Bagaimana ini, semakin hari Jaejoong semakin takut, ia takut melihat Yunho, takut bertemu Yunho, takut bicara dengan Yunho, dan bahkan takut sekali membayangkan Yunho, berharap hatinya salah, tapi ia sendiri tak bisa memungkiri perasaannya, bisakah ia mengaku kalau semakin hari ia semakin merasa aneh ketika bertemu Yunho, tidak mungkin ia menyebutnya suka, dan tak mungkin lagi ia mengakuinya. Jaejoong menyebut rasa itu mengerikan.
Merasa beberapa hari ini di acuhkan, Yunho jelas tak terima begitu saja, ia mencari-cari kemanpun Jaejoong menghindarinya, meski tak menemukan siluet Jajoong, nanum Yunho tak menyerah begitu saja.
Hingga akhirnya di suatu sore
"Ya! Kim Jaejoong berhenti!" Yunho berteriak keras ketika melihat Jaejoong berdiri tak jauh dari tempatnya berada sekarang, ia terlonjak dramatis dan menjatuhkan setumpuk buku yang sedang di peluknya, pura-pura sibuk membereskan buku-buku yang berjatuhan, Jaejoong mengacuhkan Yunho dan pandangan tak enak disekelilingnya. Merasa negeri, begitu selesai membereskan buku-bukunya lagi, Jaejoong buru-buru menghidari tempat itu, ia berbalik tergesa-gesa, namun kalah cepat dari Yunho, Yunho berlari melesat mengejarnya, mencengkeram lengan Jaejoong dengan keras.
"Kau mau melarikan diri lagi," Katanya sengit, Jaejoong melihat sekelilingnya yang memanas
"Yunho lepaskan," Desisnya menarik-narik tangannya, namun Yunho tak urung melepas
"Kau milikku.." Yunho menekankan kata-katanya "Apa kau lupa."
"Yunh..." suara Jaejoong tercekat
"Kau ingin kutunjukkan bagaimana cara kerja seorang majikan terhadap miliknya,"
"Aku bukan milikmu,'
"Kau milikku, Kim," Geram Yunho "mau kutunjukkan buktinya," Yunho menarik Jaejoong paksa
"Yunho, berhenti," Berontak Jaejoong "Kau ingin membawaku kemana?"
"Lihat saja nanti,"
"Yunho berhenti," Meski sudah berapa kali Jaejoong membentaknya untuk berhenti namun Yunho tak bergeming, mereka semakin dekat dengan toilet pria, jika benar, Jaejoong merasakan perasaan tidak enak jika Yunho yang mesum tiba-tiba menuju toilet pria bersamanya.
"Tidak, tidak mau, kau mau bawa aku kemana?" tenaga pria yang dimiliki Jaejoong sudah dikerahkan sampai habis dan ia bahkan tak membuat Yunho berhenti sebentar pun.
"Aku tak ingin melakukannya disini, dan kurasa kau juga,"Ujar Yunho menggoda, mendengar kengerian itu Jaejoong meneguk ludah
"Hah, ayo,"
"Aaaa, turunkan aku Yunho, turunkan,"Yunho membawa Jaejoong ke pundaknya, membawanya santai seakan tidak ada beban yang dibawanya. Jaejoong masih terus berontak seperti gadis kecil yang hendak di perkosa.
Yunho kemudian mendorong Jaejoong ke dalam toilet yang saat itu masih menyisakan beberapa namja, tentu saja tatapan mereka semua sama, heran dan bertanya-tanya.
"Semuanya keluar,"Titah Yunho, beberapa yang sadar buru-buru keluar dan yang lainnya malah terpesona melihat kecantikan Jaejoong yang kini pipinya merona dalam dekapan Yunho, begitu Yunho berhasil menurunkannya.
"Berhenti menatapnya seperti itu,"cetus Yunho tajam. Begitu semuanya pergi, Yunho menarik paksa Jaejoong ke dalam salah satu toilet pria.
"Jung Yunho jangan, lepaskan aku Jung!"Bentak Jaejoong, ia memberontak sekuat tenaga, namun lengan kekar Yunho begitu kuat menahannya
"Kenapa tidak kau nikmati saja permainan ini, hah?,"Yunho kini mendorong Jaejoong ke dinding, menguncinya di antara kedua lengannya.
"Tidak! Aku tidak mau, aku harus pergi,"Jaejoong kini mendorong tubuh Yunho menjauh dan mencoba meraih gagang pintu toilet, namun lagi-lagi kini lengan kekar itu melingkar dipinggangnya. Yunho berada di belakangnya, menggerayanginya penuh gairah.
"Jangan memancing kesabaranku Jaejoong Kim-shii, setelah Siwon, dan sekarang Yoona, berani sekali kau," Lidahnya menyusupi daun telingan Jaejoong, seraya berbicara, seketika Jaejoong menggelinjang geli
"Jangan Yunh, ahhhh,"Jaejoong berteriak panik saat kejantanannya kini diremas lembut.
"Di bawah sini, butuh tempat yang enak untuk mengeluarkan cairannya,"Bisik Yunho seduktif, masih sambil menahan tubuh Jaejoong dengan meranggkulnya dari belakang, menjilati daun telinga Jaejoong sampai basah. Kini tangannya mulai membuka kancing dan resleting celana Jaejoong.
"Ja...jangan,"Jaejoong menggunakan tangannya untuk menghentikan aksi Yunho namun dengan cepat Yunho merapatkan tubuh mereka ke dinding, terhimpit oleh dinding membuat Jaejoong semakin tak bisa melawan.
"Yunh, ahhhh,"Jaejoong menjerit tertahan tatkala kini tangan Yunho sudah benar-benar menyusup kedalam celana dalamnya, mengelus lembut kejantanannya dan dengan cepat membangunkan kejantanan itu.
"Coba lihat, milikmu tampak begitu menyukai tanganku,"Yunho mencium tengkuk Jaejoong lembut
"Ini gila, ini bahaya, aku tidak boleh membiarkan diriku hanyut,"batin Jaejoong putus asa, ia menghentak-hentakkan kakinya kuat mencoba menahan godaan dan rangsangan yang diberikan Yunho
"Kenapa hmm? Tidak kuat?"Yunho membalik tubuh Jaejoong menghadapnya, dan tersenyum menggoda, Jaejoong masih memberontak sambil menatap tajam Yunho
"Lepaskan aku Jung! Aku bukan GAY!"Jaejoong sudah benar-benar emosi, ia membentak Jung Yunho dengan begitu keras, Yunho menatap Jaejoong begitu datar.
"Apa peduliku,"Jawab Yunho tenang, kini ia semakin memperkuat tenaganya, mencengkeram lengan Jaejoong begitu kuat, ia bahkan menekan tubuh Jaejoong sampai membentur dinding.
"Aku akan membuatmu tersiksa Kim, sampai kau sendiri yang memintaku menyelesaikannya,"Ucap Yunho pelan, nadanya terdengar begitu mengerikan
"Lep..paskan Jung, kau menyakitiku!,"marah Jaejoong masih memberontak, dan Yunho tak tinggal diam ia segera menyambar bibir Jaejoong, mengulumnya penuh gairah, Jaejoong bahkan tak sempat menarik nafas dibuatnya. Yunho menjilati habis bibir Jaejoong, mengulumnya kuat sampai bibir itu merah dan membengkak, kemudian menggigitnya tak kalah kuat meski tidak sampai berdarah, merasa mendapat rangsangan menyakitkan itu Jaejoong tanpa sengaja membuka mulutnya sedikit, dan kesempatan itu segera dimanfaatkan Yunho untuk menyusupkan lidah panjangnya ke dalam rongga hangat mulut Jaejoong, menjilati seluruh isi goa hangat itu, lidah itu menari indah menyapu habis apapun yang disentuhnya, Jaejoong tersentak, lidah panjang Yunho hampir menyentuh tenggorokannya membuatnya tidak hanya tidak bisa bernafas, tapi juga serasa ingin meledak muntah, namun rasa sakit itu entah kenapa terasa begitu nikmat. Yunho tak hanya menggunakan lidahnya untuk memanjakan Jaejoong, melihat pertahanan Jaejoong yang melemah ia menggunakan satu tangannya untuk bermain di bawah, di selakangan Jaejoong, dimana kejantanan itu sudah tampak terbangun sempurna. Jaejoong hendak menolak namun ia sudah tak bisa bicara dan tubuhnya sangat lemah, ia memejamkan matanya mencoba berkonsentrasi agar tidak termakan godaan itu. Namun Yunho adalah pemain seks yang hebat, ia terus merangsang Jaejoong yang tak berdaya, ia mulai menyusupkan tangannya ke dalam celana Jaejoong, mencari batang keras tanpa alas itu untuk di main-mainkan.
Jaejoong menutup mata sangat erat, ia sudah mencapai limit, Yunho tak bisa dianggap remeh, apalagi begitu tangan kasar itu tampak dengan halus mengocok miliknya, membuatnya menggelinjang saking enaknya. Lidah Yunho yang masih bermain di rongga mulutnya semakin membuat persediaan oksigennya menipis, ditambah permainan bawah Yunho yang membuat detak jantungnya bekerja lebih cepat dari seharusnya, dan Jaejoong hampir mati, jika itu yang bisa ia gambarkan, jika ia tidak menguatkan diri untuk mendorong tubuh Yunho.
Yunho terdorong beberapa centi dari tubuh Jaejoong, ciuman mereka terlepas, kocokan di bawah sempat terhenti namun Yunho tetap meneruskannya, dengan posisi berhadapan sangat dekat seperti ini, Yunho begitu senang melihat raut wajah penuh nafsu Jaejoong.
"Ah, Yunho, hentikan...ah ah, aku tidak kuat Yunh,"Jaejoong mendesah pelan, meski ia ingin Yunho berhenti namun tangannya bukannya menghentikan permainan Yunho, Jaejoong malah menggantungkan tubuhnya yang lemas di pundak Yunho.
"Kau menyukai kan?"Yunho tersenyum puas, Jaejoong tak menjawab, hanya terdengar desahan pelan yang berusaha ia tahan dari mulutnya, namun permainan Yunho tak berhenti disitu saja, saat ia merasakan kejantanan Jaejoong semakin berkedut, dan reaksi Jaejoong yang mulai menggila, Yunho kemudian mengambil cock ring dari sakunya, ia membuka celana dan celana dalam Jaejoong membuatnya setangah bugil.
"Ah, Yunh, ah aku... ah, kumohon biarkan aku keluar,"Jaejoong yang lemas, begitu panik melihat Yunho kini sedang memasangkan cock ring pada kejantanannya
"Nikmati orgasme mu, Jaejoong Kim," Bisik Yunho tampak puas, ia masih merangsang Jaejoong mengangkat kemeja Jaejong dan mengelus lembut kedua puting susu Jaejoong dan mulai menjilati dan mengulum salah satu nipple itu.
"Junghh...ah kumohon biarkan aku keluar,"Pohon Jaejoong penuh nafsu,
"Aku akan membantumu, tapi dengan satu cara,"Ujar Yunho memberi tawaran, Jaejoong takut sekali dengan tawaran itu.
"Apa yang ingin kau lakukan?"tanya Jaejoong
"Hanya ingin memanjakanmu, aku ingin hole ini,..."Yunho meraih belahan butt Jaejoong membukanya dan jari tengahnya menyusup kedalam hole sempit yang berkedut itu, Jaejoong mendadak panik ia bahkan membenturkan tubuhnya sendiri pada dinding saking kagetnya.
"Tidak!"jawabnya tegas
"Kalau begitu kau akan kusiksa sampai cairanmu kering,"
"Yunho... ahhhhh"Jaejoong hendak menolak lagi, namun jari Yunho langsung menerobos hole sempitnya membuatnya merasakan perih.
"Ah, Yunho ah.. ah... jangan"Jaejoong berteriak ketakutan
"Hei hei, tenanglah, aku akan melakukannya dengan lembut kalau kau mau bekerja sama," Bujuk Yunho
"Itu menyakitkan Yun, sungguh, aku tidak kuat, aku akan berteriak kencang dan suaraku bisa saja terdengar oleh mereka yang ada di luar,"Kilah Jaejoong
"Jangan pikirkan orang lain, pikirkan tentang kenikmatanmu saja,"Yunho menarik Jaejoong kedalam pelukannya, kemudian kembali menciumannya membabi buta, entah sudah terlanjur terangsang atau bagaimana kini Jaejoong membalas ciuman itu, sama bernafsunya sama bergairahnya, dan Yunho semakin puas. Selesai bermain di rongga hangat itu, ia kemudian bermain di kedua nipple Jaejoong, membelainya lembut, menggigitnya, menciumnya, menghisapnya, mengulumnya, dan Jaejoong di buat tak berkutik olehnya.
"Ah, Yunh, ah , ah ah, "Jaejoong mendesah keenakan, sudah lupa dengan prinsip kalau dia bukan GAY. Ciuman Yunho berpindah semakin kebawah, Jaejoong tanpa sadar semakin menikmati permainan yang seharusnya ingin ia hindari ini, merasa kepalang tanggung mungkin, Jaejoong akhirnya memilih untuk menikmati ini sampai akhir. Yunho menggerayangi semua tubuh Jaejoong dengan tangan dan lidahnya, kemeja Jaejoong sudah dilepasnya semua kancingnya meski kemeja itu masih tetap terpasang.
"Yunh, oh, ah, Yunh,,,noh..."Desah Jaejoong semakin menggila, Yunho kini sedang berjongkok di bawahnya, melepas cock ring di kejantanannya, dan Jaejoong hampir bisa dikatakan bernafas lega, ia meraih apapun untuk tetap bisa berdiri mempertahankan keseimbangannya, dan Yunho mulai menciumi kejantanannya, Jaejoong mendesah pelan, kejantanan itu terus di elus dan di kocok sebentar sebelum ia memasukkannya kedalam mulutnya.
"Oooh, aah, aah,... Ahhh,"Jaejoong mendesah kian keras, Yunho terus meng-in-out kan kejantanan Jaejoong dalam mulutnya, menggunakan lidahnya untuk menggelitik ujungnya, menggunakan tangannya untuk meremas dua bola di pangkalnya, dan Jaejoong sudah benar-benar tak ingin ini berhenti begitu saja.
"Yunho, oh, ah, yunh, ini... cepatthh... Yunh lebih cepat, ohhh,"Sambil menahan nafsu suara mendesah itu memerintah Yunho untuk mempercepat blow jobnya, Yunho di bawah sana tersenyum semakin puas, permainannya memang tak pernah mengecewakan siapapun.
Yunho mempercepat blow jobnya, menghisap kejantannya, menggelitik ujungnya dengan lidahnya, meremas pangkalnya, dan suara kecipak akibat gesekan mulut Yunho yang dipenuhi saliva dengan cairan cum Jaejoong yang hendak mencapai puncak, membuat semuanya semakin panas.
"Yunh...aku... aku...oh aku keluar,"dan Jaejoong mencengkeram rambut Yunho kuat, menutup mata kuat, dan desahannya membuat sekujur tubuh Yunho bereaksi hebat,
"Ini gila, tubuhnya, suaranya, cairannnya,...aku tidak bisa berhenti, dia bahaya sekali,"batin Yunho berbarengan dengan cairan Jaejoong yang menyemprot keluar memenuhi rongga mulutnya dan tanpa bergernyit kejijikan Yunho menghisap habis cairan itu, bahkan rela menjilati semua bagian tubuh Jaejoong yang terkena cairan itu. Jaejoong ambruk seketika, jika saja Yunho tak segera menahannya mungkin ia sudah terjerembab ke lantai toilet.
"Sudah lemas hmm?"Yunho membawa Jaejoong ke pangkuannya, memeluknya dari belakang, dan mereka sama-sama duduk di atas kloset, nafas Jaejoong terengah ia hanya sedang mencoba mengumpulkan tenaganya kembali.
"Ini belum seberapa Kim,"Bisik Yunho lagi
"Aku lelah Jung,"
"Tapi aku belum selesai,"Dan permainan di mulai lagi, Yunho menuntun Jaejoong menungging, tanpa banyak perlawanan Jaejoong hanya mengikut, sungguh ia sudah tak punya tenaga lagi untuk melawan, Jaejoong menungging ia menopang tubuh lemasnya pada kloset, sementara Yunho berada di belakangnya, membuka lebar belahan buttnya, dan mata Yunho seakan berbinar melihat hole pink milik pria cantik itu.
"Pria yang aneh, setelah sejauh ini, aku tak melihat satupun dari bagian tubuhmu yang tak indah,"Ujar Yunho sambil tersenyum sinis
"Jangan banyak bicara, dan jangan memperhatikan bagian sensitifku seperti itu, cepat akhiri ini, aku lelah,"Marah Jaejoong sambil menoleh ke belakang. Yunho tersenyum penuh arti, kemudian menggunakan jemarinya mengelus lembut hole indah itu
"Ah... Yunh..jangan menggodaku terus,"Kesal Jaejoong
"Baiklah, kau yang meminta ya,"Dan Yunho meraih kembali kejantannan Jaejoong, mengocoknya pelan, memberikan kenikmatan lain untuk mengalihkan rasa sakit yang sebentar lagi akan diberikannya. Perlahan Yunho menuntun kejantanannya yang sudah tegak sempurna sejak tadi, membawanya mendekati hole pink itu, memainkannya sebentar dengan menggesek-gesekkannya pada hole itu.
"Ah.."Jaejoong mendesah pelan. Yunho mulai mendorong masuk kejantanannya pelan namun menyakitkan, Jaejoong tersentak kaget.
"Aaah.. sakit sekali Jung, aah,"Teriak Jaejoong histeris, Yunho berhenti sebentar kemudian menunduk untuk mengecup pelan bibir cherry yang berteriak itu.
"Jangan tegang, ini akan enak nantinya,"Bisik Yunho pelan, kemudian kembali mendorong kejantanannya, dan Jaejoong kembali berteriak
"Ahhh, sakit sekali, sudah hentikan, aku tidak kuat,"Marah Jaejoong namun Yunho tak mempedulikan, ia masih mendorong kejantannyannya sampai separoh jalan.
"Yunhoooo, aaaah, kau menyakitiku.."Jaejoong tampak begitu panik, kesal dengan kepanikan Jaejoong, Yunho tanpa menunggu atau memberi kode apapun dengan cepat dan keras, mendorong paksa kejantanannya
"Aaaaaahhhh..."Jaejoong berteriak tertahan sampai membuat wajahnya memerah, kejantanan Yunho sudah masuk sempurna, namun Yunho masih tak berani bergerak.
"Tenanglah, bagian yang menyakitkan sudah selesai, sekarang kau akan kumanjakan, dengan cara yang lebih nikmat,"Ucap Yunho kembali meraup bibir cherry Jaejoong, mengelus lembut nipple Jaejoong, memainkannya sebentar, dan mengocok kejantanan Jaejoong sebentar, kemudian mempersiapkan Jaejoong untuk lebih kuat menopang tubuhnya, Yunho merangkul pinggang Jaejoong yang menungging, dan ia mulai bergerak.
"Ah... pelan-pelan Yunh..."Yunho bergerak pelan
"Ah... ah,...Ah..."Gerakan itu berjalan sesuai alur, sakit namun nikmat, Jaejoong menutup matanya erat dan mulai merasakan kenikmatan dibalik rasa sakit itu.
"Ah... Yunh... ah..." Jaejoong mendesah, dan Yunho menggunakan tangan satunya untuk memainkan nipple Jaejoong memelintirnya, mengelusnya, dan menarik-narik lembut nipple itu, membuat Jaejoong semakin menggelinjang keenakan.
"Ah, ah, ah, ah, aaaah..."Jaejoong terus mendesah, Yunho masih menggenjotnya di belakang sana, Yunho memainkan nipplenya, mengocok kejantanannya, meremas pantatnya, menggigit punggungnya, memberi kissmark dilehernya, mencium habis bibirnya, permainan itu lama dan menggairahkan.
"aaah, ahhh,"Hentakan Yunho kian kuat, kini ia mempercepat pergerakannya, ia bahkan menghentikan semua rangsangannya di titik sensitif lainnya, kemudian, menarik kedua tangan Jaejoong kebelakang, seperti sedang menunggang, Yunho benar-benar memang sedang menunggang Jaejoong di bawahnya, Jaejoong sudah tak menempel pada kloset ia menggantungkan tubuhnya pada kedua lengannya yang ditarik Yunho, kemejanya berkibar kesana kemari, terbuka, namun belum terlepas dari tubuhnya, Jaejoong seperempat bugil dengan keringat yang menetes di kulit putih dan mulusnya, rambut almondnya yang berkibar lembut, apalagi yang tak lebih menggairahkan dari itu. Jaejoong jauh lebih menggoda dari gadis manapun.
"Ahh... ahhh,... ahhhh..." Desah Jaejoong sudah hampir seperti berteriak
"Kau enak sekali, ahhh, ini nikmat Kim, ah, ah,"Yunho juga mendesah kenikmatan, wajahnya memerah menahan gejolak yang begitu besar
"Ini gila, kau enak sekali... oh,,,, oh, sempit... aah,"Desah Yunho masih terus menggenjot Jaejoong cepat,
"Aaaah, aku mau sampai Yunhhh... ahh,"Ungkap Jaejoong, dan seketika Yunho semakin mempercepat tunggangannya
"Aku jugaaa... aaaah..."Dan hentakan terakhir yang kuat dan cepat, bersamaan dengan orgasme mereka, orgasme terhebat yang pernah mereka rasakan, cairan itu membajiri kedua tubuh mereka.
"Aku lelah,"Ujar Jaejoong dan lagi-lagi Yunho menahan tubuhnya untuk tidak langsung ambruk ke lantai, Yunho memeluk Jaejoong duduk bersandar pada dinding toilet. Ia sangat lelah, tubuhnya terasa begitu sakit, dan dia bahkan tanpa sadar tertidur dengan sendirinya.
OoooO
Jaejoong sudah sadar sejak tadi, hanya saja ia mencoba ingin menenangkan dirinya, tempat ini, ia sudah tahu ia ada dimana, di sudut sana Eugene, dokter cantik itu sedang duduk menekuni buku kedokterannya, Jaejoong hanya melirik sekilas, sangat malas untuk menyapa, karena saat ini ia terbaring lemas bagai korban pemerkosaan di ruang kesehatan itu.
"Aku membiarkannya merasukiku, apa yang sudah kulakukan,"Jaejoong terus merutuki kebodohannya
"Aku bukan yeoja,"dan Jaejoong menekuri langit-langit kamar itu. pelan ia mencoba menggerakkan tubuhnya,
"Aah,"Ia meringis pelan, tatkala pergerakannya membuat bagian bawahnya semakin sakit, Eugene yang mendengar pun segera menghampiri
"Kim Jaejoong-shii kau sudah sadar?'Tanya Eugene cemas
"Aku mau pulang dokter,"Ujar Jaejoong sambil berusaha menahan sakit di bagian bawahnya dan bangkit dari tempat tidur.
"Kau yakin tidak apa-apa? Apa kau mau aku mengantarmu?"Dokter cantik itu menawarkan bantuan, tapi dengan cepat Jaejoong menggeleng
"Tidak! Aku akan pulang sendiri,"Dan Jaejoong mengacuhkan semua rasa sakit itu, mengacuhkan teriakan Eugene, dan ia terus melangkah keluar.
OoooO
Jaejoong berdiri cukup lama di depan sebuah bangunan bercat hampir pudar yang berada di depannya, pagarnya terkunci, ini asramanya, dan tiba-tiba ia teringat kenangan masa kecilnya. Masa kecil dengan kedua orang tua kandung yang lengkap, masa kecil tanpa ibu tiri, masa kecil dengan ibu yang paling sempurna.
Ini hal paling menakutkan dalam hidupnya, berdiri sendiri, hidup sendiri, ingin berlari kemanapun rasa sakitnya tetap sama.
"Aku harus kuat," Batinnya memaksakan diri
Bosan dengan pemandangan itu, Jaejoong membuka kunci pagar dan masuk ke asramanya. Asrama? Sekolah? Kini ia sudah di kelas dua dan sejauh yang ia sadar, tempat terbaik yang seharusnya ia punya untuk melarikan diri kini sudah menjadi neraka, semua itu karena Jung Yunho. Jung Yunho memperkosanya, mereka namja, dan kenapa harus dirinya? Tidak cukupkah mengklaimnya dan membatasi pergerakannya dan kini merenggut harga dirinya...
OoooO
Terseok-seok Jaejoong pulang keasramanya, sekolah khusus pria di sekolah mewahnya. Tubuhnya panas dingin, sepertinya ia akan demam, bagian bawahnya sudah tak terlalu sakit lagi, namun juga tak bisa dibilang sudah baik-baik saja.
"Aku hampir sudah tak punya muka untuk bertemu semua orang disekolah ini, apa aku harus berhenti sekolah saja" Gumam Jaejoong lemah, ia hendak menangis namun tak ada air mata yang keluar, teman sekamarnya Yamapi adalah orang jepang yang lahir dan menetap lama di Korea nama lengkapnya Tomohisa Yamashita, tapi semua orang memanggilnya Yamapi, sangat dingin, bukan tempat curhat yang baik, mungkin ia tak begitu peduli dengan kegundahan Jaejoong yang bahkan belum genap setengah tahun menjadi teman sekamarnya.
"Kau akan berhenti sekolah?" Diluar dugaan Yamapi akhirnya mengeluarkan suaranya yang terlalu jarang untuk didengar, Jaejoong sampai menoleh cepat saking kagetnya, lama mereka terdiam bersama, Jaejoong dilanda kebingungan harus menjawab apa.
"Kita mungkin tak pernah bicara, tapi aku peduli denganmu," jelas Yamapi kalem, Jaejoong tercengang, ia membuka menutup mata bulatnya dengan sangat perlahan
"Emm itu... aku hanya sedang memikirkan itu," Jawab Jaejoong gugup
"Heh, sayang sekali, aku lumayan menyukaimu," Ujar Yamapi setelah menarik nafas panjang, ia kemudian membalik tubuhnya yang membelakangi Jaejoong, dan kini mereka saling menatap
"Menyukaiku...?" Jaejoong tak mengerti
"Kau satu-satunya teman sekamar yang paling tidak berisik yang pernah aku punya,"Jelas Yamapi kini berjalan ke tempat tidurnya, dan merebahkan badannya, lantas ia menutup matanya, dan mereka kembali hening.
"Kekasihmu Yunho adalah orang penting disini, Hah kau dalam masalah besar," Ucap Yamapi kemudian, setelah cukup lama terdiam, mendengar penuturan terakhir itu, Jaejong hampir tersedak saking kagetnya.
"Kau bicara apa!?" Jaejoong lantas menatap tajam Yamapi, Yamapi membalik tubuhnya kembali membelakangi Jaejoong
"Suara desahanmu di toilet tadi, sampai sekarang...membuatku merinding," Gumam Yamapi pelan, Jaejoong kembali tersedak, kini matanya membelalak sempurna, wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Mwo!" Pekiknya demikian keras...
OoooO
Changmin berdiri di depan kelasnya dengan tatapan datar, bukan hari yang menyenangkan untuknya, tentu saja, tidak pernah ada hari yang menyenangkan untuknya selama berada di sekolah.
"Hah," desahnya parau,
"Yo Changmin," Seseorang menyapanya, Changmin menoleh dan mendapati namja berjidat lebar itu sedang tersenyum demikian lebar padanya
" Hyung ada apa? Kenapa kau begitu bahagia?" tanyanya, Youchun masih tersenyum
"Eh apa kau tahu, Hyungmu Yunho sedang kencan dengan Jaejoong?" Ia merangkul Changmin dengan akrab
"lalu?"Changmin bertanya, Youchun mengepalkan tinjunya ke bahu Changmin, dan tertawa demikian keras
"Pacarku Junsu, adalah teman baiknya,"Jawabnya semangat, Changmin memincingkan matanya malas, berpikir apa gunanya hal itu diberitahukan padanya
"Tidak penting sekali Hyung,"Cetusnya dan melengos pergi, Youchun termangu dan sadar tidakkah ia sangat bodoh saat itu.
Sementara itu di koridor lainnya Siwon, dengan tegaknya berjalan diapit oleh Kibum yang merong-rongnya dengan berbagai pertanyaan, dan sebagian besar berasal dari Jaejoong. Sejak hari dimana Siwon mengajak Jaejoong ke kelas bangsawan, Kibum sudah mencium gelagat tak enak dari Siwon, tentu saja tudingan itu berarah ke kesimpulan bahwa Siwon menyukai Jaejoong, Siwon bungkan seribu bahasa, tak ada gunanya juga ia menjawab, toh Kibum juga tak kan mempercayai satupun jawabannya
"Dan aku yakin sekali, kau menyukai namja itu kan,"ujar Kibum, masih sambil mengiringi Siwon hingga kedepan ruangan OSIS
"Bicara saja sesukamu,"Akhirnya Siwon menjawab juga, wajah Kibum merah padam
"kenapa kau menyukainya?" Kibum menarik seragam Siwon, "Kenapa?
Siwon menarik nafas berat, dan menatap Kibum dalam-dalam
"Kalaupun aku mengatakan menyukainya," Ia menarik nafas lagi "Apa akan mengubah keadaan yang ada?"
Mata Kibum berkaca-kaca
"Jadi benar kau menyukainya," Suaranya bergetar, Siwon mengangguk pelan. Kibum menggigit bibir dalamnya keras-keras hampir berdarah, Siwon masuk ke ruang OSIS setelah menepuk-nepuk kepala namja berwajah dingin itu dengan lembut, tak mengetahui betapa sakitnya hati Kibum saat itu, tak mengetahui ada butiran air mata yang tertatahan untuk menentes di sudut mata Kibum.
"Apa benar, kau tidak akan melirikku,"batinnya kecewa, ia mundur dan melangkah pergi, meski hatinya sakit sekali. Kibum berlari sekencang mungkin, berharap ia bisa terjatuh dan merasakan sakit di bagian lain dari tubuhnya agar sakit di hatinya tak terasa, dan Jaejoong hampir tertabarak tiang penyangga papan pengumuman ketika seseorang berlari dengan membabi buta dan hampir manabraknya, meski tak bisa melihat dengan jelas namun ia yakin sekali, orang itu adalah Kibum, teman Siwon. Setelah menarik nafas berkali-kali ia kembali melanjutkan perjalanannya,d an membelok di koridor lainnya yang kini mengarah ke kelas tiga, ada urusan tidak penting yang membawanya ke kelas tiga, dan sebelum sempat memikirkan kemana selanjutnya ia harus menuju, langkahnya terhenti, di ujung sana, Yunho bersama Boa (setidaknya ia mengingat gadis berwajah sendu itu) sedang berjalan beriringan. Jaejoong hampir mati ketakutan, tubuhnya mendadak kaku.
"Jaejoong..." tiba-tiba suara cempreng Junsu mengagetkannya, mungkin tidak banyak yang menyadari, tapi Junsu suka sekali berteriak
"Junsu," Jaejoong menyahut, "Ada apa?" tanyanya kemudian, lupa bahwa dua orang di seberang sana sudah menyadari keberadaannya, dan Yunho kelihatan sekali memperhatikannya.
"Ah tidak, aku hanya ingin memanggilmu saja,"Jawab Junsu, sambil melancarkan peredaran nafasnya yang menipis
"Yunho-ya, kita belum selesai bicara,"Ucap Boa, saat melihat Yunho sekarang memperhatikan Jaejoong
"Tidak bisakah akhiri semua ini Boa,"Tutur Yunho tanpa menoleh "Aku sudah lelah,"
Boa hampir menangis saat berkata "Kau memilih seseorang yang bahkan tidak akan pernah bisa kau nikahi,"
"Siapa bilang," sahut Yunho jemu , ia hendak menyahut lagi, tapi Boa sudah berjalan cepat mendahuluinya, Yunho refleks ingin mencegah, tapi bukankah sedari tadi ia justru berharap bisa segera melepaskan diri dari Boa. Tapi Boa memang tak bisa dibiarkan begitu saja, ia berjalan cepat, di depan Yunho dan menuju Jaejoong.
"Hei Boa sepertinya menuju kemari,"Ucap Junsu memperhatikan, Jaejoong ikut menoleh, dan
Plaak! Sebelum semua mendadak hening, Jaejoong bisa merasakan panas di pipinya, dan Junsu hampir mengamuk saat itu
"Sadar diri Kim," Pekik Boa sambil menangis, Junsu berhenti dari amukannya yang hampir meledak, tiba-tiba ia merasa iba, dan Jaejoong meraba pipinya yang memerah, semantara Yunho berlari ke arah mereka
"Boa,"Yunho menarik tangan Boa, melirik Jaejoong sekilas, dan terlihat cemas
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya perhatian, ia meraba pipi Jaejoong yang memerah, Jaejoong menatapnya sendu, dan Yunho tak suka tatapan itu. Semantara emosi Boa kian terpancing, wajahnya merah padam, seakan semua pasokan darahnya berkumpul di kepala
"Kalian menjijikkan,"Geramnya, menarik kerah baju Yunho kebelakang
"Boa kumohon," Ucap Yunho, "Aku mencintai namja ini,"
Air mata Boa mengalir deras tak terbendung, ia menjerit-jerit, memaki-maki, memukul-mukul tubuh Yunho dengan membabi buta.
"Kau akan menyesalinya Kim Jaejoong, kau akan menyesalinya,"Desisnya geram sekali, Yunho menariknya menjauh, Jaejoong menatap Boa dengan tajam, tapi ia tak melawan, bagaimana mungkin ia melawan, bagaimanapun juga Boa adalah wanita, tidak etis sekali namja melawan yeoja. Yunho masih meliriknya ketika mereka semakin menjauh.
"Jaejoongie, kau tidak apa-apa?" Dengan iba Junsu memastikan keadaan Jaejoong, tapi Jaejoong tak menjawab.
OoooO
Jaejoong duduk di bangkunya, di deretan paling belakang di samping jendela, sudah kebiasaan jika namja berparas cantik ini suka menikmati pemandangan di luar jendela, meski tatapannya ke luar, tapi hatinya tidak, bagaimana bisa ia memikirkan hal lain, sementara hal yang penting disini sedang terjadi. Tak mungkin ia begitu saja melupakan tamparan keras Boa yang masih membekas di pipinya, dan tak mungkin ia melupakan ungkapan Yunho yang mengatakan mencintainya, lebih tak mungkin lagi ia melupakan kejadian kemarin. Lama sekali ia berharap bisa mengatakan hal itu pada seorang yeoja, tapi sekarang ia justru mendapat ungkapan seperti itu dari seorang namja. Bisakah ia bahagia sekarang?
Jaejoong beberapa kali menghembuskan nafas berat, dan terlihat mengeluh dalam diam, hingga tak menyadari kedatangan Yunho disampingnya.
"Kau tidak apa-apa?" bisiknya tepat di telinga Jaejoong, merasa geli dan kaget, Jaejoong otomatis menjauh, dan tubuhnya terbentur dinding
"Ya!" Pekiknya, "Kau mengagetkan ku saja,"
"Hah syukurlah, kau baik-baik saja ternyata," Ucap Yunho lega, kemudian mengulurkan tangannya menyentuh pipi Jaejoong yang masih merah
"Apa masih sakit?" Tanyanya lembut, Jaejoong terdiam, terpesona...
"Jangan menyentuhku sembarangan," katanya gugup, menepis tangan Yunho
Yunho cuek saja, ia kembali meletakkan tangannya di pipi Jaejoong,
"Jangan menyentuhku ku bilang,..." Jaejoong kembali menepis tangan Yunho, tapi tangan itu tak bergerak, dan tubuh Yunho mendekat, mengecup pelan pipi merah itu, Jaejoong terpaku, jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat, jika bisa dibuat hiperbola, pipi merah itu tertutup sudah dengan wajahnya yang ikut memerah dengan cepat.
"Maafkan, aku, tidak sempat menahannya,"
"Lupakan, tamparan ini tak jauh lebih sakit dari..."
"Maafkan aku, dan kau masih marah tentang kemarin..."
"Jangan dibahas,"Potong Jaejoong cepat
"Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku?" Ujar Yunho, Jaejoong masih terdiam
"Gadis itu lebih kasihan," Jaejoong bicara dengan suara bergetar "Kau hibur saja dia,"
"Tidak mungkin," Yunho tertawa tipis "Hubunganku dengan wanita ada dua, kalau tidak suka, itu artinya benci,"
"Kau membenci gadis itu?" tanya Jaejoong cepat,
"Aku tidak punya hubungan dengannya, dan aku tidak perlu membencinya,"
"Dia terlihat begitu mencintaimu,"
"Dan aku juga mencintaimu,"
"Kau egois sekali Yun, bagaimana bisa aku membalas perasaan orang sepertimu,"
"Jika alasan seperti itu bisa membuatmu menolakku, maka alasan seperti itu juga yang akan aku gunakan untuk meluluhkanmu, kau lihat Kim, aku menjadi orang yang sangat egois hanya untuk mendapatkanmu," Yunho menatap Jaejoong lurus-lurus
"Kau menyalahkanku untuk semua kekacauan ini? kau berpikir aku yang mengubahmu menjadi egois?"
"Aku berpikir, kau membuatku menjadi orang gila,"
"Kau memang sudah gila Jung..." Sengit Jaejoong, mereka saling menatap cukup lama
"Ya Jung Yunho..." teriak Heechu memecah keheningan, wanita tercantik seantero sekolah ini, berdiri gagah dengan tangan dipinggang, alisnya menurun lurus menandakan betapa marahnya ia saat ini. Yunho menoleh, menatapnya dengan santai.
"Sudah kuduga kau ada disini," Katanya gusar, mendekat dengan langkah dihentakkan kuat, semua orang disekitarnya menyingkir memberi jarak.
"Ada apa?" tanya Yunho malas
"Kau memberi tahu umma kan,"pekiknya nyaring, kini ia sudah berada di depan Yunho, Jaejoong wajahnya sepucat tembok, menunduk dan gugup.
"Memberitahu apa?" tanya Yunho tak mengerti, Heechul menarik nafas dalam, kemudian kembali berteriak
"Hangeng ge-ge dan aku akan ke Cina,"
"Aku tidak memberitahu umma, umma bertanya denganku dan menjebakku, aku hanya mengatakan iya dan tidak, dan tak sadar bahwa ada satu pertanyaan yang mengarah kesitu, kau kan tahu umma sama liciknya denganmu," Dalih Yunho bijaksana, wajah Heechul berkerut saking marahnya, ia kemudian beralih menatap Jaejoong, dan tersenyum penuh arti.
"Baiklah tidak masalah," Katanya tersenyum, Yunho mengerutkan dahi bingung "Kali ini kau kumaafkan, tapi dengan satu syarat,"
Yunho tak merasa enak dengan syarat ini "Aku tidak salah kan, untuk apa aku menebus kesalahanku," protesnya, tapi Heechul masih keukeuh
"Kau salah Jung Yunho, dan kau harus menuruti apapun yang aku katakan," Titahnya
"Lalu kau mau aku melakukan apa?" tanya Yunho malas
"Bukan kau," Heechul lagi-lagi tersenyum penuh arti , kemudian menunjuk Jaejoong "Tapi kekasihmu,"
"Mwo!" Yunho dan Jaejoong berteriak bersamaan
"Kau mau melakukan apa?" tanya Yunho panik, dari tingkahnya Jaejoong juga sama paniknya
"Wah wah wah kau khawatir sekali dengannya, tidak buruk kok, aku hanya ingin..." Yunho dan Jaejoong menunggu dengan cemas
"Meminjam wajah cantiknya untuk model festival cosmetic,"
"Mwo!"
OoooO
Selamat natal dan tahun baru teman-teman sekalian
Updatenya memang sangat lama, sungguh, dan akhirnya saya mengubah ratenya menjadi M, dan langsung memberikan NC. Jaejoong, cosmetic dan Heechul, kira-kira apa yang akan terjadi?
