Rated: T
Discalimer: These chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is officially mine.
Warning: Bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risk (:
Couple words from author:
Yooo Minna-san! author kembali lagi dengan chappy 2 hehehe, ya disini mulai terlihat awal konflik diantara Sasuke dan Tenten, dan di chap ini Tenten pun udah muncul hehe. Oh iya ini SasuTen pertamaku jadi maaf ya kalo masih abal hehe. okee aku bales reviews dulu yaa
Fumiyo Nakayama.71: Iyaa karena aku lagi baca novel terjemahan jadi kebawa-bawa sampe kesini ._. hehe. huwaa begitu ya :( iya sih memang pair SasuTen masih sulit diterima oleh para NejiTen lovers, aku pun sempat berpikiran seperti itu, tapi aku enjoy aja asalkan ada Tentennya hehehehe ._.
Oke segitu aja, langsung aja kita simak ceritanyaa.
Chapter 2
Kedua laki-laki berambut pekat dan bermata hitam itu segera turun dari mobil Jeep Cherokee hitam ketika mereka sampai di sebuah department store, setelah mengunci pintu mobil mereka segera masuk ke department store itu. Sasuke berkacak pinggang menatap arsitektur café kakak laki-lakinya. Café yang terletak di sebuah department store, memiliki design interior yang menganut unsur prancis, terlihat jelas dari sofa-sofa kulit berwarna soft yang berjejer tak jauh dari meja kasir, dan miniature menara eifel yang berdiri disudut cafe, meski begitu masih terlihat sentuhan Jepang di café yang terletak bersebrangan dengan ice rink itu. Terlihat beberapa lampion menggantung menghiasi meja kaca tempat menaruh beberapa kue yang terlihat menggiurkan, dan beberapa origami yang bertengger di meja kasir. Sungguh perpaduan yang indah. Sasuke menolehkan kepalanya ke samping, kearah ice rink luas yang terletak disebrang café, terlihat juga beberapa orang yang tengah meluncur disana.
Melihat ice rink, membuat Sasuke melirik kearah Itachi yang berdiri disampingnya. 'Apa Itachi tidak menderita harus menghabiskan kesehariannya di depan ice rink?'
"Lebih baik kita segera masuk ke café ku, sebelum para skater cilik menyerbu café ku." Ujar Itachi yang membuat lamunan Sasuke terputus. Sasuke hanya mengangguk lalu mengikuti kakaknya dari belakang.
"Ah, aku juga ingin mengenalkanmu pada seseorang."
"Oh ya? Siapa?" Tanya Sasuke tanpa antusiasme yang terpancar dari pertanyaan singkat itu. "Dia seorang pelatih ice skating di ice rink itu, dan sering menghabiskan waktunya di café ku ketika ia sedang istirahat." Ucap Itachi tanpa menoleh kebelakang, Sasuke hanya mengangguk singkat. Suasana café kakaknya terlihat jauh lebih tenang dibanding suasana di sebrangnya. Membuat Sasuke sedikit rileks, begitu memasuki café kakaknya, Sasuke kembali menatap kesekitar.
Tamu di café kakaknya kala itu tidak terlalu ramai, mereka pun menikmati kopi ataupun cake mereka dengan tenang.
'Haah, akhirnya aku bisa menemukan orang bersikap rasional disini.' Batin Sasuke. Tiba-tiba saja suara gemuruh tertangkap oleh telinga Sasuke, refleks laki-laki itu segera menolehkan kepalanya.
"KYAA! AWAS!" BRUGH! Detik itu juga tubuh Sasuke seperti dihantam benda yang berat, membuat laki-laki itu terjengkang kebelakang dengan kepala membentur sesuatu benda yang keras, dan disusul dengan benda lengket dan cairan panas yang mengenai rambutnya. Pandangan Sasuke mengabur, dadanya terasa sesak karena tubuhnya seperti ditiban benda yang berat.
"Sasuke! Kau tidak apa-apa?" Sasuke hanya bisa mengerang tak jelas seraya mengerjapkan matanya, berharap kunang-kunang di matanya segera pergi. Sasuke akhirnya berhasil membuka matanya tanpa gangguan kunang-kunang lagi. Akhirnya laki-laki itu menyadari benda apa yang menindih tubuhnya dan membuatnya sesak nafas. Gadis berwajah asia dan berambut auburn sebahu mengerjap sekali, lalu bola mata hazel nut nya terbelalak kaget.
"Oh astaga! Oh astaga Kami-sama! Maafkan aku.. aku tidak sengaja-" belum sempat gadis itu menyelaskan kalimatnya, sesuatu menariknya berdiri dan tentu saja Itachi adalah dalang dibalik semua itu.
"Tenten! Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" Itachi memperhatikan mimik gadis itu ketika kaki kanannya menyentuh lantai kayu café nya, gadis itu meringis kesakitan. "Aduh… tunggu." Ucap gadis itu sambil berusaha menjejakkan kedua kakinya di lantai tanpa terhuyung-huyung, sebelah tangannya menyentuh kepalanya yang terasa berputar.
"Kakimu terkilir?" Tanya Itachi dua kali lebih khawatir dari sebelumnya.
Sasuke menatap kakaknya dengan tatapan tak percaya. Itachi sibuk mengurusi gadis itu dan tidak memperdulikan adiknya yang tergeletak tak berdaya dilantai? Sasuke mendengus kesal seraya berusaha berdiri tanpa bantuan siapapun, ia berusaha berdiri dengan menopang tubuhnya dengan tangan dan langsung diserang oleh rasa sakit yang luar biasa, membuat wajah tampannya meringis kecil.
"Apa ada luka lain?" Suara Itachi terdengar lagi dan Sasuke yakin pertanyaan itu bukan ditujukan padanya. "Kepalamu terbentur, lebih baik kita kerumah sakit."
"Tidak." Bantah gadis itu cepat. "Aku benar-benar baik-baik saja, tidak perlu kerumah sakit."
"Tapi tak ada salahnya kerumah sakit, siapa tahu ada pendarahan didalam." Kata Itachi lagi . "Tidak perlu, sudah kubilang aku tidak apa-apa, Itachi-senpai."
"Tapi-"
"Sepertinya kita memang perlu kerumah sakit." Ujar Sasuke yang akhirnya bisa menapakan kedua kakinya dilantai. Gadis itu menoleh kearah Sasuke
"Sungguh, aku baik-baik saja, aku tidak perlu ke-"
"Bukan kau." Ujar Sasuke tajam dengan rahang menggeretak, berusaha menahan rasa sakit yang mendera tangannya.
"Tapi aku." Seketika itu juga Itachi menolehkan kepalanya kearah Sasuke.
"Oh astaga."
xXx
Bau menyengat alcohol dan obat-obatan khas rumah sakit besar langsung menari-nari di hidung Tenten ketika gadis itu menghela nafas panjang. Gadis itu tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
'Bodoh! Kalau saja bukan karena buntalan kapas itu.' Lagi-lagi gadis berambut auburn itu menghela nafas panjang seraya memejamkan mata hazel nut nya. Rasa bersalah yang amat besar kini tengah bersemayam didalam hatinya. Kenapa? Tentu saja karena insiden buntalan kapas di café tadi beberapa menit yang lalu, ketika Tenten tengah membawa sepiring chesse cake serta segelas hot choco late nya dan hendak duduk di pojok café untuk menikmati waktu istirahatnya, tiba-tiba saja seorang pria bertubuh besar dengan kasarnya menyenggol tubuh mungil Tenten dan akhirnya sukses membuat Tenten jatuh secara tidak elit dan menubruk adik dari Itachi-senpai, bos sekaligus pemilik café tempatnya biasa menyantap makan siang.
Ada sisi baik dan buruk dari kejadian itu. Sisi baiknya, Tenten tidak terluka sama sekali, kepalanya hanya terasa sedikit pusing ketika menubruk dada bidang dari adik laki-laki Itachi ditambah bajunya tak ternodai krim keju maupun noda coklat. Dan sisi buruknya, selama perjalanan menuju kerumah sakit, Tenten tak henti-hentinya mendapat tatapan tajam serta kata-kata menusuk dari adik Itachi.
'Siapa ya nama laki-laki itu? Sepertinya aku mendengar Itachi-senpai memanggil namanya sebelum menarikku berdiri. Sas.. sasuke? Ya! Itu namanya, Uchiha Sasuke tentunya.'
Tubuh Tenten menegang ketika ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh keningnnya, membuat gadis itu mengangkat wajahnya.
Mata hazelnya melebar ketika mendapati sesosok laki-laki bermata gelap menyodorkan segelas minuman kearahnya.
"Kurasa segelas coklat panas bisa menenangkanmu." Tenten tersenyum kecil seraya menangkup cangkir karton yang disodorkan kearahnya itu dengan kedua tangan. "Terimakasih, Itachi-senpai."
Itachi hanya tersenyum samar seraya menyesap minuman yang sepertinya adalah capucinno. Bagaimana Tenten bisa tahu? Tentu saja dari aromanya. Untuk kesekian kalinya Tenten menghela nafas panjang, perasaannya sangat tidak enak. Rasa bersalah masih bercokol didalam hatinya, sedari tadi ingin sekali ia meminta maaf pada Uchiha Sasuke, tapi tatapan tajam laki-laki itu membuat Tenten lebih memilih untuk tetap diam.
'Dia pasti sangat membenciku.' Batin gadis itu. Tentu saja, karena Tenten sudah membuat tangan laki-laki itu cedera. Tubuhnya secara tak sengaja meniban tangan laki-laki itu, membuat Sasuke meringis sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Tenten memutuskan untuk menyesap coklat hangatnya, berharap rasa manis dari coklat itu dapat menenangkan syaraf otaknya. "Tenten, kau baik-baik saja? Sepertinya wajahmu agak pucat?"
Tenten menjauhkan cangkir karton dari mulutnya dan menatap lurus kearah lobby rumah sakit. "Tidak, aku tidak apa-apa hanya saja…"
Itachi hanya bisa terdiam, menunggu gadis di sebelahnya melanjutkan kata-katanya. "Aku hanya khawatir akan keadaan adikmu, melihat dari ekspresinya selama dimobil pasti cederanya cukup serius." Ujar Tenten murung.
"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir pada Sasuke, dia akan baik-baik saja."
"Aku sangat menyesal, dia sepertinya sudah membenciku bahkan sebelum kami berkenalan, bukan begitu Itachi-senpai?" Tanya Tenten sambil tersenyum geli, Itachi hanya bisa tertawa pendek. "Kau tidak perlu khawatir akan sifat buruk yang sudah mendarah daging di sosok adikku, dia memang selalu seperti itu pada semua orang." Ujar Itachi yang sepertinya berusaha menenangkan Tenten.
Tak lama, pintu ruang pemeriksaan terbuka, membuat kedua manusia berbeda gender itu menolehkan kepalanya. Sesosok laki-laki paruh baya lengkap dengan jas putihnya keluar dari ruang pemeriksaan, disusul oleh seorang laki-laki emo yang terlihat kotor dengan krim keju dan noda coklat di baju dan rambut emo nya. Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, Sasuke sama sekali tidak menoleh kearah kakaknya maupun Tenten, moodnya benar-benar hancur total. Rencananya keluar rumah untuk menenangkan diri kini sudah hancur lebur, moodnya sudah benar-benar hilang.
"Ah, apa anda kakak dari Uchiha Sasuke?" Tanya laki-laki paruh baya itu kepada Itachi. "Iya, ada apa, dokter?"
"Bisa saya bicara sebentar dengan anda?" Itachi menoleh kearah Tenten, menatap gadis itu sekilas sebelum akhirnya beranjak pergi menyusul sang dokter. Sementara Tenten hanya bisa menundukan kepalanya ketika Sasuke berjalan melewatinya, dadanya sesak. Perasaan bersalah membuncah ketika mata hazelnya melihat perban berwarna coklat membelit tangan kanan Sasuke.
'Kami-sama! Aku harus meminta maaf.' Meski begitu tak ada sepatah katapun keluar dari bibir mungil Tenten. Gadis itu mengangkat kepalanya dan membuka mulutnya bersiap untuk meminta maaf pada Sasuke, tapi begitu melihat ekspresi yang cukup –ehem- menakutkan diwajah laki-laki itu, Tenten segera membungkam mulutnya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu mood laki-laki itu pasti sangat hancur.
Sasuke menghentikan langkahnya, ia berdiri memunggungi Tenten. Sepertinya ia sudah benar-benar muak dengan Tenten. Entah untuk keberapa kalinya Tenten menghela nafas panjang, ia tahu ia salah dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membayar kesalahannya, sungguh ini seperti membunuhnya. Tetapi mencoba berbicara dengan Sasuke seperti menyerahkan nyawamu pada malaikat kematian, sudah dipastikan Sasuke tidak akan merespon permintaan maaf Tenten dengan 'hangat'.
Tenten merasa sedikit lega ketika melihat sosok Itachi berjalan mendekati mereka. "Lebih baik aku segera mengantarmu pulang, Tenten."
xXx
'Kau tidak diperbolehkan menggerakan tanganmu selama kurang lebih satu bulan.'
Sasuke mengepalkan tangan kirinya, rahangnya terlihat menegang pertanda bahwa laki-laki itu tengah kesal. Laki-laki itu memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya yang sudah diselimuti amarah. Begitu membuka matanya, ia segera melirik ke kaca spion tengah. Mata onyx nya menyipit ketika menangkap sosok gadis bertubuh mungil tengah terduduk di kursi penumpang belakang. Gadis itu, gadis berambut coklat gelap yang tengah menunduk. Beberapa helai rambutnya menutupi wajahnya, membuat Sasuke tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.
'Gara-gara dia.' Sasuke segera mengalihkan tatapannya, berlama-lama melihat gadis itu bisa membuat amarahnya kembali bangkit. Kalau saja gadis itu tidak menubruknya tadi, kalau saja ia tidak datang ke café kakaknya, kalau saja kakaknya tidak datang ke apartemennya, dan kalau saja mesin kopi sialannya tidak rusak.
'Kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk sementara, apapun itu termasuk bermain piano, kau mengerti Uchiha Sasuke?'
Tanpa sadar Sasuke menggeram kesal. Ya, Sasuke tidak akan bisa bermain piano selama setidaknya paling cepat satu bulan. Ia tidak akan bisa menjalankan recital yang sudah ia tunggu bulan depan, ia tidak akan bisa menyelesaikan lagu barunya.
'Kami-sama! Bisakah kau berhenti memikirkan semua pernyataan itu, otak! Tanpa kau perjelaspun aku bisa tahu, otak bodoh!' Batin Sasuke lebih untuk dirinya sendiri. Sasuke kembali melirik ke kaca spion. Gadis itu masih menundukan kepalanya, entah kenapa Sasuke sangat membenci gadis ini. Dia bagaikan malaikat kegelapan yang merenggut segalanya dari Sasuke.
Merenggut resitalnya, merenggut lagu barunya, merenggut pagi harinya yang tenang dan damai. Sasuke ingin sekali segera berpisah dengan gadis ini dan menjauh setidaknya dalam radius 100 meter.
"Baiklah, kita sudah sampai." Ujar Itachi yang memecah keheningan, baik Tenten maupun Sasuke memilih untuk tetap diam. Sasuke menyentuh rambutnya yang sudah terasa lengket karena krim keju
"Bisakah kita segera kembali ke apartemenku? Aku tidak mau rambutku jadi chesse cake." Gerutu Sasuke. Itachi tidak menggubris kata-kata adiknya, sementara Tenten segera membuka pintu penumpang dan melangkah keluar dari mobil. Melihat aksi Tenten membuat Itachi turut keluar dari mobil, meninggalkan si penggerutu didalam mobil.
"Tenten." Langkah gadis itu terhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya. "Ah Itachi-senpai, terimakasih atas tumpangannya ya, maaf sudah merepotkanmu."
"Tidak sama sekali tidak merepotkan, dan terimakasih karena menemaniku di rumah sakit." Ujar Itachi sambil tersenyum ringan, entah mengapa setelah melihat senyuman Itachi perasaan Tenten sedikit tenang. "Ah, sudah seharusnya aku ikut. Penyebab adikmu dibawa kerumah sakitkan karena aku." Ujar Tenten yang sekilas melirik kearah Sasuke. "Apa Sasuke akan baik-baik saja? Apa yang dokter katakana, Senpai?"
"Yea, sebenarnya cedera di tangan Sasuke tidak terlalu serius, tangannya hanya terkilir tapi dokter menyarankan untuk tidak menggerakan tangannya selama satu bulan penuh, karena Sasuke adalah seorang pianis."
"Eh? Pianis?"
"Yeah, seorang pianis pasti menggerakan tangannya lebih sering daripada orang biasa seperti kita bukan? Dan jika terlalu sering menggerakan jari jemari di saat kondisi otot lengan tidak sehat, bisa memicu peradangan." Tenten termenung sesaat, berusaha mencerna kata-kata Itachi yang berputar dikepalanya. "Jadi.. Sasuke tidak bisa bermain piano lagi?"
"Ya untuk satu bulan ini, tidak." Tubuh Tenten tersentak. Tidak bisa bermain piano lagi? Tenten baru mengetahui kenapa Sasuke sangat kesal, bagaimana tidak? Sasuke adalah seorang pianis, bayangkan jika seorang pianis tidak bisa bermain piano selama satu bulan?
"Tak heran dia terlihat sangat membenciku." Ujar Tenten yang akhirnya tersenyum getir, Itachi hanya bisa menatap gadis dihadapannya. Baru saja Itachi hendak berbicara, suara yang dingin dan tajam bak sebilah pisau merambat diudara.
"Bisakah kita segera pulang? Kau sudah mengantar gadis itu didepan apartemennya bukan, apa kau ingin mengantarnya kedalam juga?" Gejolak amarah muncul di dalam hati Tenten. Gadis itu merasa kesal, bukan kesal karena tatapan tajam Sasuke yang dilontarkannya selama dua jam belakangan, bukan. Tapi kerana sifat tidak sopannya di hadapan Itachi, bagaimanapun Itachi adalah kakaknya, dan ia tidak sepantasnya berkata sekasar itu. Atas dasar amarah Tenten berjalan melewati Itachi. Gadis itu berhenti ketika ia sudah mendekati mobil Jeep Cherokee hitam yang terparkir di depan apartemennya.
"Aku tahu kau sangat kesal karena tanganmu! Tapi itu bukan alasan untuk bersikap sekasar itu dengan Itachi-senpai! Bagaimanapun, dia adalah kakakmu! Aku sama sekali tidak marah atas tatapan tajammu, atau kata-kata menusukmu saat diperjalanan menuju rumah sakit, aku tidak marah karena kau melampiaskan amarahmu padaku, tidak sama sekali karena aku tahu aku pantas mendapatkannya, tapi kau tidak perlu melampiaskannya pada kakakmu!"
Tenten berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sementara Sasuke hanya bisa menatap kearah gadis itu. Meskipun tatapannya terlihat datar, tapi jauh dilubuk hatinya ia sangat terkejut. Terkejut bahwa baru sekali ini ada seorang gadis yang berani… mengomelinya selain ibunya tentunya. Semua gadis yang ia kenal pasti selalu bertekuk lutut padanya, tapi gadis ini? Baru saja ia membentak Sasuke? Setelah beberapa detik menatap gadis berambut coklat itu, Sasuke menolehkan kepalanya kearah jalanan, mata onyxnya menatap lurus kedepan. "Bisa kita pulang sekarang, Itachi?"
Begitu mendengar suara Sasuke yang sedikit serak, Itachi segera membalikan tubuhnya dan berjalan kearah mobil, sementara Tenten kembali menundukan kepalanya. Gadis itu mengutuk dirinya didalam hati.
'Baka! Kenapa aku bisa lost control seperti tadi?! Kenapa aku malah memarahi Sasuke?! Harusnya aku meminta maaf padanya, bukan malah marah-marah seperti tadi.' Tenten memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya sedikit menegang ketika merasakan sebuah tangan menyentuh lembut pundaknya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Sasuke, dia akan baik-baik saja. Dan lagi, terimakasih ya atas aksimu tadi." Tenten menoleh kesamping, tepatnya kearah Itachi yang berdiri disampingnya. Laki-laki itu tersenyum sekilas sebelum akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan Tenten. Gadis itu berdiri ditempatnya sampai mobil Jeep Cherokee hitam itu melaju dijalanan.
Senyuman indah itu kembali terbesit di kepalanya, membuat pipinya bersemu merah.
Yapps! chappie 2, bagaimana-bagaimanaa? apa kata-kata yang kupakai terlalu ribet? hehehe, aku berharap banget lo para NejiTen lovers mau menengok fic ini dan bisa suka dengan fic ini hehe, tapi karena sepertinya peminat SasuTen sangat sedikit... yasudahlah tak apa-apa aku tetap menjalankan fic ini karena ini adalah request hehe, silahkan di reviews yaa, jaa ne minnaa! (:
