Rated: T
Disclaimer: These chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is officially mine
Warning: Bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing, dsb
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risk(:
Couple words from author:
Hai minna! Hehe, saya kembali lagi nih dengan chappy yang baru. haduh sekarang kayaknya susah banget ya bikin fic yang pairingnya CRACK, meskipun udah jelas-jelas di warning in, apa musti di tulis di sinopsisnya juga ya ckck -_- haha yaudahlah yaa bodo amat aku ga terlalu mikirin flame yang mengatas namakan pairing. aku hanya terima flame yang mengkritik gaya penulisanku, penggunaan ejaan sama kata sambutan kalo soal pairing aku gaterlalu masalahin lah ya setiap orang punya opini tinggal masing-masing individunya aja yang harus cerdas dalam mengeluarkan opini mereka hehehe (kenapa lo curhat thor?) wkwkwk-_- okee langsung saja ya bales review:
Fumiyo Nakayama.71: iyaa Tenten kalo ngamuk kan lost control #plak! waduh untung di fic ini gaada Neji ._. bisa terjadi pertengkaran antara kubu kutub selatan dan kubu kutup utara ._. wkwkwk
MORPH: iya ini udah aku apdet chappy terbarunya, silahkan dibaca :)
Oke segitu aja, langsung aja deh sekarang kita ke ceritanya!
Chapter 4
Dengan hati-hati Tenten meletakan dua mangkuk berwarna putih berisi glatin diatas meja makan yang terbuat dari kayu jati.
"Apa yang kau buat?" Tanya Sasuke begitu gadis berambut gelap itu menyodorkan sebuah mangkuk kearahnya.
"Sup Glatin, aku tidak bisa menemukan apapun di dapurmu kecuali tomat." Ujar Tenten sambil duduk disebrang Sasuke. Laki-laki itu tidak menggubris jawaban Tenten dan langsung memakan glatin yang sudah dibuat oleh Tenten. Baru saja memasukan satu suap sup glatin kedalam mulutnya, Sasuke langsung terbatuk keras. Tenten yang bersiap menyantap masakannya jadi sedikit panic karena secara tiba-tiba saja Sasuke terbatuk-batuk.
"Sasuke? Kau kenapa?" Sasuke masih terbatuk-batuk selama beberapa detik sebelum akhirnya laki-laki itu berdeham beberapa kali. Sementara Tenten hanya bisa memperhatikan laki-laki dihadapannya. Wajah Sasuke yang memerah entah mengapa terlihat lucu dimata Tenten, ia tidak pernah membayangkan wajah Sasuke seperti ini.
"Ada apa denganmu, Sasuke? Apa ada lalat yang masuk kedalam mulutmu?" Sasuke langsung melempar tatapan tajam kearah malaikat maut yang duduk dihadapannya. "Kau… kau memang mencoba membunuhku."
"Apa? Membunuhmu?"
"Masakanmu… bahkan masakanku pun lebih enak dibanding ini." Ujar Sasuke yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Apa kau bilang?! Apa yang salah dengan glatinku?" Tanya Tenten dengan suara yang mulai meninggi. "Kenapa tidak kau coba saja sendiri, baka!" Seru Sasuke. Tanpa menggubris ucapan Sasuke, Tenten segera meraih sebuah sendok sup berwarna biru dan menyendok glatinnya, mendekatkannya kemulut dan memasukannya. Kesan pertama yang dirasakan oleh Tenten ketika cairan kental hangat itu menyentuh lidahnya adalah, asam. Sangat, sangat asam.
Refleks, Tenten langsung memuntahkan glatin yang bersemayam didalam mulutnya selama hampir dua detik.
"Bahkan kau sendiri pun tidak sanggup memakannya." Gerutu Sasuke begitu melihat Tenten memuntahkan glatinnya. Tenten mengelap mulutnya dengan sehelai tissue makan lalu menatap tajam kearah Sasuke.
"Salahkan isi kulkasmu yang hanya berisi tomat! Aku terpaksa membuat glatin tomat." Mata onyx Sasuke melebar ketika mendengar ucapan Tenten.
"Nani?! Kau menyentuh persediaan tomatku?!" Tanya Sasuke dengan suara yang sangat amat menyeramkan, Itachi sekalipun mungkin agak bergidik kalau mendengarnya secara langsung.
"Aku menggunakan seperempatnya! Karena aku bingung apa yang harus kugunakan untuk membuat makanan."
"Kenapa kau membuat glatin tomat baka! Tentu saja rasanya akan sangat sangat asam kalau glatinnya hanya terdiri dari tomat dan saus tomat!"
"Aku.. aku tidak tahu hasilnya akan separah ini." Ujar Tenten berusaha membela dirinya. Sasuke hanya bisa mendengus kesal, laki-laki berambut emo itu memijit batang hidungnya dengan kedua tangan. Membiarkan gadis ini memasak makan siangnya adalah sebuah kesalahan besar!
'Harusnya aku langsung mengusirnya saja, kalau perlu menelpon polisi.' Batin Sasuke. Sementara Tenten hanya bisa terdiam menatapi Sasuke yang terlihat sangat… frustasi. Tenten merasa sangat bersalah, niatnya hanyalah membantu Sasuke karena ia merasa sangat bersalah. Ia ingin melakukan sesuatu yang berguna. Tapi gagal, ia menghancurkan segalanya.
'Kalau tahu begini, aku lebih memilih pulang. Mungkin jika aku pulang Sasuke tidak akan semarah ini.' Tenten menggigit bibir bawahnya.
"Sasuke?" Yang dipanggil hanya diam. Melihat hal itu, Tenten memutuskan untuk mengutarakan niatnya.
"Ba-bagaimana kalau aku membeli makanan cepat saji untukmu? Kau mau makan apa?" Sasuke masih terdiam. "Soal tomat kesayanganmu… aku akan membelikannya lagi." Lanjut Tenten berusaha membuat Sasuke tidak marah atau setidaknya tidak terlalu marah padanya. Sasuke menghela nafas panjang, seharusnya ia tahu bahwa gadis ini tidak akan menyerah, ia akan terus mendesak Sasuke, membuat laki-laki itu marah.
"Kalau kau memang ingin membeli makanan untukku, lebih baik kau bergegas, ini sudah masuk jam makan siangku, sudah lewat tigapuluh detik malah." Ujar Sasuke dengan suara berat. Perasaan Tenten sedikit lega, gadis itu segera berdiri. "Baiklah, aku akan kembali dalam waktu lima belas menit." Ujar Tenten sebelum akhirnya melesat keluar dari apartemen Sasuke. Sementara itu Sasuke akhirnya menghela nafas lega. Kedamaian kembali dirasakannya ketika Tenten pergi.
"Akhirnya aku bisa kembali tenang."
xXx
Aroma capucinno memenuhi indra penciuman Itachi. Dengan perlahan laki-laki berambut hitam panjang itu mendekatkan mug berwarna crem ke mulutnya dan menyesap capucinnonya. Hah~ tak ada yang lebih nikmat selain menikmati segelas capucinno ditengah cuaca dingin seperti ini. Itachi memejamkan matanya, merasakan syaraf-syaraf otaknya yang mulai mengendur. Presentasinya tadi sepertinya sudah cukup menarik investor untuk menanam invest di café nya. Ditambah lagi dengan keuntungan yang pasti didapat oleh para investor, pasti mereka tak akan ragu menanam invest di café milik Itachi. Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan, namun senyuman itu memudar ketika tanpa kehendaknya sesosok gadis terbesit didalam pikirannya.
'Ah, Tenten. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia berhasil meminta maaf pada Sasuke? Apa ia berhasil mendapat permaafan dari adik kesayangannya yang keras kepala tiada tara?'
Itachi jadi penasaran, karena sejak café dibuka beberapa jam yang lalu karyawannya yang lain belum juga mengabarinya tentang kehadiran Tenten di arena ice rink, biasanya setelah café Itachi dibuka, gadis itu sudah terlihat berlalu lalang di arena ice rink. Yang mengganjal pikiran Itachi adalah keadaan Tenten saat ini. Apa yang sedang dilakukan gadis itu? Dan yang selalu bersemayam diotak Itachi selama beberapa menit belakangan adalah, apa yang adiknya lakukan pada Tenten hingga membuat gadis itu tidak bekerja?
Kalian pasti bingung bukan, kenapa Itachi sepertinya sangat memperhatikan Tenten? Padahal Tenten hanyalah seorang pelatih ice skating yang kebetulan mengajar di ice rink yang terletak disebrang café nya. Pertama kali Itachi melihat sosok gadis itu adalah ketika soft opening café nya diadakan, saat itu Tenten datang bersama salah satu karyawan di café nya, tak banyak yang terjadi, Itachi hanya berkenalan secara formal dengan Tenten, tak ada yang special. Namun hari-hari berlanjut dan Itachi sering melihat sosok gadis itu datang ke café nya ketika ia sedang istirahat, Itachi sendiri lupa bagaimana mereka bisa akrab. Yang membuat Itachi begitu tertarik pada Tenten adalah, ketika gadis itu dengan riangnya mengajar ice skating pada murid-muridnya, tak jarang sulung dari keluarga Uchiha itu memandangi Tenten yang meluncur di atas es dengan santainya.
"Aku pesan satu porsi chiken wings with vegetables dan ayam filet lada hitam." Mata Itachi langsung terbuka ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, tanpa aba-aba mata hitam pekatnya langsung melirik kesumber suara. Benar saja, mata hitamnya menangkap sosok gadis bertubuh mungil, berambut coklat auburn yang digerai panjang sepunggung, mengenakan kaus putih polos dan jeans biru muda. Ya itulah penjabaran dari Uchiha Itachi, setelah yakin benar, Itachi langsung berdiri dan menghampiri gadis yang tengah mengambil pesanannya dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada si penjaga kasir. Dan woops, gadis itu menubruk Itachi ketika hendak berbalik.
"Ah! Maaf-maaf aku tidak sengaja, maaf." Ujar gadis itu, dugaan Itachi sama sekali tidak salah. "Tidak apa-apa, Tenten." Begitu mendengar suara Itachi, Tenten langsung mengangkat wajahnya. Itachi tersenyum geli ketika melihat ekspresi terkejut diwajah Tenten. "Itachi-senpai."
"Kenapa kau bisa berada disini, Tenten?" Tanya Itachi. "Ah.. aku berniat membelikan makan siang untuk Sasuke." Mendengar jawaban Tenten entah mengapa membuat Itachi mengerutkan kedua alisnya.
"Makan siang untuk Sasuke? Sejak kapan kau sepeduli itu pada adikku?"
"Ah… ceritanya panjang, I kinda rush his lunch, something like that.." Ujar Tenten sambil tersenyum kecil. Jawaban yang diberikan Tenten malah membuat Itachi semakin penasaran, intinya jawaban Tenten tidak menjawab pertanyaan Itachi, sebaliknya jawaban Tenten malah memacu Itachi untuk melontarlkan pertanyaan lainnya. "Menghancurkan makan siang Sasuke?" Ucap Itachi sambil mengernitkan hidungnya, membuat kerutan diantara hidungnya terlihat semakin jelas. Gadis dihadapannya mengangguk kecil.
"Sepertinya aku harus segera pergi, aku masih harus membeli tomat kesayangannya, dia bisa marah-marah lagi jika aku terlambat membawakannya makanan plus tomat-tomat itu."
"Apa? Tenten, apa dia memintamu melakukan semua ini? Apa dia menyuruh-nyuruhmu seperti seorang pesuruh?" Tanya Itachi sambil menatap gadis dihadapannya dengan tatapan intens. Itachi masih bisa memaklumi sikap penyuruh dan seenaknya sendiri milik Sasuke yang sering ia tujukan pada dirinya, tapi ia tidak bisa menerima jika adiknya menanamkan sikap itu kepada orang lain, terlebih Tenten. Tunggu dulu! Argh! Lupakan dua kata terakhir.
"Eh tidak, Sasuke tidak menyuruhku. Aku melakukannya atas kemauanku sendiri." Itachi semakin kaget dengan jawaban Tenten, seingatnya Tenten sangat membenci Sasuke kemarin, lalu kenapa sekarang ia bersikap sangat perhatian pada adik kesayangannya itu?
"Apa kau yakin Sasuke tidak mencuci otakmu?" Tenten tertawa renyah. "Tentu saja tidak." Itachi mengangguk-angguk kecil.
"Kalau begitu, sepertinya aku segera pergi.." Itachi tersenyum samara seraya menepuk kepala Tenten.
"Baiklah, hati-hati dijalan, Tenten." Entahlah, tapi Itachi seperti melihat semburat merah menghiasi pipi chubby Tenten. Gadis itu mengangguk kecil seraya melambaikan tangannya dan berseru. "Jaa ne, Itachi-senpai, sekali lagi terimakasih ya." Sebelum akhirnya gadis itu melenggang meninggalkannya. Mata kelam Itachi tak terlepas dari sosok mungil itu sebelum akhirnya sosok itu menghilang ditengah keramaian.
Nah minna-san! gimana sejauh ini alur ceritanya, sudah mulai jelas bukan? hehehe, aku sangat sangat menikmati saat mengetik chap ini, apalagi pas bikin adegan Tenten sama Sasuke berantem ._. karena karakter Sasuke yang menurut aku (maaf ya kalo salah menurut para Sasuke fc ._.) agak sedikit kekanak-kanakan hehe. baiklah segitu aja terakhir reviews pleaseee XD
