Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto

Warn: AU, OOC, short

Chapter 3: Jujur part 1


Malam hari. Aku yang biasanya langsung tidur setelah belajar kali ini sedang menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih. Entah mengapa setiap kali aku memejamkan mata kejadian tadi siang terus berputar dalam ingatanku. Bahkan genggaman tangan Naruto-senpai yang menggenggam tanganku tadi masih terasa.

Tanpa sadar aku menyentuh tanganku yang digenggam Naruto-senpai. Aku baru sadar kalau tangannya hangat dan lebih besar dari tanganku. Aku tersenyum senang. Rasanya ada sebuah perasaan yang mengganjal dalam diri ini. Ingin aku tertawa bahkan teriak perasaan ini membuatku seperti melayang. Dalam pikiranku hanya ada Naruto-senpai dan kejadian tadi siang di kantin.

Flashback

Sesampainya kami di kantin, Naruto-senpai langsung menarikku ke meja yang kosong. Naruto-senpai duduk di sebuah kursi, di depan meja berbentuk persegi, meja itu untuk empat orang. Aku berdiri di dekat meja itu, bingung akan duduk di sebelah mana.

"Kenapa berdiri saja? Ayo duduklah," ujar Naruto-senpai menyadarkanku dari lamunan. Dengan asal aku menarik kursi yang ada di depanku kemudian duduk. Sialnya aku malah memilih kursi yang tepat berhadapan dengan Naruto-senpai. Aku merutuki diriku sendiri dalam diam.

"Jadi... kau ingin minum apa? Aku sudah janji akan mentraktirmu." Tanya Naruto- senpai. Aku menatapnya, tapi tidak berani untuk melihat langsung matanya.

"Aku ingin teh saja," jawabku.

"Baiklah, aku pesankan dulu," ucap Naruto-senpai. Kemudian dia beranjak menuju tempat memesan makanan. Aku hanya duduk dalam diam, sesekali melihat Sasuke-senpai dan Sakura yang duduk di dekat jendela. Mereka terlihat senang, terutama Sakura.

Cukup lama aku menunggu Naruto-senpai, sampai pada akhirnya dia datang membawa nampan. Dia meletakan nampan itu di atas meja. Kulihat di nampan itu terdapat dua mangkuk ramen, teh pesananku dan jus jeruk. Naruto-senpai meletakan teh dan semangkuk ramen di depanku dan sisanya ia taruh di hadapannya. Aku terdiam menatap makanan yang tersaji di depanku.

"Aku hanya berpikir kau pasti lapar, tapi aku tidak tahu kau suka apa jadi aku belikan saja ramen asin," ujar Naruto senpai sambil menggaruk belakang kepalanya, sedikit salah tingkah.

Aku tersenyum tipis. Ternyata Naruto-senpai baik sekali. "Tidak apa, terima kasih senpai, nanti aku ganti uangnya," jawabku masih tersenyum.

"Eh, tidak usah, aku yang traktir. Jarang sekali loh aku mentraktir seseorang," canda Naruto-senpai, dia tidak canggung lagi.

Aku tertawa kecil. "Terima kasih lagi, senpai."

"Ya! Kalau begitu kita makan sekarang!" ujarnya semangat. Langsung saja ia lahap ramen yang ada di hadapannya. Aku memperhatikannya sebentar. Naruto-senpai lucu juga kalau seperti ini. Kemudian aku mulai memakan ramen asinku. Rasanya enak juga.

Aku makan dengan perlahan, sesekali aku teguk tehku. Kulirik Naruto-senpai, dia sudah selesai dengan makanannya sedangkan aku baru menghabiskan setengah dari ramenku.

Dia menopangkan dagu dan memperhatikanku dalam diam. Jujur saja aku malu diperhatikan olehnya.

"A-anu... Naruto-senpai, kenapa melihatku terus?" tanyaku malu. Butuh keberanian yang besar bagiku untuk menegurnya.

"Apa kau tidak suka dengan ramennya?" tanyanya sambil menunjuk mangkuk ramenku.

"Eh,? Tidak kok... aku suka," jawabku masih sedikit bingung.

"Oh... aku kira, habisnya ramenmu masih tersisa cukup banyak," tuturnya.

"Eh itu... aku hanya tidak bisa menghabiskannnya, terlalu banyak," jawabku sambil tertunduk. Sungguh, bersamanya untuk waktu lebih lama pasti akan membuatku pingsan.

"Kalau begitu aku bantu habiskan ya?" tanya Naruto-senpai dengan semangat, dia sudah memegang sumpitnya.

"Iya..." ujarku pelan. Aku menyodorkan mangkuk ramenku ke tengah. Naruto-senpai langsung mengambil mie dari dalam mangkuk. Akupun turut melakukannya. Aku bisa merasakan wajahku sedikit tersipu, karena malu, tentu saja. Baru kali ini aku makan dengan seorang lelaki selain yang berasal dari keluargaku. Terlebih... lelaki yang ada di hadapanku ini menyita sedikit dari perhatianku.

Ramen di mangkukku habis tepat saat bel masuk berbunyi. Dengan cepat aku meraih tehku dan meminumnya.

"Pelan-pelan saja Hinata, jangan sampai tersedak," nasehat Naruto-senpai. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Setelah selesai Naruto-senpai mengantarku sampai ke depan kelas.

"Terima kasih ya, Hinata, sudah mau menemaniku makan bahkan mendengar ocehanku," kata Naruto-senpai sesampainya kami di depan pintu kelasku

"Sama-sama senpai. Terima kasih atas traktirannya," jawabku.

"Hehe... iya!" ujar Naruto senpai. "Belajar yang benar ya, adikku!" Naruto senpai menepuk kepalaku dengan pelan aku tertunduk malu. Tapi ada sedikit perasaan mengganjal di dada ini, aku sedikit tidak terima dia memanggulku adik, meskipun memang aku adik kelasnya. Setelah itu ia langsung berlari menuju kelasnya.

Flashback end

Uuuhh... rasanya senang sekali meskipun aku hanya memikirkannya. Apa aku benar-benar menyukai Naruto-senpai? Ah, biarkan saja waktu yang menjawab.

Paginya entah mengapa aku selalu ingin tersenyum. Aku masuk ke dalam kelas dan disambut oleh Sakura yang terlihat ceria seperti biasa.

"Pagi Hinata! Apa ada hal yang menyenangkan?" tanya Sakura sembari mengikutiku menuju tempat dudukku.

"Hm? Memangnya kenapa Sakura?" tanyaku balik. Aku menurunkan kursi dari atas meja kemudian duduk. Sakura duduk di bangku di depanku dan menghadapku.

"Kau tersenyum saja sejak datang. Apa ada hal yang bagus? Ayo cerita..." mohon Sakura. Aku masih tersenyum.

"Ah... itu, hanya senang karena aku akhirnya sadar," jawabku.

Sakura memasang tampang tidak mengerti, kemudian dia bertanya, "maksudnya?"

"Aku sadar kalau aku menyukainya," jawabku sambil memainkan jari-jariku, ini menjadi kebiasaanku kalau sedang gugup.

"Kau menyukai seseorang?" pekik Sakura, dia terlihat senang dengan berita ini.

"Aku belum yakin..." jawabku pelan. Aduh aku ragu sekali ingin bertanya pada Sakura. Tapi kalau aku tidak berani bertanya aku akan terus memikirkan ini.

"Sa-sakura... boleh tanya sesuatu?" tanyaku dengan nada yang ragu.

"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan?" Sakura menopang dagunya dan menatapku dengan rasa penasaran.

"Anu... itu... bagaimana kau tahu kalau kau... mmm... me-menyukai seseorang?" tanyaku dengan nada yang pelan diakhir kata.

Aku menatap Sakura, dia sedang berpikir tapi senyum tak lepas dari bibirnya. "Tanda menyukai seseorang..." gumamnya pelan tapi masih bisa aku dengar. "Kalau kau menyukai seseorang, kau akan menerima orang itu apa adanya, kau selalu senang dan ingin tersenyum saat memikirkannya, kalau bertemu rasanya bahagia sekali. Pokoknya kau hanya akan melihat orang tersebut dan selalu memikirkannya. Dan yang lebih pasti jantungmu akan berdetak lebih cepat dari normal, tanpa kau kehendaki."

Penjelasan Sakura menjawab semuanya, aku memang menyukai Naruto-senpai, secara tidak sadar aku selalu ingin melihatnya walau hanya sekilas. Entah mengapa menyadari hal ini membuatku lebih bahagia.

"Wah... sepertinya kau memang sedang jatuh cinta Hinata, kapan-kapan beritahu aku siapa lelaki beruntung itu," ucap Sakura lalu dia duduk di bangkunya. Ternyata bel sudah berbunyi tadi.

Istirahat tiba, tapi aku sedang malas pergi ke perpustakaan jadi kuputuskan pergi ke atap. Dalam hati aku berharap dapat berpapasan dengan Naruto-senpai walau sekilas, tapi sampai aku menaiki tangga menuju atap aku tidak melihat dia, mungkin di kantin.

Aku buka pintu yang menghalangi jalanku dan mataku sedikit menyipit menerima cahaya yang menyilaukan. Tempat tinggi memang menyenangkan, angin yang sejuk bertiup di atas sini, tempat yang nyaman untuk bersantai. Mataku memandang berkeliling, sepi, hanya suara daun-daun yang saling bergesekan yang dapat kudengar ditambah tiupan angin yang tidak begitu kencang.

Aku berjalan menyusuri tembok pembatas yang tidak terlalu tinggi. Saat sedang melihat tanpa arah, aku menemukan sesosok orang yang aku kenal, Naruto-senpai sedang berdiri di dekat tembok pembatas, pandangannya tak terfokus pada apapun, dia sepertinya sedang melamun. Tatapan matanya sayu, seakan dia memiliki beban pikiran yang berat. Sempat terbesit dalam benakku aku ingin memeluknya, tapi aku sadar kalau aku bukan siapa-siapanya.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuat dada ini sedikit sakit, Naruto-senpai sudah memiliki orang yang disukainya. Kenapa aku baru ingat sekarang? Tapi... aku bolehkan menyukaimu, senpai?

Akupun hanya berdiri menatap sendu pada Naruto-senpai yang tidak menyadari keberadaanku, tapi biarlah, aku ingin seperti ini untuk sekarang.

Pulang sekolah perasaanku tidak kembali membaik, aku sendiri bingung dengan diriku ini. Aku butuh seseorang untuk bertanya. Dan sepertinya yang di atas memenuhi keinginanku, aku melihat sosok Sakura yang sedang berdiri di dekat gerbang sekolah. Dengan segera aku menghampirinya, berharap ia tidak beranjak dari sana.

"Sakura!" panggilku. Dia menoleh dan melambaikan tangannya padaku.

"Menunggu Sasuke-senpai?" tanyaku sesampainya aku di sana. Dia mengangguk.

"Ada apa Hinata?" tanya Sakura.

"Anu..." aku melihat sekeliling, berharap tidak ada orang lain yang memperhatikan kami. "Aku ingin bertanya lagi Sakura. Apa kita salah kalau menyukai seseorang tapi orang itu menyukai oranglain?"

Sakura diam sebentar kemudian menjawab. "Aku rasa tidak, karena kita tidak menahan perasaan kita. Yang perlu kau lakukan, menghargai perasaan orang yang kau sukai itu. Kau tahukan kalau menyukai seseorang itu menyenangkan, tapi setiap kebaikan tentu ada hal yang buruk juga. Kau pasti mengerti apa maksudku?"

Aku mengangguk. Ya, aku mengerti apa yang dimaksudkan Sakura. Untuk saat ini aku ingin menyimpan perasaanku untuk Naruto-senpai, karena hanya dengan menyukainya saja aku sudah bahagia.

TBC