Rated: T
Disclaimer: These chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is officially mine.
Warning: Bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risk (:
Couple words from author:
Hey hey hey! Author kembali lagi dengan chappy 5 hehe. yap sebelumnya author mau ijin dulu sampai hari minggu karena mulai besok author akan pergi ke pesantren untuk menjalani pesantren kilat. mohon doa supaya kegilaan author bisa hilang ketika pulang dari sana, ato seengganya berkurang lah, amiin O:) hehehe. oke langsung aja bales reviews!
Fumiyo Nakayama. 71: Huwaa! makasih Fumiyo hehe, aku emang berusaha supaya Sasukenya agak mirip sama dia dan aku mau bikin ceritanya semenarik mungkin supaya gabosen hehe. keep reading yaa XD
MORPH: Hoo ._. Sasuke OOC? ._. malah menurut aku Itachi nya yang OOC hehe, Sasuke OOC nya gimana? biar aku bisa perbaikin hehehe, keep reading yoo ;)
okee segitu aja, langsung aja ya chappy 5!
Chapter 5
Tubuh Sasuke tersentak ketika bel intercom apartemennya berdering.
'Hah~ rusak sudah ketenanganku.' Batin Sasuke seraya melangkahkan kakinya mendekati pintu. Dengan gerakan malas, laki-laki itu menekan tombol berwarna biru disamping pintunya.
"Sasuke.. ini aku, buka pintunya." Sasuke menggumam pelan. Gadis itu, malaikat maut. Dengan malas Sasuke kembali menekan tombol untuk membuka pintu dilantai atas. Setidaknya selama setengah jam ia berhasil merasakan ketenangan tanpa gadis itu, gadis yang membuat harinya kacau balau. Tak lama suara ketukan terdengar dipintunya, Sasuke sengaja diam sejenak, menyiapkan mentalnya untuk melihat gadis itu lagi.
Setelah merasa mentalnya cukup kuat, Sasuke segera meraih daun pintu dan membuka pintu apartemennya. Gadis itu berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang menggenggam kantung plastic berwarna putih.
"Kenapa lama sekali? Kau tahu, kau telat lima belas menit."
"Apa?" Tanya gadis dihadapannya. "Kau sendiri yang bilang kalau kau akan kembali dalam waktu lima belas menit." Ucap Sasuke sambil melipat kedua tangannya didepan dada. "Maaf, restorannya sangat ramai."
"Hn." Sasuke pun mundur beberapa langkah, membiarkan gadis berambut gelap itu masuk kerumahnya. Sasuke segera duduk diatas sofa kulitnya dan memperhatikan kertas-kertas berisi not balok yang baru diisi setengah, sementara Sasuke tengah tenggelam dalam dunianya. Tenten tengah sibuk memasukkan makanan yang tadi ia beli ke piring. Sesekali Tenten menjulurkan lehernya, untuk memastikan Sasuke masih bernafas karena ya bisa dibilang suasana di apartemen itu sangatlah sunyi, seolah hanya Tenten makhluk hidup yang ada disana. Secara tak sengaja, mata hazel nut Tenten melirik ke samping, kearah bungkus kopi beserta isinya yang berserakan di atas counter.
'Kasian juga dia, aku tahu kebanyakan laki-laki akan uring-uringan jika tidak mendapatkan kopi dipagi hari. Dan sepertinya Sasuke juga mengalami hal yang sama, mungkin secangkir kopi bisa membuat sikap laki-laki itu lebih baik?' Tenten menggelengkan kepalanya. Merasa aneh pada dirinya sendiri yang sepertinya terlalu memperhatikan Sasuke. Bukan urusannya bukan? Setelah menghabiskan makan siang yang pasti sangat sepi, urusannya dengan Uchiha Sasuke akan selesai dan dia bisa kembali ke kehidupannya yang tentram dan damai, tanpa tatapan tajam itu atau tanpa nada menusuk yang ditujukan kearahnya. Tapi entah mengapa Tenten malah berjalan mendekati bungkus kopi itu, membereskannya dan membuat setengah teko kopi dengan bubuk kopi yang masih berada didalam bungkusnya.
Tenten tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya, di dalam lubuk hati Tenten, ia merasa bahwa harus menolong Sasuke. Ada keinginan kuat agar Sasuke tidak memperlakukannya dengan buruk. Akhirnya setelah membuat kopi, Tenten memutuskan untuk segera menghidangkan makanan yang sudah ia beli, sementara kopinya tetap ia tinggal didapur.
"Makanan sudah siap." Ujar Tenten sambil meletakan piring berisi chiken wings with vegetables milik Sasuke dan chiken fillet miliknya diatas meja makan. Tanpa suara Sasuke melangkah menuju meja makan dan duduk didepan chiken wingsnya, dan Tenten pun duduk dihadapannya seperti beberapa menit yang lalu saat mereka hendak menikmati glatin tomat hasil perjuangan Tenten.
Baru saja Tenten hendak menikmati makanannya, suara yang dingin dan sangat Tenten kenal merambat diudara. "Aku tidak suka daging ayam." Tenten melirik kearah Sasuke yang belum menyentuh sendok ataupun garpu ataupun pisau makannya. "Jangan pemilih, hanya itu makanan yang bisa kutemukan didekat sini." Ujar Tenten, Sasuke mengernyitkan hidungnya.
"Ini pasti chiken wings murahan yang kau beli direstoran murahan diujung blok, bukan begitu?" Amarah Tenten sudah sampai keubun-ubun, meski begitu Tenten hanya menghela nafas panjang dan memejamkan matanya.
"Dengar, aku hanya mencoba untuk membantu oke? Kau bilang kau ingin segera menyantap makan siangmu, makanya aku membelikan makanan direstoran yang tidak terlalu jauh dari apartemenmu, jadi makanlah!" Sasuke memutar bola mata onyxnya dan akhirnya menyuap chiken wingsnya kedalam mulut. Setelah melihat Sasuke 'menyantap' makanannya, Tenten pun akhirnya memakan chiken filletnya. Ditengah suasana yang hening dan mencekam, suara deringan ponsel memecah kebisuan diantara mereka.
Sasuke segera beranjak dari tempat duduknya dan meraih ponselnya yang tergeletak di meja kopi di ruang tengah. "Halo?" Samar-samar Tenten bisa mendengar percakapan Sasuke dengan seseorang disebrang sana.
"Kita sudah membicarakan ini semua kemarin, Naruto." Sambil mendengar pembicaraan Sasuke, Tenten pun memasukan beberapa fillet lagi kedalam mulutnya. "Aku tidak bisa menjalankan recital setidaknya sampai akhir tahun kau tahu?" Tenten mengerlingkan matanya.
'Hah, apa pengaruhnya sih? Paling sampai akhir tahun nanti hanya satu recital yang akan ia hadiri, atau mungkin dua.' Batin Tenten.
"Ya, semuanya. Recital di London, Otawa, Moskow, Rome, semuanya." Tubuh Tenten menegang, jantungnya bergedup kencang. 'Apa? Jadi tidak hanya recital di London yang harus ia batalkan? Tapi… Kami-sama!' Tenten benar-benar dirundung perasaan bersalah, meskipun ia tidak tahu menahu soal recital tapi ia tahu bahwa membatalkan janji sangatlah tidak terpuji dan sulit, apalagi soal recital yang sepertinya sudah disepakati berbulan-bulan sebelum acara itu di jadwalkan. Tenten benar-benar menghancurkan semuanya, ia tidak bisa membayangkan berapa dollar yang harus Sasuke beserta menegementnya bayar untuk semua recital yang di batalkannya itu.
"Iya aku tahu itu tidak mudah, Naruto. Tapi aku punya alasan yang sangat serius yang membuatku benar-benar tidak bisa hadir diresital itu." Tak lama suara Sasuke kembali terdengar. "Yeah, aku bisa mengandalkanmu, buddy. Sampai jumpa." Setelah mendengar suara itu,Tenten mendengar langkah kaki mendekat ke ruang makan. Tenten menundukan kepalanya, tangannya tidak lagi memegang sendok, nafsu makannya sudah hilang total. Ayam fillet itu sudah tidak menarik lagi dimatanya. Dan sepertinya Sasuke menyadari perubahan mood gadis yang duduk dihadapannya.
"Ada apa?" Tanya Sasuke dengan suara yang terkesan sama sekali tidak peduli. "Jadi recital yang harus kau batalkan… tidak hanya satu?"
"Kau sudah mendengar semuanya bukan." Ujar Sasuke yang kembali menikmati makan siangnya. Jujur, sebenarnya Sasuke menganggap chiken wings ini tidaklah buruk, setidaknya makanan ini bisa diterima oleh lidah dan lambungnya. "Aku benar-benar sangat menyesal."
"Aku tahu, kau sudah mengatakannya berulang-ulang." Ujar Sasuke acuh tak acuh. Hati Tenten kembali dirundung perasaan bersalah. Pantas saja Sasuke sangat muak padanya, ia sudah menghancurkan semuanya. Menghancurkan recital besar Sasuke bahkan bisa saja merusak karir laki-laki itu. Harusnya ia lebih berhati-hati saat membawa makanannya, seharusnya laki-laki buntalan kapas itu tidak datang ke café!
Tenten berdiri dari tempat duduknya, ia meraih secarik kertas didalam kantung celananya lalu berjalan kearah Sasuke.
"Aku tahu aku tidak akan bisa membayar kerugianmu… maka." Tenten menaruh secarik kertas itu disebelah tangan Sasuke.
"Kau bisa menelponku jika kau memerlukan sesuatu, apapun entah mengurusi tanamanmu, membersihkan apartemenmu, membuatkanmu sarapan, membelikanmu sesuatu atau mengantarmu, atau mungkin membuatkanmu kopi, apa saja, kau tinggal menelponku dan aku pasti datang." Ujar Tenten, ia sudah menetapkan pilihan, meskipun artinya ia akan berada didekat laki-laki es ini yang berarti ia akan menerima tatapan tajam dan nada sinis itu. Tapi hanya ini yang bisa dilakukannya, setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Hatinya tidak akan tenang jika ia pura-pura tak peduli dan tidak melakukan apapun untuk membayar kesalahan kecilnya yang berakar tanduk menjadi masalah besar yang sudah ia lakukan. "Aku permisi dulu karena aku harus kembali bekerja, murid-muridku pasti sudah menunggu.. dan oh ya soal kopi. Aku tahu ini sudah sangat terlambat untuk menikmati kopi pagi, tapi aku sudah membuatkan kopi untukmu, terserah kau mau meminumnya atau membuangnya." Ujar Tenten seraya membalikan tubuhnya dan melangkah menuju gantungan mantel, tempat manternya bertengger. Setelah meraih mantelnya, Tenten pun membuka pintu apartemen dan melangkah meninggalkan Sasuke yang masih terduduk di meja makannya.
Laki-laki itu melirik kearah secarik kertas yang tergeletak disebelah tangannya, tangan kirinya meraih kertas itu dan mendekatkannya kewajah. Lalu seulas senyum muncul dibibir laki-laki itu.
xXx
Sasuke merapatkan tubuhnya didalam balutan sweeter abu-abunya. Udara malam ini terasa lebih dingin dibanding kemarin. Hal yang paling nikmat dilakukan di tengah cuaca dingin seperti ini adalah, menikmati segela kopi hangat. Haah, betapa Sasuke sangat menginginkan kopi. Selama seharian ini otaknya tidak bisa berfungsi dengan benar, dan sepanjang diang tadi Sasuke bertapa didepan pioanonya, memperhatikan tuts putih disana. Selama berjam-jam Sasuke berusaha berpikir, berusaha mengundang kembali inspirasi yang hilang tanpa jejak. 'Semua ini gara-gara gadis itu, gara-gara dia aku tidak bisa bermain piano dan menyelesaikan laguku.' Hal tidak penting seperti ini bisa membuat Sasuke gila, tidak penting? Karena ia harusnya tidak perlu mengkhawatirkan lagunya, toh ia tidak akan bisa memainkannya baik diresital maupun diapartemennya selama satu bulan. Bisa saja cedera ditangannya bisa memakan waktu lebih lama, dua bulan misalnya. Sasuke menghela nafas panjang, ia tahu tidak ada gunanya menyalahkan gadis itu, toh dengan menyalahkan gadis itu tidak akan memperbaiki apapun. Meski begitu, Sasuke tetap kesal terhadap malaikat mautnya itu.
"Haah~ sepertinya aku memang harus meminum kopi." Erang Sasuke yang hendak berjalan meninggalkan apartemennya untuk membeli secangkir kopi di café yang terletak tak jauh dari rumahnya. Tidak apalah menyesap kopi hambar itu lagi, setidaknya ada asupan kafein yang mengisi tubuhnya hari ini. Baru saja Sasuke hendak meraih daun pintu, pikirannya kembali teringat akan gadis itu.
'Dia bilang dia membuatkanku kopi bukan?' Sasuke menarik tangannya yang sudah bertengger di daun pintu dan membalikan tubuhnya, melangkah menuju dapur. Untung saja gadis itu membuatkannya kopi, jadi Sasuke tidak perlu keluar untuk membeli kopi dan ia juga tidak perlu meminta bantuan tetangganya untuk membuka pintu apartemen. Perasaan Sasuke sedikit lega ketika aroma kopi menari-nari di rongga hidungnya, betapa ia sangat merindukan kopi ini. Sasuke meraih teko kramik yang sedari tadi siang berdiri diatas counter marmernya. Pasti sudah dingin.
Sasuke mengerang kesal, ia tidak akan bisa menikmati kopi yang sudah dingin bukan? Dan lagi, Sasuke tidak yakin dengan kopi buatan gadis itu. Gadis itu sudah merusak makan siangnya, ada kemungkinan ia akan merusak cita rasa nikmat bubuk kopinya bukan? Meski begitu Sasuke tetap menuangkan kopi itu kedalam cangkir dan menyesapnya. Tubuhnya terpaku sesaat ketika rasa kafein menyengat lidahnya. Selain itu ada rasa lain didalam kopi ini, rasa manis sepeti… coklat? Gadis ini memasukan coklat kedalam kopi Sasuke?
Tapi, coklat itu malah membawa dampak baik dalam kopi Sasuke, rasanya jadi agak ringan dan juga tidak terlalu buruk ketika diminum dalam keadaan dingin seperti ini. Sasuke tersenyum kecil.
"Setidaknya akhirnya ia berhasil melakukan sesuatu dengan benar." Gumamnya lebih tepatnya untuk dirinya sendiri. Suara dering ponselnya memecah lamunannya, Sasuke segera meletakan cangkir kopinya dan melangkah menuju ruang tengah, tempat ponselnya berada. Tangan kirinya segera meraih ponsel berwarna putihnya ketika ia sampai diruang tengah.
Itachi.
"Halo, ada apa?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi. Sementara si penelpon berdeham beberapa kali. "Setidaknya berbasa-basilah sedikit, Sasuke."
"Untuk apa aku berbasa-basi denganmu, Nii-san." Ujar Sasuke dengan penekanan pada kata 'Nii-san'. Itachi tertawa renyah lalu kembali berbicara.
"Jadi bagaimana harimu?"
"Sepertinya tanpa kuberitahupun kau sudah tahu." Ujar Sasuke dengan ketus. "Jadi sebenarnya ada apa, Itachi? Tidak mungkin kau menelponku malam-malam seperti ini hanya untuk menanyakan kabarku."
"Baik, baik kau benar… aku hanya ingin bertanya soal Tenten." Tubuh Sasuke menegang ketika mendengar katanya menyebut nama malaikat mautnya. "Ada apa?"
"sepertinya kalian banyak menghabiskan waktu bersama?" Sasuke menghela nafas panjang, tidak mengerti kenapa kakaknya tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Tidak, kami hanya makan siang bersama, itupun karena ia berkeras dan hei, kenapa aku harus menjelaskan semua ini padamu." Gerutu Sasuke.
"Aku hanya ingin memastikan kau tidak bersikap buruk padanya." Lagi-lagi perkataan Itachi membuat Sasuke kaget, ada apa gerangan dengan kakaknya?
"Memangnya kenapa? Sepertinya kau sangat perhatian pada gadis itu."
"Tidak, aku hanya ingin memastikan kau tidak bersikap buruk pada seorang gadis, Kaa-san pasti sangat murka jika tahu kau bersikap buruk pada gadis." Sasuke menghela nafas panjang, seharusnya ia tahu jawaban kakaknya akan seperti itu. "Tidak, aku tidak melakukan apapun. Dan harusnya kau khawatir padaku, karena bisa saja ia kembali mencederai tanganku yang satunya." Itachi tertawa renyah begitu mendengar kata-kata Sasuke yang terdengar seperti anak kecil. "Sudahlah Sasuke, kau tahu bukan bahwa kejadian kemarin hanya kecelakaan? Lagipula tanganmu hanya terkilir, aku yakin bulan depan kau bisa melakukan aktifitasmu seperti biasa."
"Kau tidak tahu akibatnya? Aku harus membatalkan recital-resitalku."
"Lalu kau menyalahkan Tenten atas semua itu?" Lagi-lagi Sasuke tidak bisa langsung menjawab. Laki-laki itu tahu benar bahwa pembatalan restialnya bukan sepenuhnya salah gadis itu. Baik ia maupun Sasuke tidak ada yang ingin kejadian ini terjadi. "Jadi apa yang sudah kau lakukan padanya?"
"Apa?" Ucap Sasuke sambil mengerjapkan matanya.
"Aku bertemu dengan Tenten direstoran tadi siang, aku sempat berbincang-bincang dengannya dan… kelihatannya kau sepeti menyuruhnya membelikan makanan."
"Aku tidak menyuruhnya, dia sendiri yang ingin membelikanku makanan karena dia sudah merusak makan siangku dan juga tomat-tomatku." Itachi menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin berpesan jangan terlalu keras padanya, oke?"
"Sejak kapan kau begitu tertarik pada seorang gadis, Nii-san?" Itachi tidak menggubris kata-kata memancing adiknya, ia tahu adik laki-lakinya berusaha memancing dirinya. "Selamat malam." Tuut, tuut.
Sasuke mendengus kesal seraya kembali menaruh ponselnya di atas meja kopi.
Okee minna! bagaimana? hehehe, oke sampai sini dulu ya sampai jumpa di hari minggu, reviews please :)
