CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA
...
Lisa benar-benar tidak menyangka, hanya sebuah foto satu putranya yang dia unggah ke sosial medianya sangat berdampak besar.
Banyak akun-akun gosip membicarakan putranya di mana-mana, mereka mulai mencari tau apa saja yang mengenai Naruto, bahkan fandom tentang putranya sudah terbentuk.
Pikiran Lisa hanya terlintas satu hal...
Mengerikan.
Ada beberapa kumpulan foto dan video sekilas yang pernah di ambil fans yang menampakkan Naruto sedang berjalan beriringan bersamanya, tidak tanggung-tanggung mereka bahkan sejeli itu memperhatikan anaknya. Padahal Lisa seminim mungkin tidak ingin putranya terlihat kamera.
Dan kemarin, foto Naruto bersamanya ketika di acara festival musiman, mereka bahkan menemukannya.
Lisa hanya bisa menggelengkan kepalannya, beruntungnya Naruto tidak memiliki sosial media, apa jadinya jika putranya bermain sosial media, mungkin putranya akan trauma.
"mah, hari ini kita jadi makan di luar?"
Naruto menghampiri ibunya dengan penampilan rapi, dia sudah bersiap untuk makan malam bersama ibu dan ayahnya.
Mereka ada janjian hari ini di sebuah restoran bintang lima yang berada di sebuah pusat perbenlajaan di kota, kebetulan ayahnya baru kembali dari Swiss dan acara kecil-kecilan ini untuk menyambut kedatangannya.
Lisa tersenyum, "tentu, katanya ayahmu sudah hampir sampai, kita jalan juga yuk"
Naruto mengangguk.
-o0o-
Lisa dan Naruto tiba di restoran keluarga, tempat mereka akan makan malam.
Lisa berulang kali memastikan keadaan sekitar, seperti mencari sesuatu yang membuat Naruto bingung.
"ada apa mah?" Naruto memperhatikan Lisa yang tampak sibuk melirik kanan kirinya.
Lisa tersenyum, "gapapa sayang, mama lagi cari seseorang" kilah Lisa, dia tidak ingin putranya tau.
"oh kalau gitu aku bantu cari aja" Naruto hendak turun dari mobil dan membantu Lisa mencari orang yang dimaksudnya.
Namun dengan cepat Lisa menahan tangan putranya, dia tidak boleh turun sembarangan dari mobil, apalagi setelah wajahnya mulai terekspose oleh awak media.
"mama gak cariin dia lagi kok, mending kamu telepon ayahmu, katakan kita sudah sampai, kita harus menunggunya sebelum turun dari mobil" Lisa memberikan ponselnya pada Naruto
Naruto menerima dan menganggukkan kepalanya, mungkin ibunya punya keperluan lain. "baiklah"
"mah, kata ayah dia sudah menunggu di dalam" Naruto mengembalikkan ponsel Lisa. "aku turun duluan, yah" ucap Naruto ketika melihat ibunya tampak sibuk mencari sesuatu dalam tasnya.
"tunggu sayang" Lisa menarik Naruto dan meletakkan sebuah topi di kepalanya dan memasangkannya masker.
"buat apa ginian mah"
Lisa tersenyum, dia menangkup wajah Naruto dan mencium kening dan pipinya, "ini demi kebaikan kamu, nurut aja sama mama yah"
Naruto benar-benar bingung dengan sikap Lisa akhir-akhir ini, tampak lebih posesif. yah, dia juga sebenarnya tau, Lisa memang posesif tapi kali ini sifat posesifnya naik ke tingkat berbeda. tapi sebagai anak, Naruto menurut saja, toh ibunya juga pasti melakukan itu demi kebaikannya.
"yaudah"
Sepanjang perjalanan masuk ke dalam restoran, Lisa menggandeng tangan putranya, tidak membiarkannya jalan sendiri. Beruntunglah ayah Naruto memesan ruang privat jadi mungkin mereka hanya bertiga di dalam.
"apa kabar Lisa?" ayah Naruto menyambut mereka ketika mereka tiba di dalam, "itu siapa?"
Naruto membuka maskernya, "ini aku, ayah"
"kenapa kamu pake begituan?"
"tanya saja sama mama"
Lisa memberikan tatapan isyarat pada ayahnya Naruto, Alhaitham.
"baiklah, aku mengerti" Haitham akan meminta penjelasan nanti.
Lisa dan Haitham duduk berhadapan. sedangkan Naruto duduk di samping mereka.
"kulihat kau baik-baik saja setelah dari Swiss" Lisa membuka percakapan di antara mereka.
"yah begitulah, bagaimana dengan pekerjaanmu?" Haitham bertanya dengan basa-basi.
Naruto mendengarkan ini dan merasa jengah sendiri melihat kedua orang tuanya yang berbicara seperti dua orang asing yang baru bertemu. Tapi Naruto sama sekali tidak punya keberanian untuk menegur keduanya. dia lebih memilih untuk menenggelamkan dirinya ke dalam buku.
Mereka berbincang-bincang ringan sebelum Haitham bertanya pada Naruto.
"ngomong-ngomong Naru, bagaimana dengan sekolahmu?" Haitham bertanya pada putranya.
"ehm, umm Miss Carol masih mengajariku"
"huh? seriously?" Haitham menatap Lisa dengan tatapan terkejut, "apa maksudnya ini Lisa? bukankah kau bilang akan menyekolahkan Naru ke sekolah umum?" Haitham menuntut penjelasan.
"ada banyak hal yang terjadi, aku pikir homeschooling sudah cukup untuknya"
Haitham menggelengkan kepalanya, "itu berbeda Lisa, Naru juga butuh teman, jangan hanya melihat dari sisi pendidikannya saja, Naru butuh interaksi" ucap Haitham tegas.
"aku tau apa yang terbaik buat anakku, Haitham. jadi tolong jangan mengguruiku" Lisa sudah mulai kesal.
"hey, jangan lupakan dia putraku juga, aku ayahnya berhak memperhatikan masa depannya" Haitham juga kesal.
"kau sering berpergian, memangnya kau tau apa soal perkembangannya?" Lisa menaikkan volume suaranta.
"meski aku pergi, aku tau apa saja yang Naru alami" Haitham tidak mau kalah.
"jangan sok tau, aku yang lebih tau karena dia bersamaku!"
"yaudah, mulai besok Naru tinggal sama aku!" Haitham menatap tajam Lisa.
"hah? jangan ngomong sembarangan, aku ibunya, dia lebih berhak tinggal sama aku" Lisa mulai berdiri dan tidak terima dengan pernyataan Haitham.
"loh kok? jangan egois gitu dong, aku juga punya hak tinggal sama anakku, Lisa"
"heh? memangnya kau tau apa saja yang putraku perlukan? kalau kau mau, datang saja ke rumah, tapi jangan sekali-kali kau berani mengambil anakku!" Lisa mulai berteriak.
Haitham memukul meja, "Lisa, dia anakku juga, jangan egois bisa gak? aku udah ngalah ketika kau menang soal hak asuh anak. kalau begini caranya, aku akan ambil lagi hak asuh Naru di pengadilan" Haitham menunjuk Lisa.
Lisa menepis tangan Haitham, "jangan pernah kaitkan soal hak asuh anak di depanku, aku ibunya, aku lebih cocok dibandingkan kau!"
"Lisa, kau-"
"Cukup!" Naruto berteriak, melerai keduanya yang sudah sama-sama panas.
Lisa dan Haitham tenggelam dalam perdebatan mereka dan tidak sadar bahwa Naruto ada bersama mereka dan melihat kelakuan kedua orang tuanya.
Keduanya berhenti.
"mama, ayah, aku ke sini buat menghabiskan waktu bersama kalian, bukan menonton pertengkaran kalian" Naruto mengusap wajahnya, "aku ingin kalian rukun setelah tidak lama bertemu"
Naruto memasang wajah sedihnya, "tolong, kalian jangan ada yang saling egois, aku tetap anak mama dan ayah"
Yah, keduanya memang rukun setelah berpisah itu karena mereka tidak sering bertemu satu sama lain. kadangkala jika bertemu, pertengkaran bisa terjadi. Naruto sedih melihat kedua orang tuanya bertengkar hanya untuk masalah sepele.
Lisa mendekati dan dan memeluk anaknya, "maafin mama, sayang. mama egois"
Lisa menyesali pertengkarannya yang membuat suasan hati anaknya menjadi buruk. Haitham menghela nafas gusar, dia ikut mendekat dan mengusap kepala Naruto.
"maafin ayah, ayah yang salah"
Diam-diam Naruto menghela nafas lega melihat kedua orang tuanya yang sudah tenang.
Mereka akhirnya makan malam dengan tenang.
-o0o-
Haitham, Lisa dan Naruto menyelesaikan makan malam mereka dan kembali melanjutkan perjalanan dengan mengelilingi pusat perbelanjaan. Haitham berniat membelikan hadiah untuk putranya, karena tidak sempat membelikan oleh-oleh, untuk menebusnya, Haitham membebaskan Naruto untuk memilih apa saja yang diinginkannya.
"wah Lisa, apa kabar?"
"wih Haitham juga, apa kabar?"
Ditengah-tengah perjalanan mereka beberapa wanita dan pria dengan wajah senang datang menghampiri mereka.
Naruto sedikit tau siapa mereka, itu teman sosialita ibunya dan ayahnya.
"kabar aku baik" Lisa juga menyambutnya dengan baik.
Beberapa dari mereka me-notice keberadaan Naruto.
"ini anakmu Lisa? sudah besar, yah. gantengnya" mereka memuji Naruto.
Naruto tersenyum ramah dan mengucapkan terima kasih. membuat mereka takjub dengan kesopanan putra aktris besar itu.
Mereka mengobrol banyak sadar terlena dan lupa sekitarnya. Naruto merasa tersisihkan. dia melirik Haitham yang sedang sibuk juga berbincang dengan seseorang.
Karena merassa terabaikan, Naruto diam-diam meninggalkan mereka, dia berniat berjalan-jalan dan mencari barang yang diperlukan sendiri. ibu dan ayahnya sedang sibuk, dia tidak enak mengintrupsi mereka.
Saat sedang asik berjalan, Naruto dan beberapa cewek tak sengaja saling bertabrakan.
"aduh"
"maaf kak... saya tidak sengaja" Naruto panik karena tidak sengaja menabrak orang.
"gapapa, saya juga tidak hati-hati"
Naruto merasa bersalah, "maaf yah kak"
"eh?" salah seorang dari mereka menatap Naruto dan menyadari sesuatu, "nama kamu siapa?" dia kemudian bertanya.
"eh aku?" Naruto menunjuk dirinya. "Naruto Minci"
Mereka terdiam sebelum berteriak "kyaaa!" khas cewek histeris karena ketemu idolanya.
Naruto terkejut dengan reaksi mereka, "ada ap-"
"YAAMPUN, ANAKNYA LISA, GANTENG BANGET!"
"BOLEH MINTA FOTO GAK?"
"KYAAAA! SALAMAN DONG"
"IKUT KE RUMAH YUK!"
"IHH KOK KAMU LUCU"
"NARU-CHAN!"
"EH, INSTAGRAM KAMU APA?!"
"KYAAAA!"
Naruto panik karena tiba-tiba semua orang tampak mengerubunginya terutama dan kalangan cewek-cewek, mereka memotret mencoba Naruto dan ingin melakukan foto bersama. terlebih lagi Naruto tidak memiliki bodyguard di sekitarnya.
Naruto pusing, tidak pernah mendapatkan hal seperti ini sebelumnya, dia sangat panik.
"tunggu, a-aku..."
Kepala Naruto terasa pusing, dia tidak tau cara menghadapi situasi yang membuatnya sesak dan tak bisa bergerak.
Sementara itu, di tempat Lisa.
Lisa masih sibuk berbincang dengan teman-temannya, sebelum seseorang berkata dan mengalihkan perhatiannya.
"eh, itu ada apa di sana, kok rame?" ucap salah satu teman Lisa.
Lisa menghentikan percakapannya dan menoleh, dia belum sadar bahwa anaknya menghilang.
"ada artis, ada artis" mereka mendengar suara orang berteriak di sekitar kerumunan.
"artis siapa yah, apa ada acara meet and greet?" mereka bertanya-tanya.
Lisa memperhatikannya cukup lama.
"ngomong-ngomong Lisa, anakmu tadi ke mana?"
Lisa terkesiap, "eh iya, astaga aku lupa" Lisa segera berdiri dan panik. Naruto tidak ada di sampingnya.
"Nyonya!" supir pribadi Lisa mendatangi majikannya, "tuan muda di kerumuni cewek-cewek"
Mata Lisa melebar, tanpa ba-bi-bu dia segera berlari menuju Naruto, dia cemas, panik dan menyalahi dirinya
"astaga, sayang, mama melupakan kamu"
Lisa lupa, bahwa Naruto sudah terkenal sekarang, wajahnya mudah dikenali.
"jangan sentuh putraku!" Teriak Lisa.
.
.
-TBC-
