Naruto © Masashi Kishimoto
-NaruSakuSasu-
One Last Kiss
by clayderain
II
.
.
.
Gadis itu sudah pergi.
Sasuke menarik nafas perlahan setelah membaca pesan singkat dari Naruto pagi ini—yang mengatakan bahwa Sakura akan meninggalkan Tokyo siang nanti.
Entah mengapa, Sasuke merasa belenggu yang menggerogoti jiwanya dua minggu terakhir lepas begitu saja.
Sakura Haruno akan meninggalkan hidupnya lagi.
Pemikiran itu membuat perasaannya lebih baik. Seolah ia bisa bernapas normal seperti sebelumnya. Sebelum Sakura berdiri kembali di hadapannya.
Tapi, disaat bersamaan, Sasuke merasa kekosongan merayapi hatinya—kekosongan yang begitu menyesakkan.
Merasa kondisinya akan memburuk kembali jika terlalu banyak berpikir, ia memutuskan untuk mandi dan menyegarkan pikirannya.
Sasuke melangkah memasuki kamar mandinya, lalu mengurungkannya ketika mendengar suara bel berbunyi. Ia mengarahkan langkahnya ke arah pintu ke luar kamar, menuju pintu depan apartemen.
Ia melihat seorang petugas keamanan berdiri di depan apartemennya melalui layar interkom. Sasuke menyernyit bingung, tapi akhirnya membukakan pintu untuk pria itu. Berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk—yang akan merusak suasana hatinya lagi.
Dan ternyata, harapannya tidak terkabul.
Di balik pintu itu, petugas keamanan menyapanya dengan senyum lalu mengatakan."Nona ini mencari anda, Tuan Sasuke."
Sasuke sama sekali tak mampu mencerna apa yang diucapkan pria itu. Satu hal yang dapat dipikirkannya adalah sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sakura Haruno tidak pergi—melainkan melangkah masuk ke dalam kehidupannya. Lagi.
-oOo-
"Hai."
Napas Sasuke tercekat mendengar Sakura menyapanya. Senyum gadis itu merekah menunggu reaksinya.
"Kuharap aku tidak menggangu tidurmu."
Setelah berusaha mengumpulkan suaranya kembali, Sasuke hanya mampu mengucapkan."Sakura…"
Petugas keamanan yang tadi mengantar Sakura sudah pergi. Meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua, masih dalam posisi yang sama. Sasuke belum sanggup mempersilahkan Sakura masuk.
"Bagaimana kabarmu, Sasuke?" tanya Sakura lagi."Sudah lama kita tidak bertemu."
Sasuke tidak membalas ucapan Sakura. Ia masih tidak mampu mengatakan pada gadis itu jawaban dari pertanyaannya atau melakukan hal apapun.
"Silahkan masuk."
Sakura tersenyum lembut. "Terimakasih."
"Apartemenmu bagus,"komentar Sakura setelah melihat-lihat interior ruangan.
Setelah merasa keteganganyang dirasakannya berkurang, Sasuke mulai angkat bicara. "Apa Naruto mengetahui kau sedang berada di sini?" tanya Sasuke—merasa harus mempertanyakan kehadiran gadis itu di apartemennya sepagi ini.
Sakura menatapnya lurus. Emerald bertemu onyx miliknya. Sasuke kembali tercekat. Tatapan itu…
"Apa kau berharap aku mengatakan semua hal kepadanya?" jawab Sakura dengan suara yang berbeda dari sebelumnya. Dingin dan angkuh.
Sasuke tak berkata apa-apa.
"Aku datang ke sini hanya untuk menyampaikan salam."
Sakura melangkah mendekati Sasuke hingga kini Sasuke dapat melihat mata dingin Sakura berkilat tepat di depan wajahnya.
"Senang bertemu lagi denganmu, Sasuke-kun."
-oOo-
"—Sasuke-kun…"
Panggilan itu. Suara itu. Mata itu. Wajah itu. Sakura…
Sasuke tidak biss bernapas dengan baik. Perasaan itu kembali datang membelenggunya—menyiksanya hingga membuatnya merasa sakit.
Padahal Sakura sudah lama pergi—dan mungkin ia takkan melihatnya lagi.
Tapi perasaan itu makin besar. Menyesakkan dadanya.
Apa yang harus dilakukannya?
Sejak melihat Sakura kembali di pesta itu—sebagai kekasih Naruto—kenangan yang tersimpan jauh di pikirannya, perasaan yang tersimpan di sudut terdalam hatinya, muncul dan mengambil alih dirinya.
Dan pagi itu kenyataan lain menamparnya keras. Sakura Haruno yang sekarang, berbeda dengan Sakura Haruno yang dikenalnya dulu.
-oOo-
"Kau ini kenapa sih, Sasuke?"
Naruto bertemu dengan Sasuke setelah mengantar Sakura ke bandara. Sejak Naruto bersama Sakura, ia memang baru dua kali bertemu muka dengan Sasuke.
Saat ini, mereka berada di sebuah restoran Prancis di dekat apartemen Sasuke. Ia sengaja mengajak Sasuke ke tempat ini, agar dapat membuat perasaan Sasuke membaik setelah menyantap makanan favoritnya.
Naruto sudah mendengar dari Itachi kalau Sasuke sedang tidak baik; entah karena kepenatan atau hal lain. Dan rencananya, ia berniat menghibur Sasuke.
Sayangnya, rencananya belum berhasil. Sasuke memang tampak lebih rileks, tapi ekspresi wajahnya masih begitu dingin dan tertekan. Sasuke juga tidak terlalu banyak bicara—lebih dari biasanya.
"Sasuke, ayolah, ada apa denganmu belakangan ini? Kau terlihat seperti zombie. Tidak, lebih buruk dari itu," ucap Naruto memancing Sasuke untuk berbicara.
Sasuke melirik tajam ke arahnya."Lebih baik kau habiskan makan siangmu—aku baik-baik saja,"balasnya singkat, lalu kembali menekuni makan siangnya.
Tapi Naruto memang dilahirkan untuk menjadi orang keras kepala. Tentu saja, ia tidak akan membiarkan subjek ini terhenti begitu saja tanpa menadapatkan informasi apa pun.
"Apa kau sedang jenuh dengan pekerjaan kantor, hm?"
Sasuke menatap Naruto. Beberapa detik berikutnya, mengangguk. "Mungkin."
Naruto mengangguk mengerti. "Kurasa kau bisa mengambil cuti."
"Aku tidak ingin pergi kemana pun."
"Demi Tuhan, Sasuke. Kau sudah bertingkah menyebalkan sepanjang hari ini. Sudah jelas kau membutuhkan liburan sejenak," sahut Naruto tidak sabar.
Meski belum menyentuh poinnya, Naruto merasa lega jika masalah yang menyebabkan Sasuke seperti ini hanya karena kepenatan bekerja. Meskipun, entah mengapa ia sendiri tak terlalu yakin tentang hal itu.
Jeda sesaat. Sasuke menatap piring berisi quiche –pai telur—di mejanya intens. Tak lama kemudian, ia mengangguk lagi.
"Baiklah," jawab Sasuke."Aku akan mengambil cuti dua minggu."
Naruto menyeringai senang."Baguslah, kuharap liburanmu akan memperbaiki kelakuanmu, sobat."
Sasuke tidak membalas. Mereka kembali menikmati santap siang yang tersaji di meja. Walaupun Sasuke hanya mampu menelan sedikit makanan ke dalam kerongkongannya.
"Omong-omong, kau sudah tahu akan pergi ke mana?"
Sasuke mengangkat bahu. "Entahlah,"jawabnya acuh tak acuh. Tapi kemudian ia menggumamkan sebuah tempat yang sudah lama ingin dikunjunginya."Paris. Mungkin aku akan pergi ke sana."
Naruto membelalak kesal mendengarnya."Sial! kenapa kau harus pergi liburan sejauh itu? Kau sengaja ingin membuatku iri, ya?"
"Kenapa kau tidak ikut mengambil cuti?"
Naruto mendengus jengkel."Ya. dan kau pasti akan memecatku, boss."
Sasuke hanya menyeringai menatapnya.
-oOo-
"Kau akan pergi ke Paris, hm? Mendadak sekali," komentar Itachi setelah mendengar Sasuke akan pergi ke Paris lusa. Dan sekarang ia sedang berada di dalam apartemen Sasuke, sambil membantu Sasuke mengemas barang bawaan adiknya—walaupun hanya sedikit.
"Hn. Aku sudah mengambil cuti. Naruto yang akan mengurus pekerjaanku."
"Baiklah," kata Itachi."Kau memang terlihat membutuhkannya."
Sasuke memasukkan pakaian dan beberapa barang ke dalam kopernya. Ia memang tidak terlalu membawa banyak barang. Hanya barang-barang yang penting, yang dibutuhkannya selama perjalanan.
"Apa kau akan pergi sendiri?" tanya Itachi lagi.
Sasuke melirik Itachi sekilas, lalu bertanya."Apa kau mau ikut denganku?"
Itachi memberenggut."Kau tak perlu membuatku iri, Sasuke. Kau tahu, aku sudah mengambil cuti bulan lalu."
Tiba-tiba Itachi menyeringai dan menatap Sasuke dengan onyx-nya yang berkilat.
Sasuke menyernyit tidak mengerti melihatnya.
"Tapi kurasa kau tidak akan sendirian di sana," ucap Itachi dengan suara menggoda."Kudengar gadis Prancis itu sangat eksotis."
Sasuke memutar bola matanya bosan."Aku tidak peduli tentang itu, Itachi. Diamlah."
"Tapi kau memang harus segera menemukan pasangan. Sampai kapan kau akan menyendiri terus?"
Sasuke tidak menjawab—dan Itachi merasa menyesal telah mengatakan hal itu setelah melihat kesedihan tergambar dengan jelas di wajah adiknya.
.
.
.
TBC
A/N:
Terimakasih bagi yang sudah membaca chapter ini dan chapter sebelumnya.
Dan terimakasih juga atas review-nya.
Sorry untuk typo dan lainnya.
RnR?
