Adalah suatu keadaan yang wajar, jika tiba-tiba suasana sekolah lebih tentram hari itu, Pangeran Hangeng datang dengan Helikopter milik keluarganya bersama Heechul yang juga sepertnya merupakan hal yang biasa terjadi. Keberadaan hangeng jelas sekali mampu meredam emosi Heechul yang selalu meledak-ledak bahkan untuk hal paling kecil sekali pun, hingga kondisi yang disebut amukan Heechul tidak pernah terjadi lagi. Yunho hampir tak menunjukkan batang hidungnya sejak Hangeng tiba, setidaknya tidak di depan Jaejoong. Ada sedikit kehilangan yang melanda dalam diri Jaejoong, sesuatu yang dianggap buruk olehnya justru menjadi kebiasaan, meski ia berusaha menekannya dengan ancaman menusuk pada dirinya sendiri (kondisi aneh), Junsu membuat kondisinya semakin memburuk, dengan lontaran kalimat yang tak pernah jauh-jauh dari Yunho, danYouchun selalu menyempatkan diri untuk meredam antusiasme Junsu akan hubungan Yunjae. Jaejoong hampir bisa melupakan kondisi menyedihkan keluarganya dengan kesibukannya menghindari Yunho, sebelum sebuah telepon dari rumah, menuju padanya.
Tengah hari itu, suara menggema di seluruh sekolah tertuju pada Kim Jaejoong, memberitahukan padanya ada sebuah telepon untuknya. Sedikit penasaran Jaejoong segera menuju ruang komunikasi dan menjawab telepon untuknya.
"Ah, Jaejoog-kun," Suara lembut mendayu itu, bukan milik seseorang yang familiar ditelinganya, tapi ia tahu milik siapa suara itu.
"Ada apa?" tanyanya acuh
"Jaejoong-kun, Okaa-sama..."
"Noona, jangan menyebutmu Okaa-sama," Potong Jaejoong jutek
"Jaejoong-kun..." Suara wanita itu bergetar "Emm, Noona akan ke Korea, dan kalau Jaejoong-kun punya waktu... emm bisakah... satu jam saja, mungkin kita bisa... bertemu, atau makan siang bersama,"
Jaejoong menghela nafas berat kemudian menjawab "Aku sedang sibuk, mungkin tidak ada waktu,"
Lama sekali ada jawaban di seberan sana, hingga suara pelan itu kembali terdengar "Begitu ya," Dan terdengar begitu kecewa
"Dan jangan repot-repot membawakanku oleh-oleh, seperti yang kau tahu, aku sangat sibuk, aku tidak akan sempat mengambilnya," cetus Jaejoong lagi
"Emm, tapi Noona bisa mengirimnya saja atau..."
"Tidak usah! Aku tidak mau," Ketus Jaejoong, dan suara di seberang sana senyap
"Emm, baiklah, aku sedang sibuk, aku tutup dulu ya, selamat siang," Jaejoong masih sempat mendengar suara memanggil di seberan sana, namun tekadnya kuat dan ia menutup telepon itu begitu saja. Jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya gemetaran menahan amarah, dan matanya bahkan sudah merah, ia menarik nafas berkali-kali untuk menstabilkan emosinya, hingga mendengar suara seseorang di belakangnya.
"Emm, maaf, aku ingin menggunakan telepon," Namja jangkung itu lagi, si jenius yang acuh tak acuh, Jaejoong segera menyingkir dari tempat itu
"Noona... kau pacarnya Yunho Hyung kan?" Tanyanya sambil menggelembungkan permen karet di mulutnya, Jaejoong manatapnya tak percaya, namja ini katanya jenius, tapi ternyata tak cukup jenius untuk menentukan jenis kelaminnya. "Noona... apa-apaan itu?" Batinnya kesal
"Ah, Shim Changmin kan? Panggil Hyung saja, Hyung namja, dan Hyung bukan pacar Yunho Hyung," Jelas Jaejoong memberi penekanan akan semua perkataan Hyung
"Emm,, tidak mau, noona," Changmin terlihat seperti anak laki-laki yang bandel
"Ya... Shim..." Jaejoong menaikkan nada bicaranya, hendak berkata lagi, namun Changmin dengan santainya masuk ke ruang komunikasi dan melambaikan tangannya sambil berkata
"Daa noona," Jaejoong mencak-mencak sebal, namja bernama Shim Changmin itu ternyata sama menyebalkannya dengan Yunho.
OoooO
Suasana hatinya tak lebih baik sekarang, bahkan ketika sadar bahwa kondisi sekolah semakin tentram namun tetap tak mengobati kegundahannya. Ibu tirinya adalah alasan utama perubahan moodnya menjadi suram. Mengingat wanita yang usianya setengah tahun lebih muda dari appanya, dan kenangan masa lalu yang mana wanita itu masih ia sebut Noona, membuatnya demikian sakit hati. Ibu tirinya adalah seorang sekretaris appanya, seperti biasa kuantitas pertemuan yang sering, dan keberadaan yang selalu saling membutuhkan membuat hubungan keduanya semakin erat dan semakin lebih dari sekadar sekretaris dan majikan. Jaejoong dulunya menyukai sekretaris appanya sebagai Noona untuknya, memang tak bisa menyalahkan mereka begitu saja, karena hubungan keduanya terjalin setelah umma Jaejoong meninggal, namun tetap saja perubahan tak menyenangkan itu membuat Jaejoong serasa tercabik-cabik, ada sisi hatinya yang menerima itu, dan sisi lainnya justru menentang mati-matian, ia menganggap bahwa sang Noona sekretaris merebut posisi ummanya, dan setiap saat semua hal yang berbau ummanya menghilang sedikit demi sedikit tertutupi oleh keberadaan wanita itu. Jaejoong jelas takkan membiarkan itu terjadi dalam hidupnya, ia takkan membiarkan siapapun menggantikan posisi umma, baik dalam hidupnya, rumahnya, maupun hudup appanya.
Memikirkan tanpa berhenti akan hal itu, membuatnya tanpa sadar melangkah ke sisi lain dari kelasnya, lebih tepatnya menuju ke gerbang kelas bangsawan. Ia terkejut setengah mati, dan salah tingkat saat beberapa dari penghuni kelas bangsawan meliriknya dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.
"Kim Jaejoong-shii," Jaejoong hampir terdorong ke depan saking kagetnya ketika ada seseorang menepuk pundaknya,
"Ah Choi Siwon-shii," Jaejoong menoleh menatap namja berlesung pipi itu
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Siwon, Jaejoong malu sekali mengakui bahwa ia tersesat tanpa sadar ke sini, dan tidak menjawab apa-apa juga bukan hal baik. Namun Siwon sepertinya punya jawaban terburuk dari yang seharusnya.
"Mencari Jung Yunho ya?" Jaejoong terperangah
"Eh, mana mungkin,"
"Tidak apa-apa, lagipula kau kan miliknya," Siwon tersenyum menggoda
"Ya! "
"Hahahaha, jangan teriak-teriak begitu, anak Bangsawan terkenal kalem lho, nanti mereka menganggapmu berisik," Nasehat Siwon setengah bercanda, Jaejoong mempoutkan bibirn ya lucu
"Seperti halnya di kelas reguler, di kelas bangsawan pacarmu juga sangat populer, jadi..." Siwon mencondongkan tubuhnya mendekat, kemudian berbisik,"Kau dalam wilayah bahaya Jaejoong-shii,"
"Ya! Siwon-shii,"
"Ha ha ha ha, Ayo, aku antar ke tempat Yunho," Siwon menarik lengan Jaejoong masuk ke wilayah kelas Bangsawan
"Ya! Siwon-shii, Siwon-shii, aku tidak... jangan... aku tidak ingin menemuinya, Siwon-shii," Jaejoong memaksa menarik-narik lengannya menghentikan Siwon, meski Siwon tampak cuek, Jaejoong merutuk sebal, karena ia selalu tak cukup bertenaga untuk melawan namja lain, ia tertarik-tarik dengan nistanya ke dalam, meski Siwon hanya bercanda namun kelihatan sekali ia lemah, dan keadaan dimana ia tak ingin menemui Yunho, adalah separuh benar, dan separuh lagi mungkin tidak benar.
"Siwon-shii, aku benar-benar tidak ingin menemuinya," Tegas Jaejoong, ia mengecilkan volume suaranya, ingat kata-kata Siwon sebelumnya.
"Kenapa? Sayang sekali kan, sudah sampai di kelas bangsawan tapi tidak masuk untuk melihat-lihat, lagipula kelas Yunho tak jauh lagi,"
"Siwon, aku serius, Yunho, astaga pokoknya aku sedang tidak ingin bertemu dengannya, ayolah Siwon-shii lepaskan tanganku,"
Siwon berhenti dan menatap Jaejoong, " Baiklah kita ke kelasku saja ya,"
"Eh?"
"Tidak masalah kalau kau memang sedang tidak ingin bertemu Yunho, lagipula aku juga temanmu kan, kalau begitu aku akan mengajakmu ke kelasku saja ya,"
"Siwon-shii," Jaejoong menjawab lemah
"Ayo," Siwon menarik Jaejoong lagi, dan kali ini langkah Jaejoong justru semakin berat, meski ia menurut setengah hati
"Siwonnie,"langkah mereka terhenti lagi, ketika seorang namja lainnya berdiri dengan gagahnya? Di depan mereka
"Ah, Kibummie ada apa?" tanya Siwon pada namja berwajah dingin itu
"Dia...?Siapa?"Kibum namja itu melirik Jaejoong, yang juga sedang menatapnya
"Dia temanku," Jawab Siwon
"Sepertinya aku mengenalnya,"Kibum memincingkan matanya penuh curiga
"Sudah jangan ganggu jalan kami," Siwon maju lagi, mendorong Kibum sedikit dan kembali meneruskan jalannya, Kibum masih mencoba mengingat-ingat wajah Jaejoong. Setelah tak lama kemudian, ia menjentikkan jarinya puas.
"Kim Jaejoong yang terkenal, Seseorang yang diduga wanita, milik Yang Mulya Jung Yunho," Gumamnya sambil mengangguk-angguk
"Kau bilang apa?" Salah seorang yeoja cantik berambut ikal yang kebetulan lewat di samping Kibum mendegar gumamannya dan bertanya
"Eh, bilang apa?" tanya Kibum
"Aku dengar tentang Yang Mulya Yunho, " Katanya memastikan, mengingat wajahnya yang merah merona, ia sepertinya fans Yunho
"Tidak, memangnya aku bilang begitu ya?" Kibum balik tanya
"Huh," Dan gadis itu mencibir sebal, Kibum tersenyum sombong padanya
Jaejoong sudah mencapai koridor lainnya, ia membelok bersama Siwon, dan berhenti di depan kelas, dengan pintu berukir relief berbentuk bunga atau apalah, seperti pintu untuk kamar-kamar kastil. Siwon dengan santainya menariknya masuk ke kelasnya. Jaejoong tak sempat menolak, karena ia sudah berada di dalam, kelas itu sama seperti kelas bangsawan lainnya, ada sekitar belasan kursi yang tersedia dan semuanya kursi jati berukir. Jaejoong masuk dan langsung ditatap oleh penghuni kelas lainnya.
"Ayo kemarilah, ini tempatku," Siwon menunjukkan bangku di depan, sepertinya itu memang ciri khasnya, serius dan tekun, bangku depan memang selalu identik dengan siswa seperti itu.
"Emm, tempat yang menyenangkan," Jaejoong memaksakan senyum, Siwon duduk di tempat duduknya dan kemudian menemukan setumpuk surat beramplop warna warni dan kebanyak berwarna pink di atas mejanya dan beberapa tumpukan cokelat.
"Emm, kupikir kau juga populer," Ledek Jaejoong, Siwon tersenyum tipis
"Bukan apa-apa," Katanya bermaksud merendah diri,"Lalu kau ingin kemana lagi?" Jaejoong mengangkat bahu tidak tahu
"Ayo kita ke tempat lain," Siwon kembali menggenggam lengan Jaejoong
"kau sepertinya senang sekali ya menggenggam tanganku," Kata Jaejoong bercanda, Siwon dibuat salah tingkah dan segera melepas tangannya,
"Emm, kita ke sana ya," Siwon buru-buru mengalihkan pembicaraan
"Ini ruang ekskul beladiri, kau pernah kesini?"
"Yah, aku pernah diajak kesini oleh..." Jaejoong hendak mengatakan Yunho di ujung kalimatnya, namun terhenti ketika melihat sosok nyata Yunho yang sudah beberapa hari tak dilihatnya, sedang memasang kuda-kuda siap menyerang lawannya, ia mengenakan baju putih bersabuk hitam, dan keringat yang menetes dipelipisnya menambah kesan esksotis, bahkan dari jarak beberapa meter. Jaejoong terpaku beberapa saat, dan terlihat hampir akan tersenyum, namun kemudian dikagetkan dengan teriakan menggema dari seluruh ruangan itu, banyak sekali Yeoja yang meneriakkan nama Yunho.
"Mereka akan ada turnamen nasional sebentar lagi, pacarmu dia keren kan," Ujar Siwon menggoda Jaejoong, tapi kali ini Jaejoong tak terpengaruh, ia terlihat fokus memandangi Yunho yang sudah siap melancarkan serangan pada lawannya, Siwon terdiam. Yunho berdiri berhadapan dengan namja kekar, namja itu berlari dan berteriak keras ke arah Yunho yang mana, Yunho hadapi dengan wajah santai, namja itu sudah mendekat dan siap menerjang, namun kemudian dengan sigap Yunho menarik lengan sang namja, menahannya di ketiaknya, memutar tubuhnya, dan dengan elegannya membanting sang namja yang bertubuh lebih besar darinya kelantai.
Gdbbukkkkk...
Suara gedebuk keras memenuhi ruangan seiring dengan teriakan yeoja, disekeliling. Yunho tak tersenyum, meski sudah berhasil menjatuhkan lawan, dan ditengah pertempuran mereka saling membanting, saling menahan, meski kelihatan sekali Yunho selalu lebih unggul.
"Pacarmu, dia ketua klub Judo, juara nasional Judo, dan sudah bergabung dengan tim nasional, apa kau sudah tahu itu?" Tanya Siwon tanpa menoleh
"Apa? Yunho itu," Jaejoong menunjuk Yunho tak percaya, Siwon tersenyum
"Kenapa? Kau pikir dia tidak cocok?"
"Tidak begitu, hanya saja Yunho kan..."
"Kau pikir dia hanya bisa mencari masalah?" ketus Siwon, "Ah seperti biasa dia menang lagi," Ujarnya melihat tepuk tangan riuh dari kursi penonton, Jaejoong tentu saja tidak ingin menghampiri, apatah lagi terlibat dalam kondisi bahagia ini, dia sudah ingin berbalik dan melihat sekilas ke arah Yunho, dan menemukan mata musang namja itu juga ikut menatapnya tajam. Jantung Jaejoong berdetak lebih kencang, dan ia buru-buru berbalik kemudian menarik Siwon untuk menjauh.
"Kenapa?" Tanya Siwon
"Ah, aku sedang tidak enak badan, aku kembali ke kelas saja ya,"
"Ah alasan klise,"
OoooO
Jaejoong takut sekali dengan tataapan Yunho saat itu, ia seperti tertangkap basah sedang selingkuh jika dipikir-pikir. Berhubung pelajaran selanjutnya adalah kegiatan lapangan, Jaejoong dan teman-temannya yang lain bergegas mengganti seragam mereka dengan kaos olahraga, kegiatan lapangan kali ini adalah berkebun di belakang sekolah.
"Jaejoong, Jaejoong, tadi kau kemana?" tanya Junsu terombang ambing di lautan siswa lainnya yang mendempetnya saat mereka berebut keruang ganti
"Oh, aku tadi ke ruang komunikasi," Jawab Jaejoong
"Iya ya, bicara tentang ruang komunikasi aku penasaran, yang tadi siapa yang menelpon?' Tanya Junsu kemudian setelah keadaan lumayan tenang
"oh bukan siapa-siapa. Tidak penting," Jawab Jaejoong acuh
"Emmm, begitu ya. Oh ya Jae, aku duluan ya, aku ke kelas chunnie dulu sebentar," Dan junsu meninggalkannya, setelah mendapat anggukan mantap dari Jaejoong.
Jaejoong sudah setengah jalan membuka kancing seragamnya, beberapa menit setelah Junsu pergi, sebelum suasana tiba-tiba hening. Ia tak begitu sadar akan perubahan suasana yang tiba-tiba, hingga tubuhnya terdorong ke dinding, ia membentur kuat, dan belum sempat otaknya berpikir, tubuhnya ditarik hingga ia menghadap ke depan. dan...
"Yunh..." Nafasnya tercekat, Yunho dengan seragam Judonya, masih bermandi keringat datang ke ruang ganti, mendempetnya diantara dinding, di depan semua namja teman sekelasnya.
"Yunho...,"Sengalnya, Yunho menatapnya lurus, mata musang namja itu terlihat lebih tajam dari biasanya. Jaejoong gugup, tidak, bukan karena tatapan itu atau sentuhan itu, tapi emosinya yang tiba-tiba terpacu ketika bisa merasakan Yunho sedekat ini, apakah ini disebut rindu? Entahah Jaejoong tetap saja menampiknya.
"Selesaikan, dan pergi," Titah Yunho tegas, ia tak bicara pada Jaejoong, tapi pada semua teman Jaejoong yang sempat terbungkam beberapa saat, dan kemudian buru-buru berganti pakaian, mereka melirik-lirik Jaejoong sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Jaejoong ngeri, ia ingin menghalangi temannya untuk meninggalkannya berdua dengan Yunho, tapi justru tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Beberapa menit ini, ia dan tubuh lemahnya berusaha memberontak, tapi seperti biasa ia selalu kalah kuat.
"Jelaskan padaku Kim?" Desis Yunho, setelah ruangan itu sepi, harum nafasnya berhembus di wajah Jaejoong, jemarinya mulai bergerayangan di sekitar tubuh Jaejoong yang terbuka. Tangan Jaejoong tak mampu meraih jemari Yunho untuk menghentikannya.
"Je...Jelaskan apa?" Tanya Jaejoong gugup, ia memalingkan wajahnya kesana-kemari mencari celah untuk bisa bernafas tanpa menghirup nafas mint Yunho
"Ah, namja kecilku yang pemalu, kau membuatku tak bisa menyelesaikan pertandinganku," Yunho semakin mendekat, bahkan menghirup leher Jaejoong tanpa menyentuhnya, membuat semua tubuh Jaejoong merinding
"Yunh...Yunho hentikan"
"Lihat, wajahmu sudah merah eoh..." Bisik Yunho tepat ditelinga Jaejoong, Jaejoong menarik nafas dalam-dalam, dan tubuhnya semakin mengkerut ketakutan
"Aku suka harummu, hangat dan menggoda," Yunho menelusuri lekuk leher dan belakang telinga Jaejoong dengan jemarinya, Jaejoong meringis-ringis geli "Dan aku tidak suka jika ada yang ikut menikmati keindahan ini, kau mengerti Kim," Kini nada sura Yunho berubah lebih tajam dan galak, Jaejoong membuka matanya perlahan
"Kau bicara apa?" tanyanya
"Jangan sampai aku melihatmu dengan namja lain lagi," Bisik Yunho tepat di telinga Jaejoong
"Aku tidak..." Jaejoong hendak protes, namun Yunho segera memotong
"Aku tidak suka, aku akan menghabisi siapapun yang berusaha mendekatimu," Desisnya penuh ancaman, kali ini Yunho terlihat sangat menakutkan. Jika tak ingat Tuhan mungkin Jaejoong akan ketakutan setengah mati. Ia hampir bisa mengontrol diri dengan pura-pura tegar dan berdiri kokoh, namun pertahanannya runtuh seketika, kala bibirnya tiba-tiba dilumat lembut oleh bibir Yunho yang tipis.
"Apa ini?" Batin Jaejoong setengah sadar, berharap bisa menolak, tapi ia justru tak bereaksi, Yunho masih melumat bibirnya dengan lembut, dan tidak berhenti dengan mudah bahkan ketika Jaejoong sadar dan mulai mendorong tubuhnya kuat-kuat.
"Yunho..." pekik Jaejoong panik di sela ciuman mereka
OoooO
Jaejoong, sudah mencuci wajahnya berkali-kali dan tetap tak bisa menghilangkan efek ciuman itu. Otaknya masih bisa merasakan secara mendetail dan nyata rasa ciuman itu. Bosan di toilet, ia bergegas sambil mencak-mencak menuju kantin, dan memesan sebanyak yang ia bisa minuman dingin dan panas yang tersedia. Ia meneguk minuman itu dengan membabi buta, dan berceloteh sendiri.
"Anak kelas reguler yang gila," beberapa gadis dari kelas bangsawan yang kebetulan berada di kantin yang sama, berkomentar kala melihat Jaejoong
"Aku dengar dia seseorang yang diduga wanita itu... kau tahu, milik Yang mulya Yunho," Bisik yang lainnya
"Yang benar saja, dia bisa saja berwajah cantik, tapi coba lihat tingkahnya, menggelikan sekali," Komentar yang lainnya, Jaejoong tak bisa mendengar apa yang yeoja-yeoja itu katakan tentangnya, tapi ia tahu jika mereka membicarakannya. Dan ia tak peduli
"Daras brengsek," Maki Jaejoong, pada Yunho
Sementara itu tak jauh dari tempatnya, seorang yeoja cantik, berwajah angkuh, namun memiliki tatapan sendu dari yang pernah ada, menatap Jaejoong. Ia hendak sekali menghampiri, tapi apakah itu perlu, apakah dia akan baik-baik saja? Atau bolehkah ia menghampiri? Yeoja itu sudah melangkah satu tapak, namun tiba-tiba terhenti ketika terlihat olehnya yeoja lainnya mendekat ke arah Jaejoong.
"Kim Jaejoong-shii, apa kabar?" Seseorangmenyapa Jaejoong, Jaejoong terperangah dan mendongak
"Oh, kau..." Ia mengerutkan dahi bingung
"Im Yoona imnida," ia mengulurkan tangannya, Jaejoong menjabatnya
"Apa yang kau lakukan? Ini semua minummu?" tanyanya melirik penuh heran pada bergelas-gelas minuman dengan berbagai rasa di atas meja
"itu... iya... eh..kau boleh memilih minuman yang kau suka, kalau kau mau," tawar Jaejoong baik hati
"Wah benarkah, terima kasih, kalau begitu aku pilih Mocca Ice aja ya," Yoona menyambar gelas medium berisi mocca es
"Eh, Jaejoong-shii, aku belum sempat berterima kasih untuk yang waktu itu," ucap Yoona kemudian, terdengar pelan, ia memain-mainkan sedotan di gelasnya, dan berusaha untuk tidak menunduk terus
"Emh, tidak perlu, itu sudah seharusnya," Jawab Jaejoong ramah, Yoona tersenyum lembut sekali
"Ah ternyata kau sangat ramah Jaejoong-shii, aku sering mendengar dari teman sekelasku bahwa seseorang yang di duga wanita,yang diklaim Yunho itu, sangat sombong dan banyak tingkah,"
"Ah? Kau juga mendengarnya? Astaga sejauh mana gosip itu tersebar,"
"Seluruh sekolah sudah tahu, dan apa kau tahu bahwa kau sangat terkenal, meski tak ada yang bagus sih yang mereka bicarakan tentangmu,"
"Sudah kuduga. Tapi kenapa kalian terus mengatakan seseorang yang di duga wanita, aku kan pria,"
"Astaga Kim, apa kau juga tidak tahu itu?" Yoona memelototkan matanya lebar "Tidak ada yang benar-benar tahu jenis kelaminmu jika tak melihatmu secara dekat. Ada gosip yang mengatakan bahwa kau yeoja tomboy yang berpakaian macho, yah paling tidak akhir-akhir ini, sudah mulai banyak yang tahu bahwa kau namja,"
"Heh, untungnya aku sudah terbiasa," Jaejoong tertawa ketus "Dan Yoona-shii setelah ini berjanjilah untuk tidak menyebutku seseorang yang diduga wanita lagi, itu menggelikan, sungguh,"
"hahahaha, baiklah tuan Kim, akan kupertimbangkan," Tawa Yoona, Jaejoong hanya bisa berusaha tersenyum.
"Hah lain kali saja," sementara itu yeoja bermata sendu itu tampat menunduk dan hendak menjauh, ia memandangi dengan saksama Jaejoong dan Yoona sejak tadi.
"Boa," Heechul datang dibelakangnya, bersama pangeran Hangeng yang memeluk pundaknya
"Ah, Heechul eonnie, Hangeng oppa," Ia terkejut sekali, Heechul memandang sekilas Jaejoong, dan kembali menatap Boa
"Jangan lakukan apapun yang hanya akan memperburuk hubunganmu dengan Yunho," Nasehat Heechul bijaksana, Boa tertunduk malu. Heechul kembali meneruskan jalannya bersama Hangeng, setelah terdiam cukup lama bersama Boa.
"Apa ada sesuatu yang terjadi selama aku tidak ada?" tanya Hangeng setelah mereka cukup jauh dari Boa
"Masalah cinta Yunho," Jawah Heechul asal
"Ah, jadi yeoja yang kau kerjai beberapa waktu lalu itu, pacar baru Yunho," Tebak Hangeng, Heechul langsung menatapnya tak senang
"Bukan yeoja itu, tapi namja itu," Jawab Heechul kemudian, setengah kesal karena yeoja bernama Yoona itu sempat dibahas tadi
"Ah? Apa?," Hangeng menatap Heechul tak percaya, Heechul mengangguk
"Emm, sepertinya yang satu ini dia akan serius" tambah Heechul
"Tapi tidak mudah juga kan," Ujar Hangeng bijaksana, dan Heechul mengangguk setuju
"Ne ge-ge kapan kita China, aku rasa banyak sekali tempat yang ingin aku kunjungi disana," Ujar Heechul manja
"Yah, kita akan kesana kalau kau berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan lagi,"
"Kan sudah tidak lagi,"
"Iya karena ada aku kan,"
"Ge-ge," rengek Heechul manja
"Ya ya ya ya, kita akan kesana, lagipula masyarakat China harus mengenali calon ratu mereka," goda Hangeng sambil mencubit hidung mancung Heechul, Heechul tersipu dibuatnya
"Wah Heechul-sunbaenim begitu cerah," salah satu adik kelasnya yang melihat moment Hanchul berkomentar
"Aku yang gila, atau aku melihat wajah Heechul-sunbaenim bersinar," ujar satunya lagi
"Kau yang gila," komentar temannya serentak
"Baru kali ini aku tidak merasa ngeri berada di kelas bangsawan cukup lama," komentar yang lainnya
"Iya kau benar, semoga Pangeran Hangeng, tidak mengambil libur lama lagi," dan yang lain langsung mengangguk setuju.
OoooO
Terima kasih, tidak ada yang ingin saya sampaikan, hanya saja cerita ini semakin lama semakin mendekati rate M, apa perlu diubah saja ya?
Ok terima kasih untuk kritik dan sarannya, chingudeul sangat membantu, komentar chingudeul adalah referensi utama saya untuk memperbaiki cara penulisan dan tema cerita. Terima kasih banyak ya
