atas keyboard. "Bagaimana keadaannya?" tanya Kidou yang pandangannya masih tertuju ke layar monitor laptop.
"Sudah 55% clear, tuan muda," jawab sopir pribadi keluarga Kidou itu.
"Bagus."
Kidou menatap kembali laptopnya. Dilayar tertera rentetan data yang berderet rapi. Dengan cepat dia mengetikkan sesuatu hingga akhirnya muncul sebuah halaman dengan judul 'Kagemori' dari database tadi. Dia baca beberapa kali halaman itu lalu membuka web browser.
'Semoga bisa lancar...'
= TO BE CONTINUE =
Sip, bales review dulu. Oya, yang login dan bisa di PM, aku balas reviewnya lewat PM. Kalau yang tidak login/tidak punya akun/login tapi PM-nya nggak aktif, ini balasannya!
Kurii-tan : Waduh, review pake HP ayah? Lagi nggak ada pulsa ya? *plaaak!* Ehehe, yang benar, nih, nggak terlalu OOC? Soalnya kalau aku yang bikin suka kelewat OOC, jadi agak deg-degan... Terima kasih, sudah merelakan waktu (baca : pulsa) untuk review fanfic ini!
Aya : Ahaha, sudah kuduga bakal ada review protes soal pairingnya. Umm, begini... Gouenji nanti nggak akan kubuat terlalu uke, kok. Intinya, masih ada macho dan coolnya. Sumpah! . Aku juga nggak bisa bikin Gouenji jadi super uke. Ahaha, pokoknya nggak bakal sampai kejang, deh, pas dramanya. Sesekali gantian, dong, yang kejang (saya sering kejang saban baca fanfic dengan Mamoru yang jadi uke super innocent), ehehe. Trus, dramanya juga nggak terlalu detail, kok! Capek! (author nggak niat) Ah, aku udah update fanfic Ghost Hunter, kok! Ayo, dibaca! (promosi)
Ok! Sampai jumpa di chapter selanjutnya! :)
