Rated: T
Disclaimer: These chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic officially mine.
Warning: Bahasa gajelas, setting gajelas, alur lompat-lompat, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb.
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risk(:
Couple words from author:
Hi minna! akhirnya author bisa mem publish chappy yang baru hehe. maaf ya author sempat menghilang selama beberapa hari. itu semua karena pesantren kilat. but hey! aku balik sehari lebih cepat dari janjiku kan hehehe :3 okay aku bales reviews dulu yaa
Fumiyo Nakayama.71: Iya memang ada typos pasti karena aku tidak meng cek ulang #mager wkwk. yeap! kau benar dan karena itulah ia tersenyum... ._.
Youthful Flower: Sasuke engga munaa ._. dia masih kesel sama Tenten karena Tenten bikin tangan dia patah -ehem- terkilir wkwkwk, okay ini udah aku publish hehe.
MORPH: Iya ini udah aku publish silahkan dibaca (:
Yak karena semua reviews udah dibales, langsung aja ya kita simak chappy 6!
Chapter 6
"Jadi bagaimana dengan Uchiha bungsu itu?" Tenten menghela nafas panjang. Tangan kanannya sibuk mengaduk coklat panas pesanannya dengan sendok perak. "Ya tidak ada perubahan berarti, dia masih tetap sedingin es."
"Benar-benar bertolak belakang ya." Tenten sontak mengangkat wajahnya dan menatap sosok gadis berambut pirang pucat yang diikat ponytail yang tengah duduk dihadapannya, tangan kanan gadis itu memegang sebuah nampan perak bulat. "Eh? Bertolak belakang?" gadis itu mengangguk.
"Ya, bertolak belakang dengan Itachi-senpai." Ujarnya, Tenten terdiam sejenak ketika mendengar nama Itachi disebut.
"Ya aku tahu, Ino."
"Lalu bagaimana? Apa dia akhirnya memaafkanmu?" Tenten menghela nafas panjang, tak menyangka bahwa Ino masih penasaran dengan permintaan maafnya kemarin. "Aku tidak tahu." Ucap Tenten sambil menyesap coklat panasnya dan menikmati sepotong chesse cake, hidangan favorite yang biasa menemaninya dikala beristirahat.
"Tenten?" Sontak saja gadis yang dipanggil namanya menolehkan kepala, mata hazel nut Tenten melebar ketika mendapati sosok laki-laki bertubuh tinggi berdiri disampingnya. Laki-laki itu bertubuh tinggi yang tubuhnya terbalut kemeja bergaris-garis hitam, kaki panjangnya tertutup celana bahan berwarna hitam. Rambut hitam panjang yang biasanya di kuncir longgar kini terlihat diurai, membuatnya terlihat seperti seorang perempuan jika dari belakang. Tapi mata pekat nan tajam itu jelas-jelas menunjukan bahwa ia adalah seorang laki-laki.
"I…Itachi-senpai." Ucap Tenten yang kaget karena tiba-tiba menapati Itachi berdiri cukup dekat dengannya. "Kau sudah kembali bekerja?"
"A..ah iya, tentu saja aku bekerja, Itachi-senpai… ah maaf aku meminjam Ino sebentar." Ucap Tenten sambil melirik kearah Ino yang kaget bukan main karena kepergok bersantai-santai ria bersama Tenten. Tapi sepertinya Itachi sama sekali tidak memperdulikannya.
"Kukira kau kembali ke apartemen Sasuke." Tenten mengernyitkan hidungnya. "Eh.. tidak, tapi aku akan datang jika Sasuke memintaku."
"Memintamu?" Tanya Itachi dengan alis yang terangkat. "Eh, ya… kemarin aku sempat bilang kepadanya, kalau ia membutuhkan sesuatu dia bisa menelponku dan aku akan datang." Ucap Tenten
Itachi memiringkan kepalanya lalu tersenyum simpul. Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan menepuk kepala Tenten.
"Kau tahu, kau terlihat manis dengan dua bola dikepalamu." Deg! Jantung Tenten bergedup kencang, bisa ia rasakan pipinya menghangat. Satu yang ia harapkan, semoga pipinya tidak memerah.
"Baiklah kalau begitu, selamat menikmati hidanganmu Tenten, dan Ino, lebih baik kau segera bekerja sekarang, Dylan sepertinya mengalami kesulitan dengan beberapa rainbow cake." Ujar Itachi yang akhirnya kembali meninggalkan kedua gadis blonde dan brunette ini.
"Kami-sama Tenten!" Pekikan Ino membuat Tenten sadar dari lamunannya. "Aduh, Ino, kau tidak perlu berteriak seperti itu." Dengus Tenten sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangan.
"Dia benar-benar menyukaimu."
"Apa?" Ino memutar kedua bola matanya lalu kembali menatap Tenten. "Itachi-senpai." Tenten berani jamin bahwa tubuhnya tersentak ketika Ino menyebutkan nama Itachi.
"Jangan keras-keras! Ini tempat umum, baka!" gerutu Tenten.
"Gomen, gomen. Tapi sungguh." Tenten menatap Ino dengan tatapan bingung. "Kenapa kau bisa berkata seperti itu."
"Kau tidak lihat barusan? Dia menepuk kepalamu!"
"Dia memang sering melakukan itu." Ya, hampir setiap Itachi hendak meninggalkannya, laki-laki itu pasti selalu menepuk kepala Tenten. Entah apa yang membuat laki-laki itu tertarik pada kepala atau rambut Tenten.
"Sering? Kami-sama! Berarti itu benar."
"Benar? Apa yang benar?" Tanya Tenten sambil menyipitkan kedua matanya. "Itachi-senpai benar-benar menyukaimu." Kali ini Ino menurunkan volume suaranya, Tenten mengerjap kaget. Entah mengapa hatinya seperti melambung ketika mendengar kata-kata Ino. Tapi kenyataan kembali menyentak hati Tenten ke tanah, tidak mungkin Uchiha Itachi menyukainya.
"Jangan bercanda, itu tidak mungkin, Ino."
"Tapi kau tidak lihat bagaimana dia memperlakukanmu?"
"Itachi-senpai memang selalu baik pada semua karyawannya."
"Oh ya? Apa kau tidak sadar bahwa dia hampir tidak menyadari keberadaanku." Tenten kembali terdiam, namun bibirnya berusaha menyangkal pernyataan-pernyataan yang dituduhkan oleh Ino.
"Setidaknya dia menyapamu bukan."
"Itu karena aku memandanginya." Tenten kembali bungkam, mata hazelnya menatap tajam sosok gadis yang berdiri dihadapannya. Ino mengulurkan tangan mulusnya untuk menyentuh pundak Tenten.
"Dan yang membuatku yakin Itachi senpai menyukaimu adalah, ketika berkata kau manis." Jantung Tenten kembali berpacu kencang. Ya, hari ini Tenten memang tampil beda dengan mencepol rambut auburnnya menjadi dua, seperti telinga panda. Dulu sewaktu dia berada dip anti asuhan, Tenten selalu mencepol dua rambutnya, dia sangat menyukai style seperti ini, dan akhirnya tadi pagi tiba-tiba saja ia ingin mencepol dua rambutnya, awalnya ia takut wajahnya tidak akan cocok lagi dengan dua bola di kepalanya itu. Tapi ternyata tidak buruk, justru menurutnya dirinya terlihat lebih fresh dengan telinga panda itu. Tenten menggigit bibir bawahnya seraya menatap lurus kearah Ino, memperhatikan gadis yang membalas tatapannya. "Dan menurutku kau juga menyukainya, bukan begitu, Tenten?" Pipi Tenten kembali terasa panas.
"Tidak!" Bantah Tenten cepat, meski begitu ia tidak tahu bahwa semburat merah menghiasi pipinya. "Memangnya kenapa? Itachi senpai juga sepertinya menyukaimu." Ino menyentuh dagunya seraya mengangguk kecil.
"Lagipula menurutku kalian pasti cocok jika bersama." Tenten hanya terdiam, mata hazelnya sibuk memperhatikan sepasang mata aquamarine dihadapannya. Dibalik mata itu, Tenten bisa melihat kepedihan. Meskipun Ino tersenyum, senyuman itu tidak sampai kematanya, matanya sendu.
Suara deringan ponsel membuat kedua gadis itu tersentak kaget. Tenten langsung meraih ponselnya yang sedari tadi ia masukkan kedalam kantung. Sebuah shor message masuk kedalam ponselnya. Isi pesan itu adalah
"Bersihkan rumahku –Sasuke." Tenten mengernyitkan hidungnya. 'Apa-apaan ini?! Sms ini lebih tepat seperti memerintah daripada meminta bantuan.' Meski begitu, janji tetaplah janji. Tenten sudah berjanji pada Sasuke, bahwa laki-laki itu bisa meminta bantuannya kapan saja, walaupun isi sms itu jauh dari kata-kata 'meminta bantuan.' Dengan lesu Tenten memasukan ponselnya ke kantung celana dan dengan berat hati berdiri.
"Tenten kau mau kemana?"
"Ke kutub utara, Ino." Setelah berkata seperti itu, Tenten langsung melangkah pergi meninggalkan café, sementara Ino masih bingung dengan jawaban Tenten.
xXx
Tenten mendesah lembut ketika pintu berwarna merah maroon dihadapannya terbuka, dan seperti dugaannya, mata onyx itu kembali menatap tajam kearahnya. "Kukira kau tidak akan datang." Ujar laki-laki yang masih berdiri diambang pintu, seolah belum mengijinkan Tenten masuk.
"Aku bukan tipe pembohong." Ujar Tenten tak kalah sengitnya. Sasuke hanya menggumam lalu segera melangkah kedalam rumahnya, meninggalkan Tenten di depan apartemennya, tanpa mempersilahkan gadis itu masuk. Melihat sikap Sasuke, Tenten berasumsi bahwa laki-laki itu sudah mempersilahkannya untuk masuk. Tenten pun mengikuti nalurinya untuk masuk kedalam apartemen Sasuke yang terlihat lebih berantakan dari kemarin, kertas-kertas penuh not balok bertebaran di sekitar piano tua yang sengaja di taruh diruang duduk, di dekat sofa tergeletak kardus pizza beserta sisa toppingnya, tomat.
Tenten menghela nafas panjang seraya menggantungkan mantel coklatnya di gantungan mantel. "Apa yang kau lakukan dengan rambutmu?" Suara yang bagaikan halilintar itu membuat Tenten tersentak kaget dan langsung menolehkan kepalanya. Sosok Uchiha Sasuke tengah berdiri di depan dinding apartemen, sebelah tangannya memegang sekaleng soda. Sasuke, entah kenapa terlihat sangat berbeda dengan kaus longgar berwarna abu-abu dan celana putih panjang yang terlihat nyaman. Laki-laki itu masih menatap Tenten. Meminta gadis itu untuk segera menjawab pertanyaannya.
"Ah… aku hanya ingin mengenang masa lalu." Mata Sasuke menyipit.
"Jadi… kau dulu seekor panda?"
"Tentu saja tidak!" Erang Tenten sambil mengerucutkan bibirnya. "Dulu saat dipanti, aku selalu mencepol dua rambutku seperti ini." Ucap Tenten sambil menyentuh sepasang cepolan di kepalanya dengan tangan.
"Kau berasal dari panti?" Tanya Sasuke sambil menyipitkan matanya. Tenten terdiam sejenak, selama ini tidak ada yang tahu bahwa dirinya berasal dari panti asuhan kumuh di sebuah desa yang jauh dari peradaban, Konohagakure, sebuah desa di negeri sakura yang terkenal masih kental dengan adat istiadat jepang, di desa itulah Tenten tumbuh, sebelum akhirnya Tenten memberanikan diri untuk hijrah ke ibu kota Jepang, Tokyo, membina karir sebagai seorang figure skater sebelum akhirnya sampai di kota Big Apple. Tenten hanya mengangguk kecil seraya menundukan kepalanya.
"Tak ada yang tahu aku berasal dari panti asuhan." Ucap Tenten tanpa kehendaknya. Sementara Sasuke hanya menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya, dirinya tak menyangka bahwa Tenten berasal dari panti asuhan.
"Bahkan Itachi sekalipun tidak tahu?" Mendengar pertanyaan yang lebih tepatnya terdengar seperti pernyataan yang terlontar dari bibir Sasuke, Tenten sontak mengangkat wajahnya, menatap adik dari pemilik café tempatnya sering menghabiskan jam istirahatnya "Tidak, dia tidak tahu, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya saja kalian terlihat sangat akrab." Ujar Sasuke dengan nada enteng, sebenarnya Sasuke ingin tahu bagaimana reaksi Tenten ketika nama kakaknya ia sebut, tapi sepertinya Tenten penyembunyi ekspresi yang lumayan baik. "Tidak, aku dan Itachi hanya berteman." Ujar Tenten dengan pipi yang memanas, gadis itu berdoa agar pipinya tidak memerah. "Baiklah, kalau begitu." Ujar Sasuke sambil maju selangkah, laki-laki itu kembali menatap Tenten. "Mulailah melakukan tugasmu, aku memintamu kemari bukan untuk menemaniku mengobrol bukan?" Setelah berkata seperti itu, Sasuke melangkahkan kakinya kekamar dan mengurung diri disana.
Sementara Tenten hanya bisa menghela nafas panjang, harusnya ia sudah tahu kalau Sasuke tidak akan mungkin besikap baik padanya, meskipun tadi dia sempat mengajak Tenten mengobrol, itu tidak akan merubah segalanya. Sasuke tetap Sasuke, dan yang membuat Tenten bingung adalah, kenapa ia begitu ingin Sasuke bersikap ramah padanya? Tenten menggelengkan kepalanya dengan kasar lalu melangkahkan kakinya menuju dapur, hendak mengabil peralatan bersih-bersih dan mulai mengerjakan tugasnya.
Menyapu lantai, membuang sampah-sampah yang berserakan, mengelap counter di dapur yang penuh oleh bubuk kopi. Sepertinya Sasuke berusaha membuat kopi lagi pagi ini. 'Apa laki-laki itu berhasil membuat kopi? Sikapnya tidak seburuk kemarin, jadi kemungkinan besar ia sudah menikmati kopi paginya.' Batin Tenten. Semua ruangan sudah bersih sekarang, dapur, ruang tengah dan ruang makan sudah Tenten sapu dan pel. Tinggal satu tempat yang sedari tadi belum Tenten sentuh, daerah disekitar piano tua yang terletak disebelah rak buku. Gadis itu melangkahkan kakinya mendekati piano itu dan meraih salah satu lembaran kertas.
Tenten mengambil lembar yang lain dan mulai merapihkannya, namun belum sempat merapihkan semua kertas yang bertebaran disana, telinga Tenten menangkap suara pintu terbuka dan itu berasal dari kamar Sasuke. Bisa Tenten liat laki-laki itu menjulurkan kepalanya, mata onyxnya sempat menyusuri penjuru apartemennya sebelum akhirnya berhenti di mata hazel nut milik Tenten.
"Apa yang kau lakukan dengan kertas-kertasku?"
"Seperti yang kau lihat, aku sedang merapihkannya."
"Sudah kuduga, pantas saja mimpiku buruk." Tenten hanya bisa mengernyitkan hidungnya, tidak mengerti dengan kata-kata Sasuke.
"Apa maksudmu?"
"Jangan pernah sentuh kertas-kertasku." Ujarnya singkat padat dan jelas.
"Tapi… kalau dibiarkan seperti ini bisa hi-"
"Jangan-sentuh-kertas-kertas-ku." Ujar Sasuke dengan penggalan-penggalan yang jelas dan tegas. Setelah itu, kepala pantat ayam Sasuke pun menghilang dari balik pintu, disusul oleh suara pintu tertutup. Tenten menghela nafas panjang seraya kembali menaruh kertas-kertas berisi not balok kembali ke tempatnya. Semua pekerjaan Tenten sudah selesai, dan si Uchiha bungsu sepertinya sudah kembali ke alam mimpinya yang berarti Tenten bisa pulang. Tenten tersenyum lega, untunglah ini tak semengerikan seperti yang ia duga, untunglah Sasuke memutuskan untuk tidur siang yang berarti Tenten tidak perlu berbicara dengannya dan menerima tatapan tajamnya. Baru saja Tenten meraih mantelnya, secarik kertas berwarna krem jatuh ke lantai kayu. Tangan mungil Tenten terulur untuk meraih kertas itu. Mata hazelnya menelusuri setiap huruf yang ditulis dengan sangat teliti, penuh dengan keindahan.
'Jangan pulang sebelum aku bangun.'
Tenten menghela nafas panjang seraya meremas kertas itu menjadi bola kecil dan menyelipkannya di kantung jeans biru yang dikenakannya. Sejak kapan Sasuke menulis surat itu dan menaurhnya di gantungan mantel, sepertinya saat Tenten masuk, ia tidak melihat apapun disana. Akhirnya Tenten pun menyeret langkahnya kearah sofa dan duduk disana.
xXx
Udara dingin membuat tubuh Sasuke menggeliat kecil, laki-laki itu membuka mata onyx nya dan mengintip kearah jam waker kecil yang berada disebelah tempat tidurnya. Setelah mengerjap beberapa kali, laki-laki itu akhirnya meregangkan tangannya, mengulat kecil didalam selimut tebalnya lalu segera duduk. Sudah dua jam ia tertidur, Sasuke penasaran apa gadis itu masih berada di apartemennya. Dengan berat hati Sasuke beranjak dari tempat tidurnya yang nyaman, telapak kakinya yang telanjang terasa menegang ketika menyentuh permukaan lantai kayu yang sedikit dingin. Sasuke pun membuka pintu kamarnya dan… mata onyxnya pun terbelalak kaget ketika mendapati apartemennya terlihat sangat rapih (menurut Sasuke). Dirinya yakin bahwa ia sendiri tidak akan mampu membuat apartemennya serapih ini, well all thanks to Tenten of course. Mata onyx Sasuke menelaah penjuru apartemen dan berhenti di sosok gadis yang tengah terduduk di sofa kulitnya. Tangan gadis itu terlihat menopang dagunya dan matanya, terpejam.
'Apa gadis itu tertidur?' Sasuke melangkah mendekati gadis itu, memperhatikannya. Ya dia memang tertidur. Sasuke berdecak kesal lalu menyentuh kepala gadis itu dengan tangannya beberapa kali, membuat gadis itu mengerang beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya.
"Akhirnya kau bangun juga sleepy head." Gerutu Sasuke, sementara Tenten masih belum sepenuhnya terbangun, setengah jiwanya masih mengambang dialam mimpi. "Aku menyuruhmu datang bukan untuk tidur." Ujar Sasuke lagi, membuat Tenten akhirnya sepenuhnya terbangun.
"Hei! Kau yang memintaku untuk tetap disini dan menunggumu terbangun bukan?"
"Ya dan aku tidak menyuruhmu untuk tidur di sofaku." Ujar Sasuke tajam, mendengar ucapan Sasuke yang sangat menyakitkan seperti biasanya, Tenten pun berdiri. "Baiklah, sekarang apa?" Tanya Tenten sambil berkacak pinggang menatap laki-laki yang berdiri menjulang tinggi dihadapannya.
"Apa?"
"Kau yang menyuruhku untuk tetap berada disini." erang Tenten kesal. "Siapkan makan siang untukku." Ujar Sasuke ketus, Tenten mengerucutkan bibirnya.
"Kalau hanya itu kau harusnya menuliskannya di kertas itu, aku tidak perlu menunggumu terbangun bukan." Dengus Tenten kesal, gadis itu merasa kesal karena harus duduk di sofa selama hampir dua jam, tak ada yang bisa dilakukan Tenten di apartemen Sasuke, rak bukunya hanya berisi patitur patitur lagu dan buku lain yang bertema musik. Akhirnya Tenten memutuskan untuk duduk manis hingga akhirnya ia tertidur dan makhluk super dingin yang berdiri dihadapannya ini membangunkannya.
"Aku tidak mau makanannya dingin."
"Kau tinggal menghangatkannya." Gerutu Tenten kesal. "Kau kira menghangatkan makanan dengan satu tangan mudah? Kau tidak ingat kalau tanganku patah?" Ujar Sasuke sambil kembali menatap tajam ke gadis yang berdiri didepannya. "Kami-sama, Sasuke tanganmu hanya terkilir." Ujar Tenten. Sasuke memalingkan wajahnya.
"Terseralah, sekarang cepat buatkan aku makan siang, aku lapar." Ujar Sasuke sambil duduk di sofa kulitnya dan menatap keluar jendela apartemen yang besar, Tenten akhirnya hanya bisa mengerang kecil dan menghentakan langkahnya menuju dapur apartemen Sasuke yang didominasi oleh tomat.
"Kau mau makan dengan tomat-tomat ini?" Tanya Tenten.
"Ah, kau mengingatkanku. Sesudah membuat makan siang buatkan aku jus tomat, tubuhku mulai tidak stabil karena tidak mendapat asupan tomat selama beberapa hari belakangan." Jelas Sasuke yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Tenten.
"Lalu kau mau makan dengan apa? Isi kulkasmu hanya ada tomat dan beberapa botol soda." Ujar Tenten sambil memperhatikan isi lemari pendingin Sasuke, benar-benar parah. Bahkan isi lemari esnya lebih lumayan dibanding isi lemari es laki-laki ini.
"Apapun selain tomat sebagai hidangan makan siangnya, kau boleh mengolah tomat untuk hidangan penutup atau minuman." Ujar Sasuke yang mulai sibuk dengan kertas patiturnya, tangan kirinya mulai menulis not balok di kertas itu. Tenten mengerang kesal dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan bahan-bahan makanan yang ada di dapur Uchiha Sasuke. Beberapa menit kemudian, Tenten menaruh makan siang untuk si Uchiha bungsu di meja makan.
"Makanannya sudah siap." Ujar Tenten dengan suara agak tinggi. Sasuke tersenyum kecil, merasa lega karena Tenten akhirnya selesai memasak karena perutnya sudah berbunyi dari beberapa menit yang lalu. Sasuke melempar kertasnya ke meja kopi dan beranjak ke ruang makan. Laki-laki itu berdiri mematung ketika melihat makanan apa yang di taruh Tenten diatas meja makannya. "Apa-apaan ini?!" Ucap Sasuke dengan suara yang meninggi, laki-laki itu berjalan dengan perlahan menuju meja makannya dan memperhatikan mangkuk putih yang berada di meja makannya.
"Tentu saja makan siangmu, baka." Ujar Tenten sambil berdiri disamping Sasuke. "Makan siangku… semangkuk sereal?!" Ucap Sasuke dengan suara yang masih tinggi dan kini menoleh kearah Tenten, menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya.
"Hanya itu yang bisa kutemukan di dapurmu selain tomat dan soda, dan oh ya, ini jus tomatmu." Ujar Tenten sambil meletakan segelas jus tomat disebelah mangkuk sereal.
"Aku masih ingat Neji membawakanku ikan haring soba kering."
"Tidak ada, aku tidak menemukannya di dapurmu." Ujar Tenten sambil melipat kedua tangannya didada.
"Roti… ya! Roti! Aku yakin masih ada beberapa helai roti di sana."
"Ya dan sudah berjamur, kau tidak mau kan aku menghidangkan sandwich tomat dengan jamur hijau dan mikroba lain yang menghuni rotimu?" Sasuke bergidik kecil seraya menepuk jidatnya. Sungguh, Sasuke tidak tahu keadaan dapurnya seburuk itu, karena biasanya Sasuke mengunjungi dapur hanya untuk sekedar membuat jus tomat, membuat kopi atau meminum soda. Sasuke jarang sekali makan dirumah, karena aktifitas makan itu sendiri menurutnya sudah sangat merepotkan, hari-harinya selalu di sibukkan dengan recital, aransemen lagu, membuat lagu baru dan sebagainya. Dan berhubung tangannya tak bisa berfungsi yang berarti segala aktivitas yang menyita hidupnya kini menghilang, Sasuke mau tak mau harus memperhbaharui dapurnya.
"Lebih baik kau segera menghabiskan serealmu sebelum menjadi tambah dingin." Ujar Tenten seraya kembali kedapur untuk memasukan kembali bungkus sereal dan susu kedalam lemari es. Sasuke hanya bisa menggerutu tak jelas seraya duduk di belakang meja makan. Dengan malas tangannya menyendokan sereal berwarna krem berbentuk cincin kecil kedalam mulutnya, sementara Tenten hanya bisa tertawa kecil ketika menyaksikan pemandangan itu. Entahlah, Sasuke terlihat kekanak-kanakan dengan dua gumpalan di pipinya ketika mengunyah sereal itu dan jangan lupa noda susu vanilla yang menghiasi sudut bibirnya. Namun suara deringan bel di pintu apartemen Uchiha Sasuke, membuat Tenten terlonjak kaget, begitupun Sasuke yang langsung menyeka kumis susu yang berada disekitar mulutnya. Laki-laki itu menoleh kearah Tenten.
"Apa lagi yang kau tunggu? Buka pintunya." Ujar Sasuke, Tenten pun akhirnya berlari kecil menuju pintu dan membukanya.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit kemerahan dan berambut pirang menatapnya dengan alis terangkat. "Siapa kau?" Tanya laki-laki itu tanpa basa-basi, meski begitu tidak ada nada tajam dalam kalimat pertanyaannya. Sebelum Tenten sempat menanyakan hal yang sama, suara yang dingin dan familiar bagi telinga kedua manusia itu merambat diantara mereka. "Masuklah, Naruto."
Tenten melangkah mundur dan membiarkan laki-laki dengan postur tubuh atletis itu masuk kedalam apartemen Uchiha Sasuke. Laki-laki yang dipanggil 'Naruto' itu berjalan melewati Tenten menuju ruang makan tempat Sasuke menyantap makan siangnya.
"Siapa gadis itu?" Samar-samar Tenten bisa mendengar Naruto bertanya pada Sasuke. "Dan kuharap kau punya penjelasan yang logis untuk membatalkan- Kami-sama! Apa yang terjadi padamu?! Tanganmu kenapa?"
Tenten menutup pintu dan mengikuti tamu Sasuke menuju ruang makan. "Karena itulah kubilang aku harus membatalkan semua recital sampai setidaknya akhir tahun." Ujar Sasuke sambil mendorong mangkuknya yang sudah kosong.
"Ini buruk." Gumam Naruto sambil meraih ponselnya dari saku dan menekan beberapa nomor. "Aku harus segera mengubungi beberapa orang! Ini benar-benar buruk, bencana! Namun sebelum itu." Naruto mengalihkan tatapannya dari ponsel dan kembali menatap Sasuke.
"Ceritakan padaku bagaimana bebat coklat itu bisa melilit tanganmu." Sasuke menoleh kearah Tenten yang berdiri membeku di belakang Naruto lalu tersenyum getir. "Berterimakasihlah pada makhluk dibelakangmu yang membuatku harus cuti dari recital-resitalku." Naruto mengangkat sebelah alisnya seraya berbalik menatap Tenten. "Kau? Mematahkan tangannya?"
"Tidak! Itu tidak sengaja!" ujar Tenten cepat. "Dan tangannya tidak patah." Tambah Tenten dengan suara yang turun satu oktaf dari sebelumnya. Naruto memiringkan kepalanya sebelum bergumam.
"Sengaja atau tidak… pembatalan recital itu tetap saja menimbulkan kerugian, kita harus menghitung ganti ruginya."
"Eh.. soal itu.." Tenten menundukan kepalanya dan melirik kearah Sasuke yang terlihat agak bosan dengan pembicaraan itu, laki-laki itu mengalihkan tatapannya dari mangkuk yang sudah kosong kearah Naruto.
"Dia teman Itachi." Naruto kini membalikan tubuhnya, menatap Sasuke yang menyenderkan tubuhnya di kursi makan. "Apa?"
"Ya, dia adalah teman Itachi, jadi kau tidak perlu repot-repot meminta ganti rugi padanya." Kata Sasuke.
"Aku tahu Itachi-senpai adalah kakakmu, aku dan Itachi-senpai pun memiliki hubungan yang baik tapi tetap saja-"
"Lagipula." Sasuke menegakan badannya dan kali ini menatap Tenten dengan tatapan sinis. "Dia hanya seorang pelatih ice skating, gajinya selama lima tahun pun belum tentu bisa membayar setengah dari kerugian kita." Ujar Sasuke dengan nada yang sangat amat merendahkan, membuat hati Tenten terasa di banting ke tanah. "Tapi… untungnya gadis ini sudah memikirkan cara untuk membayar hutang-hutangnya." Sasuke tersenyum merendah sebelum akhirnya menghela nafas dan berkata.
"Naruto, perkenalkan." Ujar Sasuke sambil mengayunkan tangannya kearah Tenten. "Ini… tunggu, siapa namamu? Ah sudahlah… Naruto perkenalkan pengurus rumahku yang baru." Tenten mengangkat wajahnya dan mengerjap kaget, mata hazelnya menatap Sasuke dengan tatapan bingung, meminta penjelasan dari Sasuke karena dirinya tidak pernah mencalonkan diri sebagai pengurus rumah, ia hanya menawarkan dirinya untuk membantu.
"Jadi, pengurus rumah?" Ucap Naruto sambil menatap Tenten dengan tatapan bingung. Tenten hendak menjelaskan bahwa dirinya bukan pengurus rumah dari si Uchiha bungsu atau si ice man ini, ia ingin menjelaskan bahwa dirinya akan membantu Sasuke ketika laki-laki itu membutuhkannya. Namun tatapan tajam Sasuke membuat Tenten terpaksa mengulurkan tangannya kearah Naruto. "Halo, aku Tenten." Naruto tersenyum lebar seraya menjabat tangan Tenten.
"Halo, aku Naruto, Uzumaki Naruto. Aku sahabat Sasuke yang merangkap menjadi agen sekaligus managernya."
"Jadi Tenten, kau teman Itachi-senpai?" Tanya Naruto lagi, Tenten menilai sejauh ini Naruto adalah orang yang lumayan menyenangkan diajak berbicara.
"Ya bisa dibilang begitu." Ucap Tenten, ya dirinya sendiri pun tidak mengetahui hubungan apa yang berada diantara dirinya dan Itachi, namun apapun itu pasti masih pantas dibilang teman bukan?
"Apakah kalian sudah selesai berbasa-basi? Karena aku dan Naruto harus membicarakan sesuatu." Ucap Sasuke yang sudah berdiri dari kursi makannya.
"Ya, kau benar Sasuke." Ujar Naruto yang menyusul Sasuke ke ruang duduk apartemen Uchiha bungsu, mengingat posisi barunya membuat Tenten bertanya. "Kalian mau minum apa? Apa kalian mau kopi atau mungkin jus tomat?" Tanya Tenten memberikan dua opsi minuman yang terdapat di dapur Sasuke. Naruto menolehkan kepalanya, mata biru laut jernihnya menatap wajah Tenten. "Kumohon, jangan suruh aku meminum jus tomat." Tenten terkekeh lembut sementara Naruto tersenyum simpul. Dan seketika itu juga suara yang tajam dan menyiratkan kejahatan merambat diantara mereka.
"Kau bisa membuatkan kami kopi." Tenten hanya bisa mendengus kesal sebelum akhirnya membalikan tubuhnya dan berjalan menuju dapur sementara Naruto tertawa kecil seraya menghempaskan tubuhnya di sofa kulit Sasuke dan mulai mendiskusikan sesuatu.
Tenten menghela nafas panjang seraya menuangkan dua sendok makan bubuk kopi kedalam dua cangkir dihadapannya, setelah menabur beberapa bubuk choco bon-bon, Tenten menuangkan air hangat kedalamnya dan mengaduknya sampai merata. Begitulah cara Tenten menikmati kopinya, karena Tenten tidak menyukai rasa kopi yang menyengat, gadis itu sering menambahkan bubuk coklat didalam kopinya. Kemarin dia melakukan eksprimen dengan Sasuke sebagai bahan ujinya, Tenten membuatkan Sasuke kopi dengan tambahan bubuk choco bon-bon yang selalu ia bawa bersamanya. Dan sepertinya laki-laki itu tidak protes sama sekali, atau mungkin dia tidak meminum kopinya.
Setelah bubuk kopi dan bubuk coklat didalam cangkir itu larut, Tenten segera membawanya dengan kedua tangan dan melangkah meninggalkan dapur. Ketika Tenten sampai diruang duduk, Tenten mendapati bahwa hanya ada Naruto disana. Laki-laki berambut pirang terang itu sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, sementara Sasuke sepertinya laki-laki itu sedang menelpon seseorang juga dikamarnya, karena Tenten bisa mendengar suara khas laki-laki itu di arah kamarnya. Naruto menjauhkan ponselnya dari telinga dan memasukannya ke saku ketika Tenten meletakkan kedua cangkir kopi diatas nampannya ke atas meja kopi.
"Terimakasih." Ucap Naruto seraya meraih secangkir kopi yang baru saja Tenten letakkan diatas meja kopi. Tenten menggigit bibir bawahnya sebelum bertanya pada laki-laki yang tengah menikmati kopi didekatnya.
"Sepertinya aku sudah membuat masalah yang cukup serius, bukan?" Naruto melirik sekilas kearah Tenten sebelum kembali menatap cangkirnya.
"Ya.. sangat serius." Ujar Naruto, meski ia berkata begitu tapi nadanya terkesan terlampau ringan. Tenten mencengkram ujung nampannya.
"Seberapa parah?"
"Jangan berdiri saja disana, duduklah." Tenten pun mematuhi kata-kata Naruto dan duduk disebelah laki-laki itu. "Kopi ini, apa kau membuatnya dari bubuk kopi yang sama seperti yang biasa Sasuke buat?"
"Eh, aku hanya menemukan satu bungkus kopi di dapurnya, jadi kupikir iya." Tenten menyipitkan matanya "Memangnya kenapa?"
"Tidak hanya saja, sepertinya rasanya lain." Ucap Naruto lagi seraya kembali menyesap kopinya. "Kau menambahkan sesuatu?"
"Sebenarnya aku menambahkan bubuk choco bon-bon kedalam sana, karena aku tidak suka rasa kopi yang terlalu menyengat, bagaimana kau suka?" Naruto tersenyum lebar seraya menoleh kearah Tenten.
"Ya, tentu saja. Rasanya enak sekali." Tenten tersenyum samar, lalu gadis itu pun menundukan kepalanya. "Seberapa parah masalah yang kutimbulkan?"
"Tenang saja, tak ada yang tak bisa kuatasi." Entah mengapa kata-kata Naruto yang terkesan percaya diri itu membuat Tenten merasa lebih tenang, seolah rasa bersalah yang selalu menggandrungi dirinya kini lenyap. Tenten mengangkat wajahnya seraya melirik kesamping, kearah Sasuke yang tengah berdiri menghadap jendela beranda dan terlihat tengah berdebat dengan seseorang. Tenten mencondongkan tubuhnya kearah Naruto dan berbisik.
"Aku ingin bertanya, apa dia benar-benar terkenal?" Naruto mengangkat sebelah alisnya sebelum akhirnya menjawab. "Tentu saja, sebenarnya dia sangat terkenal." Bola mata hazel nut Tenten melebar.
"Benarkah?" Naruto terkekeh lembut. "Dia memang tidak terkenal dikalangan remaja atau amatiran, tidak seperti penyanyi pop atau artis lainnya tapi jika kau seorang musisi atau apapun yang mendalami dunia musik, kau pasti mengenal namanya." Tenten menganggukkan kepalanya.
"Hn begitu." Tepat saat itu juga Sasuke melangkah bergabung dengan kedua manusia itu dan duduk di sofa dihadapan mereka.
"Bagaimana?" Tanya Naruto.
"Parah." Sasuke memejamkan matanya. "Sangat, sangat parah." Ucap Sasuke seraya meraih cangkir kopinya dan menyesapnya. Tenten mengawasi laki-laki emo yang duduk dihadapannya. Sasuke terlihat tertegun sejenak, mata onyxnya menatap ke cangkir di genggamannya selama beberapa detik sebelum akhirnya menyesapnya lagi dan lagi. Tenten menghela nafas lega.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Sasuke dengan nada yang tajam dan sinis seperti biasanya.
"Siapa? Aku? Aku tidak menatapmu seperti itu." Mata laki-laki itu menyipit. "Apa kau sedang menikmati masalah yang sudah kau timbulkan?"
"Tidak! Aku tidak begitu." Bantah Tenten cepat. Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali menikmati kopinya.
'Setelah tangannya sembuh nanti, bisa kupastikan laki-laki ini akan membayar semuanya!' Gerutu Tenten didalam hati.
"Sepertinya aku harus segera pergi." Ujar Tenten sambil berdiri. "Oh ayolah Tenten, jangan biarkan sikap buruk Sasuke membuatmu kesal." Ucap Naruto "Dia memang selalu seperti itu." Sasuke mendengus kesal seraya melempar tatapan tajam kearah sahabat sekaligus agen sekaligus manajernya. Tenten tersenyum simpul kearah Naruto. "Bukan seperti itu, aku harus mengajar beberapa kelas hari ini."
"Mengajar beberapa kelas? Mengajar apa?" Tanya Naruto yang sepertinya masih berharap Tenten duduk disampingnya. Bukannya apa-apa tapi, Naruto merasa suasana akan sangat hambar tanpa seorang 'manusia' yang bisa benar-benar bisa diajak berbicara. "Ice skating."
"Kau seorang ice skater? Hebat."
"Kau sudah membersihkan dapur?" Sela Sasuke dengan nada datar. Tenten mendengus kesal, lihat bagaimana laki-laki itu bisa membuat suasana hati seseorang menjadi suram dengan satu kalimat sederhana saja. "Sudah." Jawab Tenten singkat. "Apa kau mau memeriksanya?"
"Kurasa itu belum perlu." Ujar Sasuke yang kembali menyesap kopinya.
"Baiklah, sepertinya masih ada sisa kopi didapur, kalian bisa meminumnya jika kalian mau." Ujar Tenten yang melangkahkan kakinya menuju dapur, meletakan nampan yang sedaritadi berada di genggamannya dan meraih mantel yang tergantung di gantungan mantel.
"Aku akan mengantarmu ke pintu." Ujar Naruto yang langsung berdiri dan menghampiri Tenten. "Terimakasih, Naruto." Ucap Tenten sambil tersenyum kecil. Tenten berhenti sejenak, gadis itu tahu bahwa mempertanyakan hal ini akan terdengar gila, tapi akhirnya Tenten menolehkan kepalanya kearah Sasuke dan bertanya dengan enggan.
"Apa kau ingin aku datang sore nanti?" Tenten berharap laki-laki itu akan menjawab 'Tidak terimakasih banyak, aku tidak butuh apa-apa kau bisa melanjutkan kehidupanmu yang tentram dan damai.'
"Tidak." Jawab Sasuke pendek. Tenten bersorak dalam hati.
"Sepertinya kami juga akan pergi tak lama lagi, ada banyak orang yang harus kami temui dan masalah yang harus kami selesaikan." Jelas Naruto pada Tenten. "Yeah, thanks to you kita harus menyelesaikan semua masalah yang kau timbulkan, dan membayar semuanya." Tambah Sasuke datar.
Tenten menoleh kearah Sasuke, sungguh ia tidak perlu selalu diingatkan tentang 'masalah' yang sudah ia buat. Ia sangat menyadari semua 'masalah' serta 'kerugian' itu berawal pada dirinya, Tenten sangat menyadarinya, sangat. Kalau tidak untuk apa Tenten masih berdiri disini dan menerima segala perkataan menusuk dan tatapan tajam Sasuke?
Lagipula, semua ini adalah murni kecelakaan, kalau Tenten memang benar-benar berniat mencelakai Sasuke, ia tidak hanya akan membuat tangan Sasuke terkilir. Tenten pasti akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dan berakibat fatal, misalnya-
"Kau bisa datang besok pagi." Kata Sasuke yang memotong alur imajinasi Tenten yang sudah terlampau jauh dari kenyataan. "Maaf?"
"Besok pagi jam setengah delapan tepat, tidak kurang dan tidak lebih." Ucap Sasuke singkat, jelas dan padat.
"Apa yang akan kalian lakukan? Aku bisa membantu kalau kalian bersedia." Sela Naruto setelah menatap Tenten dan Sasuke secara bergantian.
Sasuke melirik kearah manajer sekaligus sahabat karibnya.
"Apa menjadi manajerku masih belum cukup untukmu, Naruto? Apa kau mau bertambah pangkat menjadi sahabat sekaligus agen sekaligus manajer sekaligus pengurus rumah?" Naruto tersenyum lebar.
"Lupakan, menjadi menejermu pun sudah cukup merepotkan."
"Bagus." Sasuke melirik kearah Tenten. "Kau bisa pergi sekarang." Tenten merasa bahwa kata-kata Sasuke benar-benar diperuntukan untuk seorang pengurus rumah, padahal dirinya bukan pengurus rumah atau pesuruh laki-laki ini bukan? Ia hanya menawarkan bantuan dan- Argh! Tentu saja, harusnya Tenten tidak perlu menghempaskan tubuhnya sedalam ini kepada Sasuke, harusnya ia tidak perlu repot-repot merasa kasihan kepada Sasuke. Tapi siapa yang menyangka Sasuke bisa menjadi se menyebalkan ini? Memang benar kata orang-orang. Penyesalan selalu muncul diakhir.
Okay minna! akhirnya chappy 6 sudah aku publish, aku paling suka dengan chap ini. karena seperti yang kalian lohat di chappy ini Tenten dan Sasuke berantem terus dan menurut aku itu lumayan lucu ehehe. oke segini aja, terakhir reviews pleasee! :3
