"Love can blind everything. It can even prevent you from doing something that has become part of your identity all this time."

Suasana di dalam perpustakaan sedang lenggang. hanya ada beberapa siswa yang sedang sibuk mencari sesuatu di rak buku, para petugas sedang sibuk menyusun berkas di meja. sedangkan beberapa yang lain sudah duduk di tempat yang mereka ingin kan untuk membaca buku dan bersantai dengan yang lain.

Boboiboy yang baru terlihat pertama kali sedang berduaan dengan seorang gadis unik yang merupakan murid baru di kelas nya. dia terlihat menyibukkan diri dengan buku yang di ambil nya agar perhatian nya tidak teralihkan ke hal yang lain.

"kamu baca apa, Boy?" seorang gadis di samping nya, menggenggam telapak tangan Boboiboy yang masih di balut rapi oleh perban. karena tindakan nya yang tiba-tiba itu membuat Boboiboy secara spontan memasang raut terkejut dengan mata yang melotot dan sedikit tersipu. mungkin hampir saja suara dia keluar karena terkejut dengan sensasi dingin di tangan yang di berikan oleh gadis itu.

"Ri..rika, jangan buat aku terkejut lah. longgar jantung aku." Rika terkekeh dan menepuk pelan pundak Boboiboy. dia melirik buku yang sedang di baca oleh nya dengan antusias.

"hehh, kamu memang suka yang kayak beginian ya? buku yang berbau astronomi emang gak bisa di tolak buat di baca. tapi kalau aku lebih suka baca buku tentang jaman purba, haha." mereka berdua terkekeh kecil sejenak kemudian kembali melanjutkan membaca buku masing-masing—setelah mendapatkan tatapan 'hangat' dari petugas perpus yang memergoki mereka sedang berisik di ruang baca.

waduh, ini gawat sekali. aku tidak bisa menahan rasa bahagia ku saat ini ketika sang idola sedang duduk dekat di samping ku. di kelas tadi aku merasa cukup berlebihan karena menatap nya dengan perasaaan bahagia yang meluap-luap sampai aku lupa kalau aku adalah seorang pembunuh yang ketika menatap seseorang saja membuat siapapun yang melihatnya merinding ketakutan. dan ya, aku sempat sadar Boboiboy takut ketika aku menatap nya demikian.

aku melihat Boboiboy yang duduk tepat di samping ku. aura kebaikan dan ketampanan nya terpancar, berpadu menjadi satu, membuat nya begitu silau untuk di pandang. dia terlalu mempesona di bandingkan cowok manapun—bahkan mengalahkan ketampanan si Fang, pemuda berkacamata yang selalu iri sama Boboiboy.

"kenape?"

"ah .., ya, tidak. aku hanya merasa kamu ini ternyata ganteng juga kalau dari dekat, hehe."

"ja.. jangan menggoda ku. nah, kau dah dapat ke apa yang kau cari kat buku tu?" Boboiboy mencoba mengganti topik ketika aku sempat melihat wajah nya memerah sebentar. imut nya, aku bahkan tidak berharap waktu akan berakhir kali ini. rasanya tidak rela jika waktu istirahat begitu singkat, menghancurkan segala momen yang ada dan aku harus menunggu lagi besok.

bicara soal sesuatu yang aku cari di sini, sebenarnya tidak ada. aku hanya berbohong pada nya supaya aku bisa berdua dengan nya kali ini. sekaligus mencoba untuk mendapat kan darah nya lagi. dengan cara apapun bahkan jika aku harus melukai nya di sini. tapi bisa di bilang itu terdengar sangat nekat, makanya aku mengurungkan niat ku untuk melakukan hal berbahaya seperti itu. setidak nya, aku akan melukai nya sedikit. aku rindu aroma darah dari tubuh pemuda ini. sapu tangan yang ada bekas darah nya tidak di sengaja aku malah memasukkan nya ke dalam mesin cuci bersama pakaian yang lain. untung saja darah nya tidak menyebar ke pakaian lain.

"aku cuma cari teknik menulis dengan benar kok. soalnya aku kadang selalu salah jika sedang membuat sesuatu." aku sudah menyusun rencana, aku meletakkan paku kecil di halaman tengah dari buku yang dia baca saat ini. dan jika dia membuka nya otomatis paku itu akan mengenai tangan atau salah satu jarinya. terdengar menyakitkan memang, tapi memang itu yang ingin aku lihat dan dengar.

tangan nya bersiap membuka lembaran tengah di mana aku menyembunyikan paku itu. sambil berpura-pura membaca dan tidak sedang memperhatikan nya, aku menunggu momen di mana teriakan indah Boboiboy akan terdengar.

"aakkkhhh, apa benda yang tusuk aku ni?" sialan, aku malah merinding mendengar dia mendesis kesakitan. paku nya tidak menancap hanya saja kemungkinan membuat luka yang membuat darah nya sulit untuk berhenti dengan cepat.

"Boboiboy, kamu baik-baik saja? astaga, buku ini ada paku nya, Boy. berhati-hatilah lah ketika memegang nya." bercanda deng, sebenarnya itu aku yang melakukan nya. maafkan aku, sedikit kasar tidak lah masalah demi mendapatkan apa yang aku inginkan saat ini. "jangan bergerak boy, aku akan membersihkan nya. jadi untuk sementara taruh jempol mu di wadah ini biar darah nya tidak menyebar kemana-mana." dia menatapku bingung ketika aku mengeluarkan wadah bekas obat yang aku bawa dari rumah, dan meletakkan jari nya ke dalam wadah itu. darah mengalir sempurna, tertampung di dalam wadah. membuat gairahku semakin menjadi tapi sebisa mungkin aku akan menahan nya dengan menggigit bibir ku.

"hhsss..., ahh, sakit nya. bisa kah kita obati dan lewati ini semua je?"

"darah mu akan terbuang sia-sia tau."

"maksudnya?"

"ah, bukan apa-apa kok, Boy. setelah berhenti baru kita obati ya, luka nya lumayan besar nih. sini, aku akan membuat mu tenang." aku menarik tubuh Boboiboy dan membiarkan kepala nya terbaring di dada ku. sambil mengelus rambut nya yang halus, aku mencoba menenangkan nya. tapi dia justru malah semakin gemetar dan wajah itu terlihat seperti tomat yang siap untuk di panen. reaksi yang bagus, bagus sekali. rasanya aku ingin mencium nya sekarang, tapi tidak bisa karena aku sedang tidak ingin.

darah itu tertampung tidak seberapa tapi setidak nya cukup mengeluarkan aroma tersendiri dari darah itu. aku kebetulan membawa plaster luka dan alkohol—bukan kebetulan, tapi memang sengaja. toh ini juga termasuk dalam rencana kali ini. Boboiboy yang malang, maaf aku memperlakukan mu seperti ini. tapi jika tidak begini, tidak akan ada artinya buat ku.

"kau ni perempuan yang aneh, tau."

"aku sudah mengatakan nya bukan?"

"tapi aku paham, kalau ni pasti ada artinya kan?"

"aku cuma mau tau golongan darah mu buat bahan novel. hanya itu."

"kenapa tak cakap je la kalau itu tujuan kau?"

"emang kamu tau golongan darah mu?" pembicaraan ini kembali senyap saat aku bertanya demikian, ya, itu jelas sekali mengatakan bahwa dia tidak tau golongan darah nya sendiri. tapi aku tanpa tes tertentu, aku akan tau apa golongan nya. di liat dari warna nya saja aku sudah tau kalau golongan darahnya adalah golongan darah A, pantas saja aroma nya sangat wangi dan warna nya begitu cantik ketimbang golongan darah manapun yang pernah aku lihat.

suasana perpus kembali lenggang. aku masih membaca buku ku—sebenarnya aku bohong soal buku yang aku baca. ini sebenarnya buku tentang catatan kriminal di masa lalu yang selalu aku bawa di saku. kenapa di saku? yah, kebetulan sekali ukuran buku ini sangat pas di kantong rok ku jadi Boboiboy bahkan tidak menyadari apa yang aku bawa. bicara soal Boboiboy, dia malah merasa betah tidur di dada ku. bahkan dia sudah terlelap nyenyak tanpa aku sadari. baiklah Boboiboy, tidak masalah buat ku selama itu adalah kamu. kamu tidur di paha ku sekali pun aku tidak keberatan.

"memang seperti ini lah harusnya hidup ku. ada apa ini, rasanya aku ingin sekali menangis." aku berharap ini tidak akan berakhir selama nya. aku ingin terus seperti ini, memanjakan Boboiboy dan membuat ku terus bahagia dengan sifat manis nya yang mungkin saja belum pernah di tunjukkan oleh siapapun.

Setelah Rika merampas darahku, aku merasa menjadi sangat pusing. sebenarnya ini tidak ada hubungan nya karena darah yang keluar paling sedikit hanyalah 5-6 tetes saja setelah itu darah nya mulai berhenti dengan sendirinya. dia memeluk ku dan membiarkan ku tertidur dalam dekapan nya, ada apa ini, kenapa rasanya begitu nyaman, hangat dan yang paling penting rasa ini seperti sedang berada di kamar dengan tidur di atas bantal yang empuk.

empuk? tunggu sebentar.

aku ini tidur di mana sih? ah, apa peduli ku. tapi samar-samar aku mendengar suara detak jantung dan juga suara jeritan kesedihan di ujung sana—meskipun samar sekali terdengar nya. jujur saja, aku merasa bersalah karena sudah mencurigai nya hanya karena dia mirip sekali dengan orang yang waktu itu kami temui. aku juga merasa telah bertanggung jawab atas sifat dingin teman-teman ku terhadap nya. mereka biasanya gak terlalu bersikap seperti itu pada orang baru, kecuali jika dia adalah kenalan Adu Du atau Adu Du itu sendiri.

"kyahh~ tidak. Boboiboy, geli. hentikan itu." kenapa Rika terdengar mendesah di sana? perasaan aku tidak melakukan apapun. tubuh nya tiba-tiba sampai memanas begini bahkan gemetar. karena aku penasaran, aku membuka mataku dan melihat apa yang terjadi.

kedua tangan ku dengan liar nya melakukan tindakan bejat terhadap nya. satu tangan ku sibuk meraba dan menyibak rok nya lalu masuk ke dalam. sedangkan tangan ku satunya lagi sibuk memegang dadanya dan meremas nya secara konstan. apa ini? apa yang sudah aku lakukan? apa aku sudah gila. beruntung nya kami berada di tempat yang sepi dan petugas perpus sedang sibuk dengan pekerjaannya yang lain jadi tidak ada yang menyadari tingkah ku di sini.

"HUAA!!! MAAFKAN AKU." aku terbangun dan duduk menjauh dari nya. kamu gila Boboiboy, bisa-bisa nya kamu tertidur di atas nya dan melecehkan nya seperti itu. lihat lah dia, dia hampir menangis dan wajah nya menjadi sangat merah tidak terkendali. kenapa ini, melihat nya seperti itu membuat ku merasa sangat panas sekali. seperti nya ada yang salah dengan diriku.

"Bo.. Boboiboy?" Rika menatap ku bingung, dia masih terengah-engah, wajah nya sedikit basah karena keringat juga terlihat ketakutan. entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang mendorong diriku dan malah mendekati nya lagi yang sudah duduk bersandar di tembok. dia merasa dirinya telah di sudut kan oleh ku dan pasrah tidak bisa menghindar dariku kali ini. melihat nya dalam jangkauan ku membuat ku makin dekat. ada banyak yang aku pikirkan, tapi untuk saat ini itu tidak lah penting. yang jelas, aku harus melakukan nya atau kesempatan ini akan pergi begitu saja.

aku mengecup bibir Rika, memberitahukan padanya kalau aku akan melakukan nya. setelah mengecup nya singkat, aku mendekatkan paksa wajah nya dan ku kecup kembali bibir itu. aku mulai mengulum lidahnya dengan lincah membuat Rika sedikit terkejut dan badan nya semakin gemetar. tangan ku sibuk meraba paha dan dada nya sekali lagi membuat desah nya tertahan karena bibir kami masih menyatu. satu menit beradu lidah, kami pun mengakhiri ciuman ini dengan nafas tersengal. wajah Rika makin memerah dan kerah baju bagian atas nya tidak sengaja terbuka dengan sendirinya. membuat sesuatu yang ada di balik nya menjadi terlihat di pandangan ku. setelah melihat itu, aku menelan ludah. spontan, aku menerkam tubuh Rika hingga jatuh ke bawah meja. aku menjilat liar leher dan dada nya, menyibak kembali rok nya dan meraba paha nya sampai ke atas.

"Boboiboy, tunggu. jangan di sini, ahhh~" aku menutup mulut nya dan tetap terus menjilat keringat nya yang mengalir di pangkal leher nya itu.

.

.

.

"Boboiboy, bangun. kita harus balik ke kelas. bel nya udah bunyi dari tadi. nanti kita bisa telat masuk kelas nya." aku mendengar suara orang yang memanggil ku, loh, bukan nya tadi aku hanya berdua dengan Rika di sini? apa kami ketahuan melakukan tindakan mesum di sekolah.

"waduh Boboiboy, kamu dengar aku gak sih?" kepala ku terasa di angkat oleh seseorang. perlahan aku membuka mataku. di depan ku ada Rika yang memegang kedua wajah ku dan menatap ku tajam. tunggu, apa itu tadi mimpi? yang itu artinya..

"AAAAAAAAA!!!" sial, aku malah bereaksi. aku kalau sudah dapat mimpi seperti itu biasanya akan ada yang bangun dalam diam. aku harus segera membereskan ini atau Rika bisa melihatnya.

"ah maaf, apa aku mengejutkan mu? kita harus balik boy, pelajaran sudah mau mulai." begitu lah yang di katakan nya. dia memang tidak menyadari hal itu, tapi aku harus segera menghindari nya dan membereskan cepat masalah ini. aku pun berdiri dan menutup hal memalukan ini. tanpa menjelaskan apapun, aku beranjak ingin pergi keluar dari perpus tapi Rika malah mencegah ku dengan menarik baju ku dari belakang.

"kita balik bareng lah boy, masa kamu mau ninggalin aku padahal kita sekelas?"

"so..sorry Rika. aku nak Pi tandas je kejap. kau Pi balek duluan je lah. cakap ke yang lain kalau aku bakal lambat sikit." setelah menjelaskan nya dan mencoba meyakinkan Rika, dia melepaskan genggaman nya. tapi sepertinya dia masih tidak mengerti dan tetap ngotot pengen menemaniku ke toilet. aku juga tetap ngotot dan akhirnya dia pun menyerah dengan sendirinya, berjalan berlalu menuju kelas. sedangkan aku, sedang panik. baru pertama kali nya aku melakukan ini jadi aku bingung akan memulai nya seperti apa dan bagaimana.