A/N : Maaf updatenya kali ini agak telat, fiuuuh... Badai ulangan, euy! . Trus diselingi tuntutan buat segera menyelesaikan tugas bikin robot, KIR, dan masih ditambah sama latihan drama! Aaaah! Jadi nggak sempat buka laptop! Yah, sudah, deh. Sip, ini chapter yang kalian nantikan. Umm, mungkin chapter terakhirnya akan update setelah saya selesai ulangan kenaikan. Bisa dibilang, ini update terakhir saya sebelum ulangan. Selamat membaca!

Disclaimer : Bukan, bukan punyaku, kok... Kalau punyaku, endingnya Tachimukai ngelamar Haruna di Inazuma Eleven GO.

Warning (s) : Mungkin ada yang OOC (tapi kuusahakan in character, sih...), pair tak biasa (?), gaje, reaksi nyerempet ke lebay, shounen-ai yang nggak mesra (?), dan lain-lain. Buat yang nggak suka, boleh tidak baca~ (tapi kalau saya sarankan baca saja *plaak!*)


Festival! Seperti festival pada umumnya, pastilah ramai akan pengunjung. Apalagi bila itu adalah festival sekolah yang dibuka untuk umum dan sekolah itu sedang tenar-tenarnya seperti SMP Raimon. Bisa dilihat dari pagi-pagi sekolah sudah ramai. Ada anak kelas 1 dan 2 yang sibuk merapikan hiasan stand mereka yang sempat kotor akibat hujan kemarin. Ada yang sibuk menyiapkan kostum. Ada para panitia bazaar yang sibuk keliling sana-sini untuk melihat kesiapan semua stand. Ada juga yang gotong royong membawa kardus berisi bahan makanan karena standnya adalah stand makanan. Pokoknya semua sibuk mengurus stand!

Berkat Toramaru, sebelum bazaar dibuka, ada beberapa orang luar yang bisa masuk ke SMP Raimon. Mengapa Toramaru mengijinkan mereka masuk? Ooh, jelas karena mereka adalah orang spesial yang sangat bersemangat menanti penampilan Mamoru, dkk.

"Nggak apa-apa, nih, kami masuk sebelum resmi dibuka, Toramaru-kun?" tanya cowok berambut lavender agak berdiri.

Toramaru mengacungkan jempolnya. "Nggak apa-apa, Fubuki-san! Aku tadi saja malah diminta Natsumi-san untuk mengantar kalian ke backstage kalau sudah datang."

"Heee? Kita jadi seperti tamu kehormatan begitu ya?" celetuk seorang cowok berkulit hitam dengan rambut pink sambil cengar-cengir.

"Jangan-jangan kita malah sudah diberi kursi VVIP? Ushishishi!" ujar seorang cowok pendek berambut biru.

"Iya, VVIP. Lihatnya diatas panggung," sindir Fudou.

Ya, demi rasa penasaran mereka dengan drama yang diperankan Mamoru, dkk. para anggota tim Inazuma Japan yang lain rela untuk menghabiskan waktu santai mereka ke Raimon. Mereka adalah Tachimukai, Tsunami, Fubuki, Fudou, Sakuma, Hiroto, Midorikawa, Kogure, dan Hijikata. Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat menuju Raimon demi bisa melihat ke backstage. Beberapa dari mereka sampai tidak sempat sarapan. Untung saja, sih, tadi Sakuma bermurah hati menawarkan tumpangan mobil menuju Raimon dan di dalam mobil ada berbagai snack untuk mengganjal perut.

"Aaaah! Kalian sudah datang ternyata! Sini! Sini!" teriak Mamoru yang sudah stand by di depan aula dengan kostum pengawalnya. Cengiran menghias wajahnya.

"Waaaah... Kostumnya kereeeen!" puji Tachimukai sambil mengamati lebih dekat kostum Mamoru yang memang sangat keren itu.

Midorikawa nyengir. "Yaaah, supported by Kidou Corp. gitu, loooh!"

"Menurutku biasa saja. Tapi, memang lumayan, sih," ucap Fudou yang disambung anggukan Sakuma. Semuanya langsung sweatdrop. 'Ya iyalah! Bagi anak Teikoku yang elite dan kaya, beginian, mah, memang hal biasa! Dasar! Memang kembarannya Ouran High School!' batin mereka.

"Yuk, lihat ke Kazemaru! Tadi kalau nggak salah udah mau selesai fitting..." ajak Mamoru. Para tamu itu langsung mengikuti Mamoru masuk aula. Toramaru langsung balik ke urusannya sebagai panitia. Tapi, Mamoru telah membuatnya untuk berjanji bahwa nanti setelah urusannya selesai akan balik lagi. Mamoru kembali memandu teman-temannya itu ke backstage. Setelah dihadang oleh beberapa fans, akhirnya sampai juga. Di sana sudah ada Kidou dengan kostum penyihirnya yang begitu... Entah mengapa, begitu cocok...? Apalagi dengan google kesayangannya yang dilepas itu. Sepasang bola mata berwarna merah sangat match dengan jubah hitam yang dipakai game maker jenius tersebut.

"Feel darknya kerasa banget, lho, Kidou," kata Tsunami.

Kidou tersenyum. "Thanks."

"JREEEENG!" seru seseorang yang baru saja melompat dari balik dinding.

"WOOOW! KAZEMARU-KUN KEREEEEN!" puji Fubuki yang langsung mendekati cowok dengan rambut di kuncir kuda itu. "Kostumnya cocok banget!"

"Ufufufu, terima kasih," kata Kazemaru senang.

Someoka kaget. "Astaga. Kazemaru, ternyata elo cocok juga ya jadi pangeran..."

Senyum puas menghias wajah Kazemaru. "Hah! Makanya! Sudah kubilang, kan? Bagian mana dari diriku yang pantas jadi putri?"

"Hmm, padahal awalnya aku juga berpikir kalau lebih baik peranmu dan Gouenji ditukar saja... Eh, ternyata kamunya keren banget dipakaikan kostum pangeran begini," komentar Tsunami sambil mengamati kostum pangeran Kazemaru lebih dekat. Kostum pangeran itu memang sangat cocok dengan wajah dan ponytailnya Kazemaru. Apalagi dengan mantel yang menjadi hiasan tambahannya lalu sebilah pedang di pinggang kiri. Tinggal diberi kuda putih, para cewek pasti langsung antre minta dilamar.

"Iya juga ya~" gumam Midorikawa. "Apa Gouenji perlu di make up habis-habisan?"

Hiroto celingak-celinguk. "Eeeh, tapi ngomong-ngomong Gouenji-kun mana?"

"Mungkin masih dirias," jawab Kazemaru.

"Tapi, pastinya sudah selesai. Gouenji 'kan sudah dari tadi dibawa (baca : diseret) Natsumi untuk fitting," kata Kidou meralat Kazemaru. Karena tatapan memohon dari para tamu, Kidou akhirnya mengantar mereka ke 'ruang khusus' untuk fitting dan rias Shuuya. Kidou langsung meraih kenop pintu itu dan memutarnya.

Cklek.


= On Stage =

= Chapter 4 of 5 : Action =

= By : 4869fans-nikazemaru =


Hening.

Ah, tidak hening, sih...

Para tokoh favorit kita ini semua terlalu shock untuk berbicara walau pemandangan dihadapan mereka sangat layak untuk dicerca dengan berbagai komentar dari komentar manis, asem, asin, dan nano-nano ramai rasanya (ujungnya, kok, ngiklan?). Tapi, tak satupun dari mereka berhasil menemukan kembali suara dan akal sehat mereka akibat pemandangan itu. Tidak ada hal logis (?) yang bisa mendeskripsikannya.

Di tengah ruangan telah berdiri seorang gadis manis berambut gelombang warna putih sedikit cokelatan yang tergerai sampai pinggang kecilnya. Mahkota indah tersemat rapi di rambut indah itu. Gaun panjang berwarna putih itu memang menambah kesan manis kepada pemakainya yang berkulit sedikit gelap. Sebuah gaun dengan rok mengembang, lengan panjang, dan berlapis 2 kain. Kain paling atas merupakan kain yang berwarna sama dengan kain untuk bagian baju. Kain itu terlihat terbelah karena pada bagian kiri kain diangkat sampai ke pinggang kiri dan berhiaskan sebuah pita besar. Lalu kain bagian dalam berujung gelombang kecil hingga mata kaki dengan warna lebih muda dari kain atas. Gaun yang sebenarnya sangat sederhana karena bagian atasnya hanya dihias pita ditengah.

Tapi, hanya satu kata untuk penampilan gadis itu...

MANIS.

"Hei... Kalian ini kenapa? Begitu masuk, kok, bengong," ucap gadis itu.

"I-ini..." ucap Mamoru terbata. "I-ini benar kamu...?"

"Iya, ini aku. Ada apa, sih?"

"HAAAAAAAAAAAH? INI BENERAN KAMU, GOUENJI?"

'Co-cocok banget...' batin Kazemaru.

'Bagiku Gouenji memang manis... Tapi, ini... sudah kelewataaan! Gouenji, ayo nikah sama akuuu!' batin Mamoru.

'Astaga. Tak kusangka akan secocok ini...' pikir Kidou.

'KOK, BISA SEMANIS INIIII?' teriak para tamu di dalam hati secara serempak.

Gadis disamping Shuuya tertawa. "Ahahaha! Tuh, kan! Pasti kaget! Aku juga awalnya nggak percaya, lho, Gouenji-senpai bisa begini!" celetuk gadis berambut pendek bergelombang itu.

"Gouenji-kun jadi manis sekali," kata Fubuki sambil mendekati Shuuya yang masih keheranan. "Ini pakai wig?"

Shuuya menggeleng. Haruna segera menjelaskan. "Itu hanya disambung, kok. Soalnya rambut Gouenji-senpai kalau diturunkan lumayan panjang. Pasti gerah kalau di tutupi wig karena rambut Gouenji-senpai tebal, jadi aku minta di sambung saja ke penata riasnya."

"Wiiih! Cocok banget, lho, eeeh, umm, Gouenji!" kata Mamoru dengan senyum yang agak terpaksa karena memori kejadian kemarin.

Shuuya dengan agak kaku menjawab. "Ah, umm, benarkah?"

Kazemaru dan Kidou menyadari adanya kerenggangan pada percakapan Mamoru dan Shuuya ini. 'Ada apa ya?' batin Kazemaru.

"Hmm? Kazemaru jadi sedikit lebih tinggi dari Gouenji ya? Terakhir kulihat dulu, Gouenji lebih tinggi dari Kazemaru, kan?" kata Tsunami.

"Yaah, boots yang kupakai saat ini cukup tebal biar bisa mengimbangi tinggi Gouenji," terang Kazemaru sambil menunjuk boots yang ia pakai. 'Sumpah, nggak keren banget kalau pangerannya lebih pendek dari putrinya,' batin cowok ini.

Sakuma mengeluarkan kamera sakunya. "Sip, semuanya ayo disana! Aku mau foto kalian buat kenang-kenangan!"

Shuuya langsung gelagapan. "Hah? Nggak mau! Aku nggak usah!"

"Ayo, ayo, Gouenji-kun. Ini buat kenang-kenangan," kata Fubuki yang langsung menyeret Shuuya untuk ikut berfoto bersama yang lain.

Ketika seluruhnya sudah siap diposisi, Sakuma segera memberi aba-aba. "Yak, siap...! Satu, dua...!"

Ceklik!

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Masuklah Natsumi yang terlihat sangat sibuk sampai ia menguncir kuda rambut panjangnya. "Kucari kemana-mana. Ternyata disini. Ayo, cepat berkumpul. Akan ada briefing." Natsumi menatap Shuuya sebentar. "Hmm, kerja bagus, Otonashi-san. Ah, Gouenji-kun! Bagaimana, sih! Sudah kubilang untuk memakai pengganjal dada yang kusediakan, kan?"

Muka Shuuya langsung memerah karena sekarang seluruh orang disana langsung melihat ke bagian dadanya, yang tentu saja, rata. "Umm."

"Baiklah, semua sekarang keluar, aku akan mengurus ini sebentar," ucap Natsumi.

Semua pendatang tadi lekas keluar. Kidou menatap para tamu tadi. "Ok, kalian boleh lihat-lihat backstage atau mungkin coba lihat bazaarnya. Kami kumpul dulu," katanya. Setelah seluruh tamu pergi, Kidou dan Kazemaru langsung menyeret Mamoru ke sebuah ruangan.

"Endou, kamu hari ini, kok, aneh banget! Kelihatan jelas banget kalau kau dan Gouenji sekarang lagi ada gap!" kata Kazemaru kepada Mamoru.

"Ada apa, sih? Kami 'kan bakal bantu kalau ada apa-apa!" kata Kidou.

Mamoru menelan ludah. "Eeh, umm..."


Langkah pria itu terlihat santai ketika mendekati kerumunan warga Kota Inazuma yang tak sabar ingin segera menyerbu bazaar yang diadakan SMP Raimon. Ia berbaur dengan mudah diantara kerumunan orang yang menunggu di depan pintu gerbang SMP Raimon itu. Dibetulkan sedikit topinya yang sedikit miring itu. Diliriknya arloji hitam pada tangan kirinya. Pukul 08.58. Tinggal 2 menit sebelum festival SMP Raimon dibuka.

Dilemparkannya pandangan ke hiruk-pikuk siswa-siswi SMP Raimon yang heboh karena sebentar lagi festival akan dibuka untuk umum. Ditengah keributan itu, nampak beberapa siswa dengan kartu identitas terkalung di lehernya sibuk menenangkan semua yang panik dengan beberapa teriakan di megaphone yang mereka bawa.

Tak lama, sepasang siswa-siswi menghampiri pintu gerbang. Beberapa siswa laki-laki langsung bersiap untuk membuka gerbang. Sepasang siswa-siswi tadi melirik jam tangannya sebelum mengambil nafas dan mempersiapkan megaphone.

"Dengan ini Festival Tahunan SMP Raimon... DIBUKAAAAAA!"

GREEEEEK...!

Para warga langsung masuk ke areal SMP Raimon begitu gerbang dibuka. Para murid yang telah siap di standnya langsung menyambut mereka. "SELAMAT MENIKMATI!" seru mereka semua dengan kompak.

Sedangkan pria bertopi itu tetap berjalan dengan santai. Matanya terus menatap ke gedung aula Raimon.

"Maaf, Raimon-san. Ini memang salah Anda... Lagipula sebagai keluarga Kagemori, saya hanya melakukan sesuai perintah."


"HAAAAH? UDAH KAMU TEMBAK?"

Mamoru mengangguk lemah. Wajahnya berubah muram seketika mengingat kejadian kemarin. 'Huaaaaa! Apa setelah ini Gouenji bakal menjauh dariku? Aaaah! Aku, sih, nggak masalah kalau ditolak. Tapi, kalau sampai putus hubungan pertemanan... AKU BISA GILA! AAAAAARGH! SAKKKKKKKAAAAAA~' Ok, kalau saat itu ada bola, pasti Mamoru bakal memeluk bola itu sambil gelindingan penuh rasa depresi di lantai. Ya, seperti yang ia lakukan tadi malam sebelum ibunya melempar dirinya dari kamar untuk mandi karena seragamnya yang masih basah tersebut SANGAT mengotori lantai kamar.

Kazemaru menepuk dahinya. "Aaah... Kamu ini gimana, sih! Harusnya nggak langsung agresif begitu, Endou! Padahal itu 'kan momen yang cukup bagus! MOMEN BAGUS, YOU KNOW? GIMANA, SIIIH? LAGIPULA MANA ADA ORANG YANG MAU NEMBAK LANGSUNG NYEROBOT MINTA CIUUUUM? SEJAK KAPAN KAU JADI SEMESUM ITU, ENDOU? SEJAK KAPAAAN? SIAPA YANG NGAJARI KAMU NEMBAK DENGAN CARA 'TAK ETIS' ITU? ELO KETULARAN EDGAR, HAAAH?" cerocos Kazemaru sambil terus mengguncang-guncang tubuh Mamoru karena kesal.

"A-ampuuuun... Ampuni hamba, Tuan Mudaaaa...!" kata Mamoru ditengah 'bullying' yang sedang ia alami. Yaelah, masih sempat juga dia akting ya...

Kidou buru-buru melerai. "Hei, sudahlah! Gouenji nggak bilang kalau nolak, kan? Dia hanya bilang kalau butuh waktu untuk berpikir. Lagipula kita masih butuh Endou buat drama, Kazemaru!" Hmm, tunggu. Kok, jadi kebalik ya? Kazemaru (sang pangeran) yang ngebully trus Kidou (sang penyihir jahat) yang melerai? Apa harusnya Kazemaru jadi penyihir jahat trus Kidou jadi pangeran? Aih, tapi, terlanjur, euy.

"Iya, iya, maaf... Habis kesal, sih! Dan lagi, itu alasan klasik cewek kalau nggak tega untuk langsung nolak, kan?" kata Kazemaru. "Kalau begini, paling Gouenji nolak. Atau parahnya dia illfeel sama kamu."

"Huweeee~ Jangan bilang gitu, dong, Kazemaru..." bujuk Mamoru.

"Kamu sembarangan, sih! Cari dulu referensi buat nembak di sinetron-sinetron, kek!"

"Tapi, aku 'kan nggak suka yang begituaaaan!"

Sweatdrop besar muncul di atas Kidou. 'Kazemaru, aku tak menyangka kalau kau suka nontonin sinetron...' Ia menatap Mamoru. "Ah, Endou, jangan down dulu, deh... Sudah, sekarang kita gabung sama anak-anak dulu saja. Pasti sekarang kita dicariin!"

Karena yang ngomong Kidou, Kazemaru menurut saja untuk menghentikan aksi bullynya. Mereka masuk ke aula kembali. Setelah disambut dengan omelan Natsumi karena keterlambatan mereka, akhirnya briefing dimulai. Semua dengan kompak mulai mengecheck kelengkapan untuk drama. "Ok, siap semua. Baiklah, sekarang kalian boleh lihat-lihat bazaar sekalian promosi drama agar pengunjung berniat nonton. Oya, jangan lupa kita tampilnya nanti siang jam 11.40. Jadi, kalau bisa tolong pada jam 11.00 semua sudah berkumpul lagi disini," terang Natsumi. "Sekarang silakan bubar. Ah, tapi Kidou-kun bantu aku dulu ya."

Setelah itu, Kidou mengikuti Natsumi pergi dari aula. Mamoru celingak-celinguk. "Eeeh, Fubuki dan yang lain mana ya?"

"Mereka sudah pergi untuk lihat bazaar," kata Shuuya. "Aku juga ingin, tapi dengan tampilan begini..." 'Mana nanti ada Yuuka...'

"PD saja, Gouenji. Kayaknya nanti nggak bakal ada yang mengenalimu, kok!" ucap Someoka.

"Iya, sih."

"Nah, sekarang... Yuk, kita lihat kreasi para junior kita!" kata Kazemaru sambil menggandeng Mamoru dan Shuuya. 'Karena Kidou nggak ada, aku harus bisa memperbaiki ini sendiri!'

Bazaar SMP Raimon saat ini sangat ramai. Itulah yang terlintas dibenak para tokoh fanfic kita ini. Mereka kagum dengan banyaknya pengunjung luar yang ada. "Wah, ramai..." ucap Mamoru. "Jadi, lapar... Aku beli takoyaki, aaah~" Dengan itu, Mamoru menghilang di kerumunan.

"Ah, hei!" panggil Kazemaru. Dia menghela nafas. 'Endou memang kekanakan... Eeh, tapi cocok kali ya? Gouenji 'kan suka anak-anak. Masih ada peluang untuk Endou diterima cintanya!' batin Kazemaru sambil mengangguk dan tersenyum sendiri. Shuuya keheranan melihat tingkah 'pangeran'nya ini. 'Tapi, bisa dibilang, ini kesempatan! Ufufufu.' Kazemaru menatap Shuuya. "Oya, Gouenji. Aku ada janji buat ke stand Miyasaka. Kamu temani Endou ya! Itu anak kalau nggak ditemani bisa nggak balik ke aula. Duluan ya~"

Shuuya kaget. "He-hei!" serunya. Namun, Kazemaru sudah melesat dan menghilang disela kerumunan dengan teknik Devil Bat Ghost milik Kobayakawa Sena dari Eyeshield 21. Shuuya celingak-celinguk. 'Ma-masa aku harus keliling sendiri dengan pakaian begini? Ya sudah, aku menyusul Endou saja!' batin Shuuya yang merasa bahwa orang-orang mulai melihatinya. Dengan sedikit mengangkat roknya, Shuuya mulai mencari Mamoru. Tidak sulit mencari sang kapten yang tengah wisata kuliner itu. "E-Endou! Tunggu!"

"Mmmngh? Gwhohenji, mwhawu? (baca : Hmm? Gouenji mau?)" ucap Mamoru dengan mulut masih penuh makanan sambil menawarkan okonomiyaki yang baru ia beli.

"Endou, telan dulu baru ngomong... Kamu ini..." kata Shuuya yang sedikit geli dengan tingkah kekanakan Mamoru.

Gluk! Mamoru menelan makanan di mulutnya. "Ehehehe, habis lapar!"

Shuuya tersenyum. "Iya, iya... Tapi makannya sambil duduk ya?" katanya sambil mengajak Mamoru duduk di sebuah bangku. Dengan tangan penuh makanan, Mamoru mengikuti Shuuya lalu duduk disampingnya. Setelah duduk dengan nyaman, cowok itu langsung melahap makanan tadi. Shuuya memperhatikan Mamoru. Ia teringat kejadian kemarin. 'Endou... Apa yang kamu katakan benar? Apa kamu benar-benar... menyukaiku?'

"Hmm? Ke-kenapa, Gouenji? Ko-kok, lihatin terus," kata Mamoru dengan sedikit gugup. Apalagi Shuuya saat ini duduk dengan memberi jarak darinya. Padahal, biasanya Shuuya duduk tepat disamping Mamoru. 'Ja-jangan-jangan Gouenji beneran illfeel sama aku trus tadi lihatin aku karena jijik? Tidaaaak!'

"A-ah, tidak ada apa-apa. Eeeh..." Shuuya melihat sekotak takoyaki yang sepertinya sudah dimakan beberapa buah lalu tidak dimakan lagi. "Endou, ini kenapa takoyakinya nggak dihabiskan? Nggak enak?"

Mamoru melihat ke takoyaki itu. "Enak, sih. Ummm... Tapi, enaknya biasa saja, jadinya malas buat menghabiskan. Nggak seenak takoyaki buatan Gouenji! Buatan Gouenji lebih ueeeenaaaak!"

Muka Shuuya seketika memerah. "Ah, eeh... Ya-yang benar?"

"Iya, lhoooo~ Kapan-kapan bikinin lagi, dong! Masakan Gouenji emang T-O-P!" puji Mamoru. Ini memang tidak mengada-ada. Soalnya saat dulu Shuuya mengisi stand makanan bareng Kazemaru, dagangan mereka laku keras! Bahkan banyak orang yang nekad memborong karena ketagihan (?). Toramaru saja sampai terpaksa membantu senpainya yang diserbu pembeli itu.

"Pasti akan kubuatkan lagi, kok," kata Shuuya sambil tersenyum.

"Ehehehe, janji ya!"

Senyum menghias wajah orang yang sedari tadi mengintai mereka. "Sip~ Aku berhasil membuat gap yang tadi ada hilang! Ufufufu!" gumam orang yang bernama Kazemaru itu. 'Ehm, tapi, ini hanya perasaanku, atau memang sepertinya Gouenji ada 'perasaan' dengan Endou beneran?' batinnya. Senyumnya malah makin lebar. 'Hehehe, kalau beneran, mah, malah syukurlah. Ah, kutinggal saja mereka. Sekarang aku nyari Fubuki dan lainnya saja... Sukses ya, Endou! Aku 'lempar' pakai Dance of Wind God milikku kalau sampai gagal lagi.'

Mamoru kembali melanjutkan acara kulinernya sambil ditemani Shuuya. Nyaris seluruh stand makanan yang ada telah dicoba oleh Mamoru. Shuuya hanya membeli beberapa camilan manis. Akhirnya mereka duduk kembali. Mamoru mengelus perutnya yang telah kenyang. "Fuaaah... Enaaaaak~ Kenyaaaang~"

"Iya, bazaar kali ini asyik ya," komentar Shuuya. Ia berpikir sejenak. "Ehm, Endou... Aku mau bicara..."

"Hah? Apa?"

"Soal..."

"Mamo-nii!"

Mamoru dan Shuuya membeku ditempat. Suara ini... Yuuka! Mereka berdua langsung menoleh ke asal suara. Dari kejauhan terlihat sosok Yuuka yang tengah berlari mendekat diantara kerumunan orang. Dibelakangnya ada Fuku-san yang setia mendampingi. Shuuya kebingungan. "E-Endou, aku nggak ingin Fuku-san dan Yuuka melihatku dalam keadaan begini! Kalau setelah tampil nanti ketahuan, sih, tak apa... Tapi, ja-jangan sekarang...! Aaah! A-ada ayah, tidak ya?"

"Ah, eh? Ngggg... Ngggg... Ka-kamu sekarang lari saja! Sembunyi! Cepet! Cepet! Biar ini aku yang urus!" kata Mamoru kepada Shuuya. Dengan itu, Shuuya langsung melesat menjauh. Untunglah Yuuka sampai di depan Mamoru ketika Shuuya telah menghilang dari pandangan. "Ehehehe, hai, Yuuka-chan! Fuku-san! Apa kabar?"

"Baik, kok, Mamo-nii! Waah, Mamo-nii bajunya kereeeen! Jadi, apa?" tanya Yuuka.

"Hanya jadi pengawal pangeran, kok. Ehehehe."

"Oya, tadi kayaknya ada perempuan cantik yang bersama Mamo-nii, deh! Mana sekarang? Itu putrinya ya?"

Mamoru mematung. 'Ugh! Ke-kelihatan ya tadi? Ternyata penglihatan Yuuka-chan bagus sekali!' Dengan lihai, Mamoru mengalihkan topik. "Eh? Da-dari tadi aku sendirian, kok... Ngggg... Fuku-san dan Yuuka-chan ingin lihat drama kami ya?"

"Iya, kami kesini untuk melihat penampilan kakak-kakak! Aku, Fuku-san, dan Otou-san!"

"Ooooh..." Otak Mamoru rupanya, seperti biasa, lemot. Hingga akhirnya... "EEEGH? AYAHNYA GOUENJI JUGA BAKAL NONTON?"

Yuuka tersenyum. "Iya! Aku, lho, yang mengajak Otou-san! Hebat, kan! Ah, itu dia! Otou-san! Sini!"

Mamoru menelan ludah saat melihat sosok Katsuya, ayah Shuuya, yang kini dihadapannya. 'Gouenji... Gimana, neeeeh? Ayahmu beneran kesiniiii! AAAAAAH!' "Umm... A-apa kabar, Gouenji-san..."

"Baik. Mana Shuuya?" kata Katsuya.

"Ah, nggg... Mungkin masih di aula. A-ah, Yuuka-chan, bagaimana kalau kamu main dulu di bazaar? Drama kami masih lama, kok, mulainya. Jam 11.40," kata Mamoru buru-buru mengalihkan topik.

"Ok! Ayo, Otou-san! Kita beli permen apel!" seru Yuuka sambil menarik tangan ayahnya.

"Endou-san, semoga sukses dramanya ya," kata Fuku-san sebelum pergi mengikuti Yuuka dan Katsuya.

"A-arigatou, Fuku-san... Ehehe."

'Gouenji... Bagaimana, nih? Ada ayahmu...'


Kidou nampak berkeliling di bazaar. 'Keluarga Kagemori ya... Karena mereka profesional, pasti sekarang salah satu dari mereka sekarang telah berbaur dengan orang-orang ini...' Mata Kidou mengamati tingkah laku orang disekitarnya. 'Sial, semua orang jadi terlihat mencurigakan...'

"Kidou-kun!"

Cowok itu menoleh. Ternyata Natsumi yang masih dengan tampilan barunya, rambut dikuncir kuda. "Ada apa?"

"Ayah memang tidak memberitahukanku secara langsung... Tapi, aku sudah bisa menyimpulkan alasan Kagemori menuntut balas kepada kami..."

"Apa itu?"

"Itu..."


Shuuya menghela nafas. "Fuuh... Untung masih sempat." Kini ia telah sampai pada lokasi yang cukup sepi yang berada di belakang gedung sekolah alias dekat lapangan tennis kalau versi gamenya. Ia melirik ke sebuah mesin minuman yang berada tak jauh darinya. "Ah, sekalian saja aku belikan Endou minuman. Pasti haus karena dari tadi makan terus. Aku soda. Mmm... Kalau Endou, sih, mungkin sukanya jus ya..."

Klang! Klang!

"Maaf, permisi..." panggil seseorang.

Shuuya menoleh. Dibelakangnya ada seorang pria bertopi. Karena penampilannya saat ini, tentu Shuuya tak lupa untuk memakai suara cewek dalam berbicara. "Ah, iya. Ada yang bisa saya bantu?"

"Dari sini toilet paling dekat dimana ya?"

"Umm... Dari sini toilet terdekat mungkin..." Shuuya berpikir. 'Mungkin toilet di gedung itu ya...' Ia menoleh ke si pria. "Kalau ingin ke..." Mata Shuuya menangkap sesuatu yang ada di saku pria itu. 'Botol itu... Aku pernah lihat di tempat obat-obatan yang ada di RS Inazuma saat membantu ayah... Itu... Chloroform! Obat bius!' Reflek Shuuya menjauh sambil matanya terus tertuju pada botol tadi.

Pria itu agak kaget. Lalu ia paham. "Ah, seperti yang kuduga. Akhirnya aku akan ketahuan juga. Huh, memang susah bila ada Keluarga Kidou dibalik Raimon."

'Kidou? Raimon? Ada apa ini?' pikir Shuuya.

Senyum menghias wajah pria itu. "Nah, bagaimana kalau Nona langsung ikut kami saja? Nona pasti paham maksud kami kesini. Selama ini kami hanya pura-pura tidak tahu saja kalau Kidou sudah menyelidiki kami untuk melindungi Anda."

"!" Ketika tangan pria itu hendak memegang pundak Shuuya, dengan segera ia menghindar dan berlari menjauh. 'Ugh, kalau lagi nggak pakai gaun begini, pasti bisa lebih cepat!' umpat Shuuya saat melihat jarak antara dia dan pria tadi yang tidak semakin menjauh tapi malah semakin menyempit. Tak terasa si pria sudah dibelakangnya.

"Huh, maaf saja. Kami, Kagemori, sudah profesional..." bisik pria itu di telinga Shuuya. Tangannya telah menggenggam botol chloroform. "Kami memang suka perburuan mangsa, tapi maaf, sudah tak ada waktu untuk bermain."

"Heyaaaah!" Shuuya langsung mengangkat roknya tinggi dan menendang perut si pria dengan power tendangan yang setara saat ia melancarkan Bakunetsu Storm.

"Ugh!" Seketika pria itu terjungkal.

'Yak, berhasil,' batin Shuuya. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya lalu belum sempat ia meronta, tanpa disadari kedua tangannya telah disatukan ke belakang. Ternyata dibelakangnya telah ada 2 orang bertopi yang lain. 'Cih, punya komplotan ya?'

"TIGER DRIVE!"

Tangan yang meminting tangan Shuuya ke belakang langsung terlepas. Melihat kesempatan itu, Shuuya langsung berbalik dan menendang komplotan satunya. "Fuh," ucapnya saat pria satunya telah merintih di tanah. Tuan putri itu menoleh ke penolongnya. "Arigatou, Toramaru."

"Ah, tak masalah! Tapi, siapa mereka ini? Gouenji-san nggak apa-apa?" tanya junior kesayangan Shuuya itu.

Shuuya menggeleng. "Entahlah. Mmm... Mereka hanya mengungkit soal Kidou, Raimon... Lalu mereka bilang kalau dari keluarga... Kagemori?"

Toramaru kaget. 'Kagemori?' Ia langsung menyelidik sekitarnya. Matanya menelusuri seluruh sudut gedung di dekatnya. 'Tidak mungkin hanya ada 3 dari mereka... Pasti...' Toramaru langsung berjongkok. "Ayo, Gouenji-san!"

Shuuya kaget dan bingung melihat Toramaru yang berjongkok. "Eh? Hah?"

"Pasti sulit 'kan jalan apalagi lari pakai gaun panjang. Dari pada hak sepatunya rusak seperti punya Aki-san dulu, Gouenji-san kugendong saja. Lagipula Gouenji-san belum biasa, kan? Ayo, kita pergi dari sini," kata Toramaru.

Ragu, Shuuya akhirnya naik. Toramaru langsung berlari saat posisi Shuuya pada gendongannya telah nyaman. Melihat kecepatan lari Toramaru yang lebih lambat, Shuuya jadi khawatir. "Umm... Toramaru, nggak apa-apa? Aku 'kan berat. Kamu jalan saja, deh." Tapi, Toramaru tetap berlari. Ketika Shuuya akan bicara lagi, rasa sakit di kaki membuatnya mengaduh.

"Ah, kaki Gouenji-san lecet... Kita ke UKS saja untuk mengobatinya," ucap Toramaru. 'Pasti lebih aman disana. Kan, cukup dekat dengan keramaian.'


"Permisi..."

"Ya, silakan masuk," jawab sosok pria berpakaian putih itu. "Wah, wah, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya ramah saat melihat Toramaru dan Shuuya masuk. Toramaru menerangkan keadaan Shuuya lalu dengan sigap dokter UKS itu meminta Shuuya duduk di atas dipan dan mengobati kakinya. "Nah, sebaiknya kamu istirahat sebentar disini," katanya kepada Shuuya. Dokter itu menatap Toramaru. "Ah, kamu bisa pergi, kok. Kamu panitia bazaar, kan? Tenang, saya nggak akan macam-macam, kok, sama pacarmu."

Wajah Toramaru langsung merah. "Eh! Bukan pacarku, kok! Ah, tapi, iya juga... Sekarang giliranku jaga..."

Shuuya menatap Toramaru. "Kamu pergi saja. Aku nggak apa-apa, kok. Oya, kalau ketemu Endou atau lainnya, bilang aku di UKS ya." Toramaru mengangguk. Setelah minta maaf dan berterimakasih ke dokter, Toramaru melesat keluar. Shuuya meluruskan kakinya di atas dipan. Terasa pegal sekali. Si dokter tersenyum. "Tidak terbiasa pakai hak?" tanyanya.

"Ah, umm... Begitulah," jawab Shuuya. 'Jangankan terbiasa. Ini pertama kalinya seumur hidupku. Bahkan sekali seumur hidup!' Dokter itu menyodorkan secangkir teh hangat yang baru ia buat kepada Shuuya. "Arigatou." Shuuya meminum teh tersebut sambil mengamati si dokter. 'Hmm, jadi ini dokter UKS baru yang katanya populer di kalangan cewek? Memang keren, sih, walau pakai kacamata... Auranya mirip Fubuki...' Setelah habis, si dokter langsung mengambil gelas kosong itu. Ketika itu mata Shuuya terasa berat. "Uuh, ngantuk banget."

"Eh? Kamu pasti tegang karena akan tampil... Istirahat dulu saja. Nanti akan kubangunkan kalau temanmu datang," kata dokter. Sebelum Shuuya mengangguk, kepalanya telah jatuh ke bantal. Matanya terpejam. Si dokter menghampirinya. "Selamat tidur... Nona..."


GREEEEK!

"Permisi..."

"Gouenji-kun kakinya nggak apa-apa?"

"Gouenji! Gouenji! Gaw-LHO?" Mamoru, Fubuki, dan Kazemaru bengong melihat UKS yang kosong itu. Ditatapnya Toramaru. "Toramaru, katanya Gouenji disini, kan?" tanya Mamoru.

"Hmm... Tidak ada siapa-siapa..." ucap Fubuki.

Kazemaru menggaruk kepala. "Apa dia sudah merasa enakan lalu pergi?"

Mata Toramaru terbelalak. Ia langsung menghampiri tempat sampah di UKS dan mengambil gelas plastik yang ada disana. Di dekatkan hidungnya ke gelas itu. Wajahnya berubah shock. Ia langsung berdiri kembali dan menghampiri senpai-senpainya. "Endou-san! Kazemaru-san! Kidou-san dan Natsumi-san sekarang dimana?"

"Eh... Umm, mungkin di ruang kepala sekolah..." jawab Kazemaru.

"Ada apa, sih?" tanya Mamoru.

"Gouenji-san... MUNGKIN SEKARANG GOUENJI-SAN SUDAH DICULIK!"

"HAAAH?"


= TO BE CONTINUE =


Ehehe, maaf karena chapter ini panjang dan kelewat OOC...

Silakan yang mau mereview dan terimakasih untuk yang sudah mereview chapter-chapter sebelumnya~