AN: Hai aku kembali lagi. Pertama balas review yang non-login dulu.
Tantand: Kenapa Naruto nangis? Nanti juga kamu bakal tahu, tunggu saja ya… Thank's for your feedback
Uhe Haha Hehe: Ini sudah update. Yang Bitter Sweet masih dalam proses, aku juga nggak tau kapan selesainya #plak. Makasih sudah mau baca yang ini juga.
Kanhakura Haito: Hehe… ga apa-apa kok telat review juga, selalu diterima ^^. Hinata kan pemalu jadinya dia malah lari, soalnya kalau nenangin juga dia pasti bingung mau ngapain XD. Thank's udah sempatin baca dan review.
Ipjinchuuriki Junibi: Siap! –ngomong ala paskibra- makasih udah baca n review :D
Langsung ke Cerita
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, Pendek.
Chapter 2 : Senyumannya
"Huft…" Aku menghela napas. Sambil berjalan menuju sekolah aku memikirkan kejadian kemarin. Aku masih penasaran mengapa Naruto-senpai menangis. Aku juga ingin minta maaf padanya. Tapi aku belum siap bertemu dengannya. Rasanya kejadian kemarin terus berputar dalam kepalaku.
Kumasuki gerbang sekolah dan kulihat sekeliling, sudah banyak siswa yang datang. Aku berharap aku tidak bertemu dengan Naruto-senpai sekarang.
"Sasukeee!" sebuah suara yang sangat keras mengagetkanku. Ku lihat seorang lelaki dengan rambut pirang berlari menuju temannya yang berada di depan. Seragam gakurannya yang tidak ia kancingkan memperlihatkan kemeja putih yang ia pakai. Uzumaki Naruto-senpai. Ugh, sepertinya keinginan aku tidak terkabul.
Uhh… padahal aku tidak ingin melihatnya, kenapa sekarang bertemu secepat ini? Sambil tersenyum lebar, dia menepuk pundak temannya yang tadi ia panggil. Aku tahu dia laki-laki, tapi dia sangat manis saat tersenyum. Aku terpaku melihatnya selama bebera saat. Kulanjutkan langkahku menuju gedung sekolah, berusaha untuk tidak terlihat oleh Naruto-senpai.
Istirahat. Aku sedang ingin di kelas saja. Padahal biasanya aku berada di perpustakaan setelah menyantap makan siangku. Alasannya? Aku hanya tidak ingin bertemu dengan Naruto-senpai. Padahal belum tentu juga dia ada di sana.
Aneh memang, saat menyukai seseorang seharusnya aku selalu ingin bertemu dengan orang itu. Tapi, hei! Bahkan aku belum yakin kalau aku menyukainya. Aku ingin mencari tahu alasan mengapa aku bisa menyukai orang itu. Aku alihkan pandanganku ke luar jendela.
"Hinata…" panggil seseorang. Aku menengok, dan mendapati gadis berambut merah muda sedang duduk di kursi yang ada di depanku.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanyaku sambil tersenyum ramah.
"Hanya ingin mengobrol, aku bosan…" jawabnya sambil meletakan dagunya di mejaku.
Aku tersenyum lagi. "Memangnya Sasuke-senpai kemana?" tanyaku lagi. Sasuke, atau lengkapnya Uchiha Sasuke adalah kekasih dari Haruno Sakura, gadis yang ada di hadapanku ini.
"Entahlah… aku juga tidak tahu. E-mail aku tidak dibalasnya, mungkin dia sibuk. Hhh…" desahnya lemas.
"Kelas tiga mulai sibuk ya…" ucapku menanggapi gerutuan kecil Sakura.
"Ya…" gumamnya pelan. "Sebentar lagi dia akan lulus, aku pasti merasa kesepian di sini…"
Aku baru ingat kalau Naruto-senpai juga kelas tiga. Hhh… aku dan dia memang berbeda satu tahun, sama seperti Sakura dan Sasuke-senpai. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya kalau Naruto-senpai sudah lulus. Mungkin aku tidak bisa melihat senyum cerianya lagi.
"Aaahhh… cukup bersedihnya," ujar Sakura seraya mengangkat kepala dari atas meja, dan kedua tangannya meninju udara. "Pokoknya aku akan mendukung Sasuke-kun sebisaku!"
Aku tersenyum melihatnya. Sakura selalu optimis dan walaupun dia dalam kondisi terpuruk, dia akan bangkit dengan cepat.
"Berusahalah," ucapku sedikit memberi semangat. Gadis bermata emerald itu tersenyum.
"Hei, antar aku ke toilet, yuk! Aku ingin merapikan rambutku dan seragamku ini," pinta Sakura sambil menunjuk seragam serafuku-nya, -atau lebih dikenal dengan seragam sailor. Seragam yang sama seperti yang aku pakai, rok hitam berlipat dan blus putih ala seorang pelaut –sailor dan dasi berwarna hitam dengan lambang sekolah di ujungnya.
Aku mengangguk dan mengikuti Sakura menuju toilet. Di lorong lantai dua ini ramai dengan siswa kelas dua, karena memang kelas mereka di sini. Setiap kelas menempati satu lantai. Kalau kalian bertanya di mana ruang guru dan ruangan lainnya. Semua itu ada di sini lain dari gedung ini. Gedung sekolah ini berbentuk seperti huruf 'U'.
Sampai juga di toilet. Kami berdua menghadap cermin dan membereskan penampilan kami. Aku hanya perlu merapikan rambut panjangku -yang berwarna indigo ini sedikit. Aku melirik pada Sakura yang sedang melepaskan ikatan pada rambutnya.
"Rambutmu sudah panjang ya, Sakura-chan," ucapku sembari melihat rambut Sakura.
"Benarkah?" tanyanya sambil memegang rambutnya.
Aku mendekat padanya. "Iya, dulu rambutmu masih pendek, di atas bahu, sekarang sudah melebihi bahu," jawabku.
Dia melihat pantulan dirinya di cermin. Setelah beberapa saat dia berbalik padaku.
"Menurutmu, bagaimana kalau aku memakai poni?" tanyanya sambil memegang helaian rambut depannya. Sakura memang tidak memakai poni depan sepertiku, dia selalu membelah dua poninya ke samping.
"Pasti manis," jawabku.
"Hmm…" Sakura bergumam, menimbang-nimbang. "Aku rasa bagus juga, soalnya aku sudah bosan dengan gaya rambutku ini, sedari kecil seperti ini terus."
"Mau kupotongkan? Kebetulan aku bawa gunting," tawarku sambil menunjukan sebuah kanung kecil berbentuk kotak yang berisi gunting sisir dan beberapa buah jepit.
"Boleh, tolong ya, Hinata," katanya.
Lalu aku mengeluarkan beberapa buah jepit dan sisir, tidak lupa gunting berukuran kecil yang selalu aku bawa.
Aku jepitkan rambut yang ada di depan telinga Sakura, setelah itu aku mengambil beberapa heai rambut depan untuk dijadikan poni.
Setelahnya aku bagi menjadi dua bagian, helaian rambut itu. Bagian atas aku jepitkan di atas kepala Sakura, sisanya aku pegang.
Aku mengambil gunting kecil itu dan mulai menggunting rambut Sakura, sedikit demi sedikit. Kulakukan dengan hati-hati agar hasilnya bagus. Selesai.
"Sakura-chan, apa poninya terlalu panjang?" tanyaku pada Sakura yang sejak tadi menutup matanya. Dia membuka matanya dan melihat ke cermin.
Aku memotong poni Sakura sebatas alis matanya. Kuperhatikan dia mengatur poninya, menggoyangkan ke kanan, ke kiri. "Sudah pas, Hinata. Segini saja," jawabnya.
Setelah itu aku mulai memotong sisa rambutnya tadi dan sedikit merapikannya.
"Sudah selesai…" ujarku. Sakura membersihkan rambutnya yang menempel pada seragamnya, sementara aku membersihkan lantai dari rambut Sakura yang tadi kupotong. Untung saja ada sapu.
"Hinata… apa aku terihat aneh?" tanya Sakura sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
"Tidak kok… Sakura-chan itu manis, coba saja tersenyum. Sasuke-senpai pasti akan terkejut melihat penampilan barumu," kataku mencoba meyakinkannya.
Sakura terlihat masih ragu. "Begini saja," kataku sambil melepaskan jepit yang menahan rambutnya. Membuat rambut itu jatuh ke depan telinganya. "Sakura-chan itu gadis yang manis, selalu ceria, dan menyenangkan. Itulah pendapatku. Kau harus percaya diri."
"Hinata… kau memang teman yang sangat pengertian," sahut Sakura sambil memelukku.
"E-eh… biasa saja kok," ucapku sambil menahan tubuhku agar tidak terjatuh.
"Ah, kau juga seseorang yang pemalu, hehe. Kalau ada hal yang menyulitkanmu aku siap membantumu," ujar Sakura riang. "Mungkin soal orang yang disukai?"
"Eh? I-itu…" aku tergagap. Aku paling tidak tahan kalau membicarakan soal ini.
Sakura hanya tersenyum. "Ayo kita keluar," ajaknya. "Antar aku ke kelas Sasuke-kun ya?"
Eh kelas Sasuke-senpai? Kelas Sasuke-senpai kan sama dengan kelas Naruto-senpai. Aduh… kalau aku menolak… tapi ini sudah setengah jalan. Tinggal berbelok ke kiri, dan ada tangga menuju lantai tiga.
Huft… aku tundukan kepalaku. Entah mengapa ini jadi kebiasaanku. Kalau sedang berpikir ataupun ada hal yang tidak enak pada diriku. Kalau sekarang aku sedang bingung.
Kamu berdua berbelok ke kiri, aku masih menundukan kepalaku.
Duk
Aku rasa aku menabrak seseorang. Belum sempat aku melihat siapa yang aku tabrak, Sakura memekik girang.
"Sasuke-kun!"
Aku mengangkat kepalaku dan melihat orang yang kutabrak. Ternyata itu memang Sasuke-senpai. Aku mundur dua langkah. Kemudian membungkukan badanku.
"Maaf, Sasuke-senpai," ujarku. Kemudian kuangkat kepalaku. Baru kusadari sekaang kalau di sana ada Naruto-senpai juga. Sasuke-senpai hanya membalasku dengan gumaman.
Kulihat Sakura menghampiri Sasuke-senpai. "Kenapa tidak balas e-mailku?" tanyanya dengan wajah cemberut. Aku tau dia tidak serius. Aku hanya diam memperhatikan sepasang kekasih itu. Ujung mataku melirik Naruto-senpai yang sedang bersandar pada tembok, di belakang Sasuke-senpai sambil memejamkan matanya.
"Aku baru keluar dari kelas. Belum sempat lihat ponsel," jawab Sasuke sambil menepuk kepala Sakura pelan.
"Umm… Kau sudah makan siang?" tanya Sakura sambil memegang lengan Sasuke-senpai.
"Belum," jawab Sasuke-senpai. "Aku dan Naruto akan pergi ke kantin, tapi bertemu dengan kalian di sini." Sasuke-senpai yang biasanya dingin menjadi lembut kalau bersama Sakura. Hmm... cinta bisa mengubah segalanya ya?
"Kau memotong ponimu?" tanya Sasuke-senpai sambil memperhatikan rambut Sakura.
"Iya, Hinata yang memotongkannya untukku," jawab Sakura. "Bagaimana menurutmu? Bagus tidak, Sasuke-kun?"
Kulihat Sasuke-senpai sedikit membungkukan badannya, dan membisikan sesuatu di telinga Sakura. Dan hal itu membuat pipi Sakura merona merah.
"Terima kasih. Oh iya, kalian mau ke kantin kan? Kalau begitu aku temani kalian ke kantin," ujar Sakura sambil menarik-narik lengan Sasuke. "Naruto, ayo!" ajak Sakura pada Naruto-senpai. Sakura terbiasa memanggil Naruto-senpai tanpa embel-embel senpai, karena mereka bertiga sudah berteman sejak kecil.
"Aku tidak ikut," jawab Naruto sambil berdiri tegak, tidak lagi bersandar. "Aku mau ke perpustakaan."
"Aku juga tidak ikut, Sakura-chan, aku ingin ke perpustakaan dulu," jawabku saat Sakura melihat ke arahku.
"Hei, Sasuke-kun? Ada apa dengan Naruto?" tanya Sakura sedikit pelan, tapi masih bisa aku dengar.
"Tidak tahu," jawab Sasuke-senpai.
"Baiklah, kami pergi!" pamit Sakura.
"Ayo Hinata, kita ke perpustakaan," ajak Naruto-senpai dan ia langsung berbalik tanpa menungguku.
"I-iya," jawabku seadanya. Aku rasa keadaan Naruto-senpai beda dari biasanya. Padahal tadi pagi dia masih baik-baik saja.
Kami berdua memasuki perpustakaan. Naruto-senpai segera menuju tempat ia biasanya bersandar dan berdiri, dekat jendela. Aku segera pergi menuju rak-rak buku yang ada di sebelah kanan.
Sebenarnya aku tidak berniat pergi ke perpustakaan, tapi melihat Naruto-senpai yang aneh, maksudku keadaannya yang aneh aku jadi penasaran.
Aku melihatnya dari balik rak buku, dia, seperti biasa, memandang keluar jendela. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Aku berdiri di samping Naruto-senpai sambil melihat keluar jendela.
"Apa yang sedang kau pikirkan senpai?" tanyaku masih tetap melihat keluar, aku tidak berani menatapnya sekarang, dan kurasa dia juga tidak akan melihat padaku. Lama kami terdiam, aku masih memperhatikan halaman sekolah yang terlihat dari tempat kami.
"Hm… kenapa bertanya seperti itu?" Naruto-senpai malah berbalik tanya. Nada bicaranya dingin.
"Kelihatannya senpai sedang ada masalah…" jawabku. "Kalau memang ada ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa bantu."
"Tidak, kau tidak bisa melakukan apa-apa…" jawabnya.
"Tapi…" ucapku lagi.
"Aku bilang tidak ada!" pekik Naruto kencang. Aku sampai kaget dibuatnya. "Ikut aku." Wajah Naruto senpai menunjukan rasa bersalah.
Dia menarikku keluar dari perpustakaan. Dia pasti malu karena berteriak di sana, tapi aku sendiri masih kaget akan tadi.
Dia duduk di tangga tak jauh dari perpustakaan, masih memegang tanganku. Aku duduk di sampingnya. Dia tertunduk.
"Maaf sudah membentakmu," ucapnya lirih.
"Tak apa… Tapi senpai bisa cerita kenapa senpai seperti ini?" tanyaku lembut.
"Aku hanya kesal," jawabnya.
"Kesal karena apa?"
"Heh, aku ini memalukan," rutuknya pelan, tapi masih bisa kudengar. "Aku kesal karena gadis yang kusuka bersama orang lain."
"Jadi, bisa dibilang senpai cemburu?" tanyaku memastikan. Saat dia mengatakan itu rasanya ada yang aneh padaku. Rasanya ada yang mengganggu dalam dadaku ini. Apa aku cemburu juga?
"Uh… iya," jawabnya masih menunduk sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Senpai sudah pernah bilang kalau senpai suka padanya?" tanyaku. Sebenarnya aku tidak mau mendengar lagi cerita tentang senpai dan gadis itu. Tapi aku sungguh penasaran.
"Aku sudah tau kalau dia sudah mempunyai kekasih, awalnya aku akan menyerah saja. Tapi aku tidak bisa. Ini memalukan, tapi… aku pernah menangis saat itu." Naruto senpai menegakan kepalanya, menerawang, mengingat kembali kejadian yang ia alami. "Kau tahu rasanya? Sangat menyesakan. Dan menangis saat itu adalah pilihan yang terbaik yang bisa kulakukan. Perasaanku sedikit lega saat itu."
Apa Naruto-senpai yang menangis di perpustakaan waktu itu karena hal ini? Aku kembali mendengar cerita Naruto-senpai.
"Saat itu, aku sudah menetapkan hati untuk bilang padanya. Akhirnya aku katakan pada gadis itu aku menyukainya. Tapi tentu saja aku ditolaknya. Walaupun aku sangat menyayangi gadis itu, dia tidak akan pernah jadi milikku, 'melihat'ku saja dia tidak pernah," terang Naruto-senpai sambil menautkan jari-jarinya.
Aku menepuk bahu Naruto-senpai, dia mengalihkan pandangannya padaku. Kulihat mata birunya tidak bersinar seperti biasanya.
"Semangatlah… Mungkin saja senpai masih ada kesempatan untuk merebut hatinya," kataku memberinya semangat. "Senpai itu tidak cocok jadi pemurung seperti ini. Kau harus ceria dan tersenyum seperti biasanya." Aku tersenyum, walau sebenarnya aku ragu akan perkataanku sendiri.
Naruo-senpai tiba-tiba berdiri dan mengepalkan tangannya. "Terima kasih, Hinata. Kau benar aku harus semangat dan menjadi diriku seperti sebelumnya," ujarnya dengan semangat. Aku tersenyum melihatnya.
Dia berbalik padaku. "Kau manis saat tersenyum, Hinata. Rasanya aku ingin tersenyum juga melihatnya," ucapnya, dan itu sukses membuat wajahku memerah.
Dia tertawa, memamerkan deretan giginya dan matanya bersinar seperti semula. "Sebagai ucapan terima kasih, ayo aku traktir minum," ucapnya kemudian dia menarik lenganku.
"Mau kemana, senpai?" tanyaku sambil berusaha menyembunyikan rona merah di pipiku.
"Ke kantin," jawabnya singkat. Dia masih memegang tanganku. Rasanya sangat memalukan. Jantungku berdebar sangat cepat. Tanganku rasanya berkeringat dingin. Padahal ini belum musim dingin, kenapa jari-jariku terasa dingin.
Debaran jantung ini begitu cepat. Perasaan ini sangat membuatku tidak enak, aku resah, tubuhku rasanya lemas. Sensasi seperti ini hanya aku dapatkan saat bersama Naruto-senpai. Awalnya terasa begitu aneh, tapi sekarang aku menikmati sensasi ini.
Bisa aku lihat sekarang, Naruto-senpai sedang tersenyum. Senyuman yang sangat aku sukai. Senyuman ceria dari dirinya yang selalu ingin aku lihat sepanjang waktu. Senyuman yang selalu ingin membuatku tersenyum bersamanya.
To Be Continue
Pertama, maaf NaruHinanya sedikit. Jujur author lagi kalap dan ide di kepala aku blank. Maaf banget kalau mengecewakan.
Maaf juga author telat update padahal udah agak lama ngetik separuh ceritanya. Alasannya, saya keasikan nongkrongin vidio SuJu di youtube. Saya ngefans ama Yesung, Kyuhyun and Leeteuk . aku ngerjain fic ini sambil nonton vidio suju XD
Sebenernya fic ini selesai tengah malam tadi, tapi karena belum di edit aku publish hari ini.
so saya minta pendapatnya. dan udah ga pada penasaran kan kenapa Naruto nangis...
