A/N : Minna-san~ Ini dia chapter 3-nya! Terimakasih atas review-review positifnya walau pair disini bukan kesukaan kalian. Maaf agak telat, padahal niatnya update Hari Minggu... Tapi, molor karena saya keasyikan main game dan baca manga-manga yang baru saya beli. Aaaargh! Saya pengin Inazuma Eleven volume 8 cepat terbiiiit! Soalnya ada hint pair fave saya di akhir volume 7! Oya, pada akhirnya ini menjadi 5 chapter. Gomenasai, gara-gara setelah baca ulang (untuk koreksi) saya dapat ide lagi... Fiuuh~ Sip, silakan dibaca!

Disclaimer : Inazuma Eleven bukan punya saya, lho? Kalau yang punya saya, bisa-bisa dapetin skor 99 – 0 di gamenya nggak butuh cheat!

Warning (s) : OOC (tapi kuusahakan in character, sih...), pair tak biasa (?), gaje, reaksi nyerempet ke lebay, shounen-ai yang nggak mesra (?), dan lain-lain. Buat yang nggak suka, boleh tidak baca~ (tapi kalau saya sarankan baca saja *plaak!*)


Bisa kita lihat, sekarang Mamoru sedang di pojok kamarnya. Buat readers yang menyimak dengan baik chapter sebelumnya, pasti tak perlu saya jelaskan lagi alasan mengapa mantan kapten tim Raimon itu sekarang berhasrat untuk membenturkan kepalanya ke dinding. Tapi, karena dia masih sadar diri untuk sayang nyawanya, Mamoru memutuskan untuk hanya pundung di pojokan.

'ENDOU MAMORU... APA YANG TADI TELAH KAU LAKUKAN, HAAAAH?'

Sumpah! Mamoru tidak tahu apa yang merasukinya tadi. Hanya orang beriman yang tahu mengapa Mamoru tadi bisa face to face dengan Shuuya dan dengan jarak yang aduhai. 'Apa-apaan juga kalimat super sensual (?) tadi? Aku nanti harus bilang apa ke Gouenji besok? April Mop? Maksa banget!'

Mamoru semakin terpuruk jika mengingat adegan tadi. 'Ah, tapi tadi Gouenji hampir saja akan makan biskuitnya... Coba kalau nggak ada Fuku-san, pasti aku tadi sudah... ARGH! ENDOU MAMORU, SEJAK KAPAN OTAKMU JADI MESUM BEGINI?'

Cowok berheadband orange itu mengambil nafas dalam-dalam. 'Fuuh... Tenang, tenang... Aku harus bisa bersikap biasa besok.'


= On Stage =

= Chapter 3 of 5 : On Stage =

= By : 4869fans-nikazemaru =


"Hmmm... Jadi, bagaimana kemarin, Endou?"

Melihat dua sosok orang langsung menghadangnya setelah latihan drama babak pertama hari ini, Mamoru rasanya ingin menghilang sekarang juga. 'Sial, aku lupa kalau ada 2 orang ini... Uuuh, gawat! Padahal awalnya aku mau bikin rencana buat kabur!' Karena nggak mungkin bisa lolos dari dua orang ini tanpa rencana matang yang telah lolos uji lab (?), Mamoru memilih untuk menyeritakan kejadian kemarin. Tentu saja reaksi sahabat-sahabatnya itu tidak bagus.

"Endou! Padahal kemarin itu kesempatan bagus! Kenapa malah kau sia-siakan, sih?" kata Kazemaru dengan ludah muncrat-muncrat saking keselnya atas ketidakjantanan sahabatnya itu. Mamoru langsung berlindung dibalik mantel Kidou. Dengan cool, Kidou menendang Mamoru keluar dari bawah mantel biru kesayangannya tersebut.

Kidou menghela nafas. "Ah, sudah kuduga begini hasilnya..." Ditatapnya Kazemaru. "Kazemaru, memang harus kita lakukan 'itu'."

Kazemaru menggaruk kepalanya lalu mengangguk. "Iya, nih..."

Mamoru bengong. "Haah? Itu apaan?"

"Ufufufu, lihat saja nanti," kata Kazemaru.

"Minna! Ini onigirinya!" seru Aki sambil membawa senampan besar onigiri. Dibelakangnya Aki ada beberapa anak cewek yang juga membawa nampan. Kedatangan mereka disambut meriah oleh para anak cowok. Tapi, Natsumi langsung menghadangnya dan menyuruh mereka untuk antre. Setelah mengambil jatahnya, para anak cowok yang kelaparan itu langsung kembali ke aktifitas mereka sebelumnya sambil sesekali melahap onigiri di tangannya.

"Gouenji, kita latihan bagian ini," ucap Kidou kepada Shuuya baru saja mengambil onigiri bagiannya.

"Baiklah, aku juga belum begitu bagus bagian itu," kata Shuuya sambil membuka buku naskahnya. Buru-buru dia habiskan onigiri di tangannya. Karena terburu-buru, beberapa butiran nasi tertinggal di salah satu sudut bibirnya.

"Tunggu, Gouenji. Ada nasi di bibirmu," celetuk Kidou. Malu, Shuuya segera mengusap bibirnya dengan lengan baju. Tapi, kurang bersih. "Ah, masih ada sisa. Sini biar kubersihkan." Telunjuk Kidou menyeka bibir Shuuya. Lalu sisa-sisa nasi dari sudut bibir Shuuya yang sekarang menempel dijarinya, ia makan. "Hmm, onigirinya enak ya..." komentar game-maker itu sambil tersenyum licik ke arah Mamoru yang sedari tadi memperhatikan dengan tampang ingin bunuh orang.

"...!" Mamoru nyaris merobek naskah dramanya karena melihat adegan tak senonoh (?) itu. 'A-apa-apaan si Kidou tadi? Berani-beraninya... Berani-beraninya dia makan sisa nasi di bibir Gouenji! Aaaargh! Sial! Jadi, nggak bisa konsentrasi hafalan dialog! NGAPAIN JUGA DIA PAKAI NGASIH TAMPANG LICIK BEGITU!'

"Ah, iya, onigirinya memang enak. Katanya hari ini mereka membuatnya dengan beras mahal yang dibelikan Natsumi... Kau belum memakan onigirimu ya, Kidou?" balas Shuuya dengan innocent. Yah, memang apa yang dilakukan Kidou tadi tidak terlalu aneh baginya. Sebab dia juga sering begitu saat adiknya belepotan krim kue.

"Aku belum lapar."

"Ooh..."

Kazemaru, yang sekarang sedang latihan dialog dengan Mamoru, ikutan tersenyum licik. 'Hee... Bagus juga cara Kidou buat memancing kecemburuan Endou. Ok, aku juga nggak akan kalah.'

Natsumi menepuk tangannya dua kali. "Ayo, ayo. Kita mulai latihan lagi! Mulai dari awal!"

Sebelum berjalan ke samping panggung, Shuuya meraih botol minumnya lalu meneguk air putih di dalamnya. Tenggorokannya yang sedikit kering menjadi segar kembali. Kazemaru menghampirinya sambil memastikan bahwa Mamoru melihat aksinya. "Gouenji, aku minta minummu ya! Minumku habis."

Shuuya mengangguk kecil lalu menyerahkan botol minumnya ke Kazemaru. Sejenak sebelum menegak air dari botol itu, Kazemaru melempar seringaian penuh kemenangan ke Mamoru. Secara, itu 'kan bisa dibilang ciuman secara tidak langsung. Dengan sekuat tenaga, Mamoru menahan dirinya yang sudah berhasrat mengeluarkan Fist of Justice ke wajah Kazemaru. Bisa dilihat betapa keras usahanya menahan diri dari dahsyatnya tangan Mamoru yang terus gemetar sambil meremas buku naskah. Mulutnya mengatup rapat-rapat.

Kidou tersenyum licik melihat Kazemaru. 'Hoo... Bagus, bagus... Dengan begini, Endou pasti bakal terpancing.'


"Ke kanan dikit... Terus-terus... Sip!"

Someoka akhirnya memasang properti awan ke dinding. Setelah pas, ia turun ke bawah. "Huff, dengan begini selesai sudah tugas tim properti dan dekorasi!" katanya. Dia melirik ketua tim dekorasi, Handa. "Tapi, kenapa harus aku yang masang properti awan ini? Harusnya 'kan tugas tim dekorasi!"

"Maaf, maaf! Habisnya di tim dekorasi nggak ada yang tinggi! Lagipula untuk posisi awannya nggak bisa dijangkau kami walau sudah pakai tangga terpanjang yang ada," kata Handa sambil nyengir. Dia menatap Natsumi. "Natsumi, ini sudah cukup, kan?"

Natsumi mengamati sekali lagi. "Hmm, sepertinya sudah. Sekarang kita latihan pakai properti."

"Wuah, pedangnya kereeeen! Kayak beneran!" kata Mamoru saat mengamati properti pedangnya. Kazemaru mengangguk setuju kepada Mamoru.

Kazuto, adik kembar Megane Kakeru, menyeringai puas. "Ufufufu, tentu saja. Begituan, mah, keciiiiil!" ucapnya bangga. Hmm, sepertinya ada bakat untuk bikin properti cosplay tokusatsu, nih!

Natsumi duduk. "Oke, kita coba latihan tanpa teks! Kazemaru-kun, Endou-kun, dan Kidou-kun segera bersiap dengan properti! Kita mulai dari adegan pertarungan." Gadis berambut cokelat itu melirik bagian lighting yang ada di atas. "Lighting, lakukan sebaik yang tadi! Siap. 3, 2, 1!"

Kazemaru dengan gagah masuk ke panggung. Ia melihat ke sekeliling dengan wajah kaget sebelum menatap ke arah Kidou. "I-ini...! Kau yang melakukan semua ini, Jude?"

Dengan wajah angkuh dan dagu terangkat, Kidou mengucapkan dialog bagiannya. "Huh, memangnya mengapa dengan hal itu? Kau keberatan, Tuan Nathan? Ah, maaf..." Seringaian muncul di wajah Kidou. "... sekarang kau adalah putra mahkota kerajaan Lightning Gate, kan? Fuh, padahal statusmu hanya anak dari seorang selir. Kau beruntung sekali karena kakak-kakakmu tewas dalam perang."

Mamoru menyeruak maju. "Hei, tutup mulutmu, Jude!"

Tangan Kazemaru langsung menghalangi tangan kanan Mamoru yang akan menarik pedangnya. "Tenang, Mark... Dia hanya memancing amarah kita."

"Ya, lebih baik hentikan saja. Kalian juga tidak mungkin mengalahkanku," ujar Kidou dingin.

"Sebenarnya, apa maumu?" geram Kazemaru.

"Mauku? Jelas kemauanku sama dengan kemauan pria yang lain." Kidou mengangkat kedua tangannya ke langit. "Kekayaan, kejayaan, kemenangan, jabatan, dan tentu saja... wanita..."

Tangan Kazemaru langsung meraih pedang di pinggangnya. Habis sudah kesabarannya. "JANGAN PERLAKUKAN PUTRI SEAKAN DIA BARANG! AYO, MARK!"

"Baik, Tuan!"

Kidou mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Kazemaru dan Mamoru. "Hah! Kalian pikir kalian bisa-"

GABRUUUK!

"-mengalahkan...ku...?"

Kidou dan Kazemaru terbengong melihat Mamoru yang sekarang wajahnya sudah mencium panggung dengan begitu oh-so-sweet. Seketika itu, aula menjadi hening. Tapi, dengan sigap, sutradara mereka segera memecahkan keheningan yang disebabkan oleh hal tak elite itu. "CUUUT! Endou-kun! Mana ada pengawal yang terserempet kakinya sendiri?" seru Natsumi. Kalau tidak karena ia seorang lady, pastilah Natsumi sekarang sudah nyakar-nyakar wajah Mamoru hingga tidak dikenali lagi.

"Pa-padahal tadi sudah bagus sekali..." komentar Max dengan sweatdrop besar di atas kepalanya.

"Oi, oi, yang serius, dong! Tinggal 3 hari lagi, lho!" kata Someoka.

Mamoru nyengir kuda. 'Uhh, gara-gara Kidou dan Kazemaru... Aku jadi kepikiran terus!' batinnya sambil melirik Shuuya yang tengah latihan dialognya dengan Fuyuka di salah satu sudut aula.

Natsumi menghela nafas. "Baiklah, kuputuskan bahwa mulai hari ini kita menginap di sekolah untuk latihan. Nah, selesai istirahat siang nanti, kalian boleh pulang untuk membawa perlengkapan menginap. Jangan lupa untuk minta izin orang tua kalian."

"Yaaaa..."


"Akhirnya, Pangeran Nathan dan Putri Axel menikah dan hidup bahagia selamanya..."

Terdengar suara tepuk tangan bergemuruh di aula setelah narasi terakhir dibacakan Megane. Natsumi dengan senyum puas menyambut Kazemaru dan Shuuya yang baru saja menundukkan badan. "Bagus! Ini sudah 100%! Baiklah, dengan begini kegiatan latihan drama dan Gladi Bersih selesai!"

Kazemaru dan Shuuya langsung terduduk di atas panggung. Kelelahan. Selama 3 hari ini kegiatan mereka hanyalah latihan drama. Setiap kesempatan selalu dipakai untuk latihan drama. Sudah 2 hari 3 malam mereka menginap di aula sekolah untuk kebut selesaikan drama. Tak terasa sekarang sudah hari terakhir sebelum mereka pentas. Secara logis, tentu diadakan gladi bersih alias latihan drama terakhir.

Aki tersenyum lega setelah menyerahkan botol berisi air untuk Kazemaru dan Shuuya. "Untung masih keburu ya..."

Kidou mengangguk. "Iya, kita harus terus mempertahankannya seperti ini sampai pentas nanti."

"Setelah ini kalian pulang dan istirahat. Jangan melakukan banyak aktifitas yang tidak perlu. Kalian harus fit untuk pentas besok!" kata Natsumi.

Kazemaru teringat sesuatu. "Ah, iya... Kita nggak fitting kostum dulu?"

"Fittingnya besok saja. Yang lebih penting kalian hari ini harus istirahat. Makanya besok tolong datang pagi-pagi sekali." Natsumi menepuk tangannya. "Ok, sekarang kita bereskan aula lalu lekas pulang. Sebab sebentar lagi kursi penonton akan di masukkan dan di tata di aula."

"Endou, jangan demam panggung, lho, besok!" sindir Someoka. Mamoru nyengir. Ya, kapten sepak bola Raimon yang terkenal supel dan senang bertemu orang baru itu paling payah kalau berhadapan dengan orang banyak untuk hal selain sepak bola. Apalagi kalau dihadapkan sorotan kamera dan wartawan! Langsung menciut, deh!

"Ahahaha! Ingat, nggak, pas kita dulu diwawancarai oleh reporter TV setelah menang FFI? Endou sampai gagap, kan?" kata Kazemaru.

"Iya, tuh! Kelihatan banget kakinya gemetaran heboh di TV!" imbuh Handa yang lantas disambung dengan gelak tawa seluruh anak di situ. Tanpa menghiraukan teriakan Mamoru, mereka tetap membicarakan hal itu hingga selesai beres-beres. Setelah selesai, Kidou dan Natsumi langsung menyuruh mereka pulang karena sebuah truk telah parkir di aula dengan kursi-kursi di baknya.

Dengan sigap, Natsumi (dibantu oleh Kidou) menerangkan bagaimana urutan kursi penontonnya kepada petugas-petugas yang turun dari truk. Sambil menununggu petugas bekerja, Kidou membuka pembicaraan. "Besok ya..." gumamnya.

Natsumi melirik Kidou lalu menghela nafas. "Ah, benar juga. Tapi, benarkah 'mereka' akan bergerak saat itu?"

"Tidak salah lagi... Kami sudah memastikannya," ucap Kidou.

"Keluarga Kagemori..." ucap Natsumi. "Hal apa yang dilakukan ayah sampai ada kejadian seperti ini?"

Kidou menggeleng. "Entahlah. Kami juga belum menemukan alasan detailnya yang pasti. Hanya hal itu yang kami dapatkan sekarang. Karenanya, kau harus terus berhati-hati. Ada kemungkinan mereka saat ini mengintai dan mencari celah untuk mencapai tujuan mereka." Tak sengaja, Kidou melirik jam di aula. "Ah, sudah jam segini. Aku ada janji makan siang dengan Haruna."

"Kau kesana saja. Aku tidak apa-apa mengurus ini sendiri," kata Natsumi dengan senyum. Kidou pamit sekaligus meminta maaf kepada Natsumi sebelum meninggalkan aula. Sepeninggal Kidou, kepala Natsumi mendongak ke langit-langit aula. Menerawang. 'Menuntut balas dan merebut kembali apa yang diambil dari mereka...' Dahi gadis itu sedikit berkerut. '...memangnya apa yang ingin mereka ambil kembali dari keluarga kami? Apa yang telah kami lakukan dengan pembunuh bayaran seperti mereka?'


Seorang remaja dengan headband orange menghela nafas panjang. Lagi-lagi ia harus pulang sendiri hari ini. 'Aaah, sepinya... Sudah capek latihan, nggak ada teman ngobrol pula... Kazemaru ada janji dengan Miyasaka. Gouenji ingin melihat stand Toramaru... Aaah~ Harusnya tadi aku ikutan lihat-lihat stand dengan Gouenji ya...' Dia melirik jam di salah satu toko yang ia lewati. "Masih jam segini... Main ke tower, ah. Lama juga nggak mampir kesana," gumam Mamoru.

Beberapa saat berjalan, Mamoru sampai ke tempat favoritnya untuk latihan hissatsu itu. Mamoru berdiri di samping pagar sambil menikmati pemandangan kota Raimon pada siang hari. 'Gouenji ya... Ah, apa memang harus segera kuutarakan? Aku...' Cowok itu membuang nafas berat. 'Aku bukannya takut ditolak... Tapi, aku tidak ingin gara-gara hal ini Gouenji menjadi berubah. Asal selalu dengan Gouenji... Bukan, asal bisa melihat senyum Gouenji dari kejauhan saja, rasanya aku sudah sangat lega dan senang. Dia sudah menghadapi banyak masalah berat. Jauh lebih berat dari masalahku. Dia pantas untuk merasakan kebahagian lebih dari siapapun...'

Duk...

SYUUUUT!

"!" Reflek goalkeeper Mamoru langsung keluar. Dengan cepat dia menangkap tendangan keras yang melayang ke arahnya itu. 'Kuatnya... Tendangan ini...'

"Sudah kuduga kamu disini, Endou," ucap si penendang bola itu dengan tenang.

"Gouenji! Kupikir siapa!" kata Mamoru. "Katanya mau ngobrol sama Toramaru?"

Shuuya tersenyum. "Memang, tapi kulihat dia sibuk sekali sebagai panitia bazaar. Jadi, aku putuskan untuk pulang. Eh, ternyata ada yang sedang galau disini saat aku lewat..."

"Ha-hah? A-aku nggak galau, kok!" bantah Mamoru.

"Nggak galau apanya? Kelihatan jelas dari jauh, tahu! Memang ada masalah apa, sih? Soal tampil di hadapan banyak penonton besok?"

Mamoru nyengir. "Yaaah, itu juga salah satunya, sih..."

"Salah satunya? Berarti ada alasan lain? Apa itu, Endou?"

"Umm, maaf, nggak bisa kuutarakan sekarang..." kata Mamoru. 'Ya kamu itu alasannya, Gouenji!'

Shuuya mengangguk paham. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu mengatakannya." Cowok itu mengambil bola sepak yang baru saja ia tendang. "Nah, mau main sebentar? Siapa tahu nanti perasaanmu lebih lega. Kamu pasti suntuk, kan, karena lama tidak main sepak bola yang sangat kamu suka?"

"Ah! Benar juga. Arigatou, Gouenji!"

Shuuya dan Mamoru mulai memainkan bola itu. Menggiringnya. Melakukan feint. Terkadang oper-mengoper. Menendang. Bahkan sesekali menggunakan hissatsu andalan mereka. Mereka sangat asyik memainkan bola itu hingga tidak terasa, peluh mulai menetes dari dahi mereka. Mengetahuinya, mereka segera berhenti bermain. Walau sebenarnya masih ingin bermain, tapi mereka tidak ingin penampilan mereka besok mengecewakan karena tadi sudah diingatkan untuk tidak boleh terlalu lelah.

"Huuuuf! Kangennya! Lama juga nggak main bola ya!" seru Mamoru sembari beristirahat dan minum minuman yang baru saja ia beli bersama Shuuya. Akhirnya Mamori menyadari bahwa dari tadi Shuuya tersenyum ke arahnya. "Ng? Ada apa, Gouenji?"

"Hmm? Tidak, kok. Hanya saja... akhirnya kau balik lagi jadi 'Endou' yang biasanya..." kata ace striker itu sambil tetap tersenyum.

Mamoru rasanya salting dihadiahi senyum seperti itu oleh Shuuya. Untuk menutupinya, Mamoru langsung berbicara sekenanya. "Ehehehehe! Yaah, mungkin karena suntuk latihan drama terus ya..." Tak sengaja Mamoru melihat sesuatu jatuh dari tas Shuuya lalu segera mengambilnya. "Ah, dompetmu jatuh, nih, Gouenji. Ngg? Gouenji, ini foto ibumu ya? Kalau nggak salah, di meja belajarmu juga ada foto wanita ini."

Shuuya mengangguk. "Iya, Yuuka yang menaruhnya di dompetku. Katanya agar ibu bisa selalu menjagaku."

"Hee? Tapi, ibu Gouenji cantik ya! Kelihatan baiiik banget..." puji Mamoru.

Senyum kecil muncul di wajah Shuuya. "Benarkah? Arigatou..."

Mamoru mengelus dagunya. "Hmmm... Berarti Gouenji itu mirip ayah ya..."

"Memang. Makanya wajahku sama galaknya seperti wajah ayah... Mungkin besar nanti aku juga akan berkulit gelap seperti ayah," kata Shuuya sambil tertawa kecil.

"Eeeh? Aku tidak berpikiran seperti itu, kok. Tampangmu nggak galak, kok! Kamu itu lebih cocok disebut... mmm..." Mamoru bingung mau ngomong apa. '... mau bilang lebih cocok disebut manis... Tapi, kok, rasanya gimana gitu ya...?'

"? Lebih cocok apa, Endou?"

"Umm..."

"Hei! Ayo, bilang!"

"Nggg... Ngggg... Le-lebih cocok dibilang manis..."

Raut wajah Shuuya sedikit heran. "Eh? Manis? Kenapa begitu?"

Sebelum Mamoru mati gaya karena bingung mau balas bagaimana, terdengar suara gemuruh di langit disusul dengan hujan yang mulai turun. Shuuya dan Mamoru segera berlari mencari tempat berteduh, yaitu dibawah pohon. "Yaaah, hujan... Tapi, kayaknya nggak lama, sih..." kata Mamoru.

Karena sempit, mau tak mau Shuuya dan Mamoru berteduh dengan berhimpitan. Sambil menunggu hujan reda, mereka menatap ke arah langit. "Tak terasa sebentar lagi kita SMA..." kata Shuuya.

"SMA... Seperti apa ya nanti?" gumam Mamoru.

"Pasti banyak lawan kuat."

"Semoga kita nanti bisa tetap satu sekolah ya." Mamoru tersenyum. "Kita 'kan sudah janji kalau kamu yang akan mencetak skor dan aku yang akan melindungi gawangnya."

"Aku juga berharap begitu. Dan kita bisa terus begitu..."

Mamoru menatap wajah Shuuya yang terlihat sangat berharap dengan kalimat yang baru ia ucapkan. Tanpa Mamoru sadari, tangan kanannya sudah bergerak perlahan menggenggam tangan kiri Shuuya. Merasakan adanya temperatur yang lebih hangat dari miliknya, Shuuya menoleh. Wajah Mamoru lagi-lagi tinggal beberapa cm dari wajahnya. 'Perasaan ini... sama seperti 4 hari yang lalu...' batin Shuuya.

'Mungkin, memang harus kuutarakan hari ini...' pikir Mamoru saat tangan kirinya telah merangkul tubuh Shuuya. "Gouenji... Aku..." Mamoru mengambil nafas sejenak sebelum mendekatkan bibirnya ke telinga kanan pujaan hatinya itu. "...aku menyukaimu... lebih dari teman..."

Mata Shuuya membulat. "E-Endou... ka-kamu... serius...?" Sebuah pelukan yang lebih erat menjawab pertanyaan Shuuya. Shuuya tak kuasa untuk pergi dari pelukan hangat itu. 'Seharusnya aku melepaskan pelukan ini... tapi, mengapa... aku tidak sanggup...?' Perlahan pelukan itu sedikit merenggang sebelum wajah Shuuya kembali beradu dengan wajah Mamoru.

'He-hentikan, Mamoru... Apa... yang... kulakukan?' bisik Mamoru kepada dirinya sendiri yang sekarang mengangkat dagu Shuuya dan mendekatkan bibir si pemilik dagu mendekat ke bibirnya.

Sret...

"Endou, maaf..." bisik Shuuya setelah menghentikan tangan kanan Mamoru yang sedari tadi membimbing wajahnya untuk mendekati wajah pemiliknya. Ia membuang wajahnya ke arah lain. "...beri aku... waktu untuk berpikir..."

Mamoru hanya bisa terpaku saat Shuuya akhirnya beranjak dan berlari menerjang hujan setelah mengucapkan kalimat itu. Seketika Mamoru terkulai lemas setelah melancarkan beberapa head bang yang fantastis ke pohon.

"AAAAAAAARGH! APA YANG KULAKUKAAAAAN?"

Sementara itu, Shuuya terus berlari tanpa memperdulikan seragamnya yang telah basah kuyup karena air hujan. Tak lama ia berhenti untuk berteduh disebuah toko bersama beberapa orang. Sambil memeluk tubuhnya yang sedikit kedinginan, ia terus melihat ke arah langit yang mendung. Tak sengaja ia melihat sepasang kekasih yang sedang kasmaran lewat di hadapannya lalu ikut berteduh di sampingnya. Si cowok merelakan jaketnya sebagai pelindung sang gadis dari hujan. Sang gadis langsung mengeluarkan sapu tangannya untuk mengusap wajah kekasihnya yang basah akibat hujan. Suatu pemandangan yang sebenarnya sangat membuat iri Shuuya.

'Endou...'


"Onii-chan! Bagaimana dramanya?"

Lelaki dengan google itu tersenyum. "Sudah 100%, kok. Bagaimana standmu, Haruna?"

Gadis berambut gelombang pendek itu mengacungkan jarinya. "Sudah 88%! Sebentar lagi juga selesai. Umm, tapi, masih agak sibuk juga, sih..."

Kidou tersenyum. "Ya sudah, kamu selesaikan saja dulu. Aku tungggu."

"Yaaah! Jangan, Onii-chan... Onii-chan 'kan besok tampil. Harus cepat makan siang lalu istirahat. Pasti Onii-chan lelah sekali karena sudah 3 hari latihan drama full. Makan siang kita dibatalkan saja. Maaf ya, Onii-chan. Aku nggak ingin Onii-chan sakit. Apalagi sedang hujan begini..."

"Baiklah. Kamu hati-hati ya," kata Kidou sebelum berjalan menuju ke bangunan sekolah untuk berteduh dan mengambil payung yang selalu ia simpan di loker. Disana dia berpapasan dengan Kazemaru. "Lho? Belum pulang?"

"Belum, tadi aku ada janji dengan Miyasaka. Sekarang baru mau pulang, eeh, hujan..." terang Kazemaru dengan senyum kaku.

"Ya sudah, kamu saja yang pakai payungku. Biar aku minta dijemput mobil."

Kazemaru buru-buru menolak. "Eits, nggak usah! Kutunggu saja sampai reda. Nggak lama, kok, biasanya!" Kemudian Kazemaru terdiam sejenak. "Umm, Kidou, bisa bicara sebentar?"

"Apa?"

"Sepertinya kau sedang ada masalah ya? Ehm, maaf, tadi nggak sengaja aku... mmm, mencuri dengar pembicaraanmu dengan Natsumi..."

Kidou menghela nafas. "Fuuh, yah, begitulah. Tapi, tolong kau jangan beritahu yang lain ya? Aku tidak ingin festival besok kacau."

Kazemaru mengangguk-angguk. "Aku memang kurang tahu bagaimana detail masalah yang kau hadapi dengan Natsumi. Tapi, baiklah. Aku akan tutup mulut. Sebelum itu, sepertinya masalahmu bukan itu saja, deh, Kidou."

Kini Kidou yang terheran. "Ah? Benarkah? Masalah apa? Kurasa saat ini hanya masalah itu saja yang ku miliki."

"Bagaimana bilangnya ya...?" gumam Kazemaru. "Ini sebenarnya hanya dugaanku saja, sih. Jadi, maaf kalau salah. Umm, Kidou, apa kamu sebenarnya... juga menyukai Gouenji?"

Deg...

Reaksi Kidou yang menjadi terdiam itu membuat Kazemaru semakin berani untuk menguatkan hipotesanya. "Reaksimu saat Endou bilang bahwa dia menyukai Gouenji, itu bukanlah reaksi seseorang yang kaget karena sahabatnya berkata kalau ia mencintai salah satu sahabatnya yang berkelamin sama... Tapi, reaksimu adalah reaksi seseorang yang kaget karena mengetahui sahabatnya menyukai orang yang sama."

Kazemaru, kau kedengaran sudah berpengalaman sekali soal beginian ya... Sudah punya pengalaman bercinta, nih?

"Memang sudah tidak bisa kukelabui lagi ya?" ucap Kidou. "Padahal kupikir selama ini bisa kusembunyikan dengan baik."

"Terlihat dari gap yang terjadi akhir-akhir ini. Kau yang biasanya akrab dengan Gouenji menjadi sedikit memberi jarak setelah pengakuan Endou..." Perlahan Kazemaru memegang bahu Kidou. "Kidou, jangan bilang kalau kau sudah melepas Gouenji demi Endou!"

"Ya. Endou lebih pantas mendampingi Gouenji daripada aku. Fuuh, sekalipun tak pernah aku berhasil membahagiakan Gouenji disaat ia down. Malah, aku yang selalu ditolongnya..." kata Kidou sambil mengenang masa lalu. 'Karena Gouenji... Aku bisa seperti sekarang...' Masih terbayang jelas ingatannya saat ia dan Shuuya saling mengoper bola sehari sebelum pertandingan Raimon melawan Senbayama. Ia yang awalnya sudah menyerah dengan keadaan, menjadi memiliki sedikit harapan dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke SMP Raimon. Lalu pada masa baru mengenal pelatih Kudou. Ia yang mengeluh, akhirnya terdiam karena ucapan tenang dari Shuuya. Ia mulai mencoba menerima pelatih Kudou sebagai pelatih mereka.

Kazemaru menghela nafas. 'Benar-benar ciri khas Kidou... Lebih mementingkan sahabatnya daripada kepentingannya sendiri...' batinnya. "...kau tidak apa-apa dengan hal ini?"

"Tidak apa-apa. Asal bisa melihat Gouenji bahagia, aku tidak masalah harus melepasnya dengan orang lain..." gumam Kidou sambil tersenyum kecil.

'Sebenarnya, aku tidak suka dengan orang yang mudah menyerah soal cinta. Harusnya Kidou tidak menyerah secepat itu. Siapa tahu, kan, Gouenji malah menyukai dia? Tapi, niat Kidou baik sekali...' Senyum juga mulai menghiasi wajah Kazemaru. "Kau benar-benar sahabat yang baik, Kidou..."


Seseorang sedang berdiri sambil memegang payungnya. Matanya terkunci ke gedung sekolah SMP Raimon dan kesibukan para muridnya dibawah rundungan hujan itu. Dikeluarkannya HP dari sakunya. Dipencetnya beberapa tombol sebelum membawanya mendekat ke telinga.

"Besok, kita benar-benar akan melaksanakan rencana itu... Ya, jangan sampai gagal." Wajahnya dengan penuh kebencian menatap gedung itu. "...lihat saja nanti, Raimon..."


= TO BE CONTINUE =


Nyaa, balas review lagi buat yang tidak bisa di PM. Bagi yang bisa, silakan check inbox masing-masing

Aya : Eh, mulai suka? Ufufufu, virus uke!Shuuya saya kayaknya bisa menular, nih... *dicekik* Nyaaaa~ Karena yang bikin saya, sepertinya nggak mungkin tiba-tiba bisa Kazemaru yang jadi putri~ Sesekali juga, dong, Mamoru saya bikin agresif. Biasanya 'kan dia dibikin innocent dan polos banget. Biar sensasinya beda (?). Wow, problem yang sangat mirip dengan saya. Modem saya sering langsung disconnect sendiri setiap saya klik send review. Jadinya, buat review 1 fanfic, saya bisa retry terus sampai 5 kali baru mau terkirim! Buseeet, ditakdirkan menjadi silent reader sejatikah saya? *pundung* Aih, saya sudah baca, lho~ *promosi* Tapi, karena problem tadi, umm, maaf nggak bisa review... Terimakasih atas reviewnya!


Terimakasih telah membaca! Silakan yang berkenan untuk mereview... Sampai jumpa di chapter selanjutnya!