Hari ini adalah hari ulang tahun sekolah yang setiap tahunnya akan diadakan di sekolah ini. Seperti biasa sekolah ini akan dipenuhi oleh pengunjung dari SMA lain untuk sekadar melihat stand pameran dan juga persembahan dari pihak sekolah, atau mungkin juga ini kesempatan untuk melihat ke dalam wilayah sekolah karena alasan perayaan ulang tahun sekolah adalah satu-satunya kesempatan dimana gerbang terbuka untuk semua orang. Bulan ini adalah bulan pertama Jaejoong berada di sekolah ini sebagai siswa baru. Jaejoong lahir dan besar di Jepang, karena seluruh anggota keluarganya adalah orang Korea, Jaejoong justru lebih memahami budaya Korea daripada budaya Jepang sendiri. Kepindahannya ke Korea didasari oleh keengganannya untuk serumah dengan istri baru appanya, tidak berniat membenci justru Jaejoong menghindari konflik itu sendiri. Merasa bersalah akan perubahan itu, appa Jaejoong memutuskan untuk memasukkan Jaejoong ke sekolah terbaik di Korea, alasan pertama tidak hanya karena itu adalah sekolah terbaik tapi juga karena sekolah itu menyediakan fasilitas asrama terbaik, ia tak ingin Jaejoong merasa sendirian disana.

Sekolah ini bernama Dong Bang Shin Ki High School, nama keren lainnya DBSK High School, dan beberapa dari mereka malah menyebut sekolah ini sebagai sekolah Dewa. Sekolah ini disebut-sebut sebagai salah satu sekolah termewah di dunia, meski di desain ala Eropa dan juga environment yang mendekati negara Barat, namun pendiri sekolah keren ini sama sekali tak berdarah Barat, ia warga negara Korea, lahir dan besar di Korea, namun karena pengaruh negara Eropa dan kebudayaan Barat sangat menarik perhatiannya hingga ia menjadikan sekolah itu layaknya di negara Eropa.

Sekolah ini dipenuhi oleh anak-anak konglomerat yang bergelimangan harta, anak-anak bangsawan dan juga anak-anak jenius dengan IQ di atas rata-rata. Kebanyakan dari mereka menggosipkan berbagai hal seputar branded ternama, nilai tertinggi, pewaris tahta, bursa saham, bahkan sampai politik Korea, tak satupun dari mereka menggunakan kendaraan roda dua, maupun roda tiga, dan bahkan pihak sekolah dimintai untuk mendirikan landasan helikopter di atas gedung, karena beberapa dari mereka bahkan ada yang menggunakan kendaraan sekelas itu. Mereka tak melirik telivisi dengan acara gosip selebriti, dan mereka bahkan bisa menelpon pihak televisi untuk menjadikan mereka topik utama berita. Sekolah itu terbagi menjadi dua sub kelas, kelas reguler dengan murid-murid dari kalangan biasa, siswa-siswi ber-uang banyak namun tak memiliki darah biru, dan kelas bangsawan siswa-siswi dari kalangan bangsawan dan berdarah biru.

Meski terkesan sekolah dengan anak-anak mami di dalamnya, namun tak bisa juga dibilang begitu, nilai rata-rata kelulusan mereka justru memiliki standar lebih tinggi dari sekolah biasa, dan mereka sudah ditempa untuk menjadi siswa berkualitas tak hanya dalam belajar tapi juga dalam kreatifitas, mereka harus tekun, dan mereka tak diijinkan semena-mena dengan kekuasaan atau nama besar keluarga mereka.

OoooO

Tatkala itu Jaejoong duduk sendiri, tugasnya kali ini adalah menjaga stand, bukan stand biasa ia menjaga stand yang menjual aksesoris dengan foto dan sejenis logo atau entah apa dari beberapa orang penting di DBSK high school, sudah tentu daftar terlaris dipegang oleh Jung bersaudara, dan beberapa orang ini ikut menyusul seperti si Ketua Osis Choi Siwon, Kapten klub basket putra Park Youchun, si madam modeling Boa, si jenius Shim Changmin, artis terkenal Go Ara, the perfect pitch Kim Junsu, yup Kim junsu teman sebangku Jaejoong yang imut dan ceria itu memilik suara dengan pitch sempurna dan sebagai ketua klub teater disekolah ia cukup populer, dan satu orang lagi yang membuat penasaran adalah sang pangerang, meski tak ada stock yang menyediakan aksesoris Pangeran, namun banyak sekali yang mencari aksesoris dengan pangeran sebagai logonya, Jaejoong sendiri belum pernah melihat pangeran sejak ia datang ke sekolah ini, entah seperti apa orangnya ia sendiri juga tidak tahu.

Jaejoong sudah begitu lelah melayani para pembeli yang tak pernah habisnya datang ke standnya, dan hingga akhirnya berhenti tatkala stok yang tersedia habis seketika. Jaejoong bernafas lega, ia merenggangkan tubuhnya untuk melegakan otot-ototnya yang kaku, dan tiba-tiba...

"Ya! Kim Jaejoong, kau menghalangi padangan kami," Jaejoong terlonjak, beberapa gadis seangkatannya meneriakinya begitu galak

"Kenapa sih mereka?" Batinnya heran

"Wah, keren sekali," Mereka tampak berbisik-bisik kagum, Jaejoong melirik malas, jika ia tidak salah kemungkinan besar orang dibalik ini semua adalah

"Whats up bro.." Jaejoong lagi-lagi dibuat kaget, ia pikir akan melihat si Jung bersaudara, tapi yang datang malah

"Park Youchun imnida," Namja berjidat lebar itu merangkulnya begitu akrab, Jaejoong terbanting kesana kemari ketika Youchun memamerkan kedekatannya dengan Jaejoong pada gadis-gadis yang berteriak-teriak itu

"Ya, kau siapa? Kenapa tiba-tiba merangkulku?" Jaejoong mendorong Youchun sekuat tenapa

"Relaks." Youchun manaikkan kedua tangannya, " Sahabat kekasihku, adalah sahabatku juga bukan,"

"Sahabat pacarmu? Kau bicara apa?"

"Ya! Jidat lebar, jangan membuat keributan disini, dan jangan ganggu Jaejoong," Suara lumba-lumba itu datang menghampiri, tubuhnya yang mungil membuatnya terlihat seperti yeoja dengan rambut cepak

"Kim Junsu...kalian..." Jaejoong menunjuk mereka satu persatu, Junsu memelototi satu persatu yeoja yang masih histeris disekelilingnya, dan mereka kabur seketika

"Jaejoongie dia Yochun kekasihku, dan Chunnie dia Kim Jaejoong," Junsu memperkenalkan dua orang dekatnya itu

"Apa? Jadi dia Kim jaejoong?" Youchun menunjuk Jaejoong tak percaya. Jaejoong mengerutkan dahi melirik tubuhnya sendiri dari atas ke bawah

"Kenapa?" Tanya Jaejoong heran

"Hah sudah kuduga selera Yunho memang tak pernah buruk," Gumamnya, Jaejoong mendengus kesal, mendengar nama namja itu disebut ia jadi bergidik ngeri membayangkannya serasa membayangkan banyak binatang menggerogoti tubuhnya.

"Ya, jangan mengganggu Jaejoongie," junsu memukul pelan lengan Youchun

"Aku tidak mengganggunya," protes Youchun, " Tunggu apa kau cemburu," Sambungnya cepat

"Tidak akan, Jaejoong punya standar yang tinggi," Jawab Junsu sekenanya

"Ya! Apa maksudmu berkata begitu? Menurutmu aku tidak berstandar tinggi hah," Kejar Yochun, Junsu melengos pergi, mengabaikan kekasihnya

"Jaejoongie, kita ketemu dikelas nanti ya, aku pergi dulu," Pamit Junsu, ia pergi masih dengan Youchun yang terus menagih penjelasannya. Jaejoong menghela nafas berat

"Mereka tak terlihat seperti pasangan," Gumamnya kemudian

Ia berpikir sejenak, dan sadar bahwa sejak tadi ia tak melihat Jung bersaudara, ia bertanya-tanya sendiri apa mereka berdua punya urusan keluarga, hingga tak bisa datang ke acara sekolah. Sebelum pemikiran lainnya semakin berlarut-larut Jaejoong segera berganjak pergi, menyisakan stand kosong yang kini sudah sepi pengunjung.

OoooO

Jaejoong sedang berjalan gontai menuju kantik sekolah, tak menyadari bahwa seseorang sedang mengikutinya dari belakang, dan...

"Kim Jaejoong-shii," seseorang memanggilnya, Jaejoong segera menoleh, namja tampan lainnya sedang berjalan menghampirinya, namja itu tersenyum demikian manis, dan nilai plus untuk lesung pipi yang turut menghiasi senyumannya.

"Kim Jaejoong-shii, aku..." Namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal

"Choi Siwon-shii ada apa?" tanya Jaejoong cepat, Siwon sedikit terlonjak, mendapati orang didepannya ini ternyata mengenal namanya

"Emm, begini, kami mendapat surat dari OSIS salah satu SMU swasta di Jepang, sayangnya mereka tak menulisnya dalam bahasa Inggris ataupun Korea, karena itu kami ingin meminta bantuanmu, bisakah kau membantu kami untuk menerjemahkannya?" tanya Siwon

"Baiklah," Jaejoong mengangguk setuju, Siwon tersenyum senang

"Wah, terima kasih Jaejoong-shii, Emm tapi tidak sekarang, mungkin besok saja," Sambung Siwon, Jaejoong mengangguk setuju

"Terima kasih banyak ya, aku akan menelponmu besok, emm, apa aku bisa meminta nomor ponselmu?" Siwon mengeluarkan ponselnya, bersiap-siap mencatat nomor Jaejoong, Jaejoong memberikan nomor ponselnya, dan Siwon masih tertawa canggung bahkan ketika mereka akan berpisah

"Baiklah, aku pergi dulu ya" Pamit Jaejoong dan segera berlalu, Siwon memandanginya sampai Jaejoong menghilang di balik tembok kelas.

"Well, Yunho sudah mengklaimnya," gumam Siwon sambil tersenyum kaku

OoooO

Jaejoong berhenti di depan pintu kantin, memang tertulis kantin, namun ini lebih tepat disebut restoran, Jaejoong masuk ke tempat penuh makanan enak itu, tempat itu sepi, dan hampir tak ada siapapun disitu, namun seseorang menyita perhatiannya, di pojok sana, namja tampan itu sedang menyendiri, mengotak-atik ponselnya dengan serius. Jaejoong hendak menghindar, namun tak ada gunanya juga, dan tidak ada salahnya juga ia menyapa, Jaejoong memberanikan diri menghampiri orang itu

"Kau, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jaejoong, ia kini berdiri di depan namja itu, namja itu mendongak dan tersenyum penuh arti tatkala melihat Jaejoong di depannya

"Well, well, well, coba lihat si cantik ini, kau datang mencariku huh," Yunho namja yang dimaksud menghentikan kegiatannya

"Tidak terima kasih, aku pergi dulu," Jaejoong hendak berbalik, namun tiba-tiba lengannya di cengkeram Yunho

"Kau mau kemana huh? Sekali dekat denganku, maka kau tidak boleh jauh-jauh lagi, lagipula sudah beberapa jam ini aku tidak melihatmu, kau tahu aku sangat merindukanmu" Yunho menarik Jaejoong, hingga Jaejoong terduduk di bangku tepat di depannya, dan Yunho mencondongkan tubuhnya ke arah Jaejoong, refleks Jaejoong menjauhkan diri dan menutup matanya erat.

"Kau mau apa?" tanya Jaejoong takut, masih dengan mata tertutup

"Heh, kenapa? Kau takut aku menciummu?" Yunho menyunggingkan senyum, kemudian melepaskan tangannya, perlahan Jaejoong membuka matanya

"Lalu kenapa kau tidak ikut acara di depan?" Tanya Jaejoong kemudian, setelah emosinya lebih stabil

"Aku tidak suka tempat ramai," Jawab Yunho kini ia kembali fokus pada ponselnya

"Cih, sok keren sekali" Sindir Jaejoong, Yunho kembali meliriknya

"Kim Jaejoong ayo kita pacaran," Ajaknya santai, Jaejoong menoleh terkejut

"Aku akan membunuhmu, kalau kau berani menganggapku pacarmu," Ancam Jaejoong, Yunho mengangkat pundaknya malas, dan kembali fokus pada ponselnya

"Pacaran atau tidak, tidak ada bedanya, kau milikku sekarang..." ucapnya tanpa menoleh "Kim Jaejoong," Sambungnya kini mata mereka bertatapan, Jaejoong hampir sesak nafas merasa terintimidasi dengan tatapan tajam itu

"Tapi tetap saja, kau butuh status, hubungan seperti ini membuatku tak nyaman," Ungkap Yunho, kini kembali fokus dengan ponselnya

"Berhenti mengatakan kalau aku ini milikmu Yunho, lagipula aku tak mempercayaimu," Ucap Jaejoong, suaranya lebih terdengar pelan sekarang, Yunho menoleh, menelusuri wajah cantik itu dengan mata musangnya

"Aku tak meminta kau untuk mempercayaiku, tapi aku tak pernah main-main dengan ucapanku,"Ujarnya serius, Jaejoong menatapnya malu

"Jangan terus menggodaku, wajahku akan seperti kepiting rebus sekarang," Jaejoong benar, Yunho tersenyum melihatnya, ia berganjak

"Hei kau mau kemana?" tanya Jaejoong heran

"Ayo jalan-jalan di sekitar sekolah, sepertinya kau belum tahu banyak tentang sekolah ini kan," Jawab Yunho, Jaejoog tak langsung menjawab, ia terdiam

"Ayo, kau terlihat bodoh dengan ekspresi itu," Jaejoong terkesiap sepertinya ia sudah memasang mimik tak sedap barusan. Ia kemudian berdiri juga, dan langkahnya terhenti

Praaaanggg!

Jaejoong terlonjak kaget, keributan itu terjadi beberapa saat sebelum ia berbalik, dan sekarang ia menganga membuka mulutnya 3 centimeter lebih lebar, dihadapannya Heechul, dia benar-benar Heechul kakak perempuan Yunho yang selama ini membuatnya ngeri, Heechul yang sangat galak ini berdiri dengan seragam kotornya, sepertinya terkena tumpahan sup sejenis sup jamur yang berserakan di lantai itu. Gadis pirang yang membelakangi Jaejoong ini sedang bermasalah karena menabrak Heechul tanpa sengaja.

"Kau... ,"Heechul menatapnya sangat dingin, Jaejoong bisa merasakan aura mengerikan keluar dari sekitarnya

"Heechul sunbaenim, maaf, aku tidak sengaja," Gadis itu menunduk ketakutan, ia buru-buru mengambil tisu dari sakunya, dan mencoba mendekat

Plaaakkk! Heechul menepis tangannya dengan kasar

"Aku membencimu, pirang," Ucapnya dingin, ia melambaikan tangannya memberi kode pada rekannya, gadis pirang itu, Jessica, sudah ingin menghindar

"Kau berani menghindar huh," Ancam Heechul, Jessica menggelang cepat, semangkuk super besar, sup jamur yang sama dengan sambal yang lebih banyak sudah ada di tangannya

"Dan pirang, begini caranya makan sup jamur," Heechul menumpahkan semua sup jamur itu di atas kepala Jessica, Jessica menangis, seluruh tubuhnya sudah bermandikan sup jamur pedas itu.

"Dan,..." Heechul mulai membuka seragamnya, Jaejoong membelalakkan matanya terkejut, Jaejoong menoleh menatap Yunho disampingnya yang kini tampak sibuk dengan ponselnya, Jaejoong hampir tak percaya, kenapa dua bersaudara ini tampak saling tak peduli satu sama lain.

"Yunho coba lakukan sesuatu,"Bisik Jaejoong tak senang, tapi Yunho tampak mengacuhkannya

"Beresken seragamku, lakukan apapun untuk membuatnya seperti semula, aku beri waktu sampai besok pagi," Heechul melempar atasan seragamnya tepat di wajah Jessica, Heechul menyisakan tanktop yang melapisi tubuhnya, dan kemudian mengenakan sweater yang diberikan rekannya, beruntung saat itu kantin begitu sepi.

"Ayo," Yunho menggandeng Jaejoong, menariknya pergi dari tempat itu, Jaejoong menurut, mereka melewati Heechul yang bahkan tak melirik mereka sama sekali, dan begitu juga sebaliknya. Seperti menahan nafas, entah kenapa Jaejoong begitu takut sekali bertatapan dengan yeoja itu, kenapa auranya begitu mengintimidasi.

"Kenapa kau tiba-tiba diam begini, kau suka aku menggenggam tanganmu?" tanya Yunho menggoda, kini mereka sudah berada jauh dari kantin, di koridor lain entah menuju kemana, Jaejoong tersentak, dan menarik tangannya cepat.

"Aku hanya masih shock dengan kejadian tadi, Heechul sunbaenim, sungguh menakutkan," Gumam Jaejoong, Yunho tertawa pelan

"Jangan dipikirkan, kau adalah calon adik iparnya, dia tidak akan bertindak kejam padamu," Goda Yunho, Jaejoong memukul lengan Yunho

"Adik ipar apanya? Hah lagipula bagaimana mungkin kau tidak menghalangi Heechul sunabenim untuk mengerjai Jessica," kesal Jaejoong, Yunho tersenyum penuh arti

"Itu bukan urusanku," Jawab Yunho santai, Jaejoong menyipitkan matanya curiga

"Kalian..." Ucapnya penuh selidik " Tidak akur ya" Yunho tertawa mendengarnya

"Kalau didengar Heechul, kau bisa dimasaknya," Ancam Yunho setengah bercanda, Jaejoong mempoutkan bibirnya lucu

"Dan Kim Jaejoong, selamat datang di kelas bangsawan," Yunho menunjukkan gerbang menuju koridor lainnya, di atasnya papan besar bertuliskan "Royale Class". Sekolah ini memang sangat luas, dan kelas bangsawan adalah satu-satunya tempat yang tidak pernah ia lihat, mengingat tempat itu begitu sakral, dan ia cukup segan dengan orang-orang dari kelas bangsawan itu sendiri, Jaejoong baru pertama kali menginjakkan kaki di wilayah bangsawan. Berjalan beriringan bersama Yunho membuat Jaejoong dilirik tak enak oleh penghuni kelas bangsawan lainnya. Koridor kelas bangsawan lebih tenang, dan sejuk, jika kelas reguler versi modern, mungkin kelas bangsawan adalah versi abad pertengahan.

"ini kelas Heechul, kalau kau belum tahu," Yunho menunjukkan salah satu kelas, Jaejoong melongokkan kepalanya dan memandangi kelas itu, kelas itu sangat sepi, tak ada satupun orang disitu, kelas Royale memang terlihat berbeda, kelas itu tak hanya terlihat lebih seperti abad pertengahan, tapi juga luas dengan persedian bangku yang justru lebih sedikit dari kelas reguler, di dinding tertempel banyak rumus, dan tak lupa beberapa lukisan kuno lainnya, bangku dan meja mereka dibuat lebih nyaman. Yunho kembali menyeretnya ke tempat lain, dan kali ini Yunho membawanya ke kelasnya sendiri, kelas Yunho tak kalah bagus dari kelas Heechul, hampir sama persis, hanya tata letak dan jenis lukisan, serta rumus yang terpajang yang membedakan.

"Wah jadi para bangsawan belajar di tempat seperti ini," Jaejoong berdecak kagum

"Ayo kita ke ruang seni," Yunho kembali menuntunnya ke tempat lain, tak jauh dari deretan kelas, kini sebuah pintu terbuka lebar, terlihat seperti aula, begitulah yang dipikirkan Jaejoong ketika ia mengintip ke ruangan itu.

"Jika tidak ada revolusi maka aku dan Heechul adalah Pangeran dan Putri, tapi meski Korea sudah tak lagi menjadi negara monarki, namun di sekolah ini kami tetap disebut Yang Mulia, apa kau tahu itu?" tanya Yunho, Jaejoong menggelang

"Itu aula untuk pertemuan orang tua," Ujarnya, sambil menunjuk dengan dagunya ke arah, aula yang diintip Jaejoong tadi

"Lalu pangeran? Sepertinya banyak yang datang ke stand tadi menanyakan tentang pangeran, apa memang ada pangeran?" tanya Jaejoong kemudian, Yunho tersenyum

"Tan Hengeng Hyung, satu-satunya Yang Mulia yang masih bergelar pangeran disini, Cina masih negara Monarki bukan," Jawab Yunho santai, Jaejoong mengangguk-ngangguk mengerti

"Lalu dimana dia? Aku tidak pernah melihatnya,dan bahkan aksesoris itu tidak ada yang bergambar pangeran," Jaejoong semakin penasaran

"Heh, Kau benar-benar tidak tahu ya, itu semua ulah Heechul,"

"Heechul sunbaenim? Kenapa bisa?"

"Hangeng Hyung tunangan Heechul Noona, apa kau pernah mendengarnya?" Yunho menjawab, Jaejoong membelalakkan matanya

"Apa? Jadi Heechul sunbaenim..."

"Kau ternyata benar-benar tidak tahu ya, sudahlah, Hangeng Hyung pulang ke Cina, mengurus persiapan kenaikan tahtanya, setelah ia lulus dari sini," Jelas Yunho, Jaejoong mangut-mangut mengerti

"Itu keren sekali, sumpah," Gumam Jaejoong, Yunho tersenyum

"Dan... Kim Jaejoong. Apa kau sama sekali tak pernah mengelilingi sekolah ini?" Tanya Yunho heran

"Tidak begitu, hanya diwilayah bangsawan, aku... tak pernah..." Jaejoong tampak malu, Yunho tersenyum geli

"Mulai sekarang, aku akan membawamu sering-sering kesini, pacaran di wilayah bangsawan lebih tenang, daripada di kelas reguler," Goda Yunho, ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong

"Ya! Jung Yunho," Jaejoong mendorong tubuh Yunho, Yunho lagi-lagi tertawa geli melihatnya

"Sudah ayo kita lanjutkan ke tempat lain," Ujarnya setelah separuh nafasnya ia gunakan untuk menertawai Jaejoong

"Ini ruang bela diri, kau seharusnya ikut eskul bela diri, setidaknya walaupun bodoh kau bisa menjaga diri sendiri kan," Yunho berucap asal, Jaejoong langsung memasang tampang sebal

"Aku takut ada orang yang pura-pura tak sengaja menendangku," Jaejoong berucap tak kalah asal

"Hahahaha memangnya siapa yang berani menendangmu ha? Milik Jung Yunho adalah hal tersakral kedua setelah Tuhan di sekolah ini, kau tahu" Ujar Yunho bangga, Jaejoong menatapnya tambah sebal

"Berhenti mengatakan aku ini milikmu, aku mual," ketus Jaejoong

"Yang benar saja," ujar Yunho tak terima

"Lalu kau bisa bela diri apa?"tanya Jaejoong penasaran, Yunho menoleh kemudian tersenyum tipis

"Kau tak perlu tahu," Jawabnya sambil mencubit hidung Jaejoong, Jaejoong segera menepis tangan itu.

"Hah, manis sekali, hidungmu memerah seperti badut," Ledek Yunho kemudian, Jaejoong cemberut, namun masih tetap mengikuti Yunho, kemanapun ia dibawa, kali ini saja, mereka terlihat sedikit lebih dekat dari biasa.

OoooO

Ehm, ok untuk pemberitahuan, bahwa Cina adalah negara Republik, saya membuatnya monarki karena ini hanya cerita fiksi, dan maaf untuk typo atau kesalahan EYD, dan terima kasih untuk supportnya, karena taruhan saya jika review pertama kurang dari 25 review maka saya tidak akan melanjutkan.

Dan terakhir selamat membaca, semoga terhibur