My first fic fandom 'Nodame Cantabile' :* Happy reading !

Disclaimer : Nodame Cantabile slalu punya Tomoko Ninomiya – sensei.

Walau punya saya pasti di buat aneh dan gaje setengah mati *plakh*

Edited version!

" Aku akan slalu merindukan diri mu yang dulu, Nodame ... "

.

Seorang lelaki sedang duduk sambil meratapi lembaran-lembaran partitur lagu yang tampak sangat berbelit-belit. Dia tampak sangat serius. Pulpen yang sedari tadi dimainkannya untuk mencoret lembaran demi lembaran tidak berhenti bergerak. Kadang dia mengambil kuntum rokoknya yang masih menyala dan mengisapnya.

'Ting tong.'

Bunyi bell itu tidak dihiraukannya.–

'Ting tong.' 'Ting tong.'

Bunyi bell itu berdenting lagi. Namun, sang tuan rumah hanya diam di tempat, mengacuhkan, bahkan berpikir tidak ada yang terjadi.

'Ting tong.' 'Ting tong.' 'Ting tong.' 'Ting tong.'

Bunyi itu semakin banyak berdenting. Dan lagi-lagi si pemilik ruang tidak menanggapinya.

'Ting tong.' 'Ting tong.' 'Ting tong.' 'Ting tong.' 'Ting tong.' 'Ting tong.' "Mukya!"

Bunyi bell beserta suara cempreng seorang perempuan yang buru-buru masuk dan menutup pintu apartemennya dengan kasar.

"Senpai! 'Kok, Senpai tidak bukain pintu saat Nodame datang?" tanya si pemilik rambut bob cokelat sambil mengembungkan pipinya, pertanda dia sedang kesal.

Si pemilik ruangan hanya melirik pada si perempuan–si tamu tak diundang–beberapa detik, bahkan tak sampai lima detik sudah melirik lembaran partitur musik itu kembali. "Gomen, aku tidak mendengar dentingan bell, Nodame..." ucapnya dingin dengan gaya bicara yang datar.

"Gyabo! Begitu besar suara dentingan bell, Nodame bahkan bisa mendengarnya dari luar! Senpai bohong!" jawab si gadis tak mau kalah.

"Kau bisa mendengarnya karena posisimu waktu itu dekat dengan bell," pemuda berambut hitam itu menjawab dengan sangat datar.

Nodame kehabisan kata-kata untuk menjawab pemuda yang kini tengah duduk di sofa empuk berwarna merah darah itu.

"Mau apa kesini?" tanya putra pianist terkenal yang juga tak kalah tenarnya sekarang dengan gelar 'Conductor' yang telah lama ingin diraihnya.

"Ne, Nodame ingin mengajak Chiaki – senpai untuk dinner bareng!" jawabnya. Gadis itu tersenyum hampir manis.

Orang yang dimaksud membalikkan lembaran partitur kasar dan menjawab, "Aku sibuk sekarang." jawabnya dengan masam.

"Gyabo! Apa Senpai tak bisa sibuk setelah kita dinner bareng?" tanya Nodame dengan polos.

Chiaki pun menegakkan tubuhnya dan berusaha untuk merilekskan otot-ototnya kaku, duduk hampir berjam-jam tanpa jeda dan menghadapi hampir puluhan partitur di atas meja, lalu menatap Nodame. "Barou! Mana bisa! Udah kamu makan aja sana sendiri. Aku sibuk sekarang." jawab Chiaki.

Nodame mengerucutkan bibirnya, lagi. "Tapi, Senpai sudah makan siang tadi?"

"Belum." Jawaban singkat itu keluar dari mulut Chiaki.

"Gyabo!" latahan terucap oleh Nodame untuk kesekian kalinya. "Kalo begitu ayo makan malam bareng~! Senpai~!" Rengek Nodame sambil menarik tangan Chiaki.

"Urusai!" teriak Chiaki sambil melempar bantal sofa dan sukses membuat Nodame tersingkir.

"Huh! Chiaki–senpai jahat!" ujar Nodame mengelus kepalanya. "Padahal Nodame kan niatnya baik!" protes Nodame.

"Sudah kubilang pergi aja sendiri! Aku nanti makan sendiri ! " jawab Chiaki membela dirinya.

"Tapi Senpai tidak berkata seperti itu sebelumnya..." cibir Nodame


Pukul 20.46 PM.

Chiaki dan Nodame sekarang sudah duduk berhadapan di sebuah restoran di Paris.

"Kenapa? Kenapa aku ada disini?" gumam Chiaki dengan gaya khasnya menatap Nodame yang kini melihat daftar makanan di daftar menu.

"Ah, Senpai mau pesan apa? Apa harus Nodame yang memesankan untuk Shinichi–kun, karena aku adalah istrimu... fufufufu~." ucap Nodame penuh percaya diri dengan cengiran lebar di wajahnya.

Chiaki menatap Nodame jijik, lalu dia segera merampas daftar menu dari tangan Nodame. "Sini! Biar aku pesan sendiri." Chiaki pun melihat daftar menu. Matanya bergerak menurun seiring dia membaca daftar. "Oke! Mana kertas pesanannya?" tanya Chiaki pada Nodame.

"Ah, ini!" jawab Nodame sambil memberikan kertas dan pulpen. Chiaki pun melihat daftar makanan yang di pesan oleh Nodame. Dan .. yang di pesan Nodame hanyalah kerang?

Chiaki pun mengehela napas panjang. "Nodame, kanapa semua pesananmu hanyalah kerang? Kenapa tidak pesan yang lain saja?" tanya Chiaki berusaha untuk lembut.

"Kenapa? Karena Nodame tak bisa baca tulisan bahasa Prancis, Senpai~. Lalu sepertinya makanan yang kusuka hanya kerang disitu." jawabnya enteng dan entah kenapa Chiaki menjadi sangat jengkel mendengarnya. Namun, tetap saja apa yang dikatakannya benar.

"Terserah kau saja." Chiaki pun mengehela napas berat dan segera menulis pesanannya dan memanggil pelayan.

.

Makanan yang dipesan telah disajikan. Untuk minumannya Chiaki memilih anggur merah, walau dia tahu itu bukanlah pilihan terbaik malam itu. Sedangkan Nodame pasti sedang asyik dengan makanan kerang pesannya. "Nodame," panggilku sambil menatap Nodame yang masih asyik dengan kerangnya segera melihatku.

"Ya, Senpai? Ada apa?" tanyanya polos.

"Bagaimana latihanmu hari ini?" tanya Chiaki pada Nodame. Sambil mengelap mulutnya dengan sapu tangan.

"Baik! Seperti biasa, " jawabnya sambil tersenyum. Chiaki membalas senyumannya.

"Begitu, berlatihlah dan aku akan mendengarkan permainan pianomu itu!" ujarku. Terlihat rona merah di wajah Nodame. "Hn, aku akan membayar makanan kita. Kau sudah siap?" tanya sang pemuda sambil beranjak dari kursi, dan kemudian berjalan menuju kasir tanpa menunggu jawaban dari Nodame.

"Ah, Senpai! Tunggu Nodame!" teriaknya sembari bangkit dan bersiap mengejar Chiaki.

'Bruk.'

Bahu menabrak bahu, Nodame terjatuh diikuti dengan perempuan yang juga terduduk di lantai marmer restoran.

Chiaki yang mendengar itu langsung bergegas menuju rekan makan malamnya. Dia menghela napasnya saat melihat dua orang perempuan mengelus kepala dan bahunya. "Nodame, kau baik-baik saja?" tanyaku sambil mengulurkan tangan. Dia menerima uluran tangan Chiaki dan berusaha untuk berdiri.

"Sakit~." ringisnya manja pada Chiaki.

Chiaki menghiraukan Nodame dan melihat perempuan yang satu lagi. "Hei, kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil mengulur tangan, berniat membantu.

Perempuan tersebut mengangguk kecil kemudian menerima uluran tangan dan berusaha beranjak. "Ya, aku baik-baik sa–," ucapannya terhenti saat melihat wajah Chiaki.

Wajah Chiaki langsung berubah, menyiratkan rautnya yang terkejut.

"Ka, kau..." ucapnya terkejut.

"Bukankah kau–?!" Chiaki juga terkejut.

.

.

.

To be continue?

Hai minnaa – sama ! ore kembali dengan fic gaje binti aneh ! ini adalah my first fic Nodame Cantabile ! hontou Arigatou Gozaimasu ! karena tlah sudi ngebaca fic ini. :'D ore seneng kok ..

Sudah lama tak nge nulis dan menelantarkan cerita dan bio serta acc de el el :v. Sudah berapa hari ? bulan maybe ? atau bahkan taun ? ga mungkin lah hahahah.. #kokjadicurhat :v

Dan minna – sama ! tolong di RnR my fic ini.. ~ arigatou ..

[ apa fic ini layak untuk di lanjutkan ? ]