Disclaimer: Naruto belong to Masashi Kishimoto-sensei. I only own the storyline. Nothing else.

Warnings: canon-verse (tidak ada pembantaian klan Uchiha, Akatsuki atau Madara), implisit LIME, Sho-Ai, bahasa, typo, sedikit OOC dan IC, dan sebagainya.


SCENT

Part II: Cure?

(c) crimson-nightfall


Sasuke tidak menyangka akan mendapati sosok Naruto berdiri di pintu gerbang desa Konoha sekembalinya ia dari misi bersama Kakashi. Sasuke bisa merasakan langkah kakinya terasa berat setiap kali kedua kakinya melangkah mendekati gerbang desa; berharap ia bisa mengambil jalan lain untuk menghindari si pirang. Atau, mungkin ia harus menunggu dan membiarkan Kakashi kembali seorang diri sampai Naruto tidak terlihat lagi di sana? Tidak. Ia tidak bisa melakukannya ketika mendengar Naruto berteriak memanggil namanya sambil melambaikan tangan.

Sasuke masih tidak tahu apakah efek samping yang dideritanya sudah menghilang atau tidak. Selama seminggu lebih ia tidak berada di dekat si pirang untuk membuktikan hal tersebut; lebih memilih untuk menjalani misi yang memungkinkannya tidak berada di Konoha sampai efek samping itu hilang seperti apa yang pernah dijelaskan Tsunade kepadanya. Apakah jika ia berada di dekat Naruto, ia tidak akan lagi bisa mencium aroma memabukkan dari tubuh pemuda itu? Sasuke bertanya kepada dirinya sendiri.

Bagaimana jika... bagaimana jika ternyata efek itu masih ada di dalam tubuhnya?

Ia tahu, seharusnya sekarang ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan apakah dirinya sudah sembuh atau tidak. Bukankah sudah seminggu lebih sejak hari di mana ia terkena efek jutsu dari gulungan itu? Harusnya sekarang ini ia sudah sembuh, bukan? Lalu apa yang ditakutkannya? Heh! Sasuke bukanlah seorang pengecut yang akan segera lari seperti seekor anjing yang akan dipukul hanya karena takut lepas kendali di hadapan si pirang, bukan?

Tidak. Tentu saja tidak demikian. Seorang Uchiha tidak akan bersikap seperti pengecut.

"—Sasuke! Kakashi-sensei!"

Pemuda bermarga Uchiha itu mendengar panggilan Naruto. Sempat mengerling ke arah Kakashi yang berjalan tepat di sampingnya sambil—tidak lupa—membaca buku bersampul oranye. Dalam diam memutar matanya atas pemandangan yang sudah biasa tersebut. Ia tidak akan berpikir bagaimana Hatake Kakashi bisa berjalan tanpa terjatuh sementara pandangan terpaku pada buku porno di tangan pria itu.

Sepasang oniks miliknya mengamati sosok Naruto yang berlari ke arahnya. Namun ketika pemuda berambut pirang cerah itu hanya berjarak beberapa meter darinya, Sasuke bisa merasakan tubuhnya kembali menegang hanya karena mencium aroma yang sangat dihindarinya selama beberapa hari terakhir. Dan ia segera tahu apa yang terjadi kepadanya.

Efek samping itu belum hilang! Ia kembali merasakan tubuhnya memanas hanya karena mencium aroma tubuh Naruto tidak jauh darinya. Napasnya seperti tersangkut di tenggorokannya setelah aroma memabukkan itu terhirup dan perlahan memasuki paru-parunya; menyebabkan sensasi aneh yang mampu membuat kepalanya terasa pusing.

Sasuke mengerang pelan, menutup hidungnya dengan telapak tangan sembari mundur beberapa langkah. Ia berusaha tidak mengacuhkan Naruto yang tiba-tiba berhenti mendekatinya. Kening pemuda itu berkerut dan ingin mengucapkan sesuatu sebelum Sasuke terlebih dahulu mengangkat tangannya yang bebas; menyuruh Naruto untuk diam. Ia menggeleng pelan dan tanpa mengatakan apapun kepada Kakashi atau Naruto, berjalan menjauhi kedua orang itu—masih menahan napas selama yang ia bisa.

Ia benci keadaan seperti ini. Sasuke benci efek samping yang membuat dirinya tidak seperti ia yang biasanya. Hanya karena efek samping sialan itu, ia merasakan sesuatu yang aneh terhadap Naruto. Demi Dewa Jashin, mengapa di antara semua orang, ia harus mengalami hal seperti ini kepada Naruto? Mungkin... mungkin sebaiknya ia tidak kembali ke Konoha secepat ini. Mungkin sebaiknya ia harus meminta Tsunade untuk memberinya misi lain. Paling tidak dengan demikian, ia tidak perlu bertemu dengan Naruto. Setidaknya sampai efek samping ini sembuh.

Tapi kapan ini akan berakhir?

Bagaimana jika ia tidak akan sembuh untuk selamanya? Haruskah ia terus menerus menghindari si pirang? Entah mengapa, Sasuke tidak menyukai pemikiran seperti itu. Ia tidak suka mengenai ide dirinya yang tidak bisa menemui Naruto lagi.

What. The. Hell? Mengapa tiba-tiba saja ia memiliki pemikiran seperti itu? Sasuke menggelengkan kepalanya. Mungkin ini karena efek samping sehingga membuatnya berpikir aneh seperti ini.

Sasuke yang terlalu sibuk bergelut dengan pemikirannya sendiri sampai tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Ia bahkan sampai tidak menyadari kehadiran Naruto yang mencoba mengejar sambil memanggil namanya. Barulah ketika merasakan sesuatu menahan lengannya, ia menyadari keberadaan pemuda berambut pirang cerah itu. Sempat membelalakkan kedua matanya. Ia mengumpat dalam hati ketika dirinya berusaha menjauhi Naruto namun pemuda itu berkeras untuk tidak melepaskan lengannya.

"Apa yang kauinginkan, Dobe?" Sasuke bertanya diselingi dengan geraman pelan, berusaha keras menahan sensasi aneh yang dirasakannya saat kembali mencium aroma khas dari Naruto. Kedua oniksnya terpaku kepada sosok pemuda di hadapannya. Ia bisa melihat bagaimana ekspresi tidak suka yang terukir di wajah Naruto saat ini. "Jika kau tidak mengatakan apapun, sebaiknya kau—"

"—Berhenti menghindariku, Sasuke."

Seorang Uzumaki Naruto sangat jarang berbicara seserius itu. Ia sangat mengenal bagaimana perilaku teman satu timnya selama ini. Sasuke hanya bisa terpaku ketika mendengar nada datar yang diucapkan Naruto barusan serta bagaimana sorot mata pemuda itu. Terlihat sangat serius dan Sasuke tidak menyukainya. Ia tidak suka bagaimana Naruto menatapnya saat ini.

Pemuda bermarga Uchiha itu mau tidak mau menghela napas panjang. Dalam hati berharap Naruto akan segera meninggalkannya sebelum ia melakukan sesuatu yang tidak seperti dirinya sendiri.

"Aku tidak pernah menghindarimu, Usuratonkachi."

Kalimat itu adalah sebuah kebohongan. Sasuke tahu jika ia sedang membohongi dirinya sendiri dan Naruto. Ia memang sedang menghindari si pirang karena 'sakit' yang tengah dideritanya dan menolak untuk berterus-terang kepada pemuda di hadapannya. Mengapa harus berbohong? Bukankah jika ia mengatakan hal yang sebenarnya, Naruto mungkin akan bersedia menjauhinya sementara waktu? Ah, tentu saja Sasuke tidak akan mengatakannya. Ia tidak suka meminta bantuan kepada orang lain, terlebih jika orang itu adalah Naruto.

"... Jika kau tidak sedang menghindariku, mengapa kau meninggalkanku secepat itu dan bahkan tidak mengatakan apapun, huh?" Naruto menggerutu pelan sembari mengeratkan cengkeraman pada lengannya. "Aku tidak suka kau menghindariku seolah-olah aku ini adalah wabah penyakit, Bastard!"

Tanpa memedulikan kalau sekarang ini mereka berada di jalan utama Konoha yang sedang ramai, Naruto berteriak kepadanya dan berhasil menarik perhatian orang-orang yang melintas di sekitar mereka. Sasuke mendecakkan lidahnya dan dengan sedikit kasar, menghentakkan lengan si pirang agar melepaskannya dan kemudian berjalan menjauh. Ia tidak sedang dalam keadaan baik untuk berdebat dengan Naruto. Ia terlalu lelah setelah misi yang diberikan Hokage kepadanya dan berdebat dengan Naruto adalah hal yang tidak diinginkannya sekarang. Pemuda itu terlalu berisik dan membuat telinganya tidak berhenti berdenging. Belum lagi aroma memabukkan yang berasal dari tubuh Naruto menjadikan dirinya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.

"Oi! Aku belum selesai bicara denganmu, Teme!" Naruto kembali berteriak namun kali ini Sasuke berusaha tidak mendengarkan apa yang dikatakan pemuda Uzumaki tersebut. Namun bukan Uzumaki Naruto nama pemuda itu jika dengan cepat menyerah. Umpatan kasar keluar dari bibir Sasuke saat menyadari jika idiot pecinta ramen itu kini tengah menariknya dari kerumunan di jalan utama Konoha menuju sebuah gang sempit. Ia mencoba untuk tidak meringis ketika punggungnya menghantam permukaan dinding yang keras; hanya bisa melayangkan tatapan tajam pada sosok Naruto yang sudah bersikap kasar padanya.

"Apa yang kauinginkan?" Sasuke mendesis tanpa menatap Naruto, berusaha menahan diri untuk tidak menerjang pemuda di hadapannya saat aroma tubuh Naruto menghantam indera penciumannya karena jarak mereka yang sangat dekat. Tiga buah titik menyerupai tanda koma terbentuk di kedua pupil matanya. Biarkan idiot pirang di hadapannya mengetahui jika dirinya sedang tidak ingin bermain-main. Memang, sejak kapan seorang Uchiha pernah bermain-main?

Sasuke menyadari kalau Naruto tidak mengatakan apapun kepadanya. Dengan ragu, ia mencuri pandang. Sempat tertegun saat menyadari jika Naruto menatapnya tanpa berkedip. Salahkah ia jika mengartikan pandangan pemuda itu dengan sesuatu yang lain? Ia menyadari bagaimana Naruto memandangnya saat ini. Tatapan itu... tatapan itu sangat berbeda dari yang sering diberikan Naruto padanya. Akan tetapi, Sasuke tidak bisa mengartikan isyarat apa yang diberikan Naruto sekarang.

"Berhenti menghindariku." Suara Naruto terdengar seperti bisikan namun bukan berarti Sasuke tidak bisa mendengarnya. "Aku tidak suka kau menghindariku, Sasuke."

Dan apa yang harus ia lakukan? Sasuke bertanya kepada dirinya sendiri. Jujur, ia juga tidak menyukai kondisi di mana dirinya harus menghindari si pirang. Namun apa yang harus dilakukannya? Ia tidak bisa membiarkan dirinya lepas kendali seperti apa yang terjadi di apartemen Naruto. Selama efek samping jutsu sialan ini belum hilang, mau tidak mau Sasuke harus melakukannya. Memangnya Naruto tidak merasa tidak nyaman dengan apa yang terjadi di antara mereka?

Dan... oh, Jashin~! Aroma tubuh Naruto semakin membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Aroma itu seperti menariknya untuk terus berada di dekat si pirang. Sasuke tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang dengan mata terpejam ketika hembusan angin yang bertiup semakin membuat aroma tubuh Naruto tercium dengan jelas olehnya. Dan Sasuke sama sekali tidak menyadari jika dirinya perlahan mencondongkan tubuh ke arah si pirang dengan kedua tangannya yang mencengkeram erat bagian depan jaket oranye milik Naruto, menenggelamkan kepalanya di antara perpotongan leher dan bahu si pirang.

Damn... ia tidak tahu mengapa Naruto bisa mempunyai aroma memabukkan seperti ini. Jauh lebih memabukkan dibanding sake atau minuman beralkohol lainnya. Sasuke penasaran, bagaimana seandainya jika dirinya mencoba mencicipi permukaan tubuh kecokelatan itu? Bagaimana rasa tubuh Naruto di lidahnya? Memabukkankah? Atau lebih memabukkan dibanding aroma pemuda itu?

Ya. Sasuke sangat ingin mengetahuinya.

。。。

"—Naruto."

Kedua pupil safir itu melebar mendengar Sasuke memanggilnya. Ia hampir saja mengira pendengarannya bermasalah setelah mendengar bagaimana nada suara keturunan Uchiha itu memanggilnya. Tidak. Naruto tidak salah mendengar jika barusan Sasuke baru saja mendesahkan namanya. Demi Gamabunta! Sasuke memang mendesahkan namanya dan harus ia akui, hal itu mengirimkan getar aneh pada tulang belakangnya.

"T—Teme...?"

Sang Jounin Konoha itu berusaha memanggil teman semasa kecilnya. Namun berkali-kali ia memanggil, Sasuke seolah-olah tidak mendengar. Pemuda berambut raven itu terlalu sibuk menghirup aroma tubuhnya dan—oh, tidak! Tidak! Jangan katakan jika sekarang Sasuke mulai menjilati lehernya! Oh, fuck!

Naruto tahu jika saat ini tubuhnya merasa tidak nyaman setelah menyadari apa yang dilakukan Sasuke. Tapi bukannya mendorong pemuda raven itu untuk menjauhinya, ia malah terpaku di tempat. Entah tidak ingin Sasuke menghentikan apa yang sedang dilakukan atau terlalu tidak bisa menganalisa apa yang tengah terjadi, hanya Naruto sendiri yang tahu.

Bukankah seharusnya ia menjauhkan tubuhnya dari Sasuke? Lalu mengapa ia hanya diam saja ketika merasakan bagaimana lidah pemuda itu menjilati lehernya sebelum menggigit permukaan tubuhnya. Dan... dan mengapa bukannya meneriaki Sasuke, ia justru memejamkan matanya dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara apapun? Kami-sama, ia pasti sudah gila. Ini benar-benar tidak seperti dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin ia membiarkan hal seperti ini terjadi?

Pemuda berambut pirang itu semakin merasa dirinya tidak bisa berbuat apapun ketika merasakan tubuhnya tertarik ke arah Sasuke. Tubuhnya seakan-akan menempel erat pada tubuh pemuda berkulit pucat itu. Ketika ia membuka matanya, Naruto hanya bisa menelan ludahnya sendiri melihat sepasang iris oniks itu tertuju padanya.

Tanpa ada yang mencoba mencegah, ia menyadari jika saat ini Sasuke perlahan mendekatkan wajah mereka berdua dan menelengkan sedikit kepala ke samping sebelum akhirnya bibir pemuda berkulit pucat itu menempel pada bibirnya. Seolah-olah diguyur oleh air es di tengah musim dingin, Naruto bisa merasakan tubuhnya bergetar atas sentuhan lembut itu; membuatnya tidak bergerak ataupun mencoba menjauh apalagi dengan jemari tangan Sasuke yang menahan bagian belakang lehernya. Ia terdiam saat bibir Sasuke menyapu bibirnya, tanpa sadar mengeratkan cengkeraman tangannya pada kedua sisi tubuh pengguna Sharingan itu.

Bibir Sasuke terasa sangat lembut, adalah hal pertama yang mampu dipikirkannya. Tidak ada hal lain yang penting baginya selain mengamati bagaimana bibir merah itu mulai menari di atas permukaan bibirnya dan menimbulkan sensasi aneh pada perutnya. Naruto bahkan tidak menyadari jika perlahan kedua kelopak matanya mulai terpejam dan kedua tangannya bergerak ke punggung Sasuke, memeluk tubuh kurus di hadapannya.

Persetan dengan semua logika, pikir Naruto yang perlahan mulai membalas sentuhan bibir Sasuke. Kedua matanya kini terpejam erat sembari menikmati setiap kecupan dan sentuhan yang semakin memanas. Logika bukanlah sesuatu yang sangat dipikirkannya sekarang jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkannya setiap kali mencoba membalas cumbuan Sasuke.

"... Naruto."

Sasuke, dengan napas memburu, membuka bibirnya; membuat Naruto segera melesatkan lidahnya pada rongga mulut pemuda itu. Lidah saling berpagut dan decak saliva terdengar di gang sempit itu diselingi dengan desah pelan entah dari dirinya atau Sasuke. Kedua tubuh itu saling menempel dan bergesekan satu sama lain; mencoba mencari friksi-friksi kenikmatan yang biasanya tabu untuk mereka lakukan. Naruto seolah-olah tidak peduli di mana mereka saat ini berada ketika ia mengerang atas gesekan yang terjadi di bagian bawah tubuhnya. Entah sejak kapan, tangan kanannya sudah menyusup di balik pakaian yang dikenakan Sasuke sementara bibirnya menyerang leher pucat milik pemuda itu. Akalnya hilang setelah mendengar bagaimana Sasuke mendesah pelan sebelum mengerang di antara pagutan bibirnya di bibir pemuda itu saat mereka berdua mencapai titik tertinggi dari aktivitas yang mereka lakukan.

Naruto menggeram dan menenggelamkan kepalanya di tengkuk Sasuke sembari mencoba mengatur napasnya yang memburu. Ia bahkan bisa mendengar jantungnya yang berdetak kencang pasca gelombang kenikmatan yang melanda tubuh mereka serta deru napas memburu dari Sasuke pada telinganya.

Namun belum sempat pemuda pirang itu tenang dari apa yang dilakukannya dengan Sasuke, ia merasakan tubuhnya terdorong ke belakang; membuatnya terhuyung dengan punggung yang menghantam dinding sebelum ia bisa mencerna apa yang terjadi. Ringis pelan meluncur dari bibirnya setelah kepalanya terantuk pada dinding kayu. Dengan cepat mendongakkan kepala ke arah pelaku yang baru saja mendorongnya. Ia tertegun menatap sepasang pupil Sharingan menatap tajam dirinya. Di sana, tidak jauh darinya, Sasuke tengah berdiri dengan napas memburu dan pakaian yang sedikit berantakan. Sharingan aktif dan seolah-olah bersiap menyerangnya.

"Apa yang baru saja kaulakukan, Idiot?" Sasuke mendesis. Rahang Jounin Konoha itu mengeras. "Apa yang sudah kita lakukan?"

Topeng pasif dan datar yang biasanya terpasang di wajah pemuda Uchiha itu kini dengan cepat digantikan dengan ekspresi tidak percaya dan sangat terkejut. Naruto yang sudah mengenal bagaimana Sasuke sangat mudah melihatnya. Ia bisa melihat keterkejutan di wajah pucat itu. Namun belum sempat dirinya mengatakan sesuatu, Sasuke sudah terlebih dahulu mengontrol emosi. Tanpa mengatakan apapun, berjalan menjauhinya. Menghilang di antara kerumunan pejalan kaki Konoha yang sepertinya tidak menyadari apa yang terjadi di sini.

Naruto hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri ketika ia melihat sosok Sasuke yang dengan cepat menjauhinya. Ia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi di gang sempit ini. Ia masih tidak mengerti apa yang Sasuke dan dirinya lakukan tadi.

Hanya satu yang ia tahu. Ia tahu dan menyadari kalau tadi Sasuke baru saja menciumnya. Ya. Dan lebih membuatnya terkejut, ia bahkan membalas setiap ciuman yang diberikan Sasuke kepadanya. Gambaran mengenai bagaimana bibir mereka saling berpagut, lidah yang saling bertaut serta tubuh yang saling bergesekan satu sama lain mencari friksi kenikmatan dengan deru napas memburu seolah-olah tidak bisa pudar dari ingatannya. Semuanya tergambar jelas di kepalanya.

Oh, Kami-sama, apa yang sudah dilakukannya tadi? Naruto bertanya dalam hati. Ia membiarkan tubuhnya merosot dan membuatnya terduduk di atas permukaan tanah yang kotor. Kepalanya tersembunyi di antara lipatan kakinya. Tidak memedulikan celana yang dikenakannya terasa lengket atas apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Naruto perlu berpikir. Ia perlu mencerna apa yang sudah terjadi.

Namun berkali-kali otaknya berusaha mencerna, pikirannya selalu kembali tertuju kepada sosok Sasuke. Bagaimana ekspresi wajah pemuda itu setiap kali tubuh bagian bawah mereka bergesekan mencari kenikmatan terlarang mampu membuat Naruto kehilangan konsentrasi. Ia bisa merasakan wajahnya memanas setiap kali mengingat hal itu.

Saat ini, Naruto benar-benar ingin membenturkan kepalanya untuk sekadar mengenyahkan bayangan tersebut. Bukan karena tidak suka. Hell, Naruto mengakui kalau ia menyukai dan menikmati momen mereka barusan. Hanya saja... hanya saja hal seperti itu tidak seharusnya terjadi.

Tidak seharusnya hal semacam itu terjadi. Tidak ketika ia tahu jika efek samping yang diderita Sasuke belum sembuh. Naruto menyadarinya setelah melihat bagaimana reaksi pengguna Sharingan itu jika berdekatan dengannya. Ia tahu jika efek samping itu belum sembuh tepat ketika Sasuke segera menutup hidung ketika berada di dekatnya. Dan ia—sebagai satu-satunya orang yang menjadi penyebab sikap aneh Sasuke—sudah memanfaatkan keadaannya.

Sasuke sedang tidak dalam keadaan sebagaimana pemuda itu seharusnya. Tsunade pernah mengatakan kepadanya mengapa hanya Sasuke yang menderita efek samping dari gulungan padahal dirinya berada dan bahkan menghirup asap kuning dari gulungan itu. Karena Sasuke adalah orang yang membentuk segel yang terdapat di gulungan tersebut, begitu kata Tsunade kepadanya. Naruto tidak tahu apakah dirinya harus senang atau kesal atas apa yang terjadi. Ia memang mengakui jika dirinya menikmati kebersamaannya dengan pemuda berambut raven itu. Tapi, apakah Sasuke mempunyai pikiran yang sama dengannya? Bagaimanapun juga, reaksi yang diberikan Sasuke adalah murni karena pengaruh jutsu entah-apa-itu yang ada di gulungan yang diambilnya dari kantor Hokage.

Dan Naruto benar-benar merasa dirinya adalah orang yang paling brengsek. Bisa-bisanya ia membiarkan hal seperti tadi terjadi. Dia adalah satu-satunya orang yang seharusnya bisa berpikir logis! For the God's sake! Tapi mengapa dirinya justru menikmati aktivitas mereka barusan?

Oh, Sasuke pasti membencinya karena hal ini. Ya. Ia yakin atas hal itu.

。。。

"—Apa kau serius dengan yang kaukatakan, Uchiha?" Sasuke berusaha tidak menampakkan ekspresi apapun kepada sosok Tsunade. Ia hanya mengangguk singkat dan menatap dengan ekspresi datar pada Hokage Konoha itu. "Misi lain? Apa kau lupa jika kau baru saja menyelesaikan misi kelas A yang kuberikan? Apa tidak sebaiknya kau beristirahat satu atau dua hari lagi, huh?"

"Hn. Aku tidak keberatan, Hokage-sama. Aku hanya ingin ada misi yang bisa kukerjakan."

Sepasang oniks miliknya tidak berhentu menatap Tsunade. Wanita itu mendecakkan lidah sebelum menuangkan sake ke cawan di atas meja dan menegak minuman tersebut. Wanita berdada besar itu seperti tidak peduli akan mabuk di hadapan anak buahnya. Sasuke yang sudah terbiasa melihat kebiasaan Tsunade memilih untuk tidak mengatakan apapun.

"Aku tidak bisa memberikan misi lain untukmu, Uchiha," Tsunade berkata setelah menegak habis satu botol sake. "Aku tidak punya misi kelas A lain yang harus kaulakukan."

"Aku tidak peduli misi kelas berapapun," Sasuke berkeras. "Aku hanya ingin kau memberikanku misi keluar dari Konoha. Aku tidak peduli walau itu adalah misi kelas C sekalipun."

Sebuah cawan putih meluncur dengan cepat ke arahnya. Cukup mudah bagi seorang Uchiha Sasuke menghindari serangan mendadak seperti itu; menyebabkan cawan tersebut mengenai dinding di belakangnya sebelum pecah berkeping-keping. Sasuke tidak mengacuhkan pekik kaget dari Shizune yang sejak tadi diam mendengarkan pembicaraannya dengan Tsunade.

Senju Tsunade menggeram dari belakang meja Hokage dengan botol sake kosong di tangannya. "Jangan mencoba melawan dan bersikap seenaknya, Bocah!" seru wanita itu. Tsunade menggebrak permukaan meja dengan botol sake sebelum menghempaskan tubuh pada kursi kebesarannya. "Aku sudah mengatakan tidak ada misi untukmu dan kau seharusnya menerima keputusanku! Lagi pula, mengapa tiba-tiba kau sangat ingin melakukan misi di luar Konoha, hah?"

Sasuke membuka mulutnya namun tidak ada satu kata pun yang terucap. Haruskah ia mengatakan jika dirinya ingin menghindari Naruto? Sasuke menduga jika Tsunade tidak akan menerima alasan semacam ini. Sial! Sasuke merutuk dalam hati. Alasan apa yang harus diberikannya kepada wanita itu agar bisa meninggalkan Konoha selama beberapa waktu? Haruskah ia meminta cuti berlibur ke luar desa?

"—Ini karena efek samping yang ada tubuhmu, bukan?" Sasuke menaikkan sebelah alis menatap pemimpin Konoha di hadapannya. "Naruto kemarin menemuiku dan mengatakan jika sepertinya efek samping yang ada pada tubuhmu belum hilang. Aku menduga itu adalah alasan mengapa kau sangat ingin misi ke luar desa. Kau ingin menghindari Naruto. Bukan begitu?"

Sasuke yang melihat ekspresi serius di wajah Tsunade memilih menganggukkan kepala. Dalam hati berharap si pirang idiot itu tidak mengatakan sesuatu mengenai apa yang terjadi kemarin. Tentu saja itu berarti pengguna Sharingan tersebut belum melupakan kejadian di gang sempit kemarin. Sasuke tahu tidak ada gunanya ia mengelak mengenai alasan sebenarnya menginginkan misi ke luar desa. Ia terdiam melihat Tsunade bertukar pandang kepada Shizune.

"Ini aneh," Tsunade bergumam sembari menatap Shizune, memijat kening dengan tangan. "Bukankah seharusnya efek samping jutsu di gulungan itu tidak selama ini? Jika penelitianmu benar, bukankah Uchiha sudah sembuh sebelum dia kembali ke Konoha kemarin?"

Shizune mengangguk dan membenarkan perkataan Tsunade. Wanita berambut pendek itu kemudian mengalihkan pandangan pada sosok Sasuke. "Mungkin aku melewatkan sesuatu. Bagaimanapun juga, aku baru sampai memeriksa segel luar gulungan itu. Aku akan mencoba memeriksanya sekali lagi. Mungkin ada petunjuk mengapa efek samping itu berlaku berbeda terhadapmu, Sasuke-kun."

Sasuke tidak menanggapi kata-kata Shizune. Ia membiarkan wanita itu berjalan melewatinya untuk keluar dari kantor Hokage. Terdengar Tsunade berdeham pelan sehingga membuatnya kembali memfokuskan perhatian terhadap wanita itu.

Tsunade kembali menegak sake, namun sekarang langsung dari botolnya. "Keputusanku untuk tidak memberimu misi lain tidak bisa diubah, Uchiha." Suara Tsunade terdengar enggan. "Kau seharusnya tidak memaksakan tubuhmu hanya agar tidak bertemu dengan Naruto. Walau sehebat apapun seorang Uchiha Sasuke di mata orang-orang, kau juga tetap manusia, Uchiha. Istirahatkan tubuhmu sembari menunggu hasil yang akan diberikan Shizune. Mungkin setelah itu aku akan mempertimbangkan memberikan misi untukmu."

Sasuke berniat membantah namun urung saat mendengar Tsunade memerintahkannya untuk pergi dari tempat itu. Dengan berusaha menahan diri tidak meneriaki sang Hokage, Sasuke berjalan meninggalkan ruangan itu. Berjalan dengan kedua tangan terkepal tanpa memedulikan tatapan heran dari sekitarnya.

Ia benci keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Mengapa Tsunade tidak mau menuruti apa yang diinginkannya? Wanita itu tahu jika Naruto membuatnya tidak bisa berpikir seperti dirinya sendiri. Tapi bukannya membantu, wanita itu justru semakin mempersulitnya. Dan lagi, efek samping sialan yang ada ditubuhnya sungguh membuatnya frustrasi. Ia tidak bisa menebak kapan efek samping itu akan hilang. Apakah ia akan seperti ini selamanya? Tidak. Sasuke sangat tidak menginginkan hal seperti itu terjadi! Ia hanya bisa berharap jika Shizune akan segera menemukan penyembuhnya atau cara mengakhiri semua ini. Jangan katakan jika ia harus bersikap seperti remaja penuh hormon jika berada di dekat pirang idiot pecinta ramen itu.

Sial! Memikirkan Naruto membuatnya teringat dengan apa yang terjadi kemarin. Sasuke menghela napas dan menghembuskannya keras-keras. Ia menghempaskan tubuhnya pada sebuah kursi kayu di luar sebuah kedai minuman, menyadarkan kepala pada dinding kayu dan berusaha tidak mengacuhkan lirikan gadis-gadis Konoha tidak jauh darinya.

Jika ada yang akan disalahkannya atas kejadian kemarin, Sasuke akan menyalahkan Naruto. Semua kejadian aneh yang terjadi pada dirinya adalah kesalahan pemuda pirang itu. Seharusnya Naruto bisa berpikir sedikit lebih logis dengan dirinya yang terkena efek samping itu. Tapi mengapa bukannya melarang, Naruto justru tidak melakukan pencegahan apapun? Si pirang idiot itu membiarkan dirinya—yang tidak sadar sepenuhnya dengan apa yang dilakukan—melakukan sesuatu yang tidak mencerminkan dirinya.

Sasuke bisa merasakan tubuhnya perlahan memanas saat mengingat apa yang terjadi di antara dirinya dan Naruto. Memang, pada awalnya ia tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya. Namun ketika ia mencoba mengingat—gambaran bagaimana bibirnya menyentuh bibir Naruto, kedua tangannya yang bisa merasakan otot pemuda itu walau terhalang lapisan pakaian, atau tangan besar dan kasar Naruto yang bergerilya di atas permukaan tubuhnya—semuanya itu berputar jelas di kepalanya.

Hell, ia bahkan tidak sanggup menghapus gambaran-gambaran yang mampu membuat tubuhnya lepas kendali itu dengan mudah. Sasuke bahkan ingat bagaimana dirinya menghabiskan lima belas menit lebih di bawah guyuran air dingin hanya untuk menghilangkan sensasi panas yang dirasakan di seluruh permukaan tubuhnya.

Sejak kapan... sejak kapan keberadaan Naruto sangat mempengaruhinya seperti ini?

Bukankah seharusnya ia tidak merasakan perasaan apapun terhadap si pirang? Selama belasan tahun mengenal pemuda itu, Sasuke tidak pernah melihat Naruto lebih dari idiot penyuka ramen dan warna oranye. Naruto adalah si bodoh yang selalu berusaha mengalahkannya dalam hal apapun—walau tentunya berakhir dengan kekalahan di pihak si pirang.

Tentu saja Sasuke menolak keras bahwa hal itu perlahan-lahan mulai berubah. Sasuke sangat tidak menginginkan ada yang berubah di antara dirinya dan Naruto. Namun apakah bisa terutama setelah apa yang terjadi kemarin? Apakah ia bisa menatap pemuda itu dengan tatapan yang seperti biasanya?

Ya. Sasuke berkeras jika tidak akan ada apapun yang berubah. Tidak ada yang boleh berubah karena ia tidak mempermasalahkan hubungannya dengan si pirang selama ini. Semuanya akan kembali seperti semula jika Shizune sudah menemukan apa yang salah dengan dirinya.

Tapi mengapa... mengapa ada seseorang yang berbisik di dalam kepalanya dan mengatakan kalau hal itu bukanlah yang diinginkannya?

Lalu apa yang sebenarnya ia inginkan?


TBC


[a/n]: oke, saya mengatakan fanfiksi ini terdiri dari 2 chapter. Saya bohong, orz. Setelah diketik, ternyata saya tidak puas dengan alur yang terlalu cepat, maka saya tambahkan 1 chapter lagi setelah perombakan yang saya buat ^^a. Hanya akan ada lime saja di sini karena sejak awal saya tidak berniat membuat lemon. Dan... ini NaruSasuNaru. Jadi, saya mencoba membuat mereka berada di posisi yang sama, oke? Terima kasih banyak atas review yang sudah diberikan. Maaf tidak sempat membalas satu per satu =(

At least, wanna review? See you next time, Pals!

11/06/2012