Siang itu di Dong Bang Shin Ki high school
"Selamat siang, teman-teman sekalian dan para junior tercinta, bersama saya Yang Mulya Jung Heechul," Suara itu menggema diseluruh sekolah, Heechul bicara melalu radio sekolah, suaranya yang khas dan pengaruhnya di tempat itu, membuat suara yang sebetulnya tak pernah berperan di acara radio sekolah itu langsung menyita perhatian, tak ada satupun yang melewatkan pengumuman yang kiranya akan disampaikan oleh primadona sekolah tersebut.
"Siang yang cerah, dan juga membosankan bukan," lanjutnya
"Dia sedang apa?" Komentar beberapa temansekelasnya
"Sepertinya dia akan mengatakan sesuatu yang menyenangkan," komentar dari sudut lain ruangan
"Wah, itu Heechul sunbaenim kan," di kelas adik kelas yang lain juga terlihat riuh
"Dan kali ini, aku akan mengajak kalian bermain permainan seru, yang melibatkan aku, kalian semua, adikku yang bodoh, dan primadona kita Kim Jaejoong….."
"Mwo!" Jaejoong hampir menyembur Junsu dengan kopi dingin yang ia minum, ketika namanya disebut dalam acara radio itu, beberapa orang di sekeliling mereka tampak memandang Jaejoong penasaran
"Seperti yang kalian tahu bahwa Jung Yunho adikku yang bodoh itu, telah mengklaim kepemilkan atas diri Kim Jaejoong yang malang..." Heechul bercerita
"Dan kalian mungkin tak banyak yang tahu, bahwa beberapa minggu ini mereka sebetulnya sudah putus, atau apapun istilah lainnya..."
"Mwo!" Jaejoong sudah berhasil menyemburkan kopi dingin itu tepat diwajah Junsu
"Mereka putus..." seantero sekolah saling berbisik
"Heechul sunbaenim sedang apa dia?" Jaejoong mendesis ngeri, hampir tak bisa tak mengacuhkan seringaian disekelilingnya
"Kyaa..." fan base Yunho bergemuruh sekalian
"Ah... satu lagi,untuk fans Yunho , berhenti berteriak!," Teriak Heechul tiba-tiba, para fans Yunho hening seketika, merasa diawasi saat itu juga
"Dan kali ini aku akan mengadakan sebuah sayembara, sangat gampang sekali, kuberi kalian waktu satu jam, temukan Jaejoong dan Yunho, kunci mereka dalam satu ruangan, dan bagi yang berhasil kalian akan mendapat nomer ponsel ku untuk para pria dan nomor ponsel Changmin untuk para wanita,"
"Hmm, noona kau gila," komentar Changmin malas, dan ia kembali tertidur di kelasnya
"kyaaa Changmin oppa..." kali ini pra fans Changmin yang berteriak
"Wah kapan lagi bisa mendapat nomer ponsel Heechul," beberapa namja tampak antusias
"Kita tidak boleh ketinggalan, mendapat nomer ponsel Changmin adalah berkah, ayo kita harus coba," beberapa Yeoja lainnya pun berkomentar dengan semangat
"Dan pertunjukkan dimulai dari sekarang..."
Jaejoong tidak kehabisan akal, sebelum dimulainya pertunjukkan, dengan sigap ia sudah menghilang dari keramaian, berbeda dengan Jaejoong, Junsu masih berdiri disitu dengan wajah yang sudah kering, dan mereka menyerang Junsu dengan buas
"Katakan dimana Kim Jaejoong,"
"Serahkan Kim Jaejoong,"
"Berikan Kim Jaejoong,"
"Aku tidak tahu dia kemana,"
"Dasar kutu busuk, sok imut, kau tidak akan kubiarkan menyembunyikan Kim Jaejoong,"
"Astaga kenapa kalian jadi buas begini,"
"Hentikan, apa yang kalian lakukan pada pacarku hah?" Youchun datang membantu, menerobos kerumunan dan berhasil mendekap erat Junsu yang tersudut
"Huh kau meminta bantuan paman jidat lebar ini eoh,"
"Paman?" Youchun menunjuk wajahnya dengan sengit
"Paman jidat lebar, serahkan Kim Jaejoong pada kami,"
"Kalian gila, cari saja kalau kalian bisa, minggir sana jangan mengganggu pacarku," mereka berhasil lolos, sementara itu ditempat lainnya Jaejoong berhasil menghindar dari kerumunan, ia berlari ke arah koridor belakang yang selalu sepi dan tak banyak pengunjung, bukan karena tempat itu berhantu, tapi memang tak ada gunanya ketempat itu.
"Ini gila, permainan ini akan membunuhku sebelum mereka mendapat angka pertama dari nomer ponsel Changmin,"
"Ah noona, kau menyebut namaku," Changmin datang dari arah berlawanan, wajahnya polos sepolos bayi yang baru lahir
"Changmin-shii apa kau juga ingin menangkapku," Jaejoong mundur selangkah
"Tidak, aku kehabisan makanan di cafetaria, aku ingin mencari didapur lagi, kau mau ikut?"
"Apa?" Jaejoong mengerutkan dahi kebingungan
"Noona tampangmu kelihatan sangat bodoh,"
"Ya!" Marah Jaejoong malu
"Ayo kita cari makan saja, mereka takkan mencarimu di dapur kalau aku jadi mereka,"
"Kau benar juga, mana mungkin mereka menyangka aku akan berada di dapur,"
"Ya, tempat itu menyenangkan sebetulnya," Jelas Changmin datar, Jaejoong menatapnya kalem
"Itu karena banyak makanannya," Batin Jaejoong "Ayolah Changmin kita kesana," Ajak Jaejoong sambil menarik Changmin
Tak berakhir disitiu sekumpulan namja berotot, berkumpul di salah satu aula, setiap tangan mereka memegang bermacam alat, mulai dari cangkul, sampai korek api, bahkan ada yang membawa kursi, dan tak kurang dari lima orang membawa sepotong balok besar.
"Temukan Kim jaejoong, temukan Jung Yunho, tanpa strategi, tanpa pilih kasih, kita harus mendapat nomer ponsel Heechul, hahahaahaha" Salah satu dari mereka, berorasi dengan penuh semangat
"Yoooo," Dan teriakan itu memberi jawaban bahwa mereka sama semangatnya. Dititik lainnya kini sekumpulan kutu buku yang berjejer di depan buku, dan komputer
"Untuk menjadi terkenal, kita harus bergaul dengan orang terkenal, Heechul adalah batu loncatan kita untuk dikenal, kita harus menyiapkan strategi untuk menyatukan Kim jaejoong dan Jung Yunho dalam satu ruangan, aku tak tahu bagaimana kita bisa menarik Yunho, tapi jika Jaejoong ada dalam ruangan itu, bahkan tanpa kita paksa pun ia akan datang sendiri, dan karena itu mari kita fokus pada Kim Jaejoong," orasi salah satu dari mereka sang ketua yang memakai kacamata paling tebal, dan rambut paling berminyak
"Masuk akal sich, tapi kurasa, ia tak ingin menyentuh Yunho karena tak punya nyali, hihihihih," Bisik salah satu anggotanya
"Dasar kelas pengecut, baiklah ladies, untuk semua bidadari di tempat ini, mungkin tugas ini berat dari segi mental, pertama kita harus melepaskan pangeran kita Jung Yunho, tapi bukan berarti kita harus mengekang kebahagiannya, kita harus berusaha membantunya untuk bahagia, dan kurasa imbalan nomer ponsel Changmin-shii sama sekali tidak buruk, bagaimana menurut kalian ladies?'
"Huhuhu kami setuju yang mulya ratu, kami sudah sejak lama menyerah untuk mendapatkan Yunho sejak yang mulya ratu mengancam kami satu persatu, tapi kali ini biarkan lah kita dengan adil mendapatkan cinta Changmin, otte," sambil tersedu mereka bercerita
"Kalian sepertinya belum belajar dari kesalahan eoh," Wajah sang ratu berubah licik
"hah, untukmu saja kalau begitu, baiklah kita mulai dari mana tugas ini," dan yang mulya ratu mereka tersenyum lebih manis lagi.
"Aku rasa mereka akan semakin buas, jika tak menemukanku segera, aku tidak tahu harus kemana lagi," Jaejoong berkata, sudut matanya melirik Changmin yang tengah menyuap sepotong besar sandwich
"Kenapa kau tidak menemui Yunho-hyung saja,"
"Yunho? Ngomong-ngomong ada dimana dia?"
"Dia aman-aman saja, tak ada yang berani menyeretnya, kalau ingin memaksanya keluar, mereka harus menemukanmu dulu, hah, sandwich ini kecil sekali ya, aku masih lapar,"
"Tapi aku tidak ingin berurusan dengannya lagi, dia membuat semuanya menjadi sangat burut untuk diingat,"
"Tapi kau mencintainya kan, dan Yunho-hyung juga mencintaimu, umma adalah psikiater, dia bilang Yunho hyung sedang jatuh cinta,"
"Ummamu bilang begitu?"
"Emm," Changmin mengangguk
"Tapi tetap saja, dia tak termaafkan,"
"Ayolah, kita ini namja,"
"Wah sejak kapan kau menyadari aku namja?"
"Sejak kau mengenakan gaun malam itu, kudengar mereka menyebutmu namja,"
"Astaga," Jaejoong menepuk jidatnya
"Kita ini namja noona, sejak kapan ada namja yang tak tergoda dengan wanita seksi,"
"Aku tidak,"
"Wah kau benar-benar gay ya noona?"
"Bukan begitu...aku..."
"Bagaimanapun juga, maafkan saja Yunho-hyung, bagaimana kau bisa bahagia, jika kau tidak bisa memberi kesempatan pada orang lain,"
"Aku..."
"Ah! Sandwich ini sudah tidak enak lagi,"
"Hmm, baiklah sini aku buatkan sandwich yang lebih enak untukmu,"
"Woa, terima kasih noona,"
"Dan Changmin, apa tidak masalah jika mereka mengetahui nomor ponselmu?"
"Tidak masalah, sebetulnya sudah sangat lama aku tak menggunakan ponsel, ahahaah,"
"Hah... dijaman sekarang?"
"Yah, terlalu banyak radiasi di sekelilingku tak baik untuk kesehatan otak, aku hanya mengurangi salah satu hal yang menurutku tak penting,"
"Kau terlalu cerdas untuk diajak berdebat, silahkan habiskan semua makananmu,"
"Emm, terima kasih noona,"
OoooO
Sementara itu di kelas Bangsawan III, wajah Heechul berkerut saking kesalnya, diremasnya ponselnya sekuat tenaga, tangannya ikut berkerut sampai timbul urat, wajahnya merah padam.
"Dasar Cina menyebalkan, seenaknya saja pulang pergi tanpa pamitan, dia pikir dia siapa? Memangnya dia yang punya Korea ini, mentang-mentang pangeran merasa paling berkuasa, terserah dia saja jika ingin pulang ke Cina, akan kubuat dia tak bisa kembali ke Korea," gurutu Heechul berapi-api
"Eonnie yakin?" Boa duduk di sampingnya tersenyum lembut sekaligus geli
"Tentu saja aku yakin, Cina itu harus diberi pelajaran,"
"Gege tak kemari, apa eonni tak rindu nantinya,"
"Aku?" Heechul tersenyum sinis "Aku takkan merindukan si Cina itu lagi,"
"Eonnie, kalau kau meridukan gege kau akan marah-marah dan melampiaskannya pada semua orang,"
"Memangnya aku serendah itu?" Heechul tak terima, namun tak membantah juga ketika Boa dengan polosnya mengangguk
"Hah sudahlah, apa kau merasa mereka sudah menemukan Jaejoong? Dan kenapa kau tiba-tiba tidak cemburu?"
"Setelah kupikir-pikir hal ini seperti rumit untuk dijalani, Yunho sudah menjadi gay demi Jaejoong, kurasa itu nilai minus untuknya, dan memikirkan betapa menjijikkannya ia, aku semakin bisa melupakannya,"
"Kau yakin? Dan kau harus ingat jelek-jelek begitu dia tetap adikku, dia mungkin memang jelek tapi dia tidak menjijikkan, aku tak suka kata-kata itu,"
"Yah baiklah, maafkan aku eonnie,"
"Heh begitu lebih baik,"
OoooO
Semantara itu di ruang latihan Judo, hanya beberapa meter jaraknya dari kelas Heechul, Yunho sudah bersimbah keringat, mengayunkan lawannya sampai terjungkal, tubuh mereka sama kekarnya, namun pertempuran itu tidak sengit, mengingat betapa mudahnya Yunho menjatuhkan lawannya. Siwon berdiri di sudut ruangan luas itu, matanya menatap Yunho dengan sengit. Tak tahan diam saja, Siwon kemudian menghampiri Yunho, saat itu Yunho sudah duduk di bangku, istirahat sambil menikmatik sebotol air mineral.
"Kau sudah tahu tentang sayembara itu?" Tanya Siwon langsung, Yunho menoleh
"Kenapa memangnya?" Yunho menjawab tak acuh begitu melihat lawan bicaranya
"Tidak, hanya saja aku berharap kau menghkhawatirka n Jaejoong saat ini, daripada sibuk latihan judo, kulihat kau sudah lebih baik dari seharusnya,"
"Terima kasih, tapi bukan urusanmu,"
"Kau tidak konsisten sekali, kemarin kau mengejarnya sekarang kau tidak mengacuhkannya, apa kau tidak pernah serius dengannya?"
"Kau bicara apa?" nada suara Yunho menajam
"Ini bukan urusanku sama sekali, tapi melihat kau tak peduli dengannya, membuat ku merasa ingin merebutnya,"
"Kau? Heh" Yunho tertawa sinis "Memangnya semudah itu?"
"Sama sepertimu aku bersedia menjadi gay untuknya, tak mudah memang, tapi juga tak sulit,"
"Kau berani sekali," Yunho berdiri tangannya kanannya menghempaskan handuk kecilnya
"Kenapa? Kau pikir pangkat Yang Mulya hanya milikmu?"
"Kau belum mengenalku dengan baik sepertinya,"
"Aku tak perlu mengenalmu, aku mengenal Jaejoong, kurasa kau tidak mau kan aku mengenalnya jauh lebih dari yang kau lakukan,"
"Kau..." Yunho mendesis tangannya terkepal kuat, semburat urat dan otot bertonjolan di lengannya, matanya menatap tajam dan garang
"Aku tak ingin berkelahi, tapi pikirkanlah kata-kataku, kau terlalu apatis, dia memang keras kepala, tapi bisa saja dia membutuhkanmu sekarang,"
Kata-kata terakhir itu menohok Yunho dengan hebat, begitukah ia yang sebenarnya? Begitukah ia terlihat di mata orang lain, atau Jaejoong, benarkah dia terlalu tak serius, namun sebetulnya ia mengkhawatirkan Jaejoong, menginginkan Jaejoong lebih dari orang lain, mungkin caranya salah tapi perasaannya tak pernah salah.
Braaaak! Suara keras terdengar di ujung koridor
"Serahkan Jung Yunho kepada kami," teriakan memekakkan itu datang dari segerombolan pria berotot dengan senjata besar mereka, yang paling berotot lah yang bersuara paling keras tadi
"Wah wah wah, mereka menikmati permainan ini dan hadiahnya," Komentar Siwon santai
"Heechul benar-benar gila," Jawab Yunho jengkel
"Disana..." salah satu dari orang-orang kalap itu melihat Yunho, yang lain semangat ingin menyerbu
"Mungkin sebaiknya kau lari, meski teman-temanmu takkan membiarkan mereka menangkap kau dengan mudah,"
"Kau benar," Yunho menepuk bahu Siwon "Dan Terima kasih ," tambah Yunho tak enteng, dan berlarilah Yunho lewat pintu belakang, kali ini Siwon ikut membantu, bersama teman-teman Yunho yang lainnya, sepertinya mereka berhasil mejatuhkan orang-orang itu dengan mudah.
Sementara itu Yunho sudah setengah berlari mencari tempat perlindungan yang paling aman, ia memilih jalan yang lebih sepi, terlalu banyak ruangan di sekolah ini, takjuga mencukupi kebutuhan para siswa, hingga hampir tak ada tempat yang benar-benar sepi di sekolah ini, beruntunglah kali ini ia tidak bertemu yeoja gila, atau para preman sekolah, ia kemudian bertemu dengan sekelompok namja kutu buku yang tampak semangat ketika melihat Yunho namun kemudian mundur selangkah kala menyadari Yunho masih mengenakan seragam judonya. Yunho mengacuhkan mereka, tak perlu melirik mereka,masih setengah berlari ia kemudian melihat sekumpulan para yeoja yang kelihatannya menyerbu seorang laki-laki malang.
"Kyuhyun-shii katakan pada pacarmu si Sungmin itu, jangan sembarangan memberikan nomer ponsel Changmin, kami saja tak punya," murka si yeoja
"Kenapa kalian bicara padaku, kalian bicara saja pada Heechul,"
"Kau gila mana berani kami melakukannya,"
"Itu bukan urusanku,"Kyuhyun menjawab sinis, ia melangkah pergi, dan langkahnya terhenti dengan tidak elit, ketika rambut keritingnya tiba-tiba dijambak dari belakang, tubuhnya refleks tertarik dan jatuh terjerembablah ia ke lantai, sambil meringis ia mencoba melepaskan diri, menggunakan kekerasan tak ada gunanya mereka yeoja semua.
"Yaa, kalian, lepaskan aku," Rintihnya menarik-narik tangan para yeoja itu
"Tidak sebelum kau katakan pada Sungmin untuk berhentik menyebarkan nomer ponsel Changmin, kami tidak ingin banyak yeoja yang dekat dengannya,"
"Aku tidak tahu apa-apa dan Sungmin tak menyebarkan nomer ponsel siapapun," Jawab Kyuhyun
Merasa bertanggung jawab sekali akan kekacauan ini, Yunho datang dengan penuh wibawa, ia menghampiri kemarahan para fans Changmin, dan keadaan Kyuhyun.
"Wah Yunho oppa," salah satu dari yeoja itu memberi kode pada temannya yang lain, mereka berhenti seketika dan Kyuhyun masih terkapar, wajahnya sudah ada bekas cakaran, dan rambutnya tak beraturan, seragamnya sudah setengah terbuka, ia seperti korban pemerkosaan ketimbang siswa gaul yang pacarnya bergaul dengan orang hebat (red: Heechul)
"Yunho oppa..." Setangah berbisik mereka merapikan penampilan mereka yang sedikit 'maskulin'
"Maaf, tapi apa yang kalian lakukan?" Tanya Yunho
"Oh.." setengah terlupa akan keadaan Kyuhyun yang terbaring beberapa dari mereka langsung membantu Kyuhyun untuk bangun
"Jangan menganiaya orang seenaknya, kalian tidak tahu apa yang bisa dilakukan Heechul jika Sungmin mengadu," Ujar Yunho menasehati
"Astaga," Mereka kompak menutup mulut takut
"Maafkan kamu Yunho oppa, kami tidak akan melakukannya lagi, Kyuhyun-shii maafkan kami, jangan adukan ini pada Sungmin-shii,"
"Enak benar," Kyuhyun tak terima
"Maafkan kami, kami mohon, kami hanya tidak ingin Changmin-shii dekat dengan yeoja lain, dia telalu berharga untuk kami,"
"Kalian terlalu mendramatisir saja, hal yang seperti itulah yang membuat kalian tidak waras, dasar yeoja,"
"Yaa!" Salah satu yeoja tak terima dengan komentar Kyuhyun, namun kembali menundukkan wajah begitu melihat Yunho
"Sudahlah, bisakah kalian melepaskan Kyuhyun-shii saja, aku tidak suka melihat yeoja perkasa, aku lebih suka melihat mereka feminin dan menggemaskan," Ujar Yunho santai, sadar sekali jika wajah para yeoja itu merona seketika
"Kyuhyun-shii ayo pergi saja," Ajak Yunho, Kyuhyun mengikut tanpa protes
"Waaaa, dia keren sekali,"
"Iya iya, sosok kakak sepupu yang keren jika kita berhasil menikahi Changmin-shii,"
"Ya kau benar,"
Yunho berjalan gontai bersama Kyuhyuh, kali ini koridor yang mereka lewati agak sedikit lebih sepi, hanya beberapa namja dan yeoja cupu yang tak mengikuti sayembara yang tampak begitu tertarik melihat kehadiran Yunho.
"Dan aku harus kemana? Sebentar lagi tampat ini takkan sesepi ini lagi," Ujar Yunho pada Kyuhyun
"Aku punya ide lebih baik,"
"Apa?"
"Dapur,"
"Dapur?"
"Yah, ingat kan, tempat terkutuk itu koridor belakang, sepi dan tak ada yang peduli,"
"Memangnya ada yang seperti itu,"
"Kau sering bermesraan di sekolah, apa kau tidak pernah melakukannya di koridor belakang,"
"Aku?" Yunho menunjuk wajahnya sambil tertawa "Kau bercanda? Tak ada tempat tak berkelas seperti itu dalam kamusku,"
Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas "Ya ya ya, kali ini kau harus ke dapur saja, mungkin saja kau bisa menemukan sesuatu yang penting disana,"
"Apa yang bisa kutemukan di tempat itu?"
"Setumpuk roti dan kentang basi mungkin," komentar Kyuhyun malas, "Sudahlah pergi saja kesana, sebelum terjadi pertumpahan darah di tempat ini,"
Yunho melirk ke sekeliling "Kau benar," Ujarnya, menepuk pundak Kyuhyun kemudian berlari pergi, Kyuhyun tak mengikuti, ia menghela nafas, dan menggeleng pelan.
"Dapur ya, kurasa aku melupakan tempat itu, aku lupa menanyakannya pada Kyuhyun,"
Drrrrt, drrrt, suara ponsel Yunho berdering, Yunho membuka pesan singkat yang diterima
"Lurus menuju kelas reguler, belok kanan koridor ketiga sebelum gerbang kelas reguler, mentok belok kiri lagi, cari tulisan dapur, dan ikuti koridor lurus itu, temukan pintu bercat putih tua, voilaaaa"
Kening Yunho berkerut, isi pesan itu dari Kyuhyun dan bagaimana Kyuhyun bisa ada nomer ponselnya, dan mengetahui bahwa ia tak tahu jalan ke dapur, tapi karena merasa semakin terdesak ia sudah tak ingin memikirkannya lagi, ia mengikuti instrusksi yang tertulis dan segera menuju dapur.
OoooO
Sejak beberapa menit yang lalu, Jaejoong dan Changmin sudah selesai bercerita banyak hal, dari seputar politik sampai kisah asmara, Changmin duduk di pinggiran meja, tangannya memegang sebotol cola dingin dan sepotong sandwich yang tersisa setengah lagi, ia tak berhenti makan sejak tadi, tak perlu memikirkan betapa laparnya ia, baginya makan saja sudah cukup tak perlu menunggu lapar. Jaejoong sendiri bolak-balik memotong daging dan sayur segar untuk membuat sandwich enak itu, ia tak merasa kelelahan mungkin karena ia tak memikirkan seberapa kerasnya ia bekerja saat ini, ngobrol banyak adalah cara termudah melupakan kelelahan.
"Noona lagi..."
"Sudah cukup," Akhirnya Jaejoong mencapai limit juga
"Tapi aku masih ingin, sandwichmu enak sekali noona,"
"Kau makan seperti pelahap maut saja, aku tidak ingin membuatkanmu sandwich lagi,"
"Noona..."
"Kalian?" kali ini keduanya terdiam dan langsung menoleh ke belakang, tepat dimana Yunho datang terengah-engah, hampir di simbahi keringat yang berlebihan dengan seragam judonya. Changmin menekuk muka karena tak berhasil membujuk Jaejoong untuk membuatkannya sandwich.
"Changmin apa yang kau lakukan disini?" Tanya Yunho
"Aku menyelamatkan pacar Hyung, orang diluar itu gila semua, dan aku lapar, jadi aku mengajaknya ke dapur,"
"Kau sendiri apa yang kau lakukan disni?" Tanya Jaejoong sinis
"Kau pikir hanya kau sendiri yang menjadi tokoh utama permainan ini?" jawab Yunho jengkel, Jaejoong membuang muka, Yunho menatap Jaejoong lama, dan detik selanjutnya ia tersenyum penuh arti.
"Changmin bisakah kau tinggalkan kami berdua saja, aku ingin bicara dengannya," Perintah Yunho tiba-tiba mendapat ide, Changmin tak menjawab, tapi ia menurut
"Jangan pergi Changmin-ya, aku buatkan kau sandwich lagi otte?" Jaejoong menahan Changmin, Changmin berbalik dengan mata berbinar-binar
"Changmin..." Yunho kembali menegaskan
"Changmin.." Jaejoong ikut menegaskan
"Ya hyung noona, kalian membuatku bingung, sudahlah, aku pergi saja, noona ya kapan-kapan saja kau buatkan aku sandwich lagi, sekarang aku sudah kenyang," kesal Changmin, dan ia pergi
"Changmin ya," Jaejoong memanggilnya tapi tak kuasa lagi untuk menahannya
Kali ini hanya mereka berdua, di dapur itu, saling menatap, saling diam, dan Jaejoong canggung sekali untuk memulai apapun bahkan untuk menggaruk tengkuknya yang gatal. Yunho tampak keren sekali saat ini, perwujudan dari wajah yang maskulin dan ekspresi dingin ia mampu membuat Jaejoong merinding seketika.
"Jadi..." mulai Yunho, setelah terpaku beberapa saat mungkin saja saat ini Changmin sudah berada di kantin lainnya
"Apa?" Tanya Jaejoong, lehernya menengadah sedikit, mencoba memamerkan betapa tak gentarnya ia, meski sekujur tubuhnya gemetar hebat
"Aku belum puas meminta maaf denganmu, karena aku memang tak pernah melakukannya, hanya saja kali ini bisakah kau memaafkanku?"
"Apa?" Jaejoong tersenyum sinis "Kau tahu kesalahanmu apa?"
"Aku tak ingin tahu, aku hanya ingin kau kembali saja, setelah ini aku akan menuruti apapun yang kau inginkan dan kau larang, termasuk bersama yeoja-yeoja itu," Jelas Yunho, wajah Jaejoong merah padam saking malunya
"Aku tak berkata ingin kau mengakhiri hubunganmu dengan yeoja itu,"
"Jadi kau ingin aku tetap mencumbu mereka?
"Tidak..."Jawab Jaejoong refleks "Maksudku, bukan begitu,"
"Sekarang aku mengerti," Yunho tersenyum penuh kemenngan, ia mendekat beberapa langkah, kini jarak mereka, sudah tak bisa disebut jauh lagi
"Apa maksudmu?" Jaejoong bergeming, merasa keren sekali jika ia menantang begini
"Kau..." Yunho mendekatkan wajahnya, berbisik pelan "Mengintipku bermesraan bukan,"
"Mwo!" Jaejoong mendorong dada Yunho dan mereka kembali membuat jarak, wajah Jaejoong semakin merah padam
"Aku tak ingin kau salah faham, tapi kau memang tak salah faham, ia aku melakukannya dengan wanita-wanita itu, tapi aku tak memikirkan mereka, aku memikirkanmu,"
"Alasan klise," Jaejoong melipat tangannya di dada
"Maafkan aku Jae, aku berusaha membuang perasaan ini, aku tidak ingin hubungan ini berlanjut, aku ingin melupakanmu, tapi kau terlalu berpengaruh dalam hidupku, aku ingin mengakhiri semuanya tapi aku tak bisa,"
"jadi kau merasa aku beban? Jadi kau merasa perasaan itu salah? Kau benar kita memang tak harus meneruskan hubungan aneh ini,"
"Manurutku, perasaan apa yang lebih kuat lagi dari ini, ketika kau merasa semua salah, dan semuanya harus diakhri tapi kau malah berbalik, melanggar semua norma dan etika yang ada, mengorbankan siapapun, kau bukan beban, tak ada yang ingin mempertahankan beban dalam hidupnya sampai seperti ini, kau bukan beban Jae kau sebuah penghargaan buatku, aku mencintaimu Jae, hanya kamu, dan selamanya akan begitu,"
Jaejoong terdiam, berdiri terpaku, bisakah ia menangis saat ini, bolehkah ia merasa terharu, dan bolehkah ia mempercayai semua uangkapan Yunho saat ini.
"Bisakah kita tak bertengkar lagi, bisakah kita bersama saja, bisakah kau memaafkanku?"
"Tapi..." kata-kata Jaejoong tersendat "Kau menikmatinya..., kau menikmati mencumbu yeoja-yeoja itu," isak Jaejoong tiba-tiba
Yunho tersenyum geli, ia mendekat, dan mendekap Jaejoong "Aku menikmati bersamamu," Bisiknya, "Memelukmu begini, menciummu, menggodamu, dan mencumbumu,"
"Hiks hiks, kau jahat Yunh, kau jahat sekali, seenaknya saja pergi dan mencumbu mereka, kau tak memikirkan perasaanku,"
"Maafkan aku Jae, maafkan aku," Yunho menciumi dahi Jaejoong
"Aku memaafkanmu, tapi kau tak boleh mencumbu siapapun lagi,"
"Aku bertaruh, aku takkan melakukannya lagi, kau saja sudah lebih dari cukup, dan.." Yunho menarik tubuhnya untuk melihat wajah sembab Jaejoong "Aku ketakutan setengah mati, kau akan direbut namja berwajah serius itu,"
"Eheh" Jaejoong tergelak "Namanya Choi Siwon, dasar bodoh,"
"Hahaha, aku cuma bercanda, aku kenal namanya, tapi wajahnya memang selalu serius,"
"heh," Jaejoong ingin tertawa lagi, namun dobrakan di pintu depan mengagetkan mereka berdua
"Disini rupanya kalian," Heechul muncul diiringi oleh kawananya
"Pasangan kecil ini, sungguh membuat resah," komentar Heechul
"Noona," Yunho memohon
"Kenapa?"
"Segera hentikan ini, aku sudah baikan dengan Jaejoong, tak perlu ada permainan konyol ini lagi,"
"Permainan ini memang sudah berakhir, aku hanya ingin melihat kalian dalam satu ruangan, dan bicara empat mata, tanpa tekanan dari pihak manapun, aku tak berniat untuk menyatukan kalian secara paksa, aku memutuskan untuk mengikutkan Siwon, Changmin dan sekumpulan namja berotot itu dalam rencana ini, dan juga Kyuhyun yang malang, serta fans gila Changmin"
"Apa kau bilang?" Yunho tak mengerti
"Memangnya menurutmu ada orang yang menganggap dapur adalah tempat teraman selain Changmin," Kyuhyun menyahut dengan sinis, Changmin menoleh dengan wajah polos tapi tak membalas
"Jadi kau?" Yunho menunjuk Kyuhyun yang muncul belakangan, penampilannya masih sama ketika ia bertemu Kyuhyun tadi, acak-acakan dan menyedihkan
"Aku hanya ingin kau kedapur dan bertemu Jaejoong,"
"Dan Noona, aku bohong aku tak hanya kenyang, tapi sangat kenyang, aku harus memaksamu untuk tetap di dapur sampai Yunho hyung datang, dan celakanya mereka lamban sekali, perutku sudah hampri pecah," Komentar Changmin dari balik bahu Heechul
"Kau juga?" Jaejoong menunjuk Changmin tak percaya
"Tapi kau hebat, jika aku jadi kau, aku takkan mau memaksa menelan sepuluh potong sandwich, bahkan jika Heechul harus meledakkan kepalaku," komentar Kyuhyun masih bernada sinis, dan lagi-lagi Changmin hanya mentapnya dengan polos
"Dan nasehatku benar-benar bagus kan, aku sudah melepaskan keinginan untuk bersama Jaejoong, kau tenang saja, lagipula aku memiliki seseorang yang mencintaiku," Kini Siwon yang bercerita, merangkul Kibum yang wajahnya bersemu merah
"Jika sudah begini, kalian harus berterima kasih padaku, aku merencanakan apapun dengan sangat baik bukan," Heechul mengacungkan jemari berbentuk tanda peace, dan tersenyum demikian lebar
"Kau noona paling gila yang pernah aku kenal,"
"Yah dan kami semua dipaksa melakukannya," Komentar yang lain bersamaan
"Heh, tapi aku menyayangimu, terima kasih noona, terima kasih teman-teman," Yunho memeluk Heechul dengan sayang, saking terharunya Heechul kali ini meneteskan air mata, Jaejoong tak menangis tapi matanya tampak berkaca-kaca
"Aku senang, bisakah kau memanggilku noona untuk seterusnya?" Tanya Heechul kemudian
"Emm," Yunho tampak berpkir "Akan ku pikirkan," candanya
"Jangan berani-beraninya memanggilku tidak sopan lagi, akan kubuat hubungan kalian berakhir," Ancam Heechul
"Yaaa Jung Heechul Noona!"
OoooO
Semilir angin lembut dan bersahabat adalah acara favorite para pasangan muda untuk berkencan di taman, duduk berpangku-pangku, sok romantis, membacakan puisi norak, dan mengobrol berbisik-bisik dengan bibir hampir saling menyentuh. Kali ini salah satu pasangan duduk dengan manis di taman, jauh beberapa meter baru ada pasangan lain lagi, masih di taman DBSK High School, Kim Jaejoong dengan yeoja cantik Jung Heechul duduk berduan di taman yang menghadap ke sungai kecil di belakang sekolah, taman ini cantik sekali seperti replika Swiss. Jaejoong duduk menekuk lutut tak ada apapun disamping mereka, bahkan sebotol air pun tak ada, di sampingnya Heechul sibuk mengetik ponselnya yang besar.
"Jadi..." Jaejoong memulai
"Emm,"
"Bisakah sunbaenim bicara sekarang?"
"Bicara apa?"
"Mana aku tahu, sunbaenim kan yang ingin bicara denganku," Jaejoong jengkel, Heechul tertawa
"Hahaha, maaf aku lupa bagian itu,"
"Kalau begitu apa ini masalah Nyonya dan tuan Jung? Bisakah mereka menerimaku dalam keluarga Jung?" tanya Jaejoong, Heechul menoleh pelan, bibirnya tersenyum penuh arti
"Tidak, aku takkan membiarkanmu berada di keluarga Jung, jika kau tak menerima siapapun dalam keluargamu," Jawab Heechul tenang, kali ini Jaejoong yang menoleh
"Maksud..."
"Aku tahu, ibu tirimu yang muda itu, kulihat dia ada di depan gerbang, aku bertemu dengannya beberapa kali dan dia bercerita banyak tentangmu,"Potong Heecul
"Sunbaenim, ini beda,"
"Yunho tidak suka orang yang menentang orang tuanya, dan seperti itulah dia dalam keluaga kami,"
"Aku tak bisa menganggapnya sebagai seorang ibu, dia seperti penghianat buatku,"
"Dia bukan penghianat, dia hanya seorang wanita, dia cukup kuat, bertahan dalam keluarga Kim dengan putra mereka yang keras kepala dan sulit diatur, dan dia menjagamu dengan baik, bicaralah dengannya sebagai wanita yang kau kenal , bukan sebagai orang asing,"
"Tapi aku harus bicara apa, aku telalu banyak menyakitinya,"
"Bicara seperti Kim jaejoong yang dikenalnya, dia akan menyukainya," nasehat Heechul bijaksana, Jaejoong mendengar, hampir tak bisa menghindar lagi, ia kelihatan mempertimbangkannya
"Kau sebetulnya noona yang hebat, kenapa tindakanmu selalu anarkis sunbaenim," Jaejoong tergelak
Heechul mempoutkan bibirnya lucu "Mungkin itu caraku menyelesaikan masalah,"
"Astaga, itu keterlaluan sunbaenim,"
"Hah sudahlah, lebih baik kau atur acara minta maafmu pada ibumu, dan masalah keluarga Jung, kau tak perlu khawatir,"
"Kenapa?"
"Kau masih perlu bertanya? Mana mungkin ada orang yang berani menentangku,"
"Yah kau benar..." Jawab Jaejoong datar
OoooO
Jaejoong tak lagi menunggu besok untuk bicara dengan ibunya, siangnya ia sudah menghubungi ibunya untuk bertemu di salah satu restoran, beruntungnya kali ini ibunya masih berada di Korea. Semua ini bukan masalah restu Heechul, ini masalah keyakinan, meski Jaejoong terlihat benci dan tak peduli dengan ibunya, ia sebetulnya menyayanginya, ia ingin mengatakan banyak hal tapi ia malu, dan ia selalu berpikir negatif apapun itu jika menyangkut ibu tirinya, meski ia tahu itu tidak benar.
"Jaejoong-ah," Kim Ah na hampir menangis bahkan ketika ia mengatakan kata-kata pertamanya
"Aku..." Jaejoong mengangkat wajahnya "Bisakah kau memaafkanku?"
"Ehhh" Ah na mengerutkan dahi bingung
"Untuk semua yang kulakukan, aku ingin meminta maaf, aku sudah cukup dewasa untuk berpikir sekarang, kau adalah keluargaku yang lain setelah appa, aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi dalam hidupku,"
"Jae-ah, noona..."
"Okaa-san," Potong Jaejoong "Aku ingin memanggilmu Okaa-san mulai sekarang, bisakah?"
Ah na, tak bisa berkata-kata, air matanya mengalir deras, ia menutupi mulutnya dengan tangan agar tak terdengar isakannya, meski air matanya menjelaskan semuanya, sambil terisak ia mengangguk dengan bahagia.
"Emm, Okaa-san, senang, mulai sekarang dan selamanya tetaplah memanggil Okaa-san," Katanya berusaha menyelesaikan kalimatnya yang tersendat oleh isakan, Jaejoong tersenyum senang, kali ini ia merasa begitu lega, ternyata beginilah rasanya memafkan dan meminta maaf.
Yunho duduk di sudut restoran, ia memperhatikan Jaejoong dan ibu tirinya, dan tersenyum sama senangnya ketika melihat mereka berbaikan
OoooO
"Yunho ya, bisakah kita seperti ini selamanya?" tanya Jaejoong
"Bisa, sampai kapan kau menginginkan kita bersama?"
"Selamanya?"
"Kalau begitu tetaplah bersamaku, selamanya,"
"Emm," Jaejoong mengangguk senang, tak tahan melihat senyuman manis itu, Yunho mengecup bibir Jaejoong, lembut dan dalam. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi seterusnya, tidak juga kita, tidak juga mereka, tapi menikmati kebersamaan setiap harinya, adalah cara terbaik menghargai sebuah hubungan, mereka saling membahagiakan dan biarlah seperti itu selamanya.
THE END
Mohon maaf yang sebesarnya untuk update yang terlalu lama, proxy, adalah hal yang saya tidak mengerti dan saya baru tahu alasan kenapa situs Fanfiction ini tidak bisa terbuka adalah karena kandungannya yang mengandung unsur 'terlarang' menurut provider saya, dan selama itu juga saya putus asa untuk memposting chap selanjutnya, saya menunggu beberapa bulan dan baru sadar bodohnya saya tak mencari jawabannya di google, kini berhasil berkat postingan salah satu blog, dan akhirnya saya berhasil.
Selamat membaca untuk teman semuanya, terima kasih karena masih menunggu, ini chap terakhir,saya ingin menulis cerita lain lagi, mungkin rate T hehehehe.
Akhir kata selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalani, dan mohon maaf lahir batin ya, jika ada kata dan tulisan yang menyinggung perasaa mohon di maafkan.
Terima kasih
