Heechul berdiri di samping Jaejoong, dikelilingi oleh model lainnya mereka foto bersama, Jaejoong merasa hanbook longgar ini semakin lama semakin mencekiknya. Berkali-kali ia berusaha melepaskan diri dengan menolak difoto lagi, tapi sebagai model utama tak ada satupun yang ingin kehilangannya, kecuali model lain tentunya, Ara sudah sadar sepenuhnya, meski wajahnya tampak pucat dan tak tersenyum, Boa tercenung setiap saat matanya tanpa sengaja memandang Jaejoong, dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak menatapnya terus, Jessica justru sebaliknya matanya tak bisa lepas dari Jaejoong, dan tiba-tiba ia sensitif sekali ketika ada yang menyebut kata cantik.

"Lihat apa yang kau lakukan sekarang, kau membuat Kim Jaejoong itu menjadi tidak nyaman," Hangeng berada di samping Heechul ketika ia sedang istirahat setelah di foto selama berjam-jam

"Aku membuatnya semakin populer kan," Ujar Heechul tidak acuh, Hangeng menggeleng

"Kau membuatnya tidak nyaman, Heenim-shii," kata Hangeng datar, bahkan merubah nama panggilan kesayangannya

"Gege..." Heechul melotot, ini adalah ultimatum bahwa ia tak suka nada bicara Hangeng barusan. Hangeng mengangkat bahu dengan malas

"Kalau kau menyukainya, cari cara yang lebih nyaman untuknya, bukan untukmu,"

"Aku sudah melakukannya, lihat aku membuat dia dikagumi sampai seperti itu,"

"Terserah kau saja, tapi tak semua orang menyukai popularitas," Nasehat Hangeng bijaksana, ia merangkul Heechul dengan sayang "Aku tahu kau bermaksud baik, tapi lain kali berpikirlah untuk orang lain, sebelum untukmu, arrasou, chullie" Hangeng mencubit hidung mancung Heechul, Heechul mempoutkan bibirnya imut

"Nee, arrasou, tak kan kuulangi," Ucapnya tulus

Sementara itu di sudut sana, Siwon bersama Kibum (yang bersidekap dan melotot), sedari tadi memperhatikan Jaejoong dan berharap bisa bicara dengannya, tak jauh darinya berdiri Yoona, menatap Jaejoong dengan raut wajah yang sulit di tebak.

"Oppa," Yoona berteriak memanggil Jaejoong yang sedang menuju tempat duduk, Jaejoong menoleh, dan malu sekali harus berhadapan dengan yeoja yang mengenalnya dengan tampilan yeoja begini. Ia berharap salah dengar dan sungguh tak ingin sama sekali menemui yeoja manapun, ia berusaha tidak mempedulikan Yoona, tapi Yoona kembali memanggilnya.

"Oppa..." teriaknya lagi, dan ia kini berlari mendekat, Jaejoong hendak berlari, tapi kakinya terbelit hanbook, dan ia hampir terjerembab ke lantai, namun segera di tahan oleh Siwon, adegannya sungguh romantis.

"ah Siwon-shii," Jaejoong tertunduk malu, Yoona berhenti berlari, dan kini berjalan perlahan menghampiri Jaejoong

"Oppa, kau tidak apa-apa? Tanya yoona cemas

"Ah aku sedang tidak enak badan," katanya panik, ia berkata sambil menuduk dan buru-buru meninggalkan tempat itu, bahkan ketika Siwon dan Yoona sama-sama berharap bisa bicara dengannya.

"Kau ingin bicara dengannya juga?" tany a Siwon pada Yoona, Yoona mengangguk pelan, Siwon tersenyum penuh arti, kemudian berkata

"Well, dia sepertinya tidak begitu menyukai kita, dan kurasa akan semakin sulit menemuinya mulai sekarang,"

Yoona hendak menyahut tapi tak ada satupun yang ingin ia katakan, hingga ia memilih untuk terdiam saja.

OoooO

Jaejoong berlari hampir tak menoleh, kepalanya tertunduk dan terus menerus menekuri lantai di pijakannya, beberapa orang di depannya segera menyingkir memberinya jalan, dan beberada di sekitarnya masih menunjuk-nunjuk kearahnya, menggumamkan sesuatu bernada kekaguman.

Belum sempat ia membelok, kini tubuhnya menabrak sesuatu yang tegap, ia oleng tentu saja, terinjak hanbooknya sendiri dan berakhir dengan bokong menyentuh lantai duluan. Sambil meringis dan tertatih-tatih Jaejoong berusaha bangun. Ia hendak meneruskan kembali perjalanannya namun pemandangan itu tampak olehnya...

"Yunho..." batinnya, di ujung koridor sepi di tempat dimana Jaejoong bisa melihatnya jelas, seorang namja dan yeoja sedang bercumbu, saling memangut, keduanya berciuman panas, dan Jaejoong bisa melihat tangan Yunho menyelinap diantara belahan dada baju yang dikenakan gadis itu. Gadis itu mengangkat wajahnya penuh nafsu, ketika Yunho mulai mencumbu lehernya, dan seketika itu Jaejoog melihat wajah si gadis dengan jelas, Jessica, sudah berganti costum dengan seragam sekolah dan sekarang menikmati cumbuan Yunho padanya, tidakkah itu menyebalkan.

"Yunho..." Geram Jaejoong, seakan semua darah dalam tubuhnya terpompa menuju wajahnya dan sekarang wajahnya merah padam, matanya berkilat bahaya. Tanpa segan, tanpa berpikir panjang, dan tanpa bertanya-tanya, Jaejoong langsung menghampiri keduanya. Ia berjalan menghentak-hentak, Jessica menyadari keributan itu, dan ngeri melihat Jaejoong meluncur cepat ke arah mereka.

"Kenapa?" tanya Yunho saat Jessica menutupi tubuhnya, Yunho menoleh mengikuti arah pandang Jessica dan...

Plaaaaak! Tamparan keras mendarat di pipinya, Yunho tersentak dan kaget sekali, saking kuatnya ia tak mampu melihat siapa yang menamparnya dan hendak membalas menampar...

"Kau ingin menamparku?" tantang Jaejoong penuh amarah, Yunho tersentak kaget, ia segera menurunkan tangannya, kemudian menatap Jaejoong lama, Jessica sudah membenahi seragamnya, dan belum juga berganjak, tampangnya angkuh sekali seakan ia adalah pemenang peristiwa ini. Meski dari sudut hatinya masih memaki kecantikan Jaejoong.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Yunho dingin, dan kali ini Jaejoong terdiam, baru sadar betapa ia bodoh dan tak tahu apa yang dilakukannya di tempat ini, marah-marah karena melihat Yunho mencumbu orang lain? Konyol sekali.

"Kau marah?" tanya Yunho puas, kedua tangannya bersidekap di dada

"Hallo, tak bisakah kita akhiri saja, Yunh oppa, ayo cari tempat lain," Jessica menarik tangan Yunho, tapi Yunho tak berganjak

"Oppa,..." Paksa Jessica

"Kau diam!" bentak Yunho, Jessica kaget

"Kau…." Jaejoong menatap Yunho geram

"Kenapa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanyanya kalem

"Kau bajingan sekali Jung Yunho….!"

"Memangnya apa pedulimu?"

"Kau….."

"Tenang saja, aku laki-laki yang bertanggung jawab, aku pergi seperti yang kau inginkan," Yunho menatap matanya dalam-dalam, Jaejoong terdiam, wajahnya memucat

"Kau apa….?" Rintihnya

"Anggap saja kontrak kita berakhir, aku tidak terlalu suka buang waktu sebetulnya," Jawab Yunho malas

"Hanya itu….." Suara Jaejoong tercekat "Kau memenuhi janjimu, pergi dariku? Dan belum genap sehari kau melakukannya kau sudah mencumbu orang lain, apa kau tidak punya perasaan Jung?"

"Apa pentingnya hal itu, tidak ada juga orang yang ingin kujaga perasaannya,"

"Kau tidak berhak mempermainkan yeoja maupun namja,"

"AKu berhak!" bentak Yunho, matanya melotot sangar "aku berhak, memilih siapapun yang aku mau, mempermainkan siapapun, dan meninggalkan siapapun, dan aku tak perlu satu orang pun untuk mengaturku, kau mengerti Kim Jaejoong, dan kau juga bukan orang yang berhak melarangku," Jaejoong tersentak, terbungkam, dan matanya berkaca-kaca

"Sekarang kau bebas, aku pergi, dan lakukanlah apapun sesukamu," Yunho mengakhiri perdebatan mereka, dan menyingkir dari tempat itu,Jaejoong masih belum berganjak, jika bisa menggambarkan suasana hatinya sekarang, maka gurun adalah gambaran tepat untuk hatinya, tandus dan kering, seakan semua kehidupan di dalamnya tersedot.

"Ini apa?" Batinnya pedih

OoooO

Hari itu adalah hari terakhir dimana Jaejoong melihat Yunho, setelah kejadian di koridor sepi itu, bahkan secara sengaja pun Jaejoong tak juga melihat Yunho, ia berpura-pura dalam banyak hal, mulai dari pura-pura tersasar, pura-pura tanpa sadar berada di klas Bangsawan, sampai pura-pura menemui Siwon, meski tujuannya hanya untuk menemui Yunho, walaupun tak pernah sekali ia menemukan Yunho lagi.

"Kali ini apa?" Tanya Siwon sambil menyipitkan matanya curiga

"Tersesat lagi, atau kau ingin mengatakan sesuatu yang penting denganku lalu kemudian kau akan mengatakan lupa ingin mengatakan apa?" Siwon menebak bukan tanpa dasar, karena memang begitulah yang selalu dilakukan Jaejoong, Jaejoong tertunduk malu

"Awalnya aku tak curiga, tapi lama-lama aku sadar, kau tak pernah tersesat, tak juga pernah lupa, kau hanya belum menemukan dia kan,"

"Siwon-shii…. Aku…."

"Kenapa kau tak bertanya langsung saja kalau kau mencarinya, kenapa harus melakukan cara-cara konyol ini,"

"Aku tidak sedang mencarinya!" Jaejoong membantah

"Siapa? Memangnya kau mengerti aku sedang membicarakan siapa?" Siwon kembali memasang tampang puas, Jaejoong terdiam, matanya bergerak panik

"Meski tanpa kukatakan namanya pun, kau langsung berpikir tentangnya, tidakkah itu menjelaskan semuanya, Kim Jaejoong,"

"Siwon-shii…."

"Aku tidak senang mengakuinya, aku cemburu, Kim Jaejoong, kau lebih suka menghabiskan waktumu mencari namja yang sudah mempermainkanmu, daripada berpaling dengan namja lain yang lebih menghargaimu,"

"Siwon-shii kau bicara apa?"

"Aku menyukaimu Kim, heh, kau tidak tau kan, kau bahkan tidak sadar bahwa aku wujud," ungkap Siwon, Jaejoong dibuat terkejut olehnya

"Kau apa?"

"AKu menyukaimu, sangat menyukaimu, meski aku tahu kau namja, dan meski aku tahu kau akan menjawab apa,"

"Tapi Kibum? Bukannya dia pacarmu, dia menyukaimu juga kan,"

"Sama sepertimu, aku adalah Kibum dalam kehidupanmu dengan Yunho, lalu siapa yang akan kau pilih aku apa Yunho?" Siwon memaku matanya tepat di mata Jaejoong, jantung Jaejoong berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, Siwon adalah temannnya, salah satu teman terpercaya dalam hidupnya setelah Junsu dan Youchun, salah satu orang yang bersedia mengulurkan tangan untuk membantunya bahkan di kondisi terburuk sekalipun, tapi apa yang bisa ia lakukan.

"Aku…., Siwon-shii kenapa kau tiba-tiba mengatakan ini,"

"Karena aku tidak tahan," Suara Siwon naik satu oktaf "Aku tidak tahan, kenapa kau bersusah-susah untuk namja brengsek itu, kenapa kau tidak pernah menolehku,"

"Kau temanku Siwon-shii, bagaimana aku bisa berpaling dengan orang yang sudah kuanggap teman lebih dari siapapun,"

"Heh kau benar," Siwon menatap nanar "Sampai kapanpun, aku hanya teman bagimu,"

OoooO

Bisakah Jaejoong tak ingin percaya bahwa secara tiba-tiba ia merasa minggu ini adalah minggu terdamai sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini sekaligus minggu paling membosankan dari yang pernah ada. Siwon takpernah lagi menemuinya, bahkan Jaejoong tak juga berani bertatap muka dengannya.

"Jaejoongie, kau ingin oleh-oleh apa? Aku akan membelikanmu banyak oleh-oleh nanti," Junsu namja ceria ini akan mengunjungi Jepang beberapa hari kedepan memaksa Jaejoong untuk meminta oleh-oleh padanya

"Tidak usah, hampir seluruh produk dalam kamarku adalah buatan Jepang, justru aku menginginkan produk Korea sekarang," Ujar Jaejoong kalem, mengingat betapa asisten appanya selalu mengirimkan barang-barang yang ia butuhkan dari Jepang.

"Tapi kau harus meminta sesuatu," paksa Junsu, sambil menghela nafas berat Jaejoong kemudian mengalah.

"Kim Jaejoong-shii," Jaejoong dan Junsu sama-sama terlonjak ketika suara berat itu datang dari si imut Sungmin, ia ketahui sebagai salah satu kawanan Heechul.

"Heechul ingin bertemu denganmu," Ujarnya, Jaejoong dan Junsu saling menoleh

"Ah, apakah akan ada acara moedeling lagi?" Tanya Junsu semangat

"Tidak mungkin," Jawab Jaejoong panik "Kenapa Heechul sunbaenim ingin menemuiku?"

"Kami tidak tahu, dia kelihatan bahagia sich, lebih baik kau temui saja dulu," Usul Sungmin, Jaejoong menghela nafas berat

"Hah baiklah," Dengan langkah berat, Jaejoong akhirnya mengikuti Sungmin, sudah lama sekali ia tak melihat Heechul, mungkin Heechul bisa memberinya petunjuk akan keberadaan Yunho yang menghilang sejak seminggu.

Ia tiba di sebuah ruangan yang diduganya sebagai dapur sekolah, sebelum masuk Jaejoong sudah berpikir akan fungsi tempat ini, tapi tak pernah benar-benar berpikir bahwa Heechul akan melakukannya disini.

"Apa?!" Pekik Jaejoong kaget

"Iya, kita akan belajar memasak disini, aku sudah meminta semua koki sekolah untuk mengosongkan tempat ini,"

"Tapi sunbaenim, kenapa harus disini, kenapa tidak di rumah saja?" Tanya Jaejoong

"Aku tidak mau, si bodoh Yunho mengancamku, kalau sampai aku berusaha membakar rumah, dia akan memberitahu umma tentang…." Heechul mengantungkan kalimatnya

"Tentang apa?" Tanya Jaejoong pelan

"Ah, pokoknya kita akan melakukannya disini, dan lagipula disini banyak tim hebat yang akan membantu kita kalau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," Ujar Heechul senang, tanpa mempedulikan wajah pucat para koki dan teman-temannya yang lain, siapa yang tak tahu bakat buruk Heechul dalam memasak, sifatnya yang keras kepala dan sulitnya untuk ditentang membuat semuanya semakin memperburuk keadaan.

"Baiklah si cantik, ayo kita mulai," Heechul melambaikan tangannya, meminta para koki sekolah untuk menyediakan bahan-bahan masakan yang diperlukannya, tugas Jaejoong adalah mengarahkan apa yang perlu ia lakukan untuk memasak masakah yang ia inginkan, dan untungnnya Jaejoong benar-benar mengerti tentang masakan.

Hari ini menu yang akan dicobanya adalah bulgogi, ia sudah menyiapkan bahan-bahannya, Jaejoong mengajarinya mulai dari mengiris bahan dengan benar, sampai menghidupkan kompor dengan benar juga.

"Lalu bahan-bahannya kita aduk seperti ini subaenim," Ajar Jaejoong sambil menuntun Heechul untuk mencampur bumbunya, sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar, Heechul serius sekali lebih tepatnya tegang

"Sumbaenim, sunbae sedang memasak bukan ikut ujian, bisakah untuk tidak terlalu tegang, karena itu bisa mempengaruhi hasilnya," Nasehat Jaejoong, dan barulah wajahnya terlihat lebih santai

"Jangan," Jaejoong menahan tangan Heechul yang hendak memasukkan bahan-bahan sekaligus, dan jauh-jauh dari wajan "Kita masukkan pelan-pelan dan satu-satu, dan harus dekat dengan wajan, kalau tidak, minyak panas ini akan bertumpahan kemana-mana dan bisa memicu api menjadi besar,"

"Oh, kupikir dengan begitu bisa menghindari tangan kita untuk tidak terkena minyak panas, "

"Memang sedikit panas, tapi kalau di lempar begitu lebih bahaya lagi,"

Heechul menurut dengan patuh, Jaejoong dengan sabar mengajarkannya, teman-teman dan para koki sekolah menunggu dengan tegang, sesekali mereka tergopoh-gopoh menghampiri Heechul jika ia memanggil. Harum daging dan bumbu begitu enak, sekarang sudah hampir tak ada wajah pucat lagi, mereka semua tak sabar ingin merasa masakan enak Heechul untuk pertama kalinya.

"Dan tadaaaaa…." Heechul memamerkan sepiring bulgogi yang berhasil ia buat dengan aman.

"Wah Yang Mulya Jung Heechul, kelihatannya bulgogi ini enak, apa kami boleh mencicip?" Tanya salah satu koki, Heechul tersenyum angkuh

"Emmm, baiklah, tapi sebelumnya Jaejoong harus mencobanya dulu," Heechul beralih pada Jaejoong, "Kim Jaejoong, silahkan cicip,"

Dengan senang hati, Jaejoong mencicip satu potong tipis daging itu "Emm,enak, ini sempurna, sunbaenim," Puji Jaejoong, wajah Heechul langsung berseri-seri

"Benarkah," Katanya riang, kemudian ia ikut mencicipi "enak, aku tak percaya aku membuatnya,"

"Heechul aku juga mau coba," Pohon Sungmin, disusul oleh para koki dan teman-temannya yang lain, kali ini Heechul mengalah ia membiarkan bulgoginya dihabiskan para koki dan teman-temannya, meski ia menyisihkan sedikit untuk Hangeng nanti, respon yang lain juga sama bagusnya dengan Jaejoong, mereka memuji masakan Heechul yang enak.

"Aku senang, kali pertama dalam hidupku aku merasa lega akan sesuatu," Ucapnya, kali ini mereka berdua duduk di salah satu meja makan di dapur, Jaejoong menoleh

"Apa sepenting itu sunbaenim, menurutku sunbae adalah orang yang kemungkinan besar tidak akan diijinkan untuk menyentuh dapur, sebentar lagi sunbae akan menikah dengan seorang pangeran, dan hidup dalam lingkungan istana dan dilayani oleh banyak dayang," Ujar Jaejoong, Heechul menarik nafas berat

"Tidak!" Katanya tegas "Aku harus masak untuk suamiku nanti, aku tidakmau menjadi permaisuri yang membosankan, yang duduk manis sepanjang hari di sebuah ruangan tertutup menunggu sang raja ke kamarku sambil mendengar seseorang bersyair sebagai hiburan," tuturnya mendecih "Cih, aku akan mati muda jika hidupku seperti itu, aku harus menjadi istri modern, menunggu suami pulang kerja, memasak untuk suami, bermain bersama anak-anak, keluar jalan-jalan sore bersama suami, tidakkah itu menyenangkan,"

Jaejoong tersenyum "Sunbae sungguh membuat iri," Katanya pelan "HIdup dengan lingkungan dimana semua orang menyayangi sunbae dengan tulus,"
"Iya aku beruntung, paling tidak aku tidak terjebak cinta sesame jenis," katanya kemudian, Jaejoong tesentak, malu dan pedih tiba-tiba menyergap hatinya

"Aku tidak bilang tidak menyetujui hubunganmu dengan Yunho, tapi apa kalian serius dengan semua ini, yang normal saja berat, apalagi tidak…"

"Tenang saja sunbae," Potong Jaejoong cepat, kali ini suaranya terdengar bergetar "Apapun yang terjadi denganku dan Yunho, semua sudah berakhir,"

OoooO

Dua minggu setelah festifval cosmetic, nama Jaejoong tak pernah surut menjadi perbincangan. Di satu sudut di kantin sekolah

"Kim Jaejoong, astaga namja cantik itu?"

"Yunho mengklaimnya sejak awal, aku tahu desas desus itu, tapi tak pernah tahu orangnya secantik itu,"

"Pantas saja Yunho tergila-gila dengannya, kalau aku juga takkan melepaskannya,"

Sementara itu di sudut lain, tak jauh dari gerbang kelas Bangsawan

"Kim Jaejoong, hahahaha baru kali ini aku benar-benar ingin mengencani namja,"

"Kau saja begitu, aku bahkan berharap bisa merasakannya di ranjangku,"

"Kalau kalian tidak bisa bicara lebih sopan tentang orang lain, maka bicara di tempat lain saja," Siwon mendatangi orang-orang itu, mereka melotot sama lebarnya seperti Siwon,

"Hah ayo ketempat lain saja, membosankan sekali berurusan dengan ketua OSIS sok tau ini,"

"Heh, katakan saja kau juga ingin merasakan tubuhnya kan," Salah satu dari mereka berkata

Semantara itu di koridor lain di sekolah

"kau tidak bisa secantik dia…"

"Aku bisa eonnie, aku selalu bisa, aku ini yeoja, dan dia namja,"

"Boa, kau membuatku muak,"

"Kenapa? Eonnie menyukainya karena Yunho juga menyukainya?"

"Lalu kau membencinya karena Yunho menyukainya?"

"Eonnie," Boa diam, wajahnya merah padam

"Jadi wanita bangsawan yang baik-baiklah Boa, kau cantik, tapi kau membuat dirimu menjadi tidak ada harganya," Ucap Heechul serius, matanya menatap tajam kedalam mata Boa.

OoooO

Jaejoong berdiri dengan kaki gemetaran di koridor siang itu, matanya menatap nanar pemandangan panas yang dua orang yang ia kenal, sekali lagi ia memergokinya, Yunho dan salah satu yeoja cantik yang tak ia kenal namanya, bercumbu di sudut sepi dari bagian sekolah mereka, keduanya saling memangut, saling mendesah. Setelah dua minggu menghilang, Yunho justru terlihat olehnya dengan skandal yang baru, dan entah bagaimana tubuh Jaejoong berubah kaku, seluruh tubuhnya kebas, seakan ditebas dengan pedangpun ia takkan merasakan rasa sakitnya. Secepat mungkin ia membalik tubuhnya, penguasaan diri yang baik setelah terdiam cukup lama. Jaejoong melangkah cepat seaakan kakinya mempunyai roda, dadanya sakit, degup jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat. Ia menghempaskan tubuhnya di bangku keras itu, dan menarik nafas dalam-dalam begitu tubuhnya sudah beristirahat dengan tenang di bangkunya.

"Kau kenapa Jaejoong-ah?" Tanya Junsu, Jaejoong terdiam

"Kau pucat sekali, apa kau sakit?" Tanyanya lagi, tapi Jaejoong masih terdiam

"Ayo, kita ke ruang kesehatan saja," tanpa menunggu persetujuan Jaejoong, Junsu langsung menarik lengan kurus itu menuju ruang kesehatan, Jaejoong sudah tak sadar apa-apa lagi, ia membiarkan tubuhnya ditarik, dan tetap bergeming.

Sementara berlalu mereka berpas-pasan dengan Heechul yang memandang keduanya dengan keheranan

"Kenapa sicantik itu," gumamnya, pandangannya mengikuti Jaejoong dan Junsu sampai tak terlihat lagi. Dan ia lebih penasaran lagi begitu melihat Junsu dan Jaejoong membelok ke dalam ruang kesehatan. Sambil iseng, Hechul mengetik beberapa pesan singkat pada adiknya

From : Heechul

To : Yunho

SIcantik di ruang kesehatan, kau membuatnya hamil?"

Setengah malas Yunho yang masih diselimuti nafsu melihat layar ponselnya dan terpaksa membaca pesan singkat dari Heechul, awalnya bukan karena isinya, tapi jika ia tak membalas pesan itu lewat dari lima menit, maka Heechul akan menyusulnya kemanapun ia berada. Masih membiarkan yeoja itu menciuminya Yunho membuka pesan itu.

"Mwoya!" Pekiknya kaget, yeoja itu berhenti dari kesibukannya dan menatap Yunho keheranan

"Oppa kenapa?" Tanya sang yeoja

"Aku pergi," setengah berlari sambil membenahi seragamnya Yunho menuju ruang kesehatan.

Sementara itu di ruang kesehatan

"Aku tidak tau Dr. Eugene, dia sudah begini sejak kembali ke kelas," Jawab Junsu saat Eugene menanyainya apa yang terjadi pada Jaejoong

"Hmm, kurasa dia tidak sakit," Ujar Eugene, Junsu tampak tak senang dengan ucapan itu

"Mana mungkin, lihat, dia sudah seperti mayat hidup," Protes Junsu, Eugene tersenyum

"Tidak secara fisik maksudku, mungkin secara mental ia,"

Tepat setelah itu pintu ruang kesehatan terbuka, dan datanglah Yunho yang masih terengah-engah dan Heechul yang menyusul di belakangnya.

"Kim Jaejoong, Eugene noona mana Kim Jaejoong," teriak Yunho panic

"Dia sedang istirahat di dalam," Jawab Eugene masih sedikit terkejut dengan kedatangan mendadak Yunho dan Heechul

"Kim Jaejoong, noona, apa yang terjadi dengannya, dia tidak mungkin….." Yunho meraih kedua pindak Eugene dan bertanya dengan menggantung kalimat terakhirnya, Eugene mengerutkan dahi bingung

"Mungkin apa?" Junsu yang bertanya

"Hamil," Ucap Yunho pelan, Junsu langsung menutup mulutnya saking shock, sementara Eugene memasang tampang seserius mungkin kemudian tertawa terbahak-bahak, dan Heechul memutar bola matanya dengan malas.

"Tak mungkin kau mempercayai leluconku," Gumamnya,

"Tapi kau bilang kemungkinan dia hamil," Protes Yunho pada Heechul

"lalu kau percaya?" Tantang Heechul, Yunho langsung terdiam

"Memangnya apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya Junsu sedih, tapi tak ada yang menjawabnya

"Dia terlihat tidak baik Yunh, kurasa dia memikirkan sesuatu yang buruk," Ujar Eugene, pandangan Yunho langsung tertuju pada tirai yang menutupi ranjang dimana Jaejoong sedang berisitirahat.

"Temui dia," Ucap Eugena, dan Yunho melangkah pelan, ia menyikap tirai putih dan melihat Jaejoong berbaring membelakanginya.

"Jae…"

"Pergi Yun," Potong Jaejoong cepat, ia masih belum menoleh kebelakang

"Jaejoong kau kenapa?" Tanya Yunho lembut, tangannya meraih pundak Jaejoong

"Jangan sentuh aku!" Pekiknya marah, ia menepis tangan Yunho dan bangkit dari tempat tidurnya

"Ya Kim Jaejoong, apa yang terjadi?" Tanya Yunho sabar

"Kalau kau yang tidak ingin pergi, biar aku saja, " Jaejoong sudah berganjak dari tempat tidurnya, namun buru-buru Yunho menahannya

"Baiklah, aku yang akan pergi, istirahatlah disini," Yunho mengalah, Jaejoong masih tak mau menatapnya

"Aku pergi dulu," Yunho pergi, sementara Heechul, Eugene, dan Junsu menatapnya keheranan

"Noona aku pergi dulu, jaga dia baik-baik untukku," Ucap Yunho lemah, Eugene tersenyum dan mengangguk, Junsu langsung menghampiri Jaejoong untuk menghiburnya, dan Heechul tampak memikirkan siasat buruk dalam otaknya

"Heenim, jangan bilang kau sedang merencanakan sesuatu lagi?" Ujar Eugene curiga ketika melihat raut wajah Heechul yang berubah antusias

"Eonnie, aku tidak kok," Ujar Heechul menyangkal

"Wajahmu yang licik itu mudah sekali ditebak, ya sudah terserah kau saja, yang penting tidak ada lagi siswaku yang terluka,"

"Eonnie aku sudah tak memukuli orang lagi,"

"Ya ya ya, eonnie percaya,"

Heechul keluar mengikuti Yunho,

"Ya, Jung Yunho," Panggilnya, Yunho berhenti dan menoleh dengan lemah, Heechul mendekat untuk bicara

"Tidak sekarang Heechul," katanya malas

"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, dan setelah Kim jaejoong mengatakan bahwa kalian sudah berakhir….."

"Dia berkata begitu….." Potong Yunho

"Iya, dia bilang begitu, dan menurutku setelah melihat reaksinya tadi ku pikir kalian tak benar-benar berakhir,"

"Lalu….."

"Aku menyukainya, dia polos dan baik hati, tapi tetap saja dia namja,"

"Dan kau akan menentang hubunganku dengannya,"

"Tidak, aku mungkin bukan kakak yang baik, tapi aku tetap kakakmu, aku memperingatkanmu karena aku mengkhawatirkanmu, "

"Aku tidak peduli, aku juga sudah memikirkan itu, dan berusaha menjauh darinya, tapi…"

"Kau tidak bisa, yah, sudah kuduga," Kata Heechul santai, Yunho terdiam, ia menekuk kakinya lemas, dan terduduk di lantai koridor, sambil bersandar pada dinding. Heechul menghampirinya.

"Baiklah sudah kuputuskan," katanya kemudian, Yunho menoleh

"Aku akan membantumu,"Ujar Heechul yakin, "Aku akan membantumu mendapatkan ia kembali,"

"Heh, tiba-tiba aku merasa memiliki seorang kakak," Kata Yunho bercanda, Heechul memasang wajah masamnya

"Tapi ada imbalan untuk ini," katanya kemudian, Yunho terkekeh

"Sudah kuduga…" ucap Yunho "Apa imbalannya? Tas baru? Perhiasan baru?..."

"Panggil aku noona," Potong Heechul, Yunho terdiam

"Eh…Noona? Kau ingin dipanggil Noona? Hanya itu?" Tanya Yunho tak percaya, Heechul mengangguk, Yunho tersenyum dengan lembut, dan berdiri . Kemudian langsung memeluk Heechul dengan sayang,

"Yunho-ya," batinnya terharu,

"Kau satu-satunya kakakku, yang paling menyebalkan, dan paling merepotkan. Terima kasih sudah bersedia membantuku, terima kasih sudah tak membuat ini semakin sulit, terima kasih Noona,"

"Yunho, kau membuatku ingin menangis,"

"Heh, kalau begitu aku mohon bantuanmu noona, kembalikan ia padaku,"

"Baiklah, berjanji saja satu hal padaku, apapun yang terjadi kelak, jangan ada satupun yang tersakiti, tidak juga umma atau appa, tidak juga Jaejoong, kau janji?"

"Baiklah aku berjanji,"

Setelah itu Heechul masih tersenyum penuh haru, sambil menatap punggung adik semata wayangnya yang kini jalan menjauh.

TBC

OoooO

Maaf sekali untuk updatenya yang kelamaan, sibuk, tak ada waktu, dan otak yang ngadet menjadi penyebab lamanya update. Saya ingin mengakhri FF ini segera, kemudian kembali muncul dengan FF baru, setidaknya akan lebih segar. Sepertinya one shoot atau two shoot lebih menyenangkan, jadi akan selalu ada cerita baru dan tak perlu kelamaan ngadet seperti ini.

Dan akhir kata, Terima Kasih dan Selamat Membaca